Skip to main content

Dua Puisi di Antologi Cinta

Aku Menjadi

aku akan menjadi angin
yang menerbangkan layang-layang
sebelum jatuh di pelukanmu
aku akan membawakan sepotong bulan
yang dulu sempat kaunyanyikan
dengan merdu
sebelum sekerumun kabut cemburu
dan memainkan mendung yang kelabu
tetapi aku angin
yang menciptakan hujan lain dari mendung itu
di matamu.



Menggambar Kunang-Kunang

yang kukira daun kuning,
baru saja lerai dari ranting
adalah kunang-kunang
membawa kuku ibu
dari surga
entah di mana
seandainya kau beri sebuah
buku gambar, aku
akan melukiskan sayapnya
seperti alis matamu
yang rapi
melengkung seperti trek lari
ketika aku
belajar mendahului
keringat yang tak sabar
berlomba dengan debar
aku pikir kau akan takut
melihat matanya yang seolah malaikat maut
adalah kunang-kunang
yang bertebangan di atas kolam
ketika kau duduk di sudut
menyulut kesepian yang tak pernah bisa aku
terjemahkan
tetapi malam ini
aku berharap saja
ada kunang-kunang lain
yang terbang dari matamu
ke dadaku

Comments

s y a m said…
Hai salam kenal. saya mengambil puisi om Sapardi dari blog ini (http://reinvandiritto.blogspot.com/2010/08/sajak-sajak-sapardi-tentang-hujan.html?m=1), terimakasih...

well, blognya menyenangkan :)
Anonymous said…
apa kabar gayus?

Popular posts from this blog

Pantai Leppu di Labangka

And The Moon And The Stars And The World, Charles Bukowski

Long walks at night--
that's what good for the soul:
peeking into windows
watching tired housewives
trying to fight off
their beer-maddened husbands.




Dan Bulan dan Bintang dan Dunia
karya Charles Bukowski

Perjalanan panjang di malam hari--
sungguh baik buat jiwa:
melongok melalui jendela
menyaksikan ibu rumah tangga kelelahan
mencoba menyingkirkan
suami-suami yang mabuk dan gila