Skip to main content

Dua Kelopak Krisan, Majalah Story Edisi 31

DUA KELOPAK KRISAN

Yang mungkin kuingat adalah derai hujan malam minggu itu, yang terdengar seperti detik jam dinding yang jatuh satu per satu dari langit, berusaha menyerang kita—seperti kesepian. Aku tak sanggup membaui pohon-pohon Bintaro (yang konon beracun) yang berbaris rapi, menghormat dengan tegak dan gagah, tapi bau dan embusan napasmu yang terasa karib, tangan yang kokoh memayungi aku, membiarkan tubuhmu sendiri dihujani air-air sulfat itu—entahlah, seperti cinta saja yang nyata-nyata telah mematahkan hatiku (bukan karenamu, tapi dia).

Sengaja aku menerima tawaranmu untuk singgah di Jurangmangu. Hanya alasan ketika kukatakan aku takut pulang sendirian ke Serpong, kereta sudah tak lewat, bus-bus biasanya sepi penumpang dan memungkinkan perempuan seperti aku diperkosa meski tanpa rok mini. Kau dengan cekatan segera mengatakan, “Tidur saja di tempat temanku. Perempuan. Nanti aku minta izin ke mereka....”

Aku tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan perasaanku yang ingin rebah di dadamu bukan karena cinta atau kekasih, tapi kau seperti pelabuhan dan dia seolah menara. Kau tak marah melihat aku acap kali gelisah menekan-nekan keypad ponselku dan suara laki-laki (aku yakin kau mendengarnya disebabkan kemampuan auditorimu itu) menyambutku dengan ketus, “Jangan telepon sekarang. Mas sedang memanjat tower!” Hanya karena sebuah menara (dan dia memang menara), aku seperti wisatawan yang baru pertama datang ke Paris menyaksikan Eifel menjulang angkuh di kerumunan orang-orang. Bingung. Tak bisa berbahasa Prancis, memakai ransel ala backpacker, memegang peta dan menengok ke segala penjuru seolah ingin memastikan, Hei Menara, apa kau melihatku di sini?

Pelan-pelan, dan sengaja memang kupelankan, aku ingin kau saja yang menyatakan cinta kepadaku kali ini. Kau, penyair, pencinta hujan, momen mana lagi yang paling romantis selain saat ini, selain kecupan yang kau daratkan dengan tiba-tiba (meski aku akan menyadarinya) di bibirku lalu memintaku jadi pacarmu. Aku akan menjawab “Ya” tanpa koma, melingkarkan kedua tanganku di pinggangmu dan tak peduli bilapun seluruh daun, seluruh hujan, seluruh udara malam ini cemburu. Pelabuhanku. Pelarianku. Sebuah kapal yang tertambat di sana, aku tak peduli jikapun kau hanya sekoci, kemudian membawaku pergi ke samudra lain, ke pulau lain, ke pemandangan yang menawarkan camar-camar lain, lumba-lumba lain, ombak-ombak lain yang tak akan sanggup menumbangkan laju biduk cinta milik kita.

Tapi kau selalu diam, seperti tak ada kata yang sanggup mengungkapkan perasaan yang ah, sudahlah, perempuan mana yang tak bisa mengetahui laki-laki yang jatuh cinta dan mencintainya? Aku sudah sejak dulu tahu, kau menaruh hati kepadaku. Kau yang lebih sering mendengarkan telepon-teleponku berjam-jam lamanya, menjemputku di BSD, menemani setiap ada acara sastra yang melibatkanku sebagai pembaca puisi. Aku tak pernah menyaksikanmu membaca puisi, tapi aku tahu kau menyukai pembacaanku.

Jurangmangu. Pukul 11 malam. Tapi tak ada pelukan.

Kau malah menunjuk ke Santiago Berdebu (lapangan sepak bola di depan Mesjid yang tak pernah ditumbuhi rumput, dan bila dimainkan debu-debu akan beterbangan seiring langkah-langkah yang ditapakkan), kemudian bercerita nyaris setiap malam akan ada berpasang kekasih yang memadu cinta di sekitarnya. Bahkan, katamu lagi, pernah ada yang gelap-gelapan bercumbu atau malah bercinta di sana. “Tapi jelas tak mungkin dalam keadaan hujan begini,” kau menambahkan sambil menatap mataku dalam. Ayolah, cium aku saat ini. Cium aku agar aku dapat melupakan lelaki itu, lelaki yang jelas-jelas telah memiliki perempuan lain namun mengatakan cinta kepadaku. Bodohnya aku seperti mangsa yang terjerat di jaring laba-laba, menunggu dia melahapku. Pasrah.

Hanya kau barangkali, yang kukenal karib, seperti tanpa pamrih mendekatiku dengan hati-hati, enggan menyentuhku, bahkan menggenggam erat tanganku pun tak pernah.
“Aku menyukai perempuan yang tak memiliki bekas bibir orang lain di bibirnya.”
“Kau menyukai Hamsad Rangkuti? Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu?”
“Ya. Dan tidak.”
“Maksudmu?”
“Aku menyukai Bibir dalam Pispot sebagai sebuah fiksi. Tapi, aku tak menyukai perempuan yang pernah berciuman dengan laki-laki lain.”
“Lalu menurutmu apa aku sudah pernah memiliki bekas bibir lelaki di bibirku?” aku bertanya memancing.

Kau diam sebentar sebelum balik bertanya, “Lalu bagaimana rasanya?”
“Aku masih 18 tahun.”
“Aku juga 19 tahun.”
“Aku tidak bertanya umurmu. Aku hanya bermaksud mengatakan perempuan mana yang sudah berciuman di usianya yang ke-18?”
“Tapi, rata-rata kita ingin mendapatkan ciuman pertamanya di usia ke-17.”
“Kamu sendiri?”
“Menurutmu?”
Apa rata-rata mahasiswa STAN sepintar dirimu, terutama dalam memutaralikkan pertanyaan, memutarbalikkan perasaan?
Aku bukan perempuan bodoh. Tapi, setiap berbicara denganmu aku merasa bodoh. Aku bukan perempuan manja. Tapi, setiap berhadapan denganmu aku selalu ingin menyandarkan diri ke dadamu yang bidang. Dan merasakan seberapa cepat detak jantungmu berderap di telingaku. Aku ingin memilikimu, tapi aku tak mencintaimu. Aku ingin kau selalu ada di sampingku, hanya milikku.
“Krisandi...”
Hanya kau yang memanggilku dengan nama depan. “Kenapa kau memanggilku dengan nama itu?”
“Krisanthemum.”
“Krisanthemum?”
“Dalam bahasa Yunani, krisanthemum berarti bunga emas. Yang tertua dari mereka adalah krisanthemum Cina, agak mirip dengan Daisy. Bunga ini telah dikultivasikian sekitar 2500 tahun sebelum diperkenalkan ke Eropa dan sekarang ia telah banyak ditanam di mana-mana, bahkan krisan juga diangkat menjadi bunga nasional negara Jepang. Sebagai bunga potong, ia bisa bertahan sampai lebih dari 2 minggu. Dan seperti kelahiranmu, bunga krisan dijadikan sebagai bunga November, seperti batu topaz. Menurut ilmu feng shui, krisan dapat membawa kebahagiaan dan tawa di dalam keluarga. Ia juga bisa berarti keceriaan, pesona, optimis, kelimpahan, keberuntungan, persahabatan dan cinta rahasia.”
“Wow, apa yang tidak kau tahu?”
“Ada.”
“Apa?”
“Adakah yang lebih pedih dari Sisyphus?”
“Sisyphus?”
“Sisyphus barangkali adalah manusia yang paling menanggung kepedihan di dalam hidupnya.”
Teruskan.
“Jika atas nama dosa dan pengorbanan, ia harus mendorong sebongkah batu ke atas bukit, menggelinding, mendorong lagi sepanjang hayatnya, apakah mencintai juga harus sebegitu menderitanya?’
Aku tak paham.
“Aku begitu mudah jatuh cinta. Tapi aku tak pernah yakin mampu mencintai.”

Memang tak pernah mudah mencernamu. Atas nama Hegel yang sering kau dengung-dengungkan, aku hanya butuh tatapan milikmu itu hanya ditujukan kepadaku. Sudahlah, tak usah banyak berpikir tentang masa lalumu, yang sering kau singgung begitu penuh luka. Hidupku juga penuh luka.

Aku mulai mengerti ayahku tak pernah menyentuh ibuku lagi sejak aku tahu apa itu suami-istri. Dan ketika teman-temanku mulai mengejekku karena ibuku adalah istri kedua dari ketiga istri ayahku, aku memutuskan untuk tidak pernah lagi berairmata. Bahkan bisa dihitung dengan jari berapa kali aku berbicara dengan ayah. Sementara ibuku, mengulum senyumnya (yang aku tahu palsu) setiap saat aku menyebut kata “ayah”.

Kau juga tidak tahu, kalau kehidupanku tidak seberuntung dirimu yang mampu lulus STAN dan SPMB sekaligus. Aku tak lulus keduanya. Padahal, sekali lagi, aku bukan perempuan bodoh. Dalam tiga tahun pendidikan SMA, setidaknya tak pernah sekali pun aku keluar dari 10 besar, dibandingkan dirimu yang pernah menduduki ranking 24 ketika kelas 1 SMA. Aku hanya sial. Tidak beruntung. Ketika teman-temanku yang sama nasibnya mulai menjajaki pendidikan swasta di universitas, aku memutuskan pergi sendiri ke Jakarta (dari Yogyakarta), dengan berbekal alamat kakak sepupu. Dan bekerja.

Yang pasti, aku tak ingin bernasib sama dengan ibuku. Aku tak mau diduakan. Begitu tega Tuhan yang berkuasa membolak-balikkan hati manusia membuatku mencintai dia. Jika manusia berkuasa mengubah nasibnya sendiri, izinkan aku dicintai olehmu. Biar nanti, aku tahu aku akan bahagia bila hidup denganmu.

“Sebentar lagi kita sampai...”
Secepat itu?
“Rumahnya ada di belakang mesjid ini.”

Ponselku bergetar lagi. Dia. Dewi, Mas kedinginan. Sebuah pesan singkat yang benar-benar singkat. Bahkan tak ada pertanyaan darinya sedang apa aku sekarang, bersama siapa, dan apakah aku juga kedinginan? Tak ada. Kenapa aku mencintai laki-laki seegois dia. Kenapa harus dia yang datang mengisi kekosongan itu.

Aku menatapmu. Aku membayangkannya. Kalian berdua sama-sama menyukai Hegel, membicarakan Descartes, membanding-bandingkan Goenawan Muhammad dan Saut Situmorang, atau membanggakan Umbu Landu Paranggi yang bahkan belum pernah kalian temui. Kau pelabuhan. Dan dia menara. Kau bertindak begitu hati-hati, terlampau hati-hati. Dia berani mengatakan apa-apa yang dia rasakan, melakukan apa-apa yang dia yakini.
“Jo?”

Tentu kau mengenalnya. Kau bahkan pernah bilang cinta kami platonis. Tapi, kau juga tidak mengakui bahwa cintamu kepadaku juga platonis. Love does not consist in gazing at each other but in looking outward together in the same direction. Kau diam, lalu seperti bergumam, Aku tak mau dikutuk-sumpahi Eros...

“Kau tahu hal apa yang paling membahagiakan sekaligus paling menyakitkan di dunia ini, Krisandi?”
Aku menggeleng.
“Mencintai.”
“Mencintai?”
“Ya mencintai, sementara kau tahu orang yang kau cintai telah mencintai orang lain..”
Hujan berhenti. Langkahmu terhenti.
“Kita sampai...”

Aku ingin menjawab, tapi kau buru-buru memalingkan muka. Memencet bel. Dan dua orang temanmu yang berjilbab lebar keluar, membukakan pintu dan pagar. Kalian berbincang sebentar. Kau bilang menitipkanku semalam. Lalu berpamitan.

Aku seharusnya tahu ketika malam itu kau berpaling, kemudian berlari-lari kecil menghindari genangan air di sepanjang jalan, tanpa memelukku, mengelus kepalaku, atau bahkan menyalami telapak tanganku, kau telah tak lagi bersikap sama. Pelan-pelan menghindar dan membiarkan cinta yang tak sempat kau ucapkan itu menguap, gugur seperti kelopak-kelopak krisan yang layu di hatiku.

(2011)

Catatan Kaki:
Hegel : Filsuf klasik Jerman. Ia yang memunculkan gagasan bahwa Sejarah dan hal yang konkret adalah penting untuk bisa keluar dari lingkaran philosophia perennis, yakni, masalah-masalah abadi dalam filsafat. Ia juga menekankan pentingnya Yang Lain dalam proses pencapaian kesadaran diri

Platonis dan Eros adalah dua dari empat klasifikasi cinta (selain filia dan agape). Platonis diartikan sebagai Hubungan yang terjadi adalah antara jenis kelamin yang berbeda bagi orang yang menikmati satu sama lain tetapi tidak dapat memiliki hubungan romantis karena status perkawinan, agama, umur, pekerjaan atau peringkat. Mereka yang mengalami cinta ini tidak dapat bersatu dengan alasan yang tidak bisa ditembus tanpa mengalami proses menyakitkan. Eros adalah cinta karena gairah/mabuk cinta, ketertarikan yang kuat untuk memiliki.

Comments

Fanny said…
Ceritanya bagus....:-)
Hmmm... Nikmat sekali membacanya.

Popular posts from this blog

Pantai Leppu di Labangka

Terjemahan Bebas dari The Arrow and the Song by Henry Wadsworth Longfellow

Anak Panah dan Lagu Henry Wadsworth Longfellow
aku melepaskan anak panah ke udara ia lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; begitu cepat ia melesat, pandangan mataku tak dapat mengikuti arah lesatannya.
aku menghembuskan lagu ke udara, juga lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; siapa saja yang tatapannya begitu tertarik dan kuat, sehingga dapat mengikuti perjalanan lagu itu?
lama, lama sekali setelah itu, di bawah pohon oak aku menemukan anak panah, belum patah juga sebuah lagu, dari mula hingga selesai aku menemukannya lagi di hati seorang sahabat.
The Arrow and the Song Henry Wadsworth Longfellow
I shot an arrow into the air, It fell to earth, I knew not where; For, so swiftly it flew, the sight<