Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Desember, 2012

Pada Suatu Hujan

aku masih menunggu hujan ini reda
seperti menunggumu di sebuah halte
sebelum menumpangi keberangkatan
                     bus yang terakhir

tidak peduli ke mana tujuan, aku
berjanji akan menggenggam tanganmu
erat-erat seolah simpul tali terikat
lalu berbisik,
        "cinta kita tidak sedang sekarat..."

aku masih menunggu hujan ini reda
seperti menunggumu kembali berbicara
semisal mengucapkan cium, menanyakan
kabar, apakah nanti aku dapat letakkan
telinga di dadamu sekadar menyimak debar?

kita tidak tahu, tidak pula pernah tahu
apakah hujan ini akan berhenti sore ini juga
apakah bus itu tidak mengalami kemacetan
apakah kita masih diizinkan saling bertukar cemas

kita tidak tahu, kita tidak tahu

(2012)

Kepada Linggar

i.

aku tak akan berangkat menuju musim hujan
karena kukagumi daun-daun gugur
                   korbankan diri demi kehidupan

kadang kubayangkan, kutemui perempuan
yang memandangku pedih di seberang jalan
sebuah sapu tangan basah, bekas air mata

aku harapkan dia segera pergi menyeberang
karena aku takut langkahkan kaki, kendaraan
yang sering mengebut lalu tabrak lari

musim hujan yang turun di pada mu itu
apakah sama dengan musim hujan lain
yang pernah turun di dadaku?

pertanyaan itu hanya satu dari pertanyaan lain
yang pelan-pelan mulai menggerogoti keimanan,
dan aku fana seperti cahaya pada lilin


ii.

sebelum badai, akan kukunci pintuku rapat-rapat
tetapi kau udara, begitu mampu menyelinap

kini aku terbiasa, bernapas dengan udaramu
tapi aku tak tahu, apakah kau damai di paru-paruku?



*linggar dalam bahasa Kawi berarti hijrah/berangkat

Catatan Hati: Cincin, Buku, dan Persahabatan

Tahun 2012 menjadi tahun yang pasif bagi riwayat kepenulisanku di koran-koran. Tercatat hanya dua kali aku dimuat dalam koran atau majalah yakni sejumlah puisi di berita pagi dan cerpen "Dua Kelopak Krisan" di Majalah Story edisi 31. Bakda itu, tak ada kabar. Beberapa kali mencoba mengirimkan ke koran Kompas atau Tempo, tapi tak ada yang dimuat. 

Barangkali ini bukan tahunku. Itu yang ada di dalam pikiran. Saya pun kembali menulis di blog, sekadar menuntaskan rasa sepi dan ekspresi yang tak kuat lagi terbendung di dalam diri. Ketika sebelumnya saya cenderung menyepi, bersunyi-sunyi dalam aktivitas kepenulisan, menulis blog dan aktif di twitter membuat saya "terpaksa" membuka diri, bergaul dan berinteraksi.

Beberapa kali aku ikut kurasi dan perlombaan, dan ada yang menghasilkan. Bedanya, bila dulu akumenulis untuk kemenangan, kini aku menulis untuk hati. Ternyata dari hati yang terbuka itu, aku menerima lebih dari sekadar hadiah, tetapi juga cinta dan perkenalan. Awal…

Kepada 7 Desember

: dd

beginilah. seharusnya kita diciptakan untuk saling
mengenali. burung-burung yang terbang dari matamu
hinggap di dadaku. burung-burung yang terbang
dari dadaku, bersarang di dada yang lain.