Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Mei, 2011

Dua Puisi di Jurnal Amper

Sonet Kenangan, 2

"Ada yang salah di jantungku." Kau diam dan berpikir
mungkin aku sedang bercanda, dan bikin kau khawatir.
Tetapi, kita pergi merekam jantung, mengecek hormon,
dan betapa sengat membuat kita rindu pada segelas lemon.

Bus kuning ke arah Kertapati tak kunjung mau berhenti,
pukul satu nanti, kita akan menonton film Alice in Wonderland,
"Bagaimana kalau kita berjalan kaki?"
Aku mengangguk saja, sambil menghitung kerikil yang berceceran.

"Ada yang salah di kenangan." Hari ini kau katakan itu, ketika
kata-kataku jadi kerikil di sepanjang jalan itu.
Aku terpaksa bertingkah keras kepala,
demi mengiyakan semua prasangkamu.

Ada yang salah di jantungku, memang. Tetapi tak pernah
ada yang salah di kenangan. Percayalah.


Meninggalkan Palembang

Yang berat adalah melepaskan udara--
terlanjur mengikat tubuh ringkihku. Kenangan-kenangan
memang bisa menyesaki dadaku. Duduk di sampingmu
malam itu, aku mencoba mencuri yang berkilauan
di bibirmu. Seperti berlia…

Puisi-puisi Pringadi Abdi Surya di Warta Sumbar, 15 Mei 2011

Brandeinburg Concerto

aku ingin mati di senja brandeinburg
di negeri seribu danau. seribu sungai
yang mengalir dari mata
kekasihku
di seberang pulau, empat puluh kilometer
dari kail-kailmu
yang berenang
mengitari bach—di tengah-tengah
ikan yang berkumpul. senja yang memantul
dari tatapanmu di balik tiang
jembatan tua yang penuh
orang-orang berkumpul.

entah apa yang dipandangnya di balik tembok
tua itu. tembok yang membuat pertemuan kami adalah
sebatas imajinasi dari kata-kata
di pesan singkat
lewat sebuah surat yang diantarkan angin
seperti sebuah melodi lain
dari piano tua

o, aku sungguh ingin mati
di senja brandeinburg yang pucat

menuliskan arti timur dan barat.




Requiem Mass in D Minor

dengar. dengar, nada itu adalah malaikat
maut di padang rumput
yang hijau
dengan kupu-kupu yang kerap melingkar
di lehermu dan kini
di
leherku

kenapa aku harus mati di tangan kupu-kupu

lacrimosa,

trombon. dan timpani. delapan bar kecil
di bir-bir kota vienna
gelas-gelas yang penuh. dansa. salsa
dan romansa di remang-remang lampu

kauKah i…

Densha Otoko, Cerpen

DENSHA OTOKO
Pringadi Abdi Surya

Bertemu cerpenis itu, aku tiba-tiba melihat kereta seperti keluar dari matanya. Kereta dengan gerbong-gerbong yang sesak dan penuh. Para penumpang duduk dan berdiri, tanpa membeda-bedakan kelamin, sebab tak pernah ada feminis berdada setengah terbuka yang berani naik kereta ekonomi, Jogja—Jakarta, delapan jam, dikebuli asap rokok, bau keringat, kencing, dan kentut (perihal terakhir ini sungguh keterlaluan).

“Naiklah kereta ekonomi, Lempuyangan—Senen, tak sampai tiga puluh ribu!”

Jauh-jauh berangkat dari Bintaro, naik Sumber Alam, sembilan puluh ribu dan kukira ber-AC, aku malah disambut dengan perintah semacam itu. Seumur-umur aku belum pernah naik kereta.

Setidaknya, aku mengira, ia akan memberiku petuah-petuah magis, bersemedi di Kaliurang, merenung di Parangtritis, ngemenyan di Borobudur, atau duduk di Jendelo, kafe yang sama yang pernah diceritakan Sungging Raga ketika ia mendapat ilham untuk menjadi cerpenis. Aku pun ingin jadi cerpenis.

***

“Kenapa?…

Cerpen Kontroversial Zaman HB. Jassin

LANGIT MAKIN MENDUNG

Cerpen: KIPANDJIKUSMIN


LAMA-LAMA mereka bosan juga dengan status pensiunan nabi di surgaloka. Petisi dibikin, mohon (dan bukan menuntut) agar pensiunan-pensiunan diberi cuti bergilir turba ke bumi, yang konon makin ramai saja.

“Refreshing sangat perlu. Kebahagiaan berlebihan justru siksaan bagi manusia yang biasa berjuang. Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir-bibir kami sudah pegal-pegal kejang memuji kebesaran-Mu; beratus tahun tanpa henti.”

Membaca petisi para nabi, Tuhan terpaksa menggeleng-gelengkan kepala, tak habis pikir pada ketidakpuasan di benak manusia…. Dipanggillah penanda-tangan pertama: Muhammad dari Medinah, Arabia. Orang bumi biasa memanggilnya Muhammad saw..

“Daulat, ya Tuhan.”

“Apalagi yang kurang di surgaku ini? Bidadari jelita berjuta, sungai susu, danau madu, buah apel emas, pohon limau perak. Kijang-kijang platina, burung-burung berbulu intan baiduri. Semua adalah milikmu bersama, sama rasa sama rata!”

“Sesungguhnya bahagia lebih dari cuk…

Puisi Terakhir untuk Tami

Karena dirimu, aku tahu, bahwa dicintai itu tidak lebih baik dari mencintai.

Bahkan kita belum sempat bertemu. ya?

Padahal, antara Musi dan Batanghari sesungguhnya masih satu jiwa. Mungkin karena itu pula, perkenalan kita yang singkat, kata-kata yang serba terbatas, dan senyum yang belum kunjung tertangkap oleh retina itu bukanlah penghalang bagi hati kita untuk saling mendekat.

"Bisakah kita kehilangan tanpa pernah memiliki, Di?"
"Tergantung sejauh mana pemahaman kita tentang kepemilikan, Mi."
"Apa kamu siap memiliki kehilangan?"

Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu. Aku hanya paham bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini akan hilang. Siap atau tidak siap, kita harus menerimanya.

~

Belakangan ini aku disibukkan dengan pekerjaan di kantor. Pak Yovie mendaulatku untuk membacakan monolog di sebuah acara di Pangalengan. Ya, baru saja aku lulus kuliah dan menjalani hari-hari pengabdianku di sebuah instansi…

Lima Sajak Pringadi di Majalah Horison, Maret 2011

Ubin

Ia sebetulnya benci sapu ijuk tiap kali disuruh ibunya
membersihkan teras rumah yang berubin itu.
Bentuknya yang persegi membuat ia membayangkan
luasnya adalah kuadrat tiap sisi dan matematikanya yang
selalu dapat nilai lima.

Dua buah kursi dibiarkan menganggur di dekat pintu, ia
duduk sejenak dan menyaksikan ubin-ubin itu menggodanya.
Ia tertawa gembira, diangkatnya satu kaki, dan bermain
cak ingkling semaunya sendiri.



Di Ayunan

Bermain ayunan sendirian sore itu, seekor kucing melompat
manja ke pangkuannya. Ia ingat, dulu, seorang temannya pernah
meninggalkan tanda hati di ayunan ini. Cinta masa lalu tak lebih
dari cinta monyet.

Diraba dadanya, seperti ada sesuatu yang kosong.

Diraba yang kosong itu, sungai lahir dari matanya.



Menyeberang Jalan

Jalan di depan rumahnya sulit diseberangi. Ia harus menoleh
ke kanan dan ke kiri, sampai benar-benar yakin tak ada kendaraan
yang sedang ditunggangi malaikat maut. Ia takut, pesan ibu
di kantong bajunya tercecer di aspal yang berlubang it…