24 April 2014

Yang Teringat dari 24 April

Cinta Pertama

Takdir kita ditulis, sejak kau angkat teleponku, "Halo, kau
adalah cinta pertamaku, apa kau mau jadi cinta terakhirku?"

Tapi diam tak pernah menjadi bahasa terbaik bagi kita
untuk membincangkan angan-angan yang cenderung rapuh
Sebuah pijakan lemah anak lelaki kurus saja akan mudah
mematahkannya dan waktu yang tak pernah bosan
menjadi peneman perjalanan akhirnya juga ikut menyerah.

Tuhan kemudian membeli penghapus di toko seberang
Aku tahu toko itu tak punya uang kecil buat kembalian
dan memberi dua bungkus permen, rasa paling kecut.

Dua permen itu juga kutemukan di depan pintu kamar, bersama
kata maaf dari Tuhan, karena memberi kita kado perpisahan.


Anggi

Seorang pembawa pesan sepertimu tidak mungkin lupa
alamat yang menjadi tujuan

Seorang pembawa pesan sepertimu tidak mungkin ingat
seorang lelaki yang menunggu pesan itu


Bioskop

Kencan pertama kita di bioskop, kau datang terlambat
Alasanmu hanya satu kalimat, "Maaf, barusan malaikat
mengadakan rapat di sepanjang jembatan Ampera."

Film belum dimulai, kita masuk, duduk, dan tidak saling
menatap. Aku pikir aku kurang cakap, menyusun kata
yang lebih menarik dari kegelapan. Kau mungkin pikir
hatiku yang kurang mantap dan tidak siap menerima cahaya
yang sedikit, dan bisik-bisik kemustahilan mengungkit
tiga tahun cinta tanpa pengakuan.

Aku tak pernah peduli film apa yang kita tonton hari itu
Aku hanya peduli pada detak jantungku dan detak jantungmu
yang coba kudengar dengan segenap pendengaranku.



Perpisahan

Segala hal tidak bisa bertahan sama dalam waktu yang lama.
Biskuit dan roti, susu kaleng dan mie instan juga punya masa
kadaluwarsa. Mungkin cinta juga.

Tapi burung-burung yang biasa menghilang dari pagi di Jakarta
hari itu masuk ke kamar, lewat lubang angin di atas jendela

Sepasang burung gereja menusukku dengan pandangannya
Sepasang burung gereja menyakitiku dengan kesetiaannya


(2014)

Catatan Pembacaan Aksara Amananunna, Karya Rio Johan (KPG, 2014)




Amanuensis Satiris

Beberapa waktu lalu, saya menyimak perdebatan di grup Sastra Minggu mengenai keberadaan Licentia Poetica di dalam karya sastra. Sejujurnya, saya tak menyukai perdebatan itu—hal mengenai penulisan “lamat” yang seharusnya “lamat-lamat”, atau “tuhan” yang seharusnya “Tuhan”, juga beberapa kata lain yang diperdebatkan. 

Hal di atas masih membekas di kepala saya karena tepat setelah itu saya membaca entah di mana, kalimat berikut, “Salah satu tugas sastrawan adalah merawat bahasa.” Ini mengingatkan saya pada Kurnia Effendi karena pernah berhasil menyumbangkan kata baru ke dalam KBBI. Menarik garis dari situ, ketimbang mengartikan Licentia Poetica sebagai kebebasan seorang sastrawan untuk menyimpang dari kenyataan, dari bentuk atau aturan konvensional, untuk menghasilkan efek yang dikehendaki—seperti kata Shaw, saya lebih sepakat jika keberadaan Licentia Poetica adalah untuk menggugat kekonvensionalan Pusat Bahasa yang bisa saja keliru dalam menyerap atau membakukan sebuah kata, bukan justru sebagai dalih atas keegoisan penulis yang ingin bertahan pada pendiriannya.

Pun saya lebih suka memandang Licentia Poetica a.k.a Artistic License di dalam karya sastra non-puisi sebagai cara untuk menginterpretasikan kembali suatu kisah atau mencari sudut pandang lain dari sesuatu atau mendistorsikan kejadian yang sudah dianggap lumrah. Hal ini bisa berarti kita menghilangkan atau menambah detil ataupun menyederhanakan atau merumitkan bentuk dari objek yang sudah ada tersebut. Maka, lahirlah film Mirror Mirror, Hansel Gretel, dan banyak judul film lain dengan sudut pandang yang berbeda. Hal seperti ini akan lebih produktif dan bermanfaat ketimbang berkonsentrasi pada aturan kebahasaan.

Ada 12 cerita di Aksara Amananunna. Rio Johan (selanjutnya akan saya sebut Rijon) melakukan hal itu di buku kumpulan ceritanya. Cerita yang menjadi judul ini sangat menarik. Amananunna terdengar karib di telinga saya. Saya menduga, Amananunna ini ada hubungannya dengan Amanuensis, yakni seseorang yang dibayar untuk menulis hal-hal yang orang diktekan. Istilah Amanuensis ini banyak digunakan di bidang akademik (baca: http://en.wikipedia.org/wiki/Amanuensis). Saya jadi membayangkan bila saya berada di posisi amanuensis. Saya hanya bisa menulis yang orang-orang katakan, saya tidak berhak menulis apa pun. Di sini, Rijon seolah ingin mengatakan bahwa setiap orang, setiap penulis pun harus memiliki bahasanya sendiri. Bahasa dengan gaya tutur berbeda akan memiliki daya ungkap yang berbeda. Demikian adanya dengan diri Rijon, gaya tutur Rijon berbeda dari kebanyakan penulis lain di Indonesia, meski bisa kita rasakan ada pengaruh dari beberapa penulis luar di cara berceritanya.

Bahasa lisan saja tidak cukup. Yang selanjutnya dibutuhkan adalah aksara. Bisa kita ingat di film 13th Warrior, Ahmad Ibn Fadlan yang diperankan Antonio Banderas menggambar bahasa di tanah salju. Ia mengenalkan aksara kepada bangsa Viking dan itu disambut kekaguman luar biasa. Pentingnya aksara juga tersirat dalam cerita Riwayat Benjamin. Orang yang mengenal aksara menunjukkan status mereka. Orang miskin tidak berpunya tidak punya kesempatan untuk bisa membaca, apalagi menulis. Di negeri kita, di luar segala kontroversinya, RA Kartini adalah perempuan penulis. Dia menulis surat-surat. Surat-suratnya abadi. Kamu ingin abadi? Menulislah.

Keunikan Rijon yang lain adalah slogan 12 manusia, 12 zaman, 12 cerita benar-benar mengejewantah di dalam buku ini. Tidak mudah mengonstruksi sebuah zaman yang belum pernah ada, apalagi membawa pembaca untuk masuk ke zaman tersebut. Ada beberapa yang kurang mengena, seperti cerita Tidak Ada Air untuk Mikhail, yang menurut saya belum membawa saya untuk bisa mendefinisikan zaman di dalamnya. Nama Boris, Brutus, Benjo, dan Mikhail tidak representatif untuk cerita yang disajikan. 

Konstruksi zaman yang begitu mengena adalah di dalam cerita Undang-Undang Anti Bunuh Diri dan Komunitas. Di sini saya mengingat urutan ramalan Vanga. Ia meramalkan di tahun sekian ribu sekian, sebelum zaman berakhir untuk selama-lamanya, manusia akan menemukan jawaban atas realitas dirinya. Saya menyepakati itu. Hidup ini selesai jika terjadi dua hal. Pertama, kamu menyerah dengan hidupmu. Kedua, kamu telah mendapatkan jawaban atas realitas hidupmu.

Bunuh diri menjadi isu nomor satu di tahun 21xx. Banyak satir yang disajikan Rijon di dalam cerita ini tentang kondisi kekinian masyarakat Indonesia. Misalnya mengenai HAM yang selalu jadi tameng pembenaran, pemerintahan yang hipokrit, dan ketakutan terdasar manusia untuk tidak dapat mempertahankan hidup yang berlebihan. Ketakutan terdasar, yang menjadi antithesis dari hasrat inti, juga pernah menjadi sebab kasus seorang perempuan terpelajar dengan 3 orang anak membunuh ketiga anaknya tersebut karena ia tidak yakin ia dapat menghidupi dan membesarkan anaknya dengan sempurna. Tuntutan menjadi sempurna juga yang dialami si perempuan selama hidupnya, yang ternyata memengaruhi keadaan psikologisnya. Konstruksi itu akan sempurna bila saja Rijon sedikit menambahkan refleksi keadaan parlemen Indonesia yang lambat dalam menghasilkan produk perundang-undangan yang bermutu sehingga dengan penghasilan nomor 4 terbesar di dunia, namun hanya mendapatkan nilai 4 dari skala 10 oleh penilaian beberapa tokoh bangsa. Saya tidak tahu, apakah dengan menggunakan “Perdana Menteri” sebenarnya Rijon sedang menggugat sistem Indonesia yang presidensial, namun kenyataannya bersikap parlementer. Terbukti dengan akrobatik koalisi bakda pemilu legislatif lalu. Partai politik sibuk mencari kemungkinan koalisi padahal koalisi hanya ada di sistem parlementer.

Di Komunitas, ada pertanyaan lain yang diajukan Rijon, “Jika manusia ditugaskan untuk berharap, lalu ia menyadari harapannya jauh panggang dari api, akan menjadi seperti apakah dia?” Saya tanpa ragu akan menjawab, hidupnya sama saja sudah selesai. Maka itu, Ibnu Taimiyah pernah bilang, manusia hidup perlu adanya keseimbangan anara khauf dan raja’, antara ketakutan dan pengharapan. Keduanya ibarat sayap burung yang mengepak di udara bebas. Bila saja salah satunya hilang, kemanusiaanmu akan limbung, Kawan. Namun itu saja tidak cukup, cinta adalah kepala burung. Hidup dengan cinta akan membuat kamu tahu harus kemana kamu akan pergi dan ingat ke mana kamu harus kembali. Kecintaan buta, tanpa sayap khauf dan raja’, akan menjadikanmu seperti Kavalier D’Orange yang mengamini setiap perkataan rajanya. “Bila raja mengkehendaki aku jadi perempuan, aku akan jadi perempuan. Bila raja mengkehendaki aku jadi lelaki, aku akan jadi lelaki.” Seram membayangkan bila Rijon di sini sedang menyindir keberadaan sifat taqlid buta yang kerap dimiliki manusia. Tapi lebih seram lagi, bila Rijon sedang menyindir sebuah hadits qudsi, “Aku adalah apa yang hambaku sangkakan terhadapKu.”

Semoga semua tulisan ini keliru.

Tabik.

Pengumuman Penulis Undangan Indonesia Timur – MIWF 2014

Setelah membaca dan mendiskusikan karya yang masuk, tim kurator MIWF 2014 memutuskan memilih enam penulis untuk hadir sebagai penulis undangan:

Pringadi Abdi (Sumbawa)
Amaya Kim (Kendari)
Ama Achmad (Luwuk Banggai)
Louie Buana dan Ran Jiecess (Makassar)
Saddam HP (Kupang)

Kepada penulis undangan terpilih, kami harapkan untuk menghubungi panitia MIWF melalui email contact@makassarwriters.com atau fiska@makassarwriters.com selambatnya tanggal 1 Mei untuk menyatakan kesediaan berpartisipasi penuh selama berlangsungnya festival.

Kepada semua penulis yang telah mengirimkan karya, kami mengucapkan terima kasih atas partisipasinya.
Tertanda,
 
Tim Kurator MIWF 2014
Aslan Abidin (Koordinator)
M. Aan Mansyur
Shinta Febriany
Lily Yulianti Farid

17 April 2014

Puisi Pringadi Abdi di Majalah Bong-Ang, Maret 2014



Aku Mencoba Menulis Puisi Ini di Twitter
Tetapi Tak Ada Hujan, Tak Ada Kau

di lini masa, tak ada hujan, tak ada kau
kata-kata turun dari langit seperti wahyu
tetapi siapa mendengar, siapa melihat

kita terbiasa tertawa untuk hal yang berbeda
tetapi selalu menangis untuk hal yang sama
berulang-ulang, berkali-kali, tapi tak bosan

setiap kesepian yang diwasiatkan para pencinta
yang kalah atau mati di dalam percintaan
kita simpan baik-baik seperti kapsul masa depan

tertanam di dalam tanah, di dekat sebuah pohon
yang telah dewasa sejak mula Adam
turun ke dunia dan perjalanan mencari kekasihnya

di lini masa orang berebut meminta disebut
tetapi tak ada nama tuhan, tak ada nama kau
aku seperti semut yang luput dari perhatian

ketika kupikir aku telah selesai menulis puisi,
ketika itu pula kusadari kau tak akan cukup
dalam lingkup 140 karakter yang ditakdirkan

(2013)

16 April 2014

Simbiosa Alina: Di Antara Cinta dan Kenangan

Aku selalu ingin menulis tentang cinta. Setidaknya, satu kali saja dalam hidupku, aku ingin menulis sebuah buku yang isinya bisa dibaca sebagai cinta melulu, kenangan melulu, sebagai caraku untuk merayakan betapa hidup selalu tentang cinta.

Ketika naskah kukirimkan, aku tidak akan menyangka kalau kemudian akan dipadukan dengan Sungging Raga. Manusia satu itu, setahuku, tidak pacaran meski katanya dia pernah punya pacar.

Aku tidak tahu bagaimana orang akan membaca kisah yang seolah-olah kisah nyata cintaku, yang karakternya memang aku comot seenak jidat dari kehidupan riil. Bahkan, aku menjadikan namaku sendiri sebagai tokohnya. Kenapa, karena rasanya namaku itu keren. Jangan kalian bayangkan karakter tokoh itu sebagai aku. Itu semua hanya kamuflase. Aku bukan orang yang romantis. Aku adalah si pria cuek, alien, apatis, dan masa bodoh terhadap yang terjadi pada kehidupan orang lain. Aku tak ubahnya mesin yang menganggap perasaan bisa dihitung dan dikalkulasi.

Tapi setidaknya aku pernah jatuh cinta. Dan berterima kasih karena Tuhan memberikan aku banyak cinta, yang banyak pula tak dapat kubalas, meski aku sangat menikmati perasaan yang mereka berikan untukku tanpa bisa menolaknya.

Sampai sering aku bertanya, apa aku sebegitu mudahnya dicintai?

Ah.

14 April 2014

Review Simbiosa Alina oleh Suryawan WP

tulisan ini dicopy paste dari http://suryawanwp.wordpress.com/2014/04/12/simbiosa-alina-review/
ditulis oleh Suryawan WP


Setahun ke belakang saya mulai membaca cerpen-cerpen yang dimuat di koran. Sungging Raga adalah salah satu penulis yang cerpennya sering muncul di koran-koran Minggu. Saya mengagumi tulisannya yang ajaib. Beberapa cerpennya bahkan sampai membekas di ingatan hingga waktu yang lama karena saking ajaibnya.
Bersama Pringadi Abdi, Sungging Raga menerbitkan kumpulan cerpen “Simbiosa Alina”. Judulnya merupakan penggabungan dua judul cerpen milik mereka berdua, “Simbiosa” dan “Alina”.

Ada dua puluh cerita pendek dalam buku ini. Untuk ukuran buku yang tidak terlalu tebal (192 halaman) ternyata tidak bisa saya baca langsung selesai. Butuh waktu beberapa hari untuk menyelesaikannya.

Dari kesepuluh cerita pendek Sungging Raga, favorit saya adalah Sebatang Pohon di Loftus Road, Pelukis dari St. Mary’s, Senja di Taman Ewood, dan Biografi Cartesia. Saya sudah membaca tiga di antaranya, namun ternyata membacanya kembali dalam bentuk buku memberikan suasana yang berbeda. Saya tidak bosan dan tetap terbius meski sudah tahu jalan ceritanya. Dalam buku ini, segala sesuatu bisa terjadi meski sama sekali tidak masuk akal, seperti wanita yang berubah menjadi pohon, ataupun kisah hantu terbang di sebuah stasiun.

Setiap orang memiliki selera masing-masing, termasuk untuk cerpen. Saya kurang suka dengan cerpen yang penulisnya ikut muncul dalam cerita karena itu membuyarkan imajinasi saya. Saya juga kurang suka dengan pelabelan kisah “paling” yang membuat pembaca seolah dipaksa menerima, seperti kalimat terakhir dalam cerpen Simbiosa “Barangkali, itu kisah cinta yang paling mengharukan”. Meskipun dalam cerita itu label “paling” tersebut diberikan oleh rembulan yang kesepian.

Paruh kedua dari buku ini berisi cerpen-cerpen milik Pringadi Abdi. Sembilan dari sepuluh cerpennya memiliki tema “kasih tak sampai”, ataupun “cinta tak harus memiliki” yang dialami anak muda. Saya suka dengan gaya bahasanya. Ada permainan kata dalam kalimat-kalimatnya. Beberapa kejutan yang cukup mencubit di tiap akhir cerita. Namun sepertinya formula tersebut terlalu sering dipakai sehingga kalau malas membaca tengah cerita akan langsung menuju bagian akhir saja. Banyak pengetahuan penulis seperti tentang rumus matematika, sejarah, dan ilmu biologi serta hal-hal yang dekat dengan kehidupan penulis yang diselipkan dalam cerita tapi sayangnya peletakannya kurang smooth sehingga hanya seperti tempelan saja.
Buku ini bisa menjadi hiburan dengan ceritanya yang segar, ringan, dan ajaib.

11 April 2014

Pemilu, Pengalaman dan Pembelajaran

Pada mulanya saya ingin memilih tidak memilih. Alias Golput. Saya pun enggan untuk datang ke TPS dikarenakan saya tak mengenal satu pun caleg yang berada di dapil saya saat ini.

Sebagai pegawai KPPN, dengan pola mutasi yang acak, saya ditempatkan di Sumbawa Besar, jauh dari kampung halaman di Banyuasin, Sumatra Selatan. Pada pemilu 2009 lalu, saya masih berkuliah di Bintaro. Dengan rela dan bersemangat, saya menyempatkan diri untuk pulang dan memberikan suara kepada calon legislatif yang saya kenal betul, dengan mengharapkan adanya perubahanke arah yang lebih baik di kampung halaman. Tapi kali ini, pulang dari Sumbawa ke Sumatra sama saja dengan menghabiskan satu bulan penghasilan.

Meskipun demikian, ada sisi di sudut kecil hati yang ingin memilih. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Sayang sekali rasanya jika sebuah hak tidak dipakai dan disia-siakan. Saya pun sempat mencari tahu prosedur pindah tempat coblos. Petugas satker KPU yang sering datang ke KPPN untuk minta TUP bermilyar-milyar itu mengatakan, awalnya, "Mas tinggal datang saja ke TPS, bawa KTP. Langsung bisa memilih." Tahunya ketika saya berselancar, saya menemukan prosedur formulir A5. Sayangnya, pada tanggal-tanggal yang dipersyaratkan, saya akan sedang berada di luar kota dan tidak bisa mengurus A5 tersebut.

Baru pada tanggal 1 April saya kembali ke Sumbawa, dan petugas satker itu datang ke kantor untuk mengantar SPM. Saya pun berkata, "Mas, bisa tolong mengurus A5. Ini KTP saya..."
Alhamdulillah, dia bersedia dan keesokan harinya dia mengatakan semuanya sudah diproses. Akhirnya saya merasa senang menjadi pegawai KPPN yang selain punya keuntungan kalau bikin SIM dan paspor (nggak perlu antri), ternyata diurus formulir A5 nya juga. Satu hari sebelum pemilu, formulir A5 saya pun diantar oleh petugas KPPS.
13970888561108098573
Punya Saya
Datang ke TPS itu penting. Karena menurut Mahfud MD, dan tersebut di fakta persidangan, salah satu modus kecurangan dalam pemilu itu ialah adalah digunakannya kertas suara yang tidak digunakan oleh pemilih yang tidak datang, dicoblos dengan calon tertentu. Saya sendiri belum menentukan pilihan dan berniat mencoblos semuanya biar adil.

Pukul 9 pagi saya datang ke TPS dan langsung menuju daftar calon legislatif yang ditempel di luar bilik untuk melihat nama dan wajah-wajah mereka. Kadang-kadang kita bisa menilai seseorang dari garis wajah dan ekspresinya saat difoto, bukan?
139718230964475862
Daftar Caleg

Suasana TPS 1 Labuhan Badas pagi itu pun sudah cukup ramai. Mayoritas ibu-ibu. Menyimak mereka berbicara di depan daftar caleg, saya yang belum paham bahasa Sumbawa, mencoba memahami calon mana yang ada di hati mereka. Setidaknya untuk DPD saya kenal satu nama. Tokoh masyarakat setempat. Tokoh ini memang aktif membantu masyarakat bahkan jauh-jauh hari sebelum Pemilu.

Beralih ke DPR RI, ada nama Fachri Hamzah dari PKS. Saya sempat bertemu Fachri di Bandara Praya dua minggu lalu. Di tengah orang-orang yang tidak mengenalinya, pukul setengah 5 pagi itu, saya menyalaminya. Fachri memang putra asli Sumbawa, asal Utan. Sering kami plesetkan kalau Fachri itu Orangutan (baca: orang Utan). Sayangnya, hati saya tak terketuk untuk memilihnya. Dan beralih ke nama lain, mencoba mencari nama yang saya kenal. Alhamdulillah, nggak nyangka, ada satu idola saya bertengger di pojok kiri paling atas pula. Namanya Prof. Kurtubi. Ia salah satu tokoh yang paling vokal menentang kebijakan energi era SBY. Pendapat-pendapatnya logis meski ada beberapa yang out-of-date bila kita pernah menonton diskusinya dengan alm. wamen ESDM.

Berikut suasan TPS 01 Kec. Labuhan Badas pagi itu.




Dan ini bukti saya telah mengikuti pemilihan umum 2014, sebagai pemilu kedua saya dengan sukses dan bahagia.


Semoga saja, pemilu kali ini menghadirkan anggota legislatif yang baik, yang bukan seperti sekarang dengan gaji legislatif no. 4 tertinggi di dunia, tapi kinerjanya paling buruk. Amin.

08 April 2014

Empat Ratus Tahun Cerita Lelaki




Setelah memahami, Jakarta diciptakan untuk orang-orang yang sudah bosan hidup, sambil mengagumi kendaraan yang lalu lalang, asap-asap yang keluar dari knalpot, dan langit yang tak pernah lebih biru dari lautan, ia akhirnya bertemu Teruna.
Gadis itu keluar dari taksi, memakai baju terusan rendah di bagian bawah berwarna merah marun, tersenyum, lalu bertanya, “Sudah menunggu lama?”
Bakda mendarat di Soetta tadi, ia diminta untuk menemui Teruna. “Naiklah Damri jurusan Lebak Bulus, lalu turunlah di Slipi Petamburan.” Teruna mengirimkan pesan singkat.
Yang Teruna tidak ketahui ialah, ia sudah hidup selama lebih dari 400 tahun dan menyepi di daerah-daerah berpenduduk sedikit, menyaksikan orang lahir dan mati, perang dan perdamaian, tetapi ia tidak pernah bosan menunggu untuk jatuh cinta, seperti yang diramalkan Onang Sadino, Pak Tua yang mengaku bisa membaca garis tangan dan membuka lapaknya di pasar Brang Biji beberapa tahun lalu, “Sebelum waktumu berakhir Nak, kau pasti akan jatuh cinta, dan laki-laki sejati hanya jatuh cinta satu kali seumur hidupnya.”
“Apa kamu lelah?” Teruna mengajukan pertanyaan berikutnya.
“Aku hanya tidak terbiasa dengan keramaian.” Ia menyandarkan tubuhnya di kursi, menghela napas,  mengeluarkan botol air minum yang isinya tinggal sedikit, meneguknya, lalu menatap Teruna, “Arsenal pernah punya kostum berwarna merah marun. Konon, itu warna kehidupan.”
Teruna memegang tangan lelaki itu dan berkata, “Aku merasa jauh lebih hidup saat kamu ada di sampingku sekarang ketimbang aku memakai pakaian ini.”
Baru semalam ia berangkat dari Sumbawa, menyisiri garis pantai sampai Poto Tano. Malam itu, ombak di selat Alas tidak begitu bersahabat. Barangkali ada seseorang yang telah meninggalkannya ketika bermain ayunan. Jadi diombang-ambingkannya kapal laut tua itu, sambil mengingat tragedi kapal tua Munawar yang tenggelam beberapa bulan sebelumnya. Ia bisa saja berteleportasi. Tapi jangkauan teleportasinya hanya sekitar 100km. Ia khawatir kemunculannya yang tiba-tiba, dan kadangkala tidak dapat ia kontrol, akan membuat kehebohan bila mana ada saksi mata yang menyaksikannya. Toh, ia sudah ingin hidup sebagai manusia biasa. Kemampuan khususnya ingin ia tenggelamkan.
Gadis itu, meski ia tak yakin apakah Teruna masih seorang gadis, bilang telah jatuh cinta kepadanya, tanpa pernah bertemu sebelumnya.
“Bisakah kita merindukan seseorang yang belum kita temui sebelumnya?” tanya lelaki itu.
Tapi sebelum kita berlanjut menjawab pertanyaan itu, saya akan membawa kalian ke peristiwa lain yang inshaallah masih saling berkaitan, sebagai selingan.
Arsenal baru kalah dari Bayern Munich malam itu. Ia seorang pencinta Arsenal. Kekalahan itu membuatnya galau. Hari itu ia pergi ke Tanjung Menangis. Di sana memang lokasi terbaik untuk memancing.
Saya kebetulan sedang berkemah di Ai Loang, dan bakda Subuh memutuskan untuk menaiki perahu, sendirian. Pagi-pagi begini ombak relatif tenang. Pulau Moyo yang tersohor terlihat dari kejauhan. Dibelai angin yang lembut, saya membayangkan kekasih. Perahu pelan-pelan menjauh dari daratan. Sebatang pohon yang tumbuh sendiri agak jauh dari bibir pantai tampak kesepian.
Ketika menoleh ke arah sebaliknya, di Tanjung Menangis itu, saya menyaksikan sosok itu, ia, sedang memancing. Meski cahaya masih sangat sedikit, dan matahari yang biasa akan terlihat terbit sangat sempurna masih mencoba membukakan mata, saya katakan dengan pasti, ikan-ikan tampak lompat-melompat di sekitar kailnya.
Pada hari itulah kami berkenalan, tapi ia tak mau menyebutkan nama.
Baru berjabat tangan, ia bertanya, “Hal apakah kiranya yang paling tidak kamu percayai di dunia ini, Kawan?”
“Tuhan. Dan pemandangan yang baru saja saya lihat. Bagaimana mungkin ikan-ikan itu seperti minta dipancing?”
“Banyak hal yang belum kita tahu, dan kita cenderung tidak mempercayai hal yang tidak kita ketahui.” Ia masih memegangi pancingnya, memandang lurus ke depan lalu kembali berkata, “Apa kamu akan percaya jika kukatakan aku telah hidup selama lebih dari 400 tahun di dunia ini?”
Saya terhenyak mendengar ucapannya. Ikan-ikan melompat lebih tinggi. Cahaya kuning pertama dari matahari terbit sampai di permukaan lautan. “Tidak mungkin, kecuali engkau Khidir.” Saya menyangsikan.
“Kau asli Tanah Samawa?” Ia menanyakan pertanyaan lain.
“Oh, bukan. Saya baru tiga tahun dimutasikan ke sini.”
“Apa kamu percaya yang namanya kesetiaan?” Pertanyaannya semakin mendalam
“Apa ini soal perempuan?” Saya balik bertanya.
Dia pun menarik pancingnya. Seekor baronang batu yang lebih besar dari telapak tangan tampak menggeliat di ujung kail. Ikan berwarna hitam itu akan terasa enak bila dibakar dengan cara yang tepat.
“Dulu, ada seorang gadis. Dia mengejarku sampai ke tanjung ini. Ah, tidak berhenti sampai di sini, ia terus mengejarku sampai ke sana,” ucapnya sambil menunjuk lautan. Matanya berkaca-kaca. Saya tahu dia sedang sedih menceritakan kisah yang tampak janggal itu. Tapi kalian harus tahu, segala hal yang tak masuk akal, di hadapan cinta, segala hal itu pula dapat diterima. “Aku tidak tahu kalau dia akan mati dengan cara seperti itu. Aku bahkan masih mengingat wajahnya yang sendu, yang meneriakkan namaku ketika perahuku mulai menjauh. Aku pikir, itulah kematian pertama yang aku saksikan di dunia ini, Kawan.”
“Nama? Engkau punya nama?”
“Aku tidak punya nama. Tapi dulu aku dipanggil Daeng Ujung Pandang.”
“Saya seperti pernah mendengar kisah ini.”
“Kalau kamu asli tanah Samawa, pasti kisah ini akrab di telingamu.”
Kalimat terakhirnya tenggelam begitu saja. Saya memang sering tidak mau tahu dengan cerita-cerita di Sumbawa. Sebab menjadi karib dengan tanah ini, akan membuatmu semakin betah berada di sini. Saya sendiri ingin cepat-cepat pindah.
Selain tidak tahu nama,  saya juga tidak tahu tempat tinggal lelaki itu. Tapi setiap kali pergi memancing, di mana pun, di Mamak, di Batu Bulan, di Empang atau sampai di Teluk Santong sekalian, saya selalu bertemu dengannya. Sampai kami sedemikian akrab. Sampai saya mau tidak mau percaya dengan kisah-kisah yang diceritakannya.

~

Kembali ke Teruna, saya mengenalnya di media sosial. Ia seorang gadis yang tangguh. Saya pikir semua gadis yang hidup di Jakarta adalah gadis yang tangguh. Siapa yang bisa tahan bila setiap pagi tak melihat burung-burung bertengger di atas pagar, embun di atas daun, dan duka-luka yang tertumpuk seharian harus dicoreng-morengi asap kendaraan yang penuh timbal.
Ia tersentak ketika melihat profil Teruna di tablet saya. Gadis mungil berambut panjang itu begitu menarik perhatiannya. “Aku sudah hidup selama 400 tahun lebih, tapi baru kali ini aku menemukan wajah seseorang yang mirip dengan wajah sang putri.”
“Max Galuppo saja pernah menemukan lukisan dirinya, persis dirinya di Philadelpia Museum of Art tanpa mengakui ia tidak pernah dilukis oleh seorang pun. Menariknya, lukisan yang diberi judul Portrait of a Nobleman with Dueling Gauntlet itu dibuat pada tahun 1562 di Italia.”
“Jadi apa reinkarnasi itu ada?”
“Ada 7 not dasar. Dari ketujuh not dasar itu, jutaan lagu tercipta. Dari jutaan lagu itu, kalau ada yang mirip atau nyaris sama persis adalah hal yang mungkin. Baru-baru ini Katy Perry dibilang menjiplak Nike Ardilla. Saya pikir itu hanya kebetulan. Genetika juga seperti itu. Entah sudah berapa miliar manusia ada di muka bumi. Jadi bila ada kesamaan, pengulangan genetika, itu suatu kewajaran.”
“Aku belajar sesuatu darimu, Kawan. Ternyata kebijaksanaan bisa datang dari mana saja, termasuk dari manusia seumur jagung.” Ia menjawab lalu tertawa terbahak-bahak.
Saya suka iri melihat perawakannya yang relatif sempurna. Kulitnya secarah buah pir. Giginya putih bersih. Rambutnya hitam dan tebal. Hidup lebih dari 400 tahun tak membuatnya menjadi tambun.
Saya tidak tahu apa rencananya terhadap Teruna ketika sekitar pukul delapan pagi WITA, ia mengirimi aku pesan singkat, “Kawan, aku baru mendarat di Soetta. Sebentar lagi aku akan bertemu Teruna.”

~
           
Lalu dimulailah cerita ini. Ia sedang berada di taksi bersama Teruna menuju kawasan Palmerah. Teruna mengajaknya singgah di kosnya. Saya tidak mau mengajak kalian membayangkan hal yang akan terjadi di antara laki-laki dan perempuan bila berada di ruang yang hanya ada tembok dan atap, berdua saja, lalu tirai ditutup sehingga sulit bagi satuan cahaya terkecil sekali pun untuk mengintip.
Ia tidak mengabari saya apa pun. Hari itu hari Sabtu. Saya memutuskan memancing di Kencana. Bila beruntung akan ada anak-anak perempuan mandi di pantai. Menyegarkan bila Tuhan memberikan kesempatan untuk cuci mata barang sejenak di sana.
Saya tidak mengerti makna kesetiaan. Matahari yang terbit dari timur ke barat itu juga konon akan terbit dari barat ke timur. Bulan yang melayang di langit malam tidak utuh sepanjang hari. Selamanya—apa ada kata selamanya, dan seberapa jauh?
Baru menjelang malam hari, ia mengirim pesan, “Malam ini, Chelsea akan menjamu Arsenal. Aku akan berada di kereta, tolong kabari aku perkembangan skornya ya.”
Kami berdua sama-sama pencinta Arsenal dan saya tidak penasaran terhadap jawaban yang ia dapatkan dari pertemuannya dengan Teruna. Siapa yang tahu bila malam itu, Arsenal harus kalah enam gol tanpa balas dan kereta yang ia naiki berada di atas rel yang tak memiliki ujung?
Barangkali hanya kalian saja yang penasaran bagaimana sejatinya kisah ini harus diakhiri dan saya yang tak mengerti perasaan saya bahkan sejak cerita ini dimulai.

(2014)