12 Mei 2015

KATAK BUNUH DIRI


“Katak-katak ini tidak perlu bunuh diri,” ujarku pada Randal Patisamba yang tengah memegang dua mayat katak. Aku tidak berani memegang satu pun dari mereka, apalagi dengan badan sudah acak-acakan begitu. Aku jadi membayangkan jika tubuhku yang terlindas kendaraan yang besarnya jutaan kali lipat, ya, katak-katak itu terlindas kendaraan yang melintas dari dan ke Labangka.

“Kau yakin kalau katak-katak ini bunuh diri?” Randal Patisamba meragukan ucapanku. Dahinya berkerut. Dia sudah seperti petugas otopsi yang menduga bahwa setiap mayat dengan luka memar, usus terburai, adalah buah kejahatan. “Empat ratus mayat katak dalam jarak lima kilometer itu tidak masuk akal. Artinya, setiap dua belas koma lima meter, ada satu mayat katak yang kita temukan,” tambah Randal sambil bersungut-sungut.

“Jadi, apa kamu ingin bilang kalau ada orang, psikopat yang tidak puas pada satu sesi pembedahan katak di pelajaran Biologi yang melakukan ini semua?” Dengan enggan kuingat sesi paling menjijikkan dalam sejarah umat katak itu. Katak-katak dikorbankan, dibelah perutnya, dikeluarkan isinya demi alasan pengetahuan.

“Mungkin.” Jawaban Randal Patisamba menggantung. Mukanya seperti memikirkan sesuatu, seperti ada yang diketahuinya, tapi tak mau dikatakannya.

Aku tak habis pikir pada rombongan yang sudah berjalan lebih dulu di depan. Mereka sama sekali mengabaikan katak-katak ini. Pantai Leppu di Labangka Tiga menjadi tujuan kami. Bersama-sama kami berangkat dari Sumbawa pukul delapan pagi tadi dan di jalan, motor yang kunaiki bersama Randal mengalami pecah ban. Kami tertinggal di belakang. Untungnya Randal bilang dia tahu jalan.

Mulanya aku tak hendak ikut ke Leppu. Aku masih kecewa dengan Nacinta setelah dikatakannya aku terlalu tua untuk jatuh cinta. Daging kambing yang berusia lebih dari tiga bulan itu alot dan berkolesterol, tidak enak dimakan. Aku disamakannya dengan kambing.

Tapi memang perempuan tidak bisa ditebak, pagi-pagi bakda subuh dia mengirimkan pesan singkat, pesan mesra yang tidak bisa ditolak siapa pun, “Mas, ikut ya ke Leppu, Nacinta sedih kalau Mas nggak ada.”  Aku lebih memilih ikut Lucky Prize di Line itu deh ketimbang harus menebak apa maunya perempuan.

Satu motor kosong yang tersisa milik Randal Patisamba. Dua orang dengan berat badan lebih dari 70 kilogram akan menaiki motor matic kecil yang seharusnya dinaiki perempuan dengan perut rata dan pinggul seperti angsa. Pecah ban sudah sunatullah. Tidak ada pembenaran untuk menggerutu.

Sebelum berbelok ke Labangka, sebelum Plampang, aku tidak tahu kenapa pandanganku tertuju pada satu titik. Sebuah bukit besar menarik perhatian. Awan-awan bergumul di atasnya. “Apa itu?” Reflek aku bertanya pada Randal. Mataku belum beralih ke mana pun.

“Jaran susang.”

“Jaran susang?”

“Itu tempat tertinggi nomor dua di Sumbawa.”

“Setelah Tambora?”

“Tambora tidak dihitung. Tambora di Dompu.”

“Lalu?”

“Puncak Ngengas.”

“Apalagi itu?”

“Sebaiknya jangan lama-lama kau pandangi dia… tak baik.”

“Kenapa?” Aku makin penasaran dengan jawaban Randal. Tapi sahabatku sejak aku di Sumbawa itu sama sekali tak memberiku jawaban. Motor melaju seadanya. Sesekali ia dapat menyalip mobil-mobil bermuatan besar yang menuju ke Bima. Mobil-mobil dengan kapasitas beban seperti inilah yang menyebabkan jalan dari Poto Tano ke Bima sering rusak setiap tahunnya. Dengan struktur tanah yang tak stabil, anggaran yang terbatas untuk membuat lapisan yang tebal, jalan-jalan di Alas, Utan setiap tahun diperbaiki, dan setiap tahun juga rusak kembali. Terlepas dari itu, barangkali jalan-jalan adalah proyek abadi Kementerian Pekerjaan Umum. Atas nama penyerapan anggaran, terkutuklah mereka yang memakan anggaran demi perutnya sendiri.
Aku memikirkan Jaran Susang kembali ketika Randal dengan tergesa berkata, “Kita harus cepat pergi dari sini, Pring.” Begitu aku sudah bersedia di boncengan, ia melajukan motornya dengan kecepatan tertinggi yang bisa dicapai. Mayat-mayat katak itu ditinggalkan begitu saja tanpa satu pun yang sempat kami kuburkan. Aku merasa berdosa melihat mayat-mayat itu terlantar dan membayangkan bila saja ada ratusan mayat manusia yang terlantar, tak dipedulikan, tak dicatat sejarah seperti itu. Serta merta aku bergidik sebelum kudengar Randal mengatakan sesuatu. Perkataan itu yang membuat bulu romaku tegak seperti kemaluan. “Aku yakin sekali katak-katak itu dibunuh, bukan bunuh diri. Pernah ada cerita di sekitar Labangka…”

Ya, pernah ada cerita di sekitar Labangka. Puluhan ribu hektar ladang jagung yang terbentang di Labangka adalah komoditas utama pertanian di wilayah Sumbawa. “Batang-batang jagung itu tertekuk, Pring… bukan satu, tapi ribuan batang jagung.” Randal diam sejenak sebelum melanjutkan, “Malam sebelum itu terjadi, ada badai hebat. Banyak yang mengira, batang jagung itu tertekuk karena badai, tapi badai tidak mungkin membuat tekukan yang begitu rapi, sama di semua batang. Itu perbuatan seseorang, atau sesuatu….”

“Sesuatu?”

“Tadi aku melarangmu melihat Jaran Susang bukan tanpa alasan. Penduduk setempat meyakini di sana adalah kerajaan ghaib di seluruh tanah Samawa ini, Pring. Kalau sore, perhatikanlah nanti setelah kita pulang, awan-awan yang bergumul itu akan tampak seperti air terjun, awan yang ditumpahkan begitu saja dari ketinggian. Dan kalau ke atas sana, kita lemparkan batu ke sisi satunya, batu itu tidak akan terlempar. Ah, maksudku, batu itu akan seperti terhadang sesuatu. Kau pasti pahamlah maksudku. Mistis, Pring.”

Aku menyimak setiap kata Randal. Jalan aspal telah berakhir. Jalan tanah berbatu menggantikannya. Di sisi kiri dan kanan, di sejauh mata memandang, ladang jagung terbentang. Bongkol-bongkol jagung yang lebih besar dari kemaluan lelaki ada di pinggir-pinggir jalan. Penduduk Labangka baru panen jagung. Jagung-jagung itu akan dikirim ke Mataram, ke Bali, ke Surabaya. Dan lagi-lagi lewat darat. Mau dikata apa, transportasi darat masih lebih murah.

Andai saja orang Sumbawa ini membangun industri hulu. Jagung-jagung itu tidak akan cuma jadi jagung-jagung. Sama halnya juga sapi. Sapi melimpah di Sumbawa. Tapi untuk membawa sapi-sapi itu keluar Sumbawa butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit. Coba kalau ada industri pengolahan daging sapi, yang dikirim bukan sapi saja, bukan daging potong saja, tapi bisa kornet juga, bisa abon juga.

“Dulu di Labangka pernah dicoba peternakan sapi, Pring…” Randal membuyarkan pikiranku. “Tapi gagal,” lanjutnya. “Sapi-sapi itu, ah, mengerikan…” tambah Randal.

“Mengerikan?”

“Mereka mati. Massal. Seperti katak-katak tadi.”

“Sapi-sapi itu terlindas kendaraan?”

“Tidak, kendaraan apa yang bisa melindas sapi?”

“Lalu?”

“Tapi perut mereka berlubang. Lubang yang sama persis setiap sapinya. Empat belas centi jari-jarinya. Semua isi perutnya kosong dan tidak ada jejak darah sedikit pun.”

“Astaga! Semua sapi mati begitu?”

“Tidak semua sapi, tapi banyak sapi. Para peternak ketakutan membayangkan seseorang atau sesuatu berkeliaran melakukan itu. Mereka berhenti beternak sapi di sini dan pindah ke Utan.”

“Di Utan aman?”

“Ya, kau lihat kan sapi-sapi berkeliaran di sepanjang jalan, bahkan pada malam hari, tidak ada yang mencuri. Soalnya Fahri Hamzah sudah tidak di Utan. Haha…”

“Kamu masih bisa bercanda dalam topik begini? Huh!”

Randal Patisamba tertawa terpingkal-pingkal. Tawanya baru terhenti ketika kami temui tanjakan yang cukup terjal. “Maju, Pring, rapatkan tubuhmu. Lebih rapat lagi!” pinta Randal dengan serius. Begitu triknya naik motor berdua bila harus melewati tanjakan, rapatkan tubuhmu serapat-rapatnya dengan yang di depan. Bila jalan menurun, kebalikannya, taruh pantatmu di ujung motor agar laju motor tidak bertambah. Soalnya ini matic, tidak ada rem gigi yang biasa otomatis menahan kecepatan maksimal sesuai giginya.

Aku penasaran dengan sapi-sapi yang diceritakan Randal. Mutilasi seperti itu tidak masuk akal. Kenapa harus sapi, kenapa sekarang katak, kenapa bukan kambing. Ah, menyebut kambing, aku teringat kembali dengan Nacinta. Di Lapangan Pahlawan tadi, dia bersama Ega. Mereka tampak begitu mesra meski dia bilang tidak punya hubungan apa-apa dengan Ega. Semua hal dimulai dari nol. Semua kepunyaan dimulai dari tidak punya apa-apa. Menyebutku terlalu tua padahal Ega berumur sama denganku adalah penghinaan ketika dia memilih untuk menebeng di belakang Ega. “Uban-ubanmu itu tidak bisa berbohong,” canda Nacinta malam itu. Tapi candaan itu melukai harga diriku, meski memang uban-uban itu seperti amoeba, yang membelah diri dengan cepat. Asal tahu saja, uban-uban itu adalah kaffarat dosa-dosa. Satu uban telah tertutup pula satu pintu dosa. Semakin banyak uban, aku semakin pendosa dan Tuhan semakin sayang kepadaku.

“Ada makhluk-makhluk misterius di Jaran Susang itu, Pring. Beberapa kesaksian menyebutkannya,” ujar Randal melanjutkan cerita. Di sisi kanan, laut lepas di selatan Sumbawa mulai terlihat. Ombaknya menunjukkan ciri khas ombak pantai selatan yang selalu bersemangat. Biru. Aku mengabaikan ucapan Randal itu sejenak dan membayangkan perahu-perahu barangkali pernah berlabuh di pantai dengan ombak seganas itu.
         
Aku masih berpikir bawah katak-katak itu bunuh diri. Hidup setelah reformasi sudah sedemikian kejam. Katak-katak itu pasti juga merasakan betapa peliknya kesenjangan perekonomian, harga-harga yang terus melambung tinggi melampaui angka inflasi di makroekonomi, atau kehidupan percintaan yang tak selalu mulus.

            Aku bergidik membayangkan aku juga akan bunuh diri dengan cara yang sama seperti katak-katak itu. Dengan sengaja aku akan berdiri di tengah jalan, menanti mobil berkecepatan tinggi menabrakku, melindasku, dan aku mati. Ya, aku mati. Barangkali kematian lebih indah ketimbang hidup dengan cinta bertepuk sebelah tangan.

            “Kita sudah mau sampai,” ujar Randal. Randal membelokkan motor ke kanan di sebuah pertigaan. Jalan kerikil yang baru basah karena hujan semalam digantikan  dengan pasir. Pasir itu membuat roda motor sulit beranjak, ketidaktepatan pengendaraan akan membuat roda semakin terperosok ke kedalaman pasir itu. “Turun, Pring, turun…” pinta Randal Patisamba. Dengan segera aku meloncat dari jok dan motor itu pun dapat bergerak lebih mudah.

            Dua buah pohon menarik perhatianku. Banyak kupu-kupu beterbangan di sekitarnya. Randal yang mengetahui ekspresiku segera berkata, “Itu pohon kupu-kupu, Pring. Kau mau jadi kupu-kupu?”

            Tak kujawab pertanyaan itu dan tak kubahas lebih jauh maksudnya. Aku mengikuti langkah Randal di jalan setapak dan betapa, pemandangan yang kusaksikan selanjutnya adalah pantai terindah yang pernah kulihat selama hidupku. Hamparan pasir putih, ombak yang menari, dan batu karang mirip-mirip di Uluwatu menjadi lanskap sempurna yang diciptakan Tuhan. Seorang perempuan melambaikan tangan ke arahku. Ia memamerkan senyum bintang lima yang membuat segala kecemasanku menguap dengan segera. Nacinta. Lebih melegakan karena tidak ada laki-laki di sekitarnya.

Nacinta adalah gadis tercantik di grup Adventurous Sumbawa, tapi dia hanya menganggapku sebagai sahabatnya, atau lebih ke kakaknya. Kadang-kadang beginilah nasib hati bila sudah terjebak zona pertemanan. Friend zone. Tak seperti yang pernah diucapkan Shakhrukh Khan di Kuch-kuch Hota Hai, cinta adalah persahabatan.

            Ketimbang pantai itu, langkah kakiku bergerak ke arah Nacinta terlebih dahulu. Dia dan 
beberapa teman perempuan yang lain sedang menyiapkan makan siang buat kami. Inilah menariknya Adventurous Sumbawa. Kami akan makan sama-sama di tempat tujuan sambil menikmati alam.

            Beberapa bumbu sudah disiapkan, ikan-ikan yang sudah dibersihkan, kayu bakar yang sudah dikumpulkan, tetapi mataku tertuju pada sesuatu di dalam baskom kecil. Bentuknya lunak dengan sudah dipotong kecil-kecil. Aku penasaran dan bertanya kepada Nacinta, “Yang itu apa, Nacinta?”

            “Oh ini, ini daging katak. Belum pernah coba? Enak lho,” jawab Nacinta santai sambil mencelupkan tangannya ke dalam baskom, menaburinya dengan garam, dan menguleninya dengan seksama.

            Sesuatu bergerak mendesak dari dalam perutku.
            Aku mendadak mual.

(2015)

Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dan nulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis

23 April 2015

Lomba Menulis Resensi 4 Musim Cinta




Pemenang 1: Rp 1.500.000,-
Pemenang 2: Rp 1.000.000,-
Pemenang 3: Rp 500.000,-
Pemenang 4: Paket Buku dari Penerbit Exchange
Pemenang 5: Paket Buku dari Penerbit Exchange
Ketentuan dan Persyaratan:
1. Peserta bisa memilih 1 dari 3 judul novel yang hendak diresensi: 4 Musim Cinta, ToBa Dreams, dan A Girl Who Loves A Ghost.
2. Tidak ada batasan panjang resensi.
3. Resensi diunggah di blog/website pribadi peserta atau di akun media sosial peserta seperti FB, Goodreads, Kompasiana, dll. dengan menampilkan kover buku yang diresensi.
4. Peserta boleh membuat lebih dari 1 resensi.
5. Yang dinilai hanyalah kualitas konten resensi.
Kirimkan email berisi link resensi Anda dan biodata Anda ke: ptkaurama@gmail.com, cc: bunda_laksmi@yahoo.com dan fiksiexchange@gmail.com, paling lambat 25 Mei 2015. Cantumkan tulisan “Sayembara Resensi 3 Novel” di judul email.
Pemenang akan disiarkan di situs Penerbit Exchange (www.kaurama.com) dan via email peserta pada 05 Juni 2015.

Info novel
4 Musim Cinta, Harga Rp59.500,-
Toba Dreams, Harga Rp49.500,-
A Girl Who Loves The Ghost, Harga Rp80.000,-
Bisa didapatkan di toko buku di Indonesia
atau pemesanan langsung ke 085239949448.

05 April 2015

4 Musim Cinta

14282387151118739224

Ketika Timor Timur di ambang disintegrasi, kerusahan pecah. Banyak kantor pemerintahan tutup. Semua pegawai negeri pusat pulang ke daerahnya masing-masing. Namun, satu kantor harus bertahan. Kantor itu dikenal dengan nama Kantor Kas Negara. Sampai seorang pegawainya yang memberanikan diri dan harus datang ke kantor dicegat oleh Fretilin, ditanyai, ditodong senjata, hendak kemana dan siapa. Ia menjawab ia pegawai Kantor Kas Negara. Seketika itu juga ia dilepaskan. Kantor Kas Negara adalah kantor terakhir yang bertahan dan menjadi identitas negara saat itu.

Begitu pun ketika terjadi tsunami di Aceh. Kantor yang pertama kali harus dipulihkan adalah KPPN Khusus Aceh. Kantor Kas Negara (sekarang bernama KPPN) adalah jantung sekaligus darahnya negara. Keberadaannya adalah keniscayaan. Ia hadir bukan karena ada potensi pendapatan yang besar di daerah itu, melainkan karena ia harus hadir untuk menghidupi perekonomian dengan salah satunya mencairkan dana APBN.

Sekelumit cerita itu menjadi pendahuluan atas betapa setiap kita adalah penting. Kenek yang menagih uang angkutan penting, sopir yang mengemudi angkutan juga penting, tak kalah pentingnya pihak yang membeli angkutan tersebut.

Empat orang pegawai Perbendaharaan yang memiliki pengalaman di Manado, Ruteng, Kendari dan Sumbawa pun ingin berkata, harapan sekecil apapun adalah penting. Bahkan para setan pun suka bersemayam dalam hal yang kecil dan detil. Jika dilupakan, hal kecil itu bisa merusak hidup.
Itulah yang kemudian mendasari sebuah novel ini. 4 Musim Cinta mengejewantahkan harapan dan keyakinan, serta realitas yang harus mereka hadapi. Mulai dari idealisme hingga hubungan persahabatan dan percintaan menjadi riskan dalam situasi-situasi yang rumit.

Di dalam novel ini pun sebenarnya, jika ditelaah lebih lanjut, banyak gugatan atas kebijakan pemerintah. Mulai dari penyerapan anggaran yang tidak proporsional, quality of spending, sampai ke pemberian tunjangan ke instansi perpajakan yang banyak dipertanyakan oleh bahkan sesama pegawai Kementerian Keuangan.
“Kita kurang alasan apa lagi? Pajak buat kebijakan. Sedangkan yang mengadministrasikan setiap rupiah pajak yang masuk ke kas negara, siapa? Kita. Yang membuat laporan penerimaan setiap harinya siapa? Kita. Yang dimintai laporan penerimaan pajak oleh Pak Menteri siapa? Kita. Pajak menyumbang sekian persen dari sisi pendapatan negara. Selebihnya kita.”
Mata Sera tampak berapi-api. Tidak ada senyum di wajahnya yang membuat ia terlihat ramah. Aku mengikik pelan mendengar betapa gigih Sera mengungkapkan pendapatnya. Dan ternyata Sera belum selesai dengan kalimatnya. “Yang mengurusi pencairan 1800 T APBN kita siapa? Kita. Yang buat LKPP siapa? Kita.”
Sera mengempaskan pensil yang sedari tadi ia mainkan di antara jemarinya, ke atas meja lalu ia menyilangkan kedua tangan di depan dada. Wajahnya bersungut-sungut. Aku melirik Carlo yang masih bingung memilih dan memilah berkas yang akan diberikan padaku. Ia tampak tidak peduli dengan perdebatan yang terjadi dengan ketiga orang itu.
Setelah memperlihatkan sikap bertahan seperti itu, kedua laki-laki yang ada di samping Sera tidak berbicara dalam waktu yang cukup lama. Barangkali, baru kali ini mereka mengetahui kenyataan seperti ini. Agung, laki-laki kurus berkacamata itu, sempat melihat Sera dengan wajah yang terlihat berpikir. Bisa jadi ia sedang mencari-cari pembelaan atas pendapatnya yang bertentangan dengan kata-kata Sera. Sementara Somad, laki-laki bongsor berpotongan rambut ala tentara, duduk tegak menghadap ke depan. Ia melihatku lama.
“Apa mungkin kita hanya melihat dari luarnya saja. Maksudku, kita boleh saja merasa bahwa kita telah bekerja keras, tapi siapa yang tahu seberapa keras ‘saudara’ kita bekerja sehingga dihargai sedemikian tinggi?” Somad mengangkat bahu. Agung mengangguk setuju.
“Ya. Mereka memang bekerja keras. Keras sekali.” Sera menjawab sinis.
“Jangankan di tingkat kementerian. Bahkan antara kamu dan Agung, bisa jadi ada ketidakadilan jumlah penghasilan. Kalau saya tanya, siapa yang lebih berdedikasi terhadap instansi, apa kalian bisa jawab?”
Carlo nimbrung dalam percakapan mereka. Kali ini aku tersenyum terang-terangan. Kali ini Carlo menjawab dengan tepat. Setidaknya jawaban retoris macam itu diperlukan untuk meredakan gejolak pemberontakan yang bisa saja muncul di dada tiga orang itu.
“Kita ini pelayan masyarakat. Lebih tinggi lagi, kita ini bekerja untuk yang di atas. Nabung pahala istilahnya. Pada akhirnya, apa yang kita dapat pasti sesuai dengan apa yang kita berikan. Seberapa banyak yang kita berikan? Hati kita sendiri yang tahu jawabannya.”
Rasanya ingin tertawa mendengar lanjutan pernyataan Carlo. Apa dia lupa pada larangan cuti yang ditujukan kepadaku waktu itu. Lalu sekarang dia berbicara tentang pahala? Sangat bertentangan dengan sikapnya sehari-hari.
“Tapi, Pak…” Sera tampak tidak terima.
“Sssttt… Perdebatan macam ini tidak akan memberi dampak apa-apa. Semakin kalian menyesali kondisi tempat kalian berada, semakin kalian merasakan sakit hati. Benar, nggak, Gayatri?” Dari mejanya, Carlo melihatku tajam. Aku mengangguk wagu, tak tahu harus menjawab apa.
Sayang, karena pertimbangan editor, dialog tersebut di atas dihapus di dalam cerita ini. Katanya terlalu teknis.

Pada akhirnya, semoga saja jika ke toko buku, dan melihat bibir merah merekah di sampulnya, teman-teman segera mengambil dan membawanya ke kasir. Atau bisa pesan langsung dengan mengirimkan nama dan alamat ke 085239949448 atau via SMS/WA. Semoga.
14282389842037555620
Paperback, 332 pages
Published March 13th 2015 by Exchange
original title 4 Musim Cinta
ISBN13 9786027202429
edition language Indonesian
harga Rp59.500,-

Apa kau percaya jika satu hati hanya diciptakan untuk satu cinta? Barangkali beruntung orang-orang yang bisa jatuh cinta beberapa kali dalam hidupnya. Tetapi aku yakin, lebih beruntung mereka yang sanggup menghabiskan hidupnya dengan satu orang yang dicintai dan mencintainya.

4 Musim Cinta adalah sebuah novel yang bertutur tentang lika-liku kehidupan cinta empat birokrat muda: satu wanita, tiga pria. Gayatri, wanita Bali yang merasa berbeda dengan wanita-wanita pada umumnya. Gafur, pria Makassar yang menjalin kasih dengan seorang barista asal Sunda yang enggan menikah. Pring, pria Palembang yang nikah muda tetapi harus terpisah jauh dari istrinya karena tugas negara. Arga, pria Jawa yang selalu gagal menjalin hubungan dengan wanita. Mereka bertemu dan saling berbagi rahasia. Tak disangka, setiap rahasia kemudian menjadi benih-benih rindu yang terlarang. Persahabatan, cinta, dan kesetiaan pun dipertaruhkan

20 Juli 2014

Alamat Media dan Teknik Pengiriman Naskah

Hal pertama yang harus diperhatikan seorang penulis sebelum mengirimkan cerpen/puisi ke suatu media adalah kecenderungan tema cerpen/puisi yang biasa dimuat oleh media tersebut. Biasanya sejalan dengan visi dan misi media.
Majalah Ummi, Tabloid Nova, tentu tidak akan memuat cerpen dengan tema remaja yang lagi patah hati dengan gaya tutur gaul seperti loe, gue, apalagi memuat kisah peri hijau dan cinderella. Begitu pula Majalah Bobo, mustahil menerima cerpen dengan tema keluarga dan rumah tangga.
Naskah diketik dalam MS Word, kertas A4, Times New Roman 12, line spacing 1.5, maksimal 10.000 karakter termasuk spasi—tergantung media, disimpan dalam format RTF (Rich Text Format), dan dikirim via file attachment.
Jangan lupa di bagian akhir naskah cantumkan nomer rekening Anda untuk pengiriman honor—jika dimuat, NPWP (nomor pokok wajib pajak—bagi yang sudah punya), alamat email, dan nomer hp.
Pada subjek email untuk pengiriman cerpen ditulis CERPEN: JUDUL CERPEN .
Tulis pengantar singkat-padat-jelas pengiriman cerpen pada badan email. Dan, akan lebih baik jika dalam pengantar ditegaskan tentang lama status cerpen yang dikirim.
“Jika setelah DUA BULAN cerpen ini belum dimuat, maka akan saya kirim ke media lain….”
Selesai.
Tarik nafas dalam-dalam, ucapkan syukur karena telah menyelesaikan sebuah cerpen/puisi dan mengirimkannya ke media. Berdoalah semoga layak muat dan dikirim honornya jika dimuat. Amin.
Dan, teruslah (belajar) menulis kreatif lebih baik lagi!
 .
Selatan Jakarta, Gatsu 52-53 Lt.14
17 Januari 2012 09:29 WIB
.
Contoh pengantar pengiriman.
.
Dari                   : Saroni Asikin
Kepada            : sastra@jawapos.co.id Jawapos
Dikirim             : Kamis, 15 September 2011 5:25
Judul                 : Cerpen STRIPTEASE DI JENDELA–Saroni Asikin
.
Semarang, 15 September 2011
Kepada
Yth. Redaktur Cerpen Jawa Pos
di tempat.
Dengan hormat,
Bersama ini saya kirimkan sebuah cerpen saya bertajuk “STRIPTEASE DI JENDELA” (dalam Lampiran). Saya sangat berharap cerpen ini Anda baca dan kelayakan pemuatannya sepenuhnya hak Anda. Atas pembacaan dan pertimbangan Anda, saya ucapkan terima kasih.
Hormat saya,
Saroni Asikin
saroniasikin@yahoo.co.id
Tlp. 08xxxxxxxxxx
Rekening Bank Xxxxxxx Nomor Xxxxxxxxxxxxx a.n. Saroni Asikin
.
.
BERIKUT alamat-alamat email redaksi koran, majalah, jurnal dan tabloid yang menerima kiriman CERPEN/PUISI. Anda yang mengetahui info terkini terkait alamat-alamat email redaksi dan honor pemuatan cerpen/puisi dimohon bantuannya dengan menuliskannya pada komentar Anda. Terima kasih.
1. Kompas

opini@kompas.co.id, opini@kompas.com
Honor cerpen Rp. 1.400.000,- (tanpa potong pajak), honor puisi Rp. 500.000,- (tanpa potong pajak–referensi Esha Tegar Putra), biasanya 2-3 hari setelah pemuatan, honor sudah ditransfer ke rekening penulis.

23 Juni 2014

Puisi Pringadi Abdi Surya, diterjemahkan oleh John H. McGlynn

The Last Rain in Memory

I will set aside this mist for you
until the time comes to meet
for leaves have only just begun to grow
after the curse of a century of drought
for my failure as a man to turn stones
into gold

an elderly alchemist named khidir
who disappeared into eternity
left a message for me:

even one drop of the bitter rain that fell that evening
is capable of becoming a new world

no one knows, I've even concealed my shadow
in that old and windowless house
and that I'm looking now for other shadows
cast by a woman with reddened lips

upon seeing her, the rain will lessen
and everyone will begin to affirm the feeling of pain

I will set aside this mist for you
until the time comes to meet
and the leaves that are styudying to write down names
don't come to know how your name is spelled

as death or as love

(2014)

John H. McGlynn adalah seorang penerjemah dan editor berkebangsaan Amerika yang telah tinggal di Indonesia sejak 1976.Selain sebagai Ketua Lontar[10], ia juga menjadi editor Indonesia untuk Manoa, jurnal kesusastraan dari Universitas Hawaii , sekaligus menjadi editor tamu Words Without Borders.[1] Ia adalah anggota Komisi Internasional dari IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia), PEN International-New York, dan The Association of Asian Studies

20 Juni 2014

Pringadi Abdi Surya dalam Negeri Poci 5





Alhamdulillah, puisi saya masuk dalam antologi ini. Beberapa puisi dapat dilihat di http://www.teraslampung.com/2014/06/puisi-puisi-dari-negeri-poci-5-negeri.html

Dari redaksi: Puisi-puisi ini adalah sebagian dari 153 penyair dalam Antologi Puisi Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit yang diterbitkan Kosakata Kita bekerja sama dengan Komunitas Radja Ketjil. Pada 20 Juni 2014 akan diluncurkan di Tegal. Diperkirakan 50-an penyair akan hadir pada acara berajuk "Temu Penyair Dari Negeri Poci" tersebut. 

SEPANJANG TUBAGUS, SEPEREMPAT ABAD

i.
ia akan berusia seperempat abad, tetapi
belum mengerti caranya mengusir kesepian.

ii.
ia bermimpi menjadi remaja, menelepon dan mengirim sms cinta.
tetapi tiada lagi kekasihnya, tiada lagi perempuan-perempuan
yang lahir dari ujung daun. ia menengok ke seberang jalan,
bangunan-bangunan lebih tinggi dari kesombongan.

kepada siapa ia harus menjadi remaja, pikirnya
tetapi ia lupa, ia telah tak memiliki pikiran.

iii.
ia akan menyalakan tungku. tetapi tak ada kayu bakar
daun-daun kering di sepanjang tubagus menebarkan bau hangus

ada api kecil menyala di tulang daun, ia menangis melihatnya
api kecil lain di matanya sudah lama tiada

iv.
di kehidupan yang lalu, ia pasti seorang superhero
punya sayap dan tak malu memakai pakaian dalam di luar celana
yang ia herankan, kehidupan sekarang orang-orang lebih tak punya malu
sebagianbahkan tak memakai pakaian dalam

ia tahu, ia harus benar-benar menutupi dadanya yang gosong
karenaluka, dari kenyataan atau dari perasaan

ia tahu, ia harus belajar memiliki kelamin yang terpotong kekuasaan

2013


PRINGADI ABDI SURYA. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Sekarang bekerja di KPPN Sumbawa Besar. Buku puisinya, Alusi(2009).

12 Juni 2014

Terjemahan Bebas The Road Not Taken By Robert Frost

Jalan yang Tak Ditempuh

dua jalan menyimpang di hutan cladrastis kentukea

dan sungguh maaf, aku tak bisa menempuh keduanya

dan menjadi musafir sendiri, lama aku berdiri

dan melamun-merenungi sejauh yang aku mampu

demi kemana jalan ini berbelok dalam semak-semak;

 

lalu tempuhlah yang lain, biar terasa lebih adil,

dan memiliki kemungkinan untuk menjadi lebih baik

karena begitu serut dan kurang terjamahi;

meskipun untuk berjalan terus ke sana

sedikit mengusangkan pikiran mereka pada persamaan

 

Dan keduanya, secara seimbang membaringkan pagi

menginjak daun-daun itu, tanpa meninggalkan jejak, 

oh, aku mengenang yang pertama untuk suatu saat nanti!

Dan belum aku tahu, cara jalan menuntun ke kebenaran

aku meragukan bahwa yang telah aku tinggalkan akan kembali

 

Aku harusnya mengatakan semua ini dengan lenguhan

di suatu tempat, usia demi usia yang berguguran:

Dua jalan menyimpang di sebuah hutan, dan aku--

aku telah memilih satu, yang sepertinya sunyi,

dan di situlah aku telah membuat suatu perbedaan.

 

08 Juni 2014

Palasik, (Berita Kota Kendari 7 Juni 2014)


Ketika orang-orang tengah meributkan partikel Tuhan dan tanpa sadar melupakan bahwa Boston-Higgs bukan satu orang (aku jadi kasihan pada orang India itu) sementara sebagian yang lain asik mendebat tentang Grand Design milik Stephen Hawking (dan aku kerap keliru menyebutnya Stephen King), Zane malah berkata tak ingin membawa Hanna keluar rumah karena takut palasik. Padahal besok 1 Syawal. Idul Fitri. Dan ia lulusan Fisika ITB dengan IPK di atas tiga.

            "Apa hubungannya lulusan Fisika ITB dengan 1 Syawal?" Ia berbalik tanya, mengerutkan dahi, tak terima. "Kenapa tak sekalian Ayah bilang saja, ijazah cap gajahku itu tak ada gunanya karena aku hanya menjadi ibu rumah tangga?" Ah, aku benci jika ia mulai mengungkit-ungkit hal ini.
         
   "Bukan, Sayang. Ayah cuma menyarankan Mama untuk ikut shalat besok. Sayang 'kan, setahun sekali lho..."
            "Lalu Hanna bagaimana?"
            "Dia tidak bisa ikut?"
            "Palasik Ayah, palasik!"
“Palasik?”
            Aku tidak paham alasan mitos palasik begitu kuat di sini. Di Palembang, tak ada palasik. Yang ada sawan. Diberi penjelasan ilmiah, bayi yang terkena sawan disebabkan oleh bakteri atau virus saat berada di luar rumah sementara imunitas sang bayi lemah. Bukan karena kesambet jin. Tapi, di Talang, ah, aku tak bisa membayangkan ada sesosok kepala melayang di malam hari, mengikuti bayi kemudian mengisap darahnya. Dan bila di siang hari, ia manusia biasa. Namun, bila melihat bayi lewat, ia akan melotot dan mengisap energi sang bayi.
            "Anak Etek Fitri, yang rumahnya dekat Tunggaek, baru empat hari meninggal. Padahal lahirnya sehat, normal, tak ada masalah. Dua koma tujuh kilogram. Hanna cuma satu koma enam. Ayah mau ambil resiko?" lanjutnya.
            “Hidup mana yang tak ada resiko, Ma? Kita lagi makan enak pun bisa tersedak. Allah yang mengatur hidup mati kita. Ayah tak suka kalau bau-baunya sudah mendekati syirik begini.” Aku menjawab tegas.
            “Ya sudah, bilang ke Mama dulu,” ia mengalah.