20 Juli 2014

Alamat Media dan Teknik Pengiriman Naskah

Hal pertama yang harus diperhatikan seorang penulis sebelum mengirimkan cerpen/puisi ke suatu media adalah kecenderungan tema cerpen/puisi yang biasa dimuat oleh media tersebut. Biasanya sejalan dengan visi dan misi media.
Majalah Ummi, Tabloid Nova, tentu tidak akan memuat cerpen dengan tema remaja yang lagi patah hati dengan gaya tutur gaul seperti loe, gue, apalagi memuat kisah peri hijau dan cinderella. Begitu pula Majalah Bobo, mustahil menerima cerpen dengan tema keluarga dan rumah tangga.
Naskah diketik dalam MS Word, kertas A4, Times New Roman 12, line spacing 1.5, maksimal 10.000 karakter termasuk spasi—tergantung media, disimpan dalam format RTF (Rich Text Format), dan dikirim via file attachment.
Jangan lupa di bagian akhir naskah cantumkan nomer rekening Anda untuk pengiriman honor—jika dimuat, NPWP (nomor pokok wajib pajak—bagi yang sudah punya), alamat email, dan nomer hp.
Pada subjek email untuk pengiriman cerpen ditulis CERPEN: JUDUL CERPEN .
Tulis pengantar singkat-padat-jelas pengiriman cerpen pada badan email. Dan, akan lebih baik jika dalam pengantar ditegaskan tentang lama status cerpen yang dikirim.
“Jika setelah DUA BULAN cerpen ini belum dimuat, maka akan saya kirim ke media lain….”
Selesai.
Tarik nafas dalam-dalam, ucapkan syukur karena telah menyelesaikan sebuah cerpen/puisi dan mengirimkannya ke media. Berdoalah semoga layak muat dan dikirim honornya jika dimuat. Amin.
Dan, teruslah (belajar) menulis kreatif lebih baik lagi!
 .
Selatan Jakarta, Gatsu 52-53 Lt.14
17 Januari 2012 09:29 WIB
.
Contoh pengantar pengiriman.
.
Dari                   : Saroni Asikin
Kepada            : sastra@jawapos.co.id Jawapos
Dikirim             : Kamis, 15 September 2011 5:25
Judul                 : Cerpen STRIPTEASE DI JENDELA–Saroni Asikin
.
Semarang, 15 September 2011
Kepada
Yth. Redaktur Cerpen Jawa Pos
di tempat.
Dengan hormat,
Bersama ini saya kirimkan sebuah cerpen saya bertajuk “STRIPTEASE DI JENDELA” (dalam Lampiran). Saya sangat berharap cerpen ini Anda baca dan kelayakan pemuatannya sepenuhnya hak Anda. Atas pembacaan dan pertimbangan Anda, saya ucapkan terima kasih.
Hormat saya,
Saroni Asikin
saroniasikin@yahoo.co.id
Tlp. 08xxxxxxxxxx
Rekening Bank Xxxxxxx Nomor Xxxxxxxxxxxxx a.n. Saroni Asikin
.
.
BERIKUT alamat-alamat email redaksi koran, majalah, jurnal dan tabloid yang menerima kiriman CERPEN/PUISI. Anda yang mengetahui info terkini terkait alamat-alamat email redaksi dan honor pemuatan cerpen/puisi dimohon bantuannya dengan menuliskannya pada komentar Anda. Terima kasih.
1. Kompas

opini@kompas.co.id, opini@kompas.com
Honor cerpen Rp. 1.400.000,- (tanpa potong pajak), honor puisi Rp. 500.000,- (tanpa potong pajak–referensi Esha Tegar Putra), biasanya 2-3 hari setelah pemuatan, honor sudah ditransfer ke rekening penulis.

23 Juni 2014

Puisi Pringadi Abdi Surya, diterjemahkan oleh John H. McGlynn

The Last Rain in Memory

I will set aside this mist for you
until the time comes to meet
for leaves have only just begun to grow
after the curse of a century of drought
for my failure as a man to turn stones
into gold

an elderly alchemist named khidir
who disappeared into eternity
left a message for me:

even one drop of the bitter rain that fell that evening
is capable of becoming a new world

no one knows, I've even concealed my shadow
in that old and windowless house
and that I'm looking now for other shadows
cast by a woman with reddened lips

upon seeing her, the rain will lessen
and everyone will begin to affirm the feeling of pain

I will set aside this mist for you
until the time comes to meet
and the leaves that are styudying to write down names
don't come to know how your name is spelled

as death or as love

(2014)

John H. McGlynn adalah seorang penerjemah dan editor berkebangsaan Amerika yang telah tinggal di Indonesia sejak 1976.Selain sebagai Ketua Lontar[10], ia juga menjadi editor Indonesia untuk Manoa, jurnal kesusastraan dari Universitas Hawaii , sekaligus menjadi editor tamu Words Without Borders.[1] Ia adalah anggota Komisi Internasional dari IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia), PEN International-New York, dan The Association of Asian Studies

20 Juni 2014

Pringadi Abdi Surya dalam Negeri Poci 5





Alhamdulillah, puisi saya masuk dalam antologi ini. Beberapa puisi dapat dilihat di http://www.teraslampung.com/2014/06/puisi-puisi-dari-negeri-poci-5-negeri.html

Dari redaksi: Puisi-puisi ini adalah sebagian dari 153 penyair dalam Antologi Puisi Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit yang diterbitkan Kosakata Kita bekerja sama dengan Komunitas Radja Ketjil. Pada 20 Juni 2014 akan diluncurkan di Tegal. Diperkirakan 50-an penyair akan hadir pada acara berajuk "Temu Penyair Dari Negeri Poci" tersebut. 

SEPANJANG TUBAGUS, SEPEREMPAT ABAD

i.
ia akan berusia seperempat abad, tetapi
belum mengerti caranya mengusir kesepian.

ii.
ia bermimpi menjadi remaja, menelepon dan mengirim sms cinta.
tetapi tiada lagi kekasihnya, tiada lagi perempuan-perempuan
yang lahir dari ujung daun. ia menengok ke seberang jalan,
bangunan-bangunan lebih tinggi dari kesombongan.

kepada siapa ia harus menjadi remaja, pikirnya
tetapi ia lupa, ia telah tak memiliki pikiran.

iii.
ia akan menyalakan tungku. tetapi tak ada kayu bakar
daun-daun kering di sepanjang tubagus menebarkan bau hangus

ada api kecil menyala di tulang daun, ia menangis melihatnya
api kecil lain di matanya sudah lama tiada

iv.
di kehidupan yang lalu, ia pasti seorang superhero
punya sayap dan tak malu memakai pakaian dalam di luar celana
yang ia herankan, kehidupan sekarang orang-orang lebih tak punya malu
sebagianbahkan tak memakai pakaian dalam

ia tahu, ia harus benar-benar menutupi dadanya yang gosong
karenaluka, dari kenyataan atau dari perasaan

ia tahu, ia harus belajar memiliki kelamin yang terpotong kekuasaan

2013


PRINGADI ABDI SURYA. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Sekarang bekerja di KPPN Sumbawa Besar. Buku puisinya, Alusi(2009).

12 Juni 2014

Terjemahan Bebas The Road Not Taken By Robert Frost

Jalan yang Tak Ditempuh

dua jalan menyimpang di hutan cladrastis kentukea

dan sungguh maaf, aku tak bisa menempuh keduanya

dan menjadi musafir sendiri, lama aku berdiri

dan melamun-merenungi sejauh yang aku mampu

demi kemana jalan ini berbelok dalam semak-semak;

 

lalu tempuhlah yang lain, biar terasa lebih adil,

dan memiliki kemungkinan untuk menjadi lebih baik

karena begitu serut dan kurang terjamahi;

meskipun untuk berjalan terus ke sana

sedikit mengusangkan pikiran mereka pada persamaan

 

Dan keduanya, secara seimbang membaringkan pagi

menginjak daun-daun itu, tanpa meninggalkan jejak, 

oh, aku mengenang yang pertama untuk suatu saat nanti!

Dan belum aku tahu, cara jalan menuntun ke kebenaran

aku meragukan bahwa yang telah aku tinggalkan akan kembali

 

Aku harusnya mengatakan semua ini dengan lenguhan

di suatu tempat, usia demi usia yang berguguran:

Dua jalan menyimpang di sebuah hutan, dan aku--

aku telah memilih satu, yang sepertinya sunyi,

dan di situlah aku telah membuat suatu perbedaan.

 

08 Juni 2014

Palasik, (Berita Kota Kendari 7 Juni 2014)


Ketika orang-orang tengah meributkan partikel Tuhan dan tanpa sadar melupakan bahwa Boston-Higgs bukan satu orang (aku jadi kasihan pada orang India itu) sementara sebagian yang lain asik mendebat tentang Grand Design milik Stephen Hawking (dan aku kerap keliru menyebutnya Stephen King), Zane malah berkata tak ingin membawa Hanna keluar rumah karena takut palasik. Padahal besok 1 Syawal. Idul Fitri. Dan ia lulusan Fisika ITB dengan IPK di atas tiga.

            "Apa hubungannya lulusan Fisika ITB dengan 1 Syawal?" Ia berbalik tanya, mengerutkan dahi, tak terima. "Kenapa tak sekalian Ayah bilang saja, ijazah cap gajahku itu tak ada gunanya karena aku hanya menjadi ibu rumah tangga?" Ah, aku benci jika ia mulai mengungkit-ungkit hal ini.
         
   "Bukan, Sayang. Ayah cuma menyarankan Mama untuk ikut shalat besok. Sayang 'kan, setahun sekali lho..."
            "Lalu Hanna bagaimana?"
            "Dia tidak bisa ikut?"
            "Palasik Ayah, palasik!"
“Palasik?”
            Aku tidak paham alasan mitos palasik begitu kuat di sini. Di Palembang, tak ada palasik. Yang ada sawan. Diberi penjelasan ilmiah, bayi yang terkena sawan disebabkan oleh bakteri atau virus saat berada di luar rumah sementara imunitas sang bayi lemah. Bukan karena kesambet jin. Tapi, di Talang, ah, aku tak bisa membayangkan ada sesosok kepala melayang di malam hari, mengikuti bayi kemudian mengisap darahnya. Dan bila di siang hari, ia manusia biasa. Namun, bila melihat bayi lewat, ia akan melotot dan mengisap energi sang bayi.
            "Anak Etek Fitri, yang rumahnya dekat Tunggaek, baru empat hari meninggal. Padahal lahirnya sehat, normal, tak ada masalah. Dua koma tujuh kilogram. Hanna cuma satu koma enam. Ayah mau ambil resiko?" lanjutnya.
            “Hidup mana yang tak ada resiko, Ma? Kita lagi makan enak pun bisa tersedak. Allah yang mengatur hidup mati kita. Ayah tak suka kalau bau-baunya sudah mendekati syirik begini.” Aku menjawab tegas.
            “Ya sudah, bilang ke Mama dulu,” ia mengalah.

14 Mei 2014

Sebuah Esai Milik Memori





            Hal paling menyedihkan dari Sumbawa adalah tidak adanya bioskop. Dan hal yang paling menyedihkan dari bioskop adalah mereka lebih memilih menampilkan film-film porno berkedok horor ketimbang film-film berkualitas seperti Introduction to Architecture.

            Maka, malam-malam sendiri yang biasa saya isi dengan petikan gitar yang sembarang itu kini berubah menjadi kesetiaan di depan layar komputer, menunggu unduhan judul demi judul selesai, lalu menontonnya sampai pukul dua pagi ketika suara-suara misterius dari dapur, ketukan-ketukan kecil di dinding mulai terdengar, dan suara tapak berat yang tidak mungkin tikus di atas atap mulai bermunculan. Saya tidak takut hantu. Saya takut kalau tidak punya uang.

            Namun malam ini ada kamu di depan saya. Dan malam ini juga tidak akan ada cerita lain tentang Tuan Alien dan Teruna. Masa bodoh dengan mereka berdua.
            “Ceritakanlah tentang sesuatu...” Sedari tadi kita diam. Kamu beberapa kali menoleh ke jalan. Saya tidak tahu hal yang kamu khawatirkan. Mungkin motormu di parkiran tidak punya kunci pengaman. Tapi Sumbawa relatif aman selain tragedi 22 Januari silam dan beberapa kasus pembunuhan. Mungkin juga kamu risih bersama saya saat ini dan ingin segera pulang.
            “Tidak, Mas, Sari bukan memikirkan pulang...”
            “Lalu?”
            “Sari suka melihat lalu lalang kendaraan, apalagi kalau ada dua orang berpelukan di motor...”
            “Kamu ingin dipeluk?”
            Tidak ada jawaban. Kamu memisahkan sambal dari bumbu satenya. Lalu menggigit daging kambing yang tampak alot itu dengan semangat. Itu pasti kambing tua yang kesepian.
            “Kamu tidak takut kolesterol?”
            “Mas sendiri kenapa kulitnya tidak dimakan?”
            Seporsi sate milik saya sudah habis duluan. Tapi saya tidak pernah mau memakan kulit ayam yang biasanya diletakkan di tengah tusuk sate, diapit dua potongan kecil daging itu. Saya pikir begitulah nasib manusia kebanyakan yang sering didesak dua pilihan. Ketika dua pilihan itu menghilang, yang tersisa hanyalah sepi kembali.
            “Rupanya kamu memperhatikan saya...” jawab saya singkat.
            Bupati yang sekarang konon katanya menggalakkan peremajaan taman-taman. Tapi tidak ada yang signifikan. Taman di sepanjang sisi sungai Brang Biji misalnya, kurang cahaya. Ada baiknya bila di sana dibangun talud, lalu dipancangkan lampu-lampu yang terang benderang. Orang-orang bisa berjualan. Bukan malah menjadi tempat mesum. Pasangan muda duduk berpangku di motor. Siapa pun tahu, hal yang mereka inginkan bukanlah membiarkan oksigen diserap pohon-pohon, tapi saling mencoba memberikan napas buatan. Juga taman di depan Polres ini. Satu tugu yang menjulang gagal menjadi POI. Awalnya saya ingin mengajakmu duduk di sana, dan kita akan persis orang yang berpacaran. Tapi lampu tamannya sudah keburu mati. Putus. Kamu tidak berniat memutuskan pertemanan ini ‘kan?
            Dua rembulan di langit masih tertutup awan. Saya mulai terbiasa dengan segala omong kosong ini. Kamu lalu bercerita tentang kucing. Kucingmu yang sudah dipelihara dari kecil sepulang ini akan kamu berikan ke teman. “Warnanya putih. Persia. Biaya perawatannya mahal,” katamu lagi.
            “Kenapa tidak diberikan ke saya?”
            “Telat.”
            “Kalau pemiliknya, kenapa tidak diberikan ke saya?”
            “Telat.”
            Dua jawaban. Dua-duanya telat. Ini menyakitkan. Lalu satu teguk jus wortel-jeruk membasahi kerongkongan. Itu menyegarkan.
            Setelah kamu bilang untuk tidak mencintaimu, saya belum menyerah sepenuhnya. Meski menjengkelkan rasanya, sebelum saya sempat bilang apa-apa, kamu sudah menolak untuk dicintai. Saya ingin katakan kepadamu, mencintai itu adalah hak saya. Hak kamu adalah menerima atau menolak cinta saya. Suka bingung, ada saja orang yang salah mengartikan hak. Saya tidak suka asam padeh dipertanyakan. Saya tidak suka sinetron dipertanyakan. Saya tidak suka Jokowi malah dihina-hina. Saya mau suka kamu saja dipersulit. Bukan birokrasi saja ternyata yang suka mempersulit.
            Rasanya di tahun omong kosong ini, hak dan kewajiban, benar dan salah, jadi semakin sulit dibedakan. Sama halnya Son Ye Jin dan Han Ga In. Jangan-jangan mereka operasi plastik di dokter bedah kulit yang sama. Kecantikan artifisial seperti itu hanya indah dipandangi dari jauh. Saya lebih suka kecantikan alami. Seperti yang Laura Basuki bilang, kecantikan itu simpel, nggak perlu dengan jahit benang segala. Bagi saya, kecantikan alami itu kamu. Kamu yang rela akan pergi ke Labangka, dua jam perjalanan berpanas-panasan hanya untuk membuktikan pasir-pasir di sana memang mirip merica. Demi kamu, bila kamu mau, saya akan borong seluruh merica di Sumbawa dan menaburkannya di Pantai Kencana. Lalu kita duduk di sana sambil melihat senja terbaik yang memang hadir di bulan Mei dan Juni.
            Laut yang terbentang di depan mata kita adalah void. Itu adalah ruang kosong yang memotong kontinuitas ruang antara dua area. Area kamu dan area saya.
            “Bila kamu membangun rumah, kamu ingin rumah yang seperti apa?”
            Kamu bertanya itu seolah-olah ingin bertanya, “Bila kamu membangun rumah tangga, kamu ingin rumah tangga yang seperti apa?”
            “Saya ingin rumah yang ada kamunya.”
            Kembali kamu asik memainkan sisa bumbu sate dengan tusuk lidi. Kamu mengaduk-ngaduknya. Kamu mengaduk-aduk perasaan saya.
            “Mas tidak ikut ke Lappe?”
            “Tidak.”
            “Sari ingin Mas ikut....”
            “Tidak.”
            “Kenapa?”
            “Karena kamu ikut.”
            “Jadi kalau Sari tidak ikut, Mas akan ikut?”
            “Tidak juga.”
            “Jadi itu cuma alasan?”
            “Ya, itu hanya sebuah alasan.”
            “Kenapa Mas mengajak Sari bertemu malam ini?”
            Tiba-tiba pertanyaanmu menohok. Saya diam, menghela napas panjang dan berkata, “Sari tahu kenapa Mas suka pantai? Itu karena pasirnya. Banyak yang menganggap remeh pasir-pasir itu, tapi siapa yang sanggup menghitung berapa banyak pasir yang ada di pantai?” Seperti itu juga perasaan saya.
            Kita terlalu sering seperti ini. Melempar pertanyaan bukan untuk menemukan jawaban. Kamu mungkin tak ingat, pada mula berkenalan, kamu duluan yang memberiku pertanyaan saat melihat Tanjung Menangis, memutar kembali kisahnya, dan kala itu saya mengingat Tuan Alien, dan berharap semoga saja dia sedang berkelana ke ujung dunia, kalau bukan musim kolong, Tanjung Menangis tak mungkin ujung dunia. Di ujung dunia, ombak-ombak akan setinggi gunung, ombak-ombak yang lapar, ombak-ombak yang kalut karena tersingkir dari kehidupan.
            “Mas ingin membangun rumah yang sederhana dengan banyak jendela. Bertingkat dua dan menghadap ke laut. Kamu?”
            “Berapa kamar?” tambahmu sambil menopang dagu.
            “Dua.”
            “Mas tahu cara mengisi kekosongan hati?” tanyamu lirih.
            “Bahkan Mas tidak tahu bagaimana caranya menciptakan kekosongan di antara segala yang berisi...”
            Dan waktu begitu cepa berlalu. Itu sudah jam malammu. Kamu harus pulang. Kamu harus mengantar kucing. Kamu harus mengetuk langit dan mengucapkan doa-doa. “Kenapa?” Dan kamu bilang, ayahmu baru saja meninggal dua bulan yang lalu. Saya melihat air mata seperti danau di kedua matamu. Begitu rupanya, saya belum tahu banyak tentang kamu seperti kamu belum tahu banyak tentang saya.
Hantu-hantu yang bernaung di langit malam mungkinlah mendengar suara hati. Tak ada bintang jatuh. Tak ada harapan yang diucapkan. Tak ada setan-setan yang berusaha mencuri rahasia langit lalu diusir dengan panah bintang itu. Tak ada citraan galaksi bima sakti yang seperti taburan gula putih di atas roti. Tak ada apa-apa kecuali dua rembulan yang kini tampak berbeda. Salah satunya tampak lebih besar. Pada itu, saya baru mengerti, di bulan purnama nanti, dan hanya di bulan purnama nanti, rembulan di langit akan kembali menjadi satu.

Haruki Murakami: Hari yang Sempurna untuk Kangguru

Cerpen Haruki Murakami (Koran Tempo, 9 Juni 2013)

ADA empat ekor kangguru di kandang—satu jantan, dua betina, dan satu ekor lagi adalah bayi kangguru yang baru lahir.

Aku dan pacarku berdiri di depan kandang kangguru. Kebun binatang ini tidak terlalu populer di pagi hari Senin seperti ini, jumlah binatangnya melebihi jumlah pengunjung. Tidak ada yang menarik di kebun binatang ini.

Hal yang menarik kami mendatangi kebun binatang ini adalah seekor bayi kangguru. Maksudku, apa lagi coba yang bisa dilihat di kebun binatang ini?

Sebulan sebelumnya, di sebuah rubrik di sebuah koran lokal, kami tak sengaja membaca sebuah pemberitahuan tentang lahirnya seekor bayi kangguru, dan sejak saat itulah kami sudah menunggu-nunggu sebuah pagi yang sempurna untuk mengunjungi bayi kangguru tersebut. Namun bagaimana pun juga, hari yang tepat tidak juga datang. Suatu pagi, turun hujan deras, dan kami cukup yakin hujan bakal turun lagi di hari-hari berikutnya, dan angin pun berembus-embus kencang untuk dua hari berturut-turut. Suatu pagi, pacarku mengeluh sakit gigi, dan di pagi yang lain aku punya urusan yang harus aku selesaikan di pusat kota. Aku tidak hendak membuat pernyataan yang dibesar-besarkan di sini, namun aku berani untuk mengatakan bahwa:

Inilah kehidupan.

Jadi bagaimana pun juga satu bulan itu waktu yang singkat.

Selama sebulan sesuatu bisa berlalu apa adanya. Aku tidak pernah benar-benar mengingat sesuatu yang sudah kulakukan selama sebulan. Sewaktu-waktu, seolah-olah aku sudah melakukan banyak hal, namun sewaktu-waktu yang lain aku merasa tidak menyelesaikan satu hal pun. Satu hal yang membuatku sadar kalau satu bulan telah berlalu adalah ketika lelaki yang mengantarkan koran harian datang ke rumah untuk menagih uang langganan.

Ya, itulah hidup.


09 Mei 2014

Catatan Hati: Fiksi

Segala hal yang tak dapat kulakukan di kenyataan, dapat kurengkuh di dalam fiksi, termasuk memilikimu.

Aku tidak tahu apakah fiksi adalah sebuah tempat pelarian terbaik bagi perasaan. Segala hal yang tidak dapat dikatakan, tidak patut dan pantas diucapkan, bisa dituangkan di dalam fiksi.

Kadang-kadang aku bingung sendiri, hidupku yang nyata itu adalah seseorang yang mengetik ini atau seseorang yang sedang kuketikkan. Aku pun jadi takut sendiri bila suatu saat tiba-tiba aku terjebak di dalam fiksiku, atau itu sudah pernah terjadi.

Ya, itu pernah terjadi, dan menjadi masalah besar. Ketika aku melampaui batas antara imajinasi dan kenyataan itu, penyesalanlah yang kudapatkan.

Maka sebaiknya aku tetap berada di balik pena, memandangi layar putih yang meminta ditulisi.
Maka sebaiknya aku tetap berhati-hati, bahkan pada fiksiku sendiri.

(Kamar Gelapa, 2014)