28 Juli 2016

Puisi-puisi Wiji Thukul

 

PERINGATAN
Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa
Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar
Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!.
(Wiji Thukul, 1986)

SAJAK SUARA

sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
aku siapkan untukmu : pemberontakan!
sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang merayakan hartamu
ia ingin bicara
mengapa kaukokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?
sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ia yang mengajari aku untuk bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan
BUNGA DAN TEMBOK
Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang tak

Kau hendaki tumbuh 

Engkau lebih suka membangun
 Rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang tak

Kau kehendaki adanya

Engkau lebih suka membangun
 Jalan raya dan pagar besi
Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang
 Dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika kami bunga

Engkau adalah tembok itu

Tapi di tubuh tembok itu
 Telah kami sebar biji-biji

Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami

Di manapun–tirani harus tumbang!
P E N Y A I R

jika tak ada mesin ketik
aku akan menulis dengan tangan
jika tak ada tinta hitam
aku akan menulis dengan arang
jika tak ada kertas
aku akan menulis pada dinding
jika aku menulis dilarang
aku akan menulis dengan
tetes darah!
sarang jagat teater
19 januari 1988

KEMERDEKAAN
kemerdekaan
mengajarkan aku berbahasa
membangun kata-kata
dan mengucapkan kepentingan
kemerdekaan
mengajar aku menuntut
dan menulis surat selebaran
kemerdekaanlah
yang membongkar kuburan ketakutan
dan menunjukkan jalan
kemerdekaan
adalah gerakan
yang tak terpatahkan
kemerdekaan
selalu di garis depan*
Solo, 27-12-1988
DERITA SUDAH NAIK SELEHER
kaulempar aku dalam gelap
hingga hidupku menjadi gelap
kausiksa aku sangat keras
hingga aku makin mengeras
kau paksa aku terus menunduk
tapi keputusan tambah tegak
darah sudah kau teteskan
dari bibirku
luka sudah kau bilurkan
ke sekujur tubuhku
cahaya sudah kau rampas
dari biji mataku
derita sudah naik seleher
kau
menindas
sampai
di luar batas
17 November 96
TUJUAN KITA SATU IBU
kutundukkan kepalaku,
bersama rakyatmu yang berkabung
bagimu yang bertahan di hutan
dan terbunuh di gunung
di timur sana
di hati rakyatmu,
tersebut namamu selalu
di hatiku
aku penyair mendirikan tugu
meneruskan pekik salammu
“a luta continua.”
kutundukkan kepalaku
kepadamu kawan yang dijebloskan
ke penjara negara
hormatku untuk kalian
sangat dalam
karena kalian lolos dan lulus ujian
ujian pertama yang mengguncangkan
kutundukkan kepalaku
kepadamu ibu-bu
hukum yang bisu
telah merampas hak anakmu
tapi bukan hanya anakmu ibu
yang diburu dianiaya difitnah
dan diadili di pengadilan yang tidak adil ini
karena itu aku pun anakmu
karena aku ditindas
sama seperti anakmu
kita tidak sendirian
kita satu jalan
tujuan kita satu ibu:pembebasan!
kutundukkan kepalaku
kepada semua kalian para korban
sebab hanya kepadamu kepalaku tunduk
kepada penindas
tak pernah aku membungkuk
aku selalu tegak
4 Juli 1997
UCAPKAN KATA-KATAMU
jika kau tak sanggup lagi bertanya
kau akan ditenggelamkan keputusan-keputusan
jika kau tahan kata-katamu
mulutmu tak bisa mengucapkan apa maumu
terampas
kau akan diperlakukan seperti batu
dibuang dipungut
atau dicabut seperti rumput
atau menganga
diisi apa saja menerima
tak bisa ambil bagian
jika kau tak berani lagi bertanya
kita akan jadi korban keputusan-keputusan
jangan kau penjarakan ucapanmu
jika kau menghamba kepada ketakutan
kita memperpanjang barisan perbudakan
kemasan-kentingan-sorogenen

AKU MASIH UTUH DAN KATA-KATA BELUM BINASA

ku bukan artis pembuat berita
Tapi aku memang selalu kabar buruk buat penguasa
Puisiku bukan puisi
Tapi kata-kata gelap
Yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan
Ia tak mati-mati, meski bola mataku diganti
Ia tak mati-mati, meski bercerai dengan rumah
Ditusuk-tusuk sepi, ia tak mati-mati
telah kubayar yang dia minta
umur-tenaga-luka
Kata-kata itu selalu menagih
Padaku ia selalu berkata, kau masih hidup
Aku memang masih utuh
dan kata-kata belum binasa
(Wiji Thukul.18 juni 1997)

20 Juli 2016

Puisi: Kematian Akibat Apel dan Jeruk


ada orang-orang yang membandingkan kematian karena
makan apel dengan kematian karena makan jeruk
orang-orang yang memakan apel tidak tahu bahwa di dalam 
apel terkandung vitamin A dan orang-orang yang memakan 
jeruk juga tidak tahu di dalam jeruk terkandung vitamin C
orang-orang hanya tahu bahwa dulu newton menemukan gravitasi
karena apel jatuh dari sebuah pohon dan di televisi ramai
iklan jeruk makan jeruk. orang-orang mengira buah jeruk buah kanibal
sampai orang-orang mulai mati, dan menyisakan buah apel
yang tergigit sebagian seperti sebuah merk dagang itu
bulir-bulir jeruk berserakan bersamaan dengan jejak darah
yang berada di samping mayat-mayat bergelimpangan
kemudian yang masih hidup dan ditinggalkan mulai membandingkan
kemaian karena makan apel dan kematian karena makan jeruk
semua kematian adalah kematian, pikir mereka
tapi sedikit yang tahu kisah lain di balik itu, motif, alibi
yang dimiliki apel dan jeruk, masing-masing berbeda
ada kematian yang seharusnya bisa dihindari dan ada kematian
yang memang tak pernah benar-benar bisa dihindari
bahkan ketika baru membuka mata, bangun tidur, buang air besar
kematian itu tidak memilih waktu
aku sendiri tidak tahu dan tidak paham, bagaimana caraku mati kemudian
ketika habis mengiris apel atau selesai mengupas kulit jeruk itu

19 Juli 2016

Terjemahan Bebas dari The Arrow and the Song by Henry Wadsworth Longfellow

Anak Panah dan Lagu
Henry Wadsworth Longfellow

aku melepaskan anak panah ke udara
ia lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana;
begitu cepat ia melesat, pandangan mataku
tak dapat mengikuti arah lesatannya.

aku menghembuskan lagu ke udara,
juga lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana;
siapa saja yang tatapannya begitu tertarik dan kuat,
sehingga dapat mengikuti perjalanan lagu itu?

lama, lama sekali setelah itu, di bawah pohon oak
aku menemukan anak panah, belum patah
juga sebuah lagu, dari mula hingga selesai
aku menemukannya lagi di hati seorang sahabat.

The Arrow and the Song
Henry Wadsworth Longfellow

I shot an arrow into the air,
It fell to earth, I knew not where;
For, so swiftly it flew, the sight
Could not follow it in its flight.

I breathed a song into the air,
It fell to earth, I knew not where;
For who has sight so keen and strong,
That it can follow the flight of song?

Long, long afterward, in an oak
I found the arrow, still unbroke;
And the song, from beginning to end,
I found again in the heart of a friend.

Memeluk Bahaya

sayang, hiduplah dalam bahaya
dengan begitu, setiap hari engkau akan mengingat tuhan

tuhan hadir dalam kilatan peluru,
dalam langkah kaki yang terburu

sesuatu tak pernah berhenti mengejarmu
ia yang kalah adalah ia yang lelah

sayang, hiduplah sambil memeluk ketakutan
peluk lebih erat dari engkau memeluk bahagia

kelak, tuhan yang akan memelukmu
sebagai balas jasa kau telah mengingatnya
setelah lama ia dilupakan

18 Juli 2016

Sajak-Sajak Chairil Anwar

Tak Sepadan

Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.

Jadi baik juga kita pahami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka.


Sia-sia

Penghabisan kali itu kau datang
membawaku karangan kembang
Mawar merah dan melati putih:
darah dan suci
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan: Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.


AKU




Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi







HAMPA

Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti. 


Di Mesjid 

Kuseru saja Dia
Sehingga datang juga

Kami pun bermuka-muka.

Seterusnya Ia Bernyala-nyala dalam dada.
Segala daya memadamkanya

Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda

Ini ruang
Gelanggang kami berperang.

Binasa-membinasa
Satu menista lain gila


Derai-derai Cemara 

Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah


DOA

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

And The Moon And The Stars And The World, Charles Bukowski

Long walks at night--
that's what good for the soul:
peeking into windows
watching tired housewives
trying to fight off
their beer-maddened husbands.




Dan Bulan dan Bintang dan Dunia
karya Charles Bukowski

Perjalanan panjang di malam hari--
sungguh baik buat jiwa:
melongok melalui jendela
menyaksikan ibu rumah tangga kelelahan
mencoba menyingkirkan
suami-suami yang mabuk dan gila

Sepuluh Puisi Terbaik Indonesia Menurut A. Teeuw

Kawanku dan Aku
oleh Chairil Anwar

Kami sama pejalan larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan
Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat
Siapa berkata-kata…?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga
Dia bertanya jam berapa?
Sudah larut sekali
Hilang tenggelam segala makna
Dan gerak tak punya arti.


Si Anak Hilang
oleh Sitor Situmorang

Pada terik tengah hari
Titik perahu timbul di danau
Ibu cemas ke pantai berlari
Menyambut anak lama ditunggu

Perahu titik menjadi nyata
Pandang berlinang air mata
Anak tiba dari rantau
Sebaik turun dipeluk ibu

Bapak duduk di pusat rumah
Seakan tak acuh menanti
Anak di sisi ibu gundah
- laki-laki layak menahan hati -

Anak disuruh duduk bercerita
Ayam disembelih nasi dimasak
Seluruh desa bertanya-tanya
Sudah beristri sudah beranak?

Si anak hilang kini kembali
Tak seorang dikenalnya lagi
Berapa kali panen sudah
Apa saja telah terjadi?

Seluruh desa bertanya-tanya
Sudah beranak sudah berapa?
Si anak hilang berdiam saja
Ia lebih hendak bertanya

Selesai makan ketika senja
Ibu menghampiri ingin disapa
Anak memandang ibu bertanya
Ingin tahu dingin Eropa

Anak diam mengenang lupa
Dingin Eropa musim kotanya
Ibu diam berhenti berkata
Tiada sesal hanya gembira

Malam tiba ibu tertidur
Bapak lama sudah mendengkur
Di pantai pasir berdesir gelombang
Tahu si anak tiada pulang

1955



Jante Arkidam
oleh Ajib Rosidi

Sepasang mata biji saga
Tajam tangannya lelancip gobang
Berebahan tubuh-tubuh lalang dia tebang
Arkidam, Jante Arkidam

Dinding tembok hanyalah tabir embun
Lunak besi di lengkungannya
Tubuhnya lolos di tiap liang sinar
Arkidam, Jante Arkidam

Di penjudian, di peralatan
Hanyalah satu jagoan
Arkidam, Jante Arkidam

Malam berudara tuba
Jante merajai kegelapan
Disibaknya ruji besi pegadaian

Malam berudara lembut
Jante merajai kalangan ronggeng
Ia menari, ia ketawa

‘mantri polisi lihat ke mari!
Bakar mejajudi dengan uangku sepenuh saku
Wedanan jangan ketawa sendiri!
Tangkaplah satu ronggeng berpantat padat
Bersama Jante Arkidam menari
Telah kusibak rujibesi!’

Berpandangan wedana dan mantripolisi
Jante, Jante; Arkidam!
Telah dibongkarnya pegadaian malam tadi
Dan kini ia menari!’

‘Aku, akulah Jante Arkidam
Siapa berani melangkah kutigas tubuhnya
Batang pisang,
Tajam tanganku lelancip gobang
Telah kulipat rujibesi’

Diam ketakutan seluruh kalangan
Memandang kepada Jante bermata kembang
Sepatu

‘mengapa kalian memandang begitu?
Menarilah, malam senyampang lalu!’

Hidup kembali kalangan, hidup kembali
Penjudian
Jante masih menari berselempang selendang

Diteguknya sloki kesembilanlikur
Waktu mentari bangun, Jante tertidur

Kala terbangun dari mabuknya
Mantripolisi berada di sisi kiri
‘Jante, Jante Arkidam, Nusa Kambangan!’

Digisiknya mata yang sidik
‘Mantripolisi, tindakanmu betina punya!
Membokong orang yang nyenyak’

Arkidam diam dirante kedua belah tangan
Dendamnya merah lidah ular tanah

Sebelum habis hari pertama
Jante pilin ruji penjara
Dia minggat meniti cahya

Sebelum tiba malam pertama
Terbenam tubuh mantripolisi di dasar kali

‘Siapa lelaki menuntut bela?
Datanglah kala aku jaga!’

Teriaknya gaung di lunas malam
Dan Jante berdiri di atas jembatan
Tak ada orang yang datang
Jante hincit menikam kelam

Janda yang lakinya terbunuh di dasar kali
Jante datang ke pangkuannya

Mulut mana yang tak direguknya
Dada mana yang tidak diperasnya?
Bidang riap berbulu hitam
Ruastulangnya panjang-panjang
Telah terbenam beratus perempuan
Di wajahnya yang tegap

Betina mana yang tak ditaklukkannya?
Mulutnya manis jeruk Garut
Lidahnya serbuk kelapa puan
Kumisnya tajam sapu injuk
Arkidam, Jante Arkidam

Teng tiga di tangsi polisi
Jante terbangun ketiga kali
Diremasnya rambut hitam janda bawahnya

Teng kelima di tangsi polisi
Jante terbangun dari lelapnya
Perempuan berkhianat, tak ada di sisinya
Berdegap langkah mengepung rumah
Didengarnya lelaki menantang:
‘Jante, bangun! Kami datang jika kau jaga!’

‘Datang siapa yang jantan
Kutunggu di atas ranjang’

‘Mana Jante yang berani
Hingga tak keluar menemui kami?'

 ‘Tubuh kalian batang pisang
Tajam tanganku lelancip pedang’

Menembus genteng kaca Jante berdiri di atas atap
Memandang hina pada orang yang banyak
Dipejamkan matanya dan ia sudah berdiri di atas tanah
‘hei, lelaki matabadak lihatlah yang tegas
Jante Arkidam ada di mana?’

Berpaling seluruh mata kebelakang
Jante Arkidam lolos dari kepungan
Dan masuk ke kebun tebu

‘Kejar jahanam yang lari!’

Jante dikepung lelaki satu kampung
Dilingkung kebun tebu mulai berbunga
Jante sembunyi di lorong dalamnya

‘Keluar Jante yang sakti!’
Digelengkannya kepala yang angkuh
Sekejap Jante telah bersanggul
‘Alangkah cantik perempuan yang lewat
Adakah ketemu Jante di dalam kebun?’

‘Jante tak kusua barang seorang
Masih samar, di lorong dalam’

‘Alangkah Eneng bergegas
Adakah yang diburu?’

‘Jangan hadang jalanku
Pasar kan segera usai!’

Sesudah jauh Jante dari mereka
Kembali dijelmakannya dirinya

‘Hei lelaki sekampung bermata dadu
Apa kerja kalian mengantuk di situ?’

Berpaling lelaki ke arah Jante
Ia telah lolos dari kepungan

Kembali Jante diburu
Lari dalam gelap
Meniti muka air kali
Tiba di persembunyiannya.


Salju
oleh Subagyo Sastrowardoyo

Asal mula adalah salju
sebelum tercipta Waktu
sentuhan perawan seringan kenangan
adalah semua yang disebut bumi
dan udara terus bicara
sebab bicara tak pernah berhenti
dan salju jatuh seperti mimpi
Angin kutub memanjang selalu
dan meraba tanpa jari
dan di ambang anjing belang menggonggong
sia sia membuka pagi
hanya geliat bayi dufah terasa
pada dinding tua dekat musim binasa
dan salju melebari hari
Bangunnya Waktu bersama penyesalan
ketika manusia dengan mukanya yang jelek
meninggalkan telapak kakinya di salju
sedang gelegar bintang berpadu ringkik kuda
terlempar damba ke angkasa
Pada saat begini terjadi penciptaan
ketika orang bungkuk dari gua di daerah selatan
menghembuskan napas dan bahasa
bagi segala yang tak terucapkan
sedang selera yang meleleh dari pahanya
menerbitkan keturunan yang kerdil
dengan muka tipis dan alis terlipat
suaranya serak meniru gagak menyerbu mangsa
Dengan tangan kasar digalinya kubur
di salju buat tuhan-tuhannya yang mati
dan di lopak-lopak air membeku
mereka cari muka sendiri terbayang sehari
di antara subuh dan kilat senja
sebelum kebinasaan menjadi mutlak
dan salju turun lagi menghapus semua rupa
dalam kenanaran mimpi 


Cocktail Party
oleh Toety Heraty

meluruskan kain-baju dahulu
meletakkan lekat sanggul rapi
lembut ikal rambut di dahi
            pertaruhan ilusi
berlomba dengan waktu
dengan kebosanan, apa lagi
            pertaruhan ilusi
seutas benang dalam taufan
amuk badai antara insane

taufan? Ah, siapa
yang masih peduli
tertawa kecil, menggigit jari adalah
            perasaan yang dikebiri
kedahsyatan hanya untuk dewa-dewa
tapi deru api unggun atas
            tanah tandus kering
angin liar, cambukan halilintar
                        mengiringi
perempuan seram yang kuhadapi, dengan
garis alis cemooh tajam
            tertawa lantang –
aku terjebak, gelas anggur di tangan
tersenyum sabar pengecut menyamar –
            ruang menggema
dengan gumam hormat, sapa-menyapa
dengan mengibas pelangi perempuan
itu pergi, hadirin mengagumi
mengapa tergoncang oleh cemas
dalam-dalam menghela napas, lemas
            hadapi saingan dalam arena?
kata orang hanya maut pisahkan cinta
tapi hidup merenggut, malam maut
            harapan semua tempat bertemu
itu pun hanya kalau kau setuju

keasingan yang mempesona, segala
tersayang yang telah hilang –
            penenggelaman
dalam akrab dan lelap
kepanjangan mimpi tanpa derita
dan amuk badai antara insane?
gumam, senyum, dan berjabatan tangan.

1974


Pada Sebuah Pantai: Interlude
oleh Goenawan Mohamad

Semua ini hanya terjadi dalam sebuah sajak yang
sentimentil. Yakni ketika pasang berakhir, dan aku
menggerutu, “masih tersisa harum lehermu”; dan kau tak
menyahutku.

     Di pantai, tepi memang tinggal terumbu,
     hijau (mungkin kelabu).
     Angin amis. Dan
     di laut susut itu, aku tahu,
     tak ada lagi jejakmu.

     Berarti pagi telah mengantar kau kembali, pulang dari
sebuah dongeng tentang jin yang memperkosa putri yang
semalam mungkin kubayangkan untukmu, tanpa tercatat,
meskipun pada pasir gelap.

     Bukankah matahari telah bersalin dan
     melahirkan kenyataan yang agak lain?
     Dan sebuah jadwal lain?
     Dan sebuah ranjang & ruang rutin, yang
     setia, seperti sebuah gambar keluarga
     (di mana kita, berdua, tak pernah ada)?

     Tidak aneh.
     Tidak ada janji
     pada pantai
     yang kini tawar
     tanpa ombak
     (atau cinta yang bengal).

     Aku pun ingin berkemas untuk kenyataan-kenyataan,
berberes dalam sebuah garis, dan berkata: “Mungkin tak ada
dosa, tapi ada yang percuma saja.”

     Tapi semua ini terjadi dalam sebuah sajak yang
sentimentil. Dan itulah soalnya.

     Di mana ada keluh ketika dari pohon itu
     mumbang jatuh seperti nyiur jatuh dan
     ketika kini tinggal panas & pasir yang
     bersetubuh.

     Di mana perasaan-perasaan memilih artinya sendiri,
     di mana mengentara bekas dalam hati dan kalimat-
     kalimat biasa berlarat-larat (setelah semacam
     affair singkat), dan kita menelan ludah sembari
     berkata: “Wah, apa daya.”

     Barangkali kita memang tak teramat berbakat untuk
menertibkan diri dan hal ihwal dalam soal seperti ini.

     Lagi pula dalam sebuah sajak yang sentimentil hanya ada satu
dalil: biarkan akal yang angker itu mencibir!

     Meskipun alam makin praktis dan orang-orang telah
memberi tanda DILARANG NANGIS.

     Meskipun pada suatu waktu, kau tak akan lagi datang
padaku.

     Kita memang bersandar pada apa yang mungkin kekal,
     mungkin pula tak kekal.
     Kita memang bersandar pada mungkin.
     Kita bersandar pada angin

     Dan tak pernah bertanya: untuk apa?
     Tidak semua, memang, bisa ditanya untuk apa.

     Barangkali saja kita masih mencoba memberi harga
pada sesuatu yang sia-sia. Sebab kersik pada karang, lumut
pada lokan, mungkin akan tetap juga di sana – apa pun
maknanya.

1973


Sajak Sebatang Lisong
oleh WS Rendra


Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka

Matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak - kanak
tanpa pendidikan

Aku bertanya
tetapi pertanyaan - pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis - papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan

Delapan juta kanak - kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya

Menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana - sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan

Dan di langit
para teknokrat berkata :

Bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung - gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes - protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam

Aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair - penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak - kanak tanpa pendidikan
termangu - mangu di kaki dewi kesenian

Bunga - bunga bangsa tahun depan
berkunang - kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta - juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra

Kita mesti berhenti membeli rumus - rumus asing
diktat - diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa - desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata

Inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan

1978


Ombak Itulah
oleh Abdul Hadi WM

 -- Arie MP Tamba

Ombak itulah yang membangunkan aku lagi padamu:
rambutmu masih hijau meskipun musim berangkat coklat.
Kujahit lagi robekan-robekan tahun pada gelisahku
dan darahmu kembali mengatakan yang ingin diucapkan jantung.

Dulu angin musim panaslah yang mendudukkan aku di sampingmu
dan atas ranjangmu ia tambatkan desirnya memeluk tidurmu.
Kau pun terima aku seperti pohon menerima benalu
dan aku mengikutimu seperti mata batu mengikuti suara di udara.

Garam adalah garam. Ia bisa lebur dalam air
tapi tak dapat lenyap atau dilenyapkan. Dari jauh
kupinjam mulutmu buat meneguk gelas-gelas kosong waktu
dan memberi jalan pada pagi hari lain yang tak mungkin datang.
1977


Husspuss
oleh Sutardji Calzoum Bachri

husspuss
diamlah
kasihani mereka
mereka sekedar penyair
husspuss
maafkan aku
aku bukan sekedar penyair
aku depan             
depan yang memburu
membebaskan kata
memanggilMu
pot pot pot
      pot pot pot
kalau pot tak mau pot
                  biar pot semau pot
mencari pot
                   pot
hei Kau dengar manteraku
       Kau dengar kucing memanggilMu
       izukalizu
mapakazaba                itasatali
                   tutulita
papaliko arukabazaku kodega zuzukalibu
tutukaliba dekodega zamzam lagotokoco
zukuzangga zagezegeze zukuzangga zege
zegeze zukuzangga zegezegeze zukuzang
ga zegezegeze zukuzangga zegezegeze zu
kuzangga zagezegeze aahh....!
nama nama kalian bebas
carilah tuhan semaumu.


3 Sajak
oleh Sapardi Djoko Damono

Saat Sebelum Berangkat

Mengapa kita masih juga bercakap
Hari hamper gelap
Menyekap beribu kata di antara karangan bunga
Di ruang semakin maya,dunia puranama

Sampai tak ada yang sempat bertanya
Mengapa musim tiba-tiba reda
Kita dimana. Waktu seorang bertahan di sini
Di luar para pengiring jenazah menanti


Berjalan di Belakang Jenazah

Berjalan di belakang jenazah anginpun reda
Jam mengerdip
Tak terduga betapa lekas
Siang menepi,melapangkan jalan dunia

Di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala
Di atas: matahari kita,matahari itu juga
Jam mengambang di antaranya
Tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya



Sehabis Mengantar Jenazah

Masih adakah yang kau tanyakan
tentang hal itu?Hujan pun selesai
sewaktu tertimbun sebuah dunia yang tak habis bercakap
di bawah bunga-bunga menua,musim yang senja

pulanglah dengan paung di tangan,tertutup
anak-anak kembali bermain di jalanan basah
seperti dalam mimpi kuda-kuda meringkik di bukit-bukit jauh
barangkali kita tak perlu tua dalam tanda tanya

masih adakah! Alangkah angkuhnya langit
alangkah angkuhnya pintu yang akan menerima kita
seluruhnya,seluruhnya kecuali kenangan
pada sebuah gua yang menjadi sepi tiba-tiba

15 Juni 2016

Amplop Merah Jambu



Bab I

Kepada Kamu.

Aku tahu napasmu masih terengah-engah bakda meloloskan diri dari satpam penjaga pintu gerbang. Dan sebentar lagi, kamu akan merasa panik, sebab buku PR Matematika yang telah kamu kerjakan semalaman ketinggalan di rumah. Tenang saja, hari ini Pak Oman tidak mengajar. Sebagai gantinya, ia hanya akan meminta murid-murid mengerjakan latihan soal-soal dan tidak dikumpulkan.
Bagaimana aku tahu semua hal itu?

Hai, Randi. Aku adalah kamu—kamu sepuluh tahun yang  akan datang.



 ~





Tepat setelah kulangkahkan kaki kiriku turun dari bis, kulihat satpam penjaga sekolah sudah memegang pintu gerbang dan mulai mendorongnya. Begitu kakiku menjejak tanah, aku langsung berlari secepat mungkin sambil kukutuk sopir bis yang berhenti tidak di depan gerbang sekolah. Ia berhenti di bawah jembatan penyeberangan, pas di tanda dilarang berhenti pula. 

Aku mengerti ia malas menurunkan penumpang dua kali. Sengaja ia lewati Methodist, meski para penumpang yang ingin berhenti di sana banyak juga. Seratus meter dari Methodist ada sekolahku, SMAN 3 Palembang. Bis berhenti di tengah-tengah kedua sekolah ini.

Untunglah, dalam jarak pendek, aku adalah pelari yang baik. Dengan gesit, aku bisa menyusupkan diri dalam celah gerbang yang belum tertutup. 

Selamat!

Sungguh, kecelakaan besar bila sampai terlambat. Mula-mula para siswa yang terlambat akan dibariskan di lapangan. Setelah itu, Kepala Sekolah akan datang. Ia begitu bengis. Bukan hanya dibentak-bentaki, adegan demi adegan penyiksaan akan kami lakoni. Push up, sit up, squat jump hingga merayap bak tentara di medan perang akan menjadi pemandangan menarik selama satu jam pelajaran. 

Aku pernah terlambat satu kali dan bersumpah tidak akan mengulanginya lagi.

Aku menyesal bangun lebih lambat hari ini. Aku keasikan membaca novel Area X karya Eliza Vitri Handayani hingga tengah malam. Setelah itu, aku baru tertidur. Pukul enam pagi aku terbangun dan buru-buru menyiapkan diri berangkat ke sekolah. Tak sempat kusentuh nasi goreng yang sudah disiapkan Mama. Hanya segelas teh manis yang kuseruput sekadarnya. 

Aku tinggal di pinggiran Palembang. Sekolahku berada tepat di jantung kota. Dari rumah ke sekolah, aku harus naik dua kendaraan umum. Angkutan Pedesaan yang berwarna hijau muda, lalu disambung dengan bis. Jika jalanan lancar tanpa kemacetan, lima belas kilometer jarak dari rumah ke sekolah akan dapat ditempuh kurang dari setengah jam. Aku merasa beruntung tidak terlambat hari ini meski sudah bangun kesiangan. Sedianya aku harus bangun sebelum pukul lima pagi lalu mandi dan salat. Tuhan, maafkan aku yang meninggalkan salat pagi ini.

~

Bel sudah berbunyi. Tanda kelas sudah harus dimulai.

Napasku masih terengah-engah karena lari tadi. Kulihat di luar ruang kelasku sudah sepi. Biasanya teman-temanku masih mengobrol di luar sampai guru datang. Artinya, guru sudah datang atau bisa jadi mereka sedang sibuk mengerjakan PR Matematika. Memang, tak ada waktu yang lebih asik untuk mengerjakan PR selain di sekolah, sebelum jam pelajaran dimulai. Apalagi kalau tinggal menyalin hasil pekerjaan teman. Aku juga pernah begitu. Namun, sekarang tidak lagi. Aku sudah menjadi murid yang baik.

Kelasku punya julukan yang unik. Anak gudang. Sebabnya sederhana, kelas kami memang bekas gudang.
Aku tidak tahu kenapa kami mendapat bekas gudang. Kuduga hal ini terjadi karena kesalahan sekolah dalam merencakan penerimaan siswa baru. Di angkatanku ada 12 kelas. Angkatan baru di bawahku juga ada 12 kelas. Ruangan yang tersedia terbatas. 

Hari pertama masuk sekolah setelah libur kenaikan kelas bukannya berebut tempat duduk di ruang kelas baru. Setelah melihat daftar pembagian kelas, bertemu dan berkenalan dengan teman-teman baru maupun yang sudah kukenal, aku tidak dapat menemukan kelas. Papan nama kelas terhenti sampai 2.10. Tidak ada 2.11 apalagi 2.11.

Aku bersama beberapa teman pun beranjak ke sekretariat. Kami rapikan baju serapi-rapinya dan yang rambutnya sedikit gondrong, mohon maaf, tak dapat kami ajak ketimbang tiba-tiba bertemu Kepala Sekolah yang super galak. Kalau ketahuan tidak rapi, bisa-bisa kami dihukum lari keliling lapangan. Mengerikan.
Benar saja, baru kami menjejakkan kaki, Kepala Sekolah itu keluar dari ruangannya dan menatap kami. Dia menenteng tangannya di pinggang dan membentak kami, “Kalian ngapain di sini?!”

Nama beliau Lukman. Tapi, jangan bayangkan sifat Lukman yang ada dalam surat di Alquran. Lukman yang ini adalah seorang pelatih Taekwondo yang tersasar jadi kepala sekolah. Sabuk hitam. Tidak satu pun siswa sekarang ini yang berani melawannya. Kalau pun nakal, nakalnya kudu diam-diam. Dulu, ketika Lukman baru menjadi Kepala Sekolah, pernah ada beberapa siswa nakal yang menantangnya. Bukan satu, melainkan tiga orang. Ketiga siswa itu diundang masuk ke ruangan Kepala Sekolah. Dan mereka berkelahi di sana. Hasilnya... ketiga siswa itu keluar dengan  muka babak belur. Rambut mereka pun ditokak.

Ada lagi cerita, suatu hari beliau sendiri yang merazia seisi sekolah. Beliau berhasil menangkap sejumlah anak yang merokok di belakang WC. Hukumannya? Mereka dibariskan secara khusus di lapangan upacara. Kemudian, mereka ditempelengi satu per satu. Plak... Plak... Plak. Setelah itu, mereka pun dihukum membersihkan WC yang baunya naudzubillah.

Dan kini, Lukman yang lebih menakutkan dari Dementor itu ada di depan kami.

Aku hanya bisa diam dilontari pertanyaan itu. Chandra yang maju. Baru saja aku berkenal dengannya. Yang kutahu dia anak PKS, Patroli Keamanan Sekolah. Tinggalnya di Kertapati—daerah yang terkenal bagaikan Texas karena tingkat kriminalitasnya yang tinggi.

“Permisi, Pak. Maaf, kami ingin ke sekretariat,” kata Chandra dengan sopan. Tak lupa ia pasang senyum iklan pasta gigi dengan sempurna.

“Oh, kamu...” Lukman tampak mengenal Chandra. “Ada apa?”

“Kami baru lihat pengumuman pembagian kelas. Kami ditempatkan di 2.11. Tapi, Pak, kami cari-cari tidak ada kelas 2.11. Kami ingin bertanya, ruang kelas kami di mana, Pak?”

“Oh, 2.11 ya... coba tanya Pak Oman...”

Percakapan itu berakhir begitu saja setelah dia mengalihkan tatapannya dari kami.

Kemudian kami mencari yang namanya Pak Oman. Ternyata dia seorang guru. Kami sama sekali belum mengenalnya karena dia tak pernah mengajar anak kelas 1. Dia hanya mengajar Matematika untuk anak kelas 2. Dan ternyata dialah wali kelas kami.

Sebenarnya, aku selalu diam karena aku tak memiliki kepercayaan diri untuk bicara. Di depanku, Pak Oman. Melihatnya aku ingin tertawa. Tapi kutahan. Rambutnya dipotong persis Zinadine Zidane. Botak di tengah. Aku jadi berpikir jangan-jangan Lukman yang menokaki Pak Oman sehingga tampil demikian. Aku tak tega memiliki pikiran lucu seperti ini mengingat dia tampak ramah karena selalu tersenyum.

“Kelas kalian ada di setelah 2.10.”

“Di sebelah 2.10 kan cuma ada gudang?” ujar Chandra.

“Di mana teman-teman kalian yang lain? Maksud saya, anak-anak 2.11 yang lain.”

“Sebagian sih masih di depan papan pengumuman, ada juga yang sudah di kantin, Pak.”

“Kamu, Chan... jadi ketua kelas, ya? Tugas pertamamu, kumpulkan anak-anak di sebelah 2.10 sekarang.”

Aku tidak tahu apakah ditunjuk langsung menjadi ketua kelas adalah keberuntungan atau malah kesialan. Chandra yang kurus dan tak lebih tinggi dariku itu masih tersenyum dan menganggukkan kepala. “Baik, Pak,” katanya. Hari itu kusadari satu hal yang membedakan kami berdua, yakni mental.

Bersama kami, Pak Oman menuju ke 2.10. Anak-anak 2.10 sudah duduk di bangkunya masing-masing seperti ada lem yang lengket di sana. Aku paham, mereka tak mau bangku yang sudah ditandai susah payah diserobot orang lain. 

Chandra datang bersama gerombolan siswa. Mereka pasti calon teman sekelasku. Sebagian besar tak kukenali, sebagian kecil aku hanya tahu nama dan sebagian kecil sekali yang pernah berbincang denganku. Satu tahun di SMA tak membuatku memiliki banyak teman.

“Oke, sudah semua ini?” tanya Pak Oman.
“Segini yang ada, Pak.”
“Baiklah. Kelas kita di sini.”
“Di sini?”
“Iya. Di sini. Di gudang.”
“Hah? Di gudang?”
“Kelas adalah keluarga. Dalam keluarga ada gotong royong, ada pembagian tugas. Tadi saya sudah menunjuk Chandra jadi ketua kelas. Kalau ada yang tidak setuju, bilang ke saya, nanti kita adakan pemilihan. Chandra nanti menunjuk wakil, sekretari dan bendahara, ya? Tapi sebelum itu... sebentar...” Pak Oman mengeluarkan serangkaian kunci. Dia memilih-milih kunci. “Nah ini dia...” Dia buka pintu gudang itu dan pemandangan ruangan penuh debu dengan meja, kursi bertumpuk, bersarang laba-laba ada di depan kami. “Berita baiknya hari ini tidak ada kelas. Namun tetap ada pelajaran. Pelajaran pertama adalah merapikan kelas. Silakan kalian bersihkan ruangan ini senyaman-nyamannya... karena satu tahun ke depan, ruangan inilah  yang akan menjadi ruang kelas kalian.”

~

            “Ran, kau sudah kerjakan itu... PR Matematika?” tanya Anton, teman yang duduk di sebelahku. “Semalam mati lampu, aku tak sempat mengerjakan.”

            Belum juga aku meletakkan tas, Anton sudah mencoba memintaku menyerahkan PR. Aku benci sekali menyontek. Aku juga benci diconteki. Tak apa-apa aku mendapat peringkat rendah di kelas, perkara kejujuran dalam mengerjakan ujian itu prinsip.

            Sebelum memasukkan tas ke dalam laci, biasa kuperiksa dulu isi laciku. Biasanya ada sampah. Teman-teman yang iseng sering memasukkan sampah ke dalam kelas. Motifnya, tak lain tak bukan, pemilihan kelas terbersih setiap minggunya. Untuk mendapatkan penghargaan itu, banyak yang bermain curang dengan sengaja mengotori lawan. Kelas kami pernah menang setelah para pengawas melihat kerja kami yang mengagumkan dalam mengubah gudang menjadi ruang kelas yang sedikit layak ditempati.

            Aku melongok ke dalam laci, tidak ada sampah. Ada satu benda lain. Kupikir itu sebuah amplop. Merah jambu warnanya. 

            Apakah ini surat cinta?

            Kusembunyikan surat itu cepat-cepat ke dalam laci, tapi masih dalam genggaman tanganku. Kuperhatikan sekelilingku. Anton masih duduk di sampingku. Dia menunggu PR-ku. Sampai, syukurlah, Yogi berteriak di depan setelah berhasil menangkap basah Bara yang ternyata sudah selesai mengerjakan PR. Anton segera menghambur ke Yogi, dan mengambil posisi tepat untuk menyalin pekerjaan Bara. Di antara kami, Bara memiliki tulisan yang paling rapi. Pasti, Anton akan memilih menyontek Bara ketimbang aku.
            Kukeluarkan amplop merah jambu itu dengan hati-hati. Kuletakkan di samping tas di atas meja. Aku buka pelan-pelan. Dan benar surat isinya.
            Tuhan, masa mudaku datang! Akhirnya aku mendapatkan surat cinta dari seorang gadis.
            Kucek amplop itu. Tak ada nama pengirim. Hatiku makin berbunga-bunga karena ternyata amplop itu memiliki aroma yang lembut.
            Kubuka dengan hati bergemuruh suratnya.
            Kepada Kamu.
            Kubaca paragraf pertama dan dahiku berkernyit luar biasa. Lahir lipatan-lipatan lebih banyak dari sebelumnya karena isi surat itu yang tak masuk akal. Siapa yang jahil begini kepadaku? Atau siapa yang berani menguntitku sepagian ini sehingga segala yang dituliskannya benar?
            Tunggu, dia bilang... aku tak membawa buku PR, dan Pak Oman tak datang hari ini.
            Segera kubuka tas dan kuperiksa isinya. Astaga, aku benar-benar tak membawa buku PR!
            Kemudian pintu diketuk. Aku kaget. Chandra ternyata.
            Dia senyum-senyum sendiri di pintu sebelum berkata, “Teman-teman, ada pesan dari Pak Oman. Pak Oman tidak bisa datang hari ini.” Sontak saja teman-temanku bersorak. “Eitss... ada lagi, Pak Oman nyuruh kita mengerjakan latihan soal di bab II ya...”
            Tapi ini bukan kali pertama Pak Oman tidak masuk kelas. Meski baru dua minggu pengajaran berjalan, Pak Oman sudah tak masuk dua kali. Dan dia selalu meninggalkan tugas yang tak pernah dikumpulkan. “Nanti dikumpulkannya menjelang ujian saja. Saya ingin menguji kedisiplinan kalian.”
            Disiplin dari Hongkong! Paling-paling tak ada yang mau mengerjakan tugas itu, dan sebagian kecil yang rajin akan menjadi bahan contekan sempurna menjelang ujian nanti. Percayalah!
            Aku kembali  ke surat dan mendadak bulu kudukku berdiri. Hal yang ditulisnya benar-benar terjadi. Kubaca kalimat selanjutnya dan itu menjadi kalimat paling tidak masuk akal yang pernah kubaca dalam hidupku.

            Hai Randi. Aku adalah kamu—kamu sepuluh tahun yang akan datang!
            Omong kosong.