16 April 2014

Simbiosa Alina: Di Antara Cinta dan Kenangan

Aku selalu ingin menulis tentang cinta. Setidaknya, satu kali saja dalam hidupku, aku ingin menulis sebuah buku yang isinya bisa dibaca sebagai cinta melulu, kenangan melulu, sebagai caraku untuk merayakan betapa hidup selalu tentang cinta.

Ketika naskah kukirimkan, aku tidak akan menyangka kalau kemudian akan dipadukan dengan Sungging Raga. Manusia satu itu, setahuku, tidak pacaran meski katanya dia pernah punya pacar.

Aku tidak tahu bagaimana orang akan membaca kisah yang seolah-olah kisah nyata cintaku, yang karakternya memang aku comot seenak jidat dari kehidupan riil. Bahkan, aku menjadikan namaku sendiri sebagai tokohnya. Kenapa, karena rasanya namaku itu keren. Jangan kalian bayangkan karakter tokoh itu sebagai aku. Itu semua hanya kamuflase. Aku bukan orang yang romantis. Aku adalah si pria cuek, alien, apatis, dan masa bodoh terhadap yang terjadi pada kehidupan orang lain. Aku tak ubahnya mesin yang menganggap perasaan bisa dihitung dan dikalkulasi.

Tapi setidaknya aku pernah jatuh cinta. Dan berterima kasih karena Tuhan memberikan aku banyak cinta, yang banyak pula tak dapat kubalas, meski aku sangat menikmati perasaan yang mereka berikan untukku tanpa bisa menolaknya.

Sampai sering aku bertanya, apa aku sebegitu mudahnya dicintai?

Ah.

14 April 2014

Review Simbiosa Alina oleh Suryawan WP

tulisan ini dicopy paste dari http://suryawanwp.wordpress.com/2014/04/12/simbiosa-alina-review/
ditulis oleh Suryawan WP


Setahun ke belakang saya mulai membaca cerpen-cerpen yang dimuat di koran. Sungging Raga adalah salah satu penulis yang cerpennya sering muncul di koran-koran Minggu. Saya mengagumi tulisannya yang ajaib. Beberapa cerpennya bahkan sampai membekas di ingatan hingga waktu yang lama karena saking ajaibnya.
Bersama Pringadi Abdi, Sungging Raga menerbitkan kumpulan cerpen “Simbiosa Alina”. Judulnya merupakan penggabungan dua judul cerpen milik mereka berdua, “Simbiosa” dan “Alina”.

Ada dua puluh cerita pendek dalam buku ini. Untuk ukuran buku yang tidak terlalu tebal (192 halaman) ternyata tidak bisa saya baca langsung selesai. Butuh waktu beberapa hari untuk menyelesaikannya.

Dari kesepuluh cerita pendek Sungging Raga, favorit saya adalah Sebatang Pohon di Loftus Road, Pelukis dari St. Mary’s, Senja di Taman Ewood, dan Biografi Cartesia. Saya sudah membaca tiga di antaranya, namun ternyata membacanya kembali dalam bentuk buku memberikan suasana yang berbeda. Saya tidak bosan dan tetap terbius meski sudah tahu jalan ceritanya. Dalam buku ini, segala sesuatu bisa terjadi meski sama sekali tidak masuk akal, seperti wanita yang berubah menjadi pohon, ataupun kisah hantu terbang di sebuah stasiun.

Setiap orang memiliki selera masing-masing, termasuk untuk cerpen. Saya kurang suka dengan cerpen yang penulisnya ikut muncul dalam cerita karena itu membuyarkan imajinasi saya. Saya juga kurang suka dengan pelabelan kisah “paling” yang membuat pembaca seolah dipaksa menerima, seperti kalimat terakhir dalam cerpen Simbiosa “Barangkali, itu kisah cinta yang paling mengharukan”. Meskipun dalam cerita itu label “paling” tersebut diberikan oleh rembulan yang kesepian.

Paruh kedua dari buku ini berisi cerpen-cerpen milik Pringadi Abdi. Sembilan dari sepuluh cerpennya memiliki tema “kasih tak sampai”, ataupun “cinta tak harus memiliki” yang dialami anak muda. Saya suka dengan gaya bahasanya. Ada permainan kata dalam kalimat-kalimatnya. Beberapa kejutan yang cukup mencubit di tiap akhir cerita. Namun sepertinya formula tersebut terlalu sering dipakai sehingga kalau malas membaca tengah cerita akan langsung menuju bagian akhir saja. Banyak pengetahuan penulis seperti tentang rumus matematika, sejarah, dan ilmu biologi serta hal-hal yang dekat dengan kehidupan penulis yang diselipkan dalam cerita tapi sayangnya peletakannya kurang smooth sehingga hanya seperti tempelan saja.
Buku ini bisa menjadi hiburan dengan ceritanya yang segar, ringan, dan ajaib.

11 April 2014

Pemilu, Pengalaman dan Pembelajaran

Pada mulanya saya ingin memilih tidak memilih. Alias Golput. Saya pun enggan untuk datang ke TPS dikarenakan saya tak mengenal satu pun caleg yang berada di dapil saya saat ini.

Sebagai pegawai KPPN, dengan pola mutasi yang acak, saya ditempatkan di Sumbawa Besar, jauh dari kampung halaman di Banyuasin, Sumatra Selatan. Pada pemilu 2009 lalu, saya masih berkuliah di Bintaro. Dengan rela dan bersemangat, saya menyempatkan diri untuk pulang dan memberikan suara kepada calon legislatif yang saya kenal betul, dengan mengharapkan adanya perubahanke arah yang lebih baik di kampung halaman. Tapi kali ini, pulang dari Sumbawa ke Sumatra sama saja dengan menghabiskan satu bulan penghasilan.

Meskipun demikian, ada sisi di sudut kecil hati yang ingin memilih. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Sayang sekali rasanya jika sebuah hak tidak dipakai dan disia-siakan. Saya pun sempat mencari tahu prosedur pindah tempat coblos. Petugas satker KPU yang sering datang ke KPPN untuk minta TUP bermilyar-milyar itu mengatakan, awalnya, "Mas tinggal datang saja ke TPS, bawa KTP. Langsung bisa memilih." Tahunya ketika saya berselancar, saya menemukan prosedur formulir A5. Sayangnya, pada tanggal-tanggal yang dipersyaratkan, saya akan sedang berada di luar kota dan tidak bisa mengurus A5 tersebut.

Baru pada tanggal 1 April saya kembali ke Sumbawa, dan petugas satker itu datang ke kantor untuk mengantar SPM. Saya pun berkata, "Mas, bisa tolong mengurus A5. Ini KTP saya..."
Alhamdulillah, dia bersedia dan keesokan harinya dia mengatakan semuanya sudah diproses. Akhirnya saya merasa senang menjadi pegawai KPPN yang selain punya keuntungan kalau bikin SIM dan paspor (nggak perlu antri), ternyata diurus formulir A5 nya juga. Satu hari sebelum pemilu, formulir A5 saya pun diantar oleh petugas KPPS.
13970888561108098573
Punya Saya
Datang ke TPS itu penting. Karena menurut Mahfud MD, dan tersebut di fakta persidangan, salah satu modus kecurangan dalam pemilu itu ialah adalah digunakannya kertas suara yang tidak digunakan oleh pemilih yang tidak datang, dicoblos dengan calon tertentu. Saya sendiri belum menentukan pilihan dan berniat mencoblos semuanya biar adil.

Pukul 9 pagi saya datang ke TPS dan langsung menuju daftar calon legislatif yang ditempel di luar bilik untuk melihat nama dan wajah-wajah mereka. Kadang-kadang kita bisa menilai seseorang dari garis wajah dan ekspresinya saat difoto, bukan?
139718230964475862
Daftar Caleg

Suasana TPS 1 Labuhan Badas pagi itu pun sudah cukup ramai. Mayoritas ibu-ibu. Menyimak mereka berbicara di depan daftar caleg, saya yang belum paham bahasa Sumbawa, mencoba memahami calon mana yang ada di hati mereka. Setidaknya untuk DPD saya kenal satu nama. Tokoh masyarakat setempat. Tokoh ini memang aktif membantu masyarakat bahkan jauh-jauh hari sebelum Pemilu.

Beralih ke DPR RI, ada nama Fachri Hamzah dari PKS. Saya sempat bertemu Fachri di Bandara Praya dua minggu lalu. Di tengah orang-orang yang tidak mengenalinya, pukul setengah 5 pagi itu, saya menyalaminya. Fachri memang putra asli Sumbawa, asal Utan. Sering kami plesetkan kalau Fachri itu Orangutan (baca: orang Utan). Sayangnya, hati saya tak terketuk untuk memilihnya. Dan beralih ke nama lain, mencoba mencari nama yang saya kenal. Alhamdulillah, nggak nyangka, ada satu idola saya bertengger di pojok kiri paling atas pula. Namanya Prof. Kurtubi. Ia salah satu tokoh yang paling vokal menentang kebijakan energi era SBY. Pendapat-pendapatnya logis meski ada beberapa yang out-of-date bila kita pernah menonton diskusinya dengan alm. wamen ESDM.

Berikut suasan TPS 01 Kec. Labuhan Badas pagi itu.




Dan ini bukti saya telah mengikuti pemilihan umum 2014, sebagai pemilu kedua saya dengan sukses dan bahagia.


Semoga saja, pemilu kali ini menghadirkan anggota legislatif yang baik, yang bukan seperti sekarang dengan gaji legislatif no. 4 tertinggi di dunia, tapi kinerjanya paling buruk. Amin.

08 April 2014

Empat Ratus Tahun Cerita Lelaki




Setelah memahami, Jakarta diciptakan untuk orang-orang yang sudah bosan hidup, sambil mengagumi kendaraan yang lalu lalang, asap-asap yang keluar dari knalpot, dan langit yang tak pernah lebih biru dari lautan, ia akhirnya bertemu Teruna.
Gadis itu keluar dari taksi, memakai baju terusan rendah di bagian bawah berwarna merah marun, tersenyum, lalu bertanya, “Sudah menunggu lama?”
Bakda mendarat di Soetta tadi, ia diminta untuk menemui Teruna. “Naiklah Damri jurusan Lebak Bulus, lalu turunlah di Slipi Petamburan.” Teruna mengirimkan pesan singkat.
Yang Teruna tidak ketahui ialah, ia sudah hidup selama lebih dari 400 tahun dan menyepi di daerah-daerah berpenduduk sedikit, menyaksikan orang lahir dan mati, perang dan perdamaian, tetapi ia tidak pernah bosan menunggu untuk jatuh cinta, seperti yang diramalkan Onang Sadino, Pak Tua yang mengaku bisa membaca garis tangan dan membuka lapaknya di pasar Brang Biji beberapa tahun lalu, “Sebelum waktumu berakhir Nak, kau pasti akan jatuh cinta, dan laki-laki sejati hanya jatuh cinta satu kali seumur hidupnya.”
“Apa kamu lelah?” Teruna mengajukan pertanyaan berikutnya.
“Aku hanya tidak terbiasa dengan keramaian.” Ia menyandarkan tubuhnya di kursi, menghela napas,  mengeluarkan botol air minum yang isinya tinggal sedikit, meneguknya, lalu menatap Teruna, “Arsenal pernah punya kostum berwarna merah marun. Konon, itu warna kehidupan.”
Teruna memegang tangan lelaki itu dan berkata, “Aku merasa jauh lebih hidup saat kamu ada di sampingku sekarang ketimbang aku memakai pakaian ini.”
Baru semalam ia berangkat dari Sumbawa, menyisiri garis pantai sampai Poto Tano. Malam itu, ombak di selat Alas tidak begitu bersahabat. Barangkali ada seseorang yang telah meninggalkannya ketika bermain ayunan. Jadi diombang-ambingkannya kapal laut tua itu, sambil mengingat tragedi kapal tua Munawar yang tenggelam beberapa bulan sebelumnya. Ia bisa saja berteleportasi. Tapi jangkauan teleportasinya hanya sekitar 100km. Ia khawatir kemunculannya yang tiba-tiba, dan kadangkala tidak dapat ia kontrol, akan membuat kehebohan bila mana ada saksi mata yang menyaksikannya. Toh, ia sudah ingin hidup sebagai manusia biasa. Kemampuan khususnya ingin ia tenggelamkan.
Gadis itu, meski ia tak yakin apakah Teruna masih seorang gadis, bilang telah jatuh cinta kepadanya, tanpa pernah bertemu sebelumnya.
“Bisakah kita merindukan seseorang yang belum kita temui sebelumnya?” tanya lelaki itu.
Tapi sebelum kita berlanjut menjawab pertanyaan itu, saya akan membawa kalian ke peristiwa lain yang inshaallah masih saling berkaitan, sebagai selingan.
Arsenal baru kalah dari Bayern Munich malam itu. Ia seorang pencinta Arsenal. Kekalahan itu membuatnya galau. Hari itu ia pergi ke Tanjung Menangis. Di sana memang lokasi terbaik untuk memancing.
Saya kebetulan sedang berkemah di Ai Loang, dan bakda Subuh memutuskan untuk menaiki perahu, sendirian. Pagi-pagi begini ombak relatif tenang. Pulau Moyo yang tersohor terlihat dari kejauhan. Dibelai angin yang lembut, saya membayangkan kekasih. Perahu pelan-pelan menjauh dari daratan. Sebatang pohon yang tumbuh sendiri agak jauh dari bibir pantai tampak kesepian.
Ketika menoleh ke arah sebaliknya, di Tanjung Menangis itu, saya menyaksikan sosok itu, ia, sedang memancing. Meski cahaya masih sangat sedikit, dan matahari yang biasa akan terlihat terbit sangat sempurna masih mencoba membukakan mata, saya katakan dengan pasti, ikan-ikan tampak lompat-melompat di sekitar kailnya.
Pada hari itulah kami berkenalan, tapi ia tak mau menyebutkan nama.
Baru berjabat tangan, ia bertanya, “Hal apakah kiranya yang paling tidak kamu percayai di dunia ini, Kawan?”
“Tuhan. Dan pemandangan yang baru saja saya lihat. Bagaimana mungkin ikan-ikan itu seperti minta dipancing?”
“Banyak hal yang belum kita tahu, dan kita cenderung tidak mempercayai hal yang tidak kita ketahui.” Ia masih memegangi pancingnya, memandang lurus ke depan lalu kembali berkata, “Apa kamu akan percaya jika kukatakan aku telah hidup selama lebih dari 400 tahun di dunia ini?”
Saya terhenyak mendengar ucapannya. Ikan-ikan melompat lebih tinggi. Cahaya kuning pertama dari matahari terbit sampai di permukaan lautan. “Tidak mungkin, kecuali engkau Khidir.” Saya menyangsikan.
“Kau asli Tanah Samawa?” Ia menanyakan pertanyaan lain.
“Oh, bukan. Saya baru tiga tahun dimutasikan ke sini.”
“Apa kamu percaya yang namanya kesetiaan?” Pertanyaannya semakin mendalam
“Apa ini soal perempuan?” Saya balik bertanya.
Dia pun menarik pancingnya. Seekor baronang batu yang lebih besar dari telapak tangan tampak menggeliat di ujung kail. Ikan berwarna hitam itu akan terasa enak bila dibakar dengan cara yang tepat.
“Dulu, ada seorang gadis. Dia mengejarku sampai ke tanjung ini. Ah, tidak berhenti sampai di sini, ia terus mengejarku sampai ke sana,” ucapnya sambil menunjuk lautan. Matanya berkaca-kaca. Saya tahu dia sedang sedih menceritakan kisah yang tampak janggal itu. Tapi kalian harus tahu, segala hal yang tak masuk akal, di hadapan cinta, segala hal itu pula dapat diterima. “Aku tidak tahu kalau dia akan mati dengan cara seperti itu. Aku bahkan masih mengingat wajahnya yang sendu, yang meneriakkan namaku ketika perahuku mulai menjauh. Aku pikir, itulah kematian pertama yang aku saksikan di dunia ini, Kawan.”
“Nama? Engkau punya nama?”
“Aku tidak punya nama. Tapi dulu aku dipanggil Daeng Ujung Pandang.”
“Saya seperti pernah mendengar kisah ini.”
“Kalau kamu asli tanah Samawa, pasti kisah ini akrab di telingamu.”
Kalimat terakhirnya tenggelam begitu saja. Saya memang sering tidak mau tahu dengan cerita-cerita di Sumbawa. Sebab menjadi karib dengan tanah ini, akan membuatmu semakin betah berada di sini. Saya sendiri ingin cepat-cepat pindah.
Selain tidak tahu nama,  saya juga tidak tahu tempat tinggal lelaki itu. Tapi setiap kali pergi memancing, di mana pun, di Mamak, di Batu Bulan, di Empang atau sampai di Teluk Santong sekalian, saya selalu bertemu dengannya. Sampai kami sedemikian akrab. Sampai saya mau tidak mau percaya dengan kisah-kisah yang diceritakannya.

~

Kembali ke Teruna, saya mengenalnya di media sosial. Ia seorang gadis yang tangguh. Saya pikir semua gadis yang hidup di Jakarta adalah gadis yang tangguh. Siapa yang bisa tahan bila setiap pagi tak melihat burung-burung bertengger di atas pagar, embun di atas daun, dan duka-luka yang tertumpuk seharian harus dicoreng-morengi asap kendaraan yang penuh timbal.
Ia tersentak ketika melihat profil Teruna di tablet saya. Gadis mungil berambut panjang itu begitu menarik perhatiannya. “Aku sudah hidup selama 400 tahun lebih, tapi baru kali ini aku menemukan wajah seseorang yang mirip dengan wajah sang putri.”
“Max Galuppo saja pernah menemukan lukisan dirinya, persis dirinya di Philadelpia Museum of Art tanpa mengakui ia tidak pernah dilukis oleh seorang pun. Menariknya, lukisan yang diberi judul Portrait of a Nobleman with Dueling Gauntlet itu dibuat pada tahun 1562 di Italia.”
“Jadi apa reinkarnasi itu ada?”
“Ada 7 not dasar. Dari ketujuh not dasar itu, jutaan lagu tercipta. Dari jutaan lagu itu, kalau ada yang mirip atau nyaris sama persis adalah hal yang mungkin. Baru-baru ini Katy Perry dibilang menjiplak Nike Ardilla. Saya pikir itu hanya kebetulan. Genetika juga seperti itu. Entah sudah berapa miliar manusia ada di muka bumi. Jadi bila ada kesamaan, pengulangan genetika, itu suatu kewajaran.”
“Aku belajar sesuatu darimu, Kawan. Ternyata kebijaksanaan bisa datang dari mana saja, termasuk dari manusia seumur jagung.” Ia menjawab lalu tertawa terbahak-bahak.
Saya suka iri melihat perawakannya yang relatif sempurna. Kulitnya secarah buah pir. Giginya putih bersih. Rambutnya hitam dan tebal. Hidup lebih dari 400 tahun tak membuatnya menjadi tambun.
Saya tidak tahu apa rencananya terhadap Teruna ketika sekitar pukul delapan pagi WITA, ia mengirimi aku pesan singkat, “Kawan, aku baru mendarat di Soetta. Sebentar lagi aku akan bertemu Teruna.”

~
           
Lalu dimulailah cerita ini. Ia sedang berada di taksi bersama Teruna menuju kawasan Palmerah. Teruna mengajaknya singgah di kosnya. Saya tidak mau mengajak kalian membayangkan hal yang akan terjadi di antara laki-laki dan perempuan bila berada di ruang yang hanya ada tembok dan atap, berdua saja, lalu tirai ditutup sehingga sulit bagi satuan cahaya terkecil sekali pun untuk mengintip.
Ia tidak mengabari saya apa pun. Hari itu hari Sabtu. Saya memutuskan memancing di Kencana. Bila beruntung akan ada anak-anak perempuan mandi di pantai. Menyegarkan bila Tuhan memberikan kesempatan untuk cuci mata barang sejenak di sana.
Saya tidak mengerti makna kesetiaan. Matahari yang terbit dari timur ke barat itu juga konon akan terbit dari barat ke timur. Bulan yang melayang di langit malam tidak utuh sepanjang hari. Selamanya—apa ada kata selamanya, dan seberapa jauh?
Baru menjelang malam hari, ia mengirim pesan, “Malam ini, Chelsea akan menjamu Arsenal. Aku akan berada di kereta, tolong kabari aku perkembangan skornya ya.”
Kami berdua sama-sama pencinta Arsenal dan saya tidak penasaran terhadap jawaban yang ia dapatkan dari pertemuannya dengan Teruna. Siapa yang tahu bila malam itu, Arsenal harus kalah enam gol tanpa balas dan kereta yang ia naiki berada di atas rel yang tak memiliki ujung?
Barangkali hanya kalian saja yang penasaran bagaimana sejatinya kisah ini harus diakhiri dan saya yang tak mengerti perasaan saya bahkan sejak cerita ini dimulai.

(2014)




07 April 2014

Catatan Hati: Hantu

Mungkin kamu akan membaca ini. Mungkin juga kamu tidak akan membaca ini.

Hari ini kusadari, aku tidak pernah belajar meminta maaf dengan benar. Aku tidak tahu cara yang paling baik dalam meminta sebuah pemaafan.

Dua hantu paling menakutkan di dalam hidupku. Pertama, rasa bersalah. Kedua, kegagalan. Hal yang pertama ternyata begitu menakutkan dan membuatku tak bisa berpikir normal. Dalam waktu singkat, melihat hantu yang satu ini, kondisi kesehatanku jatuh, daya tahan tubuhku menurun drastis. Segala hal tidak dapat kukerjakan dengan benar.

Kata-katamu selalu benar. Kata-kataku selalu salah.

Entah apa aku akan mendapat sebuah pemaafan, darimu, dan dari diriku sendiri?

Ketakutan yang kedua, adalah tentang kegagalan. Ya, dua kali tes D4, dua kali itu pula aku gagal. Tes yang ketiga akan menjadi yang terakhir, tetapi kegagalan itu menghantui.

Keinginan untuk lulus begitu besar, tetapi diri ini menyadari kemampuan berpikirku sudah turun terlalu jauh. Mengerjakan soal-soal USM D4 dibutuhkan ketahanan berpikir yang prima, kecepatan yang tak terperanai, dan kekuatan mental yang luar biasa. Tanpa itu, dua hari tes akan menjadi sia-sia.

Aku tak tahu apakah kali ini Tuhan akan menolongku mengingat sudah seberapa jauh aku meninggalkanNya.

Tapi Tuhan, kali ini saja, hilangkan dua ketakutan itu.

Semoga Kau dan kamu memaafkanku.

Dan semoga aku kembali ke Bintaro...

01 April 2014

Misa Arwah dan Sebuah Entropi

Saya pernah keliru mengartikan misa. Dulu, saya berpikir, ibadah Minggu di gereja itu adalah misa. Ternyata bukan. 



Istilah Misa berasal dari kata bahasa Latin kuno missa yang secara harafiah berarti pergi berpencar atau diutus. Kata ini dipakai dalam rumusan pengutusan dalam bagian akhir Perayaan Ekaristi yang berbunyi "Ite, missa est" (Pergilah, tugas perutusan telah diberikan) yang dalam Tata Perayaan Ekaristi di Indonesia dipakai rumusan kata-kata "Marilah pergi. Kita diutus."(Wikipedia)



Sedangkan ekaristi berasal dari bahasa Yunani eucharistia, yang artinya pujian atau syukur. Jadi, arti kata ekaristi mementingkan apa yang kita akukan dalam Misa, yaitu memuji, bersyukur, dan berterima kasih kepada Tuhan atas kebaikan-Nya. Dikatakan bahwa ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan umat.



Menarik ketika Dea Anugrah, yang sering disebut Khrisna Pabichara sebagai musuh saya, memberikan manuskrip puisinya yang berjudul "Misa Arwah". Yang terbersit di pikiran ketika membaca judul ini adalah eksistensialisme. Kedua, mahasiswa filsafat abadi menulis puisi, pasti akan ada lapisan-lapisan pembacaan di dalam puisinya.



Pada saat yang sama, ketika membaca puisi-puisi di dalamnya, saya sedang berbincang dengan Zane tentang alam semesta. Alam semesta yang bermula dari ledakan besar, menjadi bintang, bintang menjadi bintang-bintang, lalu menjadi galaksi, dan galaksi-galaksi. Alam semesta selalu berkembang, begitu juga tubuhku. Dengan serius, dia berkata. Itu namanya entropi. Entropi alam semesta adalah mengembangnya alam semesta. Aku diam saja mendengar kata-katanya. Dia melanjutkan, entropi itu dikenal pada termodinamika. Entropi adalah es batu di dalam gelas, juga gula yang diaduk dalam segelas teh. Ia juga berarti transformasi. Ada banyak hal yang tampaknya berubah tanpa alasan. Begitu juga tubuhku, katanya. Entropi di dalam tubuh adalah ketidakteraturan. Ketidakteraturan itu akan semakin tidak teratur. Kita bisa memperlambat entropi itu dengan olahraga. Ucapannya sulit kubantah.



Sajak-sajak Dea Anugrah juga adalah sebuah entropi. Kecemasanlah yang menjadi entropinya. Ditegaskan dalam baris sajaknya,


Sebab kecemasan itu tak pernah usai. 



Bicara sajak Dea juga bicara pengetahuan dan intertekstualitas. Simak sajak pertamanya yang berjudul Teringat Kuburan di Desa




selembar daun jati tua

jatuh 

di atas sebuah makam purba



o, pengetahuan, mengapa manusia

ingin bahagia?



Dari sajak ini saja aku jadi teringat pada banyak hal. Ada Ezra Pound, Subagyo Sastrowardoyo, Sheila on 7 dan Goenawan Muhammad.



Ezra Pound kukenal karena imajismenya. Imaji daun jati yang dihadirkan Dea juga menarik. Karena lama tinggal di Jogja, jadi kurasa Dea paham betul kalau daun jati itulah yang berguna memerahkan gudeg. Yang disukai banyak orang biasanya adalah yang terbungkus di dalam daun jati, bukan daun jatinya. Sama seperti ketika aku berkunjung ke Jogja, kami makan nasi Jamblang di emperan jalan. Makanan khas Cirebon itu juga dibungkus daun jati. 



Namun, Dea tak puas dengan imajisme semata. Ia membubuhkan pertanyaan. Pertanyaan yang pernah dilontarkan Sheila on 7, juga Goenawan Muhammad. Bedanya, Dea menggunakan kata "ingin", bukan "ada", atau "butuh". Di sini, Dea mengatakan bahwa manusia memiliki arti nafs itu. 



Kekontrasan antara kedua hal itu menimbulkan kesadaran akan peran manusia untuk mementingkan orang lain dulu ketimbang mementingkan diri sendiri. Diletakkannya sajak ini di awallah yang juga membuatku teringat pada sajak Subagyo Sastrowardoyo.




NADA AWAL

Oleh :Subagyo Sastrowardoyo



Tugasku hanya menterjemah

gerak daun yang tergantung

di ranting yang letih. Rahasia

membutuhkan kata yang terucap

di puncak sepi. Ketika daun jatuh

tak ada titik darah. tapi

di ruang kelam ada yang merasa

kehilangan dan mengaduh pedih



Jika kita mencermati keduanya, ada persamaan alasan. Ini yang membuat Dea menulis Misa Arwah sebagai persembahan untuk Subagyo Sastrowardoyo.



Hanya saja, entropi Dea dan kecemasannya itu masih belum terlihat batasnya. Ibarat gula tadi, diaduk di dalam gelas, ia akan memaniskan seisi gelas. Tak berpuas di situ, bila pun gula itu ditumpahkan ke lautan, ada upaya dari Dea untuk memaniskan lautan. Tampak Dea berusaha mendefinisikan ulang banyak kejadian. Ia tak puas dengan definisi yang diterimanya (misal dalam sajak Ad Ignorantiam--yang bahasa gaulnya, "Hoi, apa kita sudah cukup bukti untuk menyimpulkan sesuatu?)



Akan tak bijak rasanya kalau semua sajaknya dibahas satu-satu dan akan habis isi otakku dikurasnya, meski itu mungkin belum akan cukup juga pada kemungkinan tafsir yang bisa didapatkan.



Apapun itu, ada baiknya kita menanti buku sajak ini segera terbit dan dibincangkan karena ia memang layak dibincangkan.



(2014)

Kepada Kamu



Kepada Kamu,

Aku tak ingin lagi menulis surat kepadamu semenjak kusadari bahwa mencintai saja tidak pernah cukup untuk membuat kita bersatu. Dan sebuah penyatuan pun tidak akan menjamin pernyataan selamanya.

Seberapa jauh sebenarnya selamanya itu?

Aku tidak tahu apakah satu-satunya kata sayang yang pernah kau ucapkan kepadaku itu adalah tanda bahwa kita pernah menjadi kekasih. Aku tidak sempat bertanya, aku juga tidak sempat menggenggam tanganmu dan mencoba mencari denyut nadi yang kira-kira akan seirama dengan milikku.

Kadang-kadang aku mengamini, cinta yang belum sempat dijalani itu jauh lebih berkesan. Tapi apa benar kita tidak sempat menjalani apa pun?

Aku masih selalu ingat rasa cokelat yang membuat badanku makin gemuk ketika di hadapanmu, dan kamu menatapku memainkan sedotan, mencari-cari sebab kenapa begitu cepat batu es di dalam gelas itu mencair. Aku juga masih ingat setiap lekuk wajahmu yang indah, yang memberikan senyum paling membahagiakan itu.

Tapi kita berpisah. Tanpa alasan.
Aku hilang. Kamu hilang.

Kepada Kamu,
Ya, Kamu.

Aku cuma ingin bilang, bagiku tak pernah ada mantan kekasih.
Sekali kekasih, selamanya akan tetap kekasih.

2014

PS:
Surat ini diikutsertakan dalam lomba #SuratUntukMantan #SuratUntukRuth Bernard Batubara


Simbiosa Alina (Gramedia, 2014)






Kamu seperti hujan yang datang menghapus bau-bau kematian di hatiku yang telah gersang oleh kemarau.
(Bait-Bait Hujan – Pringadi Abdi)

Bagaimana kau membayangkan seorang wanita yang menjelma sebatang pohon, hidup selama puluhan tahun, dan tak pernah kembali menjadi manusia?
(Sebatang Pohon di Loftus Road – Sungging Raga)

Ada berbagai cerita dalam kumpulan cerita pendek kedua pengarang ini. Menggugah, menggigit, membuatmu mengernyit. Barangkali, seperti kutipan Sungging Raga di bawah ini:
Konon, inilah yang disebut cerita pendek surealis. Segala sesuatu bisa terjadi meski sama sekali tidak masuk akal.

~

Itulah yang tertera di balik buku baruku bersama Sungging Raga, yang diterbitkan Gramedia pada 27 Maret 2014 lalu. Ini bukanlah sebuah buku yang direncanakan berdua. Ini adalah buku yang menakdirkan kami berdua untuk bertemu.

Dapatkah kita memisahkan batas antara imajinasi dan ingatan?

Pertanyaan itu mengetuk-ngetuk dengkulku. Sering aku meragukan masa laluku sendiri. Cerita-ceritaku ke kamu atau cerita-ceritamu ke aku, apakah itu benar sebuah ingatan? Atau hanya sebuah sudut pandang, persepsi, atau bahkan fiksi?

Kadangkadang kita menjadi cermin, bertindak sesuai dengan yang orang inginkan. Aku tak tahu apa arti kata person ada sangkut pautnya dengan persona dan menjadi personality? Sebab persona berarti topeng. Kita hobi menciptakan topeng-topeng kita sendiri. Kita juga hobi menciptakan fiksifiksi kita sendiri sebagai suatu versi yang paling kita inginkan ada di dalam hidup.

Ada dua puluh cerita di dalam buku ini. Benang merahnya adalah imajinasi dan ingatan.
Dengan gaya menulis yang berbeda, antara aku dan Sungging Raga, barangkali bisa saling melengkapi dan menuntaskan dahaga pembaca tentang sudut pandang lain dari cinta.

Semoga teman-teman berkenan untuk memiliki dan membacanya. Salam hangat dari saya.

PS:
Bisa didapatkan di Gramedia seluruh Indonesia dan toko-toko online.
Atau pesan langsung ke penulisnya di sini yah.