Langsung ke konten utama

Juara II Lomba Cipta Puisi Nasional Komunitas Kopi Andalas 2012


Sekian Fragmen Perjalanan, Ketika Aku dan Kau Memutuskan
Pergi atau Kembali demi Menuntaskan Rindu dan Kerinduan

I.

Hujan turun tipis. Kau bersiap menepis kenyataan bahwa kita duduk berhadap-hadapan, memesan dua gelas jahe, dengan madu dan coklat, dan orang-orang menatap kita dengan pandangan yang berkilat. Aku ingin meminta sesaat, mencari detak jantung yang berisik, pelan kian melubangi dada seperti peluru berkaliber berat. Kau meneguk satu gelas, dan gelas-gelasnya pecah seperti udara yang berebut masuk ke hidung, memenuhi paru-paru, meledakkannya jadi remah roti milik Hansel Gretel.

Dan hujan berteriak, seperti raungan burung koak. Beberapa milik kenangan tercerai berai, pontang-panting, tunggang-langgang, meloncat dua meter ke langit, tersangkut di pohon perdu. Kau yang merindu, tapi ombak terlalu tinggi dan angin yang kemarin memejam, bangun malam ini.

Suara, tidakkah ini tampak begitu ganjil? Aku dan bayangan kompak saling bermusuhan?

II.

Karena para perokok mengadakan rapat di dekat jembatan, lupa mandi pagi dan gosok gigi, asap-asap terkepul lalu berkumpul di langit. Burung-burung pingsan, banyak anak sekolah kesiangan. Seorang pegawai KPPN lupa absen dan hendak menyalahkan hujan yang akrab memeluk dirinya. Dia melihat ke atas, dua jejak asap mula-mula sebesar bola ping pong melebar menyerupai cendawan. Seseorang telah meledakkan C4, Seseorang telah meledakkan C4! Dia menjerit, pegawai negeri di imigrasi dan pengadilan negeri ikut
berhamburan, panik dan mulai belajar mengatupkan tangan kembali, memohon kiamat tidak terjadi hari itu dengan alasan terlalu banyak dosa dan paspor-paspor terbengkalai, devisa negara akan berkurang karena para TKI gagal berangkat.

Padahal, para perokok hanya saling berlomba mengepulkan asap yang paling gagah seperti adu kelamin yang tabah bercinta dengan sesuatu bernama sunyi.

III.

Janus jatuh di pohon mangga. Anak kecil yang biasa bermain sepeda terbangun, keluar kamar dengan mengendap. Padahal malam masih muda, jalan-jalan sekitar Sumbawa masih ramai, berpasang kekasih saling bertukar anai-anai. Tapi kumbang telah tidur, katak telah tidur, lalat-lalat yang biasa mengacau, menghindari nyala lilin juga telah tidur.

Pukul 21 Wita, ada Janus di luar sedang menyembunyikan salah satu wajahnya, ada aku di dalam sedang mencari satu-satunya wajah.

IV.

Malaikat yang mematahkan sayapnya itu menyamar menjadi dirimu. Matahari ada sembilan, satu di langit dan sisanya mengitari Kau sebagai pusat galaksi. Aku hanya seekor bulan yang hendak mengorbit di sebuah planet, agar air dapat pasang surut dan dongeng tentang pungguk jadi abadi.

V.

Maka, langit terbuat dari kecap. Hitam pekat dan kental. Sekoloni semut berusaha memanjatnya tapi tak ada sulur pohon dari surga, tak ada dinding pondasi cakar ayam yang kuat menantang udara yang tipis, dikuasai nitrogen dan karbondioksida. Aku menduga, bila kiamat tiba, sehektar cabe akan mekar mula-mula lalu tumbuh besar seperti dongeng milik Jack, berbuah, meletus dan langit jadi warna merah, pedas, membara. Orang-orang yang tadinya takut diabetes pergi ke WC, membuka celana dan menunaikan haknya yang paling asasi, tapi berkali-kali sampai dehidrasi. Rumah sakit penuh. Dokter-dokter yang tak makan seminggu kewalahan dan mayat-mayat bergelimpangan terlantar di jalan-jalan karena ongkos ambulance yang kian mahal sesuai teori ekonomi Adam Smith. Maka di dunia lain, Smith menggerutu dan menggugat Tuhan, meminta dipercepat saja kiamatnya biar tak makin banyak tuntutan dialamatkan kepadanya.

Dunia awalnya amat sederhana, langit terbuat dari kecap. Kita di dalam botol, saling mencecap bibir masing-masing.

(2012)




  • PENGUMUMAN LOMBA CIPTA PUISI NASIONAL KOMUNITAS KOPI ANDALAS 2012
Panitia Lomba Cipta Puisi Kopi Andalas telah menerima 150 karya dari 69 penulis seluruh Indonesia. 150 karya tersebut sebelumnya diserahkan oleh panitia kepada dewan juri dengan menghilangkan  nama penulis dan menggantinya dengan angka, hal ini mengingat panitia memperlakukan puisi dengan status yang sama tanpa melihat siapa pengarangnya. Seperti diketahui sebelumnya, setiap peserta dikenakan biaya sebesar sepuluh ribu/puisi. Inilah yang mendasari panitia menyamakan status puisi yang masuk ke ruang panitia. Puisi yang disusun acak berdasarkan angka tersebut diberikan oleh panitia kepada dewan juri pada tanggal 15 Januari 2013, adapun dewan jurinya adalah :

-   Rusli Marzuki Saria (Penyair Senior Sumatera Barat)
-   Zelfeni Wimra (Penyair dan Cerpenis)
-   Muhammad Ibrahim Ilyas (Penyair dan Budayawan)

Ketiga dewan juri tersebut melakukan akumulasi penilaian pada Selasa, 29 Januari 2013 di Taman Budaya, Sumatera Barat dan memutuskan hasil sebagai berikut :

Keputusan Pertama :
Puisi terbaik I dengan nomor puisi 45, dengan judul “Makassar”
Puisi terbaik II dengan nomor puisi 32 dengan judul “Sekian Fragmen Perjalanan, Ketika Aku dan Kau Memutuskan Pergi atau Kembali Demi Menuntaskan Rindu dan Kerinduan”
Puisi terbaik III dengan nomor puisi 15, dengan judul “Gambar Kecil di Meja Belajar Budi”

Keputusan Kedua:
Selain memilih tiga puisi terbaik yang menjadi pemenang, dewan juri hanya merekomendasikan 52 puisiyang layak untuk dibukukan oleh panitia, termasuk tiga karya terbaik.

Dua keputusan dewan juri di atas, menjadi acuan panitia yang tidak dapat diganggu gugat oleh peserta dikemudian hari. Akhirnya panitia pada Rabu, 30 Januari 2013 mengumumkan pemuncak dalam Lomba Cipta Puisi Nasional Komunitas Kopi Andalas adalah :

1. Puisi terbaik I dengan nomor puisi 45, dengan judul Makassar” karya Bara Pattyradja.
2. Puisi terbaik II dengan nomor puisi 32 dengan judul “Sekian Fragmen Perjalanan, Ketika Aku danKau Memutuskan Pergi atau Kembali Demi Menuntaskan Rindu dan Kerinduan” karya Pringadi Abdi Surya.
3. Puisi terbaik III dengan nomor puisi 15, dengan judul Gambar Kecil di Meja Belajar Budi” karya Sudianto-Manusia Perahu.

Tiga puisi terbaik akan memperoleh hadiah berupa :
1) Terbaik I : Tabungan Rp. 1.500.000,- +sertifikat+ 2 eks buku antologi
2) Terbaik II : Tabungan Rp. 500.000,- +sertifikat+ 2 eks buku antologi
3) Terbaik III : Tabungan Rp. 500.000,- +sertifikat+ 2 eks buku antologi
   
Kemudian, 49 karya lainnya yang akan dibukukan adalah :

  1. “Menanggalkan Nyawa pada Hujan” karya Faustina Bernadette Hanna Kesuma
  2. “Hikayat Kali Porong” karya Samian Adib
  3. “Laut Menulis Kesunyian” karya Dodi Prananda
  4. “100 Tahun Kematianku” karya Hasan S.Ramadan
  5. “Gerimis Bernama Lin” karya Rahmi Intan Jeyhan
  6. “Kelainan Jiwa” karya Irma Garnesia
  7. “Catatan Tahun Baru” karya Pringadi Abdi Surya
  8. “Hawa” karya Dika Agusta
  9. “Ingin Kutulis Sebuah Sajak” karya Ni Wayan Idayati
10.  “Sajak Galodo” karya Syarifuddin Arifin
11.  “Riwayat Tanah Merah” karya Ahmad Musabbih
12.  “Kukenali Sajak yang Tak Sengaja Membuatmu Jatuh Cinta” karya  Pringadi Abdi Surya
13.  “Kala Itu” karya Dini Riza’i
14.  “Sebuah Perjalanan” karya Samian Adib
15.  “Cerita dari Sungai Junok” karya Frasdia Muzammil
16.  “Perempuan Menggenggam Bara” karya Achmad A.Arifin
17.  “Pecundang Adu Senyum” karya Dika Agusta
18.  “Ode Bagi Senja” karya Ni Wayan Idayati
19.  “Dua Episode Ibu” karya Dodi Prananda
20.  “Obituari” karya Ni Wayan Idayati
21.  “Hujan Desember” karya Syarifuddin Arifin
22.  “Wasiat” karya Bara Pattyradja
23.  “Sajak Untuk Orang Kesepian” karya Irma Garnesia
24.  “Seperti Dakocan” karya Syarifuddin Arifin
25.  “Satu Kilometer Rindu Dari Jantungku” karya Bara Pattyradja
26.  “Laut di Selat Madura”karta Frasdia Muzammil
27.  “Ibu Jadah” karya Samian Adib
28.  “Puisi Buat Baisillah” karya Bara Pattyradja
29.  “Ketika Kita Bertukar Masalalu” Ni Wayan Idayati
30.  “Susu Bersantan” karya Syarifuddin Arifin
31.  “Seperti Perahu” karya Frasdia Muzammil
32.  “Azarenka (1)” karya Budi Setyawan
33.  “Kawan Lama” karya Kemas Verri Rahman
34.  “Aku Pulang” karya Novia Rika Perwitasari
35.  “Di Lerung Kotamu” karya Budi Setyawan
36.   “Teralis” karya Rahmannisa Atmadja
37.  “Tarian Penutup” karya Rahmi Intan Jeyhan
38.  “ Gita Cinta Anak Negeri” karya Samian Adib
39.  “Carut” karya karya Hasan S.Ramadan
40.  “ Di Ujung Senja” karya Windi Pebri Candra
41.  “Serupa Kembang” karya Nita Rizky Yani
42.  “ Tanah Leluhur” karya Homaedi
43.  “Puisi Penjaja Roti” karya Widya Karima (Dini Widya Herlinda)
44.  “Lubang Telinga Dunia” karya Ganto Swaro (Beni Usman)
45.  “Iktiar Burung” karya Rila Weni Dayanti
46.  “Menembus Kabut Benua” karya Budi Setyawan
47.  “Hari Perayaan” karya Novia Rika Perwitasari
48.  “Sayap Tak Berbulu” karya Anisah Kusuma Nizmasari
49.  “Batas Tiga Dunia” karya Novia Rika Perwitasari

Selamat ! Kami panitia Lomba Cipta Puisi Nasional Komunitas Kopi Andalas mengucapkan selamat dan terimakasih atas apresiasi rekan-rekan. Pengiriman hadiah baik berupa uang, sertifikat serta buku antologi kepada tiga pemenang terbaik serentak dilaksanakan pada Senin, 25 Februari 2013 mendatang. Hal ini dikarenakan panitia akan mempersiapkan penerbitan buku antologi puisi dan sertifikat pemenang. Hadiah berupa uang, buku antologi dan sertifikat hanya diperuntukkan untuk tiga pemenang terbaik. Jika peserta lainnya yang ingin mendapatkan buku antologi yang kami terbitkan silahkan menghubungi panitia pelaksana atas nama Halvika Padma (083181565044) dan akan dikenakan biaya cetak buku dan pengiriman buku. Kepada tiga peserta puisi terbaik diharapkan segera melakukan konfirmasi kepada panitia atas namaYosefintia Sinta (085288609699) untuk memastikan rekening dan alamat pengiriman nantinya. Salam kopi andalas, salam sastra.

Padang, 31 Januari 2013.12:54 PM

Komentar

Informasi yang sangat bermanfaat sekali, salam kenal untuk admin

Pos populer dari blog ini

70 Kata-Kata Sok Bijak Mereka

1. Marah itu gampang. Tapi marah kepada siapa, dengan kadar kemarahan yang pas, pada saat dan tujuan yang tepat, serta dengan cara yang benar itu yang sulit. (Aristoteles)

2. Kesakitan membuat Anda berpikir. Pikiran membuat Anda bijaksana. Kebijaksanaan membuat kita bisa bertahan dalam hidup. (John Pattrick).

3. Jangan pernah melupakan apa pun yang dikatakan seseorang ketika ia marah, karena akan seperti itu pulalah perlakuannya pada Anda. (Henry Ward Beecher)

4. Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat. (Winston Chuchill)

5. Bakat terbentuk dalam gelombang kesunyian, watak terbentuk dalam riak besar kehidupan. (Goethe)

6. Secara teoritis saya meyakini hidup harus dinikmati, tapi kenyataannya justru sebaliknya – Karena tak semuanya mudah dinikmati. (Charles Lamb)

7. Orang yang menginginkan impiannya menjadi kenyataan, harus menjaga diri agar tidak tertidur. (Richard Wheeler)

8. Bila Anda ing…

Terjemahan Bebas The Road Not Taken By Robert Frost

Jalan yang Tak Ditempuh dua jalan menyimpang di hutan cladrastis kentukeadan sungguh maaf, aku tak bisa menempuh keduanyadan menjadi musafir sendiri, lama aku berdiridan melamun-merenungi sejauh yang aku mampudemi kemana jalan ini berbelok dalam semak-semak;lalu tempuhlah yang lain, biar terasa lebih adil,dan memiliki kemungkinan untuk menjadi lebih baikkarena begitu serut dan kurang terjamahi;meskipun untuk berjalan terus ke sanasedikit mengusangkan pikiran mereka pada persamaanDan keduanya, secara seimbang membaringkan pagimenginjak daun-daun itu, tanpa meninggalkan jejak, oh, aku mengenang yang pertama untuk suatu saat nanti!Dan belum aku tahu, cara jalan menuntun ke kebenaranaku meragukan bahwa yang telah aku tinggalkan akan kembaliAku harusnya mengatakan semua ini dengan lenguhandi suatu tempat, usia demi usia yang berguguran:Dua jalan menyimpang di sebuah hutan, dan aku--aku telah memilih satu, yang sepertinya sunyi,dan di situlah aku telah membuat suatu perbedaan.

Sajak-Sajak Pringadi Abdi Surya di Kompas.com 27 Maret 2011

Daun Jendela

Ia berharap ada yang membukanya setiap pagi
dan seekor burung gereja yang tersesat
bertengger ramah di punggungnya. Engselnya
yang berkarat masih begitu kuat menahan
ketukan-ketukan angin di tiap malam sebelumnya.
Dulu, ada kutilang yang berkandang di dekatnya.
Kutilang yang sering bernyanyi dan belum belajar
cara membuang kotoran. Ternyata, nyanyian
kutilang pun tak sanggup menahan kematian.

Ia tahu, di luar sana, udara semakin berat.
Dan mahahebat Tuhan yang menjinjing matahari.
Sesekali, ia melirik ke dalam kamar, dan
membuang suar lampu yang belum dipadamkan.
Seorang laki-laki tengah mendengkur
dan beradu sakti dengan jam waker.



Ceritanya tentang Jambu Bangkok

Pohon jambu bangkok di pekarangan rumahnya sedang musim-musimnya. Ada yang masih pentil, berwarna hijau tua. Ada juga yang sudah dibungkus kantung kresek, kira-kira seukuran bola tenis. Ia tahu, tiap saat ia harus berjaga dari ulat dan segerombolan anak yang lewat saat pulang sekolah. Ia bersembunyi …