Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Agustus, 2011

Sajak Subagio Sastrowardoyo

Kampung

Kalau aku pergi ke luar negeri, dik
karena hawa di sini sudah pengap oleh
pikiran-pikiran beku.

Hidup di negeri ini seperti di dalam kampung
di mana setiap orang ingin bikin peraturan
mengenai lalu lintas di gang, jaga malam dan
daftar diri di kemantren.

Di mana setiap orang ingin jadi hakim
dan berbincang tentang susila, politik dan agama
seperti soal-soal yang dikuasai.


Di mana setiap tukang jamu disambut dengan hangat
dengan perhatian dan tawanya.

Di mana ocehan di jalan lebih berharga
dari renungan tenang di kamar.

Di mana curiga lebih mendalam dari cinta dan percaya.

Kalau aku pergi ke luar negeri, dik
karena aku ingin merdeka dan menemukan diri.





Sajak Yang Dewasa



sajak yang dewasa
sudah tak peduli
apakah aku menangis atau ketawa

di muka cermin
aku tak mengenal lagi
ia bayangan siapa

setiap hendak kutangkap
ia lolos dari dekap

tak mau menampung rasa

di luar jamah
ia sebagian dari semesta
satu dengan suara manusia

setelah ia dewasa
aku tak punya kuasa
maka kubiarkan dia ber…

Kangen, Rendra

Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
Kau tak akan mengerti segala lukaku
kerna cinta telah sembunyikan pisaunya.
Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berarti
Aku tungku tanpa api.

Pada Saat Kucingku Wafat

Kemudian, yang kudengar ia telah wafat dengan
mata limaunya yang sendu. Lewat
surat, kututipkan air mataku yang kelewat asin
tercampur ombak selat Sumba. Tidak seharusnya
kematian datang begitu cepat. Padahal
pesawat-pesawat begitu sering terlambat berangkat
dan para kekasih kerap gagal memenuhi janji
menjemput pasangannya dengan gaya rapi,
mengantarkannya ke salon, ke mal--membelanjakan
seluruh isi tabungan. Kucingku bak kekasihku
dan kami berhubungan jarak jauh. Sesekali
kutelepon ia, demi mendengar meongnya yang lucu.
Sekadar merindukan bulu-bulunya yang rontok
di pangkuanku. Kau harus percaya, ia lebih setia
dari banyak manusia yang sering pura-pura lupa
atau tuli ketika Kekasihnya memanggil di lima
waktu. Waktu baginya adalah semangkuk susu
dan tulang-tulang ikan, sisa makanan sang Tuan.