<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618</id><updated>2012-01-27T07:41:34.578-08:00</updated><category term='berita'/><category term='pemikiran'/><category term='Ce'/><category term='lirik'/><category term='esei'/><category term='poem'/><category term='puisi'/><category term='news'/><category term='puiai'/><category term='artikel'/><category term='bahasa'/><category term='cerita'/><category term='spektrumkata 3'/><category term='rumahkata'/><category term='alusi'/><category term='presiden'/><category term='indosat'/><category term='puisi.'/><category term='habibie'/><category term='buku'/><category term='photo'/><category term='pencerahan'/><category term='novel'/><category term='cerpen'/><category term='poetry'/><category term='pengumuman'/><category term='profil'/><category term='pui'/><category term='fragmen'/><title type='text'>Bait-Bait Hujan</title><subtitle type='html'>Bahasa dan Sastra. Kumpulan tulisan Pringadi Abdi Surya, baik berupa cerpen, puisi, dan pemikiran-pemikirannya yang absurd dan tak absurd.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>341</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-9172346173437567083</id><published>2012-01-15T16:45:00.000-08:00</published><updated>2012-01-15T16:45:08.505-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Marwan Ja'far Sang Plagiat dan Esai Jusman Dalle yang Diplagiasinya</title><content type='html'>Berikut ini adalah esei Jusman Dalle yang diplagiasi anggota DPR dari Fraksi PKB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Jusman Dalle&lt;br /&gt;Quo Vadis Libya?&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Setelah diamuk “pemberontak” pro demokrasi dari rakyatnya sendiri dengan mendapat dukungan dari kolaborasi Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Inggris dan NATO, kekuasaan Muammar Abu Minyar al-Qaddafi (69) atau lebih populer dengan nama Muammar Khadafi, kini tinggal sejarah. Riwayat Sang Revolusioner berakhir oleh gerakan revolusi rakyat sipil yang mengarus bersama irama revolusi Timur Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kampung kelahiran sekaligus markas terakhir pendukung loyalisnya di Sirte, pada Kamis (20/10/2011) Khadafi diberondong senjata oleh rakyatnya sendiri. Rakyat yang dalam rentang waktu panjang menyimpan dan mengakumulasi bara sekam kesumat akibat represifitas sang tiran. Khaddafi harus pergi secara tragis karena ogah mendengar kemauan rakyat, pemilik kedaulatan yang memandatkan kekuasaan negara kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa Depan Libya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan kini menyeruak pasca-Khadafi, quo vadis Libya, Libya mau kemana? Akankah darah mengering dan Libya masa depan diterangi cahaya perdamaian dan kesejahteraan? Semua masih teka-teki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Libya telah membayar ongkos demokrasi yang sangat mahal. Negara kaya minyak itu porak-poranda akibat peluru, granat dan rudal baik dari gerakan revolusi maupun yang dimuntahkan senjata pasukan koalisi Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Inggris dan NATO. Dan hasilnya belum tentu selalu indah seperti yang melayang di dalam angan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih lekat di ingatan kita, dan bahkan jejak bayangan serta wujud aslinya kini masih ada di Irak dan Afganistan. Dua negara itu terus bergolak dan terpuruk. Darah belum mengering di sana. Saban hari, nyawa rakyat tak berdosa dengan mudah melayang. Afganistan yang diduduki oleh Agresor dibawah komando NATO, hampir setiap hari meminta tumbal nyawa dari rakyat sipil. Sejak diduduki angkatan militer Barat pada dekade awal tahun 2.000, kehidupan bangsa itu pun kian buram, tak tentu arah dan masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setali tiga uang, Irak hingga kini masih terus bergolak. Pasca tumbangnya rezim Saddam Husein yang di tuding menyimpan senjata pemusnah massal –walau dikemudian hari, terang-terangan tudingan itu tidak terbukti-, negeri kaya minyak itu dilanda perang saudara, perang antar suku dan faham keagamaan yang telah disetting rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi perang saudara juga tentu membayangi Libya, mengingat masih ada rakyat yang loyal pada Khadafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita menjadi skeptis dengan masa depan Libya. Demorkasi yang seharusnya menghargai hak asasi manusia, namun ditengakkan dengan perang yang mengorbankan banyak nyawa. Selain itu, kesiapan berdemorkasi rakyat Libya di bawah NTC yang naga-naganya merupakan boneka Barat, masih tanda tanya. Problem lain yang menghadang adalah pada penyelamatan kekayaan negara, khususnya sumur-sumur minyak. Libya memang lepas dari cengkraman srigala, tapi kini bisa jadi Libya sedang terjebak di mulut buaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjarahan Berdalih Rekonstruksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta bahwa perang sering kali berakhir dengan penjarahan dan perampokan sumber daya dan kekayaan suatu negara, tak dapat dinafikan (terminologi perampokan adalah pengambilalihan milik kita tanpa kekuatan untuk melawan sehingga harus pasrah). Seperti yang sekarang dilakonkan Dewan Transisi Nasional (NTC) yang mengendalikan pemerintahan di Libya sejak semakin melemahnya kekuatan Khadafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NTC sudah membuat kesepakatan untuk mem¬berikan 35 persen pengolahan minyak mentahnya pada Prancis (negara yang tergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara/ NATO) sebagai tanda terima kasih atas dukungan penuh dalam gerakan revolusi menggulingkan Khadafi. Bahkan sebelum Khadafi tewas, PM interim Libya  Mahmoud Jibril mengatakan jika minyak Libya sudah mulai diproduksi setelah ditutup akibat perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belahan dunia yang lain, dengan cara berbeda bahwa mengobarkan perang, mencipta konflik, dengan dalih demokrasi dan membela hak-hak sipil juga merupakan strategi Barat untuk mengangkangi kekayaan alam di suatu negara. Simplistis saja, “biarkan mereka terus berperang, fasilitasi dengan senjata dan susupkan intel untuk melakukan provokasi, memperpanjag durasi perang dan kesibukan mereka. Pada akhirnya kita bebas menjarah dengan datang sebagai pahlawan”. Logika sederhana yang menjadi grand strategi pengusaan suatu wilayah oleh penjajah Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa menyaksikan buktinya. Di Irak, setelah jatuhnya Saddam, dibuka tender bagi ladang-ladang minyak. Tercatat 120 perusahaan berpartisipasi dalam tender. Hasilnya 1/3 dari total perusahaan tersebut, yaitu sekitar 35 perusahaan asing yang lolos. Bisa ditebak, bahwa raksasa minyak global yang menyumbang pajak bagi kas Barat, khususnya AS dan sekutunya mendominasi. Di antaranya, BP PLC, Chevron Corp., Exxon Mobil Corp., Royal DutschShell PLC, Lukolil Holdings, Edison International SpA, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara-negara yang mbalelo dari titah Barat, yang tidak bisa ditelikung, hanya memiliki satu opsi, yaitu perang. Perang yang dilakukan tentu melalui legitimasi lembaga Internasional semacam PBB yang disetting untuk kepentingan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa negara Timur Tengah yang pemerintahnya despotik, diktator dan jauh dari nilai-nilai demokrasi, namun tunduk pada keinginan Barat, tetap saja dibiarkan. Misalnya Arab Saudi, Bahrain, Yaman, Suriah, Kuwait, Mesir (era Mubarak), dan Tunisia (era Ben Ali), mereka diperlakuan berbeda terjadi dengan Irak (era Saddam Husein), Iran dan Libya serta negara-negara yang tak mudah ditelikung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik apa yang pernah dikatakan oleh ketua MPR Taufik Kiemas, bahwa kedatangan angkatan perang AS Cs ke Libya memang murni dilatar belakangi oleh emas hitam (baca: minyak). Dicontohkan, bahwa saat ini masih banyak negara lain yang tidak demokratis dan terus dilanda konflik sosial, namun luput dari perhatian Barat, karena negara-negara tersebut merupakan negara miskin. Seperti Zimbabwe, Somalia, dan Rwanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Libya merupakan salah satu negara pengekspor dan pemiliki cadangan emas hitam (baca : minyak) terbesar di Afrika. Dengan kapasitas produksi 1,7 juta barel per hari, Libya masih memiliki cadangan minyak sebesar 44 miliar barel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis Ekonomi Barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa maksud untuk menggeneralisir, namun fakta telah terpampang. Di depan mata dunia, Barat melakon ganda. Berkawan dengan yang manut dan murka pada yang dianggap membangkang. Apatah lagi dengan semakin rontoknya ekonomi Barat akibat krisis 2008 yang lalu, dan ancaman depresi ekonomi di tahun-tahun mendatang. Mereka butuh dana segar untuk proses akselerasi ekonomi di tengah kebangkitan ekonomi Cina (negara komunis) yang awal tahun ini menjadi Negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah AS. China sukses menggeser Jepang yang selama ini merupakan sektu Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, kepentingan ideologi juga menjadi hantu bagi Barat mengapa begitu agresif membantu upaya menggulingkan Khadafi. Bahwa Negara-negara yang kini bergerak menguasai ekonomi global, adalah mereka yang anti kapitalis. Atau paling tidak, mandiri secara ideologi. Misalnya Cina dengan ideology komunis. Bahwa diketahui  di era Khadafi, ternyata alianasi Cina-Libya begitu kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, kebutuhan energy AS banyak dipasok oleh negara berkembang, yang kini perlahan menjadi negara maju dan juga membutuhkan energi untuk akselerasi pertumbuhan ekonominya. Artinya bahwa Barat akan kehabisan pasokan energi jika tidak segera mencari ladang-ladang segar dan baru. Kekhawatiran mereka pastinya menjadi stimulus atas pelbagai jalan untuk melanggengkan hegemoni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jusman Dalle&lt;br /&gt;Penulis adalah Pengamat Ekonomi Politik Society Research and Humanity Development (SERUM) Institute dan Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)&lt;br /&gt;Twitter @Jusmandalle&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Portal berita Okezone.com, 25 Oktober 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-9172346173437567083?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/9172346173437567083/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=9172346173437567083' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/9172346173437567083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/9172346173437567083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2012/01/marwan-jafar-sang-plagiat-dan-esai.html' title='Marwan Ja&apos;far Sang Plagiat dan Esai Jusman Dalle yang Diplagiasinya'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-3600998158149452470</id><published>2012-01-13T05:47:00.000-08:00</published><updated>2012-01-13T05:47:29.826-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Malaikat Purbaya, Majalah Story Edisi 24, Juli-Agustus</title><content type='html'>Tuhan tak seharusnya menciptakan malaikat kembar. Sepasang malaikat yang lahir dari satu rahim, berwajah sama, dan diberi nama serupa. Seperti halnya aku dan Raya. Seperti halnya juga kenyataan yang kubenci tiap kali kutatap wajahku di cermin dan menyaksikan wajah yang bukan hanya milikku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tuaku sedang meributkan tentang kemana kami harus melanjutkan kuliah nanti. Padahal baru kemarin kami naik ke kelas XII. Raya meraih predikat juara umum se-sekolah sementara aku harus dipanggil ke ruang konseling bersama Mama untuk mendengarkan ceramah dari guru dikarenakan tingkah lakuku yang begitu sering membolos sekolah. Mama meradang. Beliau tidak tahu aku membolos dan sebuah tamparan melayang tepat di pipi kananku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau jadi apa kamu, Gus?!” katanya membentak. Aku diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agustino Raya Purbaya namaku. Agustina Raya Purbaya namanya. Kami berdua laki-laki. Dan sebetulnya, aku ingin menjadi Raya. Maksudku, aku ingin bisa diperlakukan sama dengan Raya. Sungguh lucu, aku masih ingat betul, di kelas 1 SD, manakala Raya meraih ranking 1 dan aku yang hampir tidak naik kelas itu, aku merasakan perubahan perlakuan dari kedua orangtuaku. Dari lingkungan sekelilingku. Dari semuanya. Rasanya, dunia begitu tidak adil. Jika, ada dua orang yang berbagi rahim yang sama dalam satu waktu, mengapa hasilnya justru begitu berbeda? Aku yang lahir beberapa detik lebih dulu seharusnya dilebihkan. Atau minimal mendapatkan kasih sayang yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kedokteran?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Humm, bukan bukan, kamu sebaiknya masuk STAN saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Mama mau Raya jadi dokter.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi Papa dan Mama berdebat. Aku mencuri dengar dari dalam kamar dan sepertinya Raya masih diam saja. Andailah mereka memperdebatkan masa depanku, aku akan senang sekali. Tetapi, hal ini benar-benar jauh panggang dari arang. Mustahil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku merasa haus dan membuka pintu untuk mengambil minum di dapur. Sengaja tak kuacuhkan situasi di ruang tengah itu dan kulangkahkan kaki agak tergesa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak Agus….” Raya memanggilku.”Kakak mau kuliah di mana?” Mama dan Papa ikut-ikutan menoleh ke arahku gara-gara pertanyaan Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum. Dikulum. “Hmm… belum kepikiran,” jawabku sekenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raya ingin kuliah bareng Kak Agus,” jawab Raya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, memang Raya cukup lengket denganku. Sebagai kakak satu-satunya, dan kembar pula, dari kecil hingga sekarang Raya memang tidak mau lepas dariku. Raya yang sering menangis di sekolah itu harus berlari ke kelasku—karena dia ditempatkan di kelas unggulan—dan mengadu jika ada anak-anak yang mengganggunya. Aku yang terkenal badung langsung turun tangan dan nangani mereka sampai guru-guru memisahkan kami. Mungkin baginya aku seperti kakak yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raya sakit lagi. Ia harus menjalani rawat inap. Hal itu membuat semua perhatian tertuju kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raya memang sering sakit-sakitan semenjak kecil. Orang-orang bilang itu gara-gara kami kembar. Aku kembali disalah-salahkan dengan dikatakan telah mengambil energi yang milik Raya. Ada-ada saja, zaman sudah modern begini, masih ada saja yang percaya dengan hal-hal seperti itu. Aku tidak tahu pastinya sakit apa yang diderita Raya. Aku tidak mau tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum jam istirahat, aku sudah ke kantin. Beginilah kebiasaanku sehari-hari di sekolah, jika dirasa bosan, aku akan keluar kelas atau membolos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lagi-lagi kamu di sini…” Alina. Pacarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau?” Aku balik bertanya kenapa dia keluar kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedang tidak ada guru. Jam kosong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak sekelas. Raya yang sekelas dengan Alina, salah satu gadis paling manis di sekolah ini. Aku tersenyum miris, bahkan di kelas unggulan pun ada guru yang lalai mengajar dengan alasan rapat dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raya sakit lagi?” Nadanya tampak khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm….” Aku mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku merasa cemburu tiap kali Alina bertanya tentang Raya. Banyak dari pembicaraan yang kami lakukan adalah tentang Raya, tentang kekagumannya terhadap Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia sakit apa sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu kan kakaknya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam, memainkan gelas yang sudah kosong. “Bisa tidak, sekali ini saja, kita tidak berbicara tentang Raya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Alina diam. Kemudian ia menggenggam tanganku. “Apa kamu cemburu, Sayang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat-saat seperti ini selalu saja meluluhkan aku. Tangannya begitu hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah hari ketiga Raya di rumah sakit. Semalam Mama pulang dalam keadaan lelah dan langsung masuk kamar. Papa tidak mungkin ikut menjaga Raya karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ma, mau teh hangat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum ada jawaban. Tampaknya beliau tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ke dapur, memasak air panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang terbiasa dengan pekerjaan semacam ini. Mama memutuskan tidak memakai pembantu. Segalanya biasa ia urus sendiri. Manakala kami sudah dinilai ‘besar’, ia mengamanahkan rutinitas kepada kami seperti mencuci baju, menguras dan menyikat kamar mandi. Rutinitas yang belakangan sering kukerjakan sendiri karena kondisi fisik Raya yang terus-terusan bermasalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak, Raya yang nyikat bak mandi ya?” pinta Raya suatu hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak usah. Biar kakak saja,” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kakak jadian ya dengan Alina?” tanyanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Humm…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahagianya bisa berpacaran dengan gadis secantik dia, ya, Kak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu suka dia?” Aku balik penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia temanku, Kak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya teman?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, siapa yang kamu sukai, kok kakak tidak pernah tahu apa-apa tentang hal ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raya diam sejenak. “Aku tidak punya hak untuk menyukai siapa pun, Kak…” Ekspresinya terlihat sedih. Aku tidak berani bertanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sejak saat itu pula aku jadi marah tiap kali Alina bertanya tentang Raya. Entah ini sekadar cemburu yang tak beralasan atau intuisi laki-laki, ada yang berbeda dari tiap kali mereka menyebut nama masing-masing. Seperti cinta. Mungkin pula sebenarnya aku menyayangi Raya sebagai saudara satu-satunya yang kumiliki. Aku tidak tahu banyak tentang cinta dan kasih sayang. Aku tidak banyak mengenal hal-hal yang berkaitan dengan perasaan. Tapi apalah perasaan, cuma gerimis di bumi saat menunggu bis terakhir sebelum senja tiba….1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara katel yang nyaring itu membuyarkan lamunanku. Tepat pada saat itu, Mama memanggilku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, dunia diciptakan dalam enam hari. Waktu begitu cepat berlalu dan di hari keenam aku menjenguk Raya. Kemarin, Mama pulang dengan wajah sembab. Ia tidak bercerita apa pun. Tapi, aku tahu sepertinya ini berat baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besok, jenguklah adikmu, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mama tidak tahu ada masalah apa kamu dengan Raya sehingga sudah lima hari ini kamu memilih berdiam di rumah, tetapi Raya bilang dia rindu kepadamu, Gus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku sangat ingin menjenguknya dari kemarin, tetapi kuurungkan niat tersebut karena tiba-tiba aku mengetahui bahwa Alina telah lebih dulu menjenguk Raya tanpa sepengetahuanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raya tergeletak lemas. Ia tampak begitu pucat dan kurus. Selama ini Raya memang sudah cukup kurus, tetapi kali ini ia benar-benar kurus dengan hanya lembaran kulit membungkus tulang-tulangnya. Sementara meja di sampingnya menghidangkan buah-buahan yang utuh—tidak tampak bekas ada yang dimakan. Dan bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bunga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raya diam. Aku paham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alina?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak…apakah Tuhan menciptakan malaikat kembar di hari ketujuh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti Raqib dan Atid?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, bukan itu, seperti seharusnya kita?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seharusnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti seharusnya aku sepintar dan sebaik dirimu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti seharusnya aku segagah Kakak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan berkata seperti itu….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingin seperti kakak. Aku ingin bisa berlari sekencang-kencangnya, berkelahi, mencintai….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu mencintai Alina?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak berhak mencintai siapa pun, Kak…apalagi dicintai….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raya kembali diam. Air mata mulai mengalir pelan-pelan. “Se…sebab, aku tidak mau orang yang kucintai menangis karena aku.” Ia mengelap matanya, “Karena pada akhirnya, mereka juga akan kehilangan aku….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Tuhan menciptakan dunia selama enam hari, pastilah di hari ketujuh, Ia memikirkan bagaimana caranya mendatangkan kematian. Seperti halnya kematian Raya yang begitu cepat. Tepat di hari ketujuh, setelah bertemu denganku, Raya akhirnya mau dioperasi. Dan setelah itu, ia meninggalkan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alina menangis sejadi-jadinya. Darinya aku kemudian tahu, yang dicintainya memanglah Raya. Bukan aku. Semuanya hanya gara-gara fisik kami yang serupa. Sebelumnya ia pun sudah ditolak Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak ingin mengerti arti kehilangan. Seperti yang Papa, Mama, dan Alina rasakan. Aku benci mereka. Papa. Mama. Alina. Bahkan Raya. Aku benci sampai aku tidak tahu kenapa bukan aku yang dianugerahi segala cinta dan kasih sayang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, Tuhan, kenapa bukan aku saja yang Kau matikan?***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Saut Situmorang, Lirisisme&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-3600998158149452470?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/3600998158149452470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=3600998158149452470' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/3600998158149452470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/3600998158149452470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2012/01/malaikat-purbaya-majalah-story-edisi-24.html' title='Malaikat Purbaya, Majalah Story Edisi 24, Juli-Agustus'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-1657402777751601582</id><published>2012-01-13T01:13:00.000-08:00</published><updated>2012-01-13T01:13:15.707-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Ajak Aku "Beternak Penyair", Komunitas Hysteria</title><content type='html'>Sebuah kabar gembira atau mungkin sedih datang dari Komunitas Hysteria, Semarang yang istiqomah dengan buletin sastranya itu. Dua puisi saya berjudul "Hujan, Sampaikan Padanya" dan "Ramalan Cuaca" termaktub di dalam antologi puisi tahunan itu, Beternak Penyair, bersama 77 penyair lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagia, tentu, karena ini termasuk pencapaian. Sedih, karena bertanya-tanya apakah sastra kemudian hanya akan dibaca sesama pelaku sastra? Apakah sastra, yang sudah dikodifikasi, dapat berpengaruh kepada masyarakat atau malah terkubur sepi, menjadi kertas lusuh di sebuah perpustakaan yang tak pernah disentuh atau hanya sesekali tersentuh oleh seseorang yang tersesat di antara tebalnya debu-debu (perpustakaan)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tetaplah saling mengapresiasi, menjaga ikatan yang sudah ada sambil meluaskan jangkauan ikatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-R7hVzc_IAyc/Tw_zulXc7xI/AAAAAAAAAFk/E8ZoAAgmo_8/s1600/beternak-penyair.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="400" width="265" src="http://4.bp.blogspot.com/-R7hVzc_IAyc/Tw_zulXc7xI/AAAAAAAAAFk/E8ZoAAgmo_8/s400/beternak-penyair.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-XsHIu5WbEcY/Tw_1mw2EYmI/AAAAAAAAAFw/1EvD4q6HShA/s1600/Untitled.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="355" width="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-XsHIu5WbEcY/Tw_1mw2EYmI/AAAAAAAAAFw/1EvD4q6HShA/s400/Untitled.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-1657402777751601582?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/1657402777751601582/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=1657402777751601582' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/1657402777751601582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/1657402777751601582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2012/01/ajak-aku-beternak-penyair-komunitas.html' title='Ajak Aku &quot;Beternak Penyair&quot;, Komunitas Hysteria'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-R7hVzc_IAyc/Tw_zulXc7xI/AAAAAAAAAFk/E8ZoAAgmo_8/s72-c/beternak-penyair.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-56447235197697871</id><published>2012-01-13T00:48:00.000-08:00</published><updated>2012-01-13T00:52:30.526-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi.'/><title type='text'>Antologi Puisi: Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-XFHtyk43B0I/Tw_vaPY6lLI/AAAAAAAAAFY/bPehKIcVQk4/s1600/396830_313007318744101_100001045068059_1015748_1428289427_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="289" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-XFHtyk43B0I/Tw_vaPY6lLI/AAAAAAAAAFY/bPehKIcVQk4/s400/396830_313007318744101_100001045068059_1015748_1428289427_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, puisi-puisi saya terkurasi dalam antologi terbari Kosakatakita ini, bersama 50 penyair lain. Yang membanggakan, sayalah yang termuda di antara penulis-penulis bernama kawakan seperti Acep Zamzam Noor, Joko Pinurbo, dan Eka Budianta. Kabarnya akan hadir di TB Gramedia mulai akhir Januari ini. Salah satu puisi saya yang termaktub di dalamnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SUPPER MENU &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;: zasneda&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau mengiris bunga kol, meletakkannya di&lt;br /&gt;dalam panci dengan air mendidih. &lt;br /&gt;Udara dingin mulai mengepung kita seperti&lt;br /&gt;pertanyaan yang bertubi-tubi ke KPK:&lt;br /&gt;Misalnya, apakah benar Nazaruddin telah &lt;br /&gt;dicuci otaknya, apakah flashdisk yang&lt;br /&gt;diungkap sama warnanya, apakah Anas&lt;br /&gt;diizinkan berangkat umrah ke Saudi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun jadi teringat gigilmu malam kemarin,&lt;br /&gt;menyebut Mama dan keinginan pulang.&lt;br /&gt;Padahal kita tidak berada di pelarian panjang,&lt;br /&gt;perang yang menghabisi kemanusiaan juga&lt;br /&gt;telah usai (dan barangkali kembali dimulai);&lt;br /&gt;tapi hanya suara tumbukan--menu teriyaki&lt;br /&gt;dicampur di seporsi fetuccino, sebutir telur&lt;br /&gt;tambahan lada hitam, bumbu-bumbu lain yang&lt;br /&gt;tak kukenali membuatku mengenali bau,&lt;br /&gt;rasa lapar yang merongrong batas kesabaran.&lt;br /&gt;Itukah dosa besar manusia, tidak mampu&lt;br /&gt;membedakan rasa lapar dan kerakusan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Biodata Singkat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pringadi Abdi Surya&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Terpilih menjadi Duta Bahasa Provinsi Sumatera Selatan 2009. Sekarang bekerja di KPPN Sumbawa Besar. Buku kumpulan cerpennya Dongeng Afrizal (Kayla, 2011) dan buku puisinya berjudul Alusi (Pustaka Pujangga, 2009). Antologi yang memuat namanya di antaranya Kepada Cinta (Gagas Media, 2009), Si Murai dan Orang Gila (KPG, 2010), Empat Amanat Hujan (KPG, 2010), Akulah Musi (PPN V Palembang), Tuah Tara No Ate (Temu Sastrawan Indonesia Tarnate) dan Kitab Radja-Ratoe Alit (KKK, 2011).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-56447235197697871?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/56447235197697871/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=56447235197697871' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/56447235197697871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/56447235197697871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2012/01/antologi-puisi-bangga-aku-jadi-rakyat.html' title='Antologi Puisi: Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-XFHtyk43B0I/Tw_vaPY6lLI/AAAAAAAAAFY/bPehKIcVQk4/s72-c/396830_313007318744101_100001045068059_1015748_1428289427_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-3909096927716697936</id><published>2012-01-12T23:38:00.000-08:00</published><updated>2012-01-12T23:38:02.689-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Berita Pagi dan Secangkir Puisi</title><content type='html'>&lt;b&gt;Talang Babungo&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;aku akan kembali ke&lt;br /&gt;bukit tengkorak. jarak&lt;br /&gt;selentur bambu, sedekat&lt;br /&gt;belikat. insektisida yang&lt;br /&gt;disemprotkan ke detil lahan&lt;br /&gt;tak mematikan kupu-kupu—&lt;br /&gt;ia ulat, bersembunyi&lt;br /&gt;di liat liang. tahun depan&lt;br /&gt;jadi kepompong.&lt;br /&gt;bila musim lalu, kurasai&lt;br /&gt;markisa yang matang di &lt;br /&gt;pohonnya, bau rumput&lt;br /&gt;yang mekar di sepanjang&lt;br /&gt;alahan panjang, aku kini&lt;br /&gt;ingin memetik segala&lt;br /&gt;di tubuhmu, mengemasinya&lt;br /&gt;juga luka yang diam-diam&lt;br /&gt;berbekas, belum tuntas&lt;br /&gt;jurang pasti bukan pemisah, &lt;br /&gt;anak nelayan yang masih &lt;br /&gt;bermain di danau mencari &lt;br /&gt;berpotong riak sebagai &lt;br /&gt;mahar. kuletakkan mereka&lt;br /&gt;di dulang esok &lt;br /&gt;malam sebagai tanda&lt;br /&gt;janji seiya. itulah talang,&lt;br /&gt;nagari elok nan babungo;&lt;br /&gt;kau kata aku telah sampai&lt;br /&gt;di masai rambutmu yang kini&lt;br /&gt;tertinggal seperti gigi yang&lt;br /&gt;tanggal. tapi baru kita mulai&lt;br /&gt;kapal yang berlabuh mengangkat&lt;br /&gt;sauh, mengembang layar, memugar&lt;br /&gt;lunglai angin—dibekukan dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Di Danau Kembar&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;dari satu rahim ibu, takdir&lt;br /&gt;mencemburu. lahir kanak-kanak&lt;br /&gt;di batu danau; sepasang&lt;br /&gt;lebah berebut ratu. sebandung&lt;br /&gt;unggas bertingkah camar&lt;br /&gt;didengungkan kabar dari &lt;br /&gt;kekasih:&lt;br /&gt;siapa yang lebih tabah&lt;br /&gt;dibanding cemara, menjulang&lt;br /&gt;angkuh—tak akan berselingkuh?&lt;br /&gt;aku tak bakal merebut hati, tidak&lt;br /&gt;hendak mencebur diri demi&lt;br /&gt;mengukur dalam mata Kau itu&lt;br /&gt;diam-diam kuredam pilu&lt;br /&gt;kupendam rindu, tersebu&lt;br /&gt;dadaku karenamu. di haud&lt;br /&gt;itu, pandangan tertutup kabut&lt;br /&gt;dingin semalam meremukkan&lt;br /&gt;tulang, mengerutkan selimut&lt;br /&gt;yang tak muat bagi badan&lt;br /&gt;dan pikiran; &lt;br /&gt;Kau adalah anggrek bulan&lt;br /&gt;tak diminta tumbuh di pekarangan&lt;br /&gt;—siapa yang lebih pantas&lt;br /&gt;untuk memetikmu, selain aku&lt;br /&gt;yang jauh datang melintas&lt;br /&gt;tujuh etape, berbekal sepeda&lt;br /&gt;usang, kukayuh, berpeluh,&lt;br /&gt;dan tak kunjung mengeluh?&lt;br /&gt;dari satu rahim ibu, takdir&lt;br /&gt;adalah titik-titik air yang runtuh&lt;br /&gt;air mata seseorang yang tak&lt;br /&gt;dikenal menangisi kekasihnya&lt;br /&gt;yang pergi merantau, menitipkan&lt;br /&gt;lapau pada ujung kemarau itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sunken Court, 2005 M&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah Masehi, Che, daging tumbuh di batang—daun.&lt;br /&gt;Lemari pendingin menyimpan almanak-almanak basi,&lt;br /&gt;keringat dan tetesan air mata seseorang yang tak dikenal.&lt;br /&gt;                        Orang-orang duduk dan bersantai, bersaksi di&lt;br /&gt;bawah tatapan Tangkupan Perahu, Che. Bukan kau yang&lt;br /&gt;poster besar dan diam. Kartu-kartu remi, domino, bir, serta&lt;br /&gt;minuman kaleng ringan adalah revolusi kepura-puraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah Masehi, Che, daging masih ditumbalkan dan&lt;br /&gt;Ditunggangi joki-joki profesional.&lt;br /&gt;                         Sialnya, aku tak punya daging, Che! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sepanjang Jalan Ganesha&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; Ada gerimis di dadamu. Yang luput&lt;br /&gt;dari rerimbun daun kihujan di sepanjang jalan&lt;br /&gt;Ganesha itu. Langit bertingkat—kuadratnya&lt;br /&gt;memiliki kesepian yang cenderung tak bisa&lt;br /&gt;diterjemahkan:&lt;br /&gt; Bagaimana bola-bola salju, raungan&lt;br /&gt; burung koak yang dulu bersarang&lt;br /&gt; di pangkal cakrawala,&lt;br /&gt; jatuh dan berderai di atas kanvas seorang&lt;br /&gt;pelukis; Yippi, pareidolia dan anomali, kuda jantan&lt;br /&gt;dan kacamata, engkau&lt;br /&gt; dan aku?&lt;br /&gt; :&lt;br /&gt; Ada gerimis di dadamu—bukan hujan&lt;br /&gt;yang sering diperdebatkan Waktu, ketika keramaian&lt;br /&gt;telah menjadi begitu biasa; anak-anak berjongkok&lt;br /&gt;memilih film yang akan ditonton Esok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sunken Court, 2011 M&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;lewat sebelas malam, &lt;br /&gt;bulan masih mengapung &lt;br /&gt;di atas Sunken Court&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;belahan-belahan dada makin jujur&lt;br /&gt;suarakan kebebasan&lt;br /&gt;perpustakaan jadi lanskap cengeng&lt;br /&gt;dikoyak-moyak sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Che telah tiada&lt;br /&gt;digantikan dasi kupu-kupu&lt;br /&gt;dan lelucon yang tak lucu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Shrine&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;: pi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beri aku waktu, menghitung anak tangga. &lt;br /&gt;          biar terjal, aku lelaki&lt;br /&gt;dan sebuah pendakian, tenanglah, Sisyphus &lt;br /&gt;          hanya sebuah ingatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu tidak semerta keliru, sebuah kota lesu&lt;br /&gt;malam menistakan bayang-bayang dedaunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;padahal hanya doa yang ingin kutitipkan&lt;br /&gt;di lonceng kuil, di atas sana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2011)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Di Bintaro Plasa&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;: zasneda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beri tahu aku, di mana selaiknya Waktu bisa&lt;br /&gt;      diparkirkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di bintaro plasa, Zasneda&lt;br /&gt;dadaku penuh oleh kendaraan bermotor&lt;br /&gt;dititipkan begitu saja, ditinggalkan&lt;br /&gt;demi berbelanja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan orang-orang menggerutu, bertaruh&lt;br /&gt;tentang film apa yang telah diputar malam itu;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak pernah bertaruh apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terabaikan, jam dinding mati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beri tahu aku, Zasneda&lt;br /&gt;bagaimana caranya mematikan kenyataan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tak Ingat Mati&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;         Seperti warna gulali, bunga-bunga bungur&lt;br /&gt;mulai bermekaran. Jalan menanjak curam, barangkali&lt;br /&gt;sampai ke langit. Aku tak menoleh pada angin kecil&lt;br /&gt;yang terperangkap di rapat daun, sedikit yang lolos&lt;br /&gt;menerpa kaos milikku yang putih polos.&lt;br /&gt;        Sebenarnya aku ingin bilang, apa lebihnya surga&lt;br /&gt;bila di dunia perempuan bisa kembali perawan&lt;br /&gt;air madu mengalir di Semongkat, padang rumput&lt;br /&gt;kuda-kuda liar tak perlu dipasangi pelana, diperah &lt;br /&gt;susunya, kemudian kembali muda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Sabtu sore itu, senja seperti wortel impor.&lt;br /&gt;        Aku seperti tak ingat mati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Catatan Akhir Tahun, 1&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; Ia bekas bintang film Holywood, tapi tak pernah&lt;br /&gt;dapat Oscar. Bila anak-anak pulang sekolah lewat depan&lt;br /&gt;rumahnya, ia akan memaksa mereka meminta tanda tangan.&lt;br /&gt;Dengan bangga, ia akan bercerita langit di Holywood &lt;br /&gt;warnanya merah, seorang pelukis terkenal meramu sekian&lt;br /&gt;kelopak mawar hanya untuk membuat cat.&lt;br /&gt; Anak kecil zaman sekarang tak mudah percaya&lt;br /&gt;dan mengolok-oloknya orang gila, tak pernah mandi,&lt;br /&gt;bau, dan menyeretnya ke sungai ramai-ramai. Air begitu &lt;br /&gt;lincah mengalir, berkelit di batu-batu dan paham seseorang &lt;br /&gt;yang mengintipnya dari balik jamban.&lt;br /&gt; ... mulanya hanya Januari. Mulanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-3909096927716697936?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/3909096927716697936/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=3909096927716697936' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/3909096927716697936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/3909096927716697936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2012/01/berita-pagi-dan-secangkir-puisi.html' title='Berita Pagi dan Secangkir Puisi'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-6472618473651582583</id><published>2012-01-01T19:47:00.000-08:00</published><updated>2012-01-01T19:47:29.142-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Merayakan Tahun Baru, 2</title><content type='html'>Aku tidak ingin menangis. Kau berjanji&lt;br /&gt;meniup terompet besar-besar biar&lt;br /&gt;pekak semua telinga dan sebagian yang&lt;br /&gt;selamat menutup kupingnya dengan &lt;br /&gt;bantalan kapas. Aku merasa kehilangan.&lt;br /&gt;Napas yang kuembus di 2011 pergi&lt;br /&gt;entah kemana. Tapi aku tak mau menangis;&lt;br /&gt;menonton drama korea, berita bakar diri,&lt;br /&gt;kematian di ujung senjata, pasti mulanya&lt;br /&gt;lelucon. Kau berjanji memberikanku&lt;br /&gt;terompet itu--&lt;br /&gt;dan aku akan menamainya sangkakala.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-6472618473651582583?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/6472618473651582583/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=6472618473651582583' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/6472618473651582583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/6472618473651582583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2012/01/merayakan-tahun-baru-2.html' title='Merayakan Tahun Baru, 2'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-771235166161956461</id><published>2012-01-01T18:45:00.000-08:00</published><updated>2012-01-01T18:45:08.165-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Merayakan Tahun Baru, 1</title><content type='html'>Satu pelajaran baru: kembang dan api&lt;br /&gt;dulunya satu spesies. Habitat mereka&lt;br /&gt;di udara, dilahirkan dengan rupiah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-771235166161956461?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/771235166161956461/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=771235166161956461' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/771235166161956461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/771235166161956461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2012/01/merayakan-tahun-baru-1.html' title='Merayakan Tahun Baru, 1'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-8691713124977591458</id><published>2011-12-19T17:58:00.000-08:00</published><updated>2011-12-19T17:58:59.861-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Tuhan Milik Penyair</title><content type='html'>Ia mencari suara burung, tapi masih&lt;br /&gt;terperangkap di dalam pagi. &lt;br /&gt;Anak-anak yang tersesat tempo hari&lt;br /&gt;bermukim di balik batu. Ia kasihan&lt;br /&gt;meminjamkan sebuah pelepah kelapa&lt;br /&gt;yang dipatahkan hujan tadi malam.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;Tuhan telah mati, Tuhan telah mati&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;bunyi sebuah igau,&lt;br /&gt;&lt;i&gt;tapi tidak Tuhan milik penyair&lt;/i&gt;, pikirnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mencari suara burung, tapi tak ada&lt;br /&gt;pohon-pohon.Ia pun mengatupkan &lt;br /&gt;tangan, kembali belajar memohon.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-8691713124977591458?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/8691713124977591458/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=8691713124977591458' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/8691713124977591458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/8691713124977591458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/12/tuhan-milik-penyair.html' title='Tuhan Milik Penyair'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-7345167722162846641</id><published>2011-12-12T19:16:00.000-08:00</published><updated>2011-12-12T19:16:27.597-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Karena Kesedihan Tak Pernah Usai</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-UVkk1qmIRPA/Tmq8ZEfSorI/AAAAAAAAASs/5g3YOlPJThM/s1600/Puisi+Kesedihan+Hati.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="270" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-UVkk1qmIRPA/Tmq8ZEfSorI/AAAAAAAAASs/5g3YOlPJThM/s1600/Puisi+Kesedihan+Hati.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sebuah sapu tangan basah, &lt;br /&gt;Kau melempar kesedihan ke udara.&lt;br /&gt;Seekor burung memangsanya, &lt;br /&gt;mengira ia adalah sebutir biji jagung&lt;br /&gt;milik petani yang gagal tanam.&lt;br /&gt;Aku tak hendak menebak, kemana&lt;br /&gt;ia akan terbang. Sementara langit&lt;br /&gt;betah gabak, sebatang pohon tumbang, &lt;br /&gt;pohon-pohon lain banyak ditebang. &lt;br /&gt;Karena kesedihan tak pernah usai,&lt;br /&gt;air mata meluap, membanjir, mencapai&lt;br /&gt;betis kaki. Kau berenang ke tepi&lt;br /&gt;takut hanyut kemudian dilupakan.&lt;br /&gt;Maka, sebuah sapu tangan basah&lt;br /&gt;menjadi milik matahari yang masih &lt;br /&gt;malu-malu mengatakan &lt;br /&gt;                               &lt;i&gt;aku cinta padamu;&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seekor burung dan air mata&lt;br /&gt;                                        adalah kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-7345167722162846641?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/7345167722162846641/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=7345167722162846641' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/7345167722162846641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/7345167722162846641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/12/karena-kesedihan-tak-pernah-usai.html' title='Karena Kesedihan Tak Pernah Usai'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-UVkk1qmIRPA/Tmq8ZEfSorI/AAAAAAAAASs/5g3YOlPJThM/s72-c/Puisi+Kesedihan+Hati.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-7438578515235688621</id><published>2011-12-07T16:36:00.000-08:00</published><updated>2011-12-07T16:36:12.153-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Mi Querido</title><content type='html'>&lt;i&gt;cerpen yang dibukukan dalam rampai karya Temu Sastrawan Indonesia IV di Tarnate&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Malabar. Aku padamu bagai embun di pucuk daun teh yang lenyap dimakan cahaya. Berapa menit waktu telah melenyapkan aku dari kedua matamu ketika duduk di kafe itu, kau memesan Coupe la Braga, aku tak memesan apa pun kecuali segala rasa cemburumu yang diam-diam kupadatkan di dalam pikiran. Padahal kau (begitu pun aku) telah sama-sama jatuh cinta pada Braga yang menguapkan segala kekakuan kota. Kekakuanmu. Kekakuanku. Kekakuan segala tetek bengek rumus matematika dan fisika di kelas-kelas jam tujuh pagi. De Gauss gila. Descartes yang sia-sia. Cinta. Ah, aku padamu bagai dahan pohon cemara, ditepuk angin, dan benarlah Chairil itu, hidup hanya menunda kekalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Katakanlah...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Yang seharusnya ingin kau katakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Padahal aku tidak ingin mengatakan apapun. Aku tidak ingin membiarkan segala huruf berloncatan dan meledekku dari kejauhan, kemudian udara dingin menggigilkanku lewat sela sweater yang kukenakan (meski berlapis), menatap matamu dan api menyala-nyala di dalamnya seolah Patuha siap menyemburkan lahar yang mati, tetapi yang kurindukan tetaplah hangatnya pelukanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Jangan sentuh aku lagi...aku tidak mau tanganmu yang memiliki bekas perempuan lain.” Tambahmu marah. Tetapi wajahmu tenang-tenang saja sambil menyuap lembutnya es  krim yang pertama kali kukenalkan kepadamu, ketika hujan rintik-rintik dan kita terbiar di atas kedua belah kaki, tak berpayung, dan berlari-lari kecil seolah dikejar kecemasan. “Aku takut gerimis...” begitu kau bilang kepadaku kala itu. Aku pun hanya bisa menangkupkan jaketku ke atas kepalamu dan kau tersenyum manis dengan lesung pipitmu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Aku masih mencintaimu, Lin....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Dan kau mencintainya juga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kau tak lagi mencintaiku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Lebih baik tak mencintai daripada terbaginya cinta ‘kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Aku diam. Kau diam. Aku berharap langit memberikan jawaban. Tetapi hujan masih rintik-rintik, beberapa gadis muda sedang memakai kaos ketat, tonjolan-tonjolan dada sedikit memancing hasrat. Paradoks. Tidakkah mereka merasakan sedikit saja dingin merambat di kulit dan menusuk-nusuk tulang? Tetapi, aku tak pernah melihat tatapan mata kau sedingin saat itu. Aku tahu aku bersalah. Hanya saja, apakah hati bisa disalahkan sementara perasaan datang seenaknya dan begitu tiba-tiba?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Maaf....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Cukup hanya maaf?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Lalu apa yang kau inginkan, Lin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kau diam. Kita terlalu sering diam. Segala masalah yang sering kita hadapi hanya kau jawab dengan kediaman, beberapa hari, lalu aku menunggu amarah itu mereda dan senyummu kembali merekah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Akuilah kalau kau selingkuh....” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dingin. Aku tidak bisa membandingkan dingin Malabar dan Alahan Panjang. Aku tidak bisa membandingkan kentang Mustofa dengan rasa buah markisa.&lt;br /&gt;Malabar. Aku padamu bagai selimut yang tak pernah kumiliki. Kubiarkan angin subuh menerpa leher, mengepung telinga dan pelan-pelan menusuk belulang. Barangkali hanya orang gila yang rela berjalan-jalan di kebun teh selepas subuh. Ya, para pemetik itu juga tentu gila. Orang-orang Pangalengan juga gila. Begitu pun aku yang tak bisa memilih cinta mana yang harus kudekap lebih erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak selingkuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lantas, siapa Indah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teman yang bersama-sama ke Lembang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami ada seminar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Satu kamar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersedak. Kaget. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin dirimu berpikir aku tidak tahu apa-apa, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau seperti sedang membaca buku dari wajahku. Sambil menyendok buah yang kukira plum—berwarna orange dan sepertinya manis keasam-asaman—kau memandang badan jalan yang didatangi muda-mudi, berpasangan atau tidak berpasangan, tetapi kau melarang tanganku menari di tanganmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mencintaimu, Lin...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kau juga mencintainya...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malabar. Makam Boscha tidak jauh dari pintu 1 Malabar. Semasa hidupnya ia adalah orang yang mengembangkan perkebunan teh ini. Beliau selalu inspeksi dengan naik kuda ditemani seekor anjing gembala berwarna putih. Sekitar tahun 1927, saat inspeksi, kudanya jatuh terpeleset dan menimpa Boscha, sejak saat itu ia jatuh sakit dan lumpuh. Tak lama kemudian ia meninggal dunia dan dimakamkan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sial ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Boscha.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kau yang sial.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ha?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Jadi siapa yang kau pilih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku tidak mungkin meninggalkan Indah. Dan lebih tak mungkin lagi aku meninggalkanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kau sudah menciumnya? Kau sudah menikmati...hmm...tubuhnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Aku tak suka plum. Aku lebih suka kesemek.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Jangan mengalihkan pembicaraan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kesemek lebih eksotik, lebih bergetah...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Jangan mengalihkan pembicaraan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jadi begitulah caramu marah, menggebrak meja, pengunjung-pengunjung lain bertatap ke arah kita. Seharusnya kau mampu memarahiku dari dulu, dari sejak kali pertama aku berselingkuh. Dari sejak kali pertama aku mematikan ponsel dan berbincang berjam-jam dengan perempuan lain. Nyatanya, berkali-kali kau membiarkan bahkan memaafkanku. Dengan mudahnya aku berjanji tak akan mengulanginya lagi. Manis di mulut, tetapi pasti sakit di hati. Hanya aku tak tahu bagaimana menghadapimu kali ini. Seandainya sejak dulu kau tunjukkan emosi itu, mungkin aku akan lebih menghargaimu dan tidak menganggapmu sebagai perempuan yang selalu menerima kesalahan-kesalahanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Jadi, dari mana kau mengenalnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Haruskah kuceritakan kepadamu tentang Indah, perempuan yang membuat dadaku bergetar dan berlahiran sajak-sajak dari dalamnya? Kau pencemburu ulung yang seolah bertanya bukan untuk jawaban sebenarnya. Tentu, aku tidak akan bercerita bahwa Indah adalah teman sekolahku saat SMA yang dengan tiba-tiba menggodaku, mengirim pesan mesra setiap malam, menceritakan kesedihannya yang terdalam sampai berkata ia tak memiliki siapa pun selain aku—ia tak mengharapkan apapun selain kehadiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Sekali lagi, kau pilih aku atau pilih dia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Malabar. 2022 hektar. Aku juga tak akan mengulang kenangan tiga tahun denganmu. Membanding-bandingkan antara tubuhmu dengan tubuhnya, yang sama menggairahkan. Sepanjang mata, aku hanya melihat hijau daun teh. Di pagi itu pula tampak para pencari kayu bakar dari pohon teh yang sudah pulang dengan membawa seikat besar pohon-pohon teh di atas kepalanya—menembus embun-embun pagi yang masih membasahi rumput setelah hujan semalaman mengguyur Pangalengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Aku tidak mungkin meninggalkan Indah,” tanpa sadar air mataku meleleh, “dia tidak memiliki siapa-siapa selain aku, Lin...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Baiklah, kalau begitu, sebaiknya kau tinggalkan aku....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Itu tak mungkin!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Karena aku mencintaimu....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Matamu merah. Tolong, jangan membangun bendungan di depanku. Masih kau dekap gelas es krim itu dengan kedua tanganmu walau sisanya yang sedikit itu sudah meleleh, menguap bersama bau gerimis yang khas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Menangislah jika ingin menangis, Lin....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku membayangkan ekspresimu yang biasanya ketika menangis karena kekhilafanku. Ya, kau akan menyembunyikan wajahmu dengan menekuk kedua kakimu di sana selama beberapa menit sampai lega. Sampai matamu begitu merah dan rambutmu awut-awutan. Ketika kuucap maaf, dengan ekspresi tegar kau menjawab, “Tidak apa-apa...” Tetapi kali ini kau benar-benar tidak menangis. “Aku tidak mau menangis lagi, apalagi jika karenamu...” kau menegaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Malabar. Beberapa kelelawar terlambat kembali ke sarang. Beberapa ekor burung terbang tanpa mantel. Aku memikirkan kabar bahwa kebun teh adalah sarang ular. Hewan satu itu memang sangat kutakuti. Aku benci ular, apalagi manusia yang berhati ular. Perihal yang terakhir, aku tak paham dari mana metafora itu berasal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ketika kau pulang hari itu, ketika kau meninggalkan gelas es krim kosong di depanku hari itu, ketika kau tidak menoleh lagi hari itu, aku berpikir kau mungkin berpikir bahwa aku telah benar-benar memilih Indah. Tetapi, sungguh, aku belum menentukan pilihan. Setelah itu pastilah kau akan melepaskan airmata itu di luar pandanganku. Air mata yang tak akan pernah habis dan mengalir deras seperti Palayangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ketika teleponku tak kau angkat-angkat lagi, ketika pesan-pesanku tak kau balas-balas lagi, aku tahu kau tak akan kembali ke Alahan Panjang. Tak akan membawakan markisa. Tak akan meledekku yang tak tahan dengan jalan yang berkelak-kelok diapit banyak jurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Beberapa orang tua berpapasan denganku sambil membawa petikan daun teh. Mereka memperhatikan sejenak buntelan yang kupanggul dan kuharap tak bertanya apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Asep mau ke mana? Di sana cuma ada jurang...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku hanya tersenyum, tak menjawab apapun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berlalu tanpa berkata-kata lebih banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malabar. Begitu curam jurang ini. Pasti aku akan mati jika terjun ke sana. Kuturunkan buntelan itu—yang berisi bagian-bagian milikku (dan memang semuanya milikku) di tubuhmu, kutendang sekuatnya. Kuhela napas sejenak, rasa dingin mulai mengepung tubuhku lagi. Lebih dingin dari Braga. Lebih dingin dari hujan semalam. Lebih dingin dari tanpa cinta. &lt;i&gt;Jika cinta tak dapat dimiliki, mungkin memang seharusnya kita membuangnya jauh-jauh. Membuangnya ke tempat yang terdalam&lt;/i&gt;. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2011)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-7438578515235688621?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/7438578515235688621/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=7438578515235688621' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/7438578515235688621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/7438578515235688621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/12/mi-querido.html' title='Mi Querido'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-3597878904768577669</id><published>2011-11-25T18:28:00.000-08:00</published><updated>2011-11-25T18:28:17.020-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Pemenang Lomba Blog Gempita Bulan Bahasa Powered by Indosat</title><content type='html'>Pada mulanya, rangkaian Gempita Bulan Bahasa yang digelar oleh Rumah Kata Bogor dan didukung penuh oleh Indosat hanya dirancang sehari saja, yakni pada 4 November 2011. Namun, setelah penyelenggara berbincang-bincang dengan pendukung acara, disepakati untuk menyertakan satu rangkaian tambahan, Lomba Menulis di Blog Pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersebab tenggat waktu penayangan tulisan yang sangat singkat, yakni 7 s.d. 15 November 2011, ditaksir pesertanya bakal tak banyak. Ternyata perkiraan itu meleset. Jumlah peserta mencapai 21 orang. Tentu saja, ini sangat menggembirakan. Terlepas dari waktu yang mepet, disadari bahwa tema yang diusung bukanlah sesuatu yang popular sehingga bisa memancing minat banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lumrahnya lomba yang lain, kegiatan ini juga meniscayakan penilaian. Ada empat kriteria yang digunakan dalam menilai tulisan peserta. Pertama, keunggulan bahasa. Kriteria ini meliputi penggunaan ejaan yang benar, kelengkapan struktur kalimat, penyajian bahasa yang mudah dicerna, dan penggunaan kata yang tepat (dalam bahasa tulisan). Acuan nilai tertinggi untuk kriteria ini adalah 40.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kekuatan tulisan, mencakup penjudulan, kerunutan penyampaian, kemampuan menyampaikan gagasan, dan langgam pemaparan ide. Nilai tertinggi untuk kriteria ini adalah 30.  Ketiga, kesesuaian tema. Kriteria ini menyangkut tingkat keterkaitan tulisan dengan tema yang ditentukan oleh penyelenggara dalam lomba. Nilai tertinggi untuk kriteria ini adalah 20. Keempat, aspek penunjang, mencakup pemenuhan ketentuan tertentu yang harus dicantumkan dalam tulisan. Nilai tertinggi untuk kriteria ini adalah 10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kriteria di atas, juri melakukan penilaian pada 17 s.d. 23 November 2011. Pemenangnya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;b&gt;1. Pringadi Abdi Surya, &lt;a href="http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/11/hujan-menulis-ayam.html"&gt;Hujan Menulis Ayam&lt;/a&gt;, nilai 152. [Blackberry Gemini]&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;   2. Reyhan Satria Adinur, &lt;a href="http://reyhanstr.wordpress.com/2011/11/06/bahasa-yang-dirusak/"&gt;Bahasa yang Dirusak&lt;/a&gt;, nilai 149. [Samsung Galaxy Y]&lt;br /&gt;   3. Fauzan Mukrim, &lt;a href="http://riversnote.blogspot.com/2011/11/tante-dan-pob.html"&gt;Tante dan Pob&lt;/a&gt;, nilai 141. [Smartphone]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga pemenang di atas akan dihubungi oleh pengurus Rumah Kata Bogor terkait pengiriman hadiah yang disediakan oleh pendukung acara, Indosat—seperti yang telah diumumkan sebelumnya. Sedangkan tiga pemenang hiburan akan mendapatkan paket buku dari Rumah Kata Bogor, masing-masing:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Erik, Feni Rose Berpuisi di Gempita Bulan Bahasa, nilai 140.&lt;br /&gt;   2. Andi Hardiyanti Hastuti, Bahasa Indonesia dan Mereka yang Mencinta, nilai 139.&lt;br /&gt;   3. Firman Akbar, Menulislah: Maka Kamu Akan Abadi, nilai 139.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, hadiah hanyalah sebatas apresiasi dari penyelenggara terhadap partisipasi dan keseriusan peserta. Semoga kegiatan seperti ini semakin sering digelar, demi menumbuhkan dan melestarikan kecintaan kita terhadap bahasa Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-3597878904768577669?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/3597878904768577669/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=3597878904768577669' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/3597878904768577669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/3597878904768577669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/11/pemenang-lomba-blog-gempita-bulan.html' title='Pemenang Lomba Blog Gempita Bulan Bahasa Powered by Indosat'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-1132912527526846801</id><published>2011-11-24T22:59:00.000-08:00</published><updated>2011-11-24T22:59:26.273-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Mantra Leviosa</title><content type='html'>Berucaplah, “Wingardium Leviosa!” Dan benda-benda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akan melayang di udara, mengabaikan gravitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau mencari kepala, “Seratus dua puluh delapan lagi…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, lampu mati, kemudian kami tidak mengenali beda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kelapa dan kepala. Di malam-malam seperti ini, biasanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;banyak suara jangkrik. Seseorang yang bernyanyi, kukira&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden. Bila saja di radio, akan kumatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum juga Kau tarik mantra itu, kantuk menyerang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kelopak, bunga di taman belum mekar, dan dadaku tak jua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berhenti berdebar, mengingat ciuman kemarin terekam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beredar di laman-laman maya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak kecil terkutuki mantramu, melayang ia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berenang-renang dan berucap ingin jadi presiden juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya sedari sekarang kamu belajar memegang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pelantang,” Dan semalaman akhirnya kami mengajarinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebelum Tuhan di atas sana tengah sibuk menceramahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Newton atas kegagalan hukum pertamanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-1132912527526846801?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/1132912527526846801/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=1132912527526846801' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/1132912527526846801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/1132912527526846801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/11/mantra-leviosa.html' title='Mantra Leviosa'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-8127717010992107786</id><published>2011-11-24T00:09:00.001-08:00</published><updated>2011-11-24T00:09:22.169-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Solilokui Kebebasan</title><content type='html'>I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan berpendapat, mengungkapkan perasaan, tertuang&lt;br /&gt;di gelas kopi ayah. Diaduk-aduknya pelan, sambil membaca&lt;br /&gt;koran kemarin yang tak sempat dibacanya. Aku kira, kisah pi&lt;br /&gt;ada di dalamnya, seorang pemuda terombang-ambing di atas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekoci, menatap langit dan laut yang sulit dibedakan. Ia &lt;br /&gt;begitu benci dan bosan, kematian telah jadi lelucon, ditonton&lt;br /&gt;seperti menunggu nomor undian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah juga melarang kami menyalakan televisi, sebab ini 27 Juli—&lt;br /&gt;pahlawan yang tak dikenal dibawa mati Toto Sudarto Bachtiar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu kuturut ayah ke kota, mencari bunga kantan.&lt;br /&gt;Dipotong pada bagian yang lembut, dikelupas kulit yang keras.&lt;br /&gt;O, demi salad ikan jantung pisang, kami mengutuk kemacetan.&lt;br /&gt;Rumput yang terinjak mati, suatu hari akan menuntut balas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi siapa yang masih peduli kemanusiaan—kemerdekaan telah&lt;br /&gt;tanpa cinta. Jalanan seperti mati, mengaduk-aduk isi dada.&lt;br /&gt;Di sanalah ayah menyimpan gerimis—seekor rubah sedang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menangis kehilangan kekasihnya; seorang gadis bercerita&lt;br /&gt;tentang padang rumput dan seekor burung di seberang jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Puisi ini akan masuk dalam antologi Forum Sarbi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-8127717010992107786?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/8127717010992107786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=8127717010992107786' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/8127717010992107786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/8127717010992107786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/11/solilokui-kebebasan.html' title='Solilokui Kebebasan'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-4858215219353416196</id><published>2011-11-17T00:31:00.000-08:00</published><updated>2011-11-17T00:31:44.954-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'>Merilis Daftar Buku yang Pernah Memuat Nama Saya</title><content type='html'>1. Kepada Cinta&lt;br /&gt;2. Alusi&lt;br /&gt;3. Kain Batik Ibu&lt;br /&gt;4. Musibah Gempa Padang&lt;br /&gt;5. G 30 S&lt;br /&gt;6. Akulah Musi&lt;br /&gt;7. Memburu Matahari&lt;br /&gt;8. Dongeng Afrizal&lt;br /&gt;10. Jurnal Amper&lt;br /&gt;11. Empat Amanat Hujan&lt;br /&gt;12. Si Murai dan orang Gila&lt;br /&gt;13. Hampir Sebuah Metafora&lt;br /&gt;14. Koloid&lt;br /&gt;15. Zane, Diary dan Cinta&lt;br /&gt;15. Teka-teki Tentang Tubuh dan Kematian&lt;br /&gt;16. &lt;br /&gt;17.&lt;br /&gt;18. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-HVCSA7a8_0o/TsTEo-Q75BI/AAAAAAAAAE0/QjMVHZoeu9Y/s1600/829888045.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="236" width="185" src="http://1.bp.blogspot.com/-HVCSA7a8_0o/TsTEo-Q75BI/AAAAAAAAAE0/QjMVHZoeu9Y/s320/829888045.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kepada Cinta&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memuat dua judul:&lt;br /&gt;1. Angin September&lt;br /&gt;2. Love and Friendship&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-MsxARm50zsY/TsTFA_bMAwI/AAAAAAAAAFA/yJ3tSkJcd5s/s1600/alusi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="229" width="162" src="http://2.bp.blogspot.com/-MsxARm50zsY/TsTFA_bMAwI/AAAAAAAAAFA/yJ3tSkJcd5s/s320/alusi.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Alusi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpulan puisi, beriisikan 88 puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-_bkvE-Eo1hI/TsTFUgteiAI/AAAAAAAAAFM/mke9xdDvBrM/s1600/8316617.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="198" src="http://3.bp.blogspot.com/-_bkvE-Eo1hI/TsTFUgteiAI/AAAAAAAAAFM/mke9xdDvBrM/s320/8316617.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kain Batik Ibu&lt;/b&gt; memuat satu cerpen berjudul Nol: Angka--Manusia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-4858215219353416196?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/4858215219353416196/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=4858215219353416196' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/4858215219353416196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/4858215219353416196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/11/merilis-daftar-buku-yang-pernah-memuat.html' title='Merilis Daftar Buku yang Pernah Memuat Nama Saya'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-HVCSA7a8_0o/TsTEo-Q75BI/AAAAAAAAAE0/QjMVHZoeu9Y/s72-c/829888045.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-59884010989460427</id><published>2011-11-16T00:59:00.000-08:00</published><updated>2011-11-16T00:59:03.201-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Katarsis, Sastra, dan Sutasoma</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-417U7pXd3Ns/TsN7ROZANwI/AAAAAAAAAEo/GCfTmJmXizQ/s1600/13206660411138114840.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="215" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-417U7pXd3Ns/TsN7ROZANwI/AAAAAAAAAEo/GCfTmJmXizQ/s320/13206660411138114840.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah begitu terperangah menyaksikan penampilan Cok Sawitri dan Ayu Lakshmi di perhelatan konser koin sastra. Selain pembacaan puisi yang memukau, dipadukan dengan musik, nyanyi, dan tari, ada kalimat yang begitu menyedot perhatian saya. Yaitu ketika Cok mengutip kata-kata dari Kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular mengenai definisi sastra (kurang-lebih) &lt;i&gt;bening telaga, bayang bulan memantul sempurna di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Saya juga pernah mengalami fase, memandang sastra dari sisi teknik semata. Mengutip De Poetica Aristoteles mengenai metafora sebagai dasar memandang keberhasilan sebuah puisi. Bahwa metafora lahir karena keterbatasan bahasa dalam merengkuh realitas, itu yang harus disepakati. Bahwa kemudian metafora membentuk ruang sebagai sebuah semesta—menghablur dari hanya sebuah pernyataan puitik, itu menjadi aksioma kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik sastra pada bakunya adalah perihal di atas teori dan sejarah sastra (dalam tiga unsur sastra). Akan tetapi, yang lamat saya sadari kemudian, kritik sastra memiliki dimensi yang tidak baku. Ia bisa didekati dari berbagai sudut pandang, sehingga diharapkan disiplin-disiplin ilmu yang ada dapat juga memandang sastra dalam sebuah kritik. Hingga kemudian sastra tidak menjadi eksklusif, bertahan di atas teori-teorinya sendiri. Keeksklusifan itu sendiri pada dasarnya disebabkan oleh pelaku sastra dan pelaku sejarah sastra itu sendiri, terutama melihat apa yang telah banyak terjadi di Indonesia, bahwa sastra dipolitisasi, sastra dikuasakan dan dengan kuasa itu oknum-oknum tertentu membangun dinding tebal, monumen, menara, yang tinggi menjulang, namun ia hanya bisa dilihat dari kejauhan sehingga ketika masyarakat melihat sastra, ia akan seperti sesuatu yang “asing”, “tak terjangkau”, dan pelan namun pasti, sastra menjadi dunia tersendiri yang tidak terpolarisasi di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga ketika era cybersastra muncul ke permukaan, kebebasan berekspresi itu meluap tiba-tiba. Tulisan-tulisan yang diatasnamakan puisi itu muncul ke permukaan, sementara beberapa pihak yang selama ini memiliki “kekuasaan” dalam menyeleksi, mengurasi, memilih puisi-puisi yang pantas untuk ditampilkan di media menyebut fenomena itu sebagai “sastra sampah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak akan membahas bagaimana kemudian fenomena itu berlanjut, namun saya mengingat Pablo Neruda yang sebagai seorang penyair pernah hendak dicalonkan sebagai calon presiden Cile. Bila kita membaca sajak-sajaknya, sebenarnya kita sangat dapat memperlakukan mereka sebagai sajak cinta biasa. Saya yakin mereka yang awam puisi pun, akan bisa menikmati sajak-sajak Neruda seperti judul-judul “Malam ini aku akan menulis baris puisi yang paling pedih”, “Aku tidak mencintaimu kecuali karena aku mencintaimu”. Di Indonesia sendiri, ada seorang kakek tua yang salah satu sajaknya menjadi sajak paling popular, yaitu Sapardi Djoko dengan “Aku Ingin”. Apakah sajak-sajak tersebut memang berupa sajak cinta biasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu mengacu pada sebuah pendapat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Yaitu katarsis. Katarsis adalah pelepasan, atau bila mengacu ke Injil ia berarti penyucian diri. Sebuah puisi yang sangat baik harus memiliki fungsi ini (menurut saya). Penulis mengalami katarsis. Pembaca pun mengalami katarsis. Tidak masalah bila kemudian katarsis yang timbul di antaranya tidak serupa karena bisa saja pemaknaan yang dilakukan oleh pembaca jauh melampaui harapan penyairnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya di sini, selain menulis puisi, butuh jiwa yang besar untuk membaca puisi. Jiwa inilah yang kemudian menginterpretasikan sebuah sajak ke pemaknaan yang agung. Saya menganggap rakyat Cile pasti mengetahui, menginterpretasi Neruda lebih dari sebuah sajak cinta biasa. Ada muatan politik, filsafat, antropologi, psikologi, sampai spiritual di dalamnya. Dari stigma ini, sebenarnya saya ingin menyimpulkan, seseorang yang menyebut sebuah sajak sebagai sampah, bisa dituding memiliki jiwa sampah juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi¸ saya tak hendak menyimpulkan demikian, karena dua sisi katarsis memiliki dua mata pisau. Bila saja seseorang dikritik sajak sampah (tentu saja sebuah kritik harus memiliki landasan, bukan asal mengecap/menyatakan), ia harus kembali bermeditasi, mematangkan dirinya karena sebuah karya sastra tidak bisa melepaskan diri dari kapasitas penulisnya. Ia harus bertanya, menggali jauh ke dalam dirinya sendiri, dan melupakan jalan ke atas karena kesempurnaan, karena Tuhan sebenarnya ada di dalam diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka benarlah Sutasoma itu, bahwa telaga yang dapat memantulkan bayang bulan adalah telaga yang bening seutuhnya, yang tenang seutuhnya. Dan analogi telaga itu adalah hati Anda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-59884010989460427?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/59884010989460427/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=59884010989460427' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/59884010989460427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/59884010989460427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/11/katarsis-sastra-dan-sutasoma.html' title='Katarsis, Sastra, dan Sutasoma'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-417U7pXd3Ns/TsN7ROZANwI/AAAAAAAAAEo/GCfTmJmXizQ/s72-c/13206660411138114840.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-9023935349952108097</id><published>2011-11-13T21:41:00.000-08:00</published><updated>2011-11-13T22:05:10.485-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rumahkata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='indosat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahasa'/><title type='text'>Hujan Menulis Ayam</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Tentang Judul dan Tardji&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila membaca judul di atas, ingatan kita akan tersengat oleh kumpulan cerpen milik Tardji berjudul sama. ‘Kebesaran’ Sutardji Caldzoum Bahri tentu tidak dibangun semata-mata  dari hanya kredo mantra atau upayanya melepaskan diri dari pendefinisian leksikal—kata-kata dijungkirbalikkan sedemikian rupa hingga mereka memiliki definisi tersendiri yang bebas, mandiri, atau tidak terikat logika. Tardji, barangkali, mengembalikan pengertian kata sebagai wahyu—bahwa wahyu/kehendak Ilahiah tidak mungkin terperangkap dalam ruang dan waktu. Kata-kata (sebagai cerminan kata-kata yang berasal dari Tuhan) itu tidak hanya dinamis, tidak hanya beragam pemaknaan,  tetapi juga memiliki fungsi hermeunatis: penemuan dan seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, judul ini tak hendak membahas Tardji dan kredonya. Judul ini juga bukan ingin menelaah kumpulan cerpen &lt;i&gt;Hujan Menulis Ayam&lt;/i&gt; dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Judul ini hanyalah sebuah pintu dari kedinamisan bahasa, pola-pola yang terbentuk secara disengaja maupun tidak disengaja kemudian pola itu justru menjadi jamur parasit yang pelan-pelan menghabisi nilai dasar bahasa sebagai fungsi komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Makhluk Itu Bernama Telepon Seluler&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tujuh tahun lalu, ketika kali pertama saya mengenal telepon seluler, saya belum terbiasa menerjemahkan bahasa SMS/pesan singkat yang biasa dikirimkan oleh teman-teman saya. Saya menduga-duga, jangan-jangan ini karena memang kemampuan berbahasa saya yang kurang baik, atau ada yang salah dengan operator sehingga huruf-huruf yang diketikkan berubah otomatis menjadi simbol-simbol. Misalnya saja, &lt;i&gt;pR1N6, k4mU l461 4p4?&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;aqtuchgabisahngelupainkamu&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;i dh blg kmrin kl u hrs dtg jm5, bkn jm7&lt;/i&gt;. Maka, manakala saya tetap mencoba menulis dengan bahasa yang baku, mereka malah berkata, “&lt;i&gt;k0k k4mU k4kU b4n6et s1h?&lt;/i&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamat-lamat saya pun mulai terbiasa dengan bahasa alien itu. Meski mencoba bertahan dari semua godaan, sedikit-sedikit saya pun latah menyingkat atau mengubah kata demi memenuhi kuota karakter yang dapat dimuat dalam satu tarif sms, mengingat saat itu tarif sms masih relatif lebih mahal dibandingkan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kini jadi berpikir, seandainya orang-orang yang menginisiasi kebiasaan menulis pesan singkat semacam itu berprofesi sebagai penyair, bom yang diledakkan barangkali akan lebih menggelegar ketimbang Tardji. Saya bayangkan, dengan gagah mereka menyatakan kredo pesan singkat di dalam puisi, melampaui fungsi teks, dan mencatut Descartes sebagai dasar penyatuan simbol-simbol matematika dalam berbahasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Karantina Duta Bahasa&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ketika tiba-tiba terpilih menjadi Duta Bahasa Provinsi Sumatera Selatan 2009 lalu, saya tidak bisa membayangkan pengalaman yang akan didapatkan selama 7 hari karantina di Pusat Bahasa kemudian. Saya ingin berteriak &lt;i&gt;waw, amboi, aduhai&lt;/i&gt; karena di sinilah (barangkali) ahli-ahli bahasa itu berasa, di sinilah saya bisa mendapatkan banyak pengetahuan tentang kebahasaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dari hari ke hari pemateri tampak membosankan. Semua hal yang diutarakan tampak begitu &lt;i&gt;kulit&lt;/i&gt;. Saya ingin mereka mengelupasnya jauh ke tulang, ke sumsum, ke pembuluh darah, ke jantung! Hanya saja, para ahli bahasa itu mungkin belum mengenal Van Bouri, Conditio Sine Qua Non sehingga hal-hal yang dibanggakan adalah prestasi pembentukan undang-undang kebahasaan yang bahkan tidak memiliki sanksi di dalam pasal-pasalnya. Bayangkan, di pengantar ilmu hukum saja dikatakan salah satu unsur hukum adalah memiliki sanksi, tetapi undang-undang (sekelas undang-undang) memuat pernyataan tanpa adanya hukuman bagi yang melanggarnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin bertanya banyak, tapi saya ragu apakah mereka bisa menjawabnya. Semisal, sejauh mana parameter pernyataan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan standardisasi pembentukan sebuah kata. Di acara tersebut, para panitia yang terlibat sibuk membenahi penggunaan kata-kata yang bukan bakunya, bertanya kepada kami tentang bahasa baku ini-itu tapi tak pernah membeberkan alasan penggunaan kata-kata tersebut. Sebut saja, &lt;i&gt;mouse &lt;/i&gt;menjadi &lt;i&gt;tertikus&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;hembus&lt;/i&gt; menjadi &lt;i&gt;embus&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;mike&lt;/i&gt; menjadi &lt;i&gt;pelantang&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah prihatin atau mengolok-olok kondisi berbahasa pemuda-pemudi sekarang, topik-topik yang tersaji di menu diskusi tidak lepas dari bahasa gaul atau bahasa prokem. Saya sebetulnya ingin mengembalikan alas berpikir kami pada saat itu, aksioma pertama bahwa bahasa itu dinamis. Lantas, mengapa kami malah tidak berpikir, mencoba mencari jawaban mengenai sebabnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari ke-3, ketika Remy Silado datang dengan gamblang menyatakan kesalahan berada di Pusat Bahasa yang begitu gagal mengakomodasi arus kedinamisan itu, saya tertawa terbahak-bahak di dalam hati. Remy Silado mengungkapkan ketidakpopuleran bahasa Indonesia yang benar disebabkan pusat bahasa yang tidak sensitif terhadap selera penggunaan bahasa dipadukan dengan tidak adanya sinergi untuk membendung kuatnya pengaruh bahasa dan budaya asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada yang salah dengan pusat bahasa ini. Setidaknya selama 1 tahun lebih saya berkenalan dengan dunia bahasa, tidak sekalipun saya menemukan peran pusat bahasa dalam komunitas ataupun turunnya mereka ke &lt;i&gt;grass root&lt;/i&gt;. Kegiatan-kegiatan yang diadakan hanya bersifat seremonial, menara, namun sekadarnya. Contohnya saja, penyelenggaraan duta bahasa ini, saya sama sekali tidak menemukan umpan balik, peran pusat bahasa bakda pemilihan sebagai mediator, fasilitator bila ada ide yang dimunculkan oleh peserta. Sampai dua tahun berlalu, duta tidak memiliki tupoksi &lt;i&gt;duty&lt;/i&gt;. Bahkan ketika saya diwawancarai oleh wartawan muda dari inioke.com beberapa bulan lalu, saya mengatakan tidak ada tugas yang dilakukan secara  bersama-sama oleh para duta setelah menjadi panitia konferensi bahasa. Saya hanya bisa terus menulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan (diniatkan) benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Alay dan Ababil&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika generasi ini muncul dan menyeruak, saya lebih garuk-garuk kepala. Bila tujuh tahun lalu bahasa pesan singkat masih sebatas pencampuradukkan abjad dan angka, penihilan spasi, kapitalisasi yang sembarangan, dan penyingkatan kata, sekarang bahasa lebih mengalami deviasi yang membikin saya putus asa membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali benarlah mereka disebut alay alias anak layangan karena bahasa seperti hanya diikat sebuah benang. Yang tidak bisa melihat benang, tidak tahu cara memarit lawan. Pun ababil, dari kata babil, yang berarti bandel, bengal. Generasi ini sama sekali tidak mau berbahasa yang bisa dibaca. Mereka seolah berbakat dalam mengenkripsi sesuatu sehingga yang dienkripsikan itu hanya bisa dibaca oleh sesama jenis mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencoba memahami fenomena ini, saya akhirnya kemudian menyadari bahwa kedinamisan bahasa bukan hanya pengaruh dari ketidakmampuan pusat bahasa, keminiman fasilitas kepustakaan, belum merakyatnya penggunaan bahasa Indonesia yang benar, tetapi juga faktor psikologi dan sosio-kemasyarakatan yang kian akut. Jika Karni Ilyas mengutip Luis Suarez yang menyebutkan carut-marutnya persepakbolaan suatu negara adalah cerminan carut-marutnya perpolitikan bangsa tersebut, saya akan mengekivalensinya menjadi carut-marutnya kebahasaan suatu negara adalah cerminan carut-marutnya bangsa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menulis Ayam, Disapu Hujan&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan yang berantakan sering diidentikkan dengan tulisan cakar ayam. Nah, coba bayangkan bila kita menulis dengan tulisan cakar ayam di tanah kemudian hujan turun menimpanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tardji barangkali tidak menyangka di pengujung hayatnya kini, remaja Indonesia mulai belajar melampaui kemantraannya itu tanpa bisa menyalahkan siapapun. Jika Tardji yang disalahkan, saya ragu apakah mereka bahkan pernah mendengar nama Tardji? Jika guru-guru bahasa Indonesia di sekolah yang disalahkan, saya ragu guru-guru mengajar tidak menggunakan bahasa Indonesia? Jika kurikulum yang disalahkan, saya ragu para penyusun kurikulum itu bukan orang-orang yang kompeten? Bagaimana kalau Tuhan saja yang disalahkan, kalau benar beritanya bahwa manusia hanya berasal dari Adam, mengapa turunan-turunannya menghasilkan banyak bahasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tiap Oktober, saya sering merenungkan ini, di antara gegap gempita bulan bahasa (salah satunya &lt;b&gt;Gempita Bulan Bahasa &lt;i&gt;&lt;a href="http://www.indosat.com"&gt;powered by Indosat&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; di Rumah Kata, Bogor), di antara sekian banyak perlombaan menulis untuk remaja, adakah mereka (kegiatan-kegiatan tersebut) mampu menyentuh ruh para remaja tentang filosofi berbahasa? Bahwa, meskipun bahasa selalu terbatas dalam mengungkap realitas, ia memiliki fungsi komunikasi yang seharusnya menguniversal? Seperti halnya ketika kali pertama menginjakkan kaki di Sumbawa Besar, saya sangat terkejut. Di Sumbawa Besar, orang-orang tuanya sangat fasih berbahasa Indonesia dengan sintaksis yang benar, dengan penggunaan kata yang tepat, meski dengan logat yang tak bisa ditinggalkan. Saya membayangkan, sepuluh dua puluh tahun lagi, apakah persentase penggunaan bahasa Indonesia (sebagai alat pemersatu bangsa) ini akan meningkat atau malah terjun bebas tanpa parasut? Ah, hanya waktu yang dapat menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Labuhan, 2011)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-9023935349952108097?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/9023935349952108097/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=9023935349952108097' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/9023935349952108097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/9023935349952108097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/11/hujan-menulis-ayam.html' title='Hujan Menulis Ayam'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-4260224713379815293</id><published>2011-11-01T00:55:00.000-07:00</published><updated>2011-11-01T00:55:34.263-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Simbiosis (Sumatera Ekspres. 30 Oktober 2011)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-G717MkRRxyw/Tq-ljCq8ODI/AAAAAAAAAEc/fQbXdbrO7oU/s1600/hi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="200" width="156" src="http://2.bp.blogspot.com/-G717MkRRxyw/Tq-ljCq8ODI/AAAAAAAAAEc/fQbXdbrO7oU/s200/hi.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Simbiosis&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Aku ingin membagi setengah jantungku, untukmu. Dan harga yang kuinginkan dari itu adalah kau menjadi sebelah sayapku. Sebab sayapku tak lagi dua, hingga aku tak lagi bisa terbang sempurna. Sebab sayapku tinggal sebelah. Sebelah satunya telah patah. Dan sebab aku juga tahu, sayapmu juga tinggal sebelah. Juga telah patah. Tidak ada salahnya bukan jika kau menjadi sebelah sayapku? Hingga kita bisa terbang bersama, berdua, kemana pun kau dan aku menginginkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;…&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“What I need is to be needed, what I loved is to be loved.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku berterima kasih kepadamu karena telah membuatku berpikir kau membutuhkanku. Aku tidak pernah benar-benar tahu, angin apa yang membawamu ke hadapanku, dan menggodamu untuk membuka dirimu di hadapanku. Tak perlu dua kali kau tanya, aku tak merasa terganggu. Aku benar-benar menyukaimu. Menyukaimu karena telah membuatku berpikir kau membutuhkanku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku ingin sekali bisa mencintaimu. Kau percaya? Atau malah tertawa geli mengelus kepalaku, dan berkata bahwa ucapanku cuma bualan yang takkan bisa menjadi kenyataan?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Faktanya, yang kuakui secara logika, kita memang tak bisa saling mencintai. Tentu kau tahu kenapa, karena kita begitu berbeda, meski kuakui juga bahwa kita memiliki banyak kesamaan. Mungkin kesamaan-kesamaan itulah yang seringkali membuatku berpikir, aku ingin kau berada di sisiku. Selalu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebab aku sudah terlanjur menyukai bola matamu, yang memandangku dengan penuh keberartian. Tidak mengganggapku sebagai simbol keangkuhan. Sebab aku juga sudah terlanjur menyukai lembut suaramu, yang menyapa pagiku dengan kehangatanmu. Tidak pernah menghentakku. Sebab aku sudah terlanjur menyukai tiap kata yang senantiasa kaurangkai untukku, mengajakku bicara dari hati ke hati.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;“Kupu-kupu biru, itu aku,” katamu di suatu saat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku tak begitu mengerti, kenapa kau menganalogikan dirimu sebagai kupu-kupu biru? Aku mengharap hijau kembali namamu, seperti dedaunan yang memberi aroma kesejukan. Sedang biru adalah simbol ‘kedalaman’. Maksudku, kau seolah ingin berkata bahwa kau tak semuda itu dipahami. Kau seolah membisikkan rasa tentang kedalaman jiwamu yang menuntutku untuk menyelami diri jauh dan lebih jauh lagi, sampai ke dasar jiwamu. Begitu kah?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebab aku adalah pria malammu, katamu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kau seolah mengerti, aku adalah laki-laki yang ingin menjadi malam. Bukan berarti aku ingin menjadi ‘gelap’. Tidak. Justru aku ingin melindungimu dari gelap itu, seolah selimut yang menyelubungimu hingga kau terlelap dan bangun dalam keadaan tersenyum di esoknya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tanpa kau minta, aku bersedia menjadi pria malammu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;…&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku sering mengatakan kepadamu, aku butuh tempat menyandarkan kepalaku. Sebab kepalaku ini terasa sangat berat. Aku ingin membagi bebannya, bukan berarti aku ingin menjadi beban, kepada siapapun yang bersedia duduk di sampingku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tidak… semakin lama, aku semakin ingin membuka diriku yang sebenarnya memiliki banyak kerapuhan di balik topeng keangkuhan yang kubuat. Sepertimu yang sudah lebih dulu mempersilahkan aku masuk ke duniamu. Sebab duniaku sangat sulit dipahami jika aku sendiri tak membukakan pintu pemahaman. Sebab duniaku terlalu pekat, kau takkan bisa melihat, tak bisa mendengar, semua panca indramu tak berfungsi di dalamnya. Yang hanya bisa kau lakukan adalah mengikuti perintah hatimu, mengikuti aliran sinkronisasi antara hatimu dan hatiku. Maka yang jadi pertanyaan adalah, apakah kau merasa hatimu sudah memiliki sebuah synchro dengan hatiku? Laiknya sebuah benang merah kasat mata yang menarikmu untuk mendekat padaku?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;…&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“What will happen, just happen.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seandainya perbedaan itu tidak menjadi sebuah alasan bagi logika, mungkin kita akan benar-benar saling jatuh cinta. Aku membayangkanmu mempertanyakanku saat aku selalu memakai kata ‘mungkin’ di setiap kalimat pernyataanku. Ya kan? Sebab dunia ini penuh ketidakpastian. Sepasti-pastinya sesuatu, selalu ada ketidakpastian mutlak di dalamnya. Dan mungkin saja (lagi-lagi aku menggunakan mungkin), kita berada di dalam areal ketidakpastian itu, bermain-main di dalamnya. Pertanyaannya, sampai kapan kita mampu bertahan bermain di dalamnya? Adakah hati kita, terutama hatiku, mampu menolak kehadiranmu yang makin lama makin terasa ada di hari-hariku?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sementara untukmu, seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, as long as you need me, I’ll be here for you (not to be ‘there’). Have you believed?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;…&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;AKU TENGAH MENANTIMU*&lt;br /&gt;Aku tengah menantimu, mengejang bunga randu alas&lt;br /&gt;di pucuk kemarau yang mulai gundul itu&lt;br /&gt;berapa juni saja menguncup dalam diriku dan kemudian layu&lt;br /&gt;yang telah hati-hati kucatat, tapi diam-diam terlepas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;awan-awan kecil melintas di atas jembatan itu, aku menantimu&lt;br /&gt;musim telah mengembun di antara bulu-bulu mataku&lt;br /&gt;kudengar berulang suara gelombang udara memecah&lt;br /&gt;nafsu dan gairah telanjang di sini, bintang-bintang gelisah&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;telah rontok kemarau-kemarau yang tipis; ada yang mendadak sepi&lt;br /&gt;ditengah riuh bunga randu alas dan kembang turi aku pun menanti&lt;br /&gt;barangkali semakin jarang awan-awan melintas di sana&lt;br /&gt;dan tak ada, kau pun, yang merasa ditunggu begitu lama&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;*)Puisi Sapardi Djoko Damono&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(Palembang)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pringadi Abdi Surya dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Sekarang bekerja di Ditjen Perbendaharaan Negara. Blognya: http://reinvandiritto.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-4260224713379815293?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/4260224713379815293/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=4260224713379815293' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/4260224713379815293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/4260224713379815293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/11/simbiosis-sumatera-ekspres-30-oktober.html' title='Simbiosis (Sumatera Ekspres. 30 Oktober 2011)'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-G717MkRRxyw/Tq-ljCq8ODI/AAAAAAAAAEc/fQbXdbrO7oU/s72-c/hi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-1127106395792712759</id><published>2011-10-18T05:05:00.000-07:00</published><updated>2011-10-18T05:05:16.430-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Dingin, Couplet de Folie</title><content type='html'>&lt;b&gt;Kepada Dingin&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ingin sekali aku mengunyah gigil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang sekian malam mengepungku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seakan-akan sudah minim jalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kembali, genangan hujan musim lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biarlah dia menyamarkan air mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;milikmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita hanya bisa basah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sambil mendekap kenangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masing-masing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Couplet de Folie&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggalkanlah aku sendiri, bayang-bayang&lt;br /&gt;telah mencari kekasihnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dadaku ada lubangnya, mulanya kukira&lt;br /&gt;sebutir peluru, tapi bekas bibir perempuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tak tahu kapan aku jatuh cinta,&lt;br /&gt;kepada siapa aku mencintai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatapi tegak tiang lampu taman, agak&lt;br /&gt;condong ke kanan. Betapa tak rela&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cahaya bulan mampu memantul di kolam&lt;br /&gt;ikan-ikan berpacaran dan saling memagut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, kenapa ada rasa bahagia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2011)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-1127106395792712759?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/1127106395792712759/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=1127106395792712759' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/1127106395792712759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/1127106395792712759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/10/dingin-couplet-de-folie.html' title='Dingin, Couplet de Folie'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-668505459492108360</id><published>2011-10-13T01:07:00.000-07:00</published><updated>2011-10-13T01:08:53.381-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Bulan Kusut Api</title><content type='html'>&lt;b&gt;Bulan Kusut Api&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pringadi Abdi Surya&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;dimuat pertama kali di &lt;a href="http://annida-online.com/artikel-4098-bulan-kusut-api.html"&gt;annida-online.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pungguk merindukan bulan&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana mestinya, sebagian besar laki-laki percaya perihal jatuh cinta pada pandangan pertama. Sementara sisanya memilih berpendapat bahwasanya cinta itu adalah proses, setelah mengalami penjajakan tertentu yang menimbulkan rasa aman, nyaman dan kepercayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam tadi, bulan dilingkari kubah raksasa. Ia nampak seperti telur mata sapi yang digoreng matang sempurna dengan minyak yang bukan jelantah sehingga tak ada noda yang menghiasi putihnya yang selama ini didzalimi oleh mitos. Bahwa makan putih telur itu tidak ada gunanya. Yang paling bergizi adalah bagian yang berwarna kuning. Padahal sebaliknya, kuning telur justru mengandung kolesterol yang tinggi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang pintar berkepala plontos menyebutnya haloo, yang memang lebih populer untuk matahari – sejenis fenomena optik yang terjadi akibat adanya es dalam awan sirus yang dingin. Biasanya awan ini terletak pada ketinggian 5–10 km di lapisan troposfer atas. Bentuk dan orientasi kristal-kristal ini menentukan bentuk haloo yang terjadi. Aku menganggapnya kubah yang megah. Orang-orang Ambon menyebutnya payung bulan. Tetapi apapun itu, konon ia menjadi pertanda akan pergantian musim. Seperti malam tadi, yang memulai kulminasi matahari keesokan hari, haloo menampakkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman pertama aku melihatnya, tentu aku jatuh cinta. Kata ganti –nya di sini tidak menjadi milik bulan semata sebab sudah kukatakan semula bahwa bulan dalam pikiranku adalah metafora. Ia adalah lambang sesuatu (atau lebih tepat seseorang) yang kupikir bisa membuat jantungku seperti diketuk dengan cepat untuk mempersilahkannya masuk dan menyambutnya dengan secangkir teh bersama makanan-makanan ringan khas musim panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Alina. Tujuh dari sepuluh laki-laki pasti akan bilang dia cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Jika rambut yang kusut bisa disisir, bagaimana dengan hati?&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Aku termasuk satu dari tiga lelaki yang tersisa. Alina tidak cantik, tetapi sangat cantik. Kau mau tahu bagaimana caraku berkenalan dengannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, kau Alina, bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, kamu siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh aku tahu tanggal lahirmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk apa kamu tahu tanggal lahirku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak untuk kusantet tentunya....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ 24 April. Ada apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pasti hujan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hujan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, karena semua malaikat menangis kehilangan bidadari seindah dirimu, Lin...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dia tertawa. Merah pipinya. Wanita cantik jika tersipu akan terlihat lebih cantik. Dadaku yang biasanya berdetak seirama dengan detik jam dinding mendadak secepat shinkansen itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau mau ke Kemaro ya, Selasa besok?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa urusanmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kau akan bolos sekolah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan banyak tanya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti tahun-tahun sebelumnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau tahu tentang tahun-tahun milikku sebelumnya itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak banyak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku suka melihat kau mengepang rambutmu dan caramu mengenakan baju berwarna merah itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alina diam. Di desa kami, memang sedikit orang Cina. Lebih sedikit lagi orang Cina yang kurang berkecukupan. Dan hampir semua yang berkecukupan itu selalu menutup diri dari masyarakat sekitar. Keneng yang toke bangunan itu memagari area rumahnya (yang seperti istana) dengan tembok lebih dari tiga meter. Tembok yang kami coret-coreti dengan kapur-kapur berwarna dan kami pukul-pukul dengan batu sampai batakonya retak, bolong,  dan kami bisa mengintip ke dalam. Yang kami lihat, adalah beberapa bangunan bertingkat dan alat-alat berat yang hanya bisa kami lihat jika ada perbaikan jalan raya. Karena sikap yang tertutup dan arogan itulah, penduduk asli kerap tidak menyukai orang-orang Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alina bukan keluarga Cina yang kaya, tetapi tetap kena imbasnya. Ko Awi, ayah Alina, hanya berjualan oli dan spare part kendaraan bermotor di ruko yang disewakan Ko Ahong—yang juga memiliki perternakan ayam di Talang Ilir. Aku pertama melihatnya di kelas 1 SMA, semester kedua, Alina baru pindah dari Martapura. Tidak seperti perempuan Cina pada umumnya yang bermata sipit, Alina tidak bermata terlalu sipit. Kulitnya putih dan sepertinya begitu halus (aku belum pernah bersentuhan dengannya). Kontras dengan  itu, rambutnya yang dibiarkan panjang terlihat begitu hitam dan lebat. Melihat dirinya pertama kali, aku langsung kepincut. Dan butuh waktu nyaris dua tahun, ketika takdir akhirnya menempatkan aku dan dia di kelas yang sama, untuk sekadar berkenalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu jangan menggodaku lagi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak menggodamu....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laki-laki mana yang bukan penggoda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanya ingin berteman denganmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teman?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau belum punya pacar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alina terdiam. Diamnya itu mengingatkan aku pada dirinya setahun yang lalu ketika kulihat ia berbaju merah bersama keluarganya menyetop angkutan pedesaan warna hijau di depan simpang Talang Bulu itu. Seperti tahun sebelumnya juga, ia akan pergi ke pulau Kemaro, ke kelenteng-kelenteng, sembahyang, dan merayakan tahun baru di sana. Tidak pernah ada tahun baru Cina di desa kami. Tidak pernah ada izin bagi non-pribumi untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan resmi. Aku tidak mengerti pasal apa yang bisa melarang-larang hak asasi untuk bahagia. Mungkin karena Keneng yang tidak pernah mau menyumbang tiap kali AMS meminta dana pengembangan olahraga. Mungkin karena Ahong tidak mau bertanggungjawab pada limbah kotoran ayam di kali. Mungkin karena hal-hal itulah, masyarakat dendam kepada orang Cina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Mencintaimu juga berarti membakar diri sendiri....&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Seorang pria Cina bernama Tan Bun Ann pernah menginginkan putri raja Sriwijaya dengan syarat sembilan guci emas. Sedang aku seorang putra Palembang menginginkan putri Cina harus mengorbankan segala ikatan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kau masih bilang mencintai Alina, kau bukan anakku lagi!” Bapak berkata demikian. Aku diam dalam keheningan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku belum pernah melawan bapakku. Hubunganku dengan Alina yang tidak pernah diresmikan dengan agenda penembakan ala anak muda pada umumnya itu memang kusadari tidak jelas di mana ujungnya. Apalagi bapakku adalah seorang penceramah, seorang da’i. Hubungan berbeda agama, apalagi Cina, membuatnya naik darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cina itu komunis! Komunis pernah membantai orang-orang Islam. Membakar mesjid. Mengencingi Alquran. Kau masih ingin mencintai orang-orang macam itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak berani menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kutemui Alina yang memutuskan tidak melanjutkan sekolahnya ke bangku universitas, dan memilih membantu toko ayahnya, kulihat ia semakin cantik saja. Belakangan tokonya makin ramai karena para lelaki hidung belang berdatangan demi menggoda Alina dengan dalih ganti oli atau membenarkan busi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah hampir satu tahun ya?” Dia memulai pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah mau tahun baru, kau mau ke Kemaro lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau keliru.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keliru?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, ada imlek ada Cap Go Meh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa semuanya berwarna merah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kilin takut warna merah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kilin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mau mengajakmu ke Kemaro. Kalau kamu mau....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas aku mau. Tetapi, aku tidak tahu caranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu, Tan Bun Ann ingin melamar Siti Fatimah. Seandainya ia bisa sedikit lebih sabar dan tidak mementingkan harga diri, ia tidak akan menendang kesembilan guci emas itu. Ya, di guci kesembilanlah ia baru menyadari kebenaran. Dan karena rasa bersalahnya, ia memutuskan melompat ke dalam air.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan Siti Fatimah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia pun melompat ke dalam air.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah? Bodoh sekali!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak bodoh. Itulah cinta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertegun. “Haruskah cinta melenyapkan pelakunya, Lin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giliran dia yang diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memandangi rambut hitamnya yang sudah melebihi bahu. Matanya begitu jernih. Bibirnya begitu tipis. Dan kulitnya yang benar-benar putih itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa mungkin kita bersatu, Lin?” Aku kembali bertanya. Dan matanya pun berkaca-kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Aku mencintai hidup dan matimu....&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari yang tak lagi ada Alina, aku benar-benar mengunjungi Kemaro. Sejumlah orang memotong kambing hitam di gundukan tanah yang diyakini sebagai makam Siti Fatimah. Banyak orang keluar-masuk kelenteng. Aku hanya terpaku pada sebatang pohon yang dikerubuti banyak pasangan muda. Aku bertanya kepada seorang pengunjung, “Pohon apa itu?” Ia bilang itu adalah pohon cinta. Barang siapa menuliskan namanya di sana (bersama nama kekasihnya) maka hubungan keduanya tidak akan bisa dipisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke-15 adalah Cap Go Meh. Aku baru mengerti bedanya. Jika Tahun Baru Imlek sebagian besar merupakan pesta keluarga, yang upacaranya dilakukan di dalam masing-masing rumah, maka Capgomeh merupakan pesta masyarakat yang upacaranya dilakukan di luar bangunan gedung rumah dan di jalan-jalan, berpusat pada kelenteng (tempat ibadat agama, kepercayaan dan tradisi Tionghoa). &lt;br /&gt;Malam nanti diprediksi cerah. Bulan akan purnama. Sudah tujuh tahun berlalu, aku masih merindukan Alina. Aku saksikan orang-orang berkulit serupa dengannya di sini. Sekarang, mereka telah terbebas dari stereotip non-pribumi. Aku termasuk yang bahagia. Tetapi, tetap saja ada yang mencibir dan melempar tafsir yang sama seperti dulu. Bapakku juga. “Lihat Keneng dan Ahong, apa mereka pernah kumpul dan berbaur dengan masyarakat?” begitu tanyanya. Dan memang tak bisa kutampik. Orang-orang Cina kaya di desa kami masih saja bersikap tertutup dan menunjukkan arogansinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendekati pohon cinta itu. Alina mungkin ingin mengajakku kemari. Tetapi, memang tak lama setelah ajakan itu, ia harus angkat kaki dan berangkat ke Taiwan. Aku tidak tahu kenapa. Kabarnya seorang pria kaya di sana telah melamar Alina lewat saudara jauhnya. Tetapi, aku yakin Alina tidak mau kalau tidak terpaksa. Keadaan yang telah memaksa. Huru-hara beberapa tahun lama memang telah mengusir banyak orang Cina di negeri ini. A Hen yang Cina, tetapi muslim, bahkan harus memasang sajadah di tiap jendela luar toko dan rumahnya untuk membuktikan ia adalah muslim. Aneh. Kenapa harus simbol-simbol Islam yang dijadikan tameng perlindungan? Apakah Islam sedemikian barbarnya untuk melakukan pengrusakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pandangi pohon itu baik-baik. Seorang anak kecil menarik ujung kausku dan menawarkan kue keranjang kepadaku. Aku berjongkok dan tersenyum kepada anak kecil itu. Ibunya yang kemudian tergopoh menyusulnya juga ikut tersenyum kepadaku. Ia menyapa dan bertanya apa aku pertama kali datang kemari. Aku tidak menjawab. Karena saat aku berjongkok itulah kulihat sepasang nama di pohon cinta itu. Tulisan yang lugu dan malu-malu. Alina. Dan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kepu Dalam, 2011)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-668505459492108360?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/668505459492108360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=668505459492108360' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/668505459492108360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/668505459492108360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/10/bulan-kusut-api.html' title='Bulan Kusut Api'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-2085968182926625048</id><published>2011-09-14T19:05:00.000-07:00</published><updated>2011-09-14T19:05:22.594-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Hujan Terakhir dalam Ingatan</title><content type='html'>Aku sebenarnya tak pernah rela, membiarkan tubuhmu&lt;br /&gt;dipeluk musim kemarau. Debu-debu beterbangan&lt;br /&gt;bermimpi menjadi burung, mengepakkan sayap, menanti&lt;br /&gt;cahaya lindap. Seringkali aku gagal mendekap bayangan&lt;br /&gt;yang bosan berjalan di belakang. Kupandangi dia, tak&lt;br /&gt;ada balasan: Hidup seperti bertepuk sebelah tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aini, aku tak ingin terbakar keputusasaan&lt;br /&gt;mengingat hujan terakhir yang kulihat--mungkin&lt;br /&gt;tangismu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-2085968182926625048?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/2085968182926625048/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=2085968182926625048' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/2085968182926625048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/2085968182926625048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/09/hujan-terakhir-dalam-ingatan.html' title='Hujan Terakhir dalam Ingatan'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-8426061461871706638</id><published>2011-08-15T20:34:00.000-07:00</published><updated>2011-08-15T20:34:07.920-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Sajak Subagio Sastrowardoyo</title><content type='html'>&lt;b&gt;Kampung&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau aku pergi ke luar negeri, dik&lt;br /&gt;karena hawa di sini sudah pengap oleh&lt;br /&gt;pikiran-pikiran beku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup di negeri ini seperti di dalam kampung&lt;br /&gt;di mana setiap orang ingin bikin peraturan&lt;br /&gt;mengenai lalu lintas di gang, jaga malam dan&lt;br /&gt;daftar diri di kemantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana setiap orang ingin jadi hakim&lt;br /&gt;dan berbincang tentang susila, politik dan agama&lt;br /&gt;seperti soal-soal yang dikuasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana setiap tukang jamu disambut dengan hangat&lt;br /&gt;dengan perhatian dan tawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana ocehan di jalan lebih berharga&lt;br /&gt;dari renungan tenang di kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana curiga lebih mendalam dari cinta dan percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau aku pergi ke luar negeri, dik&lt;br /&gt;karena aku ingin merdeka dan menemukan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sajak Yang Dewasa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sajak yang dewasa&lt;br /&gt;sudah tak peduli&lt;br /&gt;apakah aku menangis atau ketawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di muka cermin&lt;br /&gt;aku tak mengenal lagi&lt;br /&gt;ia bayangan siapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setiap hendak kutangkap&lt;br /&gt;ia lolos dari dekap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak mau menampung rasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di luar jamah&lt;br /&gt;ia sebagian dari semesta&lt;br /&gt;satu dengan suara manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah ia dewasa&lt;br /&gt;aku tak punya kuasa&lt;br /&gt;maka kubiarkan dia berjalan merdeka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Salam Kepada Heidegger&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sajak tetap rahasia&lt;br /&gt;bagi dia yang tak pernah&lt;br /&gt;mendengar suara nyawa.&lt;br /&gt;Kata-kata tersembul dari alam lain&lt;br /&gt;di mana berkuasa sakit, mati&lt;br /&gt;dan cinta. Kekosongan harap&lt;br /&gt;justru melahirkan ilham&lt;br /&gt;yang timbul-tenggelam dalam arus&lt;br /&gt;mimpi. Biarlah terungkap sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;makna dari ketelanjangan bumi.&lt;br /&gt;Masih adakah tersisa pengalaman&lt;br /&gt;yang harus terdengar dalam bunyi?&lt;br /&gt;Sajak sempurna sebaiknya bisu&lt;br /&gt;seperti pohon, mega dan gunung&lt;br /&gt;yang hadir utuh tanpa bicara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ambarawa 1989&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum tidur istriku menyulam&lt;br /&gt;di bawah lampu temaram. Sebuah bunga&lt;br /&gt;biru dengan latar kelabu yang akan diberi&lt;br /&gt;pigura dan digantungkan di dinding.&lt;br /&gt;Aku menyempatkan diri mengikuti&lt;br /&gt;berita terakhir di koran yang belum&lt;br /&gt;dapat kubaca pagi hari.&lt;br /&gt;Kami sudah lupa bahwa di kota ini&lt;br /&gt;pernah terjadi revolusi dengan kekejaman&lt;br /&gt;dan kematian. Keluarga lari mengungsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ke gunung dan aku turut bergerilya&lt;br /&gt;mengejar Belanda. Berapa peluru sudah&lt;br /&gt;kutembakkan di malam buta menyerang&lt;br /&gt;musuh yang menghadang dengan senjata.&lt;br /&gt;Pikiran tegang selalu oleh cemas&lt;br /&gt;dan curiga.&lt;br /&gt;Kini peperangan hanya terjadi di roman&lt;br /&gt;petualangan yang kubaca dan yang kulihat&lt;br /&gt;di layar TV, jauh entah di negeri mana.&lt;br /&gt;Nampak tak nyata dan hampir tak bisa&lt;br /&gt;dipercaya.&lt;br /&gt;Ah, biarlah kedamaian berlanjut&lt;br /&gt;begini. Semua -- bunga, dinding, lampu,&lt;br /&gt;kuri, istri -- terliput dalam kabut&lt;br /&gt;puisi. Suling mengalun menembus&lt;br /&gt;malam. Aku tak tahan lagi melihat darah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-8426061461871706638?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/8426061461871706638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=8426061461871706638' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/8426061461871706638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/8426061461871706638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/08/sajak-subagio-sastrowardoyo.html' title='Sajak Subagio Sastrowardoyo'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-7387981618390500780</id><published>2011-08-15T19:31:00.000-07:00</published><updated>2011-08-15T19:31:33.299-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Kangen, Rendra</title><content type='html'>Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku&lt;br /&gt;menghadapi kemerdekaan tanpa cinta&lt;br /&gt;Kau tak akan mengerti segala lukaku&lt;br /&gt;kerna  cinta telah sembunyikan pisaunya.&lt;br /&gt;Membayangkan wajahmu adalah siksa.&lt;br /&gt;Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.&lt;br /&gt;Engkau telah menjadi racun bagi darahku.&lt;br /&gt;Apabila aku dalam kangen dan sepi&lt;br /&gt;itulah berarti&lt;br /&gt;Aku tungku tanpa api.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-7387981618390500780?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/7387981618390500780/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=7387981618390500780' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/7387981618390500780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/7387981618390500780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/08/kangen-rendra.html' title='Kangen, Rendra'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-3140511322364568724</id><published>2011-08-02T21:50:00.000-07:00</published><updated>2011-08-02T21:50:16.299-07:00</updated><title type='text'>Pada Saat Kucingku Wafat</title><content type='html'>Kemudian, yang kudengar ia telah wafat dengan &lt;br /&gt;mata limaunya yang sendu. Lewat&lt;br /&gt;surat, kututipkan air mataku yang kelewat asin&lt;br /&gt;tercampur ombak selat Sumba. Tidak seharusnya&lt;br /&gt;kematian datang begitu cepat. Padahal&lt;br /&gt;pesawat-pesawat begitu sering terlambat berangkat&lt;br /&gt;dan para kekasih kerap gagal memenuhi janji&lt;br /&gt;menjemput pasangannya dengan gaya rapi,&lt;br /&gt;mengantarkannya ke salon, ke mal--membelanjakan&lt;br /&gt;seluruh isi tabungan. Kucingku bak kekasihku&lt;br /&gt;dan kami berhubungan jarak jauh. Sesekali &lt;br /&gt;kutelepon ia, demi mendengar meongnya yang lucu.&lt;br /&gt;Sekadar merindukan bulu-bulunya yang rontok&lt;br /&gt;di pangkuanku. Kau harus percaya, ia lebih setia&lt;br /&gt;dari banyak manusia yang sering pura-pura lupa&lt;br /&gt;atau tuli ketika Kekasihnya memanggil di lima &lt;br /&gt;waktu. Waktu baginya adalah semangkuk susu&lt;br /&gt;dan tulang-tulang ikan, sisa makanan sang Tuan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-3140511322364568724?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/3140511322364568724/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=3140511322364568724' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/3140511322364568724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/3140511322364568724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/08/pada-saat-kucingku-wafat.html' title='Pada Saat Kucingku Wafat'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-4218142175225170481</id><published>2011-07-28T20:11:00.000-07:00</published><updated>2011-07-28T20:11:07.742-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poem'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poetry'/><title type='text'>Ezra Pound</title><content type='html'>&lt;b&gt;The Return  &lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;See, they return; ah, see the tentative &lt;br /&gt;Movements, and the slow feet, &lt;br /&gt;The trouble in the pace and the uncertain &lt;br /&gt;Wavering! &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;See, they return, one, and by one,         &lt;br /&gt;With fear, as half-awakened; &lt;br /&gt;As if the snow should hesitate &lt;br /&gt;And murmur in the wind, &lt;br /&gt;            and half turn back; &lt;br /&gt;These were the "Wing'd-with-Awe,"         &lt;br /&gt;            inviolable. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gods of that wingèd shoe! &lt;br /&gt;With them the silver hounds, &lt;br /&gt;            sniffing the trace of air! &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Haie! Haie!         &lt;br /&gt;    These were the swift to harry; &lt;br /&gt;These the keen-scented; &lt;br /&gt;These were the souls of blood. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Slow on the leash,&lt;br /&gt;pallid the leash-men!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ballad of the Goodly Fere &lt;/b&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Simon Zelotes speaking after the Crucifixion. Fere=Mate, Companion.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ha' we lost the goodliest fere o' all&lt;br /&gt;For the priests and the gallows tree?&lt;br /&gt;Aye lover he was of brawny men,&lt;br /&gt;O' ships and the open sea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When they came wi' a host to take Our Man&lt;br /&gt;His smile was good to see,&lt;br /&gt;"First let these go!" quo' our Goodly Fere,&lt;br /&gt;"Or I'll see ye damned," says he.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aye he sent us out through the crossed high spears&lt;br /&gt;And the scorn of his laugh rang free,&lt;br /&gt;"Why took ye not me when I walked about&lt;br /&gt;Alone in the town?" says he.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh we drank his "Hale" in the good red wine&lt;br /&gt;When we last made company,&lt;br /&gt;No capon priest was the Goodly Fere&lt;br /&gt;But a man o' men was he.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I ha' seen him drive a hundred men&lt;br /&gt;Wi' a bundle o' cords swung free,&lt;br /&gt;That they took the high and holy house&lt;br /&gt;For their pawn and treasury.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They'll no' get him a' in a book I think&lt;br /&gt;Though they write it cunningly;&lt;br /&gt;No mouse of the scrolls was the Goodly Fere&lt;br /&gt;But aye loved the open sea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If they think they ha' snared our Goodly Fere&lt;br /&gt;They are fools to the last degree.&lt;br /&gt;"I'll go to the feast," quo' our Goodly Fere,&lt;br /&gt;"Though I go to the gallows tree."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ye ha' seen me heal the lame and blind,&lt;br /&gt;And wake the dead," says he,&lt;br /&gt;"Ye shall see one thing to master all:&lt;br /&gt;'Tis how a brave man dies on the tree."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A son of God was the Goodly Fere&lt;br /&gt;That bade us his brothers be.&lt;br /&gt;I ha' seen him cow a thousand men.&lt;br /&gt;I have seen him upon the tree.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He cried no cry when they drave the nails&lt;br /&gt;And the blood gushed hot and free,&lt;br /&gt;The hounds of the crimson sky gave tongue&lt;br /&gt;But never a cry cried he.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I ha' seen him cow a thousand men&lt;br /&gt;On the hills o' Galilee,&lt;br /&gt;They whined as he walked out calm between,&lt;br /&gt;Wi' his eyes like the grey o' the sea,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Like the sea that brooks no voyaging&lt;br /&gt;With the winds unleashed and free,&lt;br /&gt;Like the sea that he cowed at Genseret&lt;br /&gt;Wi' twey words spoke' suddently.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A master of men was the Goodly Fere,&lt;br /&gt;A mate of the wind and sea,&lt;br /&gt;If they think they ha' slain our Goodly Fere&lt;br /&gt;They are fools eternally.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I ha' seen him eat o' the honey-comb&lt;br /&gt;Sin' they nailed him to the tree.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-4218142175225170481?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/4218142175225170481/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=4218142175225170481' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/4218142175225170481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/4218142175225170481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/07/ezra-pound.html' title='Ezra Pound'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-8126611541177481357</id><published>2011-07-28T18:04:00.000-07:00</published><updated>2011-07-28T18:04:37.792-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Dua Puisi Pringadi Abdi Surya di Akulah Musi [Buku Puisi Pertemuan Penyair Nusantara V, Palembang]</title><content type='html'>&lt;b&gt;Beberapa Catatan Sebelum Ia Pulang ke Indonesia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sempat mengetukkan sepatunya ke batu, seakan-akan laut akan terbelah. Di belakangnya orang-orang meributkan kursi dan meja yang terbuat dari kayu. Kayu memang barang langka meski bisa patah kapan saja. Ia merasa dadanya pun terbuat dari kayu, sebagian sudah lapuk, sebagian yang lain sedang diintai oleh rayap yang kehilangan rumah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan amarah berlenyapan. Berubah menjadi burung-burung. Ia tahu mereka akan kembali ke kandang saat cuaca buruk. Saat badai menyerang gurun pasir dan piramida-piramida tak lagi berbentuk limas bersegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mencoba lagi, mengetuk-ngetukkan sepatunya ke atas batu. Di belakangnya orang-orang mulai saling melempar sepatu masing-masing. Di depannya gelombang bersiap pasang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Tuhan mengutus Musa, ia masih belum bersekolah dan tak mengenal sejarah. Ia selalu iri manakala para tetangganya memakai seragam bendera, lalu memamerkan lagu Indonesia Raya dengan sumbang, berdiri dan hormat sambil sesekali menahan pegal pada kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ingin belajar membaca dan membaca setiap kesepian yang menandai perang dingin. Ia mau belajar berhitung dan menghitung setiap tubuh yang  tergeletak, tetapi bukan tidur itu. Ia tahu, ketika Tuhan mengutus Musa, ia belum siap menjadi apa-apa. Ia belum bisa membedakan mana ular dan tongkat sakti. Ia belum mampu mengenali Tuhannya sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena jam dinding, ia suka bangun kesiangan. Karena hujan, ia suka meringkuk di balik selimut dan menikmati ketakutan. Ia duduk dan menyaksian kematian satu per satu dihidangkan di restoran cepat saji itu. Seorang pelayan yang dikiranya laki-laki datang membawa menu sambil bertanya, "Anda, di pihak mana?" Ia membuka tasnya dan mengeluarkan piagam gerakan non-blok. "Saya dari Indonesia. Saya pesan kesepian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat orang yang makan di restoran itu ternyata sama-sama berasal dari Indonesia. Dan keempatnya sama-sama tidak tahu alamat rumah masing-masing.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(2011)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bangku Kosong di Taman Itu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ingin sekali duduk di bangku kosong di pojok taman itu. Bangku yang terbuat dari besi dan berkarat. Catnya yang hijau itu laun memudar seperti bosan menasbihkan cuaca yang tak menentu. Ia saksikan orang-orang datang, mengobrol, duduk, mengobrol lagi, membawa buku-buku, membetulkan kaca mata, tertawa, lalu pergi memenuhi undangan makan siang dari jam dinding besar itu.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;Kapan waktu akan berhenti&lt;/i&gt;. Ia tidak tahu bila mana seorang gadis pernah berbincang dengan kesunyian di sana.&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;Ia ingin sekali meracau, menceracaui pohon asparagus di tiang itu. Diam-diam ingin naik ke langit. Ia pun tidak tahu, gadis itu pernah menuliskan namanya di bawah bangku dengan tipe-ex yang hampir habis milik temannya yang lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;(2011)&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-8126611541177481357?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/8126611541177481357/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=8126611541177481357' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/8126611541177481357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/8126611541177481357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/07/dua-puisi-pringadi-abdi-surya-di-akulah.html' title='Dua Puisi Pringadi Abdi Surya di Akulah Musi [Buku Puisi Pertemuan Penyair Nusantara V, Palembang]'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-3327009074078697777</id><published>2011-07-24T10:16:00.001-07:00</published><updated>2011-07-24T10:16:22.691-07:00</updated><title type='text'>70  Kata-Kata Sok Bijak Mereka</title><content type='html'>1. Marah itu gampang. Tapi marah kepada siapa, dengan kadar kemarahan yang pas, pada saat dan tujuan yang tepat, serta dengan cara yang benar itu yang sulit. (Aristoteles) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kesakitan membuat Anda berpikir. Pikiran membuat Anda bijaksana. Kebijaksanaan membuat kita bisa bertahan dalam hidup. (John Pattrick). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jangan pernah melupakan apa pun yang dikatakan seseorang ketika ia marah, karena akan seperti itu pulalah perlakuannya pada Anda. (Henry Ward Beecher) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat. (Winston Chuchill) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Bakat terbentuk dalam gelombang kesunyian, watak terbentuk dalam riak besar kehidupan. (Goethe) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Secara teoritis saya meyakini hidup harus dinikmati, tapi kenyataannya justru sebaliknya – Karena tak semuanya mudah dinikmati. (Charles Lamb) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Orang yang menginginkan impiannya menjadi kenyataan, harus menjaga diri agar tidak tertidur. (Richard Wheeler) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Bila Anda ingin bahagia, buatlah tujuan yang bisa mengendalikan pikiran, melepaskan tenaga, serta mengilhami harapan Anda, (Andrew Carnegie). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Kita hanya berfikir ketika kita terbentur pada suatu masalah. (John Dewey) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.Kesalahan orang lain terletak pada mata kita, tetapi kesalahan kita sendiri terletak di punggung kita. (Ruchert)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.Yang baik bagi orang lain adalah selalu yang betul-betul membahagiakannya. (Aristoteles) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.Semua yang riil bersifat rasional dan semua yang rasional bersifat riil. (Hegel) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.Sebelum menolong orang lain, saya harus dapat menolong diri sendiri. Sebelum menguatkan orang lain, saya harus bisa menguatkan diri sendiri dahulu. (Petrus Claver) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.Lebih baik bertempur dan kalah daripada tidak pernah bertempur sama sekali. (Arthur Hugh Clough) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.Hidup adalah lelucon yang baru saja dimulai. (W.S. Gilbert) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.Orang yang bisa menggunakan dan menyimpan uang adalah orang yang paling bahagia, karena ia memiliki kedua kesenangan. (Samuel Johnson) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17.Kebijaksanaan tidak pernah berbohong. (Homer) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18.Tuhan sering mengunjungi kita, tetapi kebanyakan kita sedang tidak ada di rumah. (Joseph Roux) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19.Seorang pendengar yang baik mencoba memahami sepenuhnya apa yang dikatakan orang lain. Pada akhirnya mungkin saja ia sangat tidak setuju, tetapi sebelum ia tidak setuju, ia ingin tahu &lt;br /&gt;dulu dengan tepat apa yang tidak disetujuinya. (Kenneth A. Wells) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20.Seorang pria sudah setengah jatuh cinta kepada wanita yang mau mendengarkan omongannya dengan penuh perhatian. (Brenden Francis) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21.Kebahagian hidup yang sebenarnya adalah hidup dengan rendah hati. (W.M. Thancheray) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22.3x25 Watt ≠ 75 Watt &lt;br /&gt;Sebuah bola lampu berukuran 75 watt kelihatan bersinar lebih terang dibandingkan dengan tiga buah bola lampu 25 Watt yang dinyalakan bersamaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23.Dari semua hal, pengetahuan adalah yang paling baik, karena tidak kena tanggung jawab maupun tidak dapat dicuri, karena tidak dapat dibeli, dan tidak dapat dihancurkan. (Hitopadesa) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24.Bila orang mulai dengan kepastian, dia akan berakhir dengan keraguan. Jika orang mulai dengan keraguan, dia akan berakhir dengan kepastian. (Francis Bacon) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25.Cuma sedikit orang yang menginginkan kebebasan, kebanyakan hanya menginginkan seorang tuan yang adil. (Gaius Sallatus Crispus) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26.Tak diinginkan, tak dicintai, tidak diperhatikan, dilupakan orang, itu merupakan derita kelaparan yang hebat, kemiskinan yang lebih besar daripada orang yang tak bisa makan. Kita harus saling merasakan hal itu. (Ibu Teresa) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27.Pengalaman bukan saja yang telah terjadi pada diri Anda. Melainkan apa yang Anda lakukan dengan kejadian yang Anda alami. (Aldous Huxley) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28.Dunia adalah komedi bagi mereka yan memikirkannya, atau tragedi bagi mereka yang merasakannya. (Harace Walpole) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29.Saya percaya kata managing berarti memegang burung dara di kepalan tangan. Kalau terlalu kencang ia akan mati. Tapi bila terlalu kendur, bisa terlepas. (Tommy Lasorda) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 Sejarah manusia merupakan tanah pemakaman dari kebudayaan-kebudayaan yang tinggi, yang rontok karena mereka tidak mampu melakukan reaksi sukarela yang terencana dan rasional untuk menghadapi tantangan. (Erich Fromm) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31.Kemajuan merupakan kata yang merdu. Tetapi perubahanlah penggeraknya dan perubahan mempunyai banyak musuh. (Robert F. Kennedy) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32.Kita mengajarkan disiplin untuk giat, untuk bekerja, untuk kebaikan, bukan agar anak-anak menjadi loyo, pasif, atau penurut. (Maria Montessori) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;33.Tugas dan pendidikan ialah mengusahakan agar anak tidak mempunyai anggapan keliru bahwa kebaikan sama dengan bersikap loyo dan kejahatan sama dengan bersikap giat. (Maria Montessori) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;34.Kemampuan menertibkan keinginan merupakan latar belakang dari watak. (John Locke 1632-1704) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35.Kebahagian dari setiap negara lebih bergantung pada watak penduduknya daripada bentuk pemerintahannya. (Thomas Chandler Haliburton 1796-1865) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;36.Menyikat lantai dan mencuci pispot sama mulianya seperti menjadi presiden. (Richard M. Nixon) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;37.Jangan pernah membanting pintu, siapa tau kita harus kembali. (Don Herold) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;38.Diplomat ialah orang yang selalu ingat pada ulang tahun seorang wanita tetapi tidak pernah ingat berapa umur wanita itu. (Robert Frost) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;39.Orang yang paling tidak bahagia ialah mereka yang yang paling takut pada perubahan. (Mignon McLaughlin) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;40.Kalau manusia berangsur menjadi tua, umumnya ia cendrung menetang perubahan, terutama perubahan ke arah perbaikan. (John Steinbeck) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;41.Selama hidup saya yang sudah 87 tahun ini, saya telah menyaksikan serentetan revolusi teknologi. Tetapi tidak satu pun diantaranya yang tidak membutuhkan watak yang baik atau kemampuan untuk berfikir. (Bernard M. Baruch) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;42.Pendidikan mempunyai akar yang pahit, tapi buahnya manis. (Aristoteles) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;43.Pendidikan mengembangkan kemampuan, tetapi tidak menciptakannya. (Voltaire) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;44.Pendidikan yang baik tidak menjamin pembentukan watak yang baik. (Fonttenelle) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;45.Setelah makan, pendidikan merupakan kebutuhan utama rakyat. (Danton)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;46.Kerendahan hati disukai orang-orang terkenal. Namun orang yang bukan apa-apa sulit untuk rendah hati. (Paul Valěry) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;47.Emansipasi merupakan seni untuk berdiri di atas kaki sendiri namun dipeluk tangan orang lain. (Alex Winter) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;48.Sebelum menikah saya mempunyai enam teori tentang bagaimana mendidik anak. Kini saya mempunyai enam anak dan tidak mempunyai teori. (John Wilmot, Earl of Rochester 1647-1680) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;49.Kebahagiaan itu seperti batu arang, ia diperoleh sebagai produk sampingan dalam proses pembuatan sesuatu. (Aldous Huxley) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;50.Dari pesawat terbang yang saya cintai, saya melihat ilmu pengetahuan yang saya puja memusnahkan kebudayaan, padahal saya mengharapkan mereka dimanfaatkan untuk kebudayaan. (Charles A. Lindbergh, Jr.) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;51.Harapan adalah tiang yang menyangga dunia. (Pliny the Elder) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;52.Alat penghemat kerja yang paling populer sampai saat ini masih tetap suami yang berada. (Joey Adams) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;53.Seorang arkeolog merupakan suami yang terbaik yang bisa diperoleh wanita; makin tua si istri, makin besar minat suami terhadapnya. (Agatha Cristie) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;54.Saya lebih suka lamunan untuk masa akan datang daripada sejarah masa lalu. (Thomas Jefferson 1743-1826) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;55.Jangan memberi nasehat kalau tidak diminta. (Erasmus) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;56.Manusia mudah dibohongi oleh orang yang dicintainya. (Molire) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;57.Sebelum menulis, belajarlah berpikir dulu. (Boileau) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;58.Orang yang berjiwa cukupan, merasa bisa menulis dengan hebat. Orang yang berjiwa besar merasa bisa menulis cukupan. (La Bruyère) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;59.Kemenangan yang paling indah adalah bisa menaklukkan hati sendiri. (La Fontaine) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;60.Tidak ada yang selembut dan sekeras hati. (G.C. Lichtenberg) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;61.Lebih baik mengerti sedikit daripada salah mengerti. (A. France) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;62.Orang memerlukan dua tahun untuk berbicara, tetapi limapuluh tahun untuk belajar tutup mulut. (Ernest Hemingway) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;63.Penulis buku jarang intelektual. Intelektual ialah mereka yan berbicara tentang buku yang ditulis orang lain. (Françoise Sagan) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;64.Orang yang mencemarkan udara dengan pabriknya dan anak ghetto yang memecahkan kaca etalase toko menunjukkan hal yang sama. Mereka tidak peduli pada orang lain. (Dhaniel Patrick Moynihan) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;65.Mereka yang bermimpi di siang hari akan lebih menyadari bahaya yang luput dari penglihatan mereka yang mimpi di malam hari. (Edgar Allen Poe) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;66.”Mulai” adalah kata yang penuh kekuatan. Cara terbaik untuk menyelesaikan sesuatu adalah, “mulai”.Tapi juga mengherankan, pekerjaan apa yang dapat kita selesaikan kalau kita hanya memulainya. (Clifford Warren) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;67.Saya tak hanya menggunakan semua kecerdasan yang dimiliki otak melainkan juga yang dapat saya pinjam. (Woodrow Wilson) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;68.Yang kalah adalah wujud hukuman atas kegagalan. Pemenang adalah penghargaan atas kesuksesannya. (Bob Gilbert) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;69.Bila Anda mengatakan apa yang Anda pikirkan, jangan harap hanya mendengar apa yang Anda sukai. (Malcom S. Forbes) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;70.Kesulitan itu ibarat seorang bayi. Hanya bisa berkembang dengan cara merawatnya. (Douglas Jerrold)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-3327009074078697777?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/3327009074078697777/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=3327009074078697777' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/3327009074078697777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/3327009074078697777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/07/70-kata-kata-sok-bijak-mereka.html' title='70  Kata-Kata Sok Bijak Mereka'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-6180023006835006099</id><published>2011-07-21T23:32:00.000-07:00</published><updated>2011-07-21T23:32:19.828-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Sajak-Sajak Pringadi Abdi Surya di Kompas.com 27 Maret 2011</title><content type='html'>&lt;b&gt;Daun Jendela&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berharap ada yang membukanya setiap pagi &lt;br /&gt;dan seekor burung gereja yang tersesat &lt;br /&gt;bertengger ramah di punggungnya. Engselnya &lt;br /&gt;yang berkarat masih begitu kuat menahan&lt;br /&gt;ketukan-ketukan angin di tiap malam sebelumnya. &lt;br /&gt;Dulu, ada kutilang yang berkandang di dekatnya. &lt;br /&gt;Kutilang yang sering bernyanyi dan belum belajar &lt;br /&gt;cara membuang kotoran. Ternyata, nyanyian &lt;br /&gt;kutilang pun tak sanggup menahan kematian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tahu, di luar sana, udara semakin berat. &lt;br /&gt;Dan mahahebat Tuhan yang menjinjing matahari. &lt;br /&gt;Sesekali, ia melirik ke dalam kamar, dan &lt;br /&gt;membuang suar lampu yang belum dipadamkan. &lt;br /&gt;Seorang laki-laki tengah mendengkur &lt;br /&gt;dan beradu sakti dengan jam waker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ceritanya tentang Jambu Bangkok&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon jambu bangkok di pekarangan rumahnya sedang musim-musimnya. Ada yang masih pentil, berwarna hijau tua. Ada juga yang sudah dibungkus kantung kresek, kira-kira seukuran bola tenis. Ia tahu, tiap saat ia harus berjaga dari ulat dan segerombolan anak yang lewat saat pulang sekolah. Ia bersembunyi di balik jendela, di balik semak, kadang memanjat pula di pohon sawo dekat kolam yang bocor itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali, ia pun bisa menyamar jadi kupu-kupu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Kandang Ayam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap sore, ia harus berebut dengan senja &lt;br /&gt;yang suka menyembunyikan ayam-ayamnya &lt;br /&gt;di dahan pohon jambu atau pagar tetangga.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pur, dedek, maupun berondolan jagung itu &lt;br /&gt;tetap tak mempan merayu para ayam &lt;br /&gt;agar mau kembali ke kandang. Ia mengira &lt;br /&gt;mungkin karena kandang ayamnya yang &lt;br /&gt;sudah lapuk, tua, dan tak bisa &lt;br /&gt;menangkal hujan saban malam.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lupa, ayam terlahir rabun senja.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mati pun,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kwatrin Sempurna tentang Tubuhku&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datanglah ke tubuhku, pekarangan dengan semak bunga &lt;br /&gt;Asoka yang tak pernah berhenti mekar dan rerumpun daun &lt;br /&gt;Suji yang mengucapkan salam kepada lelaki bijaksana, &lt;br /&gt;Datanglah tanpa ragu, tanpa menunggu Tuan dan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kwatrin tentang Cium&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejak bibirku di sana, jangan sekali-kali kau hapus. &lt;br /&gt;Cinta adalah kecupan pertama, Sayang, didaratkan dengan &lt;br /&gt;Lembut dan hati-hati. Bukankah cukup begini—Sisyphus &lt;br /&gt;Terlalu bodoh menanggung dosa dengan nama pengorbanan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Di Pelataran Parkir&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mencoba menghitung jumlah daun gugur di pelataran parkir itu. Setiap hitungan keempatpuluhlima, ia menangis tersedu. Dan mengelap air matanya itu dengan lengan bajunya. Ia tidak yakin pada hitungannya lalu memulai kembali dari awal. Angin bertiup. Daun-daun renta beterbangan di atasnya. Air matanya makin tumpah, sehelai daun muda tergolek tak bernyawa di samping volvo berplat merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tak Ada Puisi di Bola Matamu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia duduk di halte, menunggu bus terakhir yang akan mengantarkannya ke bola matamu. Langit mendung, sebentar lagi hujan. Diliriknya jam di tangan kanannya, belum berubah juga. Waktu masih dua puluh empat jam adanya.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia paham, kesunyian seperti tiang listrik yang tegak, ditempeli poster-poster konser, kampanye, pengumuman anak hilang, iklan, slogan, dan tak pernah ada puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pareidolia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membayangkan awan itu akan membentuk wajahmu. Dilihat-lihatnya sebentar, awan sudah jadi kuda yang lari dari kereta kencana. Ia mengucek matanya, mendadak kuda berubah jadi seorang wanita, tetapi bukan dirimu.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tahu cinta tak semestinya dibumbui perselingkuhan.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sajak Cinta Biasa #2&lt;/b&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintaku sebatang rumput, tumbuh di antara trotoar itu. &lt;br /&gt;Berhatilah-hatilah, wahai, pejalan kaki. Aku tidak mau mati, &lt;br /&gt;Terinjak oleh sandal jepit, bahkan sepatu kulit. &lt;br /&gt;Cintaku Sebatang rumput, siapa bilang tak akan mekar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Di Kamar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berbaring di atas ranjang, membiarkan tubuhnya dimakan terang lampu. Ada yang bersalah tiap detik yang didengarnya dari jam dinding itu. &lt;i&gt;Cinta tak semestinya diselimuti kebohongan.&lt;/i&gt; Ia memejamkan mata, suara air kolam di luar malah membanjiri benaknya. Dilongokinya tempat tidur, potongan-potongan kapur itu masih ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PRINGADI ABDI SURYA.&lt;/b&gt; Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Sekarang sedang bekerja di Ditjen Perbendaharaan Negara. Bukunya berjudul ALUSI (Pusataka Pujangga, 2009) dan kumpulan cerpen Dongeng Afrizal (Kayla, 2011). Tergabung di KOSAKATA (Komunitas Sastra Kota Jakarta). Twitternya: pringadi_as&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-6180023006835006099?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/6180023006835006099/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=6180023006835006099' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/6180023006835006099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/6180023006835006099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/07/sajak-sajak-pringadi-abdi-surya-di.html' title='Sajak-Sajak Pringadi Abdi Surya di Kompas.com 27 Maret 2011'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-868786341068164640</id><published>2011-07-20T00:28:00.000-07:00</published><updated>2011-07-20T00:28:47.019-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Cinta Pertama</title><content type='html'>Tiba-tiba Kau sentuh ingatan, bau garam&lt;br /&gt;pun menyengat tiba-tiba. Sajian ombak&lt;br /&gt;seperti tarian selamat datang, &lt;br /&gt;menyambut--menyebut nama Kau yang baru&lt;br /&gt;saja kutulis di pesisir. Ada yang berdesir&lt;br /&gt;lembut, kupikir Kau sedang menggelar jalan&lt;br /&gt;kembali, berupa karpet merah Timur Tengah.&lt;br /&gt;Banyak hal yang ingin kusebut, namun telah&lt;br /&gt;Kau kunci mulut. Jantungkulah yang berdenyut,&lt;br /&gt;kehilangan cinta pertama seperti ketinggalan&lt;br /&gt;kapal terakhir sebelum senja. Gerimis&lt;br /&gt;menetes setelahnya, dan mencoba memenuhi&lt;br /&gt;cakupan telapak tangan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-868786341068164640?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/868786341068164640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=868786341068164640' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/868786341068164640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/868786341068164640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/07/cinta-pertama.html' title='Cinta Pertama'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-7406448060509826102</id><published>2011-07-20T00:03:00.000-07:00</published><updated>2011-07-20T00:03:24.673-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Acep Zamzam Noor Lagi</title><content type='html'>&lt;b&gt;Bagian dari Kegembiraan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;Jalan di belakang stadion itu sudah lama tidak kulewati&lt;br /&gt;Mungkin madrasah yang dibangun persis depan kamarmu&lt;br /&gt;Sekarang sudah rampung. Aku teringat pohon beringin&lt;br /&gt;Yang berdiri anggun dekat taman kanak-kanak dan pos ronda&lt;br /&gt;Setiap pulang mengantarmu aku sering kencing di sulur-sulurnya&lt;br /&gt;Yang rimbun. Sepi terasa menyayat jika kebetulan lewat:&lt;br /&gt;Ingin sekali minum jamu kuat, tapi kios yang biasa kita kunjungi&lt;br /&gt;Sudah tidak nampak di sana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Volkswagen yang bentuknya mirip roti tawar itu masih kusimpan&lt;br /&gt;Di garasi. Aku belum berniat menjualnya meski dengan harga tinggi&lt;br /&gt;Di badannya yang mulai karatan masih tersimpan ratusan senja&lt;br /&gt;Yang pernah kita lewati bersama. Di joknya yang mulai rombeng&lt;br /&gt;Masih melekat ribuan pelukan dan ciuman. Catnya belum kuganti&lt;br /&gt;Aku masih ingat bagaimana dulu kau ngotot memilih hijau lumut&lt;br /&gt;“Biar mirip seragam tentara,” ujarmu. Tapi mobil yang usianya&lt;br /&gt;Delapan tahun lebih tua darimu atau tiga belas tahun di bawahku itu&lt;br /&gt;Akhirnya kulabur dengan hitam. Kini mesinnya harus sering dipanaskan&lt;br /&gt;Dan sesekali mesti dibawa jalan-jalan. Aku sangat menyayanginya&lt;br /&gt;Sekalipun kerap membuatku jengkel dan putus asa. Pada kaca spionnya&lt;br /&gt;Masih tersimpan gambar yang menjelaskan betapa berliku jalan&lt;br /&gt;Yang kita susuri. Pada rodanya masih tercatat angka yang menunjukkan&lt;br /&gt;Betapa panjang kilometer yang kita tempuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Apa makna alun-alun bagimu? Kenapa selalu mengajakku duduk-duduk&lt;br /&gt;Di salah satu sudutnya? Apakah kau suka mendengar bunyi air mancur&lt;br /&gt;Atau senang melihat pasangan-pasangan yang berpelukan dalam remang&lt;br /&gt;Lampu taman? Atau ingin menjadi bagian dari Tasik Volkswagen Club&lt;br /&gt;Yang sering nongkrong malam-malam? Lalu apakah makna kegembiraan&lt;br /&gt;Bagimu? Kau hanya tersenyum setiap kutunjukkan di mana letak bintang&lt;br /&gt;Yang suka menyendiri di gelap malam, setiap kukatakan bahwa ricik air&lt;br /&gt;Adalah suara hatiku yang paling dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;Tiba-tiba kausentuh lagi ingatanku pada bunyi tek-tek&lt;br /&gt;Pedagang mie keliling. Kautarik lagi kenanganku&lt;br /&gt;Pada nama jalan, tembok penuh coretan dan tiga kelokan&lt;br /&gt;Yang selalu menyaksikan kita sempoyongan malam-malam&lt;br /&gt;Menuju kamar kontrakanmu di ujung gang. Kaugetarkan lagi&lt;br /&gt;Kesepianku pada harum rambut, sisa bedak serta kecupan singkat&lt;br /&gt;Yang sesekali hinggap di antara rintik gerimis yang rapat:&lt;br /&gt;Jangan menelpon. Aku tidak akan tahan mendengar suaramu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;Waktu melingkar seperti jalan yang mengelilingi stadion&lt;br /&gt;Berawal dari titik sepi dan akan selalu berujung pada titik&lt;br /&gt;Yang sama. Bermula dari kekosongan dan kembali lagi&lt;br /&gt;Pada kekosongan. Sejak perutku membuncit dan punggungku&lt;br /&gt;Mulai terserang rematik, setiap sore aku selalu ikut berlari&lt;br /&gt;Bersama mereka yang rajin memelihara badan dan kesehatan&lt;br /&gt;Aku tidak muda lagi, namun seperti yang pernah kaukatakan dulu&lt;br /&gt;Cinta tidak ada hubungannya dengan usia. Aku berlari pelan-pelan&lt;br /&gt;Melewati lapak-lapak kaki lima, melewati warung-warung kopi&lt;br /&gt;Yang jika malam akan berubah menjadi tempat transaksi, melewati&lt;br /&gt;Anak-anak sekolah yang main basket, melewati deretan sepeda motor&lt;br /&gt;Melewati ibu-ibu muda yang bajunya ketat serta rambutnya cokelat&lt;br /&gt;Dan sepi terus melingkar seperti mereka yang rutin berolahraga, seperti&lt;br /&gt;Mereka yang takut akan kematian, seperti poster-poster yang bertaburan&lt;br /&gt;Seperti wajah-wajah calon walikota yang senyumnya seragam, seperti&lt;br /&gt;Baris-baris puisi yang tidak sempat kutuliskan. Di depan sebuah gang&lt;br /&gt;Kadang aku berhenti dan tanpa terasa meleleh airmata di pipi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tugu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;Di stasiun peninggalan kolonial, di bangku hijau&lt;br /&gt;Yang berjejer menghadap rel, seorang perempuan putih&lt;br /&gt;Menyampaikan sesuatu: mungkin isyarat, mungkin juga wasiat&lt;br /&gt;Atau semacam maklumat yang santai&lt;br /&gt;Tentang cinta yang langka. “Tahun depan aku kembali,” bisiknya&lt;br /&gt;Dan perempuan putih itu (sebut saja demikian karena kulitnya terang&lt;br /&gt;Karena kontras dengan kebaya luriknya yang kelam) berdiri dan berjalan&lt;br /&gt;Ke pinggir rel, menyongsong datangnya kereta&lt;br /&gt;Dari timur kereta datang. Rel bergetar, dinding ratusan tahun bergetar&lt;br /&gt;Tiang besi, atap seng, gantungan lampu, jam besar&lt;br /&gt;Semua bergetar. Dari timur kereta kusam yang bersaput debu&lt;br /&gt;Datang dengan tulisan di badannya: Biru Malam&lt;br /&gt;Seorang lelaki berkacamata hitam melambai, tapi lunglai&lt;br /&gt;Seperti adegan film India. Lelaki itu&lt;br /&gt;Tak bisa menahan bergulirnya airmata&lt;br /&gt;(Padahal rambutnya gimbal, memakai gelang dan anting&lt;br /&gt;Serta sebuah tato binatang di lengan kirinya)&lt;br /&gt;Jarum pada jam seakan terdiam, seperti tiang besi yang dingin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;“Sepi tak ada kaitannya dengan gelang, anting atau tato,” lelaki itu&lt;br /&gt;Bergumam pada dirinya sendiri. Dulu ia mengenal kekasihnya&lt;br /&gt;Di sebuah jalan paling terkenal, di depan gang paling banal&lt;br /&gt;Tak jauh dari stasiun. “Rindu tak ada hubungannya dengan kacamata&lt;br /&gt;Apalagi rambut gimbal,” gumamnya lagi. Lalu menenggak minuman&lt;br /&gt;Nampaknya ia menangis. Yogyakarta diguyur gerimis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Seorang lelaki berlari patah-patah, menembus gerimis yang beranjak&lt;br /&gt;Menjadi hujan. Seorang lelaki berlari patah-patah ke utara, terus ke utara&lt;br /&gt;Seperti adegan film India. Dengan segumpal perasaan kehilangan&lt;br /&gt;Lelaki itu memanjat tugu, merayap hingga ke puncaknya&lt;br /&gt;Kemudian berdiri dan melambai-lambaikan tangan ke langit:&lt;br /&gt;Mungkin memanggil seseorang, mungkin juga mengutuk seseorang&lt;br /&gt;Seseorang yang belum lama dilepasnya pergi. ”Maryaaam…” pekiknya&lt;br /&gt;Langit hanya diam. Airmata lelaki itu berlelehan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Aku Ingin Menemanimu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin menemanimu pulang malam ini&lt;br /&gt;Menaiki bis kota dan berhimpitan di dalamnya&lt;br /&gt;Aku ingin menemanimu sampai halte berikutnya&lt;br /&gt;Sampai kilometer selanjutnya, turun depan kantor polisi&lt;br /&gt;Menunggu metro mini. Aku ingin menemanimu bersidekap&lt;br /&gt;Dalam angkutan yang pengap, melewati sejumlah lampu merah&lt;br /&gt;Melewati sekian perlintasan kereta api, melewati jalan-jalan layang&lt;br /&gt;Melewati terowongan-terowongan hingga terjebak kemacetan&lt;br /&gt;Dekat terminal. Aku ingin menemanimu menarik napas panjang&lt;br /&gt;Mengeluarkan tisu dan mengelap keringat di kening serta lehermu&lt;br /&gt;Aku ingin menemanimu turun dari kendaraan rombeng itu&lt;br /&gt;Berjalan menuju pangkalan ojek. Aku ingin menemanimu&lt;br /&gt;Melintasi tanah-tanah berlubang, menerobos liku-liku gang&lt;br /&gt;Hingga pekarangan rumah kontrakanmu yang penuh jemuran&lt;br /&gt;Aku ingin menemanimu membuka pintu, memasuki kamarmu&lt;br /&gt;Mencopot sepatu, melepas semua pakaian dan melemparkannya&lt;br /&gt;Ke bawah dipan. Aku ingin menemanimu menghidupkan kipas angin&lt;br /&gt;Lalu meneguk air mineral yang dingin. Aku ingin menemanimu&lt;br /&gt;Menyalakan televisi, menonton film biru dan mengisap candu&lt;br /&gt;Aku ingin menemanimu bermain-main dengan sepi di kamarmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sepanjang Jalan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang jalan kupungut patahan ranting&lt;br /&gt;Kukumpulkan luruhan daun dan kutandai jejak kaki&lt;br /&gt;Sepanjang musim yang basah kuaduk tong sampah&lt;br /&gt;Kubongkar cuaca. Hanya hujan, hanya banjir&lt;br /&gt;Dan aku kehilangan seluruh matahari&lt;br /&gt;Kususuri selokan dan gang, kureguk minuman paling keras&lt;br /&gt;Kulepaskan pakaian dan kuburu sunyi yang berloncatan&lt;br /&gt;Seperti bunyi senapan. Kukejar hingga ke tengah pasar:&lt;br /&gt;Aku pun menjelma pedagang kaki lima, menjajakan cinta&lt;br /&gt;Pada setiap orang. Mengobral janji dan harapan&lt;br /&gt;Sepanjang jalan kutulis sajak-sajak penuh kutukan&lt;br /&gt;Kucari ungkapan-ungkapan paling gelap serta kurekam raung&lt;br /&gt;Ambulan dan pemadam kebakaran. Sepanjang jalan raya&lt;br /&gt;Sepanjang siang dan malam. Kumasuki penjara&lt;br /&gt;Kujelajahi semua masjid, gereja dan vihara&lt;br /&gt;Selalu saja aku tak tahu mesti menuju ke mana&lt;br /&gt;Sepanjang keterdamparan, sepanjang keterasingan&lt;br /&gt;Tak ada yang bisa kumengerti, tak ada yang perlu kupahami&lt;br /&gt;Ingin berlayar, ingin terus mengembara&lt;br /&gt;Mengayuh perahu usia, menggali kubur di lautan kata-kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Acep Zamzam Noor&lt;/b&gt; adalah penyair dan pelukis kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat. Kumpulan puisinya yang terbaru, Menjadi Penyair Lagi, meraih Khatulistiwa Literary Award 2006-2007. Sehari-hari ia bergiat di Sanggar Sastra Tasik (SST) dan Komunitas Azan.&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-7406448060509826102?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/7406448060509826102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=7406448060509826102' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/7406448060509826102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/7406448060509826102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/07/acep-zamzam-noor-lagi.html' title='Acep Zamzam Noor Lagi'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-6087658557291405759</id><published>2011-07-20T00:00:00.000-07:00</published><updated>2011-07-20T00:00:12.441-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Acep Zamzam Noor</title><content type='html'>&lt;i&gt;Puisi-puisi Acep Zamzam Noor&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KAU PUN TAHU&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau pun tahu, tak ada lagi cinta&lt;br /&gt;Juga tak ada lagi kerinduan&lt;br /&gt;Bintang-bintang yang kuburu&lt;br /&gt;Semua meninggalkanku&lt;br /&gt;Lampu-lampu sepanjang jalan&lt;br /&gt;Padam, semua rambu seakan&lt;br /&gt;Menunjuk ke arah jurang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau pun tahu, tak ada lagi cinta&lt;br /&gt;Juga tak ada lagi nyanyian&lt;br /&gt;Suara yang masih terdengar&lt;br /&gt;Berasal dari kegelapan&lt;br /&gt;Kata-kata yang kusemburkan&lt;br /&gt;Menjadi asing dan mengancam&lt;br /&gt;Seperti bunyi senapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau pun tahu, tak ada lagi cinta&lt;br /&gt;Juga tak ada lagi keindahan&lt;br /&gt;Kota telah dipenuhi papan-papan iklan&lt;br /&gt;Maklumat-maklumat ditulis orang&lt;br /&gt;Dengan kasar dan tergesa-gesa&lt;br /&gt;Mereka yang berteriak lantang&lt;br /&gt;Tak jelas maunya apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau pun tahu, tak ada lagi cinta&lt;br /&gt;Juga tak ada lagi persembahan&lt;br /&gt;Aku sembahyang di atas comberan&lt;br /&gt;Menjalani sisa hidup tanpa keyakinan&lt;br /&gt;Perempuan-perempuan yang pernah kupuja&lt;br /&gt;Seperti juga para pemimpin brengsek itu –&lt;br /&gt;Semuanya tak bisa dipercaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau pun tahu, tak ada lagi cinta&lt;br /&gt;Juga tak ada lagi yang perlu dinyatakan&lt;br /&gt;Pidato dan kentut sulit dibedakan&lt;br /&gt;Begitu juga memuji dan mengutuk&lt;br /&gt;Mereka yang lelap tidur&lt;br /&gt;Bangunnya selalu kesiangan&lt;br /&gt;Padahal ingin disebut pahlawan&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SEPOTONG SENJA&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepotong senja kemerahan yang kauberikan padaku&lt;br /&gt;Segulung mega serta segenggam kabut yang memabukan itu&lt;br /&gt;Masih belum bisa kuterjemahkan sebagai puisi&lt;br /&gt;Senyummu terlalu jenaka untuk seorang Rabi’ah&lt;br /&gt;Dan punggungmu belum cukup bungkuk untuk tertatih&lt;br /&gt;Menyusuri lorong-lorong Basrah dengan tongkat tua&lt;br /&gt;Bagiku, kesepian belum cukup untuk lahirnya sebuah puisi&lt;br /&gt;Sebab kita belum cukup terbakar dalam api&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali kausebut aku Hamlet yang gila&lt;br /&gt;Hanya karena keraguanku menafsirkan sorot matamu&lt;br /&gt;Karena begitu lama kubutuhkan waktu untuk terus berlari&lt;br /&gt;Sebelum kulumuri kanvas-kanvasku dengan airmata&lt;br /&gt;Mungkin aku lebih mirip Sisifus yang terkutuk&lt;br /&gt;Atau Narsisus yang mabuk? Sepotong senja yang kauberikan&lt;br /&gt;Segulung mega serta segenggam kabut yang memabukan itu&lt;br /&gt;Masih belum bisa kuungkapkan sebagai lukisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di terowongan-terowongan kota Mekkah&lt;br /&gt;Aku tidak menulis apa-apa, juga tidak melukis siapa-siapa&lt;br /&gt;Di gurun-gurun pasir yang garang, di bukit-bukit batu&lt;br /&gt;Aku tidak meratap atau menyanyi, hanya sekedar membaca sunyi&lt;br /&gt;Aku bukanlah Bilal yang nyaring mengumandangkan azan&lt;br /&gt;Juga bukan Hamzah yang lantang di garis paling depan&lt;br /&gt;Bukan siapa-siapa. Kepenyairan hanya berlangsung dalam hatiku&lt;br /&gt;Dan aku terus berlari dengan sepotong senja yang kauberikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kanal-kanal Venezia, di relung-relung jembatan yang renta&lt;br /&gt;Di antara para pelancong dan penziarah, juga para pelacur dan pastor&lt;br /&gt;Aku tidak pernah lupa memanggil namamu, juga tidak pernah lupa&lt;br /&gt;Menyumpahimu. Kubuka sebuah peta kuno di meja restoran&lt;br /&gt;Sambil membayangkan pasukan kuda berderap dari arah selatan&lt;br /&gt;Lalu kanvas-kanvas kosong kugelar sepanjang trotoar, kertas-kertas&lt;br /&gt;Kutempel sepanjang terowongan. Ternyata aku tidak pernah lupa&lt;br /&gt;Pada rambut ikalmu, pada hijau pupus kerudungmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali waktu kau mengejekku pengecut yang saleh&lt;br /&gt;Ketika aku tersentak mendengar keinginanmu pergi ke Aceh&lt;br /&gt;Mengikuti jejak Tjut Njak Dien dengan sebuah lentera kecil&lt;br /&gt;Apakah kau mencari sesuatu yang paling ujung, paling tepi&lt;br /&gt;Paling sunyi? Tapi alis matamu terlalu indah untuk rimba-rimba&lt;br /&gt;Untuk perburuan makna di tengah dahsyatnya belantara&lt;br /&gt;Ah, mungkin Lhok Nga akan menyambutmu dengan rebana&lt;br /&gt;Atau malah menimbunmu dengan karangan bunga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku tersungkur di lembah Mina&lt;br /&gt;Jasadku yang telanjang hanya dibalut selembar kain putih&lt;br /&gt;Seperti matahari, seperti udara, seperti tenda-tenda semuanya&lt;br /&gt;Memutih. Apakah domba-domba mendengar jerit suaraku yang perih&lt;br /&gt;Dan memberikan darahnya untuk mengentalkan lukaku? Apakah&lt;br /&gt;Unta-unta mencium bau anyir kesakitanku? Apakah bukit-bukit batu&lt;br /&gt;Membaca kerinduanku dan menggelindingkan satu bongkahannya&lt;br /&gt;Untuk menindihku? Apakah gurun-gurun pasir memahami serapahku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepotong senja kemerahan yang kauberikan padaku&lt;br /&gt;Segulung mega serta segenggam kabut yang memabukan itu&lt;br /&gt;Masih belum bisa kuterjemahkan sebagai puisi&lt;br /&gt;Payudaramu terlalu lunak untuk seorang Madonna&lt;br /&gt;Dan bibirmu belum cukup tebal untuk selalu tersenyum&lt;br /&gt;Sambil melambai-lambaikan tangan dengan sebatang cerutu&lt;br /&gt;Bagiku, keindahan belum cukup untuk lahirnya sebuah puisi&lt;br /&gt;Sebab kita belum cukup tenggelam dalam sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KETAPANG-GILIMANUK&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermula dari ombak pasang&lt;br /&gt;Yang menyediakan ruang&lt;br /&gt;Bagi tubuhku&lt;br /&gt;Ulakan air melahirkan kata-kata&lt;br /&gt;Yang berloncatan seperti lidah api&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di paha-paha batu karang&lt;br /&gt;Kata-kata bergerak dan meluap&lt;br /&gt;Aku pun terdesak&lt;br /&gt;Ke sudut sempit selangkanganmu&lt;br /&gt;Yang gelap. Sebuah persetubuhan sunyi&lt;br /&gt;Waktu yang terus menari dan menyanyi&lt;br /&gt;Menciptakan ruang-ruang murni&lt;br /&gt;Di balik ceruk ombak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh bugilku&lt;br /&gt;Terapung&lt;br /&gt;Di atas tubuhmu yang asin&lt;br /&gt;Burung-burung dan deru angin selat&lt;br /&gt;Menggoreskan jejak lain. Sebuah isyarat&lt;br /&gt;Garis yang ditarik lurus&lt;br /&gt;Dari kaki langit&lt;br /&gt;Tempat cahaya menenggelamkan dirinya di air&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti seorang perenang&lt;br /&gt;Aku pun menyelam dan mengembara&lt;br /&gt;Dengan kata-kata liar tangkapanku&lt;br /&gt;Sebuah kelahiran kembali&lt;br /&gt;Yang perih&lt;br /&gt;Kesunyian tiada tara&lt;br /&gt;Perjalanan dari biru menuju jingga&lt;br /&gt;Sebelum kata-kata saktiku akan tercipta&lt;br /&gt;Dari derita&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;DI MALIOBORO&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kereta yang beranjak ke timur&lt;br /&gt;Serta jerit peluit yang masih tersisa di telinga&lt;br /&gt;Udara seperti bergetar meski hujan telah lama reda&lt;br /&gt;Kita berjalan ke luar meninggalkan deretan bangku itu&lt;br /&gt;Dan segera nampak aspal yang mengkilat, trotoar yang bersih&lt;br /&gt;Juga bentangan rel yang ujungnya menghilang ditelan gelap&lt;br /&gt;Kau sedikit sempoyongan menghirup candu kata-kataku&lt;br /&gt;Sedang wajahku membiru oleh kalimat-kalimat tanggung&lt;br /&gt;Dari cerita pendek yang tak kunjung kauselesaikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah warung segalanya menjadi lebih terbuka&lt;br /&gt;Seperti majalah lama. Aku mengingat kembali namamu&lt;br /&gt;Mencatat alamatmu, menghitung tahi lalatmu dan membaca&lt;br /&gt;Isyaratmu. Gambar kupu-kupu hijau di atas payudaramu&lt;br /&gt;Membuatku paham bahwa kau memang keturunan peri&lt;br /&gt;Bahwa parasmu cantik sekali. Mungkin pelipismu tak serata&lt;br /&gt;Jembatan yang menyatukan patahan garis di lengkung alis mata&lt;br /&gt;Namun rambutmu yang segimbal musim hujan, serimbun ucapan&lt;br /&gt;Telah membuat napasku menjadi begitu tidak keruan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau menciumku seperti gempa bumi yang pelan dan sopan&lt;br /&gt;Lalu aku membalas ciumanmu layaknya tanah kerontang&lt;br /&gt;Yang diberkati hujan. Rasa tembaga kucecap dari bibirmu&lt;br /&gt;Seperti asin darah yang bercampur dengan buih-buih ludah&lt;br /&gt;Aku menelan semuanya bagaikan menelan setiap peristiwa&lt;br /&gt;Dalam kehidupan. Tapi di sebuah warung yang terbuka&lt;br /&gt;Di majalah lama yang mulai sobek halaman-halamannya&lt;br /&gt;Ceritamu menjadi terlampau pendek untuk sebuah kisah cinta&lt;br /&gt;Yang panjang. Untuk sebuah kota yang selalu digenangi kesedihan&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KEPADA SEORANG PENYANYI DANGDUT&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah melambungnya harga-harga&lt;br /&gt;Suaramu semakin merdu saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah membengkaknya hutang negara&lt;br /&gt;Wajahmu semakin cantik saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah ruwetnya masalah sosial, politik dan agama&lt;br /&gt;Tubuhmu semakin sintal saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah merebaknya teror dan berbagai bencana&lt;br /&gt;Goyanganmu semakin heboh saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah langkanya pemimpin yang bisa dipercaya&lt;br /&gt;Kehadiranmu semakin berarti saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah terpuruknya kehormatan bangsa&lt;br /&gt;Hargamu semakin melambung saja&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-6087658557291405759?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/6087658557291405759/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=6087658557291405759' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/6087658557291405759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/6087658557291405759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/07/acep-zamzam-noor.html' title='Acep Zamzam Noor'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-1710983193450573521</id><published>2011-07-13T18:22:00.000-07:00</published><updated>2011-07-13T18:22:20.947-07:00</updated><title type='text'>Perjalanan, 1</title><content type='html'>Menunggu di Kayangan, Kau berasumsi bukit yang tinggi itu&lt;br /&gt;adalah Gunung Rinjani. Dan laut yang seperti tak berbatas&lt;br /&gt;akan mengantarkanmu ke Antartika. Tidak perlu cemas, suatu&lt;br /&gt;saat kita akan kembali ke Senggigi, bermain pasir pantai&lt;br /&gt;dan berendam di dalam senja yang sedikit malu-malu. Itulah&lt;br /&gt;cinta, lautan kini sedikit berombak tapi kuajak Kau berdiri&lt;br /&gt;di geladak. Menikmati angin dan waktu yang pelan merambati&lt;br /&gt;lekuk Kau. "Bagaimana Poto Tano nanti?" Bertanyalah seolah&lt;br /&gt;tak ada jawaban yang dapat kuberikan. Kapal belum berangkat,&lt;br /&gt;orang-orang duduk--beristirahat. Kita berupa inedia, memakan&lt;br /&gt;cahaya yang kian raib itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-1710983193450573521?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/1710983193450573521/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=1710983193450573521' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/1710983193450573521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/1710983193450573521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/07/perjalanan-1.html' title='Perjalanan, 1'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-460776477142846146</id><published>2011-07-12T00:41:00.000-07:00</published><updated>2011-07-12T00:41:59.147-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Jompong Suar</title><content type='html'>1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena mulut adalah sarang ular: Tak dibilang&lt;br /&gt;jadi binasa, dibilang pun jadi bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilamana tak Kau dapatkan bambu berbatang &lt;br /&gt;perak, berdaun emas, berbunga intan,&lt;br /&gt;akan kualamatkan seribu luka yang dititipkan&lt;br /&gt;sejuta penyair di ujung tombak ke dada Kau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari lubangnya akan keluar Kekasih dengan tergesa&lt;br /&gt;seperti tak akan kembali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggimu hanya sehasta, empat ruas, empat pula buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tangkai di tiap buku. Sebuah daun di tiap &lt;br /&gt;tangkai. Darinya pun dian bermunculan dalam empat&lt;br /&gt;kuncup. Tapi, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak mampu menyaingi Mandang Wulan yang seperti putri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halnya aku dan penjagaan raksasa betina yang kesepian&lt;br /&gt;tak mengenal cinta apalagi rindu. Kutinggalkan gua&lt;br /&gt;yang bersarang laba-laba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu Desember, angin mengekalkan ingatan. &lt;br /&gt;Barangkali akhir tahun ini akan tersaji kisah &lt;br /&gt;yang bahagia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika masing-masing kuncup menjelma api, bersemburan,&lt;br /&gt;juga tanah yang ingin kembali ke tanah. Berapa&lt;br /&gt;rindu yang dipendamnya, tercetak di batu nisan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kekekalan. KekekalanMulah kenangan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-460776477142846146?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/460776477142846146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=460776477142846146' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/460776477142846146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/460776477142846146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/07/jompong-suar.html' title='Jompong Suar'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-7440184327131204283</id><published>2011-07-12T00:01:00.000-07:00</published><updated>2011-07-12T00:01:58.962-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Sabalong Samalewa</title><content type='html'>Ada beringin berakar lima. Barangkali menjangan &lt;br /&gt;pernah berteduh di bawahnya. Menunggu buah jatuh &lt;br /&gt;dan takkan jauh. Begitu pun jalan ke Seketeng, &lt;br /&gt;yang tak mungkin Kau anggap enteng. Kita diberkahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sepasang kaki, sepasang tangan, sepasang pendengaran&lt;br /&gt;dan penglihatan. Tetapi Kau menyanggah bilamana&lt;br /&gt;hanya ada satu dada, yang siap menampung jutaan gulung&lt;br /&gt;angin yang turun dari gunung-gunung. Sebab berapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;langkah yang telah dititipkan, untuk suatu hari&lt;br /&gt;kembali. Jika saja di jalan-jalan yang sepi, udara&lt;br /&gt;kian mengaribi keleluasaanMu; seekor burung gereja&lt;br /&gt;mungkin pula tengah membuat sarang di dahan-dahan itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-7440184327131204283?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/7440184327131204283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=7440184327131204283' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/7440184327131204283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/7440184327131204283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/07/sabalong-samalewa.html' title='Sabalong Samalewa'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-8351788853615991580</id><published>2011-06-19T21:08:00.000-07:00</published><updated>2011-06-19T21:08:56.921-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Seketeng, Kenangan</title><content type='html'>Tidak perlu Kau tenteng, luka telah akrab dengan&lt;br /&gt;Pasar Seketeng. Berapa pikir yang telah ditinggalkan,&lt;br /&gt;Kau kenangan, suatu hari akan dijaja laik Rombengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu laun habis, terkikiskan tapal sepatumu. Tidak&lt;br /&gt;ada bioskop, mal, ancol, kapan Kau akan berhenti&lt;br /&gt;dari perjalanan ke perjalanan, dari luka ke luka?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-8351788853615991580?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/8351788853615991580/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=8351788853615991580' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/8351788853615991580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/8351788853615991580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/06/seketeng-kenangan.html' title='Seketeng, Kenangan'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-189843583858109589</id><published>2011-06-07T23:43:00.000-07:00</published><updated>2011-06-07T23:43:15.308-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='habibie'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='presiden'/><title type='text'>Pidato BJ HABIBIE yang Memukau, 1 Juni 2011</title><content type='html'>Assalamu ‘alaikum wr wb, salam sejahtera untuk kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini tanggal 1 Juni 2011, enam puluh enam tahun lalu, tepatnya 1 Juni 1945, di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Bung Karno menyampaikan pandangannya tentang fondasi dasar Indonesia Merdeka yang beliau sebut dengan istilah Pancasila sebagai philosofische grondslag (dasar filosofis) atau sebagai weltanschauung (pandangan hidup) bagi Indonesia Merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama enam puluh enam tahun perjalanan bangsa, Pancasila telah mengalami berbagai batu ujian dan dinamika sejarah sistem politik, sejak jaman demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, era Orde Baru hingga demokrasi multipartai di era reformasi saat ini. Di setiap jaman, Pancasila harus melewati alur dialektika peradaban yang menguji ketangguhannya sebagai dasar filosofis bangsa Indonesia yang terus berkembang dan tak pernah berhenti di satu titik terminal sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 1998, kita memasuki era reformasi. Di satu sisi, kita menyambut gembira munculnya fajar reformasi yang diikuti gelombang demokratisasi di berbagai bidang. Namun bersamaan dengan kemajuan kehidupan demokrasi tersebut, ada sebuah pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama: Di manakah Pancasila kini berada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ini penting dikemukakan karena sejak reformasi 1998, Pancasila seolah-olah tenggelam dalam pusaran sejarah masa lalu yang tak lagi relevan untuk disertakan dalam dialektika reformasi. Pancasila seolah hilang dari memori kolektif bangsa. Pancasila semakin jarang diucapkan, dikutip, dan dibahas baik dalam konteks kehidupan ketatanegaraan, kebangsaan maupun kemasyarakatan. Pancasila seperti tersandar di sebuah lorong sunyi justru di tengah denyut kehidupan bangsa Indonesia yang semakin hiruk-pikuk dengan demokrasi dan kebebasan berpolitik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa hal itu terjadi? Mengapa seolah kita melupakan Pancasila?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para hadirin yang berbahagia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sejumlah penjelasan, mengapa Pancasila seolah "lenyap" dari kehidupan kita. Pertama, situasi dan lingkungan kehidupan bangsa yang telah berubah baik di tingkat domestik, regional maupun global. Situasi dan lingkungan kehidupan bangsa pada tahun 1945 -- 66 tahun yang lalu -- telah mengalami perubahan yang amat nyata pada saat ini, dan akan terus berubah pada masa yang akan datang. Beberapa perubahan yang kita alami antara lain: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) terjadinya proses globalisasi dalam segala aspeknya; &lt;br /&gt;(2) perkembangan gagasan hak asasi manusia (HAM) yang tidak diimbagi dengan kewajiban asasi manusia (KAM); &lt;br /&gt;(3) lonjakan pemanfaatan teknologi informasi oleh masyarakat, di mana informasi menjadi kekuatan yang amat berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan, tapi juga yang rentan terhadap "manipulasi" informasi dengan segala dampaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga perubahan tersebut telah mendorong terjadinya pergeseran nilai yang dialami bangsa Indonesia, sebagaimana terlihat dalam pola hidup masyarakat pada umumnya, termasuk dalam corak perilaku kehidupan politik dan ekonomi yang terjadi saat ini. Dengan terjadinya perubahan tersebut diperlukan reaktualisasi nilai-nilai pancasila agar dapat dijadikan acuan bagi bangsa Indonesia dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi saat ini dan yang akan datang, baik persoalan yang datang dari dalam maupun dari luar. Kebelum-berhasilan kita melakukan reaktualisasi nilai-nilai Pancasila tersebut menyebabkan keterasingan Pancasila dari kehidupan nyata bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, terjadinya euphoria reformasi sebagai akibat dari traumatisnya masyarakat terhadap penyalahgunaan kekuasaan di masa lalu yang mengatasnamakan Pancasila. Semangat generasi reformasi untuk menanggalkan segala hal yang dipahaminya sebagai bagian dari masa lalu dan menggantinya dengan sesuatu yang baru, berimplikasi pada munculnya ‘amnesia nasional' tentang pentingnya kehadiran Pancasila sebagai grundnorm (norma dasar) yang mampu menjadi payung kebangsaan yang menaungi seluruh warga yang beragam suku bangsa, adat istiadat, budaya, bahasa, agama dan afiliasi politik. Memang, secara formal Pancasila diakui sebagai dasar negara, tetapi tidak dijadikan pilar dalam membangun bangsa yang penuh problematika saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ilustrasi misalnya, penolakan terhadap segala hal yang berhubungan dengan Orde Baru, menjadi penyebab mengapa Pancasila kini absen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Harus diakui, di masa lalu memang terjadi mistifikasi dan ideologisasi Pancasila secara sistematis, terstruktur dan massif yang tidak jarang kemudian menjadi senjata ideologis untuk mengelompokkan mereka yang tak sepaham dengan pemerintah sebagai "tidak Pancasilais" atau "anti Pancasila" . Pancasila diposisikan sebagai alat penguasa melalui monopoli pemaknaan dan penafsiran Pancasila yang digunakan untuk kepentingan melanggengkan kekuasaan. Akibatnya, ketika terjadi pergantian rezim di era reformasi, muncullah demistifikasi dan dekonstruksi Pancasila yang dianggapnya sebagai simbol, sebagai ikon dan instrumen politik rezim sebelumnya. Pancasila ikut dipersalahkan karena dianggap menjadi ornamen sistem politik yang represif dan bersifat monolitik sehingga membekas sebagai trauma sejarah yang harus dilupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaitan Pancasila dengan sebuah rezim pemerintahan tententu, menurut saya, merupakan kesalahan mendasar. Pancasila bukan milik sebuah era atau ornamen kekuasaan pemerintahan pada masa tertentu. Pancasila juga bukan representasi sekelompok orang, golongan atau orde tertentu. Pancasila adalah dasar negara yang akan menjadi pilar penyangga bangunan arsitektural yang bernama Indonesia. Sepanjang Indonesia masih ada, Pancasila akan menyertai perjalanannya. Rezim pemerintahan akan berganti setiap waktu dan akan pergi menjadi masa lalu, akan tetapi dasar negara akan tetap ada dan tak akan menyertai kepergian sebuah era pemerintahan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para hadirin yang berbahagia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada refleksi Pancasila 1 Juni 2011 saat ini, saya ingin menggarisbawahi apa yang sudah dikemukakan banyak kalangan yakni perlunya kita melakukan reaktualisasi, restorasi atau revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam rangka menghadapi berbagai permasalahan bangsa masa kini dan masa datang. Problema kebangsaan yang kita hadapi semakin kompleks, baik dalam skala nasional, regional maupun global, memerlukan solusi yang tepat, terencana dan terarah dengan menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pemandu arah menuju hari esok Indonesia yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena Pancasila tak terkait dengan sebuah era pemerintahan, termasuk Orde Lama, Orde Baru dan orde manapun, maka Pancasila seharusnya terus menerus diaktualisasikan dan menjadi jati diri bangsa yang akan mengilhami setiap perilaku kebangsaan dan kenegaraan, dari waktu ke waktu. Tanpa aktualisasi nilai-nilai dasar negara, kita akan kehilangan arah perjalanan bangsa dalam memasuki era globalisasi di berbagai bidang yang kian kompleks dan rumit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reformasi dan demokratisasi di segala bidang akan menemukan arah yang tepat manakala kita menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam praksis kehidupan berbangsa dan bernegara yang penuh toleransi di tengah keberagaman bangsa yang majemuk ini. Reaktualisasi Pancasila semakin menemukan relevansinya di tengah menguatnya paham radikalisme, fanatisme kelompok dan kekerasan yang mengatasnamakan agama yang kembali marak beberapa waktu terakhir ini. Saat infrastruktur demokrasi terus dikonsolidasikan, sikap intoleransi dan kecenderungan mempergunakan kekerasan dalam menyelesaikan perbedaan, apalagi mengatasnamakan agama, menjadi kontraproduktif bagi perjalanan bangsa yang multikultural ini. Fenomena fanatisme kelompok, penolakan terhadap kemajemukan dan tindakan teror kekerasan tersebut menunjukkan bahwa obsesi membangun budaya demokrasi yang beradab, etis dan eksotis serta menjunjung tinggi keberagaman dan menghargai perbedaan masih jauh dari kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis ini terjadi karena luruhnya kesadaran akan keragaman dan hilangnya ruang publik sebagai ajang negosiasi dan ruang pertukaran komunikasi bersama atas dasar solidaritas warganegara. Demokrasi kemudian hanya menjadi jalur antara bagi hadirnya pengukuhan egoisme kelompok dan partisipasi politik atas nama pengedepanan politik komunal dan pengabaian terhadap hak-hak sipil warganegara serta pelecehan terhadap supremasi hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif itulah, reaktualisasi Pancasila diperlukan untuk memperkuat paham kebangsaan kita yang majemuk dan memberikan jawaban atas sebuah pertanyaan akan dibawa ke mana biduk peradaban bangsa ini berlayar di tengah lautan zaman yang penuh tantangan dan ketidakpastian? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu menyegarkan kembali pemahaman kita terhadap Pancasila dan dalam waktu yang bersamaan, kita melepaskan Pancasila dari stigma lama yang penuh mistis bahwa Pancasila itu sakti, keramat dan sakral, yang justru membuatnya teraleinasi dari keseharian hidup warga dalam berbangsa dan bernegara. Sebagai sebuah tata nilai luhur (noble values), Pancasila perlu diaktualisasikan dalam tataran praksis yang lebih ‘membumi' sehingga mudah diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para hadirin yang berbahagia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ilustrasi misalnya, kalau sila kelima Pancasila mengamanatkan terpenuhinya "keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia", bagaimana implementasinya pada kehidupan ekonomi yang sudah menggobal sekarang ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu bahwa fenomena globalisasi mempunyai berbagai bentuk, tergantung pada pandangan dan sikap suatu Negara dalam merespon fenomena tersebut. Salah satu manifestasi globalisasi dalam bidang ekonomi, misalnya, adalah pengalihan kekayaan alam suatu Negara ke Negara lain, yang setelah diolah dengan nilai tambah yang tinggi, kemudian menjual produk-produk ke Negara asal, sedemikian rupa sehingga rakyat harus "membeli jam kerja" bangsa lain. Ini adalah penjajahan dalam bentuk baru, neo-colonialism, atau dalam pengertian sejarah kita, suatu "VOC (Verenigte Oostindische Companie) dengan baju baru".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implementasi sila ke-5 untuk menghadapi globalisasi dalam makna neo-colnialism atau "VOC-baju baru" itu adalah bagaimana kita memperhatikan dan memperjuangkan "jam kerja" bagi rakyat Indonesia sendiri, dengan cara meningkatkan kesempatan kerja melalui berbagai kebijakan dan strategi yang berorientasi pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Sejalan dengan usaha meningkatkan "Neraca Jam Kerja" tersebut, kita juga harus mampu meningkatkan "nilai tambah" berbagai produk kita agar menjadi lebih tinggi dari "biaya tambah"; dengan ungkapan lain, "value added" harus lebih besar dari "added cost". Hal itu dapat dicapai dengan peningkatan produktivitas dan kualitas sumberdaya manusia dengan mengembangkan, menerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam forum yang terhormat ini, saya mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya para tokoh dan cendekiawan di kampus-kampus serta di lembaga-lembaga kajian lain untuk secara serius merumuskan implementasi nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam lima silanya dalam berbagai aspek kehidupan bangsa dalam konteks masa kini dan masa depan. Yang juga tidak kalah penting adalah peran para penyelenggara Negara dan pemerintahan untuk secara cerdas dan konsekuen serta konsisten menjabarkan implementasi nilai-nilai Pancasila tersebut dalam berbagai kebijakan yang dirumuskan dan program yang dilaksanakan. Hanya dengan cara demikian sajalah, Pancasila sebagai dasar Negara dan sebagai pandangan hidup akan dapat ‘diaktualisasikan' lagi dalam kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, reaktualisasi Pancasila juga mencakup upaya yang serius dari seluruh komponen bangsa untuk menjadikan Pancasila sebagai sebuah visi yang menuntun perjalanan bangsa di masa datang sehingga memposisikan Pancasila menjadi solusi atas berbagai macam persoalan bangsa. Melalui reaktualisasi Pancasila, dasar negara itu akan ditempatkan dalam kesadaran baru, semangat baru dan paradigma baru dalam dinamika perubahan sosial politik masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para hadirin yang saya hormati,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu saya menyambut gembira upaya Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akhir-akhir ini gencar menyosialisasikan kembali empat pilar kebangsaan yang fundamental: Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Keempat pilar itu sebenarnya telah lama dipancangkan ke dalam bumi pertiwi oleh para founding fathers kita di masa lalu. Akan tetapi, karena jaman terus berubah yang kadang berdampak pada terjadinya diskotinuitas memori sejarah, maka menyegarkan kembali empat pilar tersebut, sangat relevan dengan problematika bangsa saat ini. Sejalan dengan itu, upaya penyegaran kembali juga perlu dilengkapi dengan upaya mengaktualisasikan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam keempat pilar kebangsaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita jadikan momentum untuk memperkuat empat pilar kebangsaan itu melalui aktualisasi nilai-nilai Pancasila sebagai weltanschauung, yang dapat menjadi fondasi, perekat sekaligus payung kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan membumikan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian kita, seperti nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai permusyawaratan dan keadilan sosial, saya yakin bangsa ini akan dapat meraih kejayaan di masa depan. Nilai-nilai itu harus diinternalisasikan dalam sanubari bangsa sehingga Pancasila hidup dan berkembang di seluruh pelosok nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktualisasi nilai-nilai Pancasila harus menjadi gerakan nasional yang terencana dengan baik sehingga tidak menjadi slogan politik yang tidak ada implementasinya. Saya yakin, meskipun kita berbeda suku, agama, adat istiadat dan afiliasi politik, kalau kita mau bekerja keras kita akan menjadi bangsa besar yang kuat dan maju di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui gerakan nasional reaktualisasi nilai-nilai Pancasila, bukan saja akan menghidupkan kembali memori publik tentang dasar negaranya tetapi juga akan menjadi inspirasi bagi para penyelenggara negara di tingkat pusat sampai di daerah dalam menjalankan roda pemerintahan yang telah diamanahkan rakyat melalui proses pemilihan langsung yang demokratis. Saya percaya, demokratisasi yang saat ini sedang bergulir dan proses reformasi di berbagai bidang yang sedang berlangsung akan lebih terarah manakala nilai-nilai Pancasila diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian yang bisa saya sampaikan. Terimakasih atas perhatiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu ‘alaikum wr wb.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-189843583858109589?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/189843583858109589/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=189843583858109589' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/189843583858109589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/189843583858109589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/06/pidato-bj-habibie-yang-memukau-1-juni.html' title='Pidato BJ HABIBIE yang Memukau, 1 Juni 2011'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-8927385069689027406</id><published>2011-06-04T09:17:00.000-07:00</published><updated>2011-06-04T09:17:08.147-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Dua Sajak Sederhana Tentang Rindu</title><content type='html'>&lt;b&gt;I. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kumulai sajak ini, udara berhenti&lt;br /&gt;bertiup. Tapi Kau terus berada di dalam degup.&lt;br /&gt;Semula aku kira kegelisahan yang kurasakan&lt;br /&gt;tidak akan pernah terjawab. Udara yang lembab,&lt;br /&gt;sisa hujan semalam, mungkin tangismu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Kadang aku bayangkan bila Kau tiada,&lt;br /&gt;berapa Waktu yang sanggup tertahan di jantung&lt;br /&gt;hatiku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Sebab cinta telah menjadi milikmu. Segala&lt;br /&gt;yang kuhirup berbau kelopak mawar yang mekar&lt;br /&gt;dari ujung lidah Kau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Kini, ketika aku rindu, tak ada yang dapat&lt;br /&gt;kulakukan selain menuliskan sajak cinta yang tak&lt;br /&gt;pernah cukup. Seolah sebuah kendi yang meneteskan&lt;br /&gt;air, namun tak pernah habis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;II.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Jadi jauh, bayangan yang pernah Kau tinggalkan.&lt;br /&gt;Aku sudah bunuh suara seruling di padang rumput itu,&lt;br /&gt;masihkah Kau bersedih? Matahari tinggal satu kilan,&lt;br /&gt;        tidak ada yang perlu disesali.&lt;br /&gt;        Barangkali masih ada keinginanmu mengejar angin&lt;br /&gt;yang pandai bersembunyi di ceruk akar, menjadi jalan&lt;br /&gt;bagi yang kusebut seseorang belajar menepuk dahan,&lt;br /&gt;        mematahkan tulang, memenggal leher kemudian&lt;br /&gt;        menetes sungai-sungai yang rindu kembali ke muara.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;        Aku jadi ingat, surat terakhir yang Kau tulis,&lt;br /&gt;terlampirkan tangis. Berapa sayatan yang coba meraba&lt;br /&gt;kedalaman dadaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Bagi hutan, yang pelan-pelan mulai terkikis, kerinduan&lt;br /&gt;tidak pernah baka. Pengembara yang tersesat mencari&lt;br /&gt;sisa ingatan juga kehilangan bayangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Berhentilah, barangkali masih ada ranting yang&lt;br /&gt;dipatahkan menuntun jalan kembali ke lembut ilalang,&lt;br /&gt;ke lenguh gembalaan yang setia menanti&lt;br /&gt;        tanpa Kau.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(2011)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-8927385069689027406?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/8927385069689027406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=8927385069689027406' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/8927385069689027406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/8927385069689027406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/06/dua-sajak-sederhana-tentang-rindu.html' title='Dua Sajak Sederhana Tentang Rindu'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-4283130122167145677</id><published>2011-06-04T08:25:00.001-07:00</published><updated>2011-06-04T08:25:47.635-07:00</updated><title type='text'>Suguhan Fiksi Surealis yang Fantastis dan Romantis</title><content type='html'>&lt;b&gt;Peresensi Dodi Prananda&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Judul buku : Dongeng Afrizal&lt;br /&gt;Pengarang : Pringadi Abdi Surya&lt;br /&gt;Penyunting : Benny Arnas&lt;br /&gt;Penyelaras Bahasa : Salahuddien Gz&lt;br /&gt;Pemindai Aksara : Khrisna Pabichara&lt;br /&gt;Penerbit : Kayla Pustaka&lt;br /&gt;Cetakan : I, 2011&lt;br /&gt;Harga : Rp.39.900,-&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah sukses dengan buku kumpulan puisi tunggalnya, Alusi (Pustaka Pujangga, 2009), Pringadi Abdi Surya menyapa publik ranah sastra Indonesia dengan sebuah buku kumpulan cerpen tunggalnya, Dongeng Afrizal (Kayla Pustaka). Sebagai seorang penulis muda Indonesia, Pringadi terbilang produktif dalam menulis cerpen dan puisi di media nasional dan lokal-nasional seperti Suara Merdeka, Jurnal Bogor, Harian Global, Sumatera Ekspres, Padang Ekspres, hingga Berita Pagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buku ini menghimpun 15 cerpen Pringadi yang pernah dipublikan di pelbagai media di Indonesia. Hampir sebagian dari cerpen dalam buku Dongeng Afrizal ini, Pringadi mengusung genre fiksi surealias yang mengedepankan kisah-kisah fantastis yang absur tetapi dibalut dengan hal-hal yang menyentuh perasaan manusia dengan sisi romantis yang pas. Beberapa kisah fantastis itu tersaji dalam cerpen-cerpen seperti Surat Kedelapan, Resital Kupu-Kupu, Seseorang dengan Agenda di Tubuhnya, Macondo,Melankolia, Setan di Kepala Ibu, Domba-domba dalam Suratmu, Djibril dan Aku, Tuan,Nyonya dan Cerita di Balik Kartu Pos, Satu Cerita tntang Cerita yang Tak Pernah Kuceritakan Sebelumnya, Vaginalia, Dongeng Afrizal, Dongeng Ikarus, Pareidolia, Fiksimaksi:Tuhan dan Racauan yang Tak Tuntas, dan Senja Terakhir di Dunia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Balutan kisah surealis yang disuguhkan secara romantis kental terasa pada cerpen Surat Kedelapan. Pringadi menawarkan kisah yang dibalut secara unik, romantis dan akhir cerita yang menyentak. Cerita bermula tentang seorang aku yang mempunyai koleksi tujuh surat cinta yang belum sempat diberikannya kepada Zane, kekasih yang merupakan istrinya. Hingga kemudian tanpa sengaja ketika ia membaca ulang semua surat itu, ia melihat sebuah figura yang didalamnya ada jawaban atas semua surat yang belum sempat dikirimkan kepada Zane. Pringadi terlihat sangat sukses dalam menggarap cerpen Surat Kedelapan ini, hal ini terlihat dari begitu sabarnya Pringadi dalam menulis cerita ini sehingga emosi yang terkumpul dalam penulisan cerpen ini dengan mudah ditransfer kepada pembaca. Kendatipun unggul pada bahasa tutur aku yang sangat berkaitan dengan emosi pembaca, cerpen Surat Kedelapan ini mengingatkan kita dengan gaya tutur Seno Gumira Ajidarma dalam beberapa cerpennya yang mengusung konsep surealis serupa yaitu Alina dan Sukab. Ditambah dengan adanya tokoh Sukab dan Zane yang mengingat pada tokoh perempuan yang kerap dihadirkan Seno dalam kebanyakan cerpennya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kelihaian Pringadi dalam membangun suspense (ketegangan) dalam cerpen-cerpennya juga terlihat dalam cerpen Resital Kupu-Kupu. Cerpen ini bermula dengan tiga hal yang tidak ingin dilakukan tokoh aku. Pertama, memakai dasi kupu-kupu yang selalu dikait-kaitkan dengan peristiwa kematian sahabatnya yang ditabrak truk ketika ia memegang kupu-kupu. Kedua, ketakutan tokoh aku pada kupu-kupu dan terakhir yaitu menceritakan semua hal yang dianggapnya sebagai sebuah rahasia kepada oranglain. Tanpa disadari, pembaca terhipnotis dalam alam khayal dan imajinasi Pringadi melalui cerita yang sangat absurd tersebut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada sisi lain, Pringadi juga menyuguhkan sentilan-sentilan yang bersifat satir pada cerpen Seorang dengan Agena di Tubuhnya. Pringadi memilih gaya tutur Solilokui, yaitu bahasa tutur aku yang didomonasi pada narasi aku hingga akhir cerita tanpa melibatkan tokoh lain pada segmen dialog dan kalimat langsung. Ada sentilan yang dialamatkan pada aparat kepolisian dalam cerpen ini seperti yang terlihat dalam kutipan berikut “…dia seorang anak yang bercita-cita menjadi polisi. Saya geli dengan profesi yang satu ini. Baru kemarin saya kecurian. Kemudian saya ke kantor polisi melakukan pelaporan. Bukan bantuan yang saya dapatkan, saya malah dimintai biaya dua ratus ribu dengan alasan administrasi…(hal 30). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sentilan yang lebih ekstrem pun terdapat pada kalimat “..daripada merekaditangkap polisi lebih baik mereka menjadi polisi..”. Cerpen ini sarat akan penceritaan terhadap tekanan batin yang dialami oleh tokoh aku yang merupakan anak seorang pelacur. Ia kerap diolok, dipandang sebelah mata bahkan kerap menjadi bahan gunjingan. Pelabelan sosial terhadap dirinya, semakin jauh membuat ia semakin dideskeditkan. Cerita ini berakhir dengan antiklimaks dimana ibu tokoh aku bunuh diri, diluar hal itu, diceritakan bahwa yang membuhnuh ibu adalah anaknya sendiri karena ibu telah berbohong padanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cerpen-cerpen lain dalam buku ini banyak mengundang misteri, tanda tanya bahkan emosi yang diaduk-aduk oleh keliahaian Pringadi dalam menaik-turunkank suspense cerita. Buku ini menjawab kerinduan pembaca sastra Indonesia akan karya-karya surealis yang sarat mutu, seperti cerpen-cerpen yang dihadirkan Seno Gumira Ajidarma, Agus Noor, Dewi Ria Utari hingga sederet cerpenis yang concern pada penulisan fiksi bergenre surealis. Buku ini wajib Anda miliki sebagai koleksi buku fiksi berkualitas Anda. (Dodi Prananda)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tulisan ini telah dimuat di Harian Singgalang, 8 Mei 2011.&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-4283130122167145677?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/4283130122167145677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=4283130122167145677' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/4283130122167145677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/4283130122167145677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/06/suguhan-fiksi-surealis-yang-fantastis.html' title='Suguhan Fiksi Surealis yang Fantastis dan Romantis'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-1331677071218020480</id><published>2011-05-29T19:33:00.000-07:00</published><updated>2011-05-29T19:33:40.120-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Dua Puisi di Jurnal Amper</title><content type='html'>&lt;b&gt;Sonet Kenangan, 2&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;"Ada yang salah di jantungku." Kau diam dan berpikir&lt;br /&gt;mungkin aku sedang bercanda, dan bikin kau khawatir.&lt;br /&gt;Tetapi, kita pergi merekam jantung, mengecek hormon,&lt;br /&gt;dan betapa sengat membuat kita rindu pada segelas lemon.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bus kuning ke arah Kertapati tak kunjung mau berhenti,&lt;br /&gt;pukul satu nanti, kita akan menonton film Alice in Wonderland,&lt;br /&gt;                             "Bagaimana kalau kita berjalan kaki?"&lt;br /&gt;Aku mengangguk saja, sambil menghitung kerikil yang berceceran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Ada yang salah di kenangan." Hari ini kau katakan itu, ketika&lt;br /&gt;kata-kataku jadi kerikil di sepanjang jalan itu.&lt;br /&gt;Aku terpaksa bertingkah keras kepala,&lt;br /&gt;demi mengiyakan semua prasangkamu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada yang salah di jantungku, memang. Tetapi tak pernah&lt;br /&gt;ada yang salah di kenangan. Percayalah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Meninggalkan Palembang&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Yang berat adalah melepaskan udara--&lt;br /&gt;terlanjur mengikat tubuh ringkihku. Kenangan-kenangan&lt;br /&gt;memang bisa menyesaki dadaku. Duduk di sampingmu&lt;br /&gt;malam itu, aku mencoba mencuri yang berkilauan&lt;br /&gt;di bibirmu. Seperti berlian,&lt;br /&gt;     begitu berharga. Cinta ini sudahlah akan kulupakan.&lt;br /&gt;Hangat tubuhmu, wangi rambutmu, dan ciuman-ciuman&lt;br /&gt;yang menggenapi malam di antara kita seperti cuma&lt;br /&gt;angin yang diam-diam sujud&lt;br /&gt;     di kedua kaki, lalu pergi mencari Tuannya yang lain.&lt;br /&gt;     Yang berat adalah kehilangan cinta--&lt;br /&gt;bukan kehilanganmu, benda, tua, lalu mati suatu saat&lt;br /&gt;nanti.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jurnal Puisi amper&lt;br /&gt;Pemimpin Redaksi  : Alek Subairi &lt;br /&gt;Redaktur Pelaksana  : A Muttaqin &lt;br /&gt;Dewan Redaksi  : Mardi Luhung, Timur Budi Raja, M Fauzi&lt;br /&gt;Redaksi  : Salamet Wahedi, Umar Fauzi Ballah, &lt;br /&gt;Dody Kristianto, Choirul Wadud&lt;br /&gt;Redaktur Senior  : KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Akhudiat &lt;br /&gt;Publikasi  : Tzalis Abdul Azis, Ashif Hasanuddin &lt;br /&gt;Sekretaris  : Putri Mayasari&lt;br /&gt;ISBN  : 978 6028567053&lt;br /&gt;Penerbit  : amper media &lt;br /&gt;Penata Letak  : Alek Subairi &lt;br /&gt;Desain Sampul  : A Muttaqin &lt;br /&gt;Gambar Sampul  : “Lelaki Bersayap”&lt;br /&gt;karya Harsono Sapuan&lt;br /&gt;Alamat Redaksi : Babatan III-D, No. 2D. Wiyung, Surabaya&lt;br /&gt;Telp : 085648817032 &lt;br /&gt;E-mail : amperpuisi@yahoo.com&lt;br /&gt;Cetakan Pertama : Mei, 2011&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Redaksi menerima kiriman naskah puisi, manuskrip puisi yang belum diterbitkan dan esai puisi. Tema esai puisi edisi ke 2 adalah “Membaca Puisi Religi”. Apabila ada perubahan tema, redaksi akan mengumumkan melalui surat terbuka. Kirimkan naskah ke &lt;br /&gt;E-mail redaksi: amperpuisi@yahoo.com&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk Pemesanan Hubungi : Putri Mayasari (085648817032), Ashif Hasanuddin (03170964667), Tzalis Abdul Asis 081230239112)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Harga 35.000&lt;br /&gt;(Luar Surabaya tambah ongkos kirim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-La7cZLOy5fo/TeMB7MIQ3uI/AAAAAAAAAEQ/kqVnK-aMBa8/s1600/252768_1894891286506_1068285477_31931000_1373252_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="214" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-La7cZLOy5fo/TeMB7MIQ3uI/AAAAAAAAAEQ/kqVnK-aMBa8/s320/252768_1894891286506_1068285477_31931000_1373252_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-1331677071218020480?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/1331677071218020480/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=1331677071218020480' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/1331677071218020480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/1331677071218020480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/05/dua-puisi-di-jurnal-amper.html' title='Dua Puisi di Jurnal Amper'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-La7cZLOy5fo/TeMB7MIQ3uI/AAAAAAAAAEQ/kqVnK-aMBa8/s72-c/252768_1894891286506_1068285477_31931000_1373252_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-7593750433991703114</id><published>2011-05-26T01:18:00.000-07:00</published><updated>2011-05-26T01:20:13.373-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi-puisi Pringadi Abdi Surya di Warta Sumbar, 15 Mei 2011</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Brandeinburg Concerto&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;aku ingin mati di senja brandeinburg&lt;br /&gt;di negeri seribu danau. seribu sungai&lt;br /&gt;yang mengalir dari mata&lt;br /&gt;kekasihku&lt;br /&gt;di seberang pulau, empat puluh kilometer&lt;br /&gt;dari kail-kailmu&lt;br /&gt;yang berenang&lt;br /&gt;mengitari bach—di tengah-tengah&lt;br /&gt;ikan yang berkumpul. senja yang memantul&lt;br /&gt;dari tatapanmu di balik tiang&lt;br /&gt;jembatan tua yang penuh&lt;br /&gt;orang-orang berkumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;entah apa yang dipandangnya di balik tembok&lt;br /&gt;tua itu. tembok yang membuat pertemuan kami adalah&lt;br /&gt;sebatas imajinasi dari kata-kata&lt;br /&gt;di pesan singkat&lt;br /&gt;lewat sebuah surat yang diantarkan angin&lt;br /&gt;seperti sebuah melodi lain&lt;br /&gt;dari piano tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o, aku sungguh ingin mati&lt;br /&gt;di senja brandeinburg yang pucat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menuliskan arti timur dan barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Requiem Mass in D Minor&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;dengar. dengar, nada itu adalah malaikat&lt;br /&gt;maut di padang rumput&lt;br /&gt;yang hijau&lt;br /&gt;dengan kupu-kupu yang kerap melingkar&lt;br /&gt;di lehermu dan kini&lt;br /&gt;di&lt;br /&gt;leherku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kenapa aku harus mati di tangan kupu-kupu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lacrimosa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;trombon. dan timpani. delapan bar kecil&lt;br /&gt;di bir-bir kota vienna&lt;br /&gt;gelas-gelas yang penuh. dansa. salsa&lt;br /&gt;dan romansa di remang-remang lampu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kauKah itu, wahai&lt;br /&gt;malaikat bersayap kupu-kupu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Con Giovanni Overture K.5&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;dor. aku ingin mati&lt;br /&gt;di peperangan. bukan di tempat tidur&lt;br /&gt;setelah meneguk anggur, salieri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;peperangan denganmu sudah seharusnya menjadi&lt;br /&gt;peluru dan desau-desau mesiu&lt;br /&gt;seperti angin yang risau&lt;br /&gt;di padang-padang tandus dengan pasir-pasir&lt;br /&gt;yang haus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dor. aku ingin mati di dawai biolamu&lt;br /&gt;mati berdiri dengan alunan yang makin&lt;br /&gt;meninggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bukan terbaring, salieri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Piano Concerto No. 2 in C. Minor&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;pelan. pelan, malam adalah lampu-lampu jalanan&lt;br /&gt;dan cahaya bulan. jejak-jejak kaki yang tipis di lapisan&lt;br /&gt;salju. toko-toko yang tutup. dan bar-bar&lt;br /&gt;yang kian malam kian&lt;br /&gt;hingar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di mariinsky. mariinsky yang sesak. mariinsky&lt;br /&gt;yang penuh dengan dasi kupu-kupu&lt;br /&gt;dan sepasukan pemusik yang hijrah dari hamelin&lt;br /&gt;dengan seruling, bass, dan violin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seorang pemain dadu berdiri tegak. sergei. sergei yang&lt;br /&gt;mengubah peluru menjadi melodi bulu domba.&lt;br /&gt;melodi rumput. melodi ilalang. melodi rambut&lt;br /&gt;pirang dan memanjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengalun dengan begitu tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;malam adalah kunang-kunang. lubang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ode. eulogia. dan makam.&lt;br /&gt;kamboja-kamboja yang tidak pernah tumbuh&lt;br /&gt;selain gugur salju musim itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di langit. langit yang nyaris selalu&lt;br /&gt;gelap. pucat. dan matahari-matahari lain&lt;br /&gt;di belahan bumi yang&lt;br /&gt;seperti not-not balok. tuts-tuts piano. gesekan biola&lt;br /&gt;dan suasana orkestra, sergei. sergei&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;angkat tanganmu dan mainkan lagi tentang&lt;br /&gt;malam kunang-kunang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;ini mimpi kamar tidur yang berairmata&lt;br /&gt;sendiri. jarum-jarum jam. boneka-boneka di atas&lt;br /&gt;almari tua pemberian nenek. dan buku-buku lusuh&lt;br /&gt;di dalam rak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti hidup. dan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sergei, tidurkan kami. ninabobokan kami. gantikan&lt;br /&gt;domba-domba yang harus kami hitung dengan&lt;br /&gt;sosokmu yang satu memainkan mariinsky yang selalu sesak&lt;br /&gt;dan penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tiga Sajak untuk Perempuan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;Pengakuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebuah televisi yang sedang menyala. rak-rak buku&lt;br /&gt;yang kosong. almari kayu yang kaubiarkan terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada baju-baju di balik pintu yang digantung sempurna.&lt;br /&gt;kau telanjang dada. aku telanjang selebihnya. mata&lt;br /&gt;kita pun saling menelanjangi. "apalagi yang kau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rahasiakan dari aku selain yang ada di balik rok mini itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;Rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rumah ini sunyi. kita berdua yang saling datang dan&lt;br /&gt;pergi. tetapi, bandul jam selalu bergerak ke kanan&lt;br /&gt;dan ke kiri. menanti meja makan itu terisi. televisi pun&lt;br /&gt;menyala kembali. menayangkan sosok suami-istri&lt;br /&gt;yang sudah lama tak memadu kasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di kamar mandi yang kering, ada jejak-jejak kemarin&lt;br /&gt;dari mayat ibu yang kusembunyikan di kolong tempat&lt;br /&gt;tidur itu, yang sudah lama tidak pernah kita singgahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt;Taman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita adalah sepasang gagak muda yang bertemu&lt;br /&gt;di atas jenazah, malam itu, ketika angin pun telah&lt;br /&gt;sampai di peraduannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bangku-bangku kosong. bayang-bayang pohon.&lt;br /&gt;suara-suara jangkrik. desah kau di bawah remang&lt;br /&gt;lampu taman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sejak itulah aku bermimpi jadi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tentang Penulis :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Duta Bahasa Provinsi Sumatera Selatan 2009 ini baru saja menulis DONGENG AFRIZAL, Kumpulan Cerpen (Kayla Pustaka, 2011). Blognya http://reinvandiritto.blogspot.com Twitter: @pringadi_as&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-7593750433991703114?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/7593750433991703114/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=7593750433991703114' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/7593750433991703114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/7593750433991703114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/05/puisi-puisi-pringadi-abdi-surya-di.html' title='Puisi-puisi Pringadi Abdi Surya di Warta Sumbar, 15 Mei 2011'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-2417076092237816290</id><published>2011-05-11T18:39:00.000-07:00</published><updated>2011-05-13T13:28:44.820-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Densha Otoko, Cerpen</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DENSHA OTOKO&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pringadi Abdi Surya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bertemu cerpenis itu, aku tiba-tiba melihat kereta seperti keluar dari matanya. Kereta dengan gerbong-gerbong yang sesak dan penuh. Para penumpang duduk dan berdiri, tanpa membeda-bedakan kelamin, sebab tak pernah ada feminis berdada setengah terbuka yang berani naik kereta ekonomi, Jogja—Jakarta, delapan jam, dikebuli asap rokok, bau keringat, kencing, dan kentut (perihal terakhir ini sungguh keterlaluan).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Naiklah kereta ekonomi, Lempuyangan—Senen, tak sampai tiga puluh ribu!”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jauh-jauh berangkat dari Bintaro, naik Sumber Alam, sembilan puluh ribu dan kukira ber-AC, aku malah disambut dengan perintah semacam itu. Seumur-umur aku belum pernah naik kereta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setidaknya, aku mengira, ia akan memberiku petuah-petuah magis, bersemedi di Kaliurang, merenung di Parangtritis, ngemenyan di Borobudur, atau duduk di Jendelo, kafe yang sama yang pernah diceritakan Sungging Raga ketika ia mendapat ilham untuk menjadi cerpenis. Aku pun ingin jadi cerpenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Apanya yang kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kamu jadi cerpenis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Aku ingin jadi pemain bola kok,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Seperti M. Nasuha?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “M. Nasuha?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ya, bek kanan Timnas kita, dulu main di Sriwijaya FC sebelum ikut RD ke Persija. Dia mirip kamu....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Apanya yang mirip? Kelaminnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Aku serius.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Aku justru dua rius.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Hahaha...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Hihihi...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tidak lucu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Aku memang tidak sedang melucu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Orang gila.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Dunia memang sudah gila.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dan akan bertambah lagi satu hal gila jika benar aku mengikuti petuahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ada tiga syarat buat menjadi cerpenis, Pring?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Wah, cuma tiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Pertama, sering-seringlah bernyanyi di kamar mandi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nah, kalau yang ini aku sudah sering melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kedua, tinggalkanlah sidik jari di mana-mana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Maksudmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kamu sudah pernah pacaran berapa kali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Baru satu kali dan itu pun diselingkuhi...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Nasibmu itu, Pring.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Terus?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Belajarlah untuk berselingkuh... seperti aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Dengan mantan pacar Dadang Ari Mujiono?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Murtono ah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Mujiono saja, biar mirip penyanyi dangdut, geal geol gendat gendut plagiat plagidut...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Masih hidup dia ya, kapan digantung kemaluannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Nunggu SBY turun jabatan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Lho?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Partai Cabang Rashomon Indonesia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Hahaha....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Hihihi...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “O, ya, yang terakhir yang paling penting, pulang ini kamu harus naik kereta!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Densha Otoko, drama Jepang sebelas episode yang diangkat dari komik itu sedikit bisa menghiburku. Membayangkan perempuan secantik Hermes, dengan rambut pirang dan tinggi yang semampai, bibir tipis yang lembut buat dikecup, bisa bikin jantung deg-degan tak karuan. Kalau saja di kupe pertama, begitu masuk kereta, ia ada dan sedang diganggu pria pemabuk yang lama tak menyusu istrinya, aku bisa tampil bak pahlawan dan memamerkan otot-otot hasil binaan di gym beberapa bulan belakangan. Aku hajar pria itu sampai giginya rontok satu per satu, kemudian kusuruh ia menelannya lagi. Duh, wanita mana yang tak langsung jatuh hati dan menyandarkan kepalanya di dadaku ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Sekali lagi, Pring, tak pernah ada feminis di kereta ekonomi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Raga seperti tahu saja apa yang kukhayalkan. Makhluk satu itu memang pintar membaca pikiranku, termasuk menjejalkan pikiran yang jorok-jorok ke otakku. Aku beri tahu sesuatu ya, aku kenal Sora Aoi sampe Nagase Ai, itu gara-gara Sungging Raga. Oke, tapi ini rahasia ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bicara tentang feminis, kami sering mengidentikannya dengan perempuan yang tak mau kawin, berpakaian terbuka, dan bisa dipakai kapan saja.  Kalaulah kau memperdebatkan arti kawin, aku bersedia menggantinya dengan kata ‘nikah’. Jadi, makhluk bernama feminis ini rata-rata bisa cuap-cuap tentang kebebasan, mengatai-ngatai laki-laki yang penuh ketidaksetiaan, pelaku pelecehan seksual, sampai perampas kebebasan hak asasi para perempuan itu sendiri. Padahal, ini rahasia ya, Pringadi Abdi Surya itu adalah laki-laki paling setia yang pernah ada di muka bumi ini, tidak pernah selingkuh, apalagi sampai meninggalkan sidik jari dan menuliskan perkataan semacam “Pringadi was here!” di suatu bagian tubuh. Dan satu lagi, jarang sekali laki-laki yang agresif kalau perempuannya tidak memamerkan onderdil miliknya. Faktanya, sekarang paha dan dada diobral di mana-mana, bukan? Lumayan buat cuci mata, apalagi di kereta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hanya memang, selain kebohongan-kobohongan yang dikarang-karang dalam ceritanya, Raga itu makhluk yang jujur adanya. Baru sampai di stasiun, aku sudah kebingungan. Orang-orang membawa barang berkarung-karung, kotak-kotak mie, kantung-kantung kresek. Membayangkan akan ditaruh di mana mereka itu, membuatku ingin membatalkan niat naik kereta. Tapi, ketimbang tawa sinis Raga itu meledekku, mending aku nekat naik kereta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku mendapatkan tiket berdiri, tetapi beruntung sekali (dalam ekspresi bingungku itu) seorang perempuan—yang kukira sebaya—mempersilakan aku duduk di sampingnya. Awalnya, aku sempat curiga dan teringat dengan cerita-cerita hipnotis, copet, dan hal itu membuatku terjaga memegangi dompet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Baru pertama kali naik kereta, ya?” Dia memulai pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Memang tidak secantik Hermes, tetapi bibirnya itu membuatku suka. Aku memang menyukai tipe bibir yang mungil dan agak kemerahjambuan. Kalau dikecup, laki-laki yang semi-agresif seperti aku bisa mendaratkan ciuman dengan mudah—meladeni setiap cara yang dia inginkan. Tentu, dia tak akan bisa menguasai bibirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Dari mana kamu tahu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tergambar jelas di wajahmu...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Baru pertama kali ke Jakarta?” Aku balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Lha, dari mana kamu tahu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Secret makes a man man.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Hahaha, epigon Vermouth.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Suka Conan juga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ya, siapa yang tak suka Conan? Aku ingin punya pacar tampan kaya’ Heiji Hattori.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Hitam?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Eksotis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Seperti aku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kamu... ah, kamu kegemukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tapi ‘kan seksi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Seksi di bagian mananya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku pun tersipu. Dia lebih tersipu melihat aku tersipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kereta mulai bergerak. Sesekali tubuh kami bergesekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kamu Jogja di mananya? Gejayan atau Kaliurang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kamu bahkan belum tahu namaku, tapi sudah bertanya tempat tinggalku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Oh iya, aku Pringadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Waginem.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Waginem?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ya, kamu mau mencemooh namaku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ya, apalah artinya sebuah nama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Keliru. Shakespeare tak pernah bilang begitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Lantas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “What is in a name?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kamu tahu banyak ya, kuliah di mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Bahasa dan Sastra Indonesia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Di?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Surabaya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Jadi bukan warga Jogja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kekasihku ada di Jogja, ah tidak pantas juga kalau aku menyebutnya kekasih...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Secrets make a woman woman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ayolah, aku tidak suka penasaran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Aku tidak suka rendang Padang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Aku tidak suka orang Padang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Aku nggak nanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Hahaha...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Lucu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Sedikit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Dia sudah punya kekasih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Dia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kekasihnya tahu dia juga mencintai aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Cinta?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Cinta yang terbata-bata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Orang belajar membaca dengan mengeja. Orang mengeja pun memulainya dengan terbata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tapi, aku mencintainya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Lantas, kenapa kamu ke Jakarta?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Aku ingin bunuh diri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dia mengangkat sedikit roknya.  Naik ke atas lutut. Sayang, cuma sedikit di atas lutut. “Dia sudah merabaku di sini, sampai ke tempat lain yang tak mungkin aku perlihatkan, Pring.” Dia menangis. Aku memberinya sapu tangan. Ia membuang ingusnya di sapu tangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tapi, kamu masih perawan ‘kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Penting kujawab?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tes keperawanan di mana-mana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tapi, bukan dia... bukan dia yang mengambil keperawananku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Lalu siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Pacarku yang sebelumnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Hah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Aku benci cerpenis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Lho?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Mereka berdua cerpenis. Pokoknya aku tidak mau melihat cerpenis lagi mulai sekarang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Memang cerpenis-cerpenis itu brengsek. Sekaligus bodoh. Akutagawa, Hemmingway, ah, mereka mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Jadi, jika kamu bunuh diri, kamu akan sama bodohnya dengan mereka, Nem.” Aku menjawab sambil menjilat ludah sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Jadi kamu bukan cerpenis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Bukan. Aku PNS.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “PNS?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ya. Penyair Negeri Sipil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Hahaha...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Pokoknya jangan mati di Jakarta. Biaya pemakamannya mahal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kereta masih berjalan dengan kecepatan yang sama. Suara riuh kereta, keluhan orang-orang, mereka yang mengorok di depan kami, tapi kami tidak berteriak. Kami saling berbisik dalam jarak beberapa centi. Aku ingin menciumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Lalu aku akan tinggal di mana jika aku batal bunuh diri di Jakarta nanti?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ke kosku saja.” Aku sudah mulai membayangkan adegan-adegan romantis yang terjadi jika sepasang manusia dibiarkan berduaan dalam satu kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dia mencubit lenganku genit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Eh, ngomong-ngomong siapa cerpenis yang kamu maksud tadi? Aku juga lumayan banyak kenal cerpenis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Mereka berdua cukup terkenal sebagai cerpenis muda baru-baru ini. Aku putus dengan Dadang gara-gara kebiasaannya yang suka memplagiat karya orang lain. Aku tidak suka plagiasi. Kalau Raga, ya, dia nggak ganteng-ganteng amat sih, tapi orangnya tegas. Misterius. Suka bikin aku penasaran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tiba-tiba laju kereta ini mendadak seperti berhenti dan berbalik. Kereta tidak jadi ke Jakarta dan kembali ke Yogyakarta di mana Sungging Raga akan duduk tersenyum di stasiun, melambai, dan memelukku sambil mengatakan, “Apa yang sudah kamu pelajari dari perjalanan keretamu yang singkat itu, Pring?”***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2011)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-2417076092237816290?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/2417076092237816290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=2417076092237816290' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/2417076092237816290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/2417076092237816290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/05/densha-otoko-cerpen.html' title='Densha Otoko, Cerpen'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-6838472702988372330</id><published>2011-05-09T18:16:00.000-07:00</published><updated>2011-05-09T18:40:18.092-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Cerpen Kontroversial Zaman HB. Jassin</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;LANGIT MAKIN MENDUNG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen: KIPANDJIKUSMIN&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAMA-LAMA mereka bosan juga dengan status pensiunan nabi di surgaloka. Petisi dibikin, mohon (dan bukan menuntut) agar pensiunan-pensiunan diberi cuti bergilir turba ke bumi, yang konon makin ramai saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Refreshing sangat perlu. Kebahagiaan berlebihan justru siksaan bagi manusia yang biasa berjuang. Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir-bibir kami sudah pegal-pegal kejang memuji kebesaran-Mu; beratus tahun tanpa henti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca petisi para nabi, Tuhan terpaksa menggeleng-gelengkan kepala, tak habis pikir pada ketidakpuasan di benak manusia…. Dipanggillah penanda-tangan pertama: Muhammad dari Medinah, Arabia. Orang bumi biasa memanggilnya Muhammad saw..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Daulat, ya Tuhan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apalagi yang kurang di surgaku ini? Bidadari jelita berjuta, sungai susu, danau madu, buah apel emas, pohon limau perak. Kijang-kijang platina, burung-burung berbulu intan baiduri. Semua adalah milikmu bersama, sama rasa sama rata!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya bahagia lebih dari cukup, bahkan tumpah ruah melimpah-limpah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat rumput-rumput jamrud di sana. Bunga-bunga mutiara bermekaran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau memang mahakaya. Dan manusia alangkah miskin, melarat sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengok permadani sutra yang kau injak. Jubah dan sorban cashmillon yang kau pakai. Sepatu Aladin yang bisa terbang. Telah kuhadiahkan segala yang indah-indah!”&lt;br /&gt;Muhammad tertunduk, terasa betapa hidup manusia hanya jalinan-jalinan penyadong sedekah dari Tuhan. Alangkah nista pihak yang selalu mengharap belas kasihan. la ingat, waktu sowan ke surga dulu dirinya hanya sekeping jiwa telanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa sebenamya kau cari di bumi? Kemesuman, kemunafikan, kelaparan, tangis, dan kebencian sedang berkecamuk hebat sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hamba ingin mengadakan riset,” jawabnya lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentang apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhir-akhir ini begitu sedikit umat hamba yang masuk surga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahk, itu kan biasa. Kebanyakan mereka dari daerah tropis kalau tak salah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, kau memang maha tahu.” “Kemarau kelewat panjang di sana. Terik matahari terlalu lama membakar otak-otak mereka yang bodoh.” Kacamata model kuno dari emas diletakkan di atas meja dari emas pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana, ya Tuhan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Umatmu banyak kena tusukan siar matahari. Sebagian besar berubah ingatan, lainnya pada mati mendadak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Astaga! Betapa nasib mereka kemudian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang pertama asyik membadut di rumah-rumah gila.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan yang mati?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada stempel Kalimat Syahadat dalam paspor mereka. Terpaksa raja iblis menolak memberikan visa neraka untuk orang-orang malang itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heran, tak pernah mereka mohon suaka ke sini!” dengan kening sedikit mengerut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentara neraka memang telah merantai kaki-kaki mereka di batu nisan masing-masing.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa dosa mereka gerangan? Betapa malang nasib umat hamba, ya Tuhan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jiwa-jiwa mereka kabarnya mambu Nasakom. Keracunan Nasakom!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nasakom? Racun apa itu, ya Tuhan! Iblis laknat mana meracuni jiwa mereka. (Muhammad saw. nampak gusar sekali. Tinju mengepal). Usman, Umar, Ali! Asah pedang kalian tajam-tajam!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan hanya mengangguk-angguk, senyum penuh pengertian –penuh kebapaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Carilah sendiri fakta-fakta yang otentik. Tentang pedang-pedang itu kurasa sudah kurang laku di pasar loak pelabuhan Jedah. Pencipta Nasakom sudah punya bom atom, kau tahu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Singkatnya, hamba diizinkan turba ke bumi?” (Ia tak takut bom atom).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja. Mintalah surat jalan pada Sulaiman yang bijak di sekretariat. Tahu sendiri, dirasai Botes polisi-polisi dan hansip-hansip paling sok iseng, gemar sekali ribut-ribut perkara surat jalan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak bisa mereka disogok?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, mereka lain dengan polisi dari bumi. Bawalah Jibril serta, supaya tak sesat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Daulat, ya Tuhan.” (Bersujud penuh sukacita).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat sebelum berangkat, surga sibuk sekali. Timbang terima jabatan Ketua Kelompok Grup Muslimin di surga, telah ditandatangani naskahnya. Abubakar tercantum sebagao pihak penerima. Dan masih banyak lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai yang terpuji, jurusan mana yang paduka pilih?” Jibril bertanya takzim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke tempat jasadku diistirahatkan; Medinah, kau ingat? Ingin kuhitung jumlah musafir-musafir yang ziarah. Di sini kita hanya kenal dua macam angka, satu dan tak berhingga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh penghuni surga mengantar ke lapangan terbang. Lagu-lagu padang pasir terdengar merayu-rayu, tapi tanpa tari perut bidadari-bidadari. Entah dengan berapa juta lengan Muhammad saw. harus berjabat tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Adam as. sebagai pinisepuh tampil di depan mikropon. Dikatakan bahwa pengorbanan Muhammad saw. merupakan lembaran baru dalam sejarah manusia. Besar harapan akan segera terjalin saling pengertian yang mendalam antara penghuni surga dan bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhir kata saudara-saudara, hasil peninjauan on the spot oleh Muhammad saw. harus dapat dimanfaatkan secara maksimal nantinya. Ya, saudara-saudara para suci! Sebagai kaum arrive surga, kita tak boleh melupakan perjuangan saudara-saudara kita di bumi melawan rongrongan iblis-iblis di neraka beserta antek-anteknya. Kita harus bantu mereka dengan doa-doa dan sumbangan-sumbangan pikiran yang konstruktif, agar mereka scmua mau ditarik ke pihak Tuhan; sekian. Selamat jalan Muhammad. Hidup persatuan Rakyat Surga dan Bumi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ganyang!!!” Berjuta suara menyahut serempak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad segera naik ke punggung buroq-kuda sembrani yang dulu jadi tunggangannya waktu ia mikraj.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secepat kilat buroq terbang ke arah bumi, dan Jibril yang sudah tua terengah-engah mengikuti di belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak, sebuah sputnik melayang di angkasa hampa udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benda apa di sana?” Nabi keheranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang bumi bilang sputnik! Ada tiga orang di dalamnya, ya Rasul.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang? Menjemput kedatanganku kiranya?” (Gembira).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan, mereka justru rakyat negara kapir terbesar di bumi. Pengikut Marx dan Lenin yang ingkar Tuhan. Tapi pandai-pandai otaknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang malang; semoga Tuhan mengampuni mereka. (Berdoa). Aku ingin lihat orang-orang kapir itu dari dekat. Ayo, buroq!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buroq melayang deras menyilang arah sputnik mengorbit. Dengan pedang apinya Jibril memberi isyarat sputnik berhenti sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sputnik Rusia memang tak ada remnya. Tubrukan tak terhindarkan lagi. Buroq beserta sputnik hancur jadi debu; tanpa suara, tanpa sisa. Kepala botak-botak di lembaga aeronetika di Siberia bersorak gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diumumkan bahwa sputnik Rusia berhasil mencium planet yang tak dikenal. Ada sedikit gangguan komunikasi …,” terdengar siaran radio Moskow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad dan Jibril terpental ke bawah, mujur mereka tersangkut di gumpalan awan yang empuk bagai kapas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang, sayang. Neraka bertambah tiga penghuni lagi.” Berbisik sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak dilontarkan pandangannya ke bawah. Hatinya tiba-tiba berdesir ngeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jibril, neraka lapis ke berapa di sana gerangan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Paduka salah duga. Di bawah kita bukan neraka tapi bagian bumi yang paling durhaka. Jakarta namanya. Ibukota sebuah negeri dengan seratus juta rakyat yang malas dan bodoh. Tapi ngakunya sudah bebas B.H.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak pernah kudengar nama itu. Mana lebih durhaka, Jakarta atau Sodomah dan Gomorah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hampir sama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ai, hijau-hijau di sana bukankah warna api neraka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan, paduka! Itulah barisan sukwan dan sukwati guna mengganyang negara tetangga, Malaysia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adakah umatku di Malaysia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hampir semua, kecuali Cinanya tentu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, kapirlah bangsa di bawah ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama sekali tidak, 9o persen dari rakyatnya orang Islam juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“90 persen,” wajah nabi berseri, “90 juta umatku! Muslimin dan muslimat yang tercinta. Tapi tak kulihat mesjid yang cukup besar, di mana mereka bersembahyang Jumat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Soal 90 juta hanya menurut statistik bumiawi yang ngawur. Dalam catatan Abubakar di surga, mereka tak ada sejuta yang betul-betul Islam!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aneh. Gilakah mereka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, hanya berubah ingatan. Kini mereka akan menghancurkan negara tetangga yang se-agama!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aneh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang aneh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo Jibril, segera kita tinggalkan tempat terkutuk ini. Aku terlalu rindu pada Medinah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak inginkah paduka menyelidiki sebab-sebab keanehan itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, tidak di tempat ini!” jawabnya tegas, “rencana risetku di Kairo.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya pdukalah nabi terakhir, ya Muhammad?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti telah tersurat di kitab Allah,” sahut Nabi dengan rendah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi bangsa di bawah sana telah menabikan orang lain lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa peduliku dengan nabi palsu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Umat paduka hampir takluk pada ajaran nabi palsu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nasakom, jadi tempat inilah sumbernya. Kau bilang umatku takluk, nonsense!” Kegusaran mulai mewarnai wajah Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Islam terancam. Tidakkah paduka prihatin dan sedih?” terdengar suara Iblis, disambut tertawa riuh rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi tengadah ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sabda Allah tak akan kalah. Betapapun Islam, ia ada dan tetap ada, walau bumi hancur sekalipun!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Nabi mengguntur dahsyat, menggema di bumi, di lembah-lembah, di puncak-puncak gunung, di kebun-kebun karet, dan berpusar-pusar di laut lepas.&lt;br /&gt;Gaungnya terdengar sampai ke surga, disambut takzim ucapan serentak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Amien, amien, amien.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neraka guncang, iblis-iblis gemetar menutup telinga. Guntur dan cambuk petir bersahut-sahutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Naiklah, mari kita berangkat ya Rasulullah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad tak hendak beranjak dari awan tempatnya berdiri. Hatinya bimbang pedih dan dukacita. Wajahnya gelap, segelap langit mendung di kiri-kanannya.&lt;br /&gt;Jibril menatap penuh tanda tanya, namun tak berani bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim hujan belum datang-datang juga. Di Jakarta banyak orang kejangkitan influensa, pusing-pusing dan muntah-muntah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naspro dan APC sekonyong-konyong melonjak harga. Jangan dikata lagi pil vitamin C dan ampul penstrip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata orang, sejak pabriknya diambil alih bangsa sendiri, agen-agen Naspro mati kutu. Hanya politik-politik Cina dan tukang-tukang catut orang dalam leluasa nyomoti jatah lewat jalan belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran sore Warta Bahari menulis: Di Bangkok 1000 orang mati kena flu, tapi terhadap flu Jakarta Menteri kesehatan bungkem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paginya Menteri Kesehatan yang tetap bungkem dipanggil menghadap Presiden alias PBR.&lt;br /&gt;“Zeg, Jenderal. Flu ini bikin mati orang apa tidak?”&lt;br /&gt;“Tidak, Pak.”&lt;br /&gt;“Jadi tidak berbahaya?”&lt;br /&gt;“Tidak Pak. Komunis yang berbahaya, Pak!”&lt;br /&gt;“Akh, kamu. Komunisto-phobi, ya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, meski tak berbahaya flu Jakarta tak sepandai polisi-polisinya. Flu tak bisa disogok, serangannya membabi buta tidak pandang bulu. Mulai dari pengemis-pelacur-nyonya menteri-sampai presiden diterjang semena-mena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelayan-pelayan istana geger, menko-menko menarik muka sedih karena gugup menyaksikan sang PBR muntah-muntah seperti perempuan bunting muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekejap mata dokter-dokter dikerahkan, kawat telegram sibuk minta hubungan rahasia ke Peking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mohon ssegera dikirim tabib-tabib Cina yang kesohor, Pemimpin Besar kami sakit keras. Mungkin sebentar lagi mati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan Mao di singgasananya tcrsenyum-senyum, dengan wajah penuh welas-asih ia menghibur kawan seporos yang sedang sakratulmaut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semoga lekas sembuh. Bersama ini rakyat Cina mengutus beberapa tabib dan dukun untuk memeriksa penyakit Saudara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhampir obat kuat akar jinsom umur seribu tahun. Tanggung manjur. Kawan nan setia: tertanda Mao. (Tidak lupa, pada tabib-tabib dititipkan pula sedikit oleh-oleh untuk Aidit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya berkat khasiat obat kuat, si sakit berangsur-angsur sembuh. Sebagai orang beragama tak lupa mengucap sjukur pada Tuhan yang telah mengaruniai seorang sababat sebaik kawan Mao.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesta diadakan. Tabib-tabib Cina dapat tempat duduk istimewa. Untuk sejenak tuan rumah lupa agama, hidangan daging babi dan kodok ijo disikat tandas-tandas. Kyai-kyai yang hadir tersenyum-senyum kecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saudara-saudara. Pers nekolim gembar-gembor, katanya Soekarno sedang sakit keras. Bahkan hampir mati katanya. (Hadirin tertawa. Menertawakan kebodohan nekolim). Wah, saudara-saudara. Mereka itu selak kemudu-kemudu melihat musuh besarnya mati. Kalau Soekarno mati mereka pikir Indonesia ini akan gampang mereka iles-iles, mereka kuasai seenak udelnya sendiri, seperti negaranya Tengku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Padahal (menunjuk dada) lihat badan saya, saudara-saudara, Soekarno tetap segar-bugar. Soekarno belum mau mati. (Tepuk tangan gegup gempita, tabib-tabib Cina tak mau ketinggalan). Insya Allah, saya belum mau menutup mata sebelum proyek nekolim ‘Malaysia’ hancur lebur jadi debu. (Tepuk tangan lagi).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara bebas dimulai. Dengan tulang-tulangnya yang tua Presiden menari lenso bersama gadis-gadis daerah Menteng Spesial diundang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patih-patih dan menteri-menterinya tak mau kalah gaya. Tinggal hulubalang-hulubalang cemas melihat Panglima Tertinggi bertingkah seperti anak kecil urung disunat.&lt;br /&gt;Dokter pribadinya berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak apa. Baik buat ginjalnya, biar kencing batu PYM tidak kumat-kumat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menyanyi! Menyanyi dong Pak!” Gadis-gadis merengek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik, baik. Tapi kalian mengiringi, ya!” Bergaya burung unta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Siapa bilang Bapak dari Blitar&lt;br /&gt;Bapak ini dari Prambanan&lt;br /&gt;Siapa bilang rakyat-&lt;br /&gt;Malaysia yang kelaparan …!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Mari kita bergembira….” Nada-nada sumbang bau champagne.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sudut gelap istana tabib Cina berbisik-bisik dengan seorang menteri.&lt;br /&gt;“Gembira sekali nampaknya dia.”&lt;br /&gt;“Itu tandanya hampir mati.”&lt;br /&gt;“Mati?”&lt;br /&gt;“Ya, mati. Paling tidak lumpuh. Kawan Mao berpesan sudah tiba saatnya.”&lt;br /&gt;“Tapi kami belum siap.”&lt;br /&gt;“Kapan lagi? Jangan sampai keduluan klik Nasution.”&lt;br /&gt;“Tunggu saja tanggal mainnya!”&lt;br /&gt;“Nah, sampai ketemu lagi!” (Tabib Cina tersenyum puas.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendung makin tebal di langit, bintang-bintang bersinar guram satu-satu. Pesta diakhiri dengan lagu langgam ‘Kembang Kacang’ dibawakan nenek-nenek kisut 68 tahun.&lt;br /&gt;“Kawan lama Presiden!” bisik orang-orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tamu-tamu permisi pamit. Perut kenyangnya mendahului kaki-kaki setengah lemas; beberapa orang muntah-muntah mabuk di halaman parkir.&lt;br /&gt;Sendawa mulut mereka berbau alkohol. Sebentar-sebentar kiai mengucap ‘alhamdulillah’ secara otomatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri-menteri pulang belakangan bersama gadis-gadis, cari kamar sewa. Pelayan-pelayan sibuk kumpulkan sisa-sisa makanan buat oleh-oleh anak istri di rumah.&lt;br /&gt;Anjing-anjing istana mendengkur kekenyangan-mabuk anggur Malaga. Pengemis-pengemis di luar pagar istana memandang kuyu, sesali nasib kenapa jadi manusia dan bukan anjing!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desas-desus Soekarno hampir mati lumpuh cepat menjalar dari mulut ke mulut. Meluas seketika, seperti loncatan api kebakaran gubuk-gubuk gelandangan di atas tanah milik Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai juga ke telinga Muhammad dan Jibril yang mengubah diri jadi sepasang burung elang. Mereka bertengger di puncak menara emas bikinan pabrik Jepang. Pandangan ke sekeliling begitu lepas bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allahuakbar, nabi palsu hampir mati.” Jibril sambil mengepakkan sayap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi ajarannya tidak. Nasakom bahkan telah mengoroti jiwa prajurit-prajurit. Telah mendarah daging pada sebagian kiai-kiaiku,” mendengus kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa benar yang paduka risaukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau pilih bentuk burung elang ini dan bukan manusia? Pasti kita akan dapat berbuat banyak untuk umatku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Paduka harap ingat; di Jakarta setiap hidung harus punya kartu penduduk. Salah kena garuk razia gelandangan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih baik sebagai ruh, bebas dan aman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Guna urusan bumi wajib kita jadi sebagian dari bumi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buat apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Agar kebenaran tidak telanjang di depan kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi tetap di luar manusia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, untuk mengikuti gerak hati dna pikiran manusia justru sulit bila satu dengan mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan dalam wujud yang sekarang mata kita tajam. Gerak kita cepat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akh, ya. Kau betul, Tuhan memberkatimu Jibril. Mari kita keliling lagi. Betapapun durhaka, kota ini mulai kucintai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang elang terbang di udara senja Jakarta yang berdebu menyesak dada dan hidung mereka asap knalpot dari beribu mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas Pasar Senen tercium bau timbunan sampah menggunung, busuk dan mesum.&lt;br /&gt;Kemesuman makin keras terbau di atas Stasiun Senen. Penuh ragu Nabi hinggap di atas atap seng, sementara Jibril membuat lingkaran manis di atas gerbong-gerbong kereta Daerah planet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelacur-pelacur dan sundal-sundal asyik berdandan. Bedak-bedak penutup bopeng, gincu merah murahan dan pakaian pengantin bermunculan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah-bawah gerbong, beberapa sundal tua mengerang –lagi palang merah– kena raja singa. Kemaluannya penuh borok, lalat-lalat pesta mengisap nanah. Senja terkapar menurun, diganti malam bertebar bintang di sela-sela awan. Pemuda tanggung masuk kamar mandi berpagar sebatas dada, cuci lendir. Menyusul perempuan gemuk penuh panu di punggung, kencing dan cebok. Sekilas bau jengkol mengambang. Ketiak berkeringat amoniak, masih main akrobat di ranjang reot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar lain, bandot tua asyik… di atas perut perempuan muda 15 tahun. Si perempuan … dihimpit sibuk cari … dan … lagu melayu.&lt;br /&gt;Hansip repot-repot …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang Paduka renungi.”&lt;br /&gt;“Di negeri dengan rakyat Islam terbesar, mereka begitu bebas berbuat cabul!” Menggeleng-gelengkan kepala.&lt;br /&gt;“Mungkin pengaruh adanya Nasakom! Sundal-sundal juga soko guru revolusi,” kata si Nabi palsu.&lt;br /&gt;“Ai, binatang hina yang melata. Mereka harus dilempari batu sampai mati. Tidakkah Abu Bakar, Umar dan Usman teruskan perintahku pada kiai-kiai di sini? Berzina, laangkah kotor bangsa ini. Batu, mana batu!!”&lt;br /&gt;“Batu-batu mahal di sini. Satu kubik 200 rupiah, sayang bila hanya untuk melempari pezina-pezina. Lagipula….”&lt;br /&gt;“Cari di sungai-sungai dan di gunung-gunung!”&lt;br /&gt;“Batu-batu seluruh dunia tak cukup banyak guna melempari pezina-pezinanya. Untuk dirikan masjid pun masih kekurangan, Paduka lihat?”&lt;br /&gt;“Bagaimanapun tak bisa dibiarkan!” Nabi merentak.&lt;br /&gt;“Sundal-sundal diperlukan di negeri ini ya, Rasul.”&lt;br /&gt;“Astaga! Sudahkah Iblis menguasai dirimu Jibril?”&lt;br /&gt;“Tidak Paduka, hamba tetap sadar. Dengarlah penuturan hamba. Kelak akan lahir sebuah sajak, begini bunyinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pelacur-pelacur kota Jakarta&lt;br /&gt;Naikkan tarifmu dua kali&lt;br /&gt;dan mereka akan kelabakan&lt;br /&gt;mogoklah satu bulan&lt;br /&gt;dan mereka akan puyeng&lt;br /&gt;lalu mereka akan berzina&lt;br /&gt;dengan istri saudaranya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penyair gila! Cabul!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenyataan yang bicara. Kecabulan terbuka dan murah justru membendung kecabulan laten di dada-dada mereka.” Muhammad membisu dengan wajah bermuram durja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan toko buku ‘Remaja’ suasana meriak kemelut, ada copet tertangkap basah. Tukang-tukang becak mimpin orang banyak menghajarnya ramai-ramai. Si copet jatuh bangun minta ampun meski hati geli menertawakan kebodohannya sendiri: hari naas, ia keliru jambret dompet kosong milik kopral sedang preman kosong milik Kopral setengah preman. Hari naas selalu berarti tinju-tinju, tendangan sepatu dan cacian tak menyenangkan baginya. Tapi itu rutin–. Polisi-polisi Senen tak acuh melihat tontonan sehari-hari: orang mengeroyok orang sebagai kesenangan. Mendadak sesosok baju hijau muncul, menyelak di tengah. Si copet diseret keluar dibawa entah kemana.&lt;br /&gt;Orang-orang merasa kehilangan mainan kesayangannya, melongo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia jagoan Senen; anak buah Syafii, raja copet!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang tadi mencuri tidak?” Pandangan Nabi penuh selidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul. Orang sini menyebutnya copet atau jambret.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa mereka hanya sekali pukul si tangan panjang? Mestinya dipotong tangan celaka itu. Begitu perintah Tuhan kepadaku dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka tak punya pedang, ya Rasul.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Toh, bisa diimpor!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka perlu menghemat devisa. Impor pedang dibatasi untuk perhiasan kadet-kadet Angkatan Laut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu dengan apa bangsa ini berperang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan omong kosong dan bedil-bedil utangan dari Rusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Negara kapir itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, sebagian lagi dari Amerika. Negara penyembah harta dan dolar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama jahat keduanya pasti!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama baik dalam mengaco dunia dengan kebencian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dunia sudah berubah gila!” Mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, dunia sudah tua!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Padahal Kiamat masih lama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih banyak waktu ya, Nabi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak waktu untuk apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk mengisi kesepian kita di sorga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, betul, sesungguhnya tontonan ini mengasyikkan, meskipun kotor. Akan kuusulkan dipasang TV di sorga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua elang terbang di gelap malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jibril! Coba lihat! Ada orang berlari-lari anjing ke sana! Hatiku tiba-tiba merasa tak enak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hamba berperasaan sama. Mari kita ikuti dia, ya Muhammad.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar kemudian di atas sebuah pohon pinang yang tinggi mereka bertengger. Mata tajam mengawasi gerak-gerik orang berkaca mata.&lt;br /&gt;“Siapa dia? Mengapa begitu gembira?”&lt;br /&gt;“Jenderal-jenderal menamakannya Durno, Menteri Luar Negeri merangkap pentolan mata-mata.”&lt;br /&gt;“Sebetulnya siapa menurut kamu?”&lt;br /&gt;“Dia hanya Togog. Begundal raja-raja angkara murka.”&lt;br /&gt;“Ssst! Surat apa di tangannya itu?”&lt;br /&gt;“Dokumen.”&lt;br /&gt;“Dokumen?”&lt;br /&gt;“Dokumen Gilchrist, hamba dengar tercecer di rumah Bill Palmer.”&lt;br /&gt;“Gilchrist? Bill Palmer? Kedengarannya seperti nama kuda!”&lt;br /&gt;“Bukan, mereka orang-orang Inggris dan Amerika.”&lt;br /&gt;“Ooh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah sana Togog melonjak kegirangan. Sekali ini betul-betul makan tangan, nemu jimat gratis. Kertas kumal mana ia yakin bakal bikin geger dunia. Tak henti-henti diciuminya jimat wasiat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angannya mengawang, tiba-tiba senyum sendiri.&lt;br /&gt;“Sejarah akan mencatat dengan tinta emas: Sang Togog berhasil telanjangi komplotan satria-satria pengaman Baginda Raja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbayang gegap gempita pekik sorak rakyat pengemis di lapangan Senayan.&lt;br /&gt;“Hidup Togog, putra mahkota! Hidup Togog, calon baginda kita!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi ia senyum-senyum sendiri. Baginda Tua hampir mati, raja muda togog segera naik takhta, begitu jenderal selesai-selesai dibikin mati kutunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu markas BPI ditendang keras-keras tiga kali. Itu kode!&lt;br /&gt;“Apa kabar Yang Mulia Togog?”&lt;br /&gt;“Bikin banyak-banyak fotokopi dari dokumen ini! Tapi awas, top secret. Jangan sampai bocor ke tangan dinas-dinas intel lain. Lebih-lebih intel AD.”&lt;br /&gt;“Tapi ini otentik apa tidak, Pak Togog? Pemeriksaan laboratoris…?”&lt;br /&gt;“Baik, baik Yang Mulia” Pura-pura ketakutan.&lt;br /&gt;“Nah, kan begitu. BPI-Togog harus disiplin dan taat tanpa reserve pada saya tanpa hitung-hitung untung atau rugi. Semua demi revolusi yang belum selesai!”&lt;br /&gt;“Betul, Pak, eh, Yang Mulia.”&lt;br /&gt;“Jadi kapan selesai?”&lt;br /&gt;“Seminggu lagi, pasti beres.”&lt;br /&gt;“Kenapa begitu lama?”&lt;br /&gt;“Demi security, Pak. Begitu saya baca dari buku-buku komik detektif.”&lt;br /&gt;“Bagus, kau rajin meng-up-grade otak. Soalnya begini, saya mesti lempar kopi-kopi itu di depan hidung para panglima waktu meeting dengan PBR. Gimana?”&lt;br /&gt;“Besok juga bisa, asal uang lembur…,” sembari membuat gerak menghitung uang dengan jari-jarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Togog meluruskan seragam-dewannya. Dan gumpalan uang puluhan ribu keluar dari kantong belakang. Sambil tertawa senang ditepuk-tepuknnya punggung pembantunya.&lt;br /&gt;“Diam! Diam! Dokumen ini bakal bikin kalang kabut Nekolim dan antek-anteknya dalam negeri.”&lt;br /&gt;“Siapa mereka?”&lt;br /&gt;“Siapa lagi? Natuurlijk de— ‘our local army friends’. Jelas toh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal Togog jimat ajaib ganti berganti dibaca jin-jin liar atau setan-setan bodoh penyembah Dewa Mao nan agung. Mereka jadi penghuni markas BPI secara gelap sejak bertahun-tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahdan desas-desus makin laris seperti nasi murah. Rakyat jembel dan kakerlak-kakerlak baju hijau rakus berebutan, melahap tanpa mengunyah lagi.&lt;br /&gt;“Soekarno hampir mati lumpuh, jenderal kapir mau coup, bukti-bukti lengkap di tangan partai!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, ramalan dukun-dukun Cina sama sekali meleset. Soekarno tidak jadi lumpuh, pincang sedikit cuma. Dan pincang tak pernah bikin orang mati. Tanda kematian tak kunjung tampak, sebaliknya Soekarno makin tampak muda dan segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata orang dia banyak injeksi H-3, obat pemulih tenaga kuda. Kecewalah sang Togog melihat baginda raja makin rajin pidato, makin gemar menyanyi, makin getol menari dan makin giat menggilir ranjang isteri-isteri yang entah berapa jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu PBR dan Togog termangu-mangu berdua di Bogor. Briefing dengan Panglima-panglima berakhir dengan ganjalan-ganjalan hati yang tak lampias.&lt;br /&gt;“Jangan-jangan dokumen itu palsu, hai Togog.” PBR marah-marah.&lt;br /&gt;“Akh, tak mungkin Pak. Kata pembantu saya, jimat tulen.”&lt;br /&gt;“Tadinya sudah kau pelajari baik-baik?”&lt;br /&gt;“Sudah pak. Pembantu-pembantu saya bilang, siang malam mereka putar otak dan bakar kemenyan.”&lt;br /&gt;“Juga sudah ditanyakan pada dukun-dukun klenik?”&lt;br /&gt;“Lebih dari itu, jailangkung bahkan memberi gambaran begitu pasti!”&lt;br /&gt;“Apa katanya?”&lt;br /&gt;“Biasa, de bekendste op vrije voeten gesteld, altjid…!”&lt;br /&gt;“Akh, lagi-lagi dia. Nasution sudah saya kebiri dengan embel-embel –. Dia tidak berbahaya lagi.&lt;br /&gt;“Ya, tapi jailangkung bilang CIA yang mendalangi ‘our local army friends’.”&lt;br /&gt;“Gilchrist toh orang Inggris, kenapa CIA dicampuradukkan!”&lt;br /&gt;“Begini, Pak. Mereka telah berkomplot. Semua gara-gara kita– kawan Mao buka front baru dengan konfrontasi Malaysia.”&lt;br /&gt;“Dunia tahu, Hanoi bisa bernapas sekarang. Paman Ho agak bebas dari tekanan Amerika.”&lt;br /&gt;“Kenapa begitu?”&lt;br /&gt;“Formil kita berhadapan dengan Inggris-Malaysia. Sesungguhnya Amerika yang kita rugikan: mereka harus memecah armadanya jadi dua. Sebagian tetap mengancam RRT lainnya mengancam kita!”&lt;br /&gt;“Mana lebih besar yang mengancam kita atau RRC?” Ada suara cemas.&lt;br /&gt;“Kita. Itu sebabnya AD ogah-ogahan mengganyang Malaysia. Mereka khawatir Amerika menjamah negeri ini. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno tunduk. Keterangan Togog membuatnya sadar telah ditipu mentah-mentah sahabat Cinanya. Kendornya tekanan Amerika berarti biaya pertahanan negeri Cina dapat ditransfer ke produksi. Dan Indonesia yang terpencil jadi keranjang sampah raksasa buat menampung barang-barang rongsokan Cina yang tak laku di pasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiriman bom atom –upah mengganyang Malaysia– tak ditepati oleh Chen-Yi yang doyan omong kosong. Tiba-tiba PBR naik pitam.&lt;br /&gt;“Togog, panggil Duta Cina kemari. Sekarang!”&lt;br /&gt;“Persetan dengan tengah malam. Bawa serdadu-serdadu pengawal itu semua kalau kamu takut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti maling kesiram air kencing togog berangkat di malam dingin kota bogor. Angan-angan untuk seranjang dengan gundiknya yang di Cibinong buyar. Dua jam kemudian digiring masuk seorang Cina potongan penjual bakso. Dia cuma pakai piyama, mulutnya berbau angciu dan keringatnya berbau daging babi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa malam-malam panggil saya? Ada rejeki nih!” Duta Cina itu sudah pintar ngomong Indonesia. Dan PBR senang pada kepintarannya.&lt;br /&gt;“Betul, kawan. Malam ini juga kau harus pulang ke negeri leluhur. Dan jangan kembali kemari sebelum dibekali oleh-oleh dari Chen Yi. Ngerti tuh?”&lt;br /&gt;“Buat apa bom atom, sih?” Duta Cina mengingat kembali instruksi dari Peking, “tentaramu belum bisa merawatnya. Jangan-jangan malah terbengkalai jadi besi tua dan dijual ke Jepang. Akh, sahabat Ketua Mao; lebih baik kau bentuk angkatan kelima. Bambu runcing lebih cocok untuk rakyatmu.”&lt;br /&gt;“Gimana ini, Togog?”&lt;br /&gt;“Saya khawatir bambu runcing lebih cocok untuk bocorkan isi perut Cina WNA disini,” Togog mendongkol.&lt;br /&gt;“Jelasnya?” tanya PBR dan Duta Cina serentak.&lt;br /&gt;“Amerika mengancam kita gara-gara usul pemerintah kamu supaya Malaysia diganyang. Ngerti, tidak?” (Cina itu mengangguk). Dan sampai sekarang pemerintahmu cuma nyokong dengan omong kosong!”&lt;br /&gt;“Kami tidak memaksa, Bung! Kalau mau stop konfrontasi, silakan.”&lt;br /&gt;“Tidak mungkin!” PBR meradang, betul or tidak, Gog?”&lt;br /&gt;“Akur, pak! Konfrontasi mesti jalan terus. Saya jadi punya alasan berbuat nekad.”&lt;br /&gt;“Nekad bagaimana?” Cina menyipitkan matanya yang sudah sipit.&lt;br /&gt;“Begitu Amerika mendarat akan saya perintahkan potong leher semua Cina-cina WNA.” Menggertak.&lt;br /&gt;“Ah, jangan begitu kawan Haji Togog. Anda kan orang beragama!”&lt;br /&gt;“Masa bodoh. Kecuali kalau itu bom segera dikirim.”&lt;br /&gt;“Baik, baik. Malam ini saya berangkat.”&lt;br /&gt;PBR mau tak mau kagum akan kelihaian Togog. Mereka berangkul-rangkulan.&lt;br /&gt;“Kau memang Menteri Luar Negeri terbaik di dunia.”&lt;br /&gt;“Tapi Yani jenderal terbaik, kata Bapak kemarin.”&lt;br /&gt;“Memang ada apa rupanya? Apa dia ogah-ogahan juga ganyang malaysia?”&lt;br /&gt;“Maaf PYM hal ini kurang jelas. Faktanya keadaan berlarut-larut hanya menguntungkan RRC.”&lt;br /&gt;“Yani ragu-ragu?”&lt;br /&gt;“Begitulah. Sebab PKI ikut jadi sponsor pengganyangan. Sedangkan mayoritas AD anggap aksi ini tak punya dasar.”&lt;br /&gt;“Lalu CIA dengan ‘our local army friends’ nya mau apa?”&lt;br /&gt;“Konfrontasi harus mereka hentikan. Caranya mana kita bisa tebak? Mungkin coba-coba membujuk dulu lewat utusan diplomat penting. Kalau gagal cara khas CIA akan mereka pakai.”&lt;br /&gt;“Bagaimana itu?”&lt;br /&gt;“Unsur-unsur penting dalam konfrontasi akan disingkirkan. Soekarno-Subandrio-Yani dan PKI harus lenyap!”&lt;br /&gt;Sang PBR mengangguk-angguk karena ngantuk dan setuju pada analisia buatan Togog.&lt;br /&gt;Hari berikutnya berkicaulah Togog di depan rakyat jembel yang haus, penjual obat pinggir jalan, ia berpidato. Ia sering lupa mana propaganda dan mana hasil gubahan sendiri.&lt;br /&gt;“Saudara-saudara, di saat ini ada bukti-bukti lengkap di tangan PYM Presiden PBR tentang usaha Nekolim untuk menghancurkan kita. CIA telah… dengan barisan algojonya yang bercokol dalam negeri untuk menyingkirkan musuh-musuh besarnya. Waspadalah saudara-saudara. Soekarno-Subandrio-Yani dan rakyat progresif-revolusioner lainnya akan mereka musnahkan dari muka bumi. Tiga orang ini justru dianggap paling berbahaya untuk majikan mereka di London dan Washington.&lt;br /&gt;“Tapi jangan gentar, Saudara-saudara! Saya sendiri tidak takut demi Presiden/PBR dan demi revolusi yang belum selesai. Saya rela berkorban jiwa raga. Sekali lagi tetaplah waspada. Sebab algojo-algojo tadi ada di antara Saudara-saudara.”&lt;br /&gt;Rakyat bersorak kegirangan. Bangga punya Wakil Perdana Menteri berkaliber Togog yang tidak gentar mati. Sejenak mereka luput perut-perut lapar ditukar dengan kegemasan dan geram meluap-luap atas kekurangajaran nekolim.&lt;br /&gt;Rapat diakhiri dengan membakar orang-orangan berbentuk Tengku sambil menari-nari. Bendera-bendera Inggris dan Amerika yang susah payah dijahit perempuan-perempuan mereka di rumah, diinjak-injak dan dirobek penuh rasa kemenangan dan kepuasan luar biasa.&lt;br /&gt;Setelah bosan mereka bubar satu-satu. Tinggal pemuda-pemudanya yang melantur kesana kemari, bergaya tukang copet. Mereka ingin mencari tahu algojo-algojo Nekolim yang dikatakan Togog barusan.&lt;br /&gt;Di Harmoni segerombolan tukang becak asyik kasak-kusuk, bicara politik. Kalau di Rusia Lenin bilang koki juga mesti melek politik, di Jakarta tukang-tukang becak juga keranjingan ngomong politik.&lt;br /&gt;“Katanya Dewan Jenderal mau coup. Sekarang Yani mau dibunuh, mana yang benar?”&lt;br /&gt;“Dewan Jenderal siapa pemimpinnya?”&lt;br /&gt;“Pak Yani, tentu.”&lt;br /&gt;“Jadi Yani akan bunuh Yani. Gimana, nih?”&lt;br /&gt;“Aaah! Sudahlah. Kamu tahu apa.” Suara sember.&lt;br /&gt;“Untung Menteri Luar Negeri kita jago. Rencana nekolim bisa dibocorin.”&lt;br /&gt;“Dia nggak takut mati?”&lt;br /&gt;“Tentu saja kapan dia sudah puas hidup. Berapa perawan dia ganyang!” suara sember menyela lagi.&lt;br /&gt;Yang lain-lain tidak heran atau marah. Seakan sudah jamak Menteri mengganyang perawan dan isteri orang.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Pengganyangan Malaysia yang makin bertele-tele segera dilaporkan PBR ke Peking.&lt;br /&gt;“Kawan-kawan seporos, harap bom atom segera dipaketkan, jangan ditunda-tunda. Tentara kami sudah mogok berperang, jenderal-jenderal asyik ngobyek cari rejeki dan prajurit-prajurit sibuk ngompreng serta nodong.&lt;br /&gt;Jawaban dari Peking tak kunjung datang. Yang datang membanjir hanya tekstil, korek api, senter, sandal, pepsodent, tusuk gigi dan barang-barang lain bikinan cina.&lt;br /&gt;Soekarno tiba-tiba kejatuhan ilham akan pentingnya berdiri di atas kaki sendiri. Rakyat yang sudah lapar dimarahi habis-habisan karena tak mau makan lain kecuali beras.&lt;br /&gt;“Padahal saudara-saudara. Saya tahu banyak sekali makanan bervitamin selain beras. Ubi, jagung, singkong, tikus, bekicot, dan bahkan kadal justru obat eksim yang paling manjur. Saya sendiri dikira makan nasi tiap hari? Tidak! PBR-mu ini cuma kadang-kadang makan nasi sekali sehari. Bahkan sudah sebulan ini tidak makan daging. Tanya saja Jenderal Saboer!”&lt;br /&gt;“Itu Pak Leimena di sana (menunjuk seorang kurus kering). Dia lebih suka makan sagu daripada nasi. Lihat Pak Seda bertubuh tegap (menunjuk seorang bertubuh kukuh mirip tukang becak), dia tak bisa kerja kalau belum sarapan jagung.”&lt;br /&gt;Paginya ramai-ramai koran memuat daftar menteri-menteri yang makan jagung. Lengkap dengan sekalian potretnya.&lt;br /&gt;Sayang, rakyat sudah tidak percaya lagi, mereka lebih percaya pada pelayan-pelayan istana. Makan pagi Soekarno memang bukan nasi, tapi roti panggang bikinan Perancis di HI. Guna mencegah darah tingginya kumat, dia memang tak makan daging. Terpaksa hanya telor goreng setengah matang dicampur sedikit madu pesanan dari Arab sebagai pengiring roti. Menyusul buah apel kiriman Kosygin dari Moskow.&lt;br /&gt;Namun rakyat tidak heran atau marah. Seakan sudah jamak seorang presiden harus bohong dan buka mulut seenaknya. Rakyat Indonesia rata-rata memang pemaaf dan baik hati. Kebohongan dan kesalahan pemimpin selalu disambut dengan dada lapang.&lt;br /&gt;Hati mereka bagai mencari, betapa pun langit makin mendung, sinarnya tetap ingin menyentuh bumi. ***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Dikutip dari: Pleidoi Sastra: Kontroversi Cerpen Langit Makin Mendung Kipandjikusmin: 17-41, 2004, MELIBAS: Jakarta).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-6838472702988372330?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/6838472702988372330/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=6838472702988372330' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/6838472702988372330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/6838472702988372330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/05/cerpen-kontroversial-zaman-hb-jassin.html' title='Cerpen Kontroversial Zaman HB. Jassin'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-4852179882239138700</id><published>2011-05-07T18:24:00.000-07:00</published><updated>2011-05-07T18:30:31.259-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Puisi Terakhir untuk Tami</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;       Karena dirimu, aku tahu, bahwa dicintai itu tidak lebih baik dari mencintai&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Bahkan kita belum sempat bertemu. ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Padahal, antara Musi dan Batanghari sesungguhnya masih satu jiwa. Mungkin karena itu pula, perkenalan kita yang singkat, kata-kata yang serba terbatas, dan senyum yang belum kunjung tertangkap oleh retina itu bukanlah penghalang bagi hati kita untuk saling mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       "Bisakah kita kehilangan tanpa pernah memiliki, Di?"&lt;br /&gt;       "Tergantung sejauh mana pemahaman kita tentang kepemilikan, Mi."&lt;br /&gt;       "Apa kamu siap memiliki kehilangan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu. Aku hanya paham bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini akan hilang. Siap atau tidak siap, kita harus menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Belakangan ini aku disibukkan dengan pekerjaan di kantor. Pak Yovie mendaulatku untuk membacakan monolog di sebuah acara di Pangalengan. Ya, baru saja aku lulus kuliah dan menjalani hari-hari pengabdianku di sebuah instansi di bawah Kementerian Keuangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku tidak suka udara dingin. Udara dingin pernah membuatku menyerah menempuh pendidikan di ITB. Saat itu hidungku hampir selalu berdarah-darah karena pembuluh darah yang rapuh—tak kuat udara dingin. Dan besok aku harus pergi ke sana lagi. Dua ketakutan lahir di dadaku. Pertama, karena udara dingin itu. Kedua, karena kenangan-kenangan di masa lalu yang segera menyergapku begitu aku menjejakkan kaki di Bumi Parahyangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       "Hati-hati, Di."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Kau berkata seakan-akan aku akan menghilang selamanya. Memang, di acara itu juga akan diadakan arung jeram. Siapapun yang lengah bisa saja terpental dari perahu, menumbur batu, pingsan, lalu terbawa arus ke kematian. Tetapi, tentu aku tidak ingin berpikir macam-macam. Aku percaya pada standar keamanan yang diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Hal kedua, entahlah, aku juga merasa kau mencintaiku. Sementara aku belum siap mencintaimu. Kau sendiri yang paham, betapa luka telah akrab dengan dadaku. Segala cinta yang pernah mampir tiba-tiba berlenyapan satu per satu dengan cara yang kadang tidak bisa kuterima dengan logika. Katakanlah pacar pertamaku yang mata duitan itu, pacar keduaku yang memutuskan menikah dengan orang lain tanpa memberikan alasan yang dapat kuterima, dan terakhir Si Dokter Gigi yang menyerah karena mengetahui pola mutasi di tempat bekerjaku yang baru. Hanya kau, yang berani meyakinkan aku, bahwa bagaimanapun aku, kau akan tetap di sampingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kau takut kecoa. Aku takut cacing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kau suka kucing. Aku suka kepiting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Dahimu bekernyit, "Apa bagusnya kepiting?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     "Apa bagusnya kucing?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     "Kucing itu hewan yang lucu dan manja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     "Kepiting itu jalannya miring."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     "Semua orang juga tahu kepiting jalannya miring."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     "Kepiting punya capit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     "Semua orang juga tahu kepiting punya capit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     "Tapi orang-orang tidak tahu kalau kau malu, mukamu akan seperti kepiting rebus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kau diam. Dan pasti memerah. Aku memang belum pernah melihat wajahmu. Tapi aku yakin jenis kulitmu yang putih itu akan mudah memerah kalau terkena panas dan menahan malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      "Di...."&lt;br /&gt;      "Ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      "Bisakah kita kehilangan tanpa pernah memiliki?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Giliran aku yang diam. Kau juga diam di seberang sana. Perlahan, udara dingin di Kemayoran mengepung tulang-tulangku. “Di, aku mencintaimu....” lanjutmu pelan dan langsung menutup telepon setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku sempat beranggapan bahwa perempuan-perempuan yang mencintaiku akan berakhir dengan airmata. Hal ini tentu bukan tidak beralasan. Penyair seperti aku cenderung memilih kesunyian sebagai tempat pelepasan. Katarsis. Dan pada akhirnya, mereka merasa diduakan. Padahal, aku tentu masih mencintainya. Masih mencintai setiap kenangan dan waktu yang pernah kubagi. Aku hanya memiliki duniaku sendiri. Aku hanya mencintai kesunyianku sendiri—selain cintaku pada kecintaan yang dipersembahkan untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Luka adalah lelucon yang datang tiba-tiba.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tiba-tiba di perteleponan kita yang kesekian, kau mengatakan hal itu. Sepertinya selama ini aku abai pada perasaanmu. Sepertinya selama ini aku hanya peduli pada kelukaanku sendiri. Dan hari itu aku menyadari bahwa luka bukan hanya milikku. Tetapi juga milikmu. Dan aku begitu ingin belajar kepadamu tentang cara menghadapi kelukaan yang sedemikian akut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Hidup yang lucu, atau kita yang lucu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Atau Tuhan yang lucu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku tertawa. Kau tertawa. Dan kita saling menertawakan diri kita masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kenapa kau mencintaiku, Mi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Karena itu kamu....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Karena aku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Jika orang lain, aku tidak akan mungkin mencintai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Apa istimewanya aku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Apa butuh keistimewaan untuk mencintaimu, Di?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kau begitu sering membuat aku terdiam dengan pertanyaan dan pernyataanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kau tidak tahu masa laluku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Apa kau tahu masa laluku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tidak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Aku tidak peduli dengan segala hal yang pernah kau lakukan di masa lalumu, Di....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Aku tidak berani mencintaimu, Mi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Aku tidak memaksa kamu mencintaiku. Tapi setidaknya biarkan aku mencintaimu, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mungkin seminggu lagi aku akan pulang ke Palembang. Tetapi, kau bilang seminggu lagi kau akan kembali ke Bandung—sebab telah habis masa liburmu. Jarak antara Palembang—Jambi sama dengan jarak antara Jakarta—Bandung. Tetapi jarak di antara kita sesungguhnya jauh lebih dekat dari sepasang bola mata yang tak kunjung saling bisa membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah buku Kumpulan Cerpen “Dongeng Afrizal” ku terbit, aku memang merencanakan akan melakukan tur ke sejumlah kota untuk bedah buku. Palembang, tempat aku dilahirkan dan dibesarkan, sudah barang tentu menjadi tujuan wajib. Sebentar lagi juga ulang tahunmu, mungkin menemuimu nanti akan menjadi sebuah hadiah kejutan terindah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, kesibukan-kesibukan yang makin padat, antara pekerjaanku sebagai CPNS di Ditjen Perbendaharaan yang dimix dengan rutinitasku sebagai penulis (dan penyair) membuat kita jarang sekali berkomunikasi. Terakhir kali kau mengirim SMS untuk mengirimkan bukuku itu ke rumahmu. Aku sempat mencandaimu, ingin ditambahkan apa di buku tersebut—semisal tanda tangan, cap bibir, atau foto-fotoku. Tetapi, SMS yang terlewat malam itu tidak kau balas. Kau pasti sudah tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah itu, aku tidak tahu kenapa aku lupa menanyakan kabarmu. Dan heran pula diriku mengetahui kau tidak sekali pun megirim atau menanyakan kabarku. Mungkin kau sedang sangat sibuk—sepertiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Akhirnya, karena aku lamat-lamat merasakan rindu mengalir di benakku—memikirkanmu, aku mengirim SMS kepadamu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tami, apakah kirimanku sudah sampai ke hatimu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dibalas. Mungkin kau sedang tidak punya pulsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Beberapa jam kemudian, kau menghubungiku. Namun bukan suaramu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Nak Pringadi, ya?” Suara seorang perempuan yang lebih tua terdengar bersahaja. “Saya ibunya Tami.” Lanjutnya mengenalkan diri. Mendadak hatiku gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Iya, Bu, saya Pringadi, Taminya ke mana, Bu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Bukunya sudah sampai. Tadi kami baca. Tidak salah Tami mengagumimu dan banyak terinspirasi dari tulisan-tulisan Nak Pringadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku diam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kalau Tami ada salah-salah kata selama berteman dengan Nak Pringadi, mohon maafkan dia ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tami ke mana, Bu?” aku mengulang pertanyaanku. Dadaku tiba-tiba sesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tami belum sempat membaca bukunya. Tami keburu dipanggil Allah. Beberapa hari lalu, dia masuk rumah sakit. Demam berdarah. Dia....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Jangan dilanjurkan, Bu!” aku memotongnya. “Ini pasti bercanda, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ini kenyataan, Nak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tapi baru beberapa hari lalu kami berkomunikasi, Bu. Kematian tidak mungkin datang secepat ini pada perempuan sebaik dia!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku tidak mendengarkan perkataan selanjutnya dari ibunya Tami. Aku mendadak lemas. Terisak. Dan membiarkan suara di sana berbicara sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kubuka laptopku dan kusaksikan profil facebooknya. Segala kenangan tentangnya mendadak bermunculan dan berkelindan di mataku. Sebuah kalimat yang sering ia utarakan itu mengiang-ngiang di benakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bisakah kita kehilangan tanpa pernah memiliki, Di?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Andai kita berpisah, pastilah karena kematian telah&lt;br /&gt;mengisi rongga dadaku. Sebab di langit mana pun kita&lt;br /&gt;berada, bulan masih tetap sama, dan kalender-kalender&lt;br /&gt;yang bertanggalan, seperti helai dedaunan---&lt;br /&gt;terlepas begitu saja dari ranting. Perjalanan seringkali&lt;br /&gt;tampak asing. Jejak sepatu kaca, yang sengaja kau tinggalkan,&lt;br /&gt;kerap tak terbaca. Dan gigil palem, menawarkan kesepian&lt;br /&gt;yang lebih buruk dari cuaca.  Aku tahu, aku tahu&lt;br /&gt;keberadaanku yang jauh dari sempurna bikin matamu sakit,&lt;br /&gt;tetapi hatiku yang tak mengenal rasa sakit mencoba tabah&lt;br /&gt;melebihi semua gegabah yang sering kulakukan.&lt;br /&gt;Andai kita berpisah, pastilah karena bulan&lt;br /&gt;di langit sudah tak sama. Angin malam,&lt;br /&gt;gerak bayangan di remang taman, dan&lt;br /&gt;sebuah lampu di tengah kolam melengkapi musim;&lt;br /&gt;Aku tergeletak. dadaku retak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jakarta, 2011&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-4852179882239138700?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/4852179882239138700/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=4852179882239138700' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/4852179882239138700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/4852179882239138700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/05/puisi-terakhir-untuk-tami.html' title='Puisi Terakhir untuk Tami'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-1125097644793517808</id><published>2011-05-06T04:51:00.001-07:00</published><updated>2011-05-06T04:54:07.832-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Lima Sajak Pringadi di Majalah Horison, Maret 2011</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ubin&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;     Ia sebetulnya benci sapu ijuk tiap kali disuruh ibunya&lt;br /&gt;membersihkan teras rumah yang berubin itu.&lt;br /&gt;Bentuknya yang persegi membuat ia membayangkan&lt;br /&gt;luasnya adalah kuadrat tiap sisi dan matematikanya yang&lt;br /&gt;selalu dapat nilai lima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dua buah kursi dibiarkan menganggur di dekat pintu, ia&lt;br /&gt;duduk sejenak dan menyaksikan ubin-ubin itu menggodanya.&lt;br /&gt;Ia tertawa gembira, diangkatnya satu kaki, dan bermain&lt;br /&gt;cak ingkling semaunya sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Di Ayunan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;    Bermain ayunan sendirian sore itu, seekor kucing melompat&lt;br /&gt;manja ke pangkuannya. Ia ingat, dulu, seorang temannya pernah&lt;br /&gt;meninggalkan tanda hati di ayunan ini. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Cinta masa lalu tak lebih&lt;br /&gt;dari cinta monyet.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Diraba dadanya, seperti ada sesuatu yang kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Diraba yang kosong itu, sungai lahir dari matanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menyeberang Jalan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;    Jalan di depan rumahnya sulit diseberangi. Ia harus menoleh&lt;br /&gt;ke kanan dan ke kiri, sampai benar-benar yakin tak ada kendaraan&lt;br /&gt;yang sedang ditunggangi malaikat maut. Ia takut, pesan ibu&lt;br /&gt;di kantong bajunya tercecer di aspal yang berlubang itu. Karena itulah,&lt;br /&gt;ia menyeberang pelan-pelan sambil memegangi dadanya yang&lt;br /&gt;menyimpan kesepian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ia tak pernah percaya pada zebra cross.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ia juga tak pernah percaya lampu merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hujan dalam Sebuah Ingatan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;     &lt;br /&gt;Sepanjang Jalan Bungur, hujan mengantarkan jejak&lt;br /&gt;kaki yang ia tinggalkan. Ada yang terselip di antara roda&lt;br /&gt;kendaraan. Didedahkannya betis kaki, bulu-bulu halus&lt;br /&gt;berlomba-lomba memanjat sampai pangkal paha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;    Mungkin hujan adalah wanita. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    Seketika ia berharap tak ada degam di dadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Musim Penghujan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;      Musim hujan terpanjang waktu itu, kita berteduh di &lt;br /&gt;beringin yang rimbun. Selalu ada yang memercik ke balik &lt;br /&gt;kemejamu, titik-titik air yang lincah, berkelit dari dedaunan &lt;br /&gt;yang rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Aku tidak sudi, melihatmu berlari sambil menangkupkan &lt;br /&gt;jaket di rambutmu yang pecah oleh sinar matahari. Jejak-jejak&lt;br /&gt;sepatumu lengket di tanah yang becek. Lalu menjadi kolam-kolam &lt;br /&gt;kecil yang merindukan ikan dan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Mungkinlah, seorang pengembara tidak pernah takut &lt;br /&gt;musim penghujan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-1125097644793517808?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/1125097644793517808/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=1125097644793517808' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/1125097644793517808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/1125097644793517808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/05/lima-sajak-pringadi-di-majalah-horison.html' title='Lima Sajak Pringadi di Majalah Horison, Maret 2011'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-1208212426936430449</id><published>2011-03-26T08:21:00.001-07:00</published><updated>2011-03-26T08:21:55.329-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengumuman'/><title type='text'>TSI 4</title><content type='html'>Kepada&lt;br /&gt;Yth. Bapak/Ibu/Tuan/Puan/Saudara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami beritahukan bahwa Temu Sastrawan Indonesia-4 akan dilaksanakan di Ternate, Maluku Utara, pada 25-29 Oktober 2011. TSI-4 bertema “Sastra Indonesia Abad ke 21, Keragaman, Silang Budaya dan Problematika”. Adapun kegiatan TSI-4 ini meliputi Seminar, Musyawarah Sastrawan, Penerbitan Antologi Sastra, Panggung Sastra, Pameran/Bazar/Launching Buku, Workshop dan Wisata Budaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan itu, kami mengundang Bapak/Ibu/Tuan/Puan/Saudara untuk mengirimkan karya dengan ketentuan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Puisi :&lt;br /&gt;- lima (5) buah puisi karya asli yang ditulis dalam tahun 2011&lt;br /&gt;- belum dipublikasikan ke media mana pun&lt;br /&gt;- Biodata maksimal 10 baris&lt;br /&gt;- diemailkan ke : puisi.tsi4@gmail.com &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Cerpen :&lt;br /&gt;- tiga (2) buah cerpen karya asli yang ditulis dalam tahun 2011&lt;br /&gt;- belum dipublikasikan ke media mana pun&lt;br /&gt;- panjang cerpen berkisar 5 halaman sampai 10 halaman kwarto (600 Kata) &lt;br /&gt;- memakai font times new roman size 12&lt;br /&gt;- Biodata maksimal 10 baris&lt;br /&gt;- diemailkan ke : cerpen.tsi4@gmail.com &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengiriman karya dapat dilakukan sejak: 23 Maret 2011 – 23 Juli 2011. Bagi sastrawan yang karyanya lolos seleksi Dewan Kurator TSI-4, akan mendapat undangan resmi dari panitia TSI-4 dan honorarium tulisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia akan menyediakan penginapan (akomodasi), makan-minum (kosumsi) dan transport lokal selama kegiatan berlangsung, uang lelah dan cinderamata. Mengingat keterbatasan dana, maka kami mohon maaf tidak bisa menyediakan biaya transportasi peserta undangan dari tempat asal ke tempat tujuan (pp). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas perhatian, kerja sama dan partisipasi Bapak/Ibu/Tuan/Puan/Saudara, kami ucapkan terima kasih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternate 21 Maret 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Takzim,&lt;br /&gt;Panitia Temu Sastrawan Indonesia 4&lt;br /&gt;Ternate 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sofyan Daud Dino Umahuk&lt;br /&gt;Ketua Pelaksana Sekretaris&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-1208212426936430449?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/1208212426936430449/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=1208212426936430449' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/1208212426936430449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/1208212426936430449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/03/tsi-4.html' title='TSI 4'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-2816053958909915182</id><published>2011-03-02T01:03:00.001-08:00</published><updated>2011-03-02T01:03:47.327-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>AVIANTI ARMAND: PADA SUATU HARI, ADA IBU DAN RADIAN.</title><content type='html'>LANGIT jadi merah. Seekor naga menukik, menyapu bintang-bintang dan matahari. Pucuk-pucuk sayapnya memercik bara. Api bertebaran. Angin berputing. Ketakutan disemprotkan ke udara seperti tinta gurita. Para satria berbaju zirah itu bergelimpangan. Jerit putus asa menyesaki ruang. Makhluk itu marah luar biasa. Rumah-rumah, pohon-pohon, pucuk gunung di kejauhan, jadi remuk tak jelas bentuk. Rata tanah. Semua. Kecuali satu anak yang berdiri tegak tak bergerak. Tangannya menggenggam busur yang selesai teregang. Wajahnya segelap batu, namun matanya seterang kilat. Dari busurnyalah panah besar yang menghunjam di dada sang naga.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Naga itu pasti akan mati, Ibu, bisiknya. Lalu matanya terpejam. Mungkin tertidur. Atau mencoba tidur. Gambar di atas kertas besar itu kini didekap di dadanya. Gambar yang sesak dengan coretan dan garis tebal patah-patah yang diguratkan penuh emosi. Gambar yang cuma punya tiga warna: merah, hitam, dan kelabu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku melayang. Mungkin tertidur. Tanpa mimpi, hanya gelap–dan terbangun karena kesunyian, sangat aneh untuk subuh yang biasanya riuh. Tak ada azan. Tak ada kokok ayam atau saling sahut teriakan penjual sayur dan radio tukang susu. Tempat Radian kosong, tapi masih hangat. Ia belum lama bangun. Aku tertatih keluar kamar dan mendapati anak itu di depan pintu kamar mandi yang separuh terbuka. Ia berdiri, terlalu kaku. Seperti sebuah gerakan yang tertahan di udara. Sinar yang sayu menyapu wajah kecilnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rasa dingin tiba-tiba merayapi punggungku. Wajah itu terlalu putih, bahkan untuk pagi yang masih biru. Aku segera mendekat. Dan di sana, di balik pintu yang separuh terbuka, tubuh suamiku tergeletak. Sebilah pisau menancap di dada. Darah membual dari lukanya. Lantai yang putih kini berkubang merah. Duniaku seketika hitam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Binatang itu pernah hidup. Sekarang pun terlihat masih sangat hidup. Hanya jika disentuh, terasa kalau dagingnya dingin. Matinya hamster itu mengakibatkan kehebohan di kelas. Radian membunuhnya. Di hadapan teman-temannya yang menjerit-jerit ketakutan, dia mencekik binatang itu hingga kehabisan napas. Anak itu kini tergugu, menolak untuk duduk. Punggungnya menempel ke dinding di sudut ruang guru. Cuma ada kami bertiga: Bu Tina–kepala sekolah—aku, dan Radian. Pelan ia mendekat, memelukku, lalu kembali berdiri dengan punggung menempel ke dinding. Ia kelihatan lebih tenang–tidak takut, cuma sedih.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kami menatapnya, Bu Tina dan aku, lalu kembali ke bangkai hamster di atas meja. Jika nasib berkata lain, pagi ini aku yang tergeletak mati. Masih terasa tangan suamiku mencengkeram leherku kuat-kuat. Seperti hamster itu, aku meronta. Melawan. Tapi lelaki itu lebih kuat. Aku bisa mencium kemarahan lewat napasnya yang berbau alkohol. Kematian menjalari tulang belakangku pelan-pelan. Leherku bergemeletuk. Kepalaku nyaris pecah. Saat kesadaran hampir hilang, tiba-tiba ia mencampakkanku–teronggok di lantai, menggapai-gapai udara yang tak sudi kembali. Dia pergi begitu saja. Dan ketika mataku pulih, hatiku terpuruk. Radian menatap dari sudut yang gelap, tanpa suara. Wajah itu pekat dengan rasa takut. Air mata deras menggambari pipinya. Aku menatapnya lagi. Mungkin ia cuma ingin tahu, apa jadinya jika dicekik kuat-kuat. Hamster itu telah menjelaskan, betapa kematian pernah begitu dekat merengkuh ibunya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Malam itu kami tidur bersisian, tidak berpelukan. Kedekatan ini selalu cukup, tidak pernah berlebih. Bohlam 25 watt itu redup, tapi masih cukup untuk membaca gambar yang dibuat Radian sebelum berbaring.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebuah pohon besar. Sebuah rumah besar. Semuanya hitam. Seorang lelaki berbaju hitam tergantung-gantung di pohon itu. Seutas tali besar melilit lehernya. Kepalanya terkulai. Terlalu miring, seolah patah. Ada dua paku hitam besar menancap pada tempat yang seharusnya berisi mata. Waktu kutanya siapa dia, Radian hanya bilang: Penjahat. Seorang anak lelaki berdiri di bawahnya, menggendong kantong raksasa. Popcorn, katanya, menunjuk pada gumpalan-gumpalan kecil serupa kapas yang membual dari kantong itu. Dihujani daun-daun yang meluruh, anak itu menyaksikan tubuh lelaki tadi bergoyang-goyang tertiup angin. Pipinya menggembung, mungkin ia sedang mengunyah popcornnya dengan asyik. Sinar lampu menembus kertas yang dipegang Radian, membentuk lingkaran cahaya di kepala anak lelaki dalam gambar, juga di kepala anak lelakiku. Ia tersenyum, tapi matanya tidak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Malam terasa berat, tapi sinar bulan cukup untuk meremangkan ruang. Perempuan dalam cermin itu diam, meski tahun-tahun yang tertoreh di wajahnya, di tubuhnya, bertutur. Aku tidak mengenalinya. Wajah itu bukan wajahku. Mata itu bukan mataku. Tubuh itu terlalu kering untukku. Ia sembab dan biru. Mungkin lelah. Atau putus asa. Tapi jelas ia marah. Kemarahan membayang seperti sayap-sayap hitam seekor gagak, menyambar dan mencakar-cakar wajah itu, meninggalkan kerut-kerut yang dalam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebuah tangan kecil menyentuh punggungnya. Perempuan dalam cermin mencoba tersenyum. Ia berbisik lembut, kamu lapar? Anak lelaki itu mengangguk. Mereka bergandengan menuju dapur. Ia membuka lemari pendingin, menerawang sejenak, lalu mulai mengeluarkan isinya satu per satu: telur, jamur, tahu, sosis, daging, bawang, keju, cabai, selada, spageti, susu cair, …. Ia meletakkan semuanya dengan rapi di atas meja. Tanpa bicara ia mengambil panci, mengisinya dengan air, meletakkannya di atas kompor, lalu menyalakan api besar-besar. Tanpa bicara ia memecahkan telur, memasukkan isinya–juga kulitnya–ke dalam panci. Ia mematahkan tongkat-tongkat kecil spageti, dan memasukkannya ke dalam panci. Ia membuka kotak susu, dan menuang seluruh isinya ke dalam panci. Ia mengambil pisau 25 sentimeter, lalu merajang bawang jadi potongan-potongan kecil, selada jadi cacahan-cacahan kecil, sosis jadi patahan-patahan kecil. Uap air mulai memenuhi dapur. Ia memangkas jamur, tahu, daging, cabai. Semakin lama semakin cepat. Keringat menetes berbulir-bulir dari dahinya. Air menetes berbulir-bulir dari matanya. Tak lama, semua tercampur aduk. Tak bersisa satu pun yang bisa dipotong lagi. Tak bersisa satu pun yang masih bisa dikenali.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perempuan itu berhenti. Tersengal-sengal. Tersengguk-sengguk. Ia memandangi pisau di tangannya. Ia memandangi anak lelaki yang berdiri diam di sebelahnya. Anak itu beringsut, menjumput campuran cacahan di atas meja, dan memakannya pelan. Matanya tak lepas menatapi ibunya. Mata yang pilu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pisau itu jatuh terlepas dari genggaman. Perempuan itu jatuh terduduk di lantai dapur. Tenaga telah dikuras keluar. Habis. Air mata telah dikuras keluar. Habis. Kini ia terlongong kosong. Anak lelaki itu mendekat, lalu duduk merapat padanya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu perempuan itu. Ibu, bisiknya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau kita mati, kita pergi ke mana? Aku mengangkat bahu. Tak tahu. Radian kembali menekuri gambarnya. Apakah kamu mencintai ayah? Aku mengangkat bahu lagi. Tak tahu. Yang kutahu, aku mencintaimu. Radian tersenyum tanpa mengangkat kepala. Apakah aku mencintainya? Aku tidak ingat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang aku ingat, kami sepasang anak muda yang senang. Aku senang. Dia senang. Kami senang dengan kehadiran satu sama lain. Dengan senang, kami pergi ke sebuah pulau di mana langit dan laut beradu biru. Dengan senang kami saling menjelajahi tubuh di pantai itu. Aku tak tahu mengapa kami melakukannya–bersetubuh di pantai, yang cuma membuat kami lekat dengan bau laut, dan bau dosa–yang tak bisa hilang begitu saja.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dia tidak pernah bilang cinta padaku. Aku tak pernah bilang cinta padanya. Tapi aku mengandung benihnya. Kami harus menikah bagaimanapun juga. Orangtuanya ingin menyelamatkan muka. Orangtuaku ingin menyelamatkan muka. Aku ingin lari. Dia ingin lari. Orangtua kami melarang kami berpisah. Tuhan melarang kami berpisah. Tapi kenapa Tuhan tidak melarangnya memukuliku kapan saja dia mau? Satu kali aku melawan. Kutinju hidungnya hingga berdarah. Tapi binatang itu menyakiti anakku. Aku lari dari rumah. Sebuah serangan jantung melumpuhkan ayahku. Dan mengembalikanku ke suamiku. Tuhan rupanya menghendakiku bertahan. Ini tubuhku, ini darahku, makan dan minumlah. Aku domba korban, entah untuk apa. Apakah aku mencintainya?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Senja menjatuhkan sinar ke atas meja. Radian telah selesai menggambar. Ia membalik kertasnya dan menunjukkannya padaku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebuah pulau kecil di tengah lautan dan sebuah perahu kecil yang meninggalkan pulau itu. Ada dua orang di dalamnya: perempuan dan anak lelakinya. Mereka tersenyum. Ada satu rumah di atas pulau, berbentuk kotak dengan jendela-jendela kotak. Di baliknya, ada seseorang dengan tangan terentang ke atas. Di atas rumah itu beterbangan burung-burung hitam. Dua belas jumlahnya. Rumah itu diliputi lidah-lidah merah. Terbakar, kata Radian. Orang itu jelas terkurung. Ia berteriak dalam gelembung kecil dan tanda seru yang banyak: tolong!!!! Kalau dia mati, burung-burung itu akan membawanya pergi, katanya. Kenapa dia ditinggal, tanyaku. Karena dia jahat, jawabnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku seperti hidup dalam sinetron bertokohkan perempuan yang menangis mengiba-iba karena disiksa tak berkeputusan. Bedanya, perempuan yang ini tak menangis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Awalnya sederhana. Sebuah pesta barbeque. Langit hijau. Kupu-kupu sebesar payung terbang melayang-layang. Rumput jingga. Rumah besar di atas awan. Gadis-gadis dengan sayap di punggung dan bunga di kepala. Anak-anak lelaki bertanduk warna-warni, berkerumun di sekeliling pemanggang. Ada yang memegang piring, ada yang memegang garpu, juga gelas berisi limun ungu. Semua biasa saja, kecuali barbeque itu. Empat bola mata. Potongan daun telinga dan tiga buah hidung. Telapak kaki dan tangan, lengkap dengan jari-jarinya. Segumpal besar daging merah dengan tanda panah mengarah padanya: jantung. Lalu, sepenggal kepala binatang dengan mata masih membelalak dan lidah terjulur keluar. Radian bilang, itu kepala naga.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perempuan itu menunjukkan gambar tadi pada suaminya saat makan malam. Kepala sekolah menunjukkan gambar itu padanya tadi pagi. Gambar Radian. Lelaki itu tak berkata sepatah pun. Ia hanya menggebrak meja, mengambil piring, dan melemparkannya. Tepat ke muka. Ia tercekat. Rasa sakit nyaris meledakkan kepala. Ia menelannya. Kemarahan menyergap seketika. Ia menelannya. Suara piring yang pecah memekakkan telinga. Anak lelakinya keluar dari kamar dan terdiam di pintu, tidak lagi heran ketika ayahnya pergi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jendela kaca memantulkan gambar-gambar suram itu. Perempuan ringkih dan anak rapuh. Anak itu masuk ke dalam kamar dan kembali dengan sepotong handuk. Perlahan ia menggeret kursi untuk ibunya. Dengan lembut, diusapnya luka di wajah perempuan itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku berdiri dalam sudut gelap, menyirami kebencian dengan kemarahan. Aku bisa merasakan benihnya mengakar. Cabang-cabangnya yang kuat mencari jalan keluar lewat tiap pembuluh darah. Semakin kuat. Tidak, aku tak sanggup menelannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku tidak lapar, Ibu. Anak lelaki itu ketakutan. Tapi perempuan itu tetap berjalan ke dapur. Ia tidak membuka lemari pendingin, tidak meletakkan panci di atas api. Ia cuma mengambil pisau dan berdiri di depan meja. Begitu saja. Lama sekali. Matanya menatap ke depan. Kosong. Kemudian tangannya mulai bergerak, dengan gerakan memotong-motong sesuatu yang tak terlihat. Sesuatu yang mungkin hanya ada di kepalanya. Pelan awalnya. Lalu makin cepat. Keringat turun berbulir-bulir dari dahinya. Air turun berbulir-bulir dari matanya. Anak lelaki itu tak berani mendekat. Ia cuma menatap punggung ibunya yang berguncang keras. Sesuatu dari dalam telah merusak perempuan itu, sedikit demi sedikit. Ia tak mengenalinya lagi. Aku tak mengenalinya lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Siang itu, kami berbaring bersisian di lantai, di depan kamar mandi yang kini berkubang merah, melingkupi tubuh lelaki itu yang pernah hidup. Matahari kuning membanjiri. Terang. Terlalu benderang untuk melihat gambar yang dibuat Radian, dalam menit-menit–entah berapa lama–aku berdiam dalam gelap. Aku menatap matanya, tapi ia menghindar. Direntangkannya gambarnya di depan wajahku. Aku memicing.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hujan. Perempuan dan anak lelaki itu berjalan bergandengan. Mata mereka berkilau. Bibir mereka tersenyum di wajah yang abu-abu. Tak ada matahari. Hanya awan hitam yang bergumpal-gumpal. Satu yang paling besar melayang rendah di atas anak lelaki itu. Di bahunya bertengger seekor burung. Sayapnya terentang, siap terbang. Perempuan itu menggenggam sebilah pisau. Besar. Ujungnya tertutup sesuatu yang menetes merah. Mereka bergandengan di jalan yang berasal dari satu titik hilang yang membesar ke ujung bawah kertas. Di kiri-kanannya, deretan pohon raksasa merunduk ke tengah, menyusun kanopi yang meneduhi jalan dan membuatnya kian kelam. Ada burung-burung hitam bertengger di cabang-cabangnya. Gagak, kata Radian. Di batas paling bawah dari kertas, tertulis dengan huruf-huruf besar yang mencang-mencong :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;PADA SUATU HARI, ADA IBU DAN RADIAN.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cuma kita berdua, Ibu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jakarta 13 November 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-2816053958909915182?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/2816053958909915182/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=2816053958909915182' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/2816053958909915182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/2816053958909915182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/03/avianti-armand-pada-suatu-hari-ada-ibu.html' title='AVIANTI ARMAND: PADA SUATU HARI, ADA IBU DAN RADIAN.'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-8381189422919205920</id><published>2011-01-30T10:15:00.000-08:00</published><updated>2011-01-30T10:17:34.826-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spektrumkata 3'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Sebuah Kota di Dalam Mimpiku</title><content type='html'>Sebuah kota tanpa dirimu adalah kesia-siaan.&lt;br /&gt;Lampu-lampu jalan belum dinyalakan dan sisa senja&lt;br /&gt;yang mulai menghitam beterbangan kembali ke &lt;br /&gt;balik mataku. Toko tua yang belum tutup itu pastilah&lt;br /&gt;masih menjual barang langka bernama kenyataan.&lt;br /&gt;Aku merogoh saku dan belum cukup waktu untuk&lt;br /&gt;menukarnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;     Kapan aku terbangun dari mimpi seribu tahun ini?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-8381189422919205920?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/8381189422919205920/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=8381189422919205920' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/8381189422919205920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/8381189422919205920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/01/sebuah-kota-di-dalam-mimpiku.html' title='Sebuah Kota di Dalam Mimpiku'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-3615051485296982376</id><published>2011-01-22T18:17:00.000-08:00</published><updated>2011-01-22T18:25:13.738-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Di Peron</title><content type='html'>Ia berharap sebuah kereta akan kembali&lt;br /&gt;di peron itu. Dan tahun yang terlewat lamat-lamat&lt;br /&gt;bermunculan dari telapak tangannya. Ia&lt;br /&gt;berdiri dan melambai pada kejauhan&lt;br /&gt;yang tidak pernah menampakkan apa pun.&lt;br /&gt;Rel kereta yang berkarat menghilang&lt;br /&gt;di satu titik, pohon-pohon tampak kecil,&lt;br /&gt;dunia pun seperti berbatas.&lt;br /&gt;Ia memegangi dadanya dan terasa ada&lt;br /&gt;yang hilang juga. Ia tidak tahu kepergian&lt;br /&gt;sejatinya adalah sebuah detik di jam dinding itu,&lt;br /&gt;sebuah tanggal di kalender itu yang tidak&lt;br /&gt;pernah mungkin kembali.&lt;br /&gt;Ia berharap, di peron itu, akan ada&lt;br /&gt;seseorang yang lain di kejauhan akan turut&lt;br /&gt;melambai dan menantikan sebuah kedatangan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-3615051485296982376?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/3615051485296982376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=3615051485296982376' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/3615051485296982376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/3615051485296982376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/01/di-peron.html' title='Di Peron'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-6975538938198208701</id><published>2011-01-16T06:09:00.001-08:00</published><updated>2011-01-16T06:20:33.027-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>TELAH TERBIT: “Dongeng Afrizal: Senarai Kisah Fantastis”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/TTL8U0vqmEI/AAAAAAAAAEE/kn5fAOuj3c4/s1600/166110_170160523028499_100001036565689_413375_7385562_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 225px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/TTL8U0vqmEI/AAAAAAAAAEE/kn5fAOuj3c4/s320/166110_170160523028499_100001036565689_413375_7385562_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5562785924442134594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TELAH TERBIT: “Dongeng Afrizal: Senarai Kisah Fantastis”&lt;br /&gt;--------------------------------------------------&lt;br /&gt;Pengarang: Pengadi Abdi Surya&lt;br /&gt;Penyunting: Benny Arnas&lt;br /&gt;Penggambar Sampul: slawekgruca&lt;br /&gt;Penerbit: Kayla Pustaka (Jln. Ampera Raya Gg. Kancil 15, Ragunan Jaksel. 021-7884 7301)&lt;br /&gt;Harga: Rp 39.900,- (170 Hlm. Bookpaper)&lt;br /&gt;ISBN: 978-979-17997-4-6&lt;br /&gt;--------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenangan-kenangan tentang cinta pertama&lt;br /&gt;selalu datang dan pergi silih berganti...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/photo.php?fbid=170160523028499&amp;set=a.169106903133861.35449.100001036565689&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TESTIMONI-TESTIMONI:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak muda dengan selera surealis tidak mudah didapat di kalangan penulis Tanah Air. Namun Pringadi salah satunya, yang begitu enteng bermain-main imajinasi melalui percikan ide yang lahir dari berbagai karya literasi. Ia sedang berproses—seperti halnya ulat bermetamorfosis menjadi kekupu—dari perambahan menuju keyakinan pilihan dalam berkarya.”&lt;br /&gt;—Kurnia Effendi, kritikus sastra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karya sastra yang bagus adalah yang mampu menghadirkan kepada pembaca kejutan-kejutan di setiap bagian tubuhnya, intensi yang kuat yang mampu membetot kesadaran pembaca untuk ikut merasakan nuansa kisahnya, juga eksplorasi gaya tutur yang memukau. Tak banyak penulis di Indonesia yang mampu menampilkan semuanya dalam sebuah karya. Beruntunglah kita yang bisa membaca Dongeng Afrizal ini karena kita akan menjumpai nyaris semua kualitas tersebut di dalamnya. Pringadi adalah kandidat maestro juru cerita di masa depan!”&lt;br /&gt;—Khrisna Pabichara, penulis buku bestseller Mengawini Ibu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagi seorang penulis, mendapatkan ilham sebebas-bebasnya dari imaji impiannya adalah sebuah keniscayaan. Karenanya, konsep realisme dalam sastra dianggap belum cukup memberikan ruang kebebasan imaji yang memuaskan. Sebagai penulis muda yang dalam amatan www.sriti.com turut aktif meramaikan kemeriahan perayaan sastra Indonesia ini, Dongeng Afrizal menunjukkan kapabilitas yang mampu menembus sensor kesadaran dan membiarkan kata-kata serta imajinya bermain dengan bebas dan liar.”&lt;br /&gt;—Rachmat Budi M, www.sriti.com (situs cerpen terbesar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Membaca Dongeng Afrizal adalah membaca bagian dari diri kita yang ‘lain’, yang sering kita lupakan dan represi ke alam bawah sadar. Ia menawarkan beragam kemungkinan yang belum sempat disajikan oleh pikiran kita yang tersekap di dalam ruang -waktu konvensional.”&lt;br /&gt;—Salahuddien Gz, penerjemah dan editor buku sastra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keberanian Pringadi menjelajah berbagai kemungkinan cara ungkap tidaklah sia-sia. Dongeng Afrizal sungguh memberi saya kenikmatan perjalanan membaca—dan kejutan-kejutan. Cara bertuturnya yang nyaris tanpa beban juga satu kekuatan istimewa buku ini.”&lt;br /&gt;—M. Aan Mansyur, penyair&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini dicetak terbatas, jadi hanya beredar di toko buku-toko buku kawasan Jabodetabek. Dapatkan diskon 15% (jadinya Rp 34.000) untuk pembelian langsung di sini melalui account saya, "Salahuddien Gz" (belum termasuk ongkos kirim). Kirim pesan pemesanan dan alamat yang dituju di INBOX saya. atau 08998070696 Buku akan dikirim melalui Pos/Tiki. Pembayaran melalui transfer ke rekening:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BNI KC FATMAWATI&lt;br /&gt;0193502930&lt;br /&gt;PRINGADI ABDI SURYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BCA KCP Lamongan&lt;br /&gt;No. Rekening: 3300473023&lt;br /&gt;a.n. Shalahuddin Gz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MANDIRI Cabang Fatmawati&lt;br /&gt;No. Rekening: 127-00-0443912-9&lt;br /&gt;a.n. Shalahuddin Gz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNTUK MENGETAHUI SEKILAS DAHSYATNYA BUKU INI, SILAKAN KLIK TAUTAN BERIKUT:&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/note.php?note_id=485189651975&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-6975538938198208701?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/6975538938198208701/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=6975538938198208701' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/6975538938198208701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/6975538938198208701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/01/telah-terbit-dongeng-afrizal-senarai_16.html' title='TELAH TERBIT: “Dongeng Afrizal: Senarai Kisah Fantastis”'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/TTL8U0vqmEI/AAAAAAAAAEE/kn5fAOuj3c4/s72-c/166110_170160523028499_100001036565689_413375_7385562_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-8670495542935100447</id><published>2011-01-16T06:09:00.000-08:00</published><updated>2011-01-16T06:18:20.756-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>TELAH TERBIT: “Dongeng Afrizal: Senarai Kisah Fantastis”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/TTL8U0vqmEI/AAAAAAAAAEE/kn5fAOuj3c4/s1600/166110_170160523028499_100001036565689_413375_7385562_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 225px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/TTL8U0vqmEI/AAAAAAAAAEE/kn5fAOuj3c4/s320/166110_170160523028499_100001036565689_413375_7385562_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5562785924442134594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TELAH TERBIT: “Dongeng Afrizal: Senarai Kisah Fantastis”&lt;br /&gt;--------------------------------------------------&lt;br /&gt;Pengarang: Pengadi Abdi Surya&lt;br /&gt;Penyunting: Benny Arnas&lt;br /&gt;Penggambar Sampul: slawekgruca&lt;br /&gt;Penerbit: Kayla Pustaka (Jln. Ampera Raya Gg. Kancil 15, Ragunan Jaksel. 021-7884 7301)&lt;br /&gt;Harga: Rp 39.900,- (170 Hlm. Bookpaper)&lt;br /&gt;ISBN: 978-979-17997-4-6&lt;br /&gt;--------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenangan-kenangan tentang cinta pertama&lt;br /&gt;selalu datang dan pergi silih berganti...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/photo.php?fbid=170160523028499&amp;set=a.169106903133861.35449.100001036565689&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TESTIMONI-TESTIMONI:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak muda dengan selera surealis tidak mudah didapat di kalangan penulis Tanah Air. Namun Pringadi salah satunya, yang begitu enteng bermain-main imajinasi melalui percikan ide yang lahir dari berbagai karya literasi. Ia sedang berproses—seperti halnya ulat bermetamorfosis menjadi kekupu—dari perambahan menuju keyakinan pilihan dalam berkarya.”&lt;br /&gt;—Kurnia Effendi, kritikus sastra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karya sastra yang bagus adalah yang mampu menghadirkan kepada pembaca kejutan-kejutan di setiap bagian tubuhnya, intensi yang kuat yang mampu membetot kesadaran pembaca untuk ikut merasakan nuansa kisahnya, juga eksplorasi gaya tutur yang memukau. Tak banyak penulis di Indonesia yang mampu menampilkan semuanya dalam sebuah karya. Beruntunglah kita yang bisa membaca Dongeng Afrizal ini karena kita akan menjumpai nyaris semua kualitas tersebut di dalamnya. Pringadi adalah kandidat maestro juru cerita di masa depan!”&lt;br /&gt;—Khrisna Pabichara, penulis buku bestseller Mengawini Ibu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagi seorang penulis, mendapatkan ilham sebebas-bebasnya dari imaji impiannya adalah sebuah keniscayaan. Karenanya, konsep realisme dalam sastra dianggap belum cukup memberikan ruang kebebasan imaji yang memuaskan. Sebagai penulis muda yang dalam amatan www.sriti.com turut aktif meramaikan kemeriahan perayaan sastra Indonesia ini, Dongeng Afrizal menunjukkan kapabilitas yang mampu menembus sensor kesadaran dan membiarkan kata-kata serta imajinya bermain dengan bebas dan liar.”&lt;br /&gt;—Rachmat Budi M, www.sriti.com (situs cerpen terbesar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Membaca Dongeng Afrizal adalah membaca bagian dari diri kita yang ‘lain’, yang sering kita lupakan dan represi ke alam bawah sadar. Ia menawarkan beragam kemungkinan yang belum sempat disajikan oleh pikiran kita yang tersekap di dalam ruang -waktu konvensional.”&lt;br /&gt;—Salahuddien Gz, penerjemah dan editor buku sastra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keberanian Pringadi menjelajah berbagai kemungkinan cara ungkap tidaklah sia-sia. Dongeng Afrizal sungguh memberi saya kenikmatan perjalanan membaca—dan kejutan-kejutan. Cara bertuturnya yang nyaris tanpa beban juga satu kekuatan istimewa buku ini.”&lt;br /&gt;—M. Aan Mansyur, penyair&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini dicetak terbatas, jadi hanya beredar di toko buku-toko buku kawasan Jabodetabek. Dapatkan diskon 15% (jadinya Rp 34.000) untuk pembelian langsung di sini melalui account saya, "Salahuddien Gz" (belum termasuk ongkos kirim). Kirim pesan pemesanan dan alamat yang dituju di INBOX saya. atau 08998070696 Buku akan dikirim melalui Pos/Tiki. Pembayaran melalui transfer ke rekening:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BNI KC FATMAWATI&lt;br /&gt;0193502930&lt;br /&gt;PRINGADI ABDI SURYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BCA KCP Lamongan&lt;br /&gt;No. Rekening: 3300473023&lt;br /&gt;a.n. Shalahuddin Gz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MANDIRI Cabang Fatmawati&lt;br /&gt;No. Rekening: 127-00-0443912-9&lt;br /&gt;a.n. Shalahuddin Gz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNTUK MENGETAHUI SEKILAS DAHSYATNYA BUKU INI, SILAKAN KLIK TAUTAN BERIKUT:&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/note.php?note_id=485189651975&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-8670495542935100447?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/8670495542935100447/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=8670495542935100447' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/8670495542935100447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/8670495542935100447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/01/telah-terbit-dongeng-afrizal-senarai.html' title='TELAH TERBIT: “Dongeng Afrizal: Senarai Kisah Fantastis”'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/TTL8U0vqmEI/AAAAAAAAAEE/kn5fAOuj3c4/s72-c/166110_170160523028499_100001036565689_413375_7385562_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-1261313699134775294</id><published>2011-01-12T06:58:00.000-08:00</published><updated>2011-01-12T06:59:24.114-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Sonet</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sonet Perjalanan, 3&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;ada yang jatuh di jendela. rintik hujan yang kangen dengan bibirmu. aku&lt;br /&gt;menggigil. tak ada selimut yang lembut seperti bulu-bulu kelinci yang kamu&lt;br /&gt;idamkan itu. tapi aku bilang, kelinci selalu menautkan diri pada percobaan.&lt;br /&gt;dan aku tidak sedang coba-coba dengan cinta ini. adalah keseriusan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang aku tawarkan dengan gratis. dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.&lt;br /&gt;sebab cinta pernah bikin aku tak percaya pada ciuman. pada musim. pada&lt;br /&gt;gerak air yang mengalir di selokan. pada tebak-tebakan buah manggis&lt;br /&gt;dulu itu. pada apa-apa saja yang sekiranya menguak kenangan. pada dada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah, dada, kenapa selalu jujur mengungkap rasa? kenapa tabah menahan&lt;br /&gt;sejuta kesedihan yang luput dari tas yang memerangkap kegelisahan?&lt;br /&gt;kenapa muat menyimpan setiap kenangan yang penuh dengan tangisan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada yang jatuh di jendela. aku tak peduli. sebab bolamataku sedang jatuh&lt;br /&gt;di matamu. sebab bibirku sedang jatuh di bibirmu. sebab dadaku sedang penuh&lt;br /&gt;dengan namamu. dan apa-apa yang pernah kita sepakati itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sonet Perjalanan, 4&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita salah memilih tempat duduk. Kanan dan kiri juga&lt;br /&gt;Dimiliki sepasang kekasih yang bercumbu seperti adegan&lt;br /&gt;Film itu. Aku bertanya penasaran, lebih mirip mana aku antara&lt;br /&gt;Edward dan Jacob, yang dua-duanya memiliki perasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padamu. Sementara pikiran berkelana pada panjang jalan&lt;br /&gt;Cihampelas, memikirkan berapa kilo oleh-oleh yang harus kau beli&lt;br /&gt;Dan berapa kuat ringkih tanganmu mengangkat beban&lt;br /&gt;Yang harusnya milikku. Sebab cinta seharusnya telah membagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala kesepian yang sempat mampir seperti pemandangan&lt;br /&gt;Sebuah pohon beringin di taman itu. Dengan ayunan dari ban&lt;br /&gt;Bekas yang tak pernah dinaiki. Dan sarang burung pipit yang&lt;br /&gt;Ditinggalkan. Dan guratan bekas harapan cinta seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak pernah salah memilih tempat duduk. Sebab segala ruang&lt;br /&gt;Telah kosong selain napas dan mata kita yang saling memandang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-1261313699134775294?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/1261313699134775294/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=1261313699134775294' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/1261313699134775294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/1261313699134775294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2011/01/sonet.html' title='Sonet'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-5189174065538635722</id><published>2010-12-04T19:04:00.000-08:00</published><updated>2010-12-04T19:05:43.443-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Bait--Bait Hujan</title><content type='html'>http://oase.kompas.com/read/2010/12/03/12545717/Bait.bait.Hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu seperti hujan. Yang datang menghapus bau-bau kematian, di hatiku yang telah gersang oleh kemarau. Padahal kamu pernah menciptakan mendung, di awan awan yang putih, di hamparan langit yang biru. Tapi secepatnya aku lupa. Sebab kamu segera menggantinya dengan hujan. Yang merontokkan segenap kerinduan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Melihat hujan hari ini, aku teringat kamu. Kamu yang hadir dengan manis di setiap hujan. Menggenggam sebelah tanganku---menarikku ke arah hujan. Bermain dengan hujan. Dan ketika kita telah begitu basah, kamu membelai rambutku yang penuh hujan. Menggerainya, hingga tak menghalangi wajahku yang pernah kamu sebut sebagai karya seni terindah Tuhan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Nggi, tidak bawa payung?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku menggeleng.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ardi. Aku tahu, sudah sebulan ini dia memberikan perhatian lebih kepadaku. Mungkin sebentar lagi dia akan mengatakan cinta. Aku yakin itu. Tapi tidak mungkin kuterima, sebaik dan seperhatian apapun dirinya. Sebab hatiku telah kamu. Rinduku pun telah kamu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Nanti sakit lho, Nggi?” bujuknya sambil membuka payungnya yang berwarna biru muda bermotif bunga. Ciri khas laki-laki bertipe lembut, mudah terluka. Mungkin.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Di, Anggi suka hujan.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ardi diam, menatapku penuh rasa keingintahuan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku menjulurkan tangan kananku ke rintik-rintiknya, mencuri segenang hujan. “Lihat, hujan adalah kehidupan.”&lt;br /&gt;Dia diam. Masih menatapku dengan sedikit heran. Lalu ia pun ikut mengulurkan tangannya ke arah hujan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Aku tak pernah suka hujan,” diam sejenak sebelum ia melanjutkan, “kau tahu, Nggi? Dari kecil aku selalu dilarang main hujan-hujanan. Aku hanya bisa melihat teman-temanku bermain dengan riangnya dari balik jendela kamarku. Aku ingin… ingin sekali bisa bermain dengan hujan. Tapi aku tahu, aku tak boleh. Karena fisikku, Nggi… aku alergi hujan.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku menatapnya yang masih menatap ke arah hujan. Menyunggingkan senyuman yang lebih dari kerinduan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sulfat.” Aku memecah keheningan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sekarang aku juga tidak akan main hujan-hujanan lagi.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Karena aku?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Enak saja. GR kamu.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Lalu?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sulfat. Bukannya sudah kukatakan tadi?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tentang kamu, yang pernah kulihat berdiri menunggu hujan reda di pintu gerbang sekolah. Kamu mengenakan kemeja berwarna hitam dengan rambut acak-acakan, seperti tak disisir. Kamu memakai tas punggung yang juga berwarna hitam, yang tampak penuh menggelembung. Tak tahu apa isinya. Sesekali kamu melirik tangan kananmu, melihat waktu di arlojimu. Ah aku jatuh cinta padamu, pada ekspresi wajahmu yang waktu itu seperti terburu-buru.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku tergoda untuk mendekatimu. Berdiri di sampingmu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Payung?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kamu menatapku sekilas. Lalu menggeleng.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Anggi. Kamu?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Pring.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kenapa ketawa? Ada yang lucu?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Nggak…”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ah pasti karena namaku kan?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan kamu diam. Diam yang begitu aku suka. Bisa kuhitung berapa kalimat yang kamu ucapkan di tiap kita bertemu. Seperti pertemuan pertama kita ini, kamu diam dan aku memayungimu. Kamu tidak menolak. Aneh. Padahal kita baru saling mengenal nama. Tetapi aku merasa begitu dekat kepadamu. Merasa seakan kamulah orang yang tepat untukku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kamu tidak begitu tampan. Ardi jelas jauh lebih tampan. Tapi garis mukamu begitu tegas. Begitu lugas. Kamu adalah tipe orang yang tahu dan paham apa yang harus dan boleh dilkakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Dan kamu seperti menemukan alasan, di pertemuan kita yang bahkan belum menginjak angka belasan, untuk mengatakan perasaanmu kepadaku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hari itu memang hujan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Momen yang sama, kan?” Aku kaget. Tidak biasanya kamu memulai pembicaraan. Belum aku menjawab, kamu sudah melanjutkan pertanyaanmu, “Payung?” Dan aku hanya bisa menatapmu. Kamu benar-benar aneh hari ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Katakan saja apa maumu? Tidak biasanya kamu seperti ini.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sudah kubilang kan? Momen yang sama.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Saat kita pertama kali bertemu.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kamu menatapku. Menatapku dengan pandangan yang di malam kesendirianku tidak dapat terhapus dari bayangan. Dan perkataanmu selanjutnya adalah sesuatu yang mungkin menjadi hal terindah dalam hidupku. Meski kamu tidak bertanya bagaimana perasaanku dan tidak memintaku untuk menjadi pacarmu. Tidak memintaku untuk selalu berada di sisimu. Tapi ya, kau dengan tegas mengucapkan itu, bahwa kamu suka aku. Cukup. Dan aku seperti tersihir atau terhipnotis oleh pernyataanmu itu. Tanpa bisa berkata-kata.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Apa kamu suka sama orang lain, Nggi?” Ardi bertanya. Aku diam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bahasa terbaik adalah diam. Itu adalah ucapanmu. Aku tidak mengerti kenapa kamu lebih suka diam dan tersenyum. Sampai pembicaraan-pembicaraan kita seringkali semata lewat kertas atau SMS, padahal kita sedang duduk bersebelahan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Pring, bicaralah...”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ehmm, tidakkah ini romantis?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Old school...”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kamu mau aku cium?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Giliranku yang terdiam. Kamu bilang ingin menciumku. Aku memejamkan mata. Beberapa detik kutunggu, kamu malah menjitak kepalaku. “Nanti, kalau kita sudah menikah...” lanjutmu sambil tersenyum.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tetapi, kamu tidak ada di depanku kini. Malah Ardi. Dia masih menatapku dengan tanda tanya. Lama-lama aku jadi kasihan padanya. Maksudku, tidak baik untuk terus membiarkan seseorang mencintai sementara hati sudah milik orang lain. Ya, meski, kebanyakan perempuan begitu. Menebar kail di dua ikan. Menunggu sampai mendapatkan ikan yang paling besar. Aku tentu berbeda. Jika sudah ada satu ikan, ya cukup satu saja. Menunggu terlalu lama beresiko sia-sia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kalau iya, kenapa?” Aku malah balik bertanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Apa dia juga menyukaimu?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ya, katanya begitu, tapi...”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Tapi?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kenapa kamu mau tahu?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Karena aku suka kamu!” Ardi menjawab dengan tegas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sudahlah, Di... aku minta maaf, aku sudah terlanjur menyukainya.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Siapa dia... kelas berapa?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tiba-tiba aku terdiam. Pringadi. Kelas berapa ya? Sekolahku memang besar dan luas. Satu angkatan saja terdiri dari 12 kelas dan masing-masing kelas bersiswa 45 orang. Aku tidak pernah bertanya dia kelas berapa. Aku memang jarang melihatnya. Bahkan pertemuan pertama kami di gerbang sekolah itu pun adalah memang pertama kali aku melihatnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Nggi... kok diam?” tanya Ardi lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Pringadi, kamu kenal?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ardi mengerutkan keningnya. “Rasanya tidak ada nama seaneh itu di sekolah kita.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bisa kuhitung jari berapa kali aku bertemu denganmu. Pertama, di gerbang sekolah, dan hari itu hujan. Kedua, di depan ruang guru, sore-sore saat aku baru selesai ekskul, dan hari itu hujan. Ketiga, di kantin, saat aku membolos karena bosan, hari itu kamu menyatakan suka aku, dan hari itu juga hujan. Keempat, di belakang sekolah, saat aku membeli beberapa alat tulis, kamu menghampiriku dan mengirim SMS, berkata ingin menciumku. Sebelum akhirnya, aku sudah berbulan-bulan tidak melihatmu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku ingat sekarang, aku belum pernah memberikan nomor handphoneku ke kamu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            “Tidak ada yang namanya Pringadi di sekolah ini.”&lt;br /&gt;            “Tidak mungkin.”      &lt;br /&gt;            “Sudah kuselidiki, Nggi. Sudah kutanyakan ke administrasi.”&lt;br /&gt;            “Aku pernah bertemu dengannya. Aku pernah berSMSan dengannya. Aku pernah bertulis kata-kata dengannya. Kamu hanya tidak suka kalau aku menyukai orang lain, Di!”&lt;br /&gt;            “Aku cuma tidak suka kamu tersesat dalam rasa sukamu, Nggi.”&lt;br /&gt;            “Masa bodoh!”&lt;br /&gt;            “Aku peduli padamu. Apa kau bisa menunjukkan semua bukti keberadaannya, Nggi?”&lt;br /&gt;            Aku masuk ke dalam kelas. Kuambil tas. Kutunjukkan SMS-SMS dari Pringadi. Pun kertas-kertas yang berisikan dialog kami berdua. Ardi mulai membacanya satu per satu. “Sekarang kamu percaya?”&lt;br /&gt;            Hari ini hujan lebih deras dari biasanya. Aku juga tidak menyangka Ardi bisa senekat ini menyelidiki apa-apa yang pernah kuceritakan kepadanya. Murid-murid lain sudah pulang dengan jemputan-jemputan mereka yang beragam. Kami berdua di pojok sekolah. Ardi masih mengamati semua kata-kata itu. Aku mengetuk-ngetukkan sepatu ke lantai. Tiba-tiba di pojok lain, akhirnya, aku melihatmu lagi. Kamu tersenyum. Hatiku berteriak. Segera aku lari menghambur ke arahmu, melewati hujan. Melewati genangan-genangan. Hujan menyamarkan airmataku. Aku memelukmu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;           &lt;span style="font-style:italic;"&gt; Hari itu, Ardi melihatku berlari tiba-tiba. Tasku jatuh dan berhamburan isinya. Ardi tidak pernah mengejarku. Pandangannya teralihkan pada sebuah handphone lain di tasku itu. Ia memungutnya. Ketika kembali memandangiku, ia tahu aku sedang mengejar sesuatu. Tetapi, satu yang tidak aku tahu, Ardi tidak melihat siapa-siapa di sana. Ardi melihatku seperti sedang memeluk seseorang. Tetapi, tidak pernah benar-benar ada orang dalam pandangannya. Ketika ia mulai membuka handphone itu, ia temukan SMS yang sama seperti di handphone sebelumnya. Pun ketika ia membongkar isi tas itu, ia temukan catatan-catatan dengan tulisan tangan yang sama dengan kertas-kertas dari Pringadi. Catatanku sendiri. Tulisanku sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(Palembang, 2010)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-5189174065538635722?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/5189174065538635722/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=5189174065538635722' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/5189174065538635722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/5189174065538635722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2010/12/bait-bait-hujan.html' title='Bait--Bait Hujan'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-950045497537159754</id><published>2010-12-04T06:19:00.000-08:00</published><updated>2010-12-04T06:20:34.482-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Tiga Puisi Pringadi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;FYI, GOOD BYE&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat tinggal hati yang sudah kuberikan, aku sudah bukan sahabat baikmu yang mampu menjadi gunung Sinai. Menangislah, menangislah, saat kuganti nomor teleponku dan operator perempuan berpura-pura menjadi partner selingkuhanku. Tekanlah, tekanlah bel rumahku dan gonggong anjing akan menyambutmu. Atas namaku sendiri, aku akan menjadi malam ini, tiba-tiba meredupkan segala nyala bintang di luar jendelamu. Kesepian bukanlah barang langka, bahkan diobral di pasar loak. Tiga seribu dan segala sesuatu menjadi tidak masuk akal. Hatiku mendadak bersinar. Pikiranku meledak. Bom atom Hiroshima kembali. Pergi, pergilah, aku ingin bermeditasi di kolong tempat tidur, meratapi dipan-dipan yang melapuk. Bagaimana bisa bertahun mereka menahan berat tubuhmu, dan tulang-tulangku sendiri menahan hanya sebuah nyawaku? Yang mungkin tidak  berharga? Aku tidak ingin merasakan cinta. Ketika di taman, sebuah meteor lewat, dan aku mengepalkan tangan,mengajukan permohonan. FYI, [...] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BTW, KOPI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua penyair minum kopi. Bahkan merokok. Aku sudah puas mereguk pahitnya kehidupan apalagi membakar paru-paruku sendiri. Kecemasan barang tentu teronggok di sepanjang jalan, tak laku, dan membusuk. Segerombol mahasiswa meneriakkan reformasi, mengingkari revolusi, menginginkan resolusi. Bebaskan Irian Barat sudah jadi masa lalu. Baret-baret hitam di pipi kini bersembunyi di balik televisi. Penyair duduk di warung-warung, ngedumel, dan membicarakan cinta yang tak pernah selesai. Bagaimana cinta bisa mengenyangkan perut dan menghapus penderitaan rakyat? Penyair miskin. PNS yang kaya. Mahasiswa jadi bulan-bulanan pemerintah. Masing-masing menggelar meja dan berdiri di atasnya. Aku penyair kecil, berkredo kecil, bersajak kecil, tetapi berkemaluan besar. Upss, sensor, hatiku yang besar. BTW, [...]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Malaikat Bernama PLN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam delapan malam, lagi-lagi mati lampu. &lt;br /&gt;Harga nyawa sebuah lampu ditentukan oleh PLN.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-950045497537159754?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/950045497537159754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=950045497537159754' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/950045497537159754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/950045497537159754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2010/12/tiga-puisi-pringadi.html' title='Tiga Puisi Pringadi'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-3719695980486362324</id><published>2010-11-30T23:49:00.001-08:00</published><updated>2010-11-30T23:49:59.953-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Dua Beranak Temurun, Benny Arnas</title><content type='html'>Bada ditinggalkan pinangan hatinya, lelaki paruh baya itu sangat suka mendongeng. Semua dongengannya pun memiliki potongan cerita menarik. Tak heran bila putranya sangat suka menajamkan telinga di sela-sela desauan angin yang memapas kisah dari bibir hitam yang berkerut merut itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah, yang didongengi pun tak tahu mengapa lelaki yang tampak beberapa tahun lebih tua dari usianya tersebut sangat suka melakukannya. Dalam setiap dongengannya, entah itu melankolis, romantis, atau epik; entah itu surealis atau absurd; entah juga itu tentang gadis, bujang, janda, duda, atau manusia-manusia yang hampir berbau liat; lakon-lakon yang baik-baik sifat, perilaku, dan tutur bahasanya, adalah seseorang bernama Jarun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Agar hidupmu tidak menggelambir noktah kelam, Nak.” Itulah yang diucapkan lelaki itu ketika anaknya bertanya mengapa ia sangat sering bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar bukan kalau putranya tak pernah mengerti alasan mengapa lelaki itu senang mendongeng. Mana cepat mengerti putranya dengan jawabannya itu. Memang sejatinya tak penting bagi sang putra memahami leliku bahasa-bahasa tingkat tinggi yang kerap dibunyikan lelaki itu. Baginya yang utama adalah setelah mendengarkan dongengan sang ayah ia bisa memintal angan dalam mimpi yang terbilik oleh purnama-purnama yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, ketika angin diam-diam menghembuskan hawa hampanya, manusia-manusia kerap menutup kelopak matanya, maka masing-masing tetiduran pun memekarkan bunga-bunga malamnya. Tak terkecuali untuk seorang bocah delapan tahun yang sangat senang mendengarkan kisah-kisah kehidupan bernuansa merah muda dari ayahnya. Oleh sang putra, semua kerap—dan memang diharapkan—tidak hanya terjelma dalam mimpi belaka, tetapi suatu hari akan menguap menjadi kenyataan yang jelas berupa-rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mengapa tidak Jarun saja namaku, Yah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tak penting nama itu, Nak. Yang penting, segala kebaikan Jarun itu hadir dalam kehidupanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tetapi, aku mau Ayah juga memanggilku seperti itu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki legam itu tak memerhatikan, apalagi memedulikan, permintaan putranya barusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidurlah, Nak. Besok kau harus sekolah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putranya mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jangan lupa berdoa agar tidur berkat, dan sebangun kau darinya pun juga bisa berkat. Dan yang terpenting adalah semoga doa-doa itu turut membantu agar dirimu tidak diboyong ke pusat kota suatu hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi Jarun tak mengerti kata-kata ayahnya. Lelaki itu memang tak panjang jalan pikirannya. Apa ia kira anaknya itu setua dirinya sampai kata-katanya harus selalu berumpama-umpama dan memilih bahasa-bahasa yang tidak biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putranya sudah menguap. Tidur. Tidur. Mimpi jadi Jarun….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Besok tolong Mami ya, Dre? Ambilkan uang yang baru dikirim papimu dari desa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andre hanya mengangguk. Lucu, masak tinggal di kota, tetapi dikirimi uang oleh orang yang tinggal di desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Halooo! Kau dengar, kan?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Eeeh iya, Bu… eh salah, Mi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sekalian kau belilah perlengkapan keelokan fisikmu. Deodorant, parfum, t-shirt, jeans, dan lainnya. Engkau lebih pahamlah apa yang kiranya serasi untukmu. Setelah itu pergilah nge-gym ke tempat fitness-nya Om Andi, biar kau bisa membantu Mami mencari uang kelak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hubungannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”O ya, nanti kalau ada gadis-gadis itu, jangan sedikit pun kau tergoda. Ingat, kau masih 16 tahun, Dre. Mami tak mau kau justru melampiaskan hasrat birahimu kepada mereka. Kau masih mau bermewah-mewah, bukan? Ha ha ha…,” Mami menutup kalimatnya dengan tawa panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama berselang, rumah itu dipenuhi para penjual yang barang bawaannya tak kunjung habis. Berkurang tantangan dan rupa kepuasan saja yang membedakannya dari hari ke hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bordir, bordir! Andre menggerutu sebelum meninggalkan rumah yang penuh dengan cekakak-cekikik puluhan pasangan haram itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku harus jadi anak baik seperti pesan orangtuaku dulu,” hati kecilnya bertekad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bukankah Mami adalah orangtuamu juga? Lagi pula kalau kau lari, apa kau tak takut dimarahinya?” belahan jiwanya yang lain berujar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mami? Hueekh! Siapa peduli!” hati kecilnya bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana layaknya hari Kamis, Ahmad harus melakukan persiapan ekstra di An-Nur, masjid yang dia huni. Maklum esok salat Zuhur absen dari ritualitas manusia-manusia masjid. Salat dua rakaat yang bernama sama dengan hari dilaksanakannya ibadah tengah hari tersebut memaksa pemuda 25 tahun itu membentangkan sajadah panjang-panjang hingga memenuhi ruangan masjid; memastikan kotak wakaf berjumlah delapan agar ia tak terlalu lama melewati saf-saf yang kian Jumat kian memendek dan berkurang; mengecek soundsystem tua agar suara Kiai Anam tak memarau dan putus-putus olehnya hingga mengganggu jamaah yang hendak tidur siang selama ia membusa mulut dengan khotbahnya; serta mengamplopkan beberapa puluh ribuan untuk Kiai Anam, Wak Jamil, dan Mang Marlis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uh, Mang Marlis. Jumat lalu lelaki yang menderita radang tenggorokan akut itu mencak-mencak di hadapan Ahmad. Perihalnya sepele-pele rumit, sudah beberapa hari belakangan becaknya sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Orang lebih suka naik ojek, lebih cepat katanya,” jawab dia waktu itu ketika Ahmad bertanya mengapa tiba-tiba ia mengeluhkan, bahkan terkesan menyalahkan dirinya, setelah salat Jumat hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, wajar kalau Ahmad awalnya bingung dengan tuturan-tuturan Mang Marlis. Baru saja salat Jumat berakhir, lelaki itu langsung menyeracau hingga Ahmad terkejut sejenak sebelum mencoba memahami semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa hubungannya denganku, Mang?” respons Ahmad saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau kan garin masjid. Kau sampaikanlah kepada Haji Dullah, ketua pengurus masjid, kalau aku juga pandai berazan. Muazin dapat 25 ribu, kan? Itu lebih besar dari tarikanku sehari. Biar Jumat nanti aku bisa rehat sejenak untuk persiapan enam hari ke depan. Tolong usahakan ya, Mad. Nanti kuberi uang rokok untukmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku tak merokok, Mang,” Ahmad masih belum percaya dengan apa yang dia dengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mang Marlis hanya nyengir kuda sebelum menepuk bahu Ahmad dan berlalu dengan penuh harap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu Ahmad tidak pernah melihat Mang Marlis dengan becaknya lagi. Dan dua hari lalu, tiba-tiba saja lelaki 40 tahun-an tersebut tak henti-hentinya mengumbar terima kasih ketika tahu ia diizinkan menjadi muazin salat Jumat esok. Hari itu juga, Ahmad baru tahu becak lelaki itu ditarik juragan Marwan karena ia sudah satu minggu tidak pernah setor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dooor!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Eeh… iya.” Ahmad tersentak mendapati tangan yang baru saja menepuk bahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pagi-pagi udah ngelamun, Mad,” Harun tetangganya, sudah berdiri di belakang. ”Tolong umumkan ini di masjid, biar aku yang beduk.” Harun memberikan kepalan kertas lusuh. Ahmad terkesiap melihat tulisan yang tergores di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Meninggalnya jam dua subuh tadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad masih melongo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Entah lucu juga kalau kau dengar musabab kematiannya. Kata Bi Anis, istrinya, dari pagi hingga tengah malam, ia seharian di kamar, membuka-buka buku bacaan salat. Berteriak-teriak sendiri di kamar seperti orang melagu-lagu arab tak jelas rupa bunyinya. Lewat tengah malam tenggorokannya tersekat, tak ada air pula dijerang Bi Anis. Akhirnya mati….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad menelan air ludah. Ia melangkah menuju mikrofon yang mesti disambungkan dulu kabelnya ke equalizer murahan di balik mimbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oya aku baru ingat, Mad. Matinya karena belajar berazan….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah kuduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”…ada-ada saja cara Tuhan mencabut nyawa orang…,” lanjut Harun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama berselang. Beduk dipukul dengan ritmis sumbang. Penduduk menajamkan telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Innalillahi wa innalillahi roji’un. Telah berpulang ke Rahmatullah, Marlis bin Ajip Makmun….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mengapa kau bisa sampai di sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Untuk apa kau tahu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Banyak yang masuk ke sini hanya karena salah tangkap, tak ada uang, salah paham, dan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa peduliku? Penjara ya penjara, tempat orang-orang berwatak dan berperi laku bejat dikandangkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak denganku, anak muda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maling mana mau mengaku maling!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paaak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mengapa kau menamparku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paaak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nah kau puaskan? Sekarang kau yang balas menampar wajahku yang memang sudah remuk ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jam kemudian dua lelaki senjang usia tersebut sudah akrab. Entah api dari mana yang mengasapkan kehangatan hubungan mereka. Tiba-tiba saja, tamparan, rasa skeptis, dan caci-maki yang kerap mewarnai awal jumpa mereka di lembaga pemasyarakatan sore tadi mulai berkurang—bukan hilang sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Itulah leliku hidupku, Pak,” lelaki yang lebih muda menutup cerita hidupnya pada malam yang memekat. ”Sekarang giliranmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Istriku selalu meminta kiriman uang dariku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wajar, bukan?” sela yang lebih muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iya. Sebelum semuanya terungkap bahwa ia berprofesi sama dengan ibumu yang baru kau ceritakan tadi. Aku murka setelah mengetahui semuanya. Aku datangi tempatnya, kuacak-acak sarang setan yang dia buat. Ia pun membawa kasus ini ke meja hijau. Aku tak cukup beruang lagi saat itu. Ia menang. Tetapi, aku tak heran. Seorang mucikari seperti dia pasti memiliki bekingan berlapis, tak mengenal profesi, tanggung jawab, dan sumpah jabatan yang menyertainya. Wajahku saja, seperti kaulihat saat ini, lebam mengungu, sampai hampir tak berupa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi, ya aku dipenjara,” lelaki tua itu menerawang, ”salahku juga yang belum sempat menceraikannya. Sakit hatinya aku adalah ketika di pengadilan terungkap bahwa ternyata kirimanku selama ini sudah beberapa tahun belakangan tak pernah dia terima. Entah bagaimana itu bisa terjadi. Katanya anak bujang kami yang melarikannya karena memang atas nama ia buku tabungan tersebut ditandatangani. Kalau penegak hukum itu mau adil, seharusnya mereka berlogika, mana tahu aku perkara diterima atau tidaknya uang itu. Lagi pula wanita iblis itu tak pernah mengabariku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi tepatnya, apa pasal hingga Bapak mendekam di sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sangkaan terhadapku sangat berlapis. Selain masalah tak pernah menafkahi istri dan anak, juga tindakan anarkis terhadap rumah pelacuran istriku. Tetapi…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tetapi apa, Pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”…aku tak rela ditangkap, maka melarikan dirilah aku ke suatu daerah yang kuyakini bisa menumpang teduh pada adikku. Walaupun aku tak dapat menemukannya dan akhirnya aku tertangkap juga,” lelaki itu menyebut nama suatu tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku sempat tinggal di sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah? Benarkah? Kau kenal adikku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Siapa namanya?” tanya yang lebih muda sok peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Marlis. Ya hanya Marlis tok! Kau kenal?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deg!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air muka lelaki yang lebih muda memerah. Tetapi, raut itu belum sempat ditangkap mata tua lelaki di hadapannya. Ah, aku tak mau memanjangkan cerita, cukup membosankan juga nanti berbalas omong dengan lelaki tua ini. Paling ia akan menerorku dengan tanya ini-tanya itu perihal Marlis miskin buta agama itu. Kasihan kalian, dua beradik yang tak mujur dua-duanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau kenal?” lelaki tua mendesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Huaaap…,” lelaki yang lebih muda menggeleng sambil pura-pura menguap. ”aku ngantuk, Pak. Tidur dulu, ya. Nanti kalau ada sipir yang mengantar makanan, bangunkan aku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya sudah kalu begitu. O ya, tadi kau bercerita panjang lebar tentang dirimu, tetapi kau belum menyebutkan namamu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Huh! Banyak bacot pula, kau! Baiklah, biarkan aku istirahat setelah kau dengar semuanya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki tua mengangguk ragu. Keder juga dia melihat ekspresi kesal lelaki 27 tahun-an di hadapannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Namaku macam-macam. Saat aku dimasukkan ke sini perihal kucuri semua uang wakaf masjid yang telah kutunggui lebih dari lima tahun, namaku Ahmad. Sebelumnya namaku Andre, semasa kecil namaku Amrul.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Amrul?” lelaki tua membelalak, serasa tak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iya. Tidak ada pertanyaan lagi, kan?” Ahmad tak memedulikan ekspresi rekan sekamarnya. Ia langsung berbalik, membaringkan tubuhnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyap. Hanya angin penjara yang berseliweran mengisi ekspresi murung, sedih, pedih, dan kacau para penghuninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Semasa kecil, kau sangat suka didongengi, bukan?” suara lelaki tua memecah hening. Ia telah membelakangi Ahmad, menghadap ke jeruji, memegangi bilah-bilah besinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad membuka kelopak matanya yang baru saja menutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Umur delapan tahun kau dibawa ibumu ke kota. Aku baru tahu beberapa tahun lalu, tepat pada usiamu ke-17 kau akan digigolokannya. Untung kau melarikan diri satu tahun sebelumnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad bangkit dari pembaringannya. Mukanya memerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jarun… Jarun… kau hanya manusia impian. Percuma saja kisah-kisah rekaan tentangmu kuhembuskan ke telinga putraku. Semua tak membekas. Ia tak jadi jua seperti yang diharapkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau… kau…?” Ahmad terbata-bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tak usah berharap. Aku sudah lupa dongeng-dongeng tua itu. Aku tak akan mendongeng lagi.” lelaki tua itu menyeringai kecil. ”Lagi pula, pemilik pusat kebugaran itu sudah menjadi papi tirimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad bangun. Perlahan, mendudukkan tubuhnya yang layu di dinding penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mungkin sudah takdirnya pula, dua beranak mati di jeruji ini,” lelaki tua itu membalikkan tubuhnya menghadap Ahmad yang meremas-remas rambut kusutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeruji besi berbunyi seperti dipukul-pukul. Makanan anjing telah datang. Tampaknya malam itu akan menjadi lebih panjang dari biasa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-3719695980486362324?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/3719695980486362324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=3719695980486362324' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/3719695980486362324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/3719695980486362324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2010/11/dua-beranak-temurun-benny-arnas.html' title='Dua Beranak Temurun, Benny Arnas'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-2788053440528279343</id><published>2010-11-30T23:47:00.001-08:00</published><updated>2010-11-30T23:47:40.866-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Pohon Kersen, Linda Christanty</title><content type='html'>RUMAH kami menghadap pantai. Namun, pantai tak terlihat dari jendela-jendela yang terbuka. Pantai belum juga tampak ketika aku berdiri tegak di halaman pasir dan telapak kakiku yang telanjang bagai diserbu jarum-jarum halus-panas di siang terik itu. Pantai cuma gemuruh laut dan peluit kapal, meski aku bertengger di dahan tertinggi pohon kersen yang menjulang pongah di sudut halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUMAH kami menghadap pantai. Namun, pantai tak terlihat dari jendela-jendela yang terbuka. Pantai belum juga tampak ketika aku berdiri tegak di halaman pasir dan telapak kakiku yang telanjang bagai diserbu jarum-jarum halus-panas di siang terik itu. Pantai cuma gemuruh laut dan peluit kapal, meski aku bertengger di dahan tertinggi pohon kersen yang menjulang pongah di sudut halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tebing curam yang dihampari tanaman rambat berduri telah menyembunyikan pantai di bawah sana. Dan sebatang pohon nangka yang kurang subur di pinggir tebing, dengan ranting-ranting tua meranggas, berdiri murung mengawasinya.  Menjelang malam, ketika sedikit cahaya memberi siluet pada benda-benda di alam raya, pohon nangka tadi benar-benar menyerupai makhluk asing kesepian merenung di tebing. Hitam. Bisu. Sebatang kara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandanganku yang linglung segera membentur garis pertemuan langit dan tebing. Bukan garis lurus yang terlihat, bukan semacam garis yang dihasilkan mistar dan pensil di atas kertas gambar, melainkan gelombang garis dengan ketinggian puncak dan kedalaman lembah yang berbeda. Semak, pohon, tonggak kayu, tonjolan tanah… telah mencemarinya. Langit yang kulihat pun selalu berubah warna. Biru, abu-abu, hitam, atau putih menyilaukan. Seperti warna-warna bersemburat di benak. Sulur-sulur tumbuhan liar yang menjalar dan menyelimuti tebing selalu terlihat hijau cerah di musim hujan, tapi kering kecoklatan di musim kemarau dan lebih mirip rajutan kawat berkarat ketimbang tumbuhan yang pernah hidup, pernah segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali aku diajak kakek pergi ke pantai. Kami terpaksa mengambil jalan memutar. Sudut kemiringan tebing tersebut hampir 90 derajat. Mustahil dituruni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu kakiku menyentuh pasir, aku segera berbalik menatap tebing. Sungguh tinggi. Pohon nangka tampak sayup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAAT aku masih di sekolah dasar, sebagian waktuku habis di atas pohon kersen itu. Bukan sekadar membayangkan pantai yang tersembunyi, melainkan untuk tujuan lain.  &lt;br /&gt;Sepulang sekolah dan seusai makan siang, aku memanjat sambil menyandang tas kain berisi buku-buku cerita, kemudian duduk di salah satu dahannya yang kokoh untuk membaca dan menyimak bualan para pendongeng serta terpengaruh oleh kata-kata mereka. Komik Tin Tin, serial detektif Nancy Drew, Kisah dari Lima Benua…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin tipis berembus dan memberi sejuk di kulitku, lalu mulai mengusap-usap pelupuk mata. Lama-kelamaan huruf-huruf saling berimpitan atau menggandakan diri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai mengantuk, tapi tak berani lelap. Bukan lantaran ulat-ulat hijau gemuk yang tiba-tiba merayap, menjengkali tubuh sewaktu-waktu, lalu menebar rasa gatal di pori-pori, melainkan lebih pada rasa takut jatuh. Meski angin kencang lebih sering datang pada bulan tertentu, musim tertentu, perasaan takut diterbangkan dan dihempas angin itu memaksaku segera turun saat rasa kantuk mulai menyerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin kencang memang menakjubkan. Butir-butir pasir terangkat, melayang, dan menyepuh udara. Lantai teras berpasir. Kaca-kaca jendela berdebu. Dinding rumah kami makin kusam. Mak Sol, keponakan kakekku yang tinggal bersama kami, akan sibuk menyapu teras dan mengelapi kaca pintu serta jendela selama berminggu-minggu, lebih sering dari hari-hari biasa. Yu Ani, yang hampir setahun ini membantu memasak dan mencuci pakaian di rumah kami tergopoh-gopoh mengangkat ember dan mengepel lantai. Kadangkala aku memandangi angin kencang dari jendela paviliun, tempat kakek tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paviliun itu memiliki jendela-jendela besar. Kusen-kusennya yang dicat putih terbuat dari kayu meranti. Bidang kaca yang luas di kamar kakek membuatku leluasa melihat angin melanda dan meliukkan cabang dan ranting kersen. Daun-daun gugur. Ulat-ulat terpental dan terkapar di pasir seperti korban tabrak lari. Anehnya, musim ulat selalu bersamaan waktunya dengan kedatangan angin kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Angin Barat sudah sampai,” kata kakek, seraya menyimpan buku belanja di laci mejanya yang bisa menampung seluruh kuitansi pembelian barang, kartu iuran televisi dan radio, surat-surat penting, dan botol-botol bekas obat batuk yang berisi bermacam akar-akaran (dan sebuah botol istimewa berisi koleksi gigi kakek yang tanggal!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek kemudian memisahkan uang kertas dari uang logam atau sebaliknya, dengan cekatan. Uang kertas dimasukkan ke amplop coklat bertulis UANG BELANJA BULANAN, sedang uang logam disuapkan ke mulut seekor gajah tembikar yang tengah mendongak seraya mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi, celengan hadiah dari keponakan kakek yang bekerja di perusahaan pelayaran. Setelah itu amplop uang disimpan dalam brankas. Celengan gajah digeser kembali ke sudut meja. Diam-diam aku pernah mengorek-orek celengan gajah itu dan berusaha menjatuhkan beberapa keping logam di dalamnya. Jarang berhasil. Tapi suatu kali jumlahnya cukup untuk membeli lima bungkus ham lam, manisan dari sejenis buah yang bentuk bijinya seperti kacang almond dan ukurannya dua kali lipat kacang almond. Rangkaian huruf kanji yang tertera pada kertas pembungkus sama sekali tak kupahami. Tulisan ‘ham lam’ dalam huruf Latin di bawah rangkaian huruf kanji itulah yang kuartikan sebagai nama manisan buah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukira, kakek mengetahui perbuatanku, mencuri keping-keping logamnya. Suatu hari ia membelikan aku sebuah celengan ayam dari tanah liat dan berkata, “Tabung uang logammu di sini. Nanti pecahkan kalau sudah penuh.” Aku tiba-tiba merasa sedih dan malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualihkan pandanganku dari bidang kaca, mengamati kakek yang duduk memunggungiku. Sebenarnya, kakeklah yang menjadi pemimpin keluarga kami, bukan ayah. Setiap hari ia memeriksa tetek-bengek keperluan rumah, dari soal garam dapur sampai mendatangi tetangga kami yang mencuri air dari pipa ledeng di belakang rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek juga yang datang ke kantor polisi untuk membebaskan sopir kami yang dituduh menabrak orang. Ayah malah ingin memberi uang sogok pada polisi agar urusan cepat selesai. “Jangan! Kalau benar, kita harus berani sampai mati pun,” katanya, menghardik menantunya yang lemah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek pelan-pelan mengangkat cangkir kopi, lalu meneguk isinya. Kopi robusta, kental. Aku pernah mencicipi kopi kakek, seteguk. Pahit. Kumuntahkan di wastafel. Hitam pekat. Warna yang menakutkan, tapi selalu ada. Kulihat jari-jari kakek bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Angin kencang ini membawa penyakit. Kalau bermain, di dalam rumah saja. Lebih aman,” ujar kakek, seraya meletakkan cangkir di atas piring tatakan. Sebentar kemudian ia pun beranjak dari kursi, meletakkan kaca mata baca di atas bufet, lalu berjalan melewati ambang pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIKA pandanganku kembali membentur bidang kaca itu, kulihat gumpalan awan hitam berarak pelan di langit. Angin masih menggila. Butir-butir tanah terangkat ke udara, lalu terhempas ke bumi. Laut di bawah tebing sana bergelora. Teman sekolahku, Kang Haw, hilang di laut itu gara-gara ikut mendorong perahu nelayan sampai ke tengah. Mayatnya mengapung setelah dua minggu. Bengkak. Biru. Penuh lubang bekas gigitan. Meski kakek melarang, aku nekad melihat jasadnya yang ditandu orang-orang setelah diangkat dari laut. Begitu rombongan duka menikung di sudut jalan, aku buru-buru memanjat pohon kersen dan terus mengamati mereka membawa Kang Haw. Tiupan angin mendadak kencang. Pori-poriku meremang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di malam hari, saat aku terbangun untuk ke kamar mandi, gemuruh angin terdengar lebih keras, serupa geram raksasa yang berulang-ulang. Aku berlari di lorong panjang itu; penghubung kamar mandi di rumah belakang dengan kamarku yang terletak di  rumah induk. Kamarku lebih dekat ke kamar mandi di ujung lorong ketimbang ke kamar mandi keluarga di rumah induk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantai semen sedingin es. Aku sering lupa memakai sandal flanel. Telapak kaki seolah beku. Bang Husni, cucu angkat kakek, sudah berdiri tegak di muka kamarnya yang bersebelahan dengan kamar mandi. Ketukan kaki yang lembut dan irama langkah yang ringan telah menyentaknya dari lelap. Rumah yang sunyi membuat bunyi lebih nyaring terdengar. “Seperti dering weker,” ujarnya, menyeringai. Ia mendekat. Jari-jarinya mencengkeram lenganku, “Jangan lari terlalu kencang, nanti jatuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Husni sering meminjamiku buku-buku komik. Ia menyewa buku-buku itu dari kios buku di pasar. “Komik-komik ini boleh dibaca dengan satu syarat,” katanya, suatu hari. Matanya berbinar ganjil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin terus berembus melalui lubang-lubang jendela kawat di sepanjang lorong. Malam menghitam. Angin mendesis, dingin, tajam. Tubuhku menggigil. Daun-daun kersen gemeresak. Ia mematikan lampu lorong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;POHON kersen itu pernah ingin ditebang kakek. “Kalau musim ulat bikin orang jadi jijik. Kau lihat itu… di mana-mana ulat,” gerutu kakek, mengarahkan telunjuknya ke jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak setuju. Di atasnya, aku ingin membangun sebuah rumah mungil. Aku ingin punya rumah sendiri. Bukankah ulat-ulat tak berlimpah ruah tiap waktu? Bukankah pohon itu bisa disemprot dengan racun ulat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih baik kita tanam pohon rambutan atau jambu, lebih bermanfaat,” bujuk kakek, mengelak berbantahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah dan ibu mendukung niat kakek, tapi nasib baik masih berpihak pada pohon tersebut. Perlahan-lahan semua orang lupa pada rencana semula. Hanya ketika angin kencang datang dan merontokkan ulat-ulat, percakapan tentang penebangan pohon muncul lagi. Rencana tersebut berkali-kali batal terlaksana, lenyap di tengah hingar persoalan sehari-hari yang lebih penting. Tentu saja, aku bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai melihat-lihat papan sisa di belakang rumah. Aku mengamati cara kakek menggergaji, menyugu, dan memaku. Rumah kayu itu memerlukan persiapan yang matang. Ia harus tahan terhadap serbuan angin beliung sekalipun. Aku akan membangunnya sendiri. Tak seorang pun kuberitahu. Aku mulai membuka-buka buku keterampilan pertukangan milik kakek. Tiap memandang pohon kersen, keinginan tinggal di atasnya makin kuat dan berakar dalam hati. Aku berkhayal tidur malam di situ. Dari jendelanya yang mungil kulihat bintang-bintang berkelip. Oh, ya, aku punya keker pemberian ayah. Kamar mandi? Aku bisa buang air dalam kaleng bekas cat. Beres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadangkala aku juga putus asa. Apakah aku sanggup membangun sebuah rumah? Pikiranku tiba-tiba jadi kacau. Kepalaku sakit. Namun, selama rumah impian belum terbangun, aku tetap  bisa berlindung di pohon kersen, sejenak bersenang-senang, dan terus mencari akal mewujudkannya kelak. Aku juga bisa mengintai dan mengetahui banyak peristiwa yang berlangsung di rumah kami dari balik daun-daun kersen yang hijau rimbun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA hari Minggu, lelaki tua yang membawa ikan-ikan laut dalam dua keranjang rotan di kanan-kiri sepedanya, selalu berhenti di muka rumah kami. Aku menutup buku ceritaku, sengaja mengamati gerak-geriknya dari atas pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melayangkan pandangannya ke paviliun kakek. Ia tak melihatku. Betis-betisnya yang kurus menyangga sepeda dan muatan yang dibawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek tak pergi ke pasar pada hari Minggu. Ia menunggu gerobak sayur atau sepeda ikan lewat di muka rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si penjual ikan membunyikan bel sepedanya dua kali, lalu berhenti sebentar dan menekan bel dua kali lagi lantaran kakek belum juga muncul. Tak berapa lama kakek membuka pintu paviliun, melangkah di halaman sambil tersenyum, kemudian berteriak pada lelaki itu, “Apakabar, Suk? Ada ikan bagus? Udang ada? Kerang? Ikan pari? Belanak? Selar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tionghoa yang berkulit coklat terbakar dan kerut-merut wajahnya bagai guratan-guratan pisau di kulit kayu itu menyambut kakek dengan senyum lebar. “Ada, Pak. Semuanya baru datang. Ikan-ikan kembung ini masih segar. Pari tinggal sedikit,” katanya, bernada riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek memilih-milih ikan dalam keranjang. Penjual ikan mengeluarkan dacin. Kakek meletakkan ikan-ikan di mangkuk timbangan. Penjual ikan mulai menggeser anak timbangan, melihat skala berat pada tongkat dacin. Setelah itu kakek mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari saku celana dril-nya. Penjual ikan menganggukkan kepala, memamerkan gigi-gigi yang ompong, lalu mengayuh sepedanya menjauhi rumah kami. Kring-kring… Ia membunyikan bel dua kali sebagai ucapan perpisahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek menenteng plastik ikan, menuju paviliun, lalu sejenak menengadah ke arah pohon kersen. “Hati-hati jatuh!” teriaknya padaku. Aku membalas dengan melambaikan tangan dan menjulurkan lidah. Kakek tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kakek tak selalu membeli ikan di hari Minggu. Penjual ikan itu melarang kakek membeli ikan-ikannya, meski ia tetap mampir di muka rumah kami seperti biasa, membunyikan bel sepeda, dan menunggu kakek. Ketika kakek muncul, ia berteriak, “Hari ini tak ada ikan bagus, Pak. Nelayan belum pulang dari laut.” Kakek membalas teriakannya, “Ya, ya… tunggu sebentar!” Aku tahu apa yang akan dilakukan kakek. Ia meminta Yu Ani menakar dua liter beras kami dan menuangnya ke kantung plastik untuk diberikan pada  si penjual ikan. Selalu, pada hari-hari tak ada ikan segar, kakek mengantar sebuah bungkusan pada lelaki tersebut. Bertahun-tahun aku menyaksikan pagi hari Minggu seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Minggu penjual ikan tak datang. Hari Minggu berikutnya bunyi bel sepedanya tak terdengar juga. Hari-hari Minggu berlalu tanpa ikan-ikan. Berbulan-bulan kakek mengganti menu ikan dengan daging sapi atau ayam. Percakapan tentang penjual ikan yang menghilang terdengar berkali-kali di meja makan atau di dapur. “Apa sakit tu orang?” gumam kakek. Yu Ani malah menyangka penjual ikan mengalami musibah yang lebih berat. “Mungkin meninggal. Sudah tua, Pak. Anak-anaknya ke mana ya, Pak? Orang sudah tua masih dibiarkan kerja,” ujarnya, cemas. Namun, perlahan-lahan peristiwa tadi terlupakan seiring datangnya peristiwa lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TENGAH malam dan selalu tengah malam, aku kembali terbangun dan berlari ke kamar mandi. Bang Husni sudah menunggu di depan pintu kamarnya. “Ada komik baru, dik,” ujarnya, setengah berbisik. Sebenarnya aku enggan melihat komik-komik itu. Aku buru-buru menekan gagang pintu kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyusulku dan menarik tanganku, “Mahabharata dan Superman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusentakkan pegangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sedang malas baca komik,” jawabku, kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayolah,” bujuknya. Aku enggan mematuhi persyaratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cuma sebentar, setelah itu kau bisa baca semua komik.” Suaranya terdengar manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menuntunku ke kamarnya, membaringkan tubuhku seperti boneka di tilam. Tangan-tangannya membekap mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya aku sukar buang air kecil. Aku malas berangkat ke sekolah. Kakek menawarkan diri mengantarku ke sekolah. Ayah dan ibu sudah berangkat ke kantor. Kedua adikku naik mobil jemputan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku panas, seperti demam. “Pohon kersen itu jangan ditebang,” pintaku pada kakek. Kakek meraba dahiku. “Kita lihat nanti,” jawabnya, sambil menepuk-nepuk pundakku. Aku menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kakek mengetahuinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Taruh pispot ini di kamarmu, biar tak usah menahan kencing, nanti anyang-anyangan,” katanya, sepulang dari pasar. Kakek menaruh pispot di bawah tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Bang Husni kabur dari rumah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak pandai membalas budi. Disekolahkan, diberi makan, dibelikan kain baju… malah lari,” rutuk Mak Sol, panjang pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Husni sebentar lagi menempuh ujian akhir sekolah menengah atas dan kakek ingin ia menamatkan sekolah. Kepergiannya membuat kakek murung berhari-hari. Di mana dia sekarang? Bagaimana keadaaannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUMAH kayuku akhirnya gagal bertengger di pohon itu, tapi aku tetap menghabiskan sebagian waktuku dengan duduk di salah satu dahan dan membaca buku-buku.  Sesekali aku memandang ke arah pantai. Cuma gemuruh laut dan peluit kapal yang menandai keberadaannya. Sekitar 100 meter dari sini, tebing yang dihampari tanaman rambat berduri itu telah menyembunyikan pantai di bawah sana dan sebatang pohon nangka di pinggir tebing curam itu adalah makhluk kesepian yang berdiri murung mengawasi laut di kejauhan. Dan laut sanggup menelan apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali waktu, tanpa sengaja, aku melihat seseorang berdiri di pinggir tebing. Hari menjelang malam. Adzan maghrib baru usai. Aku hendak menutup tirai jendela paviliun. Kakek sedang pergi ke luar kota, mengunjungi saudara kami yang sakit. Mak Sol ikut bersamanya. Siapa orang yang terpaku di tebing itu? Dan untuk apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban kuperoleh dari ibu. “Yu Ani,” bisiknya, singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku penasaran. Apakah Yu Ani berniat terjun dari tebing? Ibu enggan berbicara lebih panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yu Ani patah hati. Ah, kau pasti tak paham ‘kan? Yu Ani tu suka sama orang kapal. Nah, sudah sebulan dia pacaran. Eh, si laki ini ternyata sudah berkeluarga. Banyak anak-anak gadis datang ke kapal, terus piknik ke pantai situ… Pasti Yu Ani masih ingat terus,” kisah Mak Sol, prihatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek lalu menghiburnya dengan bermain ramalan. “Kau akan dapat jodoh tak lama lagi,” kata kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yu Ani tersipu-sipu. Pipi-pipinya merah dadu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau saya, Man?” tanya Mak Sol, bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek memeriksa garis tangannya, mengerutkan dahi, “Ee… agak berat, tapi jodohmu pasti ada. Orang jauh… mungkin orang seberang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertiga tergelak-gelak. Ha-ha-ha-ha… Aku ikut tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, anak kecil, jangan kau mencuri dengar ya… Pergi jauh-jauh sana. Pergi ke pohonmu.” Mak Sol mengusirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berlari menghindari cubitannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar hantu pohon kersen!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hantu dapur!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ha-ha-ha-ha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan-kenangan selalu kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Dipublikasikan pertama kali di Koran Tempo, 2005. Versi bahasa Inggris yang berjudul The Kersen Tree dimuat di The Asia Literary Journal, Hongkong, 2006.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-2788053440528279343?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/2788053440528279343/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=2788053440528279343' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/2788053440528279343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/2788053440528279343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2010/11/pohon-kersen-linda-christanty.html' title='Pohon Kersen, Linda Christanty'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-6351069144130503560</id><published>2010-11-30T23:31:00.000-08:00</published><updated>2010-11-30T23:33:28.749-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Cerpen Seno Gumira: Sepotong Senja Untuk Pacarku</title><content type='html'>Alina tercinta,&lt;br /&gt;Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar.&lt;br /&gt;Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.&lt;br /&gt;“barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alina sayang,&lt;br /&gt;Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Catat nomernya! Catat nomernya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alina kekasihku, pacarku, wanitaku.&lt;br /&gt;Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–Cerpen Pililihan Kompas 1993&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-6351069144130503560?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/6351069144130503560/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=6351069144130503560' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/6351069144130503560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/6351069144130503560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2010/11/sepotong-senja-untuk-pacarku.html' title='Cerpen Seno Gumira: Sepotong Senja Untuk Pacarku'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-9112826002208748033</id><published>2010-11-19T18:44:00.000-08:00</published><updated>2010-11-19T18:46:42.338-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Dialog Imajiner dengan Pria Imajiner</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Selamat Malam, Tuan... hmmm?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jangan panggil saya Tuan, cukup Pria Imajiner.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Baiklah, Pria Imajiner, saya tak ingin berbasa-basi, ceritakan kisah cinta Anda?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Saya mencintai seorang perempuan. Sejak saya masuk ke kampus imajiner, pertama kali melihatnya, saya langsung jatuh cinta. Perlu waktu dua tahun lamanya, setelah saya pindah ke kampus imajiner yang lain, tanggal 7 Desember 2007 saya jadian dengan dia. Saat itu saya bahagia sekali. Film pertama yang kami tonton adalah film tentang mencari harta karun, di BSD Serpong saat bakda libur natal. Saya juga ajak dia ke kosa say, naik kereta, itu pertama kalinya dia naik kereta. Tapi kami tak sempat berlama-lama karena pamannya menagih janji kepulangannya jam lima sore. Kami ke stasiun lagi dan kereta baru ada jam setengah empat sore, tentu akan telat sekali. Kami bersepakat naik taksi. Dan di taksi itulah pertama kali saya menggenggam tangannya, dalam diam, dalam tanpa kata-kata.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anda tentu bahagia. Pernah bermasalah dengan dia?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sangat bahagia. Tapi saya tidak terlalu jujur dalam memulai hubungan ini. Maksud saya, saya memang mencintainya, tapi ada hal-hal di luar konteks, terjadi lebih dulu, dan kemudian saya korbankan.&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya?&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya keluar dari kampus imajiner di Bandung, saya sempat dekat dengan Nona N. Enam bulan. Tapi kami tidak jadian. Saya sempat menyatakan perasaan lewat SMS, tapi tidak dianggap. Dia bilang saya harus menyatakan cinta di depannya. Hal itu amat berat bagi saya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anda laki-laki bukan? Kenapa tidak berani?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tentu saya laki-laki. Tepatnya, pria sejati. Hanya saja, saya akan mengucapkan cinta hanya pada perempuan yang sudah saya yakini akan menjadi istri saya nanti.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lalu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di saat yang sama, setelah Nona N mulai tampak menyebalkan dengan prinsip-prinsipnya itu, saya bertemu lagi dengan cinta monyet saya di jaman SMP. Dalam tiga minggu PDKT, saya berhasil jadian dengan Miss A. Di saat bersamaan dengan pendekatan saya dengan Nona N. Akan tetapi, ya, akhirnya saya tak tahan ketika Ze yang saya cintai di kampus imajiner di Bandung itu mulai dekat dengan saya. Saya sadar harus memilih. Dan perempuan yang pertama saya gugurkan adalah Nona N. Saya bilang ke Nona N saya sudah punya pacar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana dengan Miss A?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya butuh waktu untuk menimbang-nimbang mana yang akan saya pilih. Pada akhirnya, karena waktu, saya tak suka perempuan yang telat datang saat memenuhi janji, saya akhirnya meninggalkan Miss A, dan bersumpah setia ke Ze.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anda benar-benar setia dengan Ze?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hanya bertahan sekitar satu tahun pertama.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada seorang perempuan lagi menggoda saya di akhir tahun 2008. Sebut saja dia Ca. Saya ditelepon berjam-jam, disms berkali-kali sampai akhirnya terpecah rekor bertelepon ria saya selama enam jam dengan dia. Dia suka puisi, dan itu bikin pembicaraan kami berdua nyambung.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anda sempat jadian sama Ca? Bagaimana dengan Ze?&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Ze tahu ada yang berubah sama saya. Sementara, Ca ternyata juga mendayung di dua perahu. Dan perahu yang ditinggalkannya adalah saya. Saya menceritakan semuanya pada Ze. Lalu meminta maaf.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; &lt;br /&gt;Anda dimaafkan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sepertinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apakah setelah itu Anda masih selingkuh lagi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Anehnya, ya. Tentu, Anda tahu saya ini pria imajiner. Saya juga punya kehidupan imajiner. Ze adalah sosok realis, tidak imajiner, dan dia tidak bisa memuaskan imajinasi saya terhadap sesuatu terutama sastra.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Maksud Anda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada beberapa perempuan yang bikin saya ingin menulis puisi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bisa Anda ceritakan lebih detil?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ini agak rumit. Saya begitu mudah jatuh cinta. Itu satu. Tetapi saya sulit mencintai. Itu dua. Dan kedua hal tersebut bikin saya merasa puas ketika seorang perempuan sudah mengatakan cinta kepada saya. Itu tiga. &lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Anda membuat para perempuan mengatakan cinta pada Anda?&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Setelah itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya meninggalkan mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anda jahat sekali?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sepertinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ada dendam di masa lalu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tidak ingin diceritakan di sini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lalu berapa perempuan yang sempat menjadi kepuasan imajiner Anda itu?&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Banyak. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yang paling berkesan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada tiga orang yang berkesan dalam hal-hal tertentu. Tetapi sebelumnya saya ingin meralat pertanyaan Anda tentang 'menjadi kepuasan' itu. Mereka berkesan karena sesuatu yang ada pada diri mereka, bukan atas apa yang menjadi reaksi saya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertama, Nona Mily, rasanya dia adalah perempuan paling sedih yang pertama saya temui. Saya tidak mencintainya, tetapi saya merasa senang tiap saat dia ada dan bercerita tentang kesedihannya pada saya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua, Nona D. Saya mungkin mencintainya. Saya tidak yakin. Sampai kini pun  kami masih berteman cukup baik. dan saya merasa senang berkawan dengannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketiga, Ind. Saya singkat begitu saja. Dia manis sekali. Dia juga bikin saya ingin terus menulis bait-bait puisi untuknya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dari ketiga itu, bisa Anda bandingkan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya tak mau membanding-bandingkan mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hanya Ind itu adalah katalis dalam aksi reaksi. Ketika kehilangannya saya tidak bisa menulis puisi cinta senormal biasanya. Ada sesuatu yang pergi juga dari diri saya. Entahlah, Ind adalah sosok puisi yang belum puisi ditulis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nona D adalah serendipity saya, soulmate saya. Entahlah, saya meyakini itu. Dia begitu mirip dengan saya. Dia cantik sekali. Tapi saya menyadari dia telah dicintai oleh pria yang lebih baik dari saya. Dalam artian, pria itu bisa membahagiakannya, bisa mencintainya. Tidak seperti saya yang tidak profesional dalam perihal mencintai.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nona D, kalau bersama dia, membayangkan kebersamaan dengan dia, saya rasa, waktu akan hanya jadi milik kami berdua.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lalu Ze?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yah, Ze adalah sosok istri yang baik. Saya akan mempertahankannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anda yakin tidak akan ada perempuan lagi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya tak ingin. Tapi siapa yang tahu...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ok, baiklah, terima kasih atas pembicaraan ini. Sukses untuk perjalanan cinta Anda.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sama-sama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-9112826002208748033?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/9112826002208748033/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=9112826002208748033' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/9112826002208748033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/9112826002208748033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2010/11/dialog-imajiner-dengan-pria-imajiner.html' title='Dialog Imajiner dengan Pria Imajiner'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-7504509943234196990</id><published>2010-11-18T05:08:00.000-08:00</published><updated>2010-11-18T05:09:31.081-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Template Malna</title><content type='html'>Ribut Wijoto&lt;br /&gt;Radar Surabaya (7/11/2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa hal, saya adalah penggemar Afrizal Malna. Ketika suatu kali Afrizal bilang bahwa banyak penyair sekarang sebenarnya tidak punya alasan untuk menulis puisi, sungguh, saya terpesona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah pernyataan itu dilontarkan setelah melalui riset yang panjang, pertimbangan mendalam, atau sekadar ceplosan, saya tidak tahu pasti. Yang pasti, dalam beberapa hari bahkan bulan, pernyataan itu terus terngiang dalam benak saya. Dia seakan merasuk inheren pada otak saya, istilah Jawanya, saya terus kepikiran. Beruntung bagi saya, pernyataan Afrizal tidak sampai membetot mimpi saya. Mimpi saya tetap terisi persoalan-persoalan rumah tangga. Semisal percintaan saya dengan istri saya yang tidak pernah jenuh kami lakukan. Pernyataan Afrizal hanya berkelindan dalam pikiran ketika saya sepenuhnya sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu kali saya iseng menanyakan kepada Afrizal, apakah puisi-puisi yang termuat di media itu bisa dijadikan standar kualitas puisi di Indonesia. Dia menjawab dengan nada datar, “Ribut.., para redaktur itu banyak yang tidak paham puisi”. Waduh! Jawaban apa pula ini. Untung yang ngomong Afrizal Malna, tokoh idola saya. Coba kalau yang ngomong orang lain, saya tentu mendebatnya habis-habisan. Atau setidaknya, saya akan langsung menganggapnya sedang pilek pengetahuan. Tapi ini Afrizal, tokoh idola saya. Engkau tahu, setiap omongan idola adalah spirit menjalani kehidupan. Semisal engkau mengidolakan Amin Rais. Maka setiap omongannya tentang politik, engkau tentu menghargainya, menghormatinya. Nah, ini Afrizal Malna, seorang penyair dan dia berbicara tentang kepenyairan, tidak bisa tidak, saya menghormatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Afrizal, dia telah mendedahkan 2 soal gawat bagi keinginan saya membaca karya puisi-puisi saat ini. Bagaimana tidak, penyairnya dinilai tidak punya alasan menulis puisi sedangkan redakturnya dianggap tidak paham puisi. Klop. Itu artinya, puisi-puisi yang dimuat media massa saat ini adalah sampah. Diam-diam saya berdoa, semoga penilaian ini salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas saya berusaha mengabaikan statemen Afrizal. Saya tetap tanpa jemu mengikuti satu dua puisi di media massa. Membacanya. Kadang menyimaknya. Kadang memasuki lanturan imajinasinya. Kadang menyisir asonansinya, rima-ritmenya, pilihan diksinya yang mencengangkan, literasinya, juga tipografinya yang kadang sopan kadang norak. Saya menikmatinya. Bersanding dengan semburan berita, feature, iklan, dan foto lepas; keberadaan puisi tetap menyuguhkan dunia lain. Pada puisi, semua peristiwa penting bisa bertemu dengan peristiwa sepele. Berpadu pula dengan peristiwa seronok. Dan, ini yang paling istimewa, puisi-puisi itu mengajak saya untuk berkontemplasi. Bukankah ini asyik? Sangat berbeda dengan membaca berita. Apalagi baca iklan. Wekss!!&lt;br /&gt;Tetapi begitulah, keasyikan saya membaca puisi tidak sepenuhnya menyebar di seluruh tubuh. Ada beberapa bagian tubuh saya menolak untuk menikmati puisi Indonesia saat ini. Semakin ganjalan itu saya tekan, semakin dia menolak untuk menyingkir. Dia membantah, mengajak beradu argumen, dan saya tidak menanggapinya. Saya hanya memberi saran pada sebagian tubuh saya; pikiran kamu itu tidak bersih, kamu telah dipengaruhi Afrizal Malna, istigfarlah, memohon ampun pada Allah SWT, kembalilah pada jalan yang benar, abaikan orang yang telah memprovokasi kamu, jernihlah memandang fenomena-fenomena baru, jangan terlalu percaya pada status quo. Bukannya menurut, bagian tubuh saya yang menolak puisi Indonesia semakin beringas, dia secara terang-terangan menantang saya. Sekali lagi, saya tetap tidak peduli dengan tantangannya. Saya anggap dia sedang caper (cari-cari perhatian). Maka, saya memilih untuk pamit pergi. Pura-pura sedang ada janji dengan teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menuju warung. Memesan kopi dan mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celana. Sembari mengepulkan asal, saya bergumam, ah, hidup memang layak untuk dibuat gembira.&lt;br /&gt;Sebagai penggemar Afrizal, saya merasa mengenal baik puisi-puisi Afrizal. Saya merasa sepenuhnya tahu, puisi Afrizal adalah reproduksi tradisi perpuisian yang sebelumnya pernah ada. Afrizal memahami teknik puisi mulai dari zaman Indonesia masih dijajah Belanda hingga puluhan tahun setelah Indonesia merdeka. Kesemuanya turut membentuk karakter puisi Afrizal. Secara sadar dia mengadopsi dan mengolah kembali sehingga membentuk pola puitik tersendiri. Dari situ, saya bisa katakan, Afrizal telah berkontribusi terhadap tradisi kepenyairan (baca: kesusastraan) di tanah air. Dia tidak sekadar mengekor. Lebih dari itu, dia mencipta ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengekor dan mencipta ulang tentu saja berbeda jauh. Tradisi puisi menyediakan pola puitik seperti template website. Pada blog wordpress misalnya, pengguna telah disediakan beragam macam template. Tinggal memilihnya. Usai memilih, pengguna cukup memasukkan tulisan atau foto. Jadilah blog baru. Kegiatan ini yang saya sebut mengekor. Kalau mencipta ulang, pengguna bakal membuat template tersendiri. Setelah jadi, dia baru memasukkan tulisan dan foto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan kepenyairan. Tradisi puisi itu semacam template. Seseorang bisa memasukkan kalimat atau kisah di dalamnya. Lahirlah puisi baru. Semisal template sajak perenungannya Subagio Sastrowardoyo, template sajak lirisnya Sapardi, template sajak mantra Sutardji Calzoum Bachri, atau template pantun. Banyak sekali template puisi yang disediakan tradisi puisi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, Afrizal mempelajari template-template itu untuk menciptakan template baru. Inilah yang saya sebut sebagai penciptaan ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak cukup mencipta template, Afrizal juga membelakkan mata terhadap realitas keseharian sekaligus mendialogkannya dengan ilmu pengetahuan terkini. Dia lahir dan besar di ibukota, Jakarta. Kesehariannya sangat keras. Bayangkan saja, jumlah kantor terbanyak se Indonesia, ada di Jakarta. Supermarket terbanyak di Jakarta. Mobil dan televisi terbanyak ada di Jakarta. Dan di situlah, Afrizal hidup. Imbasnya, ketika menulis puisi, Afrizal tidak bersikukuh membicarakan daun dan laut. Gunung dan sawah. Afrizal menulis tentang deru kereta, barang-barang mewah, coca cola, pemerintahan yang sibuk, keterasingannya terhadap lintasan waktu, identitas-identitas liar di sekujur tubuhnya. Afrizal menulis karena segala peristiwa telah melebihi dirinya. Beri aku waktu, beri aku waktu, untuk berkuasa, tulis Afrizal. Dia bisa sampai pada perspektif itu karena dituntun oleh pemikiran postmodern. Sejak tahun 1970-an dan memuncak pada akhir 1980-an, Indonesia memang sedang mabuk posmodernisme. Tidak terkecuali Afrizal. Maka, Afrizal pun mempertanyakan tubuh, mempertanyakan bahasa, memecah indentitas, menghirup simulakra, merayakan global village. Rosa membesar jadi sebuah dunia seperti Rosa mengecil jadi dirimu, tulis Afrizal pada puisi yang lain. Begitulah, Afrizal menulis puisi dengan mata terbelalak. Tradisi puisi ditangkap sekaligus persoalan kekinian disadap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu pasti, apakah proses itu yang disebut Afrizal sebagai alasan menulis puisi. Apakah proses itu pula yang dianggap Afrizal tidak dipahami para redaktur. Sekali lagi, sungguh, saya tidak tahu pasti. Yang pasti saya tahu, penyair kerapkali berbohong dalam berbicara. Kejujuran penyair hanya ada pada puisi.&lt;br /&gt;________________ Studio Teater Gapus, 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-7504509943234196990?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/7504509943234196990/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=7504509943234196990' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/7504509943234196990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/7504509943234196990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2010/11/template-malna.html' title='Template Malna'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-4649580758337913355</id><published>2010-11-15T04:22:00.001-08:00</published><updated>2010-11-15T04:22:54.308-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Rilke, Kepada Penyair Muda</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Engkau bertanya apakah sajak-sajakmu baik. Engkau bertanya padaku. Sebelum ini engkau telah menanyai orang lain. Kau kirimkan sajak-sajakmu ke berbagai majalah.  Kau bandingkan karyamu dengan sajak-sajak orang lain, dan engkau gelisah bila ada redaksi majalah yang menolak sajak-sajakmu. Sekarang kuminta agar kau jangan memperdulikan semua itu. Tidak ada orang yang dapat memberimu nasihat dan pertolongan, tidak seorangpun. Hanya ada satu jalan saja, masuklah ke dalam dirimu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DEMIKIAN Rainer Maria Rilke (1875-1926) mengawali tulisannya “Kepada Penyair Muda” yang dimuat dalam Majalah Sastra Horison No.2 Thn.II Februari 1967 terjemaahan Taufiq Ismail,  yang diambilnya dari “Surat-surat Kepada Seorang Penyair Muda”. Sayang, dalam tulisan tersebut Rilke tidak menyebut nama siapa pun yang disebut atau dimaksudnya sebagai “penyair muda” itu. Bahkan, dalam majalah sastra yang terbit 40 tahun yang lalu itu, ketimbang terbaca sebagai sebuah surat seperti yang menjadi sumber pemuatannya, tulisan itu lebih mirip sebuah esai yang penuh pesan kepenyairan ketimbang sebuah surat. Tapi jika hendak disebut sebagai sebuah surat, maka agaknya “surat” itu ia tujukan pada penyair muda di sembarang tempat dan waktu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seperti juga Goethe, Schiller, Heine, Holderlin, Brecht, atau Paul Celan, Rilke adalah seorang penyair yang karya-karyanya tak bisa disendirikan dari perkembangan kesusastraan Jerman. Dipengaruh oleh para tokoh simbolisme Prancis seperti Baudelaire, Rimbaud, dan Mallarme, dan filsafat eksistensialisme Kiekegaard, Rilke banyak disebut sebagai penyair Jerman terbesar dalam abad ke-20.  Penyair yang juga dinilai sebagai pembaharu perpuisian Jerman ini bahkan dipandang sebagai raksasa puisi Jerman.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam khazanah perpuisian Indonesia modern, karya-karya Rilke telah dikenal sejak generasi Chairil Anwar hingga pengaruhnya yang terasa sajak-sajak Saini K.M. Setelah satu dua puisinya termuat dalam beberapa antologi, sebutlah “Puisi Dunia” (1952) terjemaahan Taslim Ali dan “Kau Datang Padaku” (1994) terjemaahan Bertold Damhauser dan Ramadhan K.H.; terakhir tahun 2003 sejumlah puisi Rilke diterbitkan dalam bahasa Indonesia “Padamkan Mataku” terjemaahan Krista Saloh-Forster.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seperti di ujung kutipan di atas, tulisan Rilke berangkat dari keinginan menjelaskan sejumlah pesan dan pandangannya pada penyair muda, betapa sesungguhnya tak ada yang dibutuhkan bagi seorang penyair,  melainkan pertanyaan dari mana puisi itu datang , mengapa ia harus ditulis, dan untuk siapa ia ditulis? Pertanyaan ini menjadi menarik karena dengan itu Rilke lantas menjelaskan pesan dan pandangannya ihwal puisi dan pengakuan atas eksistensi kepenyairan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam konteks hari ini, pandangan dan seluruh pesan Rilke agar seorang penyair muda tidak usahlah kelewat nyinyir bertanya ke sana ke mari tentang mutu karyanya, lalu gelisah dan gundah gulana jika tak dimuat di majalah atau media-massa, tentu saja terasa ganjil. Pesan itu seakan menyatakan puisi bukanlah sesuatu yang layak diperbincangkan dan dipertanyakan. Namun agaknya bukan ihwal itu yang hendak ditekankan Rilke. Melainkan pendapatnya, bahwa bermutu tidaknya sebuah puisi amat ditentukan oleh sejauh mana seorang penyair mampu secara total masuk ke dalam dirinya. Dan inilah satu-satunya jalan sehingga puisi itu lahir dan menunjukkan mutunya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meski terkesan kelewat romantik, namun pandangan Rilke menjurus ke arah pertanyaan yang menarik; untuk siapa sesungguhnya seseorang menulis puisi? Apakah untuk selera kritikus atau penyair yang dianggap “senior” sehingga ia direstui dan dilegitimasi sebagai penyair? Apa untuk selera redaktur koran dan majalah agar puisinya dimuat?&lt;br /&gt;                                                                ** &lt;br /&gt;DAN jawaban atas seluruh pertanyaan itu dalam pandangan Rilke amat bergantung pada sampai sejauh mana seseorang menguji motivasi dirinya. “Temukan sebab yang mendorongmu menulis; ujilah sebab itu, apakah benar ia berakar dalam lubuk jantungmu, dan berterus-teranglah dengan dirimu sendiri apakah engkau akan mati jika dilarang menulis. Dan apabila proses masuk ke dalam ini, lahir sajak-sajak, janganlah minta pendapat siapa juga apakah sajakmu bagus atau tidak. Karena di dalam sajakmu itu kau lihat milik sejatimu yang kau cintai, sebuah suara dalam kehidupanmu. Suatu karya seni berguna apabila ia tumbuh dari suatu kemestian, “tulis Rilke.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rilke tampaknya amat menegaskan betapa puisi haruslah merupakan gerak pengalaman seorang individu yang menyelusuri seluruh bagian pengalaman dalam dirinya. Dan gerak inilah yang harus menjadi hulu dari penciptaan sebuah puisi. Gerak yang tak bisa dicegah dan didorong oleh kepentingan apapun ---termasuk kepentingan untuk disebut penyair---kecuali keperluan dan kebutuhan untuk bergerak menulis itu sendiri.  Maka soalnya lantas bukan melulu apakah puisi itu bagus atau tidak, tapi sampai sejauh mana puisi itu bisa menghadirkan sebuah totalitas dari seorang “Aku” dengan seluruh pengalaman, harapan, dan kecemasan-kecemasannya, yang berbeda dengan individu-individu lainnya. Seluruh totalitas inilah yang niscaya akan tampak dalam pencapaian bentuk estetika puisinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Karena itu, saudaraku yang terhormat, “ tulis Rilke lagi,  “Tidak ada nasihat lain yang bisa kuberikan kecuali ini: masuklah ke dalam dirimu sendiri dan selamilah pada kedalaman mana sumber kehidupanmu memancar. Mungkin ternyata untukmu ada panggilan untuk menjadi seorang penyair. Jika memang demikian, tempuhlah jalan ini dan pikul nasibmu di atas bahumu, segala berat beban dan segala kebesarannya, tanpa satu kalipun menuntut penghargaan yang mungkin datang dari luar.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tulisan Rilke yang ditujukan pada penyair muda itu memang lebih banyak merupakan nasihat bagaimana hendaknya puisi lahir dan ditulis dari sebuah keikhlasan sehingga penyair hadir sebagai individu. Bukan pengekor dari pandangan dan estetika tertentu yang sedang menjadi trend atau yang menjadi standard estetika para kritikus dan para redaktur.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun begitu ada juga ditulisnya sedikit pesan yang dibayangkan bisa berguna dalam praktik penciptaan puisi, yang tetap berangkat dari semangat nasihat yang sama. Puisi sebagai diri penyair bagi Rilke tidaklah bergantung pada situasi apapun yang kerap disalahkan karena dianggap tidak inspiring dan tidak melahirkan ide-ide puitik. Melainkan amat bergantung pada kekuatan penyair untuk, sekali lagi, masuk ke dalam dirinya, dan dari dalam dirinya itulah ia menghayati alam realitas.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Jika kehidupanmu sehari-hari tampak terlalu kering bagimu, janganlah salahkan kehidupan itu; salahkan dirimu sendiri, katakan pada dirimu, bahwa engkau belum cukup penyair untuk menggali kekayaan dalam tambang kehidupan; karena bagi seorang pencipta tidak ada kemiskinan bahan dan tidak ada tempat yang kurang atau tidak berarti.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penyatuan dengan kehidupan dan realitas menjadi  pintu pertama bagi penyair untuk masuk mengeksplorasi seluruh pengalamannya sebagai individu. Dan itu tak akan mungkin berlangsung selama penyair hanya asyik dengan tema dan soal-soal besar yang jauh dan yang sesungguhnya tidaklah dikenalinya dan tak dekat dengan pengalaman dirinya. Seorang penyair mestilah awas dan kritis pada setiap bagian dari kehidupannya, bahkan yang paling sepele sekalipun.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kemudian mendekatlah kepada Alam. Dan cobalah, seakan-akan engkau orang pertama, katakan apa yang kau lihat dan apa yang kau alami dan apa yang kau cintai dan apa yang kau ratapi. Berpalinglah kepada tema kehidupanmu sehari-hari. Apalagi yang harus kukatakan padamu? Setiap persoalan rasanya sudah kududukkan pada tempatnya; sebagai penutup kata aku ingin menyarankan agar kau mengembangkan pertumbuhanmu dengan penuh kesungguhan dan tanpa gembar-gembor,” tulis Maria Rainer Rilke.  (Ahda Imran)       &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; SUMBER : Khazanah Pikiran Rakyat 2007 (tanggal &amp; bulan tak terlacak)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-4649580758337913355?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/4649580758337913355/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=4649580758337913355' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/4649580758337913355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/4649580758337913355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2010/11/rilke-kepada-penyair-muda.html' title='Rilke, Kepada Penyair Muda'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-4944156696665049020</id><published>2010-11-05T17:55:00.000-07:00</published><updated>2010-11-05T17:56:06.464-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Agus Noor: Bayi Bersayap Jelita</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BAYI BERSAYAP JELITA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Agus Noor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAKEK bisa membelah diri. Bisa berada di banyak tempat sekaligus…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat Kakek tengah berdiri memandang keluar jendela, ketika aku masuk. Kamar gelap – mungkin Kakek sengaja mematikan lampu – aku merasa ia tak ingin diganggu. Pelan pintu aku tutup kembali. “Masuklah,” suara Kakek lemah. Ia tergolek, dengan selang oksigen dan infus yang bagai mencencangnya ke ranjang. Demi Tuhan! Aku tadi melihat Kakek berdiri dekat jendela itu. Benarkah Kekek bisa berpindah dalam sekejap?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan, Kakek mengedipkan mata: sini, tak usah heran begitu. Padahal kulihat ia terbaring memejamkan mata begitu tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari sebelum puasa, ibu menelpon. Kakek jatuh di kamar mandi, serangan jantung. Mas Jo memintaku segera saja ke Jakarta. Sebelum terlambat –  ia rupanya tahu keenggananku menjenguk Kakek. “Biar aku urus Nina,” katanya. Bungsuku itu memang baru kena demam berdarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak terlalu dekat dengan Kaket. Bahkan tak menyukainya. Semasa kecil, kakak-kakak dan sepupuku suka sekali mendengarkan cerita Kakek. Duduk mengelilingi dan bergelendotan manja setiap Kakek bercerita tentang burung-burung cahaya yang terbang dari surga membawa biji-biji kebaikan, ular berkepala lima, makhluk-makhluk sebelum Nabi Adam diciptakan, angsa yang menyelam ke dasar samudera atau Nabi Sulaiman yang mendengarkan percakapan cicak dan buaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu bohong, kataku, setiap Kakek bertanya kenapa aku tak suka ceritanya. Aku lebih suka belajar matematika. Bagiku Kakek tak lebih tukang khayal. Dan khayalan itu penyakit yang gampang menular. Penyakit ortang malas, kata Nenek. Saya memang tak suka setiap melihat Kakek hanya duduk-duduk dikelilingi para kakak dan sepupuku – seperti sekumpulan orang malas yang seharian hanya bercanda – sementara Nenek di dapur sibuk membuat kue. Aku lebih suka menemani Nenek di dapur, mencicipi remah kue yang dibikinnya, dan selalu merasa begitu bangga ketika Nenek memberikan padaku potongan kue yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kakak-kakak dan sepupuku bilang, Kakek punya kue yang jauh lebih lezat dari kue bikinan Nenek. Kue itu kue yang dihidangkan ratu Balqis kepada Nabi Sulaiman. Seperti apem, tetapi bagai terbuat dari cokelat. Kue itu tak akan habis bila dimakan. Aku benci mendengar cerita itu. Benar, khayalan memang penyakit menular. Kupikir mereka sudah tertular khayalan Kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat setelah kejadian itu, tengah malam, antara tidur dan jaga, entah mimpi entah nyata, aku melihat kakek duduk di sisi ranjangku, sembari makan kue pelan-pelan. “Mau?” ia menawariku. Seolah ada gerak yang mendorong tanganku untuk mengambil kue itu, memakannya. Rasa kue itu jauh lebih enak dari kue buatan Nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAKEK pingin ketemu kamu, kata Ibu di telepon. Yakin, pasti Kak Sofyan yang menyuruh. Sejak setahun tahun lalu, Kakek tinggal bersama kakak keduaku itu, dan ia tahu: aku pasti mau mendengarkan bila yang menelpon Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kamu tak suka Kakek?” dulu, ibu bertanya. Aku terus pura-pura membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaranya lembut, membuatmu merasa tentram setiap mendengarkannya bercerita. Matanya keteduhan yang ingin kau jumpai. Nyaris tak pernah marah. Dan – ini yang menurut kakak-kakak dan sepupuku paling sukai dari Kakek – tak suka cerewet memberi nasehat. Rasanya tak ada alasan untuk tidak menyukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karna iri. Atau tak mau berbagi. Kakek membagi perhatian pada semua cucunya. Aku selalu ingat pada kejadian saat suatu kali Kakek membawa martabak. Kakek membagi rata buat semua cucuknya. Semua gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku segera pergi. Aku ingin Kakek seperti Nenek! Bila punya kue: aku selalu dapat bagian lebih banyak. Aku senang bila kakak dan sepupu menatap iri bagian kue yang lebih besar milikku. Itulah saat-saat paling membahagian buatku. Nenek mengerti kebahagiaanku itu. Kakek tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya aku tak pernah terlalu suka Kakek. Tak pernah bisa merasa dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Kakek ingin sekali ketemu kamu, kata Ibu saat menelpon. Dan Ibu bilang: dua hari di rumah sakit, Kakek bersikeras pulang. Rumah sakit hanya membuat kita benar-benar merasa sakit, keluh kakek. Para suster mengatakan kalau Kakek pasien paling tak bisa diatur. Tak mau minum obat, dan tak mau disuruh diam. Dia suka sekali mendongeng dan cerita, kata seorang suster. Pernah, malam-malam, kakek memanggil suter jaga, hanya karena ia mau bercerita kalau baru saja ada lima laki-laki menjenguknya. “Mereka tinggi besar dan bersayap. Mereka memijiti jempol saya, dan bilang saya tak apa-apa. Suster lihat, kan… tadi mereka masuk ke sini? Lima laki-laki tinggi besar bersayap…” kata Kakek. Suster hanya diam. Karna Suster itu memang tak melihat siapa-siapa memasuki kamar ICU. “Mereka memberi saya ini,” Kakek memperlihatkan sebutir kurma. Kurma nabi, kaka Kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYAteringat beberapa tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mba Rin, istri Mas Moko, kakak sulungku, mengalami masalah persalinan. Bayinya melintang, kata dokter, dan harus operasi. Lalu Kakek muncul, memberinya sebutir kurma. Mba Rin yang sudah terlihat lelah dan pasrah, perlahan tak lagi merasa kesakitan. Kemudian melahirkan dengan lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah pula Tante Ida, yang tinggal di Jombang, menelpon malam-malam: Kakek barusan datang menjenguk anaknya yang panas. Kakek mengusap keningnya, kemudian pergi. Dua jam setelahnya panas Ibra berangsur lenyap. Sumpah, sepanjang malam itu, aku melihat kakek hanya duduk tiduran di kursi goyangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek bisa berada di dua tempat sekaligus, kata Einda. Ia bisa muncul begitu saja saat kita membutuhkan. Lalu sepupuku itu bercerita, betapa pernah suatu kali ia sakit dua hari sebelum ujian kelulusan SMA. Kakek tiba-tiba muncul di kamar kostnya, memberinya segelas air putih, dan ia tertidur. Saya bermimpi berada di tempat yang begitu tenang dan nyaman. Besok paginya saya sudah bugar! Semasa kanak, kakak-kakakku juga sering bercerita kalau Kakek kerap muncul malam-malam ke kamar, memberi mereka es krim atau cokelat. Es krim dan cokelat itu, tiba-tiba saja sudah ada di tangan Kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sulap! Itu sulap,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu mukjizat,” kata mereka, “Kakek berbakat jadi nabi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek terkekeh ketika mendengar itu. “Jangan pernah punya cita-cita jadi nabi,” katanya. “Tidak enak jadi nabi. Karna tidak semua orang menyukai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KALAU punya mukjizat, pastilah Kakek tak tergolek seperti ini – seolah suara dari masa kecilku muncul kembali. Tubuh Kakek terlihat begah dan membengkak. Seperti ada tumpukan jerami yang dimasukkan ke dalam perut dan dadanya. Seolah seluruh makanan yang selama ini disantapnya dijejalkan semuanya ke tubuh Kakek. Tongseng, sate klatak, empal, paru, kikil dan sop buntut, kepala kambing bacem, gulai dan tengkleng…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan seorang nabi pun pernah sakit – aku seperti mendengar suara berbisik di belakangku. Aku bisa merasakan nafas lembut merambati tengkukku. Aku yakin ada seseorang berdiri di belakangku. Kakek?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Kulihat Kakek terbaring di ranjang. Akankah ia sebentar lagi mati? Bila iya, bahkan menjelang kematiannya pun wajahnya tak berubah: terlihat bersih. Sepanjang yang saya ingat, wajah Kakek memang nyaris tak pernah berubah. Seperti tak tersentuh usia. Sampai saat ini wajahnya masih wajah yang aku kenal saat aku kanak-kanak: sekilas terasa jenaka karena suka tertawa, rambutnya putih, juga alisnya. Ia tak memelihara jenggot dan kumis. Klimis. Matanya bening bulat, mata yang selalu gembira. Wajah agak bundar. Dengan tahi lalat mirip butir beras ketan hitam di dahi kiri. Ketika Nenek mulai sakit-sakitan, Kakek seperti tak berubah. Ada yang bilang karena Kakek punya kesaktian. Tetapi seingatku tak ada yang aneh dari keseharian Kakek. Ia tak suka kungkum atau nyepi untuk semedi. Tak kulihat ia melakukan ritual-ritual mistis tertentu. Pati geni atau sejenisnya. Tak pernah kulihat ia sibuk dengan jimat atau barang-barang pusaka keramat. Bahkan, di banding Nenek, Kakek termasuk tak rajin ibadah. Saat waktu shalat, malah sering kulihat Kakek tetep duduk-duduk klempas-klempus menikmati rokoknya. “Ibadah Kakek ya berbuat baik… itu saja,” pernah kudengar ia bicara begitu saat ditanya para sepupuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupandangi wajah Kakek. Seperti ingin belajar mengenalnya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tahu…,” kudengar ia bergumam, matanya masih memejam. Aku kaget, menyangka ia tidur. “Kau tahu, kenapa kita membutuhkan orang lain? Karna dokter pun tak bisa mengobati dirinya sendiri. Kita selalu membutuhkan orang lain, itulah kenapa kita mesti baik pada orang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jari-jari gemetar Kakek menyentuh lenganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terimakasih mau datang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang jauh lebih dalam dari kepedihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku selalu melihat ada yang berkelebat, di luar sana. Menunggu di sebalik jendela. Dan tadi…Tadi kulihat ia berdiri di belakangmu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kugenggam tangan Kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihatlah…”  Pandangannya mengarah jendela, dan entahlah, seperti ada tangan gaib yang perlahan memaksaku menoleh. Kesiur angin menerobos, korden bergoyang dan sekelebat bayangan merambat gelap. Tak kulihat apa-apa. Selain tugur pepohonan dan bentangan kesunyian. Cahaya terasa lamur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maukah kau kali ini, mendengarkan ceritaku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaranya memelan. Aku membungkuk, ke arah bibirnya, takut tak mendengar kata terakhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarlah, mereka mendekat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa kantuk seperti angin lembut. Suara Kakek menjauh, tinggal dengung AC memenuhi ruangan. Aku meriap merasakan ada yang perlahan masuk melalui jendela. Pastilah aku tak lagi mampu menahan kantuk dan lelah, sampai kurasakan ada tangan halus mengusap wajahku, membangunkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tampak letih. Berdiri di bawah pohon putih, yang menjulang hingga ke langit wana ganih. Pandanganku seketika terpesona pada bayi-bayi bersayap jelita yang bermunculan dari balik cakrawala. Bayi-bayi itu terbang mengitari Kakek yang melangkah pelan menuju batu besar. Bayi-bayi bersayap jelita memberi isyarat agar Kakek berbaring, sementara angin sejuk berhembus dari sayap-sayap lembut itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyaksikan bayi-bayi itu membedah dada Kakek, mengeluarkan jantungnya. Ada bejana kecil, dan bayi-bayi itu mencuci jantung Kakek. Aku memejam, merasakan tubuhku melayang. Seperti memasuki rongga sunyi. Merasakan tidur panjang abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARI masih gelap – atau telah kembali gelap? – ketika aku terbangun oleh suara-suara percakapan. Sayup-sayup terdengar suara orang mengaji. Seperti suara Ibu. Aku mencoba mengenali sekeliling. Kekelaman yang bagai tabir berlapis-lapis. Setiap suara seperti merembes dari tabir yang berbeda-beda. Kulihat arak-arakan orang membawa keranda, menjauh. Jeritan yang bagai jerit iblis. Bau harum melati mengapung. Kusaksikan beberapa suster yang sibuk memberesi tabung oksigen dan membawa keluar kereta dorong., kemudian lenyap begitu saja, raib ke sebalik tabir kegelapan yang hampa. Ranjang itu kosong. Pasti mereka telah membawa Kakek ke kamar mayat. Aku berlari, melesat – seakan melangkah di hamparan awan – sampai kelelahan dan lesap dalam gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terbangun seperti orang yang telah berabad-abad ditidurkan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudapati Ibu, Mas Jo dan istrinya, Mba Rin, Mas Moko, Einda dan hampir seluruh kerabatku menggerombol berbincang pelan. Pelan-pelan aku mulai mengenali, di mana aku berada: kamarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu pelan-pelan memelukku. Aku terisak. Saat itulah, aku mendengar suara tawa Kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bengong ketika Ibu bercerita keadaan Kakek. “Kau kira Kakek mati, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah ini mukjizat….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dokter juga heran dengan jantung kakek. Tiba-tiba sudah bersih, ibaratnya seperti baru dicuci…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang tengah kulihat Kakek tertawa-tawa gembira dikerubuti tujuh keponakanku yang tampak bagai segerombolan kurcaci. Lama aku terdiam memandanginya. Aku seperti mendengar kelepak sayap bayi-bayi itu terbang menjauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Buat Mas Danarto)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-4944156696665049020?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/4944156696665049020/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=4944156696665049020' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/4944156696665049020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/4944156696665049020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2010/11/agus-noor-bayi-bersayap-jelita.html' title='Agus Noor: Bayi Bersayap Jelita'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-8761672622614458769</id><published>2010-11-05T17:46:00.000-07:00</published><updated>2010-11-05T17:49:05.262-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Umar Kayam: Seribu Kunang-Kunang di Manhattan</title><content type='html'>Mereka duduk bermalas-malasan di sofa. Marno dengan segelas scotch dan Jane dengan segelas martini. Mereka sama-sama memandang ke luar jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bulan itu ungu, Marno.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tetap hendak memaksaku untuk percaya itu ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, tentu saja, Kekasihku. Ayolah akui. Itu ungu, bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau bulan itu ungu, apa pula warna langit dan mendungnya itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, aku tidak ambil pusing tentang langit dan mendung. Bulan itu u-ng-u! U-ng-u! Ayolah, bilang, ungu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kuning keemasan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setan! Besok aku bawa kau ke dokter mata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno berdiri, pergi ke dapur untuk menambah air serta es ke dalam gelasnya, lalu dia duduk kembali di sofa di samping Jane. Kepalanya sudah terasa tidak betapa enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Marno, Sayang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Jane.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana Alaska sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alaska? Bagaimana aku tahu. Aku belum pernah ke sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudku hawanya pada saat ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, aku kira tidak sedingin seperti biasanya. Bukankah di sana ada summer juga seperti di sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin juga. Aku tidak pernah berapa kuat dalam ilmu bumi. Gambaranku tentang Alaska adalah satu padang yang amat l-u-a-s dengan salju, salju dan salju.Lalu di sana-sini rumah-rumah orang Eskimo bergunduk-gunduk seperti es krim panili.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku kira sebaiknya kau jadi penyair, Jane. Baru sekarang aku mendengar perumpamaan yang begitu puitis. Rumah Eskimo sepeti es krim panili.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tommy, suamiku, bekas suamiku, suamiku, kautahu …. Eh, maukah kau membikinkan aku segelas ….. ah, kau tidak pernah bisa bikin martini. Bukankah kau selalu bingung, martini itu campuran gin dan vermouth atau gin dan bourbon? Oooooh, aku harus bikin sendiri lagi ini …. Uuuuuup ….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan susah payah Jane berdiri dan dengan berhati-hati berjalan ke dapur. Suara gelas dan botol beradu, terdengar berdentang-dentang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dapur, “bekas suamiku, kautahu ….. Marno, Darling.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, ada apa dengan dia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku merasa dia ada di Alaska sekarang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan Jane berjalan kembali ke sofa, kali ini duduknya mepet Marno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di Alaska. Coba bayangkan, di Alaska.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Minggu yang lalu kaubilang dia ada di Texas atau di Kansas. atau mungkin di Arkansas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bilang, aku me-ra-sa Tommy berada di Alaska.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin juga dia tidak di mana-mana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno berdiri, berjalan menuju ke radio lalu memutar knopnya. Diputar-putarnya beberapa kali knop itu hingga mengeluarkan campuran suara-suara yang aneh. Potongan-potongan lagu yang tidak tentu serta suara orang yang tercekik-cekik. Kemudian dimatikannya radio itu dan dia duduk kembali di sofa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Marno, Manisku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Jane.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah di Alaska, ya, ada adat menyuguhkan istri kepada tamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, aku pernah mendengar orang Eskimo dahulu punya adat-istiadat begitu. Tapi aku tidak tahu pasti apakah itu betul atau karangan guru antropologi saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku harap itu betul. Sungguh, Darling, aku serius. Aku harap itu betul.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebab, seee-bab aku tidak mau Tommy kesepian dan kedinginan di Alaska. Aku tidak maaau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi bukankah belum tentu Tommy berada di Alaska dan belum tentu pula sekarang Alaska dingin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jane memegang kepala Marno dan dihadapkannya muka Marno ke mukanya. Mata Jane memandang Marno tajam-tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi aku tidak mau Tommy kesepian dan kedinginan! Maukah kau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno diam sebentar. Kemudian ditepuk-tepuknya tangan Jane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah tentu tidak, Jane, sudah tentu tidak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau anak yang manis, Marno.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno mulai memasang rokok lalu pergi berdiri di dekat jendela. Langit bersih malam itu, kecuali di sekitar bulan. Beberapa awan menggerombol di sekeliling bulan hingga cahaya bulan jadi suram karenanya. Dilongokknannya kepalanya ke bawah dan satu belantara pencakar langit tertidur di bawahnya. Sinar bulan yang lembut itu membuat seakan-akan bangunan-bangunan itu tertidur dalam kedinginan. Rasa senyap dan kosong tiba-tiba terasa merangkak ke dalam tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Marno.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Jane.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingat Tommy pernah mengirimi aku sebuah boneka Indian yang cantik dari Oklahoma City beberapa tahun yang lalu. Sudahkah aku ceritakan hal ini kepadamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku kira sudah, Jane. Sudah beberapa kali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jane menghirup martini-nya empat hingga lima kali dengan pelan-pelan. Dia sendiri tidak tahu sudah gelas yang keberapa martini dipegangya itu.&lt;br /&gt;Lagi pula tidak seorang pun yang memedulikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, kau tahu, Marno?”&lt;br /&gt;“Apa?”&lt;br /&gt;“Empire State Building sudah dijual.”&lt;br /&gt;“Ya, aku membaca hal itu di New York Times.”&lt;br /&gt;“Bisakah kau membayangkan punya gedung yang tertinggi di dunia?”&lt;br /&gt;“Tidak. Bisakah kau?”&lt;br /&gt;“Bisa, bisa.”&lt;br /&gt;“Bagaimana?”&lt;br /&gt;“Oh, tak tahulah. Tadi aku kira bisa menemukan pikiran-pikiran yang cabul dan lucu. Tapi sekarang tahulah ….”&lt;br /&gt;Lampu-lampu yang berkelipan di belantara pencakar langit yang kelihatan dari jendela mengingatkan Marno pada ratusan kunang-kunang yang suka bertabur malam-malam di sawah embahnya di desa.&lt;br /&gt;“Oh, kalau saja …..”&lt;br /&gt;“Kalau saja apa, Kekasihku?”&lt;br /&gt;“Kalau saja ada suara jangkrik mengerik dan beberapa katak menyanyi dari luar sana.”&lt;br /&gt;“Lantas?”&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa. Itu kan membuat aku lebih senang sedikit.”&lt;br /&gt;“Kau anak desa yang sentimental!”&lt;br /&gt;“Biar!”&lt;br /&gt;Marno terkejut karena kata “biar” itu terdengar keras sekali keluarnya.&lt;br /&gt;“Maaf, Jane. Aku kira scotch yang membuat itu.”&lt;br /&gt;“Tidak, Sayang. Kau merasa tersinggung. Maaf.”&lt;br /&gt;Marno mengangkat bahunya karena dia tidak tahu apa lagi yang mesti diperbuat dengan maaf yang berbalas maaf itu.&lt;br /&gt;Sebuah pesawat jet terdengar mendesau keras lewat di atas bangunan apartemen Jane.&lt;br /&gt;“Jet keparat!”&lt;br /&gt;Jane mengutuk sambil berjalan terhuyung ke dapur. Dari kamar itu Marno mendengar Jane keras-keras membuka kran air. Kemudian dilihatnya Jane kembali, mukanya basah, di tangannya segelas air es.&lt;br /&gt;“Aku merasa segar sedikit.”&lt;br /&gt;Jane merebahkan badannya di sofa, matanya dipejamkan, tapi kakinya disepak-sepakkannya ke atas. Lirih-lirih dia mulai menyanyi : deep blue sea, baby, deep blue sea, deep blue sea, baby, deep blue sea ……&lt;br /&gt;“Pernahkah kau punya keinginan, lebih-lebih dalam musim panas begini, untuk telanjang lalu membiarkan badanmu tenggelam dalaaammm sekali di dasar laut yang teduh itu, tetapi tidak mati dan kau bisa memandang badanmu yang tergeletak itu dari dalam sebuah sampan?”&lt;br /&gt;“He? Oh, maafkan aku kurang menangkap kalimatmu yang panjang itu. Bagaimana lagi, Jane?”&lt;br /&gt;“Oh, lupakan saja. Aku Cuma ngomong saja. Deep blue sea, baby, deep blue, deep blue sea, baby, deep blue sea ….”&lt;br /&gt;“Marno.”&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;“Kita belum pernah jalan-jalan ke Central Park Zoo, ya?”&lt;br /&gt;“Belum, tapi kita sudah sering jalan-jalan ke Park-nya.”&lt;br /&gt;“Dalam perkawinan kami yang satu tahun delapan bulan tambah sebelas hari itu, Tommy pernah mengajakku sekali ke Central Park Zoo. Ha, aku ingat kami berdebat di muka kandang kera. Tommy bilang chimpansee adalah kera yang paling dekat kepada manusia, aku bilang gorilla. Tommy mengatakan bahwa sarjana-sarjana sudah membuat penyelidikan yang mendalam tentang hal itu, tetapi aku tetap menyangkalnya karena gorilla yang ada di muka kami mengingatkan aku pada penjaga lift kantor Tommy. Pernahkah aku ceritakan hal ini kepadamu?”&lt;br /&gt;“Oh, aku kira sudah, Jane. Sudah beberapa kali.”&lt;br /&gt;“Oh, Marno, semua ceritaku sudah kau dengar semua. Aku membosankan, ya, Marno? Mem-bo-san-kan.”&lt;br /&gt;Marno tidak menjawab karena tiba-tiba saja dia merasa seakan-akan istrinya ada di dekat-dekat dia di Manhattan malam itu. Adakah penjelasannya bagaimana satu bayang-bayang yang terpisah beribu-ribu kilometer bisa muncul begitu pendek?&lt;br /&gt;“Ayolah, Marno. Kalau kau jujur tentulah kau akan mengatakan bahwa aku sudah membosankan. Cerita yang itu-itu saja yang kau dengar tiap kita ketemu. Membosankan, ya? Mem-bo-san-kan!”&lt;br /&gt;“Tapi tidak semua ceritamu pernah aku dengar. Memang beberapa ceritamu sudah beberapa kali aku dengar.”&lt;br /&gt;“Bukan beberapa, Sayang. Sebagian besar.”&lt;br /&gt;“Baiklah, taruhlah sebagian terbesar sudah aku dengar.”&lt;br /&gt;“Aku membosankan jadinya.”&lt;br /&gt;Marno diam tidak mencoba meneruskan. Disedotnya rokoknya dalam-dalam, lalu dihembuskannya lagi asapnya lewat mulut dan hidungnya.&lt;br /&gt;“Tapi Marno, bukankah aku harus berbicara? Apa lagi yang bisa kukerjakan kalau aku berhenti bicara? Aku kira Manhattan tinggal tinggal lagi kau dan aku yang punya. Apalah jadinya kalau salah seorang pemilik pulau ini jadi capek berbicara? Kalau dua orang terdampar di satu pulau, mereka akan terus berbicara sampai kapal tiba, bukan?”&lt;br /&gt;Jane memejamkan matanya dengan dadanya lurus-lurus telentang di sofa. Sebuah bantal terletak di dadanya. Kemudian dengan tiba-tiba dia bangun, berdiri sebentar, lalu duduk kembali di sofa.&lt;br /&gt;“Marno, kemarilah, duduk.”&lt;br /&gt;“Kenapa? Bukankah sejak sore aku duduk terus di situ.”&lt;br /&gt;“Kemarilah, duduk.”&lt;br /&gt;“Aku sedang enak di jendela sini, Jane. Ada beribu kunang-kunang di sana.”&lt;br /&gt;“Kunang-kunang?”&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;“Bagaimana rupa kunang-kunang itu? Aku belum pernah lihat.”&lt;br /&gt;“Mereka adalah lampu suar kecil-kecil sebesar noktah.”&lt;br /&gt;“Begitu kecil?”&lt;br /&gt;“Ya. Tetapi kalau ada beribu kunang-kunang hinggap di pohon pinggir jalan, itu bagaimana?”&lt;br /&gt;“Pohon itu akan jadi pohon-hari-natal.”&lt;br /&gt;“Ya, pohon-hari-natal.”&lt;br /&gt;Marno diam lalu memasang rokok sebatang lagi. Mukanya terus menghadap ke luar jendela lagi, menatap ke satu arah yang jauh entah ke mana.&lt;br /&gt;“Marno, waktu kau masih kecil ….. Marno, kau mendengarkan aku, kan?”&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;“Waktu kau masih kecil, pernahkah kau punya mainan kekasih?”&lt;br /&gt;“Mainan kekasih?”&lt;br /&gt;“Mainan yang begitu kau kasihi hingga ke mana pun kau pergi selalu harus ikut?”&lt;br /&gt;“Aku tidak ingat lagi, Jane. Aku ingat sesudah aku agak besar, aku suka main-main dengan kerbau kakekku, si Jilamprang.”&lt;br /&gt;“Itu bukan mainan, itu piaraan.”&lt;br /&gt;“Piaraan bukankah untuk mainan juga?”&lt;br /&gt;“Tidak selalu. Mainan yang paling aku kasihi dahulu adalah Uncle Tom.”&lt;br /&gt;“Siapa dia?”&lt;br /&gt;“Dia boneka hitam yang jelek sekali rupanya. Tetapi aku tidak akan pernah bisa tidur bila Uncle Tom tidak ada di sampingku.”&lt;br /&gt;“Oh, itu hal yang normal saja, aku kira. Anakku juga begitu. Punya anakku anjing-anjingan bernama Fifie.”&lt;br /&gt;“Tetapi aku baru berpisah dengan Uncle Tom sesudah aku ketemu Tommy di High School. Aku kira, aku ingin Uncle Tom ada di dekat-dekatku lagi sekarang.”&lt;br /&gt;Diraihnya bantal yang ada di sampingnya, kemudian digosok-gosokkannya pipinya pada bantal itu. Lalu tiba-tiba dilemparkannya lagi bantal itu ke sofa dan dia memandang kepala Marno yang masih bersandar di jendela.&lt;br /&gt;“Marno, Sayang.”&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;“Aku kira cerita itu belum pernah kaudengar, bukan ?”&lt;br /&gt;“Belum, Jane.”&lt;br /&gt;“Bukankah itu ajaib? Bagaimana aku sampai lupa menceritakan itu sebelumnya.”&lt;br /&gt;Marno tersenyum&lt;br /&gt;“Aku tidak tahu, Jane.”&lt;br /&gt;“Tahukah kau? Sejak sore tadi baru sekarang kau tersenyum. Mengapa?”&lt;br /&gt;Marno tersenyum&lt;br /&gt;“Aku tidak tahu, Jane. Sungguh.”&lt;br /&gt;Sekarang Jane ikut tersenyum.&lt;br /&gt;“Oh, ya, Marno, manisku. Kau harus berterima kasih kepadaku. Aku telah menepati janjiku.”&lt;br /&gt;“Apakah itu, Jane?”&lt;br /&gt;“Piyama. Aku telah belikan kau piyama, tadi. Ukuranmu medium-large, kan? Tunggu, ya ……”&lt;br /&gt;Dan Jane, seperti seekor kijang yang mendapatkan kembali kekuatannya sesudah terlalu lama berteduh, melompat-lompat masuk ke dalam kamarnya. Beberapa menit kemudian dengan wajah berseri dia keluar kembali dengan sebuah bungkusan di tangan.&lt;br /&gt;“Aku harap kausuka pilihanku.”&lt;br /&gt;Dibukanya bungkusan itu dan dibeberkannya piyama itu di dadanya.&lt;br /&gt;“Kausuka dengan pilihanku ini?”&lt;br /&gt;“Ini piyama yang cantik, Jane.”&lt;br /&gt;“Akan kau pakai saja malam ini. Aku kira sekarang sudah cukup malam untuk berganti dengan piyama.”&lt;br /&gt;Marno memandang piyama yang ada di tangannya dengan keraguan.&lt;br /&gt;“Jane.”&lt;br /&gt;“Ya, Sayang.”&lt;br /&gt;“Eh, aku belum tahu apakah aku akan tidur di sini malam ini.”&lt;br /&gt;“Oh? Kau banyak kerja?”&lt;br /&gt;“Eh, tidak seberapa sesungguhnya. Cuma tak tahulah ….”&lt;br /&gt;”Kaumerasa tidak enak badan?”&lt;br /&gt;“Aku baik-baik saja. Aku …. eh, tak tahulah, Jane.”&lt;br /&gt;“Aku harap aku mengerti, Sayang. Aku tak akan bertanya lagi.”&lt;br /&gt;“Terima kasih, Jane.”&lt;br /&gt;“Terserahlah. Cuma aku kira, aku tak akan membawanya pulang.”&lt;br /&gt;“Oh”.&lt;br /&gt;Pelan-pelan dibungkusnya kembali piyama itu lalu dibawanya masuk ke dalam kamarnya. Pelan-pelan Jane keluar kembali dari kamarnya.&lt;br /&gt;“Aku kira, aku pergi saja sekarang, Jane.”&lt;br /&gt;“Kau akan menelpon aku hari-hari ini, kan?”&lt;br /&gt;‘Tentu, Jane.”&lt;br /&gt;“Kapan, aku bisa mengharapkan itu?&lt;br /&gt;“Eh, aku belum tahu lagi, Jane. Segera aku kira.”&lt;br /&gt;“Kautahu nomorku kan? Eldorado”&lt;br /&gt;“Aku tahu, Jane.”&lt;br /&gt;Kemudian pelan-pelan diciumnya dahi Jane, seperti dahi itu terbuat dari porselin. Lalu menghilanglah Marno di balik pintu, langkahnya terdengar sebentar dari dalam kamar turun tangga.&lt;br /&gt;Di kamarnya, di tempat tidur sesudah minum beberapa butir obat tidur, Jane merasa bantalnya basah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-8761672622614458769?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/8761672622614458769/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=8761672622614458769' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/8761672622614458769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/8761672622614458769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2010/11/umar-kayam-seribu-kunang-kunang-di.html' title='Umar Kayam: Seribu Kunang-Kunang di Manhattan'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-325891822460869165</id><published>2010-11-05T08:25:00.000-07:00</published><updated>2010-11-05T09:05:14.904-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Kisah Pilot Bejo, Budi Darma</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kisah Pilot Bejo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Cerpen Budi Darma (dimuat di Kompas, 02/11/2007 )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa ingin menyaksikan pilot berwajah kocak, tengoklah Pilot Bejo. Kulitnya licin, wajahnya seperti terbuat dari karet, dan apakah dia sedang gemetar ketakutan, sedih, atau gembira, selalu memancarkan suasana sejuk. Karena itu, kendati dia suka menyendiri, dia sering dicari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dilihat dari ilmu pengetahuan, entah apa, mungkin pula sosiologi, dia masuk dalam kawasan panah naik. Hampir semua neneknya hidup dari mengangkut orang lain dari satu tempat ke tempat lain. Ada leluhurnya yang menjadi kusir, lalu keturunannya menjadi masinis, dan setelah darah nenek moyang mengalir kepada dia, dia menjadi pilot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pekerjaan mengangkut orang dapat memancing bahaya, maka, turun menurun mereka selalu diberi nama yang menyiratkan keselamatan. Dia sendiri diberi nama Bejo, yaitu “selalu beruntung,” ayahnya bernama Slamet dan karena itu selalu selamat, Untung, terus ke atas, ada nama Sugeng, Waluyo, Wilujeng, dan entah apa lagi. Benar, mereka tidak pernah kena musibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ingat, kendati pilot lebih terhormat daripada masinis, dan masinis lebih dihargai daripada kusir, masing-masing pekerjaan juga mempunyai kelas masing-masing. Ada kusir yang mengangkut orang-orang biasa, ada pula yang dipelihara oleh bangsawan dan khusus mengangkut bangsawan. Slamet, ayah Pilot Bejo, juga mengikuti panah naik: ayahnya, yaitu nenek Pilot Bejo, hanyalah seorang masinis kereta api jarak pendek, mengangkut orang-orang desa dari satu desa ke kota-kota kecil, sementara Waluyo, ayah Pilot Bejo, tidak lain adalah masinis kereta api ekspres jarak jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibanding dengan ayahnya, kedudukan Pilot Bejo jauh lebih baik, meskipun Pilot Bejo tidak lain hanyalah pilot sebuah maskapai penerbangan AA (Amburadul Airlines), yaitu perusahaan yang dalam banyak hal bekerja asal-asalan. Selama tiga tahun AA berdiri, tiga pesawat telah jatuh dan membunuh semua penumpangnya, dua pesawat telah meledak bannya pada waktu mendarat dan menimbulkan korban- korban luka, dan paling sedikit sudah lima kali pesawat terpaksa berputar-putar di atas untuk menghabiskan bensin sebelum berani mendarat, tidak lain karena rodanya menolak untuk keluar. Kalau masalah keterlambatan terbang, dan pembuatan jadwal terbang asal-asalan, ya, hampir setiap harilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan Bejo untuk menjadi pilot sebetulnya tidak mudah. Setelah lulus SMA dia menganggur, karena dalam zaman seperti ini, dalam mencari pekerjaan lulusan SMA hanyalah diperlakukan sebagai sampah. Untunglah ayahnya mau menolong, tentu saja dengan minta tolong seorang saudara jauh yang sama sekali tidak suka bekerja sebagai kusir, masinis, pilot, atau apa pun yang berhubungan dengan pengangkutan. Orang ini, Paman Bablas, lebih memilih menjadi pedagang, dan memang dia berhasil menjadi pedagang yang tidak tanggung- tanggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dengan malu-malu Bejo menemuinya, dengan lagak bijak Paman Bablas berkhotbah: “Bejo? Jadi pilot? Jadilah pedagang. Kalau sudah berhasil seperti aku, heh, dapat menjadi politikus, setiap saat bisa menyogok, dan mendirikan maskapai penerbangan sendiri, kalau perlu kelas bohong-bohongan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena wajah Bejo kocak, Paman Bablas tidak sampai hati untuk menolak. Maka, semua biaya pendidikan Bejo di Akademi Pilot ditanggung oleh Paman Bablas. Kendati otak Bejo sama sekali tidak cemerlang, akhirnya lulus, dan resmi mempunyai hak untuk menjadi pilot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, resmi mempunyai hak untuk menjadi pilot, tidak selamanya dapat menjadi pilot, bahkan ada juga yang akhirnya menjadi pelayan restoran. Mirip-miriplah dengan para lulusan Akademi Pimpinan Perusahaan. Mereka resmi berhak menjadi pimpinan perusahaan, tapi perusahaan siapakah yang mau mereka pimpin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikata dia minta tolong Paman Bablas lagi, kemungkinan besar dia akan diterima oleh maskapai besar. Namun dia tahu diri, apalagi dia percaya, darah nenek moyang serta namanya pasti akan terus melesatkan panah ke atas. Panah benar-benar melesat ke atas, ketika maskapai penerbangan SA (Sontholoyo Airlines) dibuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengikuti ujian yang sangat mudah sekali, Bejo langsung diterima tanpa perlu latihan-latihan lagi, hanya diajak sebentar ke ruang simulasi, ke hanggar, melihat-lihat pesawat, semua bukan milik Sontholoyo Airlines, lalu diberi brosur. Ujian kesehatan memang dilakukan, oleh seorang dokter, Gemblung namanya, yang mungkin seperti dia sendiri, sudah bertahun-tahun menganggur. Dokter Gemblung bertanya apakah dia pernah operasi dan dia menjawab tidak pernah, meskipun sebenarnya dia pernah operasi usus buntu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari pertama akan terbang, dia merasa bangga sekali. Dengan pakaian resmi sebagai pilot, dia menunggu jemputan dari kantor. Dia tahu, beberapa hari sebelum terbang dia pasti sudah diberi tahu jadwal penerbangannya, tapi hari itu dia tidak tahu akan terbang ke mana. Melalui berbagai peraturan dia juga tahu, paling lambat satu jam sebelum pesawat mulai terbang, pilot sudah harus tahu keadaan pesawat dengan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, sejak pagi sekali dia sudah menunggu di rumah, dan akhirnya, memang jemputan datang. Sopir ngebut lebih cepat daripada ambulans, menyalip sekian banyak kendaraan di sana dan di sini, karena, katanya, sangat tergesa-gesa. Dia baru tahu dari bos, bahwa hari itu sekonyong-konyong dia harus menjemput Pilot Bejo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu tiba di kantor Sontholoyo di bandara, Pilot Bejo dengan mendadak diberi tahu untuk terbang ke Makassar. Sebagai seorang pilot yang ingin bertanggung jawab, dia bertanya data-data terakhir mengenai pesawat. Dengan nada serampangan bos berkata: “Gitu saja kok ditanyakan. Kan sudah ada yang ngurus. Terbang ya terbang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, dengan tangan gemetar dan doa-doa pendek, Pilot Bejo mulai menerbangkan pesawatnya. Sebelum masuk pesawat dia sempat melihat sepintas semua ban pesawat sudah gundul, cat di badan pesawat sudah banyak mengelupas, dan setelah penumpang masuk, dia sempat pula mendengar seorang penumpang memaki-maki karena setiap kali bersandar, kursinya selalu rebah ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama disusul hari kedua, lalu disusul hari ketiga, dan demikianlah seterusnya sampai tahun ketiga tiba. Dia tidak berkeberatan lagi untuk dijemput terlambat lalu diajak ngebut ke bandara, merasa tidak perlu lagi bertanya mengenai data-data pesawat, merasa biasa mendengar penumpang memaki-maki, dan tenang-tenang saja dalam menghadapi segala macam cuaca. Darah nenek moyang dan namanya pasti akan menjamin dia, apa pun yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, mengapa manusia menciptakan kata “tapi”? Tentu saja, karena “tapi” mungkin saja datang setiap saat. Dan “tapi” ini datang ketika Pilot Bejo dalam keadaan payah karena terlalu sering diperintah bos untuk terbang dengan jadwal yang sangat sering berubah-ubah dengan mendadak, gaji yang dijanjikan naik tapi tidak pernah naik-naik, mesin pesawat terasa agak terganggu, dan beberapa kali mendapat teguran keras karena beberapa kali melewati jalur yang lebih jauh untuk menghindari badai, dan entah karena apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, dalam keadaan lelah, dengan mendadak dia mendapat perintah untuk terbang ke Nusa Tenggara Timur. Awan hitam benar-benar pekat. Hujan selama beberapa jam menolak untuk berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesawat beberapa kali berguncang-guncang keras, beberapa penumpang berteriak-teriak ketakutan. Semua awak pesawat sudah lama tahan banting, tapi kali ini perasaan mereka berbeda. Dengan suara agak bergetar seorang awak pesawat mengumumkan, bahwa pesawat dikemudikan oleh pilot bernama Bejo, dan nama ini adalah jaminan keselamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Percayalah, Pilot Bejo berwajah kocak, tetap tersenyum, tidak mungkin pesawat menukik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilot Bejo sendiri merasa penerbangan ini berbeda. Hatinya terketar-ketar, demikian pula tangannya. Meskipun wajahnya kocak, hampir saja dia terkencing-kencing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tahu, bahwa seharusnya tadi dia mengambil jalan lain, yang jauh lebih panjang, namun terhindar dari cuaca jahanam. Dia tahu, bahwa dia tahu, dan dia juga tahu, kalau sampai melanggar perintah bos lagi untuk melewati jarak yang sesingkat-singkatnya, dia pasti akan kena pecat. Sepuluh pilot temannya sudah dipecat dengan tidak hormat, dengan kedudukan yang disahkan oleh Departemen Perhubungan, bunyinya, “tidak layak lagi untuk menjadi pilot selama hayat masih di kandung badan,” dengan alasan “membahayakan jiwa penumpang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun ketika masih belajar di Akademi Pilot dulu dia tidak pernah menunjukkan keistimewaan, dia tahu bahwa dalam keadaan ini dia harus melakukan akrobat. Kadang-kadang pesawat harus menukik dengan mendadak, kadang-kadang harus melesat ke atas dengan mendadak pula, dan harus gesit membelok ke sana kemari untuk menghindari halilintar. Tapi dia tahu, bos akan marah karena dia akan dituduh memboros-boroskan bensin. Dia juga tahu, dalam keadaan apa pun seburuk apa pun, dia tidak diperkenankan untuk melaporkan kepada tower di mana pun mengenai keadaan yang sebenarnya. Kalau ada pertanyaan dari tower mana pun, dia tahu, dia harus menjawab semuanya berjalan dengan amat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, dalam keadaan telanjur terjebak semacam ini, pikirannya kabur, seolah tidak ingat apa-apa lagi, kecuali keadaan pesawat. Bisa saja dia mendadak melesat ke atas, menukik dengan kecepatan kilat ke bawah, lalu belok kanan belok kiri untuk menghindari kilat-kilat yang amat berbahaya, namun dia tahu, pesawat pasti akan rontok. Dia tahu umur pesawat sudah hampir dua puluh lima tahun dan sudah lama tidak diperiksa, beberapa suku cadangnya seharusnya sudah diganti, radarnya juga sudah beberapa kali melenceng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaannya sekonyong menjerit: “Awas!” Dengan kecepatan kilat pesawat melesat ke atas, dan halilintar jahanam berkelebat ganas di bawahnya. Lalu, dengan sangat mendadak pula pesawat menukik ke bawah, dan halilintar ganas berkelebat di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua penumpang menjerit-jerit, demikian pula semua awak pesawat termasuk kopilot, kecuali dia yang tidak menjerit, tapi berteriak-teriak keras: “Bejo namaku! Bejo hidupku! Bejo penumpangku!” Pesawat berderak-derak keras, terasa benar akan pecah berantakan. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-325891822460869165?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/325891822460869165/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=325891822460869165' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/325891822460869165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/325891822460869165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2010/11/kisah-pilot-bejo-budi-darma.html' title='Kisah Pilot Bejo, Budi Darma'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-1280977371652756069</id><published>2010-11-05T04:21:00.001-07:00</published><updated>2010-11-05T04:21:47.275-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Darah yang Bercahaya (Seno Gumira Ajidarma)</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ular sawah menelan telur ayam, o&lt;br /&gt;padahal sungguh sedang dieram&lt;br /&gt;di dalam perut telur itu menetas&lt;br /&gt;merayap keluar dari mulut ular&lt;br /&gt;anak ayam menghilang ke hutan&lt;br /&gt;ular sawah tidur kekenyangan, o!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian Dursasana yang mengenaskan segera tersebar ke segala penjuru pertempuran. Dengan rasa ngeri diceritakan bagaimana Bima tidak lagi bertindak seperti manusia. Ia menghancurkan wajah Dursasana yang buruk rupa, menggocohnya sampai menjadi bubur, menyobek perutnya dengan pisau, mengeluarkan ususnya, dan menghirup darah sebanyak-banyaknya. Demikianlah diceritakan dalam Kakawin Bharata-Yuddha:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu itu berbicaralah Bhima dengan suara yang lantang dan tidak menghiraukan apa yang terjadi di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai kelompok pahlawan semuanya dan khususnya dewa-dewa yang menjelma di dunia ini! Lihatlah Bhima ini yang sedang akan memenuhi janjinya di tengah medan pertempuran. Darah Dussasana inilah yang akan saya minum. Lihatlah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan untuk dewi Drupadi inilah hari yang terakhir untuk mengurai rambutnya. Terima ini dengan ikhlas hati, wahai Dussasana dan rasakan pahalamu untuk membuat kejahatan yang terus menerus. Bah, bahwa kau ini tetap meronta-ronta dan tidak tinggal diam, wahai kamu anjing yang tidak sopan, pada waktu ini kamu akan dibunuh. Apa yang kau pikir dalam hatimu? Akan kau lanjutkan perbuatanmu yang jahat itu? Buktinya, kamu berusaha untuk bangkit lagi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah ucapan Bhima yang pendek tegas. Setelah Bhima meringkus Dussasana dengan tangannya dan dapat memegang perutnya, perut inilah yang disudet. Pada ketika itu Dussasana telah tidak sadarkan akan dirinya lagi; kemudian dada yang telah disudet itu dibuka lebih lebar lagi. Kelihatannya seolah-olah Dussasana yang tetap hatinya dan gagah berani itu tetap dengan dendamnya mencoba untuk menerjang dan menggigit. Ketika Bhima minum darahnya itu, Dussasana secara mata gelap memukul-mukul ke kiri dan ke kanan, meronta-ronta dan mencoba memegang Bhima, padahal badannya telah berkejatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat mengerikan kelihatannya, ketika Bhima minum darah dan dengan ketetapan hati menarik usus Dussasana dari perutnya. Kelihatannya seolah-olah ia akan menunjukkan bagaimana ia pada suatu ketika dapat memuaskan apa yang dikehendakinya. Rambutnya dapat disamakan dengan mega merah, matanya dapat disamakan dengan matahari yang dengan sinarnya yang berkilauan, sedangkan suara yang keluar dari tenggorokan dapat disamakan dengan petir dan suara yang keluar dari mulutnya sebagai tanda kepuasan dapat disamakan dengan halilintar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukanya yang penuh dengan darah itu dapat disamakan dengan mega merah yang kena sinar matahari. Bhima yang berjalan dengan angkuhnya itu dapat diumpamakan sebagai gunung yang menjolak ke atas. Dengan segera ia melempar-lemparkan mayat Dussasana ke atas, disertai oleh kata-kata seperti guruh yang berkumpul. “Inilah pembantumu, bah!” Demikianlah ucapan Bhima dan dilemparkannya mayat Dursasana itu ke arah Suyodhana. 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drupadi mendengar semuanya. Ia berada dalam tenda di belakang garis pertempuran di Kurusetra. Seorang penjaga dipanggilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bawalah bokor ini kepada Bima,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bima yang wajahnya penuh darah mengerti makna bokor itu. Drupadi ingin menyanggul rambutnya sekarang juga. Maka dicarinya mayat Dursasana yang telah dilemparnya. Para prajurit menyingkir ngeri melihat cara Bima  memeras darah dari mayat Dursasana. Perang memang hanya kekejaman. Benar dan salah hanya kekerasan. Apakah tidak ada cara lain untuk menjadi ksatria?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inilah air kutukan itu, Dewi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bokor itu berisi darah, namun Drupadi melihatnya sebagai tirta amerta yang bercahaya. Ia tidak berpikir tentang dendamnya terhadap Dursasana, ia ingin melengkapkan putaran roda kehidupan. Di dalam tenda diangkatnya bokor emas itu ke atas kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada senja di hari kematian Dursasana itu, orang-orang melihat cahaya berkilat menyemburat ke langit dari tenda Drupadi. Cahaya terang yang memancar-mancar. Para pengawal berlarian menuju tenda itu. Namun mereka berpapasan dengan dayang-dayang yang berwajah pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dewi Drupadi…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa Dewi Drupadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mandi darah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengawal pertama yang menyibak tenda terkejut. Drupadi bersamadi dengan seluruh tubuh bersimbah darah. Cahaya memancar dari tubuhnya, semburat ke angkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lunas sudah piutangmu Dursasana&lt;br /&gt;tak terlunaskan piutang pada kesucian&lt;br /&gt;semua kejahatan ada bayarannya&lt;br /&gt;meski kebaikan tidak minta balasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam hari Drupadi berkumpul dengan lima suaminya. Hari itu Karna juga telah gugur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa hasil perang ini,” kata Drupadi, “putra-putra Pandawa yang perkasa seperti Irawan, Abimanyu, dan Gatotkaca telah gugur. Kita akan menang, tapi apa arti kemenangan ini selain pelampiasan dendam yang tidak terpuaskan. Orang-orang yang kita hormati telah tiada. Kemenangan ini akan kita persembahkan kepada siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kresna bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bharatayudha adalah suatu penebusan, Drupadi. Resi Bhisma menebus kelalaiannya kepada Dewi Amba. Mahaguru Dorna menebus rasismenya kepada Ekalaya dari Nisada. Esok pagi Salya akan menebus kebenciannya terhadap Bagaspati, mertuanya sendiri. Kita hidup dalam lingkaran karma. Kodrat tak terhindarkan, tapi tidak untuk disesali, seperti penghayatan dirimu sebagai perempuan dengan suami lima. Bahkan Salya pun tidak punya niat jahat, karena ia dulu adalah Sumantri yang mengingkari Sukasrana. Bagaimanakah caranya kita menghindari diri kita Drupadi? Tidak bisa. Bharatayudha hanyalah jalan bagi setiap orang untuk memenuhi karmanya, melengkapkan perannya, untuk membersihkan dunia. Kelak anak Utari yang bernama Parikesit akan menjadi raja, saat itu dunia bersih bagai tanpa noda, tapi tetap saja ada yang bernama malapetaka. Maka hidup di dunia bukan hanya soal kita menjadi baik atau menjadi buruk, tapi soal bagaimana kita bersikap kepada kebaikan dan keburukan itu. Perang ini penuh perlambangan. Siapakah yang lebih jahat Drupadi, Dursasana yang menelanjangimu atau Bima yang menghirup darah Dursasana? Perang ini adalah sebuah pertanyaan. Apakah jalan kekerasan para ksatria bisa dibenarkan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drupadi menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku Drupadi, seorang perempuan, terus terang menghendaki darah Dursasana, untuk memberi pelajaran kepada penghinaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jawabannya bisa lebih panjang Drupadi. Engkau seorang perempuan telah memberi pelajaran tentang bagaimana perempuan menghidupkan diri dengan dendam. Sama seperti dendam Amba kepada Bhisma, sama seperti dendam Gandari kepada penglihatan karena mendapat suami dalam kebutaan. Perang ini memberi peringatan, wahai Drupadi, betapa dendam bisa begitu mengerikan. Para Pandawa adalah ahli bertapa, namun di seluruh anak benua tiada pembunuh yang lebih besar daripada mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kresna yang bijak, ingatlah bahwa para Pandawa selalu membela kebenaran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada yang keliru, duhai Drupadi yang cerdas, bahkan mereka akan selalu dilindungi para dewa. Tapi renungkanlah kembali makna kekerasan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dunia ini penuh kekerasan, Kresna. Terutama aku, perempuan, yang selalu jadi korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka memang menjadi pilihan, Drupadi, kita akan menghindari atau menggunakan kekerasan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drupadi berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kresna, engkau sungguh pandai bicara. Tapi engkau belum pernah menjadi korban. Itulah masalahmu Kresna, engkau mengerti segalanya, namun engkau tidak pernah merasakannya. Aku adalah korban, dan aku menggunakan hak diriku sebagai korban untuk menjawab nasibku dengan kemarahan. Engkau mengatur segala-galanya. Kau korbankan Gatotkaca, agar Karna melepaskan Konta, sehingga Arjuna bisa menandinginya. Apakah engkau tidak pernah mendendam Kresna, engkau memutar leher Sishupala hanya karena kata-kata, engkau membunuh Salwa orang bodoh yang mengacau Dwaraka. Itukah pelajaranmu untuk dunia? Aku sudah menjadi korban, dan dari seseorang yang sudah menjadi korban, engkau memintanya berjiwa besar. Apakah itu tidak terlalu berlebihan? Biarlah Resi Bhisma atau Karna atau Yudhistira berjiwa besar, tapi aku Drupadi, seorang perempuan, menggunakan hak diriku sebagai korban untuk melakukan pembalasan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu hanya membuktikan, wahai Drupadi, bukan hanya kejantanan menjadi korban kekerasan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kresna, Kresna, bagimu pelaku kekerasan adalah korban. Lantas harus diberi nama apa korban kekerasan itu sendiri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudhistira berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kresna kakakku, Drupadi istriku. Janganlah diteruskan lagi. Masih banyak yang harus kita atasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drupadi menarik nafas. Wajahnya terang dan bercahaya, dalam tatapan kagum kelima suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;bulan sabit di langit merah, o!&lt;br /&gt;burung beterbangan di sela hujan&lt;br /&gt;mata yang penuh pesona cinta&lt;br /&gt;menembus udara menggetarkan dada&lt;br /&gt;mega berarak seperti karnaval&lt;br /&gt;cahaya ungu semburat mesra, o!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Dikutip dari Kakawin Bharata-Yuddha (1156) karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh (Wirjosuparto, 1968 : 287-288).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Cerpen ini diambil sepenuhnya dari http://sukab.wordpress.com/2007/09/20/darah-yang-bercahaya/ tanpa persetujuan terlebih dahulu dari pemilik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** Tulisan lain dari Seno Gumira Ajidarma dapat dibaca di: www.sukab.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** Figur Drupadi diambil dari: http://4.bp.blogspot.com/_ecaFTwScRqs/TCyT5pTvdLI/AAAAAAAACsg/ErVnn9rA-G4/s1600/Drupadi-Solo-01.jpg&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-1280977371652756069?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/1280977371652756069/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=1280977371652756069' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/1280977371652756069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/1280977371652756069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2010/11/darah-yang-bercahaya-seno-gumira.html' title='Darah yang Bercahaya (Seno Gumira Ajidarma)'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-5578968499917526038</id><published>2010-11-04T23:43:00.000-07:00</published><updated>2010-11-04T23:44:06.330-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Senandika Dua Detik</title><content type='html'>aku mencintai dua detik di matamu. dua detik yang hilang di dua enam malam, menghablur, kau, bayanganmu, kereta, penerbangan yang gagal satu hari, ruang tunggu, siul laki-laki tua di beranda, duduklah ia di kursi serenta tulang-tulangnya sendiri. bagaimana mampu aku mencintai detik yang lain, detik bisu di pohon randu yang ranggas, api musim, api dini hari, api jam sebelas siang, api abu, api cinta kita, yang terbakar tanpa syarat. aku ibrahim baru, mengaku nabi, mengaku rasul, mengaku satria pninggit, mengaku mahdi, mengaku jibril, mengaku wahyu, mengaku Tuhan, mengakui cintaku kepadamu menguap tiba-tiba, pengorbanan sudah selayaknya bagi cinta, tidak sia-sia, kan? aku masih saja mencintai dua detik di matamu, yang sudah lama hilang, pias, cermin-cermin negeri dongeng, aih, aku adalah presiden yang memuja seribu dewa. meracau pagi hari, menangis siang hari, dan berfoya-foya di kamar sendiri. kekuasaan tak pernah tuntas, dan dibalas di akhirat. akhirat yang mana saja, sesudah kiamat dua ribu dua belas, pertumbuhan ekonomi palsu, kenaikan tarif dasar listrik, satuan kerja anak menantu, perusahaan air kencing, badan layanan umum, orang miskin dilarang kaya, orang kaya dilarang foya-foya, kecuali diam-diam, takut wartawan, takut televisi, takut radio, kecuali dua detik yang sama di matamu, dua detik sebelum malaikat maut memamerkan sepatu pantofel barunya, dan laras panjang ak-47 miliknya, yang baru saja dicuri dari batalion kosong, penjara dua detik, kurungan menggelitik, fasilitas hotel bintang lima, minuman mabuk bintang tujuh, jenderal-jenderal bintang tiga, kematian meneguk bir merk bintang, campur minyak tanah, campur bau gas lpg, plastik gorengan lima ratus rupiah, kosmetik palsu, mie goreng beracun, rayuan pulau kelapa, aih, rayuan cuma milik penyair, dua detik milik penyair, penyair asu! penyair bau kambing ngata-ngatai pemerintah. kekasihku, aku bukan penyair dua detik itu, aku tidak merayumu yang benar-benar mencintai dua detik di matamu. benar-benar kehilangan dua detik di matamu. dua detik yang dimakan anggota dpr, dua detik yang dibawa ke yunani, dua detik yang pura-puranya naik haji. haji asu! asu naik haji. pesawat rusak melempar besi-besi, menimpa inova, dua puluh rumah, starbucks jatuh satu juta dollar, aih, pesawat asu! dua detik asu! penyair asu! asu asu asu!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5540526124402857618-5578968499917526038?l=reinvandiritto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/feeds/5578968499917526038/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5540526124402857618&amp;postID=5578968499917526038' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/5578968499917526038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5540526124402857618/posts/default/5578968499917526038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reinvandiritto.blogspot.com/2010/11/senandika-dua-detik.html' title='Senandika Dua Detik'/><author><name>reinvandiritto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00254264162535230480</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fb5EMsKNBgo/SPAk86iC3pI/AAAAAAAAAAU/flkkRduUR0g/S220/18107750929261l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5540526124402857618.post-1186309664723343993</id><published>2010-09-28T18:53:00.001-07:00</published><updated>2010-09-28T18:53:53.795-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Penyakit Gila No. 5 (Jurnal Bogor, 8 Agustus 2010)</title><content type='html'>Mendadak Lubuk Parau gempar. Sudah lima pemuda terkapar hari ini. Tidak diketahui apa sebabnya. Pastinya, kelima pemuda itu tiba-tiba tertawa terpingkal-pingkal kemudian jatuh tak sadarkan diri. Sampai malam ini, Mbah Darmo, yang memang dukun paling sakti di desa ini, masih menemani mereka berlima dengan kemenyan dan air kembang tujuh rupanya yang tak pernah lupa ia bawa kemanapun ia pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan-jangan desa kita dikutuk!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, tidak, pasti ada penyakit menular. Pasti!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Virus!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Virus?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, virus. Di mana-mana penyakit menular itu pasti disebabkan oleh virus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Virus apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Virus baru. Mutasi baru. Aku yakin sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakum sudah bosan mendengar ocehan-ocehan semacam itu. Sakum tahu, kalaulah benar virus yang menyerang desa ini, tak mungkin kejadiannya bisa terjadi bebarengan. Terlalu kebetulan untuk sebuah virus bisa membuat kelima pemuda tertawa terpingkal-pingkal dan jatuh tak sadarkan diri secara bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga dari lima pemuda itu Sakum kenal. Marjan, Mingin, dan Misran. Sampai kemarin, Sakum masih berbincang dengan mereka bertiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kum, kau mau jadi kaya?” Marjan memulai pembicaraan hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Kum, nanti kita bisa punya mobil. Bisa jalan ke Palembang, bisa karaokean ke kafe-kafe sama cewek-cewek cantik!” Mingin menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duit dari mana, Boi? Halal?” tanya Sakum sambil mengernyitkan dahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alahhh, jaman sekarang, halal haram hantam, boi! Mikirin halal apa nggak hidup ntar luntang-lantung nggak karuan kayak sekarang ini. Nggak ada majunya.” Misran menjawabnya dengan nada yang meninggi. Sakum jadi malas untuk melanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ketiganya mendadak terkapar seperti itu sebelum keinginannya tercapai. Sakum bukannya tak mau tahu apa sebab kejadian ini. Sakum punya praduga sendiri. Apalagi setelah sakum mengetahui kedua korban lainnya bernama Mardi dan Marlan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelima-limanya berhuruf awal M di namanya!” Sakum mengutarakan pendapatnya di depan Subhan, teman sepengajiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lantas bagaimana bisa orang-orang behuruf awal M tak sadar tiba-tiba? Kau mau bilang ini adalah kutukan, Kum?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hush, syirik itu namanya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah yang aku masih bingung, Han. Tapi apa kau tahu kalau kemarin…” Sakum menghentikan ucapannya. Subhan penasaran dibuatnya. “Kalau kemarin apa, Kum?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, tidak…lupakanlah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakum mengurungkan niatnya untuk menceritakan pembicaraan kemarin. Sakum ingat, ghibah itu tidak diperbolehkan dalam agama meskipun benar ceritanya. Kalaulah ia menambahinya dengan bumbu-bumbu pemanis, itu jadi fitnah namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Sakum tidak suka pada ketiga pemuda itu, ia masih merasa kasihan dan penasaran. Perihal apa yang membuat mereka bisa mengalami kejadian seperti ini? Benar-benar kutukan Tuhan kah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keeseokan harinya, Lubuk Parau bertambah gempar. Kelima pemuda itu bangun tepat ketika azan subuh berkumandang. Tetapi ada yang berbeda, belum nampak kesadaran di matanya yang mendelik kosong. Lidahnya sesekali menjulur seperti anjing-anjing kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua warga berkumpul ingin menyaksikan kejadian ini. Mulai dari ibu-ibu yang masih menggendong anaknya yang balita sampai kakek-kakek tua ringkih yang sudah bau tanah. Sakum dan Subhan pun berada di barisan depan. Konon, Mbah Darmo akan memberikan penjelasan atas fenomena ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbah, cepat katakan… ini apa? Ini pertanda apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami takut, Mbah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau ini terjadi pada anak-anak kami, Mbah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriakan-teriakan semacam itu semakin riuh. Sakum merasa getir, bagaimana mungkin manusia menggantungkan harapan dan ketakutannya pada seorang dukun?! Padahal hanya Allohlah yang Maha Kuasa, Maha Segala-galanya. kepadaNyalah seharusnya kita memohon doa dan takut pada azabNya yang teramat perih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki tua itu akhirnya muncul dari balik pintu. Seperti biasa, blangkon dan jarik warna coklat ia kenakan. Mulutnya pun tak pernah letih mengunyah sirih. Sementara tangan kanannya memegang sebuah tongkat yang kata orang-orang sumber kekuatan mistisnya bersama batu-batu akik di jemarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang… semua tenang,” mbah Darmo mulai membuka suaranya, “kalian tidak perlu panik. Mbah sudah mengatasi masalah ini. Mbah jamin tidak akan ada lagi warga desa yang kena kutukan ini…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kutukan, Mbah?” tanya seorang ibu yang mukanya menyiratkan kegelisahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbah Darmo tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, “tetapi kalian tidak perlu khawatir. Ini cuma kutukan ringan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kutukan ringan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, penyakit gila nomor lima…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penyakit gila nomor lima? Memangnya ada berapa penyakit gila, Mbah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbah darmo mengangkat kedua tangannya. Tongkatnya disampirkan di tubuhnya. “Ada sembilan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sembilan??! Katakan mbah, apa saja itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbah Darmo menggeleng. “Tidak perlu kalian ketahui. Pastinya penyakit gila nomor lima ini akan sembuh sendiri dalam lima hari. Kalian tidak perlu khawatir. Sekarang kembalilah ke rumah. Lakukan pekerjaan kalian seperti biasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka ingin ngepet, Kum…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, kau ini, jangan asal bicara…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi begitulah yang aku dengar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti peluru Han… meleset satu mili di moncongnya bisa meleset beberapa meter pada sasaran!” Subhan tampak bingung. Tak bisa mencerna kata-kata Sakum barusan. “Maksudku, yang namanya katanya itu selalu tidak benar. Selalu ditambah-tambahkan, dibumbui biar lebih sedap kedengarannya,” kata Sakum menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak… Tidak… ini aku dengar langsung dari Marni, Kum. Istrinya Marjan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi kelimanya berhuruf awal M kan di namanya? Tidak mungkin kan kalau itu cuma kebetulan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terkadang kebetulan pun adalah sebuah kebenaran, Kum… Kau tahu Kum kepada siapa mereka meminta ilmu ngepet itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa?” tanya Sakum penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbah Darmo…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan selalu menawarkan kemudahan. Tidak ada tiket yang mahal untuk surga-Nya. Surga itu murah. Tidak perlu membayar beberapa puluh ribu untuk shalat di mesjid ketimbang pergi ke diskotik dan membeli narkotik. Tidak perlu puasa empat puluh hari untuk mendapatkan keutamaan di hadapan Ilahi ketimbang demi mendapatkan ilmu sakti. Sakum heran dengan orang-orang yang memilih jalan yang lebih sulit padahal di sampingnya ada kemudahan yang lebih mulia yang ditawarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu itu ia ketuk dua kali. Tidak ada jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia coba sedikit mengintip, tetapi pintu itu malah terbuka. Tidak terkunci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aroma kemenyan segera mampir di hidung Sakum. Baunya menusuk dan membuatnya pusing. Sakum memberanikan dirinya untuk masuk dan menemui Mbah Darmo sendirian, tanpa Subhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sakum…” suara parau itu mengagetkannya. Sosoknya tampak mistis. Dengan asap-asap yang tampang berkelibat di sekitarnya. “Ada apa kau kemari?” tanya Mbah Darmo lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini benar ulahmu, kan?” Sakum balas bertanya dengan nada sedikit sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duduklah dulu… sudah lama kan kau tidak kemari, memeluk ayahmu ini?” Mbah Darmo berdiri. Tangan di tongkatnya seolah menjadi penyangga bagi tubuhnya yang tingkih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak pernah menjadi ayahku…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ikatan darah itu tidak pernah akan berbohong, Kum… kau tetaplah anakku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, kalau kau menghargai aku sebagai anakmu, bertobatlah, kembali ke jalan yang benar…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak pernah ada anak lebih pintar dari bapaknya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang pintar seringkali hanya sok pintar!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau?!” Mbah Darmo sudah menaikkan telapak tangannya. Matanya mendelik marah. “Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi pohon yang ini tumbuh di dekat sungai dan buahnya jatuh mengikuti arus dan tumbuh di tempat lain yang lebih baik!” tegas Sakum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kelima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima pemuda itu didudukkan di depan rumah mbah Darmo. Ada gentong besar di sampingnya. Gentong yang berisi air jejampian untuk memandikan kelima pemuda itu. Orang-orang sudah mulai berdatangan. Sakum dan Subhan tentu sudah datang duluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian semua tenang. Ini adalah ritual penyembuhan. Mbah perlu berkonsentrasi,” ujar Mbah Darmo dengan suaranya yang tatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau gagal, Mbah?” tanya seorang pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gagal? Mbah tidak pernah mengenal kata gagal. Mbah jamin dengan nyawa mbah!” jawab Mbah Darmo dengan meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritual itu pun dimulai dengan menyiram kelima pemuda itu dengan air di gentong sebanyak lima kali. Mulut Mbah Darmo komat komit, entah mengucapkan apa. Ia mulai berputar lima kali. Bersujud lima kali. Melompat lima kali. Dan lima kali pula, ia berteriak parau kesakitan. Matanya mendelik-delik menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata kosong kelima pemuda itu mulai tampak kembali seperti semula. Tetapi, mata si Mbah mulai berbeda. Tiba-tiba langit mendung. Kilat menyambar-nyambar. Orang-orang mulai merasakan kepanikan. Sebagian berlari ketakutan. Sakum masih bertahan memperhatikan ritual itu meski Subhan sudah mengajaknya untuk menghindar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ada petir menyambar Mbah Darmo. Kilatannya juga memantul mengenai Sakum. Mbah Darmo hilang kesadaran. Sakum pun ikut jatuh pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang dilihat Sakum setelah ia bangun adalah sosok itu bangun juga. Tetapi tidak lagi dengan tongkat tua yang dikira sumber kekuatannya. Ia mendelik kosong dan lidahnya menjulur seperti anjing-anjing kampung. Ia berjalan mendekat. Tetapi, kaki Sakum seperti terpahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“SAKUM… adalah ANAK KANDUNGKU. DARAH DAGINGKU…” sosok itu mulai berkomat. Sakum tersengat, ingin membantah, tetapi bibirnya malah terkunci rapat. “ILMUKU SUDAH KUTURUNKAN KEPADANYA. SEKARANG HORMATILAH DIA SEBAGAI ORANG PINTAR LUBUK PARAU. HAHAHA!” lanjutnya terbahak. Brak! Mbah Darmo ambruk setelah mengucapkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja Sakum kesetanan. Matanya mendelik seperti sedang kerasukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak ingat lagi kenapa ia hidup sendiri. Ia tidak tahu lagi kenapa ayahnya tiba-tiba jadi dukun sakti. Ia bahkan lupa apakah ia adalah buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya atau ikut arus sungai dan tumbuh di tempat yang lebih baik
