Langsung ke konten utama

Misa Arwah dan Sebuah Entropi

Saya pernah keliru mengartikan misa. Dulu, saya berpikir, ibadah Minggu di gereja itu adalah misa. Ternyata bukan. 



Istilah Misa berasal dari kata bahasa Latin kuno missa yang secara harafiah berarti pergi berpencar atau diutus. Kata ini dipakai dalam rumusan pengutusan dalam bagian akhir Perayaan Ekaristi yang berbunyi "Ite, missa est" (Pergilah, tugas perutusan telah diberikan) yang dalam Tata Perayaan Ekaristi di Indonesia dipakai rumusan kata-kata "Marilah pergi. Kita diutus."(Wikipedia)



Sedangkan ekaristi berasal dari bahasa Yunani eucharistia, yang artinya pujian atau syukur. Jadi, arti kata ekaristi mementingkan apa yang kita akukan dalam Misa, yaitu memuji, bersyukur, dan berterima kasih kepada Tuhan atas kebaikan-Nya. Dikatakan bahwa ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan umat.



Menarik ketika Dea Anugrah, yang sering disebut Khrisna Pabichara sebagai musuh saya, memberikan manuskrip puisinya yang berjudul "Misa Arwah". Yang terbersit di pikiran ketika membaca judul ini adalah eksistensialisme. Kedua, mahasiswa filsafat abadi menulis puisi, pasti akan ada lapisan-lapisan pembacaan di dalam puisinya.



Pada saat yang sama, ketika membaca puisi-puisi di dalamnya, saya sedang berbincang dengan Zane tentang alam semesta. Alam semesta yang bermula dari ledakan besar, menjadi bintang, bintang menjadi bintang-bintang, lalu menjadi galaksi, dan galaksi-galaksi. Alam semesta selalu berkembang, begitu juga tubuhku. Dengan serius, dia berkata. Itu namanya entropi. Entropi alam semesta adalah mengembangnya alam semesta. Aku diam saja mendengar kata-katanya. Dia melanjutkan, entropi itu dikenal pada termodinamika. Entropi adalah es batu di dalam gelas, juga gula yang diaduk dalam segelas teh. Ia juga berarti transformasi. Ada banyak hal yang tampaknya berubah tanpa alasan. Begitu juga tubuhku, katanya. Entropi di dalam tubuh adalah ketidakteraturan. Ketidakteraturan itu akan semakin tidak teratur. Kita bisa memperlambat entropi itu dengan olahraga. Ucapannya sulit kubantah.



Sajak-sajak Dea Anugrah juga adalah sebuah entropi. Kecemasanlah yang menjadi entropinya. Ditegaskan dalam baris sajaknya,


Sebab kecemasan itu tak pernah usai. 



Bicara sajak Dea juga bicara pengetahuan dan intertekstualitas. Simak sajak pertamanya yang berjudul Teringat Kuburan di Desa




selembar daun jati tua

jatuh 

di atas sebuah makam purba



o, pengetahuan, mengapa manusia

ingin bahagia?



Dari sajak ini saja aku jadi teringat pada banyak hal. Ada Ezra Pound, Subagyo Sastrowardoyo, Sheila on 7 dan Goenawan Muhammad.



Ezra Pound kukenal karena imajismenya. Imaji daun jati yang dihadirkan Dea juga menarik. Karena lama tinggal di Jogja, jadi kurasa Dea paham betul kalau daun jati itulah yang berguna memerahkan gudeg. Yang disukai banyak orang biasanya adalah yang terbungkus di dalam daun jati, bukan daun jatinya. Sama seperti ketika aku berkunjung ke Jogja, kami makan nasi Jamblang di emperan jalan. Makanan khas Cirebon itu juga dibungkus daun jati. 



Namun, Dea tak puas dengan imajisme semata. Ia membubuhkan pertanyaan. Pertanyaan yang pernah dilontarkan Sheila on 7, juga Goenawan Muhammad. Bedanya, Dea menggunakan kata "ingin", bukan "ada", atau "butuh". Di sini, Dea mengatakan bahwa manusia memiliki arti nafs itu. 



Kekontrasan antara kedua hal itu menimbulkan kesadaran akan peran manusia untuk mementingkan orang lain dulu ketimbang mementingkan diri sendiri. Diletakkannya sajak ini di awallah yang juga membuatku teringat pada sajak Subagyo Sastrowardoyo.




NADA AWAL

Oleh :Subagyo Sastrowardoyo



Tugasku hanya menterjemah

gerak daun yang tergantung

di ranting yang letih. Rahasia

membutuhkan kata yang terucap

di puncak sepi. Ketika daun jatuh

tak ada titik darah. tapi

di ruang kelam ada yang merasa

kehilangan dan mengaduh pedih



Jika kita mencermati keduanya, ada persamaan alasan. Ini yang membuat Dea menulis Misa Arwah sebagai persembahan untuk Subagyo Sastrowardoyo.



Hanya saja, entropi Dea dan kecemasannya itu masih belum terlihat batasnya. Ibarat gula tadi, diaduk di dalam gelas, ia akan memaniskan seisi gelas. Tak berpuas di situ, bila pun gula itu ditumpahkan ke lautan, ada upaya dari Dea untuk memaniskan lautan. Tampak Dea berusaha mendefinisikan ulang banyak kejadian. Ia tak puas dengan definisi yang diterimanya (misal dalam sajak Ad Ignorantiam--yang bahasa gaulnya, "Hoi, apa kita sudah cukup bukti untuk menyimpulkan sesuatu?)



Akan tak bijak rasanya kalau semua sajaknya dibahas satu-satu dan akan habis isi otakku dikurasnya, meski itu mungkin belum akan cukup juga pada kemungkinan tafsir yang bisa didapatkan.



Apapun itu, ada baiknya kita menanti buku sajak ini segera terbit dan dibincangkan karena ia memang layak dibincangkan.



(2014)

Komentar

Pos populer dari blog ini

70 Kata-Kata Sok Bijak Mereka

1. Marah itu gampang. Tapi marah kepada siapa, dengan kadar kemarahan yang pas, pada saat dan tujuan yang tepat, serta dengan cara yang benar itu yang sulit. (Aristoteles)

2. Kesakitan membuat Anda berpikir. Pikiran membuat Anda bijaksana. Kebijaksanaan membuat kita bisa bertahan dalam hidup. (John Pattrick).

3. Jangan pernah melupakan apa pun yang dikatakan seseorang ketika ia marah, karena akan seperti itu pulalah perlakuannya pada Anda. (Henry Ward Beecher)

4. Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat. (Winston Chuchill)

5. Bakat terbentuk dalam gelombang kesunyian, watak terbentuk dalam riak besar kehidupan. (Goethe)

6. Secara teoritis saya meyakini hidup harus dinikmati, tapi kenyataannya justru sebaliknya – Karena tak semuanya mudah dinikmati. (Charles Lamb)

7. Orang yang menginginkan impiannya menjadi kenyataan, harus menjaga diri agar tidak tertidur. (Richard Wheeler)

8. Bila Anda ing…

Terjemahan Bebas The Road Not Taken By Robert Frost

Jalan yang Tak Ditempuh dua jalan menyimpang di hutan cladrastis kentukeadan sungguh maaf, aku tak bisa menempuh keduanyadan menjadi musafir sendiri, lama aku berdiridan melamun-merenungi sejauh yang aku mampudemi kemana jalan ini berbelok dalam semak-semak;lalu tempuhlah yang lain, biar terasa lebih adil,dan memiliki kemungkinan untuk menjadi lebih baikkarena begitu serut dan kurang terjamahi;meskipun untuk berjalan terus ke sanasedikit mengusangkan pikiran mereka pada persamaanDan keduanya, secara seimbang membaringkan pagimenginjak daun-daun itu, tanpa meninggalkan jejak, oh, aku mengenang yang pertama untuk suatu saat nanti!Dan belum aku tahu, cara jalan menuntun ke kebenaranaku meragukan bahwa yang telah aku tinggalkan akan kembaliAku harusnya mengatakan semua ini dengan lenguhandi suatu tempat, usia demi usia yang berguguran:Dua jalan menyimpang di sebuah hutan, dan aku--aku telah memilih satu, yang sepertinya sunyi,dan di situlah aku telah membuat suatu perbedaan.

Sajak-Sajak Pringadi Abdi Surya di Kompas.com 27 Maret 2011

Daun Jendela

Ia berharap ada yang membukanya setiap pagi
dan seekor burung gereja yang tersesat
bertengger ramah di punggungnya. Engselnya
yang berkarat masih begitu kuat menahan
ketukan-ketukan angin di tiap malam sebelumnya.
Dulu, ada kutilang yang berkandang di dekatnya.
Kutilang yang sering bernyanyi dan belum belajar
cara membuang kotoran. Ternyata, nyanyian
kutilang pun tak sanggup menahan kematian.

Ia tahu, di luar sana, udara semakin berat.
Dan mahahebat Tuhan yang menjinjing matahari.
Sesekali, ia melirik ke dalam kamar, dan
membuang suar lampu yang belum dipadamkan.
Seorang laki-laki tengah mendengkur
dan beradu sakti dengan jam waker.



Ceritanya tentang Jambu Bangkok

Pohon jambu bangkok di pekarangan rumahnya sedang musim-musimnya. Ada yang masih pentil, berwarna hijau tua. Ada juga yang sudah dibungkus kantung kresek, kira-kira seukuran bola tenis. Ia tahu, tiap saat ia harus berjaga dari ulat dan segerombolan anak yang lewat saat pulang sekolah. Ia bersembunyi …