Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari April, 2014

Review Simbiosa Alina oleh Reananda Hidayat

Diambil dari http://reanhidayat.wordpress.com/2014/04/29/review-simbiosa-alina/

Tentang sepasang kekasih yang menikmati sore di bangku taman, tentang kakek nenek yang bergenggaman tangan di Stasiun Lempuyangan, tentang dua orang yang berpelukan dan bertukar puisi di tepi tebing curam, tentang hujan yang merontokkan segenap kerinduan. Bisa dikatakan, Simbiosa Alina bicara melulu soal cinta dan kenangan. Namun dia tidak membosankan? Hebat bukan? gambar: goodreads.com Ada dua penulis dalam Simbiosa Alina, salah satunya adalah Sungging Raga. Saya pertama kali berkenalan dengannya dalam cerpen manis tentang sepasang kekasih yang duduk menjuntaikan kaki sembari menunggu senja dan kereta dari atas Sungai Serayu. Senja itu sunyi namun menyenangkan, bagi si wanita untuk menggambarkan kekasihnya yang pendiam. Serayu Sepanjang Angin Akan Berembus, juga akan banyak hembusan napas panjang saat membacanya. Kali ini, dalam sepuluh cerpennya, Sungging Raga menghadirkan rasa sunyi yang beragam. Senja…

Review Simbiosa Alina oleh @adit_adit

Diambil dari http://catatanpunyatia.wordpress.com/2014/04/29/simbiosa-alina/


Pengin merasa melankolis di tengah hidup yang hiruk pikuk? Kumpulan cerita pendek ‘Simbiosa Alina’ ini mungkin adalah jodohmu. Ditulis oleh Sungging Raga dan Pringadi Abdi, cerpen-cerpen di dalam buku ini menyediakan bermacam-macam tragedi. Ada 20 cerita pendek di dalam buku ini. Memang pendek-pendek sih. Temanya juga ya tentang tragedi. Kematian, cinta yang nggak tersampaikan, cinta yang nggak bisa bersama, dan sebagainya. Diuntai dengan diksi yang cantik serta untaian kalimat-kalimat yang mendayu-dayu. Ini bacaan yang cocok untuk penggemar sastra, cerpen-cerpen koran minggu, dan cerita-cerita surealis. Dalam satu salah cerpen yang melabeli dirinya sendiri dengan ‘surealis’ bilang kalau apapun bisa terjadi dalam sana. Memang benar. Apapun bisa terjadi. Sungging Raga dengan kelihaiannya dalam sisi deskripsi dan Pringadi Abdi yang menghidupkan karakter-karakternya lewat interaksi dan dialog–keduanya apik! Iyal…

Catatan Pembacaan Kedai Bianglala, Anggun Prameswari (Grasindo, 2014)

Tahukah kamu Capuccino yang tepat adalah terdiri dari sepertiga espresso, sepertiga susu yang dikukus dan sepertiganya lagi busa susu. Bedanya dengan Latte adalah proporsinya. Latte adalah kopi untuk belia. Rasanya lebih ringan dengan proporsi sepertiga espresso, setengah susu yang dikukus dan seperenam busa susu. Capuccino lazimnya diminum pagi hari bersama sepotong croissant.. Bahkan di Italia, ada larangan meminum capuccino di atas jam 12 siang. 

Orang-orang Indonesia tampaknya mengabaikan itu. Termasuk di salah satu cerpen di buku ini, Laron dan Kunang-Kunang, sang tokoh pria memesan bergelas-gelas Cappucino pada malam hari. Aku bukan pencinta kopi, aku bahkan hampir tidak pernah minum kopi. Tapi bakda menonton Coffee Prince yang diperankan Yoon Eun Hyee, aku jadi mengerti, dunia kopi adalah dunia ketepatan dan presisi. Bahkan ada kompetisi barista kopi hingga pencicip kopi. Perbedaan urutan, waktu, sedikit saja, bisa mengubah aroma dan cita rasa kopi. Luar biasa.

Adalah hal yang ba…

Yang Teringat dari 24 April

Cinta Pertama

Takdir kita ditulis, sejak kau angkat teleponku, "Halo, kau
adalah cinta pertamaku, apa kau mau jadi cinta terakhirku?"

Tapi diam tak pernah menjadi bahasa terbaik bagi kita
untuk membincangkan angan-angan yang cenderung rapuh
Sebuah pijakan lemah anak lelaki kurus saja akan mudah
mematahkannya dan waktu yang tak pernah bosan
menjadi peneman perjalanan akhirnya juga ikut menyerah.

Tuhan kemudian membeli penghapus di toko seberang
Aku tahu toko itu tak punya uang kecil buat kembalian
dan memberi dua bungkus permen, rasa paling kecut.

Dua permen itu juga kutemukan di depan pintu kamar, bersama
kata maaf dari Tuhan, karena memberi kita kado perpisahan.


Anggi

Seorang pembawa pesan sepertimu tidak mungkin lupa
alamat yang menjadi tujuan

Seorang pembawa pesan sepertimu tidak mungkin ingat
seorang lelaki yang menunggu pesan itu


Bioskop

Kencan pertama kita di bioskop, kau datang terlambat
Alasanmu hanya satu kalimat, "Maaf, barusan malaikat
mengadakan rapat di sepan…

Catatan Pembacaan Aksara Amananunna, Karya Rio Johan (KPG, 2014)

Pengumuman Penulis Undangan Indonesia Timur – MIWF 2014

Setelah membaca dan mendiskusikan karya yang masuk, tim kurator MIWF 2014 memutuskan memilih enam penulis untuk hadir sebagai penulis undangan:

Pringadi Abdi (Sumbawa)
Amaya Kim (Kendari)
Ama Achmad (Luwuk Banggai)
Louie Buana dan Ran Jiecess (Makassar)
Saddam HP (Kupang)

Kepada penulis undangan terpilih, kami harapkan untuk menghubungi panitia MIWF melalui email contact@makassarwriters.com atau fiska@makassarwriters.com selambatnya tanggal 1 Mei untuk menyatakan kesediaan berpartisipasi penuh selama berlangsungnya festival.

Kepada semua penulis yang telah mengirimkan karya, kami mengucapkan terima kasih atas partisipasinya.
Tertanda,

Tim Kurator MIWF 2014
Aslan Abidin (Koordinator)
M. Aan Mansyur
Shinta Febriany
Lily Yulianti Farid

Puisi Pringadi Abdi di Majalah Bong-Ang, Maret 2014

Aku Mencoba Menulis Puisi Ini di Twitter Tetapi Tak Ada Hujan, Tak Ada Kau
di lini masa, tak ada hujan, tak ada kau kata-kata turun dari langit seperti wahyu tetapi siapa mendengar, siapa melihat
kita terbiasa tertawa untuk hal yang berbeda tetapi selalu menangis untuk hal yang sama berulang-ulang, berkali-kali, tapi tak bosan
setiap kesepian yang diwasiatkan para pencinta yang kalah atau mati di dalam percintaan kita simpan baik-baik seperti kapsul masa depan
tertanam di dalam tanah, di dekat sebuah pohon yang telah dewasa sejak mula Adam turun ke dunia dan perjalanan mencari kekasihnya
di lini masa orang berebut meminta disebut tetapi tak ada nama tuhan, tak ada nama kau aku seperti semut yang luput dari perhatian
ketika kupikir aku telah selesai menulis puisi, ketika itu pula kusadari kau tak akan cukup dalam lingkup 140 karakter yang ditakdirkan
(2013)

Simbiosa Alina: Di Antara Cinta dan Kenangan

Aku selalu ingin menulis tentang cinta. Setidaknya, satu kali saja dalam hidupku, aku ingin menulis sebuah buku yang isinya bisa dibaca sebagai cinta melulu, kenangan melulu, sebagai caraku untuk merayakan betapa hidup selalu tentang cinta.

Ketika naskah kukirimkan, aku tidak akan menyangka kalau kemudian akan dipadukan dengan Sungging Raga. Manusia satu itu, setahuku, tidak pacaran meski katanya dia pernah punya pacar.

Aku tidak tahu bagaimana orang akan membaca kisah yang seolah-olah kisah nyata cintaku, yang karakternya memang aku comot seenak jidat dari kehidupan riil. Bahkan, aku menjadikan namaku sendiri sebagai tokohnya. Kenapa, karena rasanya namaku itu keren. Jangan kalian bayangkan karakter tokoh itu sebagai aku. Itu semua hanya kamuflase. Aku bukan orang yang romantis. Aku adalah si pria cuek, alien, apatis, dan masa bodoh terhadap yang terjadi pada kehidupan orang lain. Aku tak ubahnya mesin yang menganggap perasaan bisa dihitung dan dikalkulasi.

Tapi setidaknya aku pernah…

Review Simbiosa Alina oleh Suryawan WP

tulisan ini dicopy paste dari http://suryawanwp.wordpress.com/2014/04/12/simbiosa-alina-review/
ditulis oleh Suryawan WP


Setahun ke belakang saya mulai membaca cerpen-cerpen yang dimuat di koran. Sungging Raga adalah salah satu penulis yang cerpennya sering muncul di koran-koran Minggu. Saya mengagumi tulisannya yang ajaib. Beberapa cerpennya bahkan sampai membekas di ingatan hingga waktu yang lama karena saking ajaibnya.
Bersama Pringadi Abdi, Sungging Raga menerbitkan kumpulan cerpen “Simbiosa Alina”. Judulnya merupakan penggabungan dua judul cerpen milik mereka berdua, “Simbiosa” dan “Alina”.

Ada dua puluh cerita pendek dalam buku ini. Untuk ukuran buku yang tidak terlalu tebal (192 halaman) ternyata tidak bisa saya baca langsung selesai. Butuh waktu beberapa hari untuk menyelesaikannya.

Dari kesepuluh cerita pendek Sungging Raga, favorit saya adalah Sebatang Pohon di Loftus Road, Pelukis dari St. Mary’s, Senja di Taman Ewood, dan Biografi Cartesia. Saya sudah membaca t…

Pemilu, Pengalaman dan Pembelajaran

Pada mulanya saya ingin memilih tidak memilih. Alias Golput. Saya pun enggan untuk datang ke TPS dikarenakan saya tak mengenal satu pun caleg yang berada di dapil saya saat ini.

Sebagai pegawai KPPN, dengan pola mutasi yang acak, saya ditempatkan di Sumbawa Besar, jauh dari kampung halaman di Banyuasin, Sumatra Selatan. Pada pemilu 2009 lalu, saya masih berkuliah di Bintaro. Dengan rela dan bersemangat, saya menyempatkan diri untuk pulang dan memberikan suara kepada calon legislatif yang saya kenal betul, dengan mengharapkan adanya perubahanke arah yang lebih baik di kampung halaman. Tapi kali ini, pulang dari Sumbawa ke Sumatra sama saja dengan menghabiskan satu bulan penghasilan.

Meskipun demikian, ada sisi di sudut kecil hati yang ingin memilih. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Sayang sekali rasanya jika sebuah hak tidak dipakai dan disia-siakan. Saya pun sempat mencari tahu prosedur pindah tempat coblos. Petugas satker KPU yang sering datang ke KPPN untuk mint…