Langsung ke konten utama

Analisi Puisi Origami: Ria Ana Safitri

Analisi Puisi Origami
Oleh Ria Ana Safitri

Pringadi AS adalah mahasiswa D3 Akuntansi Pemerintahan STAN yang mulai rutin menulis sejak bulan berakhiran –ber di 2007 dan mulai tertarik pada puisi di bulan yang sama di tahun 2008. Pringadi AS telah memenangkan berbagai perlombaan kepenulisan. Karya-karyanya bisa dilihat juga di kompas.com, fordisastra.com, dan masih banyak situs lain yang memuat karya Pringadi AS ini. Berikut adalah salah satu karya puisi Pringadi yang berjudul Origami yang di buat pada tahun 2009. Pringgadi memadukan seni origami dengan pilihan jalan hidup seseorang.
ORIGAMI
Kita diajari melipat mimpi                               (1)
Dalam kertas warna-warni                               (2)

Aku merah hati, kelak jadi politisi                    (3)
Aku kuning saja, kelak jadi pengusaha            (4)

Tapi satu anak berontak                                   (5)
Tak mau ikut melipat mimpi                            (6)

Aku melipat puisi saja                                      (7)
Kelak kukirim kepolitisi                                    (8)
Biar tak lupa diri                                              (9)
Aku melipat puisi saja                                      (10)
Kelak kukirim ke pengusaha                            (11)
Biar tak lupa berderma                                    (12)

(Pringadi AS, 2009)
Puisi Pringadi ini berjudul origami. Melalui judul tersebut penyair memberi gambaran pada pembaca tentang perbandingan origami dengan isi puisi yang ia tulis. Dalam pengertiannya, origami adalah salah satu budaya jepang untuk mengkreasikan kertas-kertas berwarna menjadi sebuah bentuk yang indah. Origami lebih dikenal dengan istilah seni melipat kertas. Begitulah penyair mengambil tema origami ini dalam mendeskripsikan isi puisinya.

Masa depan adalah sebuah pilihan
            Sekilas membaca puisi ini, akan tampak kesederhanaan bahasa yang digunakan oleh Pringadi AS. Sedikit banyak dari pembaca akan mengetahui maksud dari puisi-puisinya. Khususnya pada puisi Origami yang dibuat ringkas, menarik dan bermakna ini.
Puisi Origami memiliki bentuk yang menarik dan mudah dimengerti. Huruf miring dari kutipan langsung dan huruf tegak dari ungkapan penulis memudahkan pembaca untuk memahami makna.
Setiap bait dalam puisi origami memiliki kesinambungan dengan bait sebelumnya. Ada beberapa pengulangan kata dan penggunaan irama /a/ /i/  yang disusun indah. Jarang muncul bunyi-bunyi kontras yang melahirkan kejutan-kejutan irama. Hal itu tampak pada Kita diajari melipat mimpi,  Dalam kertas warna-warni. Begitupun pada baris Aku melipat puisi saja, Kelak kukirim ke pengusaha, Biar tak lupa berderma. Perulangan bunyi /a/ dan /i/ pada puisi ini menggambarkan penegasan dalam ucapan-ucapannya. Pembaca sekaligus pendengar bisa dengan ringan menikmatinya.
Baris pertama, kita diajari melipat mimpi, penyair terlihat ingin mengungkapkan sebuah realita hidup. Dipertegas dengan ungkapan dalam kertas warna-warni pada baris kedua. Bait pertama sudah mulai terlihat apa yang sedang dibahas penyair dan menggabungkannya dengan istilah-istilah origami yaitu mimpi  dan kertas warna-warni.
Setiap orang mempunyai tujuan hidup yang berbeda. Tergantung pilihan mana yang diambil. Melipat mimpi dalam kertas warna-warni dimaksudkan penyair untuk menjadikan tujuan hidup yang berbeda-beda tersebut sebagai sebuah lipatan yang indah, yaitu cita-cita yang telah tercapai. Dalam gaya tuturnya, penyair menggunakan majas asosiasi yang membandingkan antara cita-cita dan seni melipat kertas/ origami. Dengan menggunakan majas asosiasi, yaitu dibandingakan dengan origami, pembaca akan memahami bagaimana sebenarnya sebuah keragaman cita-cita dari setiap orang dengan sajian yang lebih menarik dan mudah dimengerti.
Pringadi AS menyebutkan beberapa contoh dari keberagaman tujuan hidup manusia. Pada baris (3) dan (4) di sebutkan bahwa antara Si A dan Si B mempunyai ternyata mempunyai keinginan yang berbeda.  Kata ganti “aku” pada Aku merah hati, kelak jadi politisi dengan “aku” pada Aku kuning saja, kelak jadi pengusaha adalah orang yang berbeda. Dimaksudkan penyair bahwa setiap orang berhak atas pilihan hidupnya. Sampai ia menambahkan satu contoh lagi yang ditulisnya pada baris (5) sampai baris (12).
Di dalam untaian baris (5) sampai baris (12) di jelaskan bahwa ada seorang yang tidak bercita-cita namun memiliki keinginan yang mulia. “Aku” dalam Aku melipat puisi saja,yaitu Si C, melihat realita bagaimana gaya hidup dan sikap politisi di zaman sekarang. Hal inilah yang menjadi latar budaya dalam puisi origami. Kondisi sosial yang terjadi pada masa itu.
Si C adalah orang yang melihat kondisi sosial di sekitarnya. Banyak pengusaha kaya yang hidup berfoya-foya dan politisi yang lupa akan diri mereka. Si C beranggapan selalu ada hal negatif dari sebuah cita-cita. Sehingga menurutnya, ia lebih baik melipat puisi dari pada melipat mimpi. Melalui puisi ia bisa mengingatkan para petinggi yang melipat mimpi untuk tidak lupa akan dirinya.
Makna yang terkandung dalam puisi ini adalah setiap orang punya tujuan dan pilihan hidup masing-masing. Tujuan itu bisa dijadikan sebagai sebuah lipatan indah dan menjadikannya sebagai cita-cita yang telah terwujud.
Amanat terletak pada dua bait terakhir yaitu ketika “aku” Si C memilih menjadi penulis puisi. Sebelum menentukan pilihan tujuan hidup, lebih bijaksana apabila kita melihat kondisi sekitar kita. Hal ini diperlukan agar nantinya cita-cita kita yang telah terwujud bisa bermanfaat bagi orang lain. Bukan malah merugikan.


Komentar

Pos populer dari blog ini

70 Kata-Kata Sok Bijak Mereka

1. Marah itu gampang. Tapi marah kepada siapa, dengan kadar kemarahan yang pas, pada saat dan tujuan yang tepat, serta dengan cara yang benar itu yang sulit. (Aristoteles)

2. Kesakitan membuat Anda berpikir. Pikiran membuat Anda bijaksana. Kebijaksanaan membuat kita bisa bertahan dalam hidup. (John Pattrick).

3. Jangan pernah melupakan apa pun yang dikatakan seseorang ketika ia marah, karena akan seperti itu pulalah perlakuannya pada Anda. (Henry Ward Beecher)

4. Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat. (Winston Chuchill)

5. Bakat terbentuk dalam gelombang kesunyian, watak terbentuk dalam riak besar kehidupan. (Goethe)

6. Secara teoritis saya meyakini hidup harus dinikmati, tapi kenyataannya justru sebaliknya – Karena tak semuanya mudah dinikmati. (Charles Lamb)

7. Orang yang menginginkan impiannya menjadi kenyataan, harus menjaga diri agar tidak tertidur. (Richard Wheeler)

8. Bila Anda ing…

Terjemahan Bebas The Road Not Taken By Robert Frost

Jalan yang Tak Ditempuh dua jalan menyimpang di hutan cladrastis kentukeadan sungguh maaf, aku tak bisa menempuh keduanyadan menjadi musafir sendiri, lama aku berdiridan melamun-merenungi sejauh yang aku mampudemi kemana jalan ini berbelok dalam semak-semak;lalu tempuhlah yang lain, biar terasa lebih adil,dan memiliki kemungkinan untuk menjadi lebih baikkarena begitu serut dan kurang terjamahi;meskipun untuk berjalan terus ke sanasedikit mengusangkan pikiran mereka pada persamaanDan keduanya, secara seimbang membaringkan pagimenginjak daun-daun itu, tanpa meninggalkan jejak, oh, aku mengenang yang pertama untuk suatu saat nanti!Dan belum aku tahu, cara jalan menuntun ke kebenaranaku meragukan bahwa yang telah aku tinggalkan akan kembaliAku harusnya mengatakan semua ini dengan lenguhandi suatu tempat, usia demi usia yang berguguran:Dua jalan menyimpang di sebuah hutan, dan aku--aku telah memilih satu, yang sepertinya sunyi,dan di situlah aku telah membuat suatu perbedaan.

Sajak-Sajak Pringadi Abdi Surya di Kompas.com 27 Maret 2011

Daun Jendela

Ia berharap ada yang membukanya setiap pagi
dan seekor burung gereja yang tersesat
bertengger ramah di punggungnya. Engselnya
yang berkarat masih begitu kuat menahan
ketukan-ketukan angin di tiap malam sebelumnya.
Dulu, ada kutilang yang berkandang di dekatnya.
Kutilang yang sering bernyanyi dan belum belajar
cara membuang kotoran. Ternyata, nyanyian
kutilang pun tak sanggup menahan kematian.

Ia tahu, di luar sana, udara semakin berat.
Dan mahahebat Tuhan yang menjinjing matahari.
Sesekali, ia melirik ke dalam kamar, dan
membuang suar lampu yang belum dipadamkan.
Seorang laki-laki tengah mendengkur
dan beradu sakti dengan jam waker.



Ceritanya tentang Jambu Bangkok

Pohon jambu bangkok di pekarangan rumahnya sedang musim-musimnya. Ada yang masih pentil, berwarna hijau tua. Ada juga yang sudah dibungkus kantung kresek, kira-kira seukuran bola tenis. Ia tahu, tiap saat ia harus berjaga dari ulat dan segerombolan anak yang lewat saat pulang sekolah. Ia bersembunyi …