Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Januari, 2013

Dua Puisi di buku AMARAH, GPU, 31 Januari 2013

SINOPSIS
12 cerpen dari 12 cerpenis. 39 puisi dari 31 penyair. Mereka masih muda dan mungkin bukan siapa-siapa dalam dunia sastra. Tetapi karya-karya mereka tak kalah mengagumkan dibandingkan para penyair dan cerpenis yang telah menjadi seseorang. “Amarah” mereka layaknya bom waktu yang meledak melahirkan puing kata-kata—puisi dan cerpen. Amarah yang berkobar-kobar itu ditujukan kepada cinta yang tanpa restu, dogma yang meruntuhkan kemanusiaan dan mengubahnya menjadi manusia robot, kekerasan negara (dan kematian yang sia-sia), perusak kedamaian, isu SARA yang dipolitisasi, dan berujung pada pertanyaan kepada Tuhan. Dalam buku ini, “Amarah” mereka menyaru dalam keindahan. Terus berproses dan berdialog untuk membebaskan amarah mereka (atau mungkin kita?).

Antologi AMARAH LEMBAGA BHINNEKA sudah bisa dipesan lewat Gramedia store (online) dan akan diterbitkan (didistribusikan) tanggal 31 Januari 2013 dengan harga Rp.45.000,-.



http://www.gramedia.com/book/page/author/Lembaga_Bhinneka


PUISI: 
Pa…

Sonet Rindu

selalu ada rasa tak terucap, angin yang tak dapat kukecap
ketika hujan turun lebih rintik dari biasanya, dan kurindukan
suara burung koak yang pergi, hilang, tanpa derap.
padahal aku menunggumu sambil mengusir ketakutan.

daun jatuh tak pernah menyalahkan seseorang, atau kau
bahkan di musim semi, dedaunan dapat gugur demi waktu
hatiku yang berkait di ranting itu, juga menjadi silau
karena cahaya yang selamanya kukira milikmu

selalu gagal kupahami, perasaan yang sedemikian sendiri
melontarkan berbagai tanya yang kemudian tak bisa kujawab
bagaimana telah kurelakan kenyataan juga kenangan

daun jatuh tak pernah menyalahkan seseorang, atau kini
karena udara yang dilahirkannya. mataku yang sembab
karena tangis, tidak, ah tidak, karena kerinduan.

Dua Puisi di Batak Pos, 12 Januari 2013

di atas katedral
di atas katedral:
dua jejak nada bekas misa siang tadi
sempat tertinggal sebelum kaucuri
diam-diam
tidak ada yang tahu, uskup-uskup tua itu bahkan
tengah asik mengeja tiap ayat-ayat di kitab sucinya
berlatih khotbah untuk jemaatnya
tapi malam ke tujuh kau kembali
bersujud di altar pengakuan dosa
memelas memohon kasih
...
sebab kautahu
nada itu begitu agung
untuk kaucuri



Rindu – Mati seperti sebuah rindu yang
tiba-tiba jatuh
ada yang terserak di dedaunan maple
yang telah memerah lalu mengering,
menjadi bagian dari hidupmu
"Tapi ini musim semi," katamu mengeluh
terpaksa kau mencarinya
di sela-sela ulat yang mulai
menggerogoti dedaunan itu
berhari-hari
"Sudah membusukkah?" Tanyamu lesu
maka kau menyerah
; rindu itu mati!


Ketika Kita Tiada

Tidak ada yang akan pergi ke kantor, meletakkan
kelima jari pada pemindai sidik, lalu pulang dan
memikirkan hujan tadi malam yang membunuh kita
dengan kejam. Tubuh yang penuh lubang diletakkan
di jalan-jalan seperti tebaran paku yang siap
menjebak kendaraan bermotor. Pada itu, aku ingin
merengkuh jarimu yang tergeletak tak jauh bagai
minta digenggam, tetapi nyawa membumbung laik
asap. Kita memandang tetapi tak dapat memegang.
Apakah orang-orang akan mencari kita yang tidak
pergi ke kantor hari ini? Tetapi libur ini mengurung
kenangan, mengikat ingatan, merengkuh segala hal
yang biasa diucapkan diam-diam di belakang kita,
o, betapa, banyak pisau yang sudah menancap!

Dua Wajah Jasper: Catatan atas Setintapena

Dua Wajah Jasper Catatan atas Setintapena
I. Seorang mahasiswi Sastra Inggris sebuah universitas swasta di Jakarta pernah mengirimi aku pesan, “Padahal kamu tidak ada latar belakang sastra, kekuatan apa yang membuatmu dapat menulis sastra seperti sekarang?” Dengan lekas kujawab bahwa dalam sejarah, para sastrawan adalah para filsuf, dan mayoritas filsuf juga adalah matematikawan atau fisikawan. Banyak yang salah kaprah jika berpikir sastra hanya memiliki satu dimensi: bahasa. Setidaknya selain bahasa, menulis sastra harus bersinggungan atau memiliki dasar ilmu lain yakni filsafat, psikologi dan kebudayaan/antropologi. Ilmu-ilmu itu bukan dalam taraf program studi baku, karena mereka dapat dipelajari siapa pun, dapat dihayai siapa saja. Karena itu, semua orang berhak menulis puisi, karena setiap orang berhak memiliki pertanyaan. Tetapi tidak setiap pertanyaan dapat menemukan jawabannya. Atas kegelisahan menunggu jawaban inilah, kadang-kadang puisi lahir. Jasper Valentino salah satunya,…

Kepada Jejak Lain

bila tak dapat berjalan maju, aku akan menapaki jejakku kembali hingga tiba di suatu titik ketika kita memutuskan mengambil tikungan yang berbeda. kau hanya menyerahkan doa, dan kukantungi mereka dalam sajakku yang tipis. aku tak peduli ada tangis lain yang bersembunyi di semak belukar di sepanjang perjalanan tadi. kanak-kanakku bersikeras hidup hanya untuk masa depan, masa lalu ada hanya untuk dilupakan. diam-diam aku mengharapkan menemukan tikungan lain, begitu pun kau, lalu kita akan tak sengaja bertemu sambil mengucap wow dan apa kabar. tapi siapa yang tak lelah berjalan sendiri, siapa yang sudi merayakan sepi dan awan-awan seperti berkawin, beranak pinak seperti ... ah, seperti ah.

nun, aku lupa bertanya siapa namamu. aku luput bertanya rasa bibirmu.

Udara

telah kuisi hidupku dengan udara tapi aku tak melayang seperti balon gas kuminta orang demi orang yang kukenal dan tak kukenal meniupku sampai lebih kembung namun kekasihku malah menangis ia khawatir aku akan meledak dan mengulang tragedi kemanusiaan
sesuatu yang kusebut matahari tidak bosan senyum-senyum sendiri aku ejek dia gila, dia malah tertawa kegilaan lebih baik dari kebodohan, ungkapnya dengan alasan itu, aku mencari kekasih lain yang bersedia meniupku tapi tak kutemukan satu pun yang bibirnya mampu meniupkan  udara satu semesta
pada itu, aku duduk di beranda hujan turun malu-malu sebuah balon gas berwarna hijau bertuliskan aku cinta padamu melayang di atasku
(2013)