24 November 2011

Solilokui Kebebasan

I

Kebebasan berpendapat, mengungkapkan perasaan, tertuang
di gelas kopi ayah. Diaduk-aduknya pelan, sambil membaca
koran kemarin yang tak sempat dibacanya. Aku kira, kisah pi
ada di dalamnya, seorang pemuda terombang-ambing di atas

sekoci, menatap langit dan laut yang sulit dibedakan. Ia
begitu benci dan bosan, kematian telah jadi lelucon, ditonton
seperti menunggu nomor undian.

Ayah juga melarang kami menyalakan televisi, sebab ini 27 Juli—
pahlawan yang tak dikenal dibawa mati Toto Sudarto Bachtiar.


II

Ketika itu kuturut ayah ke kota, mencari bunga kantan.
Dipotong pada bagian yang lembut, dikelupas kulit yang keras.
O, demi salad ikan jantung pisang, kami mengutuk kemacetan.
Rumput yang terinjak mati, suatu hari akan menuntut balas.

Tapi siapa yang masih peduli kemanusiaan—kemerdekaan telah
tanpa cinta. Jalanan seperti mati, mengaduk-aduk isi dada.
Di sanalah ayah menyimpan gerimis—seekor rubah sedang

menangis kehilangan kekasihnya; seorang gadis bercerita
tentang padang rumput dan seekor burung di seberang jalan.

(2011)

*Puisi ini akan masuk dalam antologi Forum Sarbi

3 komentar:

harga timbangan digital mengatakan...

mantap gan artikelnya hebat euyyy :D

inverter mengatakan...

nice article gan :) menarik sekali untuk dibaca

compression testing machine mengatakan...

iya nih artikelnya mantap nih bagus buat dibaca :DDD


Masukkan Code ini K1-9EF52D-8
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Search Engine Optimization and SEO Tools
Poetry Blogs - BlogCatalog Blog Directory TopOfBlogs Submit url

Search Engine Optimization SEO


View My Stats Arts blogs