Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari September, 2010

Penyakit Gila No. 5 (Jurnal Bogor, 8 Agustus 2010)

Mendadak Lubuk Parau gempar. Sudah lima pemuda terkapar hari ini. Tidak diketahui apa sebabnya. Pastinya, kelima pemuda itu tiba-tiba tertawa terpingkal-pingkal kemudian jatuh tak sadarkan diri. Sampai malam ini, Mbah Darmo, yang memang dukun paling sakti di desa ini, masih menemani mereka berlima dengan kemenyan dan air kembang tujuh rupanya yang tak pernah lupa ia bawa kemanapun ia pergi.

“Jangan-jangan desa kita dikutuk!”

“Tidak, tidak, pasti ada penyakit menular. Pasti!”

“Virus!”

“Virus?”

“Iya, virus. Di mana-mana penyakit menular itu pasti disebabkan oleh virus.”

“Virus apa?”

“Virus baru. Mutasi baru. Aku yakin sekali.”

***

Sakum sudah bosan mendengar ocehan-ocehan semacam itu. Sakum tahu, kalaulah benar virus yang menyerang desa ini, tak mungkin kejadiannya bisa terjadi bebarengan. Terlalu kebetulan untuk sebuah virus bisa membuat kelima pemuda tertawa terpingkal-pingkal dan jatuh tak sadarkan diri secara bersamaan.

Tiga dari lima pemuda itu Sakum kenal. Marjan, Mingin, dan Misran. Sampai…

Sajak-Sajakku di Majalah Civitas

Di Gugur Daun

Perihalku hanya menyapu

daun gugur yang rebah

di basah tanah. Kematian

tidak pernah membutuhkan isak tangis

di pemakaman. Ketika ranting saja

tetap tabah menjadi tempat buah. Tapi

kutilang tak lagi mau menimang

kehilangan,

atau tunas baru?


Rantai Makanan

Sejatinya ulat tahu

Memaknai kerja keras. Sebelum unggas berkaki

Mematuki kematian

Dengan paruhnya yang tempayan. Ke mana tikus

Harus mencari lubang yang menyembunyikan

Cicit ibu? O, anak elang

Cakar-cakarmu adalah doa para

Pemburu, tanah basah

Airmata,

Nyanyian para petani di gabah-gabah

Yang tabah

Sebelum rebah di resah lelaki

Yang menukar keringatnya dengan

Anai-anai.


Kolam

Ada yang merasa bersalah, tiap hijau

lumut menutupi jalan cahaya.

Telur-telur katak menempuh jalan busa

belajar terbang,

lalu buih kehidupan. Di mana waktu, selalu

ada yang bertanya di gerak insang yang tak

mengenal kata berhenti. Segerombolan anak

lelaki, berdiri

mengeluarkan patung air mancur.


Di Taman, 1

Mengapa benalu, tumbuh di batang

sawo. Rumput-rumput jepang menangkap

embun, me…

Sajak=Sajak Pringadi Abdi Surya di Jurnal Bogor 26/9/2010

Pertemuan Terakhir



Terakhir kalinya, kubiarkan kau tersenyum dan

mataku menyimpannya jauh lebih dalam dari retina.

Pemandangan seperti ini tidak akan kulupakan:

sofa-sofa yang penuh, mengelilingi satu meja makan

dan masih menunggu beberapa menu mengisi perut

yang keroncongan. Aku memandangimu yang tak pernah

habis, kecuali umur

melapuk dan bersiap mengukir diri

di nisan batu. Tiba-tiba aku ngungun laiknya

pohon pinang, bukti pendakian panjang

dan jatuh berulang. Burung-burung terbang, keluar

dari sangkar. Tupai melompat, pada akhirnya

jatuh juga. Lamunan itu mengusikku

yang tengah mencoba menautkan rindu

yang terputus

oleh mimpi-mimpi rahasia. Hanya jam dinding,

mengembalikanku kepada kesadaran,

di meja makan itu, di kafe yang sibuk itu,

di segala tatapn matamu yang tak pernah habis,

kecuali pertemuan ini jadi akhir

bagi pelarian panjang

yang entah.





Hujan dalam Komposisi, XX



Dipenuhinya kolam itu, yang tadinya setengah

isi. Hujan masih menangis s…

Pintu Hati

Tidak ada jalan kembali ke hatiku. Ibarat pintu, siapa pun boleh

mengetuknya, membuka dan memasuki ruang-ruang itu.

Kamar gelap dengan nyala lilin yang muram, rak-rak buku berdebu,

dan televisi yang tak pernah dinyalakan.

Aku lelaki yang beramah-tamah pada tamu, menyajikan kue-kue cantik

secantik bola matamu. Segelas Rosela hangat begitu kecut, seperti

halnya kecupanku di bibirmu.

Bulan boleh saja mencuri sejuta ciuman, tetapi tidak ciumanmu---

kucuri ia dengan hati-hati seolah aku pencuri

dan bisa saja merengkuh semesta dalam genggamanku.



Jalan ke hatiku cuma satu arah. Masuk dan keluar. Tetapi tak

ada pintu untuk kembali. Tak ada. Tak ada.

Kebebasan Publikasi, Tantangan Berbahaya

Jurnal Bogor, 19 September 2010
Rubrik: Jendela Halimun

Begitulah ucapan Charles Bukowski-dikutip dari Hot Water Music, 1995-penyair Beat Generation gelombang ke dua, yang terkenal karena vitalitasnya bertahan hidup dan peminum berat di masyarakat pinggiran. Sebelum memulai karirnya sebagai penyair, Bukowski bekerja dalam pekerjaan kasar dan jurnalis di Harlequin. Dia digambarkan oleh Jean Genet dan Jean-Paul Sartre sebagai penyair Amerika terbesar.

Setelah lulus dari Los Angeles High School, Bukowski belajar selama setahun di Los Angeles City College, mengambil kursus jurnalistik dan sastra. Dia meninggalkan rumah pada tahun 1941 – ayahnya telah membaca cerita-ceritanya dan melemparkan barang-barang miliknya ke halaman. Ia pernah bekerja di pom bensin, operator lift, sopir truk, buruh pabrik biskuit, dan di kantor pos. Pada usia tiga puluh lima dia mulai menulis puisi.

Melihat perjalanan hidup Bukowski, agaknya bisa membantah pameo antara aktor dan penyair yang ditulis oleh Boleslawski…

Baris Paling Pedih yang Bisa Kutulis Malam Ini

diterjemahkan Pringadi Abdi Surya
dari "Tonight, I Can Write The Saddest Lines" Pablo Neruda


Malam ini, aku mampu menulis baris paling pedih.

Tulis saja, seperti, “Malam hancur berkeping-keping

Dan gugusan bintang biru merinding di kejauhan.”

Angin malam berpusar di langit dan bernyanyi.



Malam ini, aku mampu menulis baris paling pedih.

Dulu, aku mencintainya, dan kadang-kadang dia juga sama.

Melalui malam-malam seperti malam ini, aku memeluknya erat.

Aku menciumnya lagi dan lagi di langit yang tak bertepi.



Dia mencintaiku kadang-kadang, dan aku mencintainya juga—

Bagaimana bisa seseorang tidak mencintai matanya yang indah?



Malam ini, aku mampu menulis baris paling pedih.

Berpikir bahwa aku sudah tidak memilikinya—kehilangannya.

Mendengar malam yang hampa, jauh lebih hampa tanpa dia.

Dan bait ini jatuh ke jiwaku layaknya embun di padang rumput.



Apa ini menjadi masalah—cintaku yang tak mampu menjaganya.

Dan malam kembali hancur berkeping. Dan dia tak bersamaku.

Sudahlah. Dalam jarak seseorang b…

Cerpen Franz Kafka: Bucket Rider

Penunggang Ember Arang





Seluruh arang telah habis; embernya kosong; sekopnya tidak berguna saat ini; perapian menghembuskan hawa dingin; ruangan dibumbung oleh hawa membeku; pepohonan di luar kaku oleh embun beku; langit bagai perisai keperakan menolak siapa pun yang mengharapkan pertolongan dari sana. Aku harus mendapatkan arang; aku tidak mau membeku hingga ajalku; di belakangku ada perapian yang tidak mengenal kasihan, di hadapanku langit pun tidak mengenal kasihan, alhasil, aku harus berkendara dengan seluruh kecepatan di antara mereka, dan mencari pertolongan dari penjual arang di tengah. Bagaimanapun perasaannya telah menjadi tumpul terhadap permohonan-permohonanku; aku seharusnya membuktikan padanya dengan jelas bahwa aku tidak memiliki sebutir pun debu arang, dan bahwa ia menjadi sangat berarti untukku bagai matahari di cakrawala. Aku mesti datang seperti pengemis muncul di depan pintu dengan gemerincing kematian di tenggorokannya, dan mengakhiri hidupku disana, sehingga juru m…

Malam Lebaran

: sitor situmorang


Bila perlu, kukirimkan malam lebaran ini
ke bulan. Menyusul jejak kaki Armstrong yang
ragu-ragu. Orang-orang boleh saja bersenang-senang,
menyalakan petasan, konvoi keliling kota Palembang
dengan bedug yang ditabuh berulang-ulang.
Andai, memang, tidak ada yang menangis di
sekitaran lampu merah. Kematian
disambut dengan ranggas daun mahoni,
dan hujan boleh saja bersorak, dan mengetuk
pintu hati. Bila perlu, bila perlu,
aku akan lebaran di bulan dan mengibarkan
bendera yang lain sebagai bukti
kepergianku itu.

Ke PIM

Bukan hanya kita, yang abai pada seribu

bulan itu. Jalanan penuh. Kendaraan seperti

mengantri sembako. Toko-toko kehilangan jam

sembilan malam, dan bersepakat tidak tutup

sampai mata menemu embun di pelataran

parkir. Berapa hari saja kita telah mangkir

dari doa malam ramadhan? Sebelum sajak lahir

dan bulan kembali mendekam di atas kuburan?

Selalu begitu, duduk berlima di dalam mobil itu,

aku teringat koran yang kutinggalkan di meja

makan. Dan segelas kopi dingin yang masih,

Sajak-Sajak Sapardi tentang Hujan

Hujan di Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapuskannya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu..



Tajam Hujanmu

Tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
Payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan
deras dinginmu …
sembilu hujanmu …


Gadis Kecil

Ada gadis kecil diseberangkan gerimis
di tangan kanannya bergoyang payung
tangan kirinya mengibaskan tangis
di pinggir padang, ada pohon
dan seekor burung…

Hujan dalam Komposisi, I

“Apakah yang kautangkap dalam suara hujan,
Dari daun-daun bugenvil basah yang teratur
Mengetuk jendela?Apakah yang kau tangkap
Dari bau tanah, dari ricik air
Yang turun di…