Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Juli, 2010

Vagina yang Haus Sperma: Heteronormatifitas dan Falosentrisme dalam Novel Ayu Utami

Vagina yang Haus Sperma:
Heteronormatifitas dan Falosentrisme dalam Novel Ayu Utami

oleh Katrin Bandel


Beberapa waktu yang lalu saya sempat berdebat dengan seorang kawan mengenai karya Ayu Utami. Setelah membaca beberapa tulisan saya yang mengkritik karya itu dan mempertanyakan politik sastra seputarnya, kawan saya tersebut dapat memahami pandangan saya. Tapi meskipun demikian, baginya novel Ayu Utami tetap memiliki sebuah kelebihan: Menurut pengamatannya, novel Saman merupakan karya pertama yang dengan cukup tepat merepresentasikan gaya hidup kelompok masyarakat tertentu, yaitu gaya hidup yang dipilih sebagian perempuan kelas menengah perkotaan di Indonesia (terutama Jakarta). “Memang seperti itulah gaya hidup dan pergaulan sebagian kerabat dan kenalan saya di Jakarta”, jelas kawan saya itu dengan merujuk pada deskripsi kehidupan keempat tokoh perempuan muda dalam novel Saman dan Larung. “Baru dalam novel Ayu Utami saya menemukan representasi realitas yang saya kenal tersebut.”

Mungkin p…

Sajak-Sajak Raudal Tanjung Banua

Di pintu Quan Am Tu Pulau Galang
Tua dan sepi tidak menenggang
Serombongan peziarah bersideku.
Seorang tua gemetar
dan berkisah kepadaku.
Berhari-hari lalu
Kusalin ia kembali
jadi lilin jadi api jadi lapar
yang terus kunyalakan
untuk sampai pada sebagian kecil
inti perih puisi ini—lilin kecil
kesaksian
di bumi:

Di pintu Quan Am Tu, seperti Tuan lihat, selalu

gemetar tubuhku. Terbayang semenanjung jauh
kilatan-kilatan pedang dan bunga api malam-malam
Terkenang bintang-bintang merah nyala
—bukan, merah dadu, mempertaruhkan kelam
untung-malang manusiaku
Terbayang, kapal-kapal ikan, kapal-kapal kayu tua
oleng di mata pusaran: arus topan, badai yang kejam
dan goncang nafas tuhan

Ke mana kami hendak menuju? Lautan luas
tak bertara. Daratan tak dikenal
bagai bintik hitam di luka telapak tangan
mengelupas dan hilang,
seperih harapan yang direnggutkan
seperti garam dibasuh air garam

Di manakah pintu harapan sebuah pulau? Dermaga,
pantai yang landai, atau pengap-hampa
ruang periksa? Kami ingin berlabuh
supaya tenang goncanga…

Sajak-Sajak Bode Riswandi

Sajak-Sajak Bode Riswandi
JURNAL BOGOR (MINGGU, 6 JUNI 2010)
Rubrik: Ruang Sajak


DI BERANDA SAJAKMU

Aku membayangkan tubuhku
Seperti pohon di beranda rumahmu
Daun yang kuning, satu-satu jatuh
Di rumput tanpa merasa terbanting

Di beranda itu dan di pohon yang sama
Aku melukis tubuhku seperti rumputmu
Yang lebat menangkup setiap kejatuhan
Daun dari rantingnya

Seperti itu kiranya usia jatuh
Dan menangkup. Meski tak ada gelagat
Yang perlu didebat, atau silsilah kelahiran
Yang perlu diperbincangkan

Di beranda itu, seperti di beranda sajakmu
Keriangan dan ketakutan tumbuh bergantian:
Menjadi tungku juga kayu bakar bagi segala
Musim yang mengakar.

2010

***


YANG MENCARI TAMASYA

Aku mencarimu ke rak-rak buku
Mencari alamat seseorang yang luput
Dicatat di buku tamu: tapi jelas di puisimu

Ada yang akrab dari sekedar percakapan
Sebuah nama yang diberikan angin, ihwal
Tamu lain dari pintu sajak yang lupa kau
Tutupkan.

Aku mencarimu ke lemari-lemari pakaian
Menata warna risalah dari sekian lipatan
Badan: tapi pengembaraan usai

Seh…

Sajak-sajak Goenawan Muhammad

Perempuan Itu Menggerus Garam

Perempuan itu menggerus garam pada cobek
di sudut dapur yang kekal.
“Aku akan menciptakan harapan,” katanya, “pada batu hitam.”
Asap tidak pernah singkat. Bubungan seperti warna dunia
dalam mimpi Yeremiah

Ia sendiri melamunkan ikan, yang berenang di akuarium,
seperti balon-balon malas yang tak menyadari warnanya,
ungkapannya, di angkasa. “Merekalah yang bermimpi,”
katanya dalam hati.

Tapi ia sendiri bermimpi. Ia memimpikan busut-busut terigu, yang
turun, seperti hujan menggerutu. Di sebuah ladang. Enam
orang berlari seakan ketakutan akan matahari.
“Itu semua anakku,” katanya. “Semua anakku.”

Ia tidak tahu ke mana mereka pergi, karena sejak itu tidak ada
yang pulang. Si bungsu, dari sebuah kota di Rusia, tak pernah
menulis surat. Si sulung hilang. Empat saudara kandungnya
hanya pernah mengirimkan sebuah kalimat,
“Mak, kami hanya pengkhianat.”

Barangkali masih ada seorang gadis, di sajadah yang jauh,
(atau mungkin mimpi itu hanya kembali,)
yang tak mengenalnya. Ia sering berpes…

Sajak-Sajak Leon Agusta

DARI SUATU MASA

“Mungkin, masih ada yang tersisa dari prahara selain
kitab suci dan puisi,” katamu, sembari bergegas pergi
Aku tak begitu sadar, apa pernah mengucapkannya
Gerangan berapa kali atau mungkin tak pernah
Tapi kenapa ada yang mendengar dan mengingatnya
Aku ingin mengatakan, kau mungkin benar
Ketika kau melangkah, meningggalkan pagar terbuka
Aku kira kamu masih akan menoleh sejenak. Kau pun
berangkat, meninggalkan suatu masa yang pincang
Menuju sebuah zaman lain yang belum bernama

KETIKA LANGIT DAN BUMI TAK LAGI TERBAYANGKAN

Apakah aku terlihat siang atau kabut atau debu-debu
Tak tahulah. Sungguh tak lagi terbayangkan
Tapi barangkali ketika itu di suatu senja yang asing
Aku pernah punya wajah buat dikenal. Wajahku
Barangkali ketika itu aku hendak mengenangnya
Sebagai tanda dari perkenalan yang diterima
Sebagai tanda dari percintaan yang selesai buat mencipta
Atau barangkali pernah pula ada perkenalan yang lain
Namun segalanya jadi lupa. Tak lagi terpikirkan. Pula
Bagaimana aku kan tahu sekiranya…

Puisi-Puisi Asep Sambodja untuk Fordisastra

Berhala Obama

jakarta membangun berhala obama
“obama kecil,” kata walikota, dan lucu

berhala ditaruh di tengah kota
“agar jadi inspirasi bagi anak-anak kita,” kata walikota

berhala itu berkata
“the future belongs to those who believe in the power of their dreams.”

dan ron muellers bilang,
“obama sering bermain di sini, dulu
dan sekarang dia jadi pemimpin dunia.”

orang-orang percaya
presiden amerika itu dibaptis jadi pemimpin dunia
seperti mereka percaya pada makanan siap saji
mereka menari dan menyanyi
di depan berhala kecil
semacam menyambut bintang film amerika

di oslo, berhala itu mendapat nobel
tapi oslo harus mengeluarkan 16 juta dolar
untuk mengamankan berhala itu
artinya lebih dari 10 kali lipat
nilai hadiah sebuah nobel perdamaian
keluar dari kocek panitia

mei-britt gundersen, warga oslo
merasa heran dan berpikir
“apakah sedang ada seorang teroris
sehingga perlu pengamanan seketat ini.”

sepulang membawa nobel
obama akan mengirim lebih dari 30.000 pasukan
ke afghanistan

untuk apa?
untuk membunuh manusia?
ini…

Selamat Natal, Mr. Pringadi

Sudah berapa jam ya sinterklas itu belum juga datang. Aku sudah menanti di perapian, di jendela, di depan pintu, atau pintu kecil di gudang belakang. Aku mau tarik janggutnya, palsu nggak ya? Pukul delapan malam masih, orangtuaku berjanji untuk menukarkan bibirnya di pegadaian. Aku ditinggal sendirian. Aku perhatikan sekeliling ruangan. Pohon cemara yang penuh hiasan. Meja makan yang cuma jadi pajangan. Aku lupa kapan terakhir kali kami membiarkan sendok dan garpu saling bertemu. Hari itu piring dan mangkuk dilempar. Mereka lagi-lagi bertengkar. Aku kangen suasana-suasana kebersamaan. Pergi ke bukit kecil, menggelar tikar, dan menghidangkan ikan bakar. Atau ke pantai, melihat ombak dan riak air laut yang asin. Aku baru mengerti hidup ini pun begitu asin. Aku menyalakan televisi kali-kali ada pengeboman lagi. Aku ingin paham sejatinya kehidupan ini ada rasa selain asam dan garam. Tetapi, sinterklas itu belum datang juga. Aku ingin minta padanya sebuah mantra. Biar lampu terus menyala. …

aku akan berhenti mencintaimu di 21 desember 2012

aku akan berhenti mencintaimu di 21 desember 2012
di tagihan listrik yang belum tuntas. di kotak-kotak lampu bekas
di kelokan
di kulit bibirmu yang terkelupas
oleh panas
dan tangisan-tangisan panjang anak laki-laki
kehilangan sepatu, kehilangan
gundu yang hitam dan selalu
menangan;
perihal itu
kubayangkan
dalam sebuah gelas
setengah isi setengah tuntas
dalam sumur yang menyelia umur
lalu lumpur
lum
pur
berisi cinta
yang luap
lalu lesap
di 21 Desember 2012
ketika aku
berhenti
mencintaimu

Berkenalan dengan Tujuh Penyair Belanda

Rudy Kousbroek



Berkenalan dengan Tujuh Penyair Belanda


oleh Asep Sambodja



Festival Puisi Internasional Indonesia 2002 merupakan salah satu peristiwa puisi yang penting di mata dunia. Dalam festival ini, penyair-penyair dari berbagai negara diundang untuk membacakan puisi-puisi mereka dalam bahasa mereka sendiri. Pendengar yang tidak mengerti dan memahami puisi yang dibacakan biasanya diberikan terjemahannya oleh panitia. Penyair-penyair yang diundang dalam acara ini telah melewati suatu proses seleksi yang dilakukan oleh para penyair senior dan mendapatkan honorarium yang sangat pantas. Dalam hal ini, yang menjadi kurator dalam Festival Puisi Internasional Indonesia 2002 adalah Rendra, Remco Campert, Martin Mooij, dan Silke Behl.

Festival ini tidak bisa dipisahkan dari tradisi yang sudah diadakan di Belanda sejak 1970, yakni Poetry International di Rotterdam. Orang yang paling berjasa atas keberlangsungan festival puisi dunia ini adalah Martin Mooij. Ia bekerja pada Dewan Kesenian Rotterd…