Langsung ke konten utama

Puisi Penyair Wanita Jepang

PUISI PENYAIR WANITA JEPANG (1)

Abdul Hadi W. M.




Kazuko Shiraishi

PEMAIN SEPAK BOLA

Dia pemain sepak bola
Setiap hari ditendangnya bola di lapangan
Suatu hari dia tendang cinta
Setinggi-tingginya ke langit
Sejak itu cinta melayang-layang di angkasa
Dan tak pernah lagi turun ke bumi


Kazuo Shinkawa

JANGAN IKAT DAKU

Jangan ikat daku
Dengan sekeranjang makanan
Seperti sebungkus bawang bakung.
Kuminta, jangan ikat daku! Sebab aku telinga padi
Telinga padi berhektar-hektar keemasan di musim gugur
Dan buah dada bumi yang penyayang.

Jangan tempelkan daku
Seperti bangkai serangga di kertas
Seperti kartupos bergambar dari negeri dataran tinggi.
Kuminta, jangan tempelkan daku! Sebab aku lagi menjaring sayap-sayap,
Menjaring sayap-sayap gaib gemetaran
Yang terus bertiup menuju ufuk angkasa raya.

Jangan tuang aku!
Seperti susu ternoda kekesalan sehari-hari
Seperti sake hangat.
Kuminta, jangan tuang aku! Sebab aku adalah lautan
Yang pasang surutnya tak terduga
Yang mengalir tak henti-hentinya setiap malam.

Jangan cap daku
Sebagai anak gadis atau istri belaka.
Jangan biarkan daku terpaku di kursi kebiasaan
Sambil memanggilku ibu, kuminta. Sebab aku angin
Tahuku hanya kemana aku harus bertiup dan terbang
Menemukan pohon apel berbunga, menemukan musim semi.

Jangan pisahkan daku!
Seperti isi surat dengan koma atau titik
Dan sejumlah paragraf yang kalimat-kalimatnya berakhir dengan selamat tinggal!
Jangan bodohi aku, kuminta! Sebab aku
Adalah kalimat tanpa akhir, sebaris puisi
Yang mengalir bagaikan sungai
Dan terus mengalir, tak kunjung henti berhamburan, tak kunjung henti.



Ishigaki Rin

MARI KITA TINGGALKAN RUMAH

Rumah adalah bercak-bercak kudis di muka bumi
Bila anak-anak kita sudah mulai mendidih
Kerjanya hanya mengambil kudis-kudis itu.

Rumah adalah kain brokat emas dan selimut tebal
Bulu-bulu indah menciptakan burung yang indah
Pesta malam hari: kepura-puraan yang buruk.

Rumah adalah jambang-jambang bunga
Kita sirami, kita beri pupuk agar subur
Namun akar-akarnya segera pula merintangi kita.

Rumah adalh batu berat menekan
Sedikit rasa kemanusiaan, jadilah!
H betapa kecut lidahku!

Rumah adalah ruang penuh keharuan
Ke tempat itu setiap orang melarikan diri
Membawa harta rebutan.

Rumah adalah lemari besi terkunci rapat
Tiada yang berdaya
Membukanya dengan paksa.

Rumah adalah kuburan hidup sehari-hari
Namun orang berkata
Rumah bukan tempat istirah penghabisan.

Mereka pun menyayangi rumah
Karena rumah bukan tempat istirah terakhir
Mereka cinta rumah.

Cinta bagaikan kudis
Yang lengket pada kapas pembalut untuk anak-anak
Karena itu mari kota ingkari rumah.

Biar setiap orang berhamburan keluar
Bersin di lapangan luas terbuka
Seraya menolak rumah-rumah sempit mereka
Yang pinti-pintunya sengaja dibiarkan terkunci rapat.



Taeko Tomioka

ANTARA

Ada dua kesedihan layak dibanggakan

Usai nutup pintu kamar di sebelah
Usai nutup pintu
Masuk rumah di sebelah lagi
Dan pergi ke jalan yang kelihatan lengang sebab gerimis
Ketika hari bergegas
Mana jalan yang mesti kutempuh
Apa yang mesti kulakukan
Menghadapi sesuatu yang tak mengandung harapan
Apa aku ini teman atau musuh
Siapa bisa kutanyai
Tentang soal nyata ini
Aku benci perang
Tetapi bukan pula penyinta perdamaian
Upayaku cukup dengan membiarkan mataku selalu terbuka
Hanya inilah kesedihan yang bisa kulakukan

Ada dua kesedihan layak dianggakan
Aku bersamamu
Aku tak memahamimu
Karena itu aku mengerti kau ada
Karena itu aku mengerti aku ada
Sedih karena tak memahami
Sedih karena kau adalah kau seperti adanya kau.

Terjemahan: Abdul Hadi W. M.

Komentar

Kadek Susiadnya mengatakan…
bos kira-kira naskah puisi yang asli dapat ditemukan dimana ya??? terimakasih

Pos populer dari blog ini

70 Kata-Kata Sok Bijak Mereka

1. Marah itu gampang. Tapi marah kepada siapa, dengan kadar kemarahan yang pas, pada saat dan tujuan yang tepat, serta dengan cara yang benar itu yang sulit. (Aristoteles)

2. Kesakitan membuat Anda berpikir. Pikiran membuat Anda bijaksana. Kebijaksanaan membuat kita bisa bertahan dalam hidup. (John Pattrick).

3. Jangan pernah melupakan apa pun yang dikatakan seseorang ketika ia marah, karena akan seperti itu pulalah perlakuannya pada Anda. (Henry Ward Beecher)

4. Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat. (Winston Chuchill)

5. Bakat terbentuk dalam gelombang kesunyian, watak terbentuk dalam riak besar kehidupan. (Goethe)

6. Secara teoritis saya meyakini hidup harus dinikmati, tapi kenyataannya justru sebaliknya – Karena tak semuanya mudah dinikmati. (Charles Lamb)

7. Orang yang menginginkan impiannya menjadi kenyataan, harus menjaga diri agar tidak tertidur. (Richard Wheeler)

8. Bila Anda ing…

Terjemahan Bebas The Road Not Taken By Robert Frost

Jalan yang Tak Ditempuh dua jalan menyimpang di hutan cladrastis kentukeadan sungguh maaf, aku tak bisa menempuh keduanyadan menjadi musafir sendiri, lama aku berdiridan melamun-merenungi sejauh yang aku mampudemi kemana jalan ini berbelok dalam semak-semak;lalu tempuhlah yang lain, biar terasa lebih adil,dan memiliki kemungkinan untuk menjadi lebih baikkarena begitu serut dan kurang terjamahi;meskipun untuk berjalan terus ke sanasedikit mengusangkan pikiran mereka pada persamaanDan keduanya, secara seimbang membaringkan pagimenginjak daun-daun itu, tanpa meninggalkan jejak, oh, aku mengenang yang pertama untuk suatu saat nanti!Dan belum aku tahu, cara jalan menuntun ke kebenaranaku meragukan bahwa yang telah aku tinggalkan akan kembaliAku harusnya mengatakan semua ini dengan lenguhandi suatu tempat, usia demi usia yang berguguran:Dua jalan menyimpang di sebuah hutan, dan aku--aku telah memilih satu, yang sepertinya sunyi,dan di situlah aku telah membuat suatu perbedaan.

Sajak-Sajak Pringadi Abdi Surya di Kompas.com 27 Maret 2011

Daun Jendela

Ia berharap ada yang membukanya setiap pagi
dan seekor burung gereja yang tersesat
bertengger ramah di punggungnya. Engselnya
yang berkarat masih begitu kuat menahan
ketukan-ketukan angin di tiap malam sebelumnya.
Dulu, ada kutilang yang berkandang di dekatnya.
Kutilang yang sering bernyanyi dan belum belajar
cara membuang kotoran. Ternyata, nyanyian
kutilang pun tak sanggup menahan kematian.

Ia tahu, di luar sana, udara semakin berat.
Dan mahahebat Tuhan yang menjinjing matahari.
Sesekali, ia melirik ke dalam kamar, dan
membuang suar lampu yang belum dipadamkan.
Seorang laki-laki tengah mendengkur
dan beradu sakti dengan jam waker.



Ceritanya tentang Jambu Bangkok

Pohon jambu bangkok di pekarangan rumahnya sedang musim-musimnya. Ada yang masih pentil, berwarna hijau tua. Ada juga yang sudah dibungkus kantung kresek, kira-kira seukuran bola tenis. Ia tahu, tiap saat ia harus berjaga dari ulat dan segerombolan anak yang lewat saat pulang sekolah. Ia bersembunyi …