Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Juni, 2010

Koko ni Iru Yo (I'm Here)

Baby Boy watashi wa koko ni iru yo
Doko mo ikazu ni matteru yo
YOU KNOW DAT I LOVE YOU dakara koso
Shinpai shinakuteinda yo
Donna ni tooku ni itemo kawaranai yo kono kokoro
Itai koto wakaru desho?
Anata no koyo matteru yo

Bukyou na ore tooku ni iru kimi tsutaitai kimochi
sono mama iezuni kimi wa ichimatta
Ima ja nokosareta kimi wa arubamu no naka
Denpa de shika aenai hibi dakedo mienaize
Kimi no hohoemi kimi no nukumori kami no kaori
Kono nodo no kawaki wa sonomama mitasarezuni

Sugiteku hibi no naka nandaka kimi no omokage hitasura sagashiteta
Kimi to yoku aruita ano michi wa ima ore dake no ashioto ga hibiteita
Na koto yori omae no houwa genki ka?Chanto meshi kuteru ka?
Chikusho yappa ieneya matta kondo okuru yo ore kara no LETTER

Baby Boy watashi wa koko ni iru yo
Doko mo ikazu ni matteru yo
YOU KNOW DAT I LOVE YOU dakara koso
Shinpai shinakuteinda yo
Donna ni tooku ni itemo kawaranai yo kono kokoro
Itai koto wakaru desho?
Anata no koto matteru yo

Kamakura no sunahama de mita kimi no sugata nami ni nomare…

Teka-Teki tentang Tubuh dan Kematian

Setengah Hati Mencintaimu

Dengan setengah hati engkau keringkan kolam di pekarangan di sebuah taman kecil yang sepi dari bunyi cicit burung itu. Ada sebatang pohon sawo yang diikat janji oleh benalu hingga sebagian rantingnya mati mengorbankan dirinya sebagai tumbal kumbang-kumbang yang mencuri madu bunga sebelum buah. Musim gugur yang lamban, andai pun ada, tetapi buah-buah selalu jatuh ke kolam daripada ditikam kelelawar saat malam. Dengan setengah hati aku menyaksikan kematian ikan-ikan yang kehilangan insang dan anak-anak katak yang masih belajar memiliki kaki harus terenggut oleh engkau yang menjadi malaikat kematian sore hari.

Sejak saat itu, aku mengerti mencintaimu adalah setengah hati sementara setengah hati yang tersisa sudah menjadi ulat sebelum kupu-kupu. Sebelum daun-daun sawo itu runtuh menjadi pupuk, andai pun, tak ada tukang sapu yang menemuinya.








Salah satu contoh puisi di dalam buku ini. Ditulis oleh delapan penyair muda dengan warnanya masing-masing. Berjumlah 82 pui…

Langit Tak Ada Beda

Langit Bintaro tak jauh beda dari pemandangan pohon lamtoro dengan
Daun yang melambai karena rindu pada musim gugur. Ada burung-burung yang
Sesekali lewat, kemudian singgah di tiang listrik. Ada sekumpulan awan
Yang berencana hujan. Ada asap pesawat terbang yang tertinggal manis, meski
Sejenak, namun seperti airmata yang menyesak bagi laki-laki.
Aku berjalan kaki, melihat lantai konblok yang rapi seperti perasaan
Yang tertata seperti buku-buku di laci, tentangmu yang baru saja kutulisi
Kuletakkan paling atas paling bebas jika sesekali aku ingin mengintipmu
Dan membacamu bersama alunan musik klasik, piano concerto,
Rachmaninoff, tiga nada minor yang bikin hati tak ingin berdandan menor.
Seandainya aku sandal, yang dengan sabar menahan berat tubuh
Dan perjalanan, aku bisa saja tak ingin lepas dari setiap langkah
Yang diam-diam kauhitung itu. Tetapi aku takut kehilangan, takut kau
Lepaskan meski dalam sebuah ibadah dengan doa yang teramat panjang,
Di luar dengan gigil malam yang menggeratakkan gigi ge…

Puisi Penyair Wanita Jepang

PUISI PENYAIR WANITA JEPANG (1)

Abdul Hadi W. M.



Kazuko Shiraishi

PEMAIN SEPAK BOLA

Dia pemain sepak bola
Setiap hari ditendangnya bola di lapangan
Suatu hari dia tendang cinta
Setinggi-tingginya ke langit
Sejak itu cinta melayang-layang di angkasa
Dan tak pernah lagi turun ke bumi


Kazuo Shinkawa

JANGAN IKAT DAKU

Jangan ikat daku
Dengan sekeranjang makanan
Seperti sebungkus bawang bakung.
Kuminta, jangan ikat daku! Sebab aku telinga padi
Telinga padi berhektar-hektar keemasan di musim gugur
Dan buah dada bumi yang penyayang.

Jangan tempelkan daku
Seperti bangkai serangga di kertas
Seperti kartupos bergambar dari negeri dataran tinggi.
Kuminta, jangan tempelkan daku! Sebab aku lagi menjaring sayap-sayap,
Menjaring sayap-sayap gaib gemetaran
Yang terus bertiup menuju ufuk angkasa raya.

Jangan tuang aku!
Seperti susu ternoda kekesalan sehari-hari
Seperti sake hangat.
Kuminta, jangan tuang aku! Sebab aku adalah lautan
Yang pasang surutnya tak terduga
Yang mengalir tak henti-hentinya setiap malam.

Jangan cap daku
Sebaga…

Seseorang dengan Agenda di Tubuh (Suara Merdeka, 6 Juni 2010)

[1]
Biasanya, setiap cerita pembunuhan akan dimulai dengan ditemukannya mayat korban. Lalu dimulailah penyelidikan oleh seorang inspektur polisi, meneliti satu per satu misteri sampai ditemukan motif dan bukti-bukti yang mengarahkan kebenaran siapa pelaku pembunuhan. Tetapi, saya tidak akan bercerita dengan metode kuno seperti itu. Saya akan mulai dengan sebuah pengakuan, sayalah yang telah melakukan pembunuhan dengan memukulkan benda keras ke kepala, berkali-kali (saya akan berhenti kalau sudah merasa puas), sampai berdarah-darah dan sang korban sudah tak lagi menghembuskan napas. Kemudian, akan saya tinggalkan sebuah jam dinding di samping mayat korban. Jam dinding yang jarum-jarumnya sudah saya atur sesuai urutan dan waktu pembunuhan.

Ini sudah korban yang kesebelas. Tidak seperti cerita-cerita yang umum terjadi, saya tidak butuh topeng darah yang misteri yang bikin saya jadi gila. Saya juga tidak memiliki kepribadian ganda atau motif biasa seperti untuk melindungi diri, kepentingan…

Sajak Subagio Sastrowardoyo

GENESIS

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo


pembuat boneka
yang jarang bicara
dan yang tinggal agak jauh dari kampung
telah membuat patung
dari lilin
serupa dia sendiri
dengan tubuh, tangan dan kaki dua
ketika dihembusnya napas di ubun
telah menyala api
tidak di kepala
tapi di dada
--aku cinta--kata pembuat boneka
baru itu ia mengeluarkan kata
dan api itu
telah membikin ciptaan itu abadi
ketika habis terbakar lilin,
lihat, api itu terus menyala



HAIKU

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo


malam rebah
di punggung
sepiku
gigir gunung
susut di kaca
hari makin surut
dan bibir habis kata:
dinda, di mana, siapa
tangan terkepal
terhenyak di meja



JENDERAL LU SHUN

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo


Jenderal Lu Shun kewalahan. Ia tidak dapat menyelesaikan puisinya. Ia baru menulis dua dari empat baris pantun Cina, tetapi fantasinya seperti tersekat dalam kata-kata kosong tak berarti.
Maka ia keluar dari tendanya dan memerintahkan perwiranya mengumpulkan bala tentaranya."Kita serang dusun itu di lembah dan bunuh penduduknya."
Perwira itu masih m…

Sajak-sajak Subagio Sastrowardoyo, 3

LAHIR SAJAK

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo

Malam yang hamil oleh benihku
Mencampakkan anak sembilan bulan
Ke lantai bumi. Anak haram tanpa ibu
membawa dosa pertama
di keningnya. Tangisnya akan memberitakan
kelaparan dan rinduku, sakit
dan matiku. Ciumlah tanah
yang menrbitkan derita. Dia
adalah nyawamu.


MANUSIA PERTAMA DI ANGKASA LUAR

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo


Beritakan kepada dunia
Bahwa aku telah sampai pada tepi
Darimana aku tak mungkin lagi kembali.
Aku kini melayang di tengah ruang
Di mana tak berpisah malam dengan siang.
Hanya lautan yang hampa di lingkung cemerlang bintang.
Bumi telah tenggelam dan langit makin jauh mengawang.
Jagat begitu tenang. Tidak lapar
Hanya rindu kepada istri, kepada anak, kepada ibuku di rumah.
Makin jauh, makin kasih hati kepada mereka yang berpisah.
Apa yang kukenang? Masa kanak waktu tidur dekat ibu
Dengan membawa dongeng dalam mimpi tentang bota
Dan raksasa, peri dan bidadari. Aku teringat
Kepada buku cerita yang terlipat dalam lemari.
Aku teringat kepada bunga mawar dari Eli…