Langsung ke konten utama

Surat ke Delapan: Cerpen di Berita Pagi, 9 Mei 2010

Aku tak biasa menulis surat. Tak biasa merangkai kata-kata yang bisa dikategorikan ‘indah’. Tak biasa mengungkapkan pelbagai rasa meski hanya dalam sebuah huruf ‘a’ yang dituangkan dalam lembar kosa, apalagi lebih itu.

Tapi aku pernah menuliskan tujuh buah surat yang sayangnya tak pernah kukirimkan kepada dia yang kutuju. Sebab aku malu. Aku malu jika aku harus menatap matanya yang coklat, merasakan gelegak cinta yang tak bisa kutahan. Aku malu jika aku harus menyodorkan tanganku kepadanya, berharap dia menyambutku, lalu pelan-pelan membaca surat-suratku di hadapanku. Lantas kau pasti bertanya, kenapa aku tak mengirimkannya lewat pos saja? Kautahu, aku laki-laki. Aku lebih malu jika aku menunjukkan ketidakjantananku di hadapannya. Sebab kautahu, laki-laki harusnya berani mengungkapkan perasaannya secara langsung kepada wanita yang dicintainya. Tidak seperti aku.

***

Aku menemukan mereka di tumpukan laci paling bawah lemariku. Tidak kulipat. Karena aku tak mau surat-suratku menjadi pucat dengan bekas-bekas lipatan, seperti kerut pada wajahku yang mulai menua. Kulihat sekilas, melahirkan senyuman. Dan seolah kerinduan, aku menyengajakan duduk di pinggir jendela dengan matahari senja, membaca mereka, satu per satu …

/1/
: zane,

Aku cuma perlu melipat rindu. Lalu kusembunyikan di bawah bantalku. Sebab malam ini aku sangat ingin memimpikanmu.

/2/
: zane,

Tidakkah kau ingat malam itu, saat kita berdua menuliskan berbait mimpi di atas kertas putih? Lalu melipatnya hati-hati menjadi sebuah pesawat mini yang kita terbangkan ke langit tinggi?

Dan tidakkah kau ingat, di malam hari ke empat belas bulan berikutnya, aku membawakan sepotong bulan ke rumahmu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Lalu kuletakkan tepat di pangkuanmu. Agar kau tahu, betapa besar pengorbananku untukmu.

/3/
: zane,

Akhirnya telah selesai kubuat, sebuah perahu yang cukup untuk kita naiki berdua, mengarungi samudera kehidupan. Sudah kusiapkan pula dua kail untuk kita memancing ikan, menjadi bekal agar tak sampai kelaparan.

Tenang, perahu ini takkan mudah oleng. Takkan mudah goyah terkena terpaan ombak kehidupan. Sebab aku sudah cukup lama belajar mendayung, mengenali ombak dan menjinakkannya. Kau tak percaya?

/4/
: zane,

Rumah baru kita cuma beralaskan lantai semen, bukan keramik. Maka kau tak boleh berbaring di sana, tak baik untuk kesehatan. Tidak pula ada langit-langit. Hanya genting tua pemberian tetangga saat perkawinan kita. Dengan begitu kita bisa mendengar senandung hujan katanya.

Tapi sudah kusiapkan sebuah kasur untuk kita berdua meski cuma kasur kapuk tua yang kubeli dengan harga murah. Tanpa dipan. Tanpa bantal. Tanpa guling. Pun tanpa selimut. Sebab kau sudah punya aku, yang menjadi semua itu.

/5/
: zane,

Kita belum punya kendaraan. Tapi bukan berarti kita tak bisa berjalan-jalan. Tenang saja, kita tetap bisa menjejak bebasah rerumputan di akhir pekan. Kita juga tetap bisa makan ayam goreng di warung sebelah restoran. Atau sekali-kali kita bisa pergi menikmati belantara hutan, menikmati kealamian.

Terserah. Asal jangan kau ajak aku pergi melihat bulan.


/6/
: zane,

Aku bukan Sukab yang mampu memotong senja seukuran kartu pos. Aku bukan Sapardi yang bisa menyampaikan cintanya kepada angin, kepada awan, kepada setiap unsur kehidupan. Sebab aku hanyalah suamimu, pegawai negeri biasa yang terbiasa menghitung angka-angka. Mengeja tiap bait logika.

Aku ingin menyatakan rindu, tapi tak bisa. Aku ingin menikmati bulan madu, juga tak bisa. Maaf, aku sudah harus bertugas ke luar kota. Meninggalkanmu di sana, sendirian. Meski belum genap dua bulan kita bermesraaan.


/7/
: zane,

Kau sudah minta mangga muda meski baru dua bulan kita bergenggaman tangan. Menyatukan badan. Menyatukan kehangatan. Padahal sekarang sedang tak musim mangga. Cuma ada duku, durian, dan rambutan yang bahkan sampai diobral di pasaran. Tapi kau tetap terus merengek minta mangga muda. Sampai kadang-kadang mengancam takkan mau makan nasi, tak mau mandi, dan tak mau tidur denganku lagi.

Aku ke Karawang. Ke Bekasi. Katanya tak ada mangga di sini. Aku terus ke Indramayu hingga Ajibarang yang pusatnya pisang. Tetap saja tak ada. Sampai-sampai aku kehabisan uang tak bisa pulang.


Aku ingin membuatmu bangga. Aku akan melakukan apa saja asal membuatmu bahagia. Makanya aku rela berjalan menyusuri rel kereta api sembari mencuri pandang ke halaman rumah-rumah yang berjajar rapi di sebelah kiri dan kanan. Tapi tetap ada tak mangga muda. Jangankan itu, pohon mangga pun tak ada!

Maka aku pulang dengan wajah tertunduk. Kecewa.

Tapi tiba-tiba, saat aku sampai di depan rumah, kau menyambutku dengan pelukan. Tak peduli dengan bau badan yang sudah menyengat. Sebab berhari-hari aku tak mandi. Kecuali dengan keringat.

(dan kulihat di atas meja ada sepiring mangga muda, entah dari siapa)

***

Tidak ada surat ke delapan. Hanya tujuh. Dan cukup tujuh. Meski tujuh pun, sudah cukup bisa membuatku berairmata. Sebab satu per satunya adalah kenangan, dan juga perjalanan. Sebab segalanya adalah kerinduanku untuknya, yang kini sudah tak ada. Sebab … ah, aku tak tahu.
Di dinding, tepat di atas ranjang kami itu, terpasang sebuah pigura dengan dua buah senyum yang terlalu manis untuk kukenang. Aku masih menatapnya sejenak. Menatap wajahnya yang sudah tak bisa kulihat lagi.

Dan aku menangis, untuk kesekian kali.

Pelan-pelan aku turunkan pigura itu. Kupandangi sekali lagi. Sudah saatnya aku menyimpan kerinduan, menetralisir kesedihan. Tapi seperti ada yang janggal di sana. Seperti kertas, menyumbul menunjukkan dirinya. Dan memang kertas yang terlipat rapid an tampak sengaja diselipkan. Pelan-pelan kubuka. Lalu kubaca.

Kepada suamiku yang tersayang,
Apa aku masih hidup saat kau menemukan tulisan tanganku ini?
Kurasa tidak. Sebab tak mungkin kau punya waktu untuk mengurusi hal-hal kecil di rumah ini. Apalagi menatap kenangan kita. Kecuali ketika kau ingin membenahi rumah ini, untuk melenyapkan kerinduanmu akanku yang sudah tak bisa kaulihat lagi.

Suamiku, aku benar-benar sudah mati, ya?
Baiklah. Tidak apa-apa. Kau jangan menangis ya di sana. Sudah, ubah sifatmu yang sangat mudah khawatir itu. Laki-laki harus tegar. Meski kuakui, sebab itulah aku tak pernah menceritakan penyakitku ini kepadamu. Aku takut konsentrasimu akan terganggu karenaku…


Suamiku…
Aku ingin menceritakan sebuah rahasia. Kautahu? Aku sudah membaca ketujuh suratmu. Diam-diam.
Kau tidak marah kan?

Surat pertamamu menceritakan rindu.
Apa kau menuliskannya saat kita masih berpacaran?
Sepertinya iya.
Katamu kau menyembunyikan rindu itu di bawah bantal. Tapi kautahu, aku menemukan rindu itu. Lalu kusembunyikan di tempat lain. Sebab aku tak mau muncul di dalam tidurmu. Aku lebih ingin kau datang padaku, dan mengatakan rindu dengan gambling kepadaku. Meski tidak mungkin seperti itu …

Surat keduamu membuatku tersentuh. Aku tentu saja ingat hari itu. Saat itu, kau malu-malu memasangkan cincin di jariku, mengatakan cinta untuk pertama kalinya di depanku. Padahal sudah tiga bulan kita berpacaran. Tapi baru sekali itu kau mengatakan cinta. Kautahu, aku benar-benar bahagia. Apalagi saat kau memeluk dan menciumku dengan hangat.
Dan tentang bulan. Aku masih terus menyimpannya. Pun sampai aku menuliskan surat ini. Masih kusimpan di ruang hatiku yang gelap. Tapi karena kau sudah membaca surat ini, kau harus mengambil bulan itu kembali (kuletakkan di lampiran paling kiri).

Suamiku…
Apa kau ingat apa syarat mutlak wanita yang kauterima jadi istrimu?
Kau bilang saat itu, bahwa wanita itu harus mau dan bisa hidup susah denganmu. Maka aku menerimanya. Sebab aku sudah terbiasa hidup di lingkungan yang biasa-biasa saja. Maka aku, menikmati rumah tua kita yang tanpa atap, kasur tua tanpa dipan, dan jalan-jalan kita di tiap akhir pekan(meski tak berkendaraan). Asalkan ada kau, aku sudah sangat bahagia.
Sebab kautahu, aku sangat mencintaimu…

Tentang Sukab:
Ah kau memang sangat menguminya, ya? Sampai-sampai kau mengutipnya dalam suratmu untukku. Tapi tak apalah. Aku juga suka pada Sukab. Tentu tidak sebesar rasa sukaku padamu. Sebab kau lebih itu. Kau telah membawa bulan ke pangkuanku.

Suamiku…
Aku tertawa membaca surat ke tujuhmu. Maaf… hari itu aku sangat kesal sekali. Dan kau malah pergi berhari-hari mencari mangga muda. Dan pulangnya kau kubuat cemburu dengan tidak menceritakan darimana mangga di atas meja itu. Baiklah kuberitahu, mangga itu dari tetangga kita. Dia punya pohon mangga di belakang rumahnya. Kau pasti tak tahu kan? Makanya kubilang, lebih peduli lah dengan lingkunganmu. Kenali mereka. Jangan hanya diam saja di rumah dengan alasan capek sehabis bekerja. Ya?
Tapi aku bahagia. Sangat bahagia. Karena ternyata kau masih rela berkorban untukku.


Suamiku...
Aku tidak menangis saat menulis surat ini. Makanya, kau juga jangan menangis saat membacanya.

Hah, aku sudah mati, ya?
Dan maaf, kalau janin ini juga ikut mati…

Suamiku…
Maaf kalau tulisanku berantakan. Dan terlalu banyak aku berbicara.
Jaga dirimu baik-baik.

(Bukankah aku sudah menepati sebuah janji?Untuk mencintaimu sampai aku mati?)

Istrimu, Zane, yang mencintaimu…


Maka aku menangis. Benar-benar menangis. Tetes-tetes airmata membasahi kertas itu sebelum kulipat seperti sedia kala. Lalu kusatukan dengan tujuh surat lainnya. Kukembalikan ke tempat semula. Di bilik rahasia, tempat persembunyian cinta.

Komentar

Pos populer dari blog ini

70 Kata-Kata Sok Bijak Mereka

1. Marah itu gampang. Tapi marah kepada siapa, dengan kadar kemarahan yang pas, pada saat dan tujuan yang tepat, serta dengan cara yang benar itu yang sulit. (Aristoteles)

2. Kesakitan membuat Anda berpikir. Pikiran membuat Anda bijaksana. Kebijaksanaan membuat kita bisa bertahan dalam hidup. (John Pattrick).

3. Jangan pernah melupakan apa pun yang dikatakan seseorang ketika ia marah, karena akan seperti itu pulalah perlakuannya pada Anda. (Henry Ward Beecher)

4. Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat. (Winston Chuchill)

5. Bakat terbentuk dalam gelombang kesunyian, watak terbentuk dalam riak besar kehidupan. (Goethe)

6. Secara teoritis saya meyakini hidup harus dinikmati, tapi kenyataannya justru sebaliknya – Karena tak semuanya mudah dinikmati. (Charles Lamb)

7. Orang yang menginginkan impiannya menjadi kenyataan, harus menjaga diri agar tidak tertidur. (Richard Wheeler)

8. Bila Anda ing…

Terjemahan Bebas The Road Not Taken By Robert Frost

Jalan yang Tak Ditempuh dua jalan menyimpang di hutan cladrastis kentukeadan sungguh maaf, aku tak bisa menempuh keduanyadan menjadi musafir sendiri, lama aku berdiridan melamun-merenungi sejauh yang aku mampudemi kemana jalan ini berbelok dalam semak-semak;lalu tempuhlah yang lain, biar terasa lebih adil,dan memiliki kemungkinan untuk menjadi lebih baikkarena begitu serut dan kurang terjamahi;meskipun untuk berjalan terus ke sanasedikit mengusangkan pikiran mereka pada persamaanDan keduanya, secara seimbang membaringkan pagimenginjak daun-daun itu, tanpa meninggalkan jejak, oh, aku mengenang yang pertama untuk suatu saat nanti!Dan belum aku tahu, cara jalan menuntun ke kebenaranaku meragukan bahwa yang telah aku tinggalkan akan kembaliAku harusnya mengatakan semua ini dengan lenguhandi suatu tempat, usia demi usia yang berguguran:Dua jalan menyimpang di sebuah hutan, dan aku--aku telah memilih satu, yang sepertinya sunyi,dan di situlah aku telah membuat suatu perbedaan.

Sajak-Sajak Pringadi Abdi Surya di Kompas.com 27 Maret 2011

Daun Jendela

Ia berharap ada yang membukanya setiap pagi
dan seekor burung gereja yang tersesat
bertengger ramah di punggungnya. Engselnya
yang berkarat masih begitu kuat menahan
ketukan-ketukan angin di tiap malam sebelumnya.
Dulu, ada kutilang yang berkandang di dekatnya.
Kutilang yang sering bernyanyi dan belum belajar
cara membuang kotoran. Ternyata, nyanyian
kutilang pun tak sanggup menahan kematian.

Ia tahu, di luar sana, udara semakin berat.
Dan mahahebat Tuhan yang menjinjing matahari.
Sesekali, ia melirik ke dalam kamar, dan
membuang suar lampu yang belum dipadamkan.
Seorang laki-laki tengah mendengkur
dan beradu sakti dengan jam waker.



Ceritanya tentang Jambu Bangkok

Pohon jambu bangkok di pekarangan rumahnya sedang musim-musimnya. Ada yang masih pentil, berwarna hijau tua. Ada juga yang sudah dibungkus kantung kresek, kira-kira seukuran bola tenis. Ia tahu, tiap saat ia harus berjaga dari ulat dan segerombolan anak yang lewat saat pulang sekolah. Ia bersembunyi …