Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Mei, 2010

Keputusan Dewan Juri Lomba Puisi Ibu

PEMENANG



M Aan Mansyur
Mencatat Ibu Buat Ayah

1.
jika dia dengar buah-buah mangga
di belakang rumah berjatuhan.
dia selalu bertanya kepada engkau

“apakah mereka sudah matang
atau tak betah bertahan di dahan?”

tapi tubuhmu sudah bertahun-tahun
memilih diam dalam selembar foto,
tubuhmu yang tak punya bayangan.
sebab tubuhmu yang hidup pergi
menjelajah tempat-tempat tanpa alamat.

tetapi dia tetap tersenyum dan yakin
engkau semakin jauh masuk ke dalam
jiwanya yang dipenuhi mata air.

dia tabah seperti perigi.



2.

dia akhirnya membeli telepon genggam
meskipun tidak tahu berapa nomormu

dari balik kamar selalu aku dengar
dia meminta kepadamu dengan
bibir gemetar

“suamiku, dekatkan sedikit bibirmu
ke telepon. lebih dekat. lebih dekat...”

3.

aku pikir di bulan-bulan ini hujan
semata air yang bergerak vertikal
ke bawah dan ke atas bergantian

mengubah halaman dan jalan-jalan
menjadi laut yang compang-camping
tidak ada pelayaran mampu sampai

tetapi dia tidak pernah berpaling
dari keyakinannya tentang hujan:
cahaya basah, matany…

Pemberontakan Sunyi di Sastra Reboan

“Paguyuban Sastra Rabu Malam yang menyelenggarakan kegiatan Sastra Reboan bagi saya memiliki keunikan tersendiri. Paguyuban ini tidak berpretensi untuk menciptakan suatu jender tertentu yang dikendalikan oleh tokoh tertentu, dan ini menjadi sesuatu yang positif karena sebagai paguyuban terbuka terhadap berbagai kemungkinan bahkan terbuka untuk berbagai kalangan.”

“Saya kira sulit menemukan komunitas yang cair dan terbuka seperti ini,” ujar Joko Pinurbo, penyair ternama yang karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing, dalam bincang seputar komunitas di Sastra Reboan ke-26, Rabu (26/5/2010) malam di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan, Jakarta Selatan. Bincang tentang komunias sastra yang dipandu oleh Akmal Nasery Basral, cerpenis yang juga wartawan, juga menghadirkan penyair Heru Emka, cerpenis Kurnia Effendi, musisi yang juga penyair Remmy Soetansyah dan penyair Aan Mansyur dari Makassar.

Jokpin, panggilan Joko Pinurbo, sendiri tak pernah masuk suatu komunitas. Tet…

Resital Kupu-Kupu (Cerpen di Harian Global, 15 Mei 2010)

Saturday, 15 May 2010 04:59
Cerpen Pringadi Abdi Surya

http://www.harian-global.com/index.php?option=com_content&view=article&id=37096:resital-kupu-kupu&catid=45:kalam&Itemid=69

Ada tiga hal yang tak pernah ingin aku lakukan dalam hidupku. Yang pertama, tentu saja, aku tak mau memakai dasi kupu-kupu.


"Kau harus memakai dasi kupu-kupu, Nak!"


"Mengapa?"


"Pokoknya harus!"


"Tetapi aku takut kupu-kupu…"


"Ini dasi. Bukan kupu-kupu."


"Tetapi tetap saja dasi kupu-kupu kan?"

***


Semua teman memanggilku lelaki yang takut kupu-kupu. Entah sejak kapan cerita ini dimulai, tetapi sejak kulihat sahabatku meninggal dalam kecelakaan yang kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, aku jadi dendam---bukan takut---pada kupu-kupu.


Hari itu, sebelum ia meninggal, dia memakai dasi kupu-kupu. Dan diam-diam ia membawa seekor kupu-kupu ke dalam kelas untuk ditunjukkannya kepadaku.


"Bagaimana kupu-kupu ini, cantik bukan?"


"…

Surat ke Delapan: Cerpen di Berita Pagi, 9 Mei 2010

Aku tak biasa menulis surat. Tak biasa merangkai kata-kata yang bisa dikategorikan ‘indah’. Tak biasa mengungkapkan pelbagai rasa meski hanya dalam sebuah huruf ‘a’ yang dituangkan dalam lembar kosa, apalagi lebih itu.

Tapi aku pernah menuliskan tujuh buah surat yang sayangnya tak pernah kukirimkan kepada dia yang kutuju. Sebab aku malu. Aku malu jika aku harus menatap matanya yang coklat, merasakan gelegak cinta yang tak bisa kutahan. Aku malu jika aku harus menyodorkan tanganku kepadanya, berharap dia menyambutku, lalu pelan-pelan membaca surat-suratku di hadapanku. Lantas kau pasti bertanya, kenapa aku tak mengirimkannya lewat pos saja? Kautahu, aku laki-laki. Aku lebih malu jika aku menunjukkan ketidakjantananku di hadapannya. Sebab kautahu, laki-laki harusnya berani mengungkapkan perasaannya secara langsung kepada wanita yang dicintainya. Tidak seperti aku.

***

Aku menemukan mereka di tumpukan laci paling bawah lemariku. Tidak kulipat. Karena aku tak mau surat-suratku menjadi puc…

Daftar Email Koran

1. ahda05@yahoo.com [Ahda Imran, Pikiran Rakyat, Bandung]
2. rajabatak@yahoo.com [Idris Pasaribu, Analisa, Medan]
3. tamba@jurnas.com [Arie MP Tamba, Jurnas, Jakarta]
4. ariemetro@yahoo.com [Arief Santoso, Jawa Pos, Surabaya]
5. redaksi@batampos.co.id [Hasan Aspahani, Batam Pos, Batam]
6. donyph@jurnas.com [Dony PH, Jurnal Bogor, Bogor]
7. tejapurnama@yahoo.com [Teja Purnama, Global, Medan]
8. redaksilampost@yahoo.com [Lampung Pos, Lampung]
9. koran@tempo.co.id [Nirwan Dewanto, Koran Tempo, Jakarta]
10. budaya_ripos@yahoo.com [Riau Pos, Riau]
11. aliredov@yahoo.com [Ali Ridho, Republika, Jakarta]
12. sihar_ramze@yahoo.com [Sihar Ramses S, Sinar Harapan, Jakarta]
13. amiherman@yahoo.com [Ami Herman, Suara Karya, Jakarta]
14. triwikromo@yahoo.com [Triyanto T, Suara Merdeka, Semarang]
15. post_azh@yahoo.co.id [Azhari, Sumatra Ekspres, Palembang]
16. yusrizal_kw@yahoo.com [Yusrizal KW, Padang Ekspres, Padang]
17. opini@kompas.co.id [Bre Redana, Kompas, Jakarta]
18. alimdjalil@ymail.com [Nur Alim Djalil, F…

Mengapa Ayam Menyeberang Jalan?

Ketika orang-orang terkenal ini ditanyai pendapat mereka "mengapa ayam menyeberang jalan???", mereka menjawab:

Aristoteles:
Karena itu adalah sifat alami mereka...

Sigmund Freud:
Rasa penasaran Anda tentang "mengapa ayam menyeberang jalan???" adalah bukti bahwa Anda mengalami disorientasi seksual yang berlebihan terhadap ayam tersebut...

Albert Einstein:
Apakah ayam itu yang bergerak menyeberangi jalan atau jalan itu yang bergerak di bawah ayam yang diam??? Itu semua tergantung pandangan Anda...

Johann Cruijff:
Itu logis...

Martin Luther King Jr.:
Aku memiliki impian tentang sebuah dunia di mana ayam-ayam dapat menyeberang jalan sesuka hati tanpa harus dipertanyakan kenapa...

George W. Bush:
Ini bukan masalah ayam-ayam itu menyeberang jalan atau apa! Ini masalah apakah ayam itu ada di pihak kami atau tidak! Tidak ada pihak netral di sini!

Roy Marten:
Namanya juga ayam... Pasti bisa khilaf... (sambil sesenggukan)

Ahmad Dhani:
Selama ayam-ayam itu mendukung suami berpoligami, ya kay…

Sedikit Saja, Kubiarkan Kau Mengerti

Kubiarkan kau mengerti, hujan
di bulan Juni
tidak lebih tabah
dari aku

dan musim yang gugur, akar yang
berpilin, cinta yang marah, atau bunga kecil
dari geneva,
sesungguhnya akan tersia-sia
dari teriakan kecil, "Avante, Avante, aku
memujaMu! aku
merindui
Mu
lebih
dari malam-malam
di Kartika Plaza!"

Sedikit saja, kubiarkan
kau
mengerti
kalau aku tak akan
menyunting bulan sabit
ketimbang lesung pipit dan
betapa sipit matamu yang
mengutukku jadi Melayu!

Drama Sekian Babak

Babak pertama seperti halnya KTTA, adalah pendahuluan sebenarnya
Dada yang lapang memulai latar belakang sebelum aku menemukan
Keheningan di matamu yang lalang---mata dari para pialang yang menanti
Angka-angka bergerak naik lewat tangga di balik bilik jantung.

Ada yang degup, seolah ketukan kecil di pintu hati, Aku berteriak, memanggil
Namamu yang lampu, lilin malam minggu. Lalu melayang jadi kembang api
Menyambut tahun baru. Tetapi tahun-tahun terlihat sama bagi aku, selalu
Hanya kau yang seperti sedang menangis, di balik tawamu yang liris.

Aku tidak sanggup, masuk ke babak lain yang menunggu---intipan penonton
Lewat dasi kupu-kupu maupun sorotan lampu. Aku cahaya tiba-tiba saja sudah
Redup. Aku lebih tak sanggup ketika matamu takjub pada dada lelaki
Yang berisi lonceng tua, menandai waktu yang terlupa.

Setelah sekian babak, semua rangkaian drama ini masih tidak tertebak.
Entah suatu hari, aku akan memasang konde di wangi rambutmu yang semerbak.

Memasang Bubu

Memasang bubu di seberang ulu, aku tak kunjung
mendapatkan ibu. Aku tebar jaring di sepanjang sungai komering,
ibu selalu lolos lewat celah sempit seolah pikiran yang tak pernah paham
ibu telah berada dalam makam. Inikah yang kau sebutkan di
makan siang dengan pindang patin terlezat itu, bu? Rasa asam yang
selalu mewakili kebenaran. Dan asin laut yang selalu menggurkan kekalutan,
menjernihkan kekeliruan. Aku di atas perahu, mendayung kehidupanku
sendiri. Kesepian yang sama di tepi-tepi sungai, ibu-ibu yang mencuci
baju dengan getir yang tergurat jelas di wajah. Remaja yang menggosok
gigi dan laki-laki yang tengah menunaikan hajat seperti menunggu
kapan kematian yang jelas ditakdirkan akan merenggut semua
kesepian itu? Tetapi aku yang terlalu riang seolah anak-anak yang
berjumpalitan melompat ke keruh sungai tanpa pernah peduli
bahwa sekitaran limbah terdapat banyak bakteri e-coli. Bahwa segala umur
bisa terhisap oleh lamur mata yang tak pernah memberi kepuasan;
Memasang bubu di seberang ulu, aku seb…

Saranghaji Marayo

Memelukku sepuluh menit saja, ada kau dengar detak yang mengganggu? Aku
dapat menangis dan tertawa. Aku bisa marah dan memecahkan apa saja: keramik
cina, vas bunga, meja kaca, cermin yang tak pernah memantulkan wajahku apa
adanya. Aku begitu keras dan sulit untuk kau kendalikan. Tetapi, tidak apa-apa kan?
Aku tidak ragu berlari menujumu saat aku rindu. Aku tidak malu mengingat segala
hal kecil yang mengulang tahun kebersamaan. Aku selalu telat dan tidak pernah
tepat waktu. Aku makan cepat dan tidak mengucapkan doa. Aku tidak malu
mengatakan aku ingin mengecup keningmu di tengah keramaian. Selalu
begitu, apa dengan begini kau akan terus mengingatku dan tersenyum dengan
sempurna sebagaimana biasanya?
Di dunia ini, hanya ada seseorang yang mampu melakukan semua itu:
aku
seseorang yang mencintaimu yang kedua tangan ini jadi payung
saat hujan. jadi sarung tangan saat kau kedinginan. jadi selimut saat malam
mulai meredamkan kemarahan. bagaimana, bulan saja tertutup awan
aku tidak pernah men…

Sajak Cinta di Umur Dua Dua

: wanita D, sekali lagi

Aku akan menantimu di Matraman, di rak buku
sastra. Puisi, judul Alusi ---
sebab di
sana
ada aku yang berteriak-teriak
memanggil masa kecil,
bermain gerobak sodor
atau layang-layang
dan aku benang
yang tiba-tiba putus

ke mana saja kau beterbangan,
selama pertengkaran sengit
antara aku
dan langit
menyalakan api
membakar mata-matamu
yang sipit

Aku akan menantimu di Matraman, seperti tantangan
yang kau antar dengan mesra
dengan mata penuh cahaya
berkilat-kilat
seperti pedang para malaikat

o, gabriel kah engkau
merelakan kematian di tenggorokan?

dadaku sesak, Kekasih
membayangkan engkau bersembunyi
di toilet
seperti walet-walet di kabel listrik
saat malam
menyembunyikan keengganan
di matanya yang pualam

menangiskah engkau, Kekasih
menangiskah
me
na
ngis
Kah
?

aku puisi menggubah sajak ini
untukmu yang merindukan Matraman
dari sorotan pura-pura

o, aku akan menunggumu di Matraman
sekali lagi
sampai seumpama buku-buku
masuk ke saku

lalu pecah
jadi namaku

namaku.
nama

Sastra Tutur di Sumatera Selatan

Sastra tutur di Sumatera Selatan diekspresikan dalam berbagai bentuk dengan nama khusus sesuai dengan tradisi daerah masing masing. Ada bermacam-macam sastra tutur di Sumatera Selatan antara lain Njang Panjang dan Bujang Jelihim yang berkembang di daerah Ogan Komering Ulu, Jelihiman di Ogan Ilir, Senjang di Musi Banyuasin, terdapat Geguritan, Betadur, dan Tangis Ayam yang berkembang di Lahat, Nyanyian Panjang dan Bujang Jemaran terdapat di Ogan Komering Ilir. Meskipun memiliki nama-nama yang berbeda, pada dasarnya tradisi sastra tutur merupakan satu kesatuan yang berakar dari nenek moyang masyarakat Sumatera Selatan.

.

Setelah Semua Selesai

Setelah semua ini selesai, aku akan menggelar tikar, menghidangkan beberapa
menu dari rasa yang keluar lewat air mata. Tetapi, hal-hal berbau asin seringkali
membuatmu menutup hidung, seperti menjauhkan lalat-lalat dengan tudung,
sambil menyanyikan sebuah kidung. Di atas nampan, aku bingung harus
menyediakan gula semanis apa yang bisa melukiskan pemandangan itu
tentang gadis yang memanjangkan rambut, merindui tanah-tanah gambut. Aku
teringat pada pohon plum yang mekar bunganya, ungu, dan merah jambu,
tidakkah itu adalah masa ketika musim salju? Tetapi tak pernah
ada butir yang sama yang membuat kita mengenakan mantel,
menyaksikan gazelle muda tengah memaknai embun di rumput-rumput kota.

O, rapunzel kah dirimu, terkurung di menara sambil beraharap burung-burung kembali?

Setelah semua ini selesai, aku akan belajar caranya memulai.
Selalu ada hati yang terkulai, lalu mati.