Langsung ke konten utama

Aku Tak Hingga, I

1

Mereka bilang, pengalaman pertama naik pesawat itu sama saja dengan pengalaman pertama punya jerawat. Kau akan sering melongok ke jendela, melihat gumpalan awan raksasa seperti sesekali kau menengok wajahmu di cermin, khawatir kalau-kalau jerawat itu makin merah dan besar seperti bisul-bisul. Tentu saja aku tertawa dengan analogi yang lucu itu, sedikit membuang kekhawatiranku.

Baru pertama aku menginjakkan kakiku memasuki kabin, pramugari itu menyambutku dengan ramah. Ia sangat cantik, tak jauh beda dengan Aura Kasih yang seksi sekali. Badannya tinggi, kira-kira lebih pendek 2-5 cm dari aku. Dua bemper yang memang menjadi keistimewaan wanita, depan dan belakang, ia miliki dengan sempurna. Terang saja, mataku sempat mampir beberapa detik pada keduanya. Aku membalas senyumnya, dan dengan konyolnya aku katakan kepadanya, “Ehmm, aku baru pertama kali ini naik pesawat. Pesawat ini tidak akan jatuh, kan?”

Kursi 8F. Tepat dekat jendela. Sengaja aku bilang saat check in tadi, agar aku diberi kursi yang dekat jendela. Aku benar-benar ingin tahu bagaimana rasanya berada di ketinggian entah berapa ribu meter dari tanah. Sebenarnya aku sendiri takut ketinggian. Ketika kecil, aku tak pernah memanjat pohon ke dahan yang paling tinggi. Aku berhenti di tengah-tengah, hanya sekitar tiga sampai lima meter dari tanah. Selebihnya, aku akan berpikir panjang. Kakiku kadang turut gemetaran. Apalagi tiap kali aku melihat ke bawah, pandanganku pun akan berkunang-kunang. Teman-temanku yang lain dengan santainya tertawa-tawa di atas sana, berpindah dari dahan ke dahan. Sementara aku hanya diam menyaksikan. Karena itulah, aku yang dua puluh tujuh tahun ini, baru pertama kali ini naik pesawat. Itu pun karena mendesak. Dan didesak. Kalau bukan karena sahabatku yang akan menikah, tentu sekarang ini aku tidak akan memberanikan diri untuk menaiki pesawat ini.

Namaku Rangga. Tidak ada kepanjangannya. Dengan nama yang cuma satu kata ini, aku akan sulit membuat paspor. Toh, aku tidak akan kemana-mana. Tidak mau terlalu sering naik pesawat. Sebab pesawat di Indonesia ini suka sekali berkhianat dengan menjatuhkan dirinya ke darat.

Pukul 09.00. Seharusnya pesawat ini sudah lepas landas ke udara. Terbang seperti burung-burung yang membentuk formasi V. Sayap pesawat ini pun didesain mengikuti formasi itu dengan tujuan untuk mengurangi efek tekanan angin.

Beberapa kursi masih kosong, termasuk di sebelahku. Tetapi beberapa detik kemudian, seorang wanita dengan nafas terengah, duduk di kursi 8E yang memang tepat di sebelahku. Ia, dengan tergesa pula, memasukkan tas ranselnya ke bagasi atas sebelum duduk di sampingku. Muncul pikiran iseng, mungkin saja ada bom atau pistol di dalam tas hitamnya itu. Kemudian di tengah perjalanan, ia akan mulai beraksi membajak pesawat ini dan menyanderaku dengan menodongkan pistolnya ke kepalaku. Tetapi, wanita cantik begini tidak mungkin teroris. Rambutnya hitam bergelombang, dikuncit ke belakang. Matanya bulat, cokelat. Bulu matanya lentik. Rahang---hidungnya teratur sempurna. Terutama bibirnya, mungil berwarna merah muda. Membandingkan ia dengan pramugari mirip Aura Kasih tadi, tentu aku akan memilih dirinya. Aku duga ia seorang wanita yang tidak biasa, seseorang yang pintar dan berpendidikan. Itu terlihat dari sorot matanya yang bening dan tegas. Sementara pramugari tadi, hanya akan mengasikkan kalau diajak beradegan di atas ranjang. Selebihnya, kupikir ia akan membosankan.

Aku menanti ia menolehkan kepalanya. Tetapi, ia masih saja sibuk mematikan handphonenya. Bertemu mata, jatuh cinta pada pandangan pertama. Ah, rupanya aku terlalu banyak menonton film. Tetapi, tak ada salahnya berharap. Aku menghitung dalam hati. Sudah hitungan ke-60, ia belum juga menoleh ke sini. Aku hampir menyerah, tetapi yang kutunggu-tunggu datang juga. Ia menoleh dan kusambut dengan senyuman yang paling ramah yang pernah ada. “Hei, aku Rangga. Baru pertama kali ini naik pesawat,” kataku sambil menjulurkan tangan. Ia terkikik. “Aku Ratih. Kamu lucu sekali sih?” jawabnya sambil masih dengan tertawa.

“Aliterasi. Sepertinya kita berjodoh, Rat, eh, tidak mungkin ‘kan aku memanggilmu dengan Tikus Besar?” lanjutku menggodanya.

“Haha... kamu ini ada-ada aja, pasti seorang player kelas kakap ya?” Ratih masih tertawa. Sepertinya ia cukup sering berinteraksi dengan laki-laki. Maksudku, bukan interaksi yang negatif, tetapi pada umumnya para wanita akan melongo, terpana beberapa saat saat aku mengajukan pertanyaan seperti ini. Tetapi tidak Ratih. Ia masih tertawa dengan biasa, bersikap apa adanya. Benar dugaanku tadi, ia adalah seorang wanita yang pintar.

“Tidak ada salahnya kan mencoba?”

“Itu tidak akan mempan padaku, Ngga... Haha...”

“Ratih Kumala?” kataku mencoba mengalihkan topik. Tidak baik untuk sebuah perkenalan awal untuk terus membicarakan kisah tentang aku yang tertuduh player dan ia yang mungkin korban. Takutnya tiba-tiba ia menempelkan cap itu di dahiku sehingga tidak ada kesempatan bagiku untuk mengenalnya lebih.

“Tabula Rasa. Ah, bukan...” dengan cepat ia nyambung pada apa yang kumaksudkan. Ratih Kumala adalah seorang penulis. Novelnya, Tabula Rasa, didaulat sebagai pemenang ketiga dalam lomba menulis novel yang diadakan oleh DKJ 2005 lalu. Sebagai seorang pembaca sastra, tentunya karya ini tidak boleh luput dan masuk kategori ‘wajib baca’ dan ‘wajib koleksi’. Bahkan ia kusampul rapi dan kuletakkan di rak bukuku di kamar. “Aku Ratih Widyaningrum. Nama yang sangat njawani kan?” lanjutnya sambil tersenyum memamerkan lesung pipitnya itu. Aku tersihir.

“Kau suka sastra juga?” tanyaku lagi.

Ia mengangguk. “Sesekali... tetapi aku suka Subagio di puisi, dan Benny Arnas, ah pemuda kampung itu selalu menawarkan kearifan lokal yang lebih...”

Aku terkagum dengan jawabannya. Tidak aku sangka ia bahkan tahu Benny Arnas, cerpenis muda yang tengah naik daun itu. Pastilah Ratih ini tidak pernah lalai mengikuti koran minggu, tempat karya-karya para sastrawan ditampilkan. Dan Benny Arnas, yang dari Lubuk Linggau itu, sempat memunculkan frasa Tiada Koran Minggu Tanpa Benny Arnas. “Aku juga dari Sumatera Selatan, tetapi bukan Lubuk Linggau...” lanjutku mencoba menarik perhatiannya.

“Oh ya? Pantas saja tubuhmu bau mpek-mpek...” katanya sambil menutup hidung dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya mengipas-ngipas seolah mengusir bau. “Lalu mau apa orang Sumatera Selatan ini ke Makassar?” tanyanya masih dengan menutup hidung. Suaranya yang tadinya lembut itu jadi lucu. Sedikit kekomengan, membuatku tergelak kegelian.

“Menantang orang sana berkelahi...” aku menjawab sesukaku. Ratih mengerutkan keningnya. “Tidak, aku harus menghadiri pernikahan sahabatku.” Jawabanku yang kedua melahirkan O panjang dari bibirnya.

“Tadi kau bilang, ini pertama kalinya kau naik pesawat. Itu kau bercanda juga ‘kan?”

“Kalau yang itu aku serius...” jawabku sambil nyengir, disambut dengan ekspresinya yang tidak percaya. “Aku benar-benar tidak pernah naik pesawat sebelum ini,” kataku kembali meyakinkannya.

“Jadi, sahabatmu yang menikah ini memang nyata adanya?”

“Tentu. Dia sahabatku dari kecil. Kau kira aku ini tukang fiksi apa?”

“Aku pikir kau ini cerpenis atau sejenisnya. Habis kau tadi bertanya tentang membaca dan sastra...”

“Aku bukan cerpenis. Tetapi setidaknya, aku ini lelaki berpenis. Beda-beda tipis kan?”

Kata-kataku barusan membuatnya menepuk pundakku. Aku pikir naik pesawat itu akan menakutkan atau membosankan atau keduanya sekalian. Tetapi, tidak disangka aku malah bertemu Ratih yang menyenangkan. Pramugari di depan sedang memeragakan petunjuk keselamatan. Ratih mengambil buku petunjuk keselamatan dan membacanya. Aku ikut-ikutan sambil memperhatikan gerak-gerik sang Pramugari. Suara dari pramugari yang lain menjadi backsound dalam dwi-bahasa, menerangkan gerak-gerik itu dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Aku pikir kenapa suara petunjuk keselamatan itu tidak direkam saja daripada tiap penerbangan harus dijelaskan berulang oleh pramugari yang bersangkutan.

Mematikan handphone. Memasang sabuk pengaman. Tidak boleh merokok. Pun tidak boleh menutup jendela pesawat ini. Pesawat mulai bergerak, jantungku mulai berderak. “Ratih, sepertinya aku mulai ketakutan...” ujarku pada Ratih yang tampak sedang menunduk berdoa. Ia tersenyum. “Aal iz well,” katanya menirukan kata-kata Ranco di 3 Idiots. Aku juga turut tersenyum gara-garanya. Terlebih, jika mengingat adegan demi adegan di film tersebut sampai-sampai seorang bayi mau lahir ke dunia yang laknat ini gara-gara mendengar kata-kata tersebut.

Komentar

Pos populer dari blog ini

70 Kata-Kata Sok Bijak Mereka

1. Marah itu gampang. Tapi marah kepada siapa, dengan kadar kemarahan yang pas, pada saat dan tujuan yang tepat, serta dengan cara yang benar itu yang sulit. (Aristoteles)

2. Kesakitan membuat Anda berpikir. Pikiran membuat Anda bijaksana. Kebijaksanaan membuat kita bisa bertahan dalam hidup. (John Pattrick).

3. Jangan pernah melupakan apa pun yang dikatakan seseorang ketika ia marah, karena akan seperti itu pulalah perlakuannya pada Anda. (Henry Ward Beecher)

4. Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat. (Winston Chuchill)

5. Bakat terbentuk dalam gelombang kesunyian, watak terbentuk dalam riak besar kehidupan. (Goethe)

6. Secara teoritis saya meyakini hidup harus dinikmati, tapi kenyataannya justru sebaliknya – Karena tak semuanya mudah dinikmati. (Charles Lamb)

7. Orang yang menginginkan impiannya menjadi kenyataan, harus menjaga diri agar tidak tertidur. (Richard Wheeler)

8. Bila Anda ing…

Terjemahan Bebas The Road Not Taken By Robert Frost

Jalan yang Tak Ditempuh dua jalan menyimpang di hutan cladrastis kentukeadan sungguh maaf, aku tak bisa menempuh keduanyadan menjadi musafir sendiri, lama aku berdiridan melamun-merenungi sejauh yang aku mampudemi kemana jalan ini berbelok dalam semak-semak;lalu tempuhlah yang lain, biar terasa lebih adil,dan memiliki kemungkinan untuk menjadi lebih baikkarena begitu serut dan kurang terjamahi;meskipun untuk berjalan terus ke sanasedikit mengusangkan pikiran mereka pada persamaanDan keduanya, secara seimbang membaringkan pagimenginjak daun-daun itu, tanpa meninggalkan jejak, oh, aku mengenang yang pertama untuk suatu saat nanti!Dan belum aku tahu, cara jalan menuntun ke kebenaranaku meragukan bahwa yang telah aku tinggalkan akan kembaliAku harusnya mengatakan semua ini dengan lenguhandi suatu tempat, usia demi usia yang berguguran:Dua jalan menyimpang di sebuah hutan, dan aku--aku telah memilih satu, yang sepertinya sunyi,dan di situlah aku telah membuat suatu perbedaan.

Sajak-Sajak Pringadi Abdi Surya di Kompas.com 27 Maret 2011

Daun Jendela

Ia berharap ada yang membukanya setiap pagi
dan seekor burung gereja yang tersesat
bertengger ramah di punggungnya. Engselnya
yang berkarat masih begitu kuat menahan
ketukan-ketukan angin di tiap malam sebelumnya.
Dulu, ada kutilang yang berkandang di dekatnya.
Kutilang yang sering bernyanyi dan belum belajar
cara membuang kotoran. Ternyata, nyanyian
kutilang pun tak sanggup menahan kematian.

Ia tahu, di luar sana, udara semakin berat.
Dan mahahebat Tuhan yang menjinjing matahari.
Sesekali, ia melirik ke dalam kamar, dan
membuang suar lampu yang belum dipadamkan.
Seorang laki-laki tengah mendengkur
dan beradu sakti dengan jam waker.



Ceritanya tentang Jambu Bangkok

Pohon jambu bangkok di pekarangan rumahnya sedang musim-musimnya. Ada yang masih pentil, berwarna hijau tua. Ada juga yang sudah dibungkus kantung kresek, kira-kira seukuran bola tenis. Ia tahu, tiap saat ia harus berjaga dari ulat dan segerombolan anak yang lewat saat pulang sekolah. Ia bersembunyi …