Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Maret, 2010

Aku Tak Hingga, I

1

Mereka bilang, pengalaman pertama naik pesawat itu sama saja dengan pengalaman pertama punya jerawat. Kau akan sering melongok ke jendela, melihat gumpalan awan raksasa seperti sesekali kau menengok wajahmu di cermin, khawatir kalau-kalau jerawat itu makin merah dan besar seperti bisul-bisul. Tentu saja aku tertawa dengan analogi yang lucu itu, sedikit membuang kekhawatiranku.

Baru pertama aku menginjakkan kakiku memasuki kabin, pramugari itu menyambutku dengan ramah. Ia sangat cantik, tak jauh beda dengan Aura Kasih yang seksi sekali. Badannya tinggi, kira-kira lebih pendek 2-5 cm dari aku. Dua bemper yang memang menjadi keistimewaan wanita, depan dan belakang, ia miliki dengan sempurna. Terang saja, mataku sempat mampir beberapa detik pada keduanya. Aku membalas senyumnya, dan dengan konyolnya aku katakan kepadanya, “Ehmm, aku baru pertama kali ini naik pesawat. Pesawat ini tidak akan jatuh, kan?”

Kursi 8F. Tepat dekat jendela. Sengaja aku bilang saat check in tadi, agar aku diberi k…

le mois

bulan menggelinding. jatuh di sixth avenue, taman peluru
diego. malam pedro. santo-santo yang kembali dari malam paskah
telur-telur berwarna merah muda. bulan di antaranya, sembunyi
dari peluit wasit yang botak kepalanya. o, collina kah ia? tidak. ia
tengah di italia, memahat patung dengan besi-besi terapung di
teluk meksiko. tetapi ia pulalah yang mengusir malaikat yang bertanya
adakah kau lihat bulan menggelinding kemari?

di kepalanya sendiri, ternyata, ada bulan yang lain lagi.

(2010)

Delapan Jurus Citraan Sapardi

Citraan atau imagery adalah salah satu pembangun struktur fisik puisi bersama diksi, majas atau gaya bahasa dan persajakan bunyi. Bagaimanakah seharusnya citraan itu dibangun oleh penyair?

Apakah peran dari pencitraan itu bagi puisi? Sapardi Djoko Damono ada menulis telaah atas sajak Acep Zamzam Noor. Judul telaah yang dirangkum dalam buku "Sihir Rendra: Permainan Makna" itu adalah "Pedusunan Acep". Saya menyarikan sejumlah butir dari telaah itu, yang relevan dengan pertanyaan-pertanyaan di atas.

1. Citraan (imagery) adalah alat utama penyair dalam mengungkapkan pengalaman batinnya, alat itu tidak bisa dipisahkan dari dunia yang sangat dikenalnya.

2. Penyair harus menjaga kejujurannya ketika mengungkapkan pengalamannya dan bagaimana cara dia mengungkapkan pengalaman itu.

3 .Sebagai tukang yang berurusan dengan kata, penyair harus menguasai sepenuhnya seluk-beluk penggunaan alatnya.

4. Yang harus diperhatikan oleh penyair adalah penguasaan alat, bukan kecenderungan umum …

Sembilan Saran Sapardi: Sajak Liris

BUTIR-BUTIR berikut ini disarikan dari tulisan berjudul "Keremang-remangan Suatu Gaya", yaitu sebuah ulasan Sapardi Djoko Damono atas sajak Abdul Hadi WM. Saya kira tulisan itu adalah sebuah petunjuk yang sangat jelas dan bagus bagi penyair yang hendak menulis sajak-sajak lirik yang baik. Saya tak menambahkan penjelasan, karena menurut saya apa yang dipaparkan beliau sudah amat jelasnya.

1. Sebuah sajak yang buruk biasanya berusaha "meyakinkan" pembacanya dan dengan demikian memaksanya saja untuk mendengar dengan pasif.

2. Perasaan yang paling khas dalam arti: yang paling banyak melibatkan manusia dari zaman ke zaman, adalah bahan terbaik untuk sajak lirik.

3. Penyair harus menjelmakan perasaan yang klise itu sebagai bahan sajaknya --- misalnya cinta --- dengan segar, menjadi sajak yang segar dengan ungkapan yang tidak klise, tetapi harus unik dan personal.

4. Untuk menuliskan sajak lirik yang baik, penyair harus cermat mengamati dan mencatat perasaan-perasaan sendiri …

Rak, Buku

RAK

hitunglah berapa macam buku yang
berjajar rapi dengan judul-judul fiksi?

kehidupan adalah juga semacam khayalan
mengiang-ngiang di telingamu yang riang

seperti jalan raya pagi hari, mobil-mobil saling
mengantri, membunyikan klakson, dan meneriakan asap
dari knalpot yang usang

ada lelaki kecil sedang ingin menyeberang
di punggungnya ada ransel yang berisi petasan

di pikirannya, ia siap meledakkan kehidupan.


BUKU

setiap halaman, sepertinya menceritakan kematian

ada rasa deg-degan setiap kali melangkah ke halaman selanjutnya
jangan-jangan ada kayu yang menancap di dada. jangan-
jangan ada mobil yang menabrak kepala. jangan-jangan
ada engkau yang menusuk aku dengan pisau dapur itu

dapur, memang seringkali menciptakan rasa takut
apatah engkau mencampur bubuk mesiu di setiap sarapan pagiku

tetapi buku, membuatku lebih hati-hati lebih dari
lampu kuning yang menyala di setiap tikungan yang berbahaya

vi: jakabaring

ada seorang lelaki terbaring di kamar asing itu
nafasnya kapas, tubuhnya laut lepas. “kemana tidurmu ini
mengadu, sayang?” tiba-tiba ada sungai yang mengadu
ke dadamu yang bidang. membentuk arus lain yang memayau
di suara-suaraku yang makin memarau.

An Elegy by Alexander Sergeyevich Puskhin

terjemahan oleh Pringadi Abdi Surya

An Elegy

The senseless years extinguished mirth and laughter
Oppress me like some hazy morning-after.
But sadness of days past, as alcohol –
The more it age, the stronger grip the soul.
My course is dull. The future’s troubled ocean
Forebodes me toil, misfortune and commotion.

But no, my friends, I do not wish to leave;
I’d rather live, to ponder and to grieve –
And I shall have my share of delectation
Amid all care, distress and agitation:
Time and again I’ll savor harmony,
Melt into tears about some fantasy,
And on my sad decline, to ease affliction,
May love yet show her smile of valediction.





Sebuah Elegi
Tahun-tahun yang lunglai memadamkan tawa dan kebahagiaan
aku tertekan seolah pagi-pagi yang berkabut.
Tetapi kesedihan dari masa lalu, seperti alkohol---
semakin tua umurnya, semakin kuat ia memabukkan jiwa.
Jalanku terjal. Masa depanku lautan masalah.
Meramalkan kerja keras, ketidakberuntungan, dan huru-hara.

Tetapi tidak, kawan, aku tak sedikitpun berharap pergi;
aku…

Poems (Be translated as soon As Possible)

Alexander Pope

Ode on Solitude

Happy the man, whose wish and care
A few paternal acres bound,
Content to breathe his native air,
In his own ground.

Whose heards with milk, whose fields with bread,
Whose flocks supply him with attire,
Whose trees in summer yield him shade,
In winter fire.

Blest! Who can unconcernedly find
Hours, days, and years slide soft away,
In health of body, peace of mind,
Quiet by day,

Sound sleep by night; study and ease
Together mixed; sweet recreation,
And innocence, with most does please,
With meditation.

Thus let me live, unseen, unknown;
Thus unlamented let me die;
Steal from the world, and not a stone
Tell where I lie.



















Alexander Pope

Summer

See what delights in sylvan scenes appear!
Descending Gods have found Elysium here.
In woods bright Venus with Adonis strayed,
And chaste Diana haunts the forest shade.
Come lovely nymph, and bless the silent hours,
When swains from shearing seek their nightly bowers;
When weary reapers quit the sultry field,
And crowned with corn, their thanks to Ce…

Ruang, Remang

RUANG

kehilangan, sepertinya menusuk lewat lubang
jendela dikabarkan angin dan televisi yang menyala

suara pengabar berita masuk ke dadaku
dengan debar yang purba seolah pohon-pohon mangga
di sebelah rumah meranggas tiba-tiba.

ada ketukan-ketukan kecil di sana
berharap ia adalah tamu yang kutunggu dengan
setoples kue kering dan minuman dingin rasa markisa

kehilangan, sepertinya sudah sofa hitam tua
di ruang terkunci ini; pula seekor kucing tengah
tertidur pulas di atasnya.


REMANG

kematian, semestinya adalah jalan melepaskan
ingatan yang terbaca dari koran-koran bekas di gudang belakang rumah

nama, kota, peristiwa adalah kue-kue basah yang
dibeli di pasar-pasar rakyat setiap hari selasa

ada jalan-jalan yang becek dan berlubang
seperti menyimpan rahasia yang sama ketika lampu kamar
dimatikan, menyisakan cahaya bulan

kematian, semestinya adalah lampu-lampu taman yang
remang dan panjang; sepasang muda-mudi tengah bercumbu
saling meninggalkan sidik jari.

(2010)

Robert Browning---Meeting at Night

terjemahan Pringadi Abdi Surya


Meeting at Night

I.
The grey sea and the long black land;
And the yellow half-moon large and low;
And the startled little waves that leap
In fiery ringlets from their sleep
As I gain the cove with pushing prow,
And quench its speed i’ the slushy sand.

II.
Then a mile of warm sea-scented beach;
Three fields to cross till a farm appears;
A tap at the pane, the quick sharp scratch
And blue spurt of a lighted match,
And a voice less loud, thro’ its joy and fears,
Than the two hearts beating each to each!




Pertemuan di Malam Hari

I
Lautan abu-abu dan semenanjung tanah hitam;
Dan separuh bulan yang kuning tampak besar dan rendah;
Dan sedikit kejutan gelombang-gelombang yang melompat
Dalam ombak kecil yang menyala-nyala dari tidur mereka,
Seolah aku berlabuh di teluk kecil dengan merapatkan haluan
dan memadamkan kecepatannya di pasir-pasir pesisir

II.
Lalu satu mil dari lautan yang hangat-aroma pantai;
Tiga tanah lapang harus kulewati sampai bertemu dengan ladang;
Ada ketukan di jendela, …

Robert Frost

terjemahan Pringadi Abdi Surya


Momen Tak Tertaut

Dia singgah bersama angin---entah apa itu
Jauh di daun-daun maple yang pucat, tetapi bukan hantu?
Dia berdiri di sana membawa Maret yang bertentangan dengan kepalanya
Dan belum terlalu siap untuk mempercayai semuanya.

"Oh, itu adalah surga yang merekah," kata aku;
dan sungguh ini cukup adil bagi bunga-bunga yang
memiliki kita (di dalam diri kita) menganggapnya ini Maret yang sama
seperti halnya kemegahan yang putih di bulan Mei.

Kita berdiri sejenak di dunia yang begitu asing
diriku sebagai satu dari manekin-manekin miliknya;
dan kemudian aku berkata yang sebenarnya (dan kami beranjak).
Sebuah pohon muda tampak mencengkeram daun-daun di tahun terakhirnya.



A Boundless Moment

He halted in the wind, and --- what was that
Far in the maples, pale, but not a ghost?
He stood thee bringing March against his thought,
And yet too ready to believe the most.

"Oh, taht's the Paradise-in-bloomm" I said;
And truly it was fair enough for flowers
had…

Bait-Bait Hujan

Kamu seperti hujan. Yang datang menghapus bau-bau kematian, di hatiku yang telah gersang oleh kemarau. Padahal kamu pernah menciptakan mendung, di awan awan yang putih, di hamparan langit yang biru. Tapi secepatnya aku lupa. Sebab kamu segera menggantinya dengan hujan. Yang merontokkan segenap kerinduan.

Melihat hujan hari ini, aku teringat kamu. Kamu yang hadir dengan manis di setiap hujan. Menggenggam sebelah tanganku, sebelum menarikku ke arah hujan. Bermain dengan hujan. Dan ketika kita telah begitu basah, kamu membelai rambutku yang penuh hujan. Menggerainya, hingga tak menghalangi wajahku yang pernah kamu sebut sebagai karya seni terindah Tuhan.

“Nggi, tidak bawa payung?”

Aku menggeleng.

Ardi. Aku tahu, sudah sebulan ini dia memberikan perhatian lebih kepadaku. Mungkin sebentar lagi dia akan mengatakan cinta. Aku yakin itu. Tapi tidak mungkin kuterima, sebaik dan seperhatian apapun dirinya. Sebab hatiku telah kamu. Rinduku pun telah kamu.

“Nanti sakit lho, Nggi?” bujuknya sambil memb…

rumah rakit

rasa sakit di pundakmu adalah arus
diam-diam merayap ke kantung mata. tetapi, malam itu
di bibirmu kata mengapung-apungkan dirinya
di hujan yang basah, mengenyampingkan gelisah
dari seraut wajah yang terpantul di sungai ampera
ke mana kita ke mana kata, tanya seorang lelaki
yang tengah bernyanyi di atas sebuah rakit
berharap muara adalah jalan kembali tetapi
ke mana pun kita berenang ke mana pun
kita membayang hulu selalu menunggu
menjadi rumah baru dengan rakit
di pundakmu.

(2010)

Dimuat di Harian Global 13 Maret 2010

http://harian-global.com/index.php?option=com_content&view=article&id=32824:puisi-pringadi-abdi-surya&catid=45:kalam&Itemid=69


I: ayunan
sebenarnya apa yang kau ayun di balik
kedua bola matamu. ada jarak yang datang
dan pergi. ada langkah yang sedemikian tergesa
kemudian daun-daun jatuh. daun-daun dari pohon
kamboja. ranting-ranting yang patah. tetapi ayunan lain
dari ban-ban pula mengayun rahasia.

senja yang sama yang kau tatap adalah
masa kecil dari ayunan klasik. besi tua dan papan-papan
lapuk. tiga anak lelaki saling beradu suit. siapa yang menang
akan duduk di samping kau. aku tak pernah
menang. aku tak pernah duduk di samping kau. akulah
yang mengayun. akulah yang jadi ayunan.



II: perosotan
begitu sering kita memerosoti diri sendiri. menaiki tangga-tangga
sedemikian tinggi. kubayangkan di sana ada seekor semut
berusaha mendaki. dia pastilah sisyphus tua yang telah
bereinkarnasi. kau

hari itu, tampak di atas perosotan. matamu merah seperti
kerasukan. seperti sedang bertahan dari nyan…

Lima Paradigma Subagio

Pasal 1. Jangan menyekatkan perhatian hanya kepada diri sendiri.

Penjelasan: Perhatikanlah diri kita, tapi perhatian kita jangan hanya tersekat pada kepada diri sendiri. Sehebat apapun, kita hanya punya satu kehidupan yang amat sempit dibandingkan betapa banyak kehidupan di luar diri kita. Perhatikan kepada kehidupan lain di luar diri kita akan memperkaya kita dan juga membuat lebih mengenal siapa kita sesungguhnya.

Pasal 2: Sajak yang hanya berisi sedu-sedan dan keluh-kelah bukan sajak yang cukup berarti.

Penjelasan: Sajak seringkali suka menempuh jalan sunyi. Sajak kerapkali berisi perayaan atas sedih dan duka. Sajak acapkali seperti meruapkan aroma darah yang menetes dari hati yang luka. Tapi sajak yang baik tidak menjadikan kesunyian, dukalara dan luka itu sebagai alasan untuk jadi cengeng, tersedu-sedu dan mengumbar keluh-kesah. Sunyi, duka dan luka di dalam sajak hendaknya bisa mengingatkan bahwa memang mereka adalah bagian mutlak dari kehidupan. Sunyi, duka dan luka di dalam sa…

Angin September

*Termuat dalam buku Kepada Cinta (Gagas Media, 2009)



(Aku ucapkan salam, dari lubuk terdalam)

Langit-langit, lalu langit.

Kautahu, angin September selalu menawarkan cinta; asmara muda berwarna jingga, cumbu anomali pada pancaroba. Bimbang. Nada sumbang. Lebih hampa dari kemarau yang ingin segera hilang; hujan menggempalkan kerinduan.

Dan kita masing-masing berdiri di sini, terenyuh memori. Kautahu, padanya aku pernah mengejar berlarik puisi: derap-derap kaki yang telanjang, langkah lugu malu-malu. Berjingkat di tiap malam, hendak mencuri sebait rindu. “Permisi bu, boleh saya mencuri rindu?” tanyaku lugu. Pukul yang kuraih, bukan restu. Dan kautahu, derap-derap kakiku tak lagi bisu. Lahirkan debu-debu di sepanjang jalan kupulang, dengan kepala tertunduk seolah pungguk yang lepaskan harap kerinduan pada rembulan.

Tidak, aku tak terus menyerah. Aku tak langsung pasrah meski kuaku gundah. Aku malah terus berlari mengejar romantisme yang ingin kusejati. Aku semakin dekat padanya. Kautahu, bahka…