Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Januari, 2010

Kwatrin Sempurna dari Jam Kau Itu

Dari jam kau itu, aku percaya pada janji yang kau katakan
Bahwa kau akan datang tepat pukul delapan, di samping stasiun pemberhentian
Aku pun sudah membawa mawar yang kau pesan
Dua puluh kuntum merah darah tanda kesetiaan

Tapi tahunya sudah lima menit kau terlambat
Dan tak ada pesan singkat, yang masuk ke handphoneku yang pulsanya sudah sekarat
Aku pikir, mungkin saja kau sedang diculik malaikat
Jadi kuputuskan untuk kembali menunggu, selama beberapa saat

Tiga puluh menit aku menunggu, kau tak kunjung datang
Aku titip pesan ke penjaga gerbang, “Hei, bapak berkumis garang
Kalau kau lihat seorang perempuan membawa pedang, bilang
Aku sudah pulang, demi menyiapkan sebuah tantangan perang.”

Tivi

setiap aku menyalakan tivi, aku menggigil
dan menyembunyikan tubuhku di balik selimut
yang dekil

aku takut melihat benda-benda beterbangan,
orang-orang berlarian, dan teriakan
bersahut-sahutan

dipikirnya perang. perang antar
kubu dengan peluru-peluru kertas hasil
belajar origami waktu masih TK dulu

lelaki lebih suka membuat pesawat terbang
ketimbang menyalakan tivi atau menangkupkan
tubuh di bawah selimut itu.

"Sayang, sayang, mana tubuhmu?" aduh
tubuhku tadi---atau tubuhmu yang baru tadi
kulihat di tivi sudah

terpotong jadi beberapa sasi.

(2010)

Tiga Sajak Buat Perempuan "D"

I
Payung

sejak aku melihat hujan yang turun dari
matamu aku ingin menjadi payung di dalam
kehidupanmu.

II
Cermin

semalam kubaca pesan singkatmu tentang
wajah yang baru kaulihat di cermin itu.

aku jadi ikut-ikutan memandang cermin
di kamarku. tetapi malah tak ada wajahku
di sana.

malah wajahmu.

III
Pernikahan


tiba-tiba malam itu juga aku bermimpi
kau jadi janur kuning. dan memasak nasi
kuning berbentuk gunung kecil di halaman
depan rumah yang penuh dengan petasan.

aku malah mengibarkan bendera kuning.

Stasion: Antara Subagio Sastrowardoyo da Pringadi Abdi Surya

IV
DI STASION

Aku masih melambai di tangga
waktu kereta api lambat meninggalkan
stasion. tetapi ia di peron hanya
berdiri diam tak melemparkan senyum.
Dua makhluk asing menemukan kejemuan.
Perkenalan memang saling menggali
sampai relung paling rahasia, tapi
makin dalam makin terbenam hari dalam
kesepian.
Sikapnya dingin waktu berjabat tangan.
Ketika kereta mulai cepat berjalan
aku memanggil namanya berkali-kali
tetapi ia sekali pun tak mau berpaling.

(Subagio Sastrowardoyo, Simfoni Dua Hal. 73)



Di Sebuah Stasiun #2

aku sendiri penasaran
apa yang kutunggu dari kedatanganmu
selain wajah dan tubuh yang begitu kecut
dan baju-baju kusut dalam kopermu

sisir poni, gincu pink, dan bra hitam kesukaanmu
sudah saja aku kenakan
sampai dering handphoneku berbunyi---kau
memanggil dari seberang ingatan

"Sayang, keretanya mogok di tengah jalan
baru saja kehabisan kenangan."

padahal kudengar deru rel beradu
menautkan rindu

(Pringadi Abdi Surya, Alusi Hal. 109)

Di Pertandingan yang Kau Jadi Kipernya

KOSONG-KOSONG, kau biarkan gawang itu melompong

dengan formasi tiga-lima-dua yang menggoda
kau maju menemani kedua striker yang tampak berleha-leha

waktu sudah injury time, tiga menit lagi mungkin
sang wasit akan meniup balon atau peluit
menghentikan pertandingan yang penuh rasa sakit

(2009)

Kalimat Tentang Kami yang Pengecut

kami pengecut karena kami bikin sajak prosa tentang hujan pelangi dan airmata dari matamu yang lupa membaca tanda-tanda penderitaan di lingkungan sekitarmu seperti anak-anak jalanan yang membawa gitar dan tak makan seharian seperti seorang gadis kecil yang tatih membawa bayi mengemis kasih dari kaca-kaca mobil yang gelap di dalamnya ada seorang bapak-bapak memegang puntung rokok yang cukainya trilyunan tetapi membunuh trilyunan pula seperti dasi-dasi yang dikenakan di gedung dewan membahas trilyunan lain yang dibawa kabur entah ke mana oleh siapa untuk apa ah kami pengecut karena bikin sajak cinta melulu tangis melulu aku melulu yang tak ada rasa lucu seperti komedi-komedi masa lalu.

Requiem Mass in D Minor

dengar. dengar, nada itu adalah malaikat
maut di padang rumput
yang hijau
dengan kupu-kupu yang kerap melingkar
di lehermu dan kini
di
leherku

kenapa aku harus mati di tangan kupu-kupu

lacrimosa,

trombon. dan timpani. delapan bar kecil
di bir-bir kota vienna

gelas-gelas yang selalu penuh. dan dansa. dan salsa.
dan romansa di remang-remang lampu

kauKah itu, wahai
malaikat bersayap kupu-kupu?

(2010)

Con Giovanni Overture k.5

dor. aku ingin mati
di peperangan. bukan di tempat tidur
setelah meneguk anggur, salieri

peperangan denganmu sudah seharusnya menjadi
peluru dan desau-desau mesiu
seperti angin yang risau
di padang-padang tandus dengan pasir-pasir
yang haus

dor. aku ingin mati di dawai biolamu
mati berdiri dengan alunan yang makin
meninggi

bukan terbaring, salieri.

Brandeinburg Concerto

aku ingin mati di senja brandeinburg
di negeri seribu danau. seribu sungai
yang mengalir dari mata
kekasihku
di seberang pulau, empat puluh kilometer
dari kail-kailmu
yang berenang
mengitari bach---di tengah-tengah

ikan yang berkumpul. senja yang memantul
dari tatapanmu di balik tiang
jembatan tua yang penuh

orang-orang berkumpul.

entah apa yang dipandangnya di balik tembok
tua itu. tembok yang membuat pertemuan kami adalah
sebatas imajinasi dari kata-kata
di pesan singkat
lewat sebuah surat yang diantarkan angin
seperti sebuah melodi lain
dari piano tua

o, aku sungguh ingin mati
di senja baindenburg yang pucat

menuliskan arti timur dan barat.

(2010)

Pemandangan: Taman Kanak-Kana

Taman kanak-kanak adalah taman bermain

sebuah perosotan yang sudah penuh karat, ayunan tua
dan sebuah besi panjang untuk menguji keseimbangan

seorang anak lelaki baru saja menangis
ia jatuh dari pohon jambu yang buahnya sudah memerah
kaki dan tangannya luka-luka, sebagian berdarah
sebagian menelusup ke balik mata
tersembunyi di dalam bajunya yang telah terlumuri tanah

Taman kanak-kanak adalah taman bermain

seorang anak lelaki jatuh dan menangis itu sudah biasa
tidak perlu diusut
memanggil saksi apalagi mengumpulkan
bukti-bukti

Taman kanak-kanak adalah taman bermain

sudah hampir enam puluh lima tahun taman kanak-kanak ini berdiri
enam puluh lima anak lelaki pula telah jatuh tiap musim
saat buah di pohon jambu itu tengah memerah

tak ada yang bersalah---tak ada yang dipersalahkan

meski di atas sana,
segerombolan ulat tengah berbisik
terkikik-kikik dengan sejarah konspirasi

menjatuhkan anak lelaki.

Tidakkah Homofictus Itu Engkau, Tuan?

Kesan Pembacaan Tangan Untuk Utik---Bamby Cahyadi
Tidakkah Homofictus Itu Engkau, Tuan?

#1
Penyair adalah pencuri. Penyair adalah pemburu. Begitu dua pernyataan yang begitu saya ingat dari kedua ‘guru’ saya, TS Pinang dan Hasan Aspahani. Penyair mencuri kejadian, mencuri fakta, bahkan mencuri frase dari lingkungannya. Dalam menuliskannya, penyair jua pemburu, yang mengincar sesuatu untuk ditembaki, bila perlu sampai mati. Tak jauh berbeda sebenarnya, seorang cerpenis pun seperti itu. Yang membedakannya adalah cerpenis memiliki ruang lebih untuk berburu. Ia jauh lebih tidak terpancing untuk terburu-buru. Ia bisa meneliti ruang terlebih dahulu, mengasah alat burunya hingga tajam, atau bahkan sengaja tidak ditajamkan, agar buruannya mati pelan-pelan, tersiksa pelan-pelan. Begitu pun Bamby Cahyadi. Ia adalah seorang pemburu, yang bisa saya katakan tenang. Tidak ada yang menyangka bahwa di balik senyum manisnya itu, ia juga cukup kejam. Ia juga cukup berani dalam mengambil tindakan untuk meng…

Hujan Turun

kami berharap hujan turun membasahi jemuran yang kami jemur di tiang-tiang. di tali-temali yang memanjang dari depan ke belakang. di jendela. di atap. di tiap pintu yang kami biarkan terbuka dan kami persilahkan siapa saja untuk masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu.

kami tak peduli bila hujan menggenang. memanggil banjir bandang. merusak rumah-rumah tikus di selokan. di gedung para dewan yang kerap dihujani batu dan sumpah serapah para mahasiswa.

kami hanya berharap hujan turun lagi. setelah sekian lama jemuran kami tak pernah basah.

(2009)

Merah yang Meremah, Sebuah Catatan Pembacaan (Belum Selesai)

I.
Bahasa adalah gudang kebudayaan (Harroff, 1962). Berbagai arti yang diberikan manusia terhadap objek-objek, peristiwa-peristiwa, dan perilaku-perilaku merupakan jantung kebudayaan. Dan bahasa merupakan sarana utama untuk menangkap, mengomunikasikan, mendiskusikan, dan mewariskan arti-arti ini.

Bahasa tidak berarti merujuk pada sebuah arti besar---pada hal-hal yang bersifat bangsa atau suku semata. Tetapi juga, setiap benda memiliki bahasanya sendiri. Kucing tidak mengeong untuk berbicara dengan sesamanya. Televisi mengonversi berbagai prinsip elektronika untuk menciptakan bahasanya. Dan huruf-huruf yang diketikkan di komputer pun adalah sebuah hasil penerjemahan bahasa binary. Apalagi perempuan, juga pasti memiliki bahasanya sendiri---bahasa yang berbeda dengan kaum lelaki, yang memiliki daya ungkapnya tersendiri.

II.
Dunia siber, pada perkembangannya, akan menjadi sebuah culture area---menciptakan budayanya sendiri. Facebook khususnya, teori-teori kebudayaan itu secara lambat tapi pas…

Cerpen di Kompas.Com: Surat Kedelapan

http://oase.kompas.com/read/xml/2009/12/29/00162022/surat.kedelapan

SELASA, 29 DESEMBER 2009 | 00:16 WIB
Cerpen Pringadi Abdi Surya

Aku tak biasa menulis surat. Tak biasa merangkai kata-kata yang bisa dikategorikan ‘indah’. Tak biasa mengungkapkan pelbagai rasa meski hanya dalam sebuah huruf ‘a’ yang dituangkan dalam lembar kosa, apalagi lebih itu.

Tapi aku pernah menuliskan tujuh buah surat yang sayangnya tak pernah kukirimkan kepada dia yang kutuju. Sebab aku malu. Aku malu jika aku harus menatap matanya yang coklat, merasakan gelegak cinta yang tak bisa kutahan. Aku malu jika aku harus menyodorkan tanganku kepadanya, berharap dia menyambutku, lalu pelan-pelan membaca surat-suratku di hadapanku. Lantas kau pasti bertanya, kenapa aku tak mengirimkannya lewat pos saja? Kautahu, aku laki-laki. Aku lebih malu jika aku menunjukkan ketidakjantananku di hadapannya. Sebab kautahu, laki-laki harusnya berani mengungkapkan perasaannya secara langsung kepada wanita yang dicintainya. Tidak seperti a…

Pemandangan: Ruang Perapian

: sabriani suci zasneda

---bagaimana dengan setumpuk ranting ini, Nyonya
sudah cukupkah untuk kita seduh di atas tungku perapian itu?

di dekatmu, aku adalah unggun
menemanimu yang tengah merajut daun
dari berlembar lamun yang sendiri

secangkir kopi, dan air panas di termos-termos
sudah tak ragu menjadi dingin
seperti matamu yang diam-diam takut
menerjemahkan ingin dengan penuh rasa kalut

di dekatmu, aku adalah unggun
membakar ranting-ranting kering
dengan gerak yang fasih

tetapi kau adalah batang yang tak bergeming
di atas kursi goyang
sambil teguh memegang jarum dan benang

---kaujahitkan lagi sebuah bayang

(2010)

Ketika Mama Bercerita Bahwa Ada Dua Belas Bulan di Tahun Ini

--- Januari;

seperti januari yang biasa; bulan jatuh tiba-tiba
pesawat jatuh tiba-tiba, cinta pun jatuh tiba-tiba, tetapi
daun tidak jatuh tiba-tiba, ranting tidak patah tiba-tiba
pun matamu, yang tidak mencair tiba-tiba?

---Februari;

anak-anak sekarang hobi memakan batu
ketimbang memakan ibu. ibu-ibu pun memilih
menanak batu ketimbang menanak bapak. dan
bapak-bapak mengantri batu, memuja batu,
memanggil hujan batu-batu

aduh, pon, sudah kau buang kemana batu tadi?

---Desember;

desember di kotamu; bulan-bulan runtuh
sepi terjajar rapi di sepanjang jalan yang
kelihatannya lurus dengan lampu-lampu
dan selintasan angin yang merdu

o, desember yang pilu, kenapa kau memilih
tanggal tiga puluh untuk menanggalkan waktu
dan meninggalkan berjuta sembilu?

(2010)