Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari 2010

Bait--Bait Hujan

http://oase.kompas.com/read/2010/12/03/12545717/Bait.bait.Hujan

Kamu seperti hujan. Yang datang menghapus bau-bau kematian, di hatiku yang telah gersang oleh kemarau. Padahal kamu pernah menciptakan mendung, di awan awan yang putih, di hamparan langit yang biru. Tapi secepatnya aku lupa. Sebab kamu segera menggantinya dengan hujan. Yang merontokkan segenap kerinduan.

Melihat hujan hari ini, aku teringat kamu. Kamu yang hadir dengan manis di setiap hujan. Menggenggam sebelah tanganku---menarikku ke arah hujan. Bermain dengan hujan. Dan ketika kita telah begitu basah, kamu membelai rambutku yang penuh hujan. Menggerainya, hingga tak menghalangi wajahku yang pernah kamu sebut sebagai karya seni terindah Tuhan.

“Nggi, tidak bawa payung?”

Aku menggeleng.

Ardi. Aku tahu, sudah sebulan ini dia memberikan perhatian lebih kepadaku. Mungkin sebentar lagi dia akan mengatakan cinta. Aku yakin itu. Tapi tidak mungkin kuterima, sebaik dan seperhatian apapun dirinya. Sebab hatiku telah kamu. Rinduku pun …

Tiga Puisi Pringadi

FYI, GOOD BYE

Selamat tinggal hati yang sudah kuberikan, aku sudah bukan sahabat baikmu yang mampu menjadi gunung Sinai. Menangislah, menangislah, saat kuganti nomor teleponku dan operator perempuan berpura-pura menjadi partner selingkuhanku. Tekanlah, tekanlah bel rumahku dan gonggong anjing akan menyambutmu. Atas namaku sendiri, aku akan menjadi malam ini, tiba-tiba meredupkan segala nyala bintang di luar jendelamu. Kesepian bukanlah barang langka, bahkan diobral di pasar loak. Tiga seribu dan segala sesuatu menjadi tidak masuk akal. Hatiku mendadak bersinar. Pikiranku meledak. Bom atom Hiroshima kembali. Pergi, pergilah, aku ingin bermeditasi di kolong tempat tidur, meratapi dipan-dipan yang melapuk. Bagaimana bisa bertahun mereka menahan berat tubuhmu, dan tulang-tulangku sendiri menahan hanya sebuah nyawaku? Yang mungkin tidak berharga? Aku tidak ingin merasakan cinta. Ketika di taman, sebuah meteor lewat, dan aku mengepalkan tangan,mengajukan permohonan. FYI, [...]

BTW, KOPI

Tida…

Dua Beranak Temurun, Benny Arnas

Bada ditinggalkan pinangan hatinya, lelaki paruh baya itu sangat suka mendongeng. Semua dongengannya pun memiliki potongan cerita menarik. Tak heran bila putranya sangat suka menajamkan telinga di sela-sela desauan angin yang memapas kisah dari bibir hitam yang berkerut merut itu.

Entah, yang didongengi pun tak tahu mengapa lelaki yang tampak beberapa tahun lebih tua dari usianya tersebut sangat suka melakukannya. Dalam setiap dongengannya, entah itu melankolis, romantis, atau epik; entah itu surealis atau absurd; entah juga itu tentang gadis, bujang, janda, duda, atau manusia-manusia yang hampir berbau liat; lakon-lakon yang baik-baik sifat, perilaku, dan tutur bahasanya, adalah seseorang bernama Jarun.

”Agar hidupmu tidak menggelambir noktah kelam, Nak.” Itulah yang diucapkan lelaki itu ketika anaknya bertanya mengapa ia sangat sering bercerita.

Wajar bukan kalau putranya tak pernah mengerti alasan mengapa lelaki itu senang mendongeng. Mana cepat mengerti putranya dengan jawabannya itu…

Pohon Kersen, Linda Christanty

RUMAH kami menghadap pantai. Namun, pantai tak terlihat dari jendela-jendela yang terbuka. Pantai belum juga tampak ketika aku berdiri tegak di halaman pasir dan telapak kakiku yang telanjang bagai diserbu jarum-jarum halus-panas di siang terik itu. Pantai cuma gemuruh laut dan peluit kapal, meski aku bertengger di dahan tertinggi pohon kersen yang menjulang pongah di sudut halaman.

RUMAH kami menghadap pantai. Namun, pantai tak terlihat dari jendela-jendela yang terbuka. Pantai belum juga tampak ketika aku berdiri tegak di halaman pasir dan telapak kakiku yang telanjang bagai diserbu jarum-jarum halus-panas di siang terik itu. Pantai cuma gemuruh laut dan peluit kapal, meski aku bertengger di dahan tertinggi pohon kersen yang menjulang pongah di sudut halaman.

Tebing curam yang dihampari tanaman rambat berduri telah menyembunyikan pantai di bawah sana. Dan sebatang pohon nangka yang kurang subur di pinggir tebing, dengan ranting-ranting tua meranggas, berdiri murung mengawasinya. Menj…

Cerpen Seno Gumira: Sepotong Senja Untuk Pacarku

Alina tercinta,
Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.

Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhi…

Dialog Imajiner dengan Pria Imajiner

Selamat Malam, Tuan... hmmm?

Jangan panggil saya Tuan, cukup Pria Imajiner.

Baiklah, Pria Imajiner, saya tak ingin berbasa-basi, ceritakan kisah cinta Anda?

Saya mencintai seorang perempuan. Sejak saya masuk ke kampus imajiner, pertama kali melihatnya, saya langsung jatuh cinta. Perlu waktu dua tahun lamanya, setelah saya pindah ke kampus imajiner yang lain, tanggal 7 Desember 2007 saya jadian dengan dia. Saat itu saya bahagia sekali. Film pertama yang kami tonton adalah film tentang mencari harta karun, di BSD Serpong saat bakda libur natal. Saya juga ajak dia ke kosa say, naik kereta, itu pertama kalinya dia naik kereta. Tapi kami tak sempat berlama-lama karena pamannya menagih janji kepulangannya jam lima sore. Kami ke stasiun lagi dan kereta baru ada jam setengah empat sore, tentu akan telat sekali. Kami bersepakat naik taksi. Dan di taksi itulah pertama kali saya menggenggam tangannya, dalam diam, dalam tanpa kata-kata.

Anda tentu bahagia. Pernah bermasalah dengan dia?

Sangat bahagia.…

Template Malna

Ribut Wijoto
Radar Surabaya (7/11/2010)

Dalam beberapa hal, saya adalah penggemar Afrizal Malna. Ketika suatu kali Afrizal bilang bahwa banyak penyair sekarang sebenarnya tidak punya alasan untuk menulis puisi, sungguh, saya terpesona.

Apakah pernyataan itu dilontarkan setelah melalui riset yang panjang, pertimbangan mendalam, atau sekadar ceplosan, saya tidak tahu pasti. Yang pasti, dalam beberapa hari bahkan bulan, pernyataan itu terus terngiang dalam benak saya. Dia seakan merasuk inheren pada otak saya, istilah Jawanya, saya terus kepikiran. Beruntung bagi saya, pernyataan Afrizal tidak sampai membetot mimpi saya. Mimpi saya tetap terisi persoalan-persoalan rumah tangga. Semisal percintaan saya dengan istri saya yang tidak pernah jenuh kami lakukan. Pernyataan Afrizal hanya berkelindan dalam pikiran ketika saya sepenuhnya sadar.

Pernah suatu kali saya iseng menanyakan kepada Afrizal, apakah puisi-puisi yang termuat di media itu bisa dijadikan standar kualitas puisi di Indonesia. D…

Rilke, Kepada Penyair Muda

Engkau bertanya apakah sajak-sajakmu baik. Engkau bertanya padaku. Sebelum ini engkau telah menanyai orang lain. Kau kirimkan sajak-sajakmu ke berbagai majalah. Kau bandingkan karyamu dengan sajak-sajak orang lain, dan engkau gelisah bila ada redaksi majalah yang menolak sajak-sajakmu. Sekarang kuminta agar kau jangan memperdulikan semua itu. Tidak ada orang yang dapat memberimu nasihat dan pertolongan, tidak seorangpun. Hanya ada satu jalan saja, masuklah ke dalam dirimu.

DEMIKIAN Rainer Maria Rilke (1875-1926) mengawali tulisannya “Kepada Penyair Muda” yang dimuat dalam Majalah Sastra Horison No.2 Thn.II Februari 1967 terjemaahan Taufiq Ismail, yang diambilnya dari “Surat-surat Kepada Seorang Penyair Muda”. Sayang, dalam tulisan tersebut Rilke tidak menyebut nama siapa pun yang disebut atau dimaksudnya sebagai “penyair muda” itu. Bahkan, dalam majalah sastra yang terbit 40 tahun yang lalu itu, ketimbang terbaca sebagai sebuah surat seperti yang menjadi sumber pemuatannya, tulisan i…

Agus Noor: Bayi Bersayap Jelita

BAYI BERSAYAP JELITA

Cerpen Agus Noor


KAKEK bisa membelah diri. Bisa berada di banyak tempat sekaligus…

Aku melihat Kakek tengah berdiri memandang keluar jendela, ketika aku masuk. Kamar gelap – mungkin Kakek sengaja mematikan lampu – aku merasa ia tak ingin diganggu. Pelan pintu aku tutup kembali. “Masuklah,” suara Kakek lemah. Ia tergolek, dengan selang oksigen dan infus yang bagai mencencangnya ke ranjang. Demi Tuhan! Aku tadi melihat Kakek berdiri dekat jendela itu. Benarkah Kekek bisa berpindah dalam sekejap?

Kurasakan, Kakek mengedipkan mata: sini, tak usah heran begitu. Padahal kulihat ia terbaring memejamkan mata begitu tenang.

Dua hari sebelum puasa, ibu menelpon. Kakek jatuh di kamar mandi, serangan jantung. Mas Jo memintaku segera saja ke Jakarta. Sebelum terlambat – ia rupanya tahu keenggananku menjenguk Kakek. “Biar aku urus Nina,” katanya. Bungsuku itu memang baru kena demam berdarah.

Aku tak terlalu dekat dengan Kaket. Bahkan tak menyukainya. Semasa kecil, kakak-kakak dan se…

Umar Kayam: Seribu Kunang-Kunang di Manhattan

Mereka duduk bermalas-malasan di sofa. Marno dengan segelas scotch dan Jane dengan segelas martini. Mereka sama-sama memandang ke luar jendela.

“Bulan itu ungu, Marno.”

“Kau tetap hendak memaksaku untuk percaya itu ?”

“Ya, tentu saja, Kekasihku. Ayolah akui. Itu ungu, bukan?”

“Kalau bulan itu ungu, apa pula warna langit dan mendungnya itu?”

“Oh, aku tidak ambil pusing tentang langit dan mendung. Bulan itu u-ng-u! U-ng-u! Ayolah, bilang, ungu!”

“Kuning keemasan!”

“Setan! Besok aku bawa kau ke dokter mata.”

Marno berdiri, pergi ke dapur untuk menambah air serta es ke dalam gelasnya, lalu dia duduk kembali di sofa di samping Jane. Kepalanya sudah terasa tidak betapa enak.

“Marno, Sayang.”

“Ya, Jane.”

“Bagaimana Alaska sekarang?”

“Alaska? Bagaimana aku tahu. Aku belum pernah ke sana.”

“Maksudku hawanya pada saat ini.”

“Oh, aku kira tidak sedingin seperti biasanya. Bukankah di sana ada summer juga seperti di sini?”

“Mungkin juga. Aku tidak pernah berapa kuat dalam ilmu bumi. Gambaranku tentang Alaska ada…