Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari September, 2009

Sonnet Yang Bersembunyi di Balik Punggungmu

---Kepada Kau

Empat belas baris lagi yang kucari mungkin sedang bersembunyi
Di balik punggungmu yang selalu saja membelakangiku.
Aku bertanya-tanya, kepada seorang pengendara ojeg yang kerap
Menjadi langgananmu setiap sore ke murid-murid les privatmu.

Tapi beliau itu malah bercerita tentang rumahnya yang baru saja kena gusur
Oleh pemerintah dengan alasan untuk lahan hijau, padahal kabarnya untuk
Sorum internasional yang uang ganti ruginya bahkan tak cukup buat bayar
Tunggakan kredit motornya yang belum lunas itu.

Aku beralih kepada ibu-ibu penjual jamu kunyit asem yang kau beli
Setiap pagi, agar makin mulus kulit wajahmu seperti mulusnya
Proyek-proyek para pemilik modal setelah memberi gratifikasi kepada
Pada anggota dewan yang terhormat itu.

Ah, belum juga kutemu jawabnya. Bagaimana kalau nanti malam aku datang saja
Ke dalam mimpimu, berpura-pura jadi murid les privatmu?

(2009)

Cerpen Gregorio Lopez y' Fuentes: Surat Untuk Tuhan

Diindonesiakan oleh Saut Situmorang
dari READER’S DIGEST GREAT SHORT STORIES OF THE WORLD


Rumah itu – satu-satunya di lembah itu – terletak di puncak sebuah bukit yang rendah. Dari situ nampak sungai dan, setelah tempat kandang binatang, nampak ladang jagung yang sudah matang diselang-selingi bunga-bunga kacang yang menjanjikan musim panen yang baik.

Hanya satu saja yang dibutuhkan ladang itu saat itu: turunnya hujan, atau paling tidak gerimis. Sepanjang pagi Lencho, yang akrab dengan setiap lekuk ladangnya itu, tak henti mengamati langit bagian timur laut.

“Hujan pasti akan segera turun sebentar lagi.”

Istrinya yang sedang menyiapkan makan malam menjawab:

“Ya, mudah-mudahan.”

Anak-anak laki-lakinya sedang kerja di ladang sementara yang masih kecil-kecil bermain-main di dekat rumah waktu perempuan itu memanggil mereka:

“Makan malam sudah siap...”

Waktu mereka sedang makan malam hujan lebat pun turun, tepat seperti yang diramalkan Lencho. Di langit sebelah timur laut nampak awan-awan sebesar g…

Sonnet Lain Dari Gugur Daun Di Kedua Telapak Tanganku

Apa yang hendak kau genang di kedua belah telapak tangan
Selain semacam airmata kenangan dari cinta yang tak biasa?
Cicak, buaya, kau memilih berada di pihak mana? Aku memilih
Jadi kunang-kunang saja yang pura-puranya lampu
Memberi harapan pada kerlap-kerlip aku.
Tapi kau memilih jadi kupu-kupu, pilihan lain yang bersembunyi
Di balik gugur daun bulan Juni, sehingga aku benar-benar harus
Mencari mana kau mana daun ketapang di ranting itu yang dulu
Pernah kita tandatangani, seolah-olah baru saja proklamasi kebebasan
mencintai antara kau yang kupu-kupu dan aku yang kunang-kunang.
Jadi, apa yang kau tangkupkan di kedua belah telapak tangan kau itu
Seolah segalanya harus tampak malu-malu dan rahasia
Padahal, tidakkah kau tahu, seluruh dunia tengah memperhatikan kau,
aku, dan tingkah kita yang makin jauh dari kunang-kunang dan kupu-kupu.

Semacam Sonnet Tentang Bunga Yang Tak Ingin Kubiarkan Berkembang

: kau

aku takut membiarkanmu berkembang. dari sekumpulan putik
menjadi puisi dengan larik-larik yang menuntut jawaban-jawaban
dari sekian pertanyaan yang tak ingin kucatat di berlembar surat
entah itu cuma kata 'mungkin' yang kerap melahirkan derap kaki

kuda yang terpacu oleh pengendara, tanpa pelana. tapi sepertinya
aku telah patah, sebelum engkau menjadi bunga. sebelum menjadi
teratai yang tertawa-tawa pada cassanova, tatkala ia bertanya
pada dewi air, "wahai siapa yang paling indah di muka bumi ini?"

tapi aku tak bertanya demikian. aku tak bertanya tentang mengapa
aku (mungkin) bisa jatuh cinta. aku diam. dengan seribu bahasa
yang kudekam di dalam riam-riam hatiku yang karam.

tetapi kau mungkin saja tersenyum. jika tak tahu betapa ada hati
yang patah sebelum kau berkembang menjadi bunga. menjadi
jejak bulan baru yang mati sebelum purnama.

Tentang Jam di Tangan dan di Dinding Kamar-Kamar Aku itu

: dd

sebenarnya aku ingin menawari kau jam baru. jam dengan tahta seribu teratai yang mengambang di antara mimpi-mimpi kau dan aku. jam dengan sejuta taman bermain dari masa kanak-kanak yang tidak ingin kau (dan aku) lupakan. jam yang akan terus setia melingkari keduabelas angka itu. angka-angka yang kerap kau perhati ketika aku telah mengingkari pertemuan yang telah aku (dan kau) janjikan.

tapi kesekian kali pertemuan, tak kau saksikan jam di tangan. tak kau saksikan pula di dinding kamar-kamar aku itu.

kata kau, apa aku tak punya jam?
apa aku mau kau belikan jam?

sudah aku buang semua jam aku. jam yang tidak aku percayai. jam yang membuat aku ingat ada enam jam kau yang sudah kau berikan ke lelaki yang bukan aku. jam yang semakin lama semakin cepat seperti mau berkhianat kepada aku. jam yang setiap hari menuntut aku untuk mengingat kau.

sementara aku tidak tahu, sudah berapa jam kau mengingat aku?

(2009)

Seolah Sajak Berjudul Panjang

KETIKA KUPIKIR KAU AKAN MUNCUL DALAM MIMPI AKU, KAU BENAR-BENAR MUNCUL DALAM MIMPI AKU DENGAN BAJU PENGANTIN YANG LELAKI KAU BUKAN AKU. YANG HATI KAU BUKAN AKU. SAMBIL BERDADAH-DADAH KEPADA AKU SEBELUM KAU MELEMPAR KARANGAN BUNGA KAU ITU YANG JATUH TEPAT DI PELUKAN AKU

: desi diarnitha

tapi tak ada mawar di karangan bunga itu. sebab mawar aku adalah kau yang membuat aku terluka dengan hanya memandang kau. memunggungi kau yang semakin lama semakin menjauh.

kata kau dulu, di hari kematian sebuah lagu kanak-kanak berjudul satu-satu yang liriknya sudah kau ganti itu, kau akan mencintai lelaki yang mencintai pasir. mencintai desir dari setiap airmata kau. tapi kemudian kau bilang sudah mencintai lelaki yang bukan aku. lelaki yang memiliki enam jam dalam satu hari kau.

tapi aku tak punya jam. di tangan dan di dinding kamar-kamar aku. aku cuma punya hati. cuma punya puisi. dan setangkai mawar yang persis kau.

Enigma

Engkau selalu seolah paham: aku adalah makhluk paling kelam. Kulitku yang hitam legam setidaknya telah menjadi salah satu parametermu dalam menilaiku. Matamu bahkan akan selalu terpicing saat aku dengan pakaianku yang sudah compang-camping ini melewati rumahmu. Padahal aku tak pernah menganggumu. Tak pernah mengusikmu. Tapi selalu saja engkau mengusirku pergi, melemparku dengan kerikil-kerikil dari halaman rumahmu. Sebab katamu, aku adalah makhluk paling kelam. Hanya akan merusak pandangan matamu.

Tapi, tetap saja aku melewati rumahmu setiap hari. Sebab rumahmu adalah salah satu jalan hidupku. Sebab di depan rumahmu ini, aku menemukan banyak hal yang berguna untuk mengisi perutku dan adik-adikku. Sesuatu yang engkau sebut sampah tak berguna, telah menjadi sumber kehidupanku.

Seperti hari ini, aku kembali melewati rumahmu. Kuperhatikan dulu sejenak, barangkali engkau sedang duduk di teras menungguku. Menunggu untuk melempariku lagi dengan kerikil-kerikil itu. Tapi tampaknya engkau sedang…

From Poetry Organization

Among the Rocks

by Robert Browning

Oh, good gigantic smile o’ the brown old earth,
This autumn morning! How he sets his bones
To bask i’ the sun, and thrusts out knees and feet
For the ripple to run over in its mirth;
Listening the while, where on the heap of stones
The white breast of the sea-lark twitters sweet.

That is the doctrine, simple, ancient, true;
Such is life’s trial, as old earth smiles and knows.
If you loved only what were worth your love,
Love were clear gain, and wholly well for you:
Make the low nature better by your throes!
Give earth yourself, go up for gain above!




Autumn Song

by Dante Gabriel Rossetti

Know'st thou not at the fall of the leaf
How the heart feels a languid grief
Laid on it for a covering,
And how sleep seems a goodly thing
In Autumn at the fall of the leaf?

And how the swift beat of the brain
Falters because it is in vain,
In Autumn at the fall of the leaf
Knowest thou not? and how the chief
Of joys seems—not t…

Pablo Neruda: From The Book Of Questions

From The Book of Questons

III.

Tell me, is the rose naked
Or is that her only dress?

Why do trees conceal
The splendor of their roots?

Who hears the regrets
Of the thieving automobile?

Is there anything in the world sadder
Than a train standing in the rain?




Dari Lembaran Pertanyaan

III.

Katakan padaku, apakah mawar turut telanjang
Ataukah hanya itu yang melekat di tubuhnya?

Kenapa pohon-pohon menyembunyikan kenyataan
Tentang betapa megah lilitan akar?

Siapa yang mendengarkan penyesalan
dari kendaraan-kendaraan yang tercuri?

Adakah di suatu tempat, apapun itu, yang melebihi kesedihan
Dari gerbong panjang kereta api yang tertunduk di bawah hujan?

Tentang Film Kau Itu

: dea anugerah

malam angslup
ke balik dada
tujuh mutiara
telah kosa

yo ho yo, teriakmu
dari balik mata

apa masih
ada puisi
di balik galian timah?
atau tinggal cerita
yang kita saksikan
di layar sekian inchi
oleh para artis
yang tampak autis?

yo ho yo,
aku tak mau bayar karcis
ini filmku sendiri
kampungku sendiri

yo ho yo,
mari mari
kita buat
film kita sendiri!

Sonnet Shakespeare

Sonnet 01

From fairest creatures we desire increase,
That thereby beauty's rose might never die,
But as the riper should by time decease,
His tender heir might bear his memory:
But thou, contracted to thine own bright eyes,
Feed'st thy light'st flame with self-substantial fuel,
Making a famine where abundance lies,
Thyself thy foe, to thy sweet self too cruel.
Thou that art now the world's fresh ornament
And only herald to the gaudy spring,
Within thine own bud buriest thy content
And, tender churl, makest waste in niggarding.
Pity the world, or else this glutton be,
To eat the world's due, by the grave and thee.

Sonnet 02

When forty winters shall beseige thy brow,
And dig deep trenches in thy beauty's field,
Thy youth's proud livery, so gazed on now,
Will be a tatter'd weed, of small worth held:
Then being ask'd where all thy beauty lies,
Where all the treasure of thy lusty days,
To say, within thine own deep-sunken eyes,
Were an all-eating shame and thriftless praise.
Ho…

Sonnet: Aku Menyerah Melukis Namamu di Kanvas Hatiku

: eny sapratilla

sudah lupa. sejak kapan aku mengenal lukisan dan mulai menggoreskan
kuas di atas kanvas-kanvas. termasuk ketika aku mengenalmu, aku pun
mencoba melukis namamu dengan latar melodrama seumpama pelukan
yang tak kunjung memberikan kehangatan. mungkin cuma opera sabun

dengan judul-judul yang sering ditonton para ibu, tetapi tidak kamu, karena
aku tahu kamu lebih suka duduk di bawah pohon mahoni, sambil
memejamkan matamu dari silau sinar lain yang hendak merayu retinamu
kah aku yang merekam momen itu di dalam warna cat lukisku

tapi sudah beberapa babak, lukisan namamu belum jua selesai. mungkin
ada yang kurang dari cat lukis ini ataukah memang aku yang mulai samar
oleh jejak melankolia yang sempat kau tinggalkan dulu, di rumahku
dengan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu

aku menyerah sajalah melukiskan namamu di kanvas ini. mungkin kali lain aku
datang membawa cat lukis baru yang sebanding dengan indah warna namamu

Palembang, 2009

Sonnet: Mungkin Tuhan Cuma Bisa Memainkan Nada Minor di Piano Itu

: desi diarnitha

apalah artinya kita ikut les piano di gereja tua itu kalau cuma
nada-nada minor yang kita dengar. kemarin kita baru saja
ditantang untuk memainkan lagu bernada kasar, agar mungkin
tak ada lagi sepasang burung gereja yang datang

membuat sarang di atas atap rumah kita yang setiap hari
menderitkan nama ibu yang sudah menjadi melodi kenang itu
“aku tak ingin lagi memainkan piano itu, kalau tuhan tengah
terus mengutukku untuk mencampur airmata dalam menu-menu

makan malam yang sudah tinggal lilin dan nyalanya yang redup.”
keluhmu dengan saputangan bermotif winnie the pooh, sementara
aku memandangimu dari jauh sambil mencoba melukis senyum lain
yang tengah hilang dari wajahmu (wajah dengan ketukan-ketukan

hangat yang pernah kuingat, saat kita masih berpikir bahwa tuhan
bisa memainkan seluruh nada di atas piano yang kita rindukan itu)

Palembang, 2009

Pertemuan dengan Gus tf

Sonnet: Baines, Berikan Kami Resep Tuamu

: gertrude baines

selain bulan dan mawar kering, apa yang menjadi
menu sehari-harimu, wahai baines tua --- si pengumpul ranting?
"aku tak pernah tertawa-tawa, tak pernah menonton
maria ozawa, tak pernah mengendapkan segelas teh

hingga dingin dan tak pernah bermain layang-layang.
aku pun tak pernah menonton sinetron dan telenovela
dan mematikan tivi saat jam sudah genap sepuluh
atau aku yang tak mengenal kata sebelas?"

sampai tadi kau terhenti di angka seratus lima belas
di samping segelas tehmu yang sudah dingin
dan lukisan layang-layangmu yang masih angin

di pemakamanmu, wahai baines tua, aku datang
membawakan segulung benang untuk layang-layang
yang selalu urung kau terbangkan itu

Sonnet: Aku Pikir Kiamat Hari Ini

aku pikir benar kiamat hari ini saat kamu nyatakan
kamu tidak lagi mencintaiku dan telah mencintai
laki-laki lain yang memajang bunga krisan di kamarnya
dan menanam magnolia di halaman rumahnya

padahal kemarin, kita baru saja sama-sama berjanji
hari ini kita akan pergi ke istana, merayakan kelahiran presiden
yang kamu anggap manusia setengah dewa (padahal aku meng-
anggapnya pengecut yang hanya besar badannya dan ciut nyalinya)

“kenapa kamu memilih berdemo di jalan raya ketimbang
menelponku di malam buta, setiap saat aku merindukanmu?”
selalu itu alasanmu di setiap pertengkaran kita, mengeluhkan aku
yang terkesan lebih cinta negeri ini ketimbang kamu

tapi tahu-tahunya itu benar-benar menjadi alasan perpisahan kita hari ini
sementara kiamat yang kupikir benar malah tidak terjadi


Palembang, 2009

Sonnet: Setelah Jadi Ratu Sejagad

masa kecil kita adalah semak yang berduri, dan ilalang
tempatmu biasa bersembunyi dari kerumunan banyak orang
sudah menjadi kamera-kamera dari berbagai stasiun tivi
menanyakan ukuran-ukuran tubuhmu yang begitu seksi

mungkin ada panekuk di balik rok mini yang kau kenakan
panekuk hangat yang sering kau buat dulu, saat masih sering
menyanyikan lagu country di lahan gandum pada akhir pekan
tanpa pernah terpikir bahwa suatu saat, cinta kita akan mengering

tapi tubuhmu, kini, sudah tak ada lagi dalam pelukan
saat kau isi formulir pendaftaran kontes ratu kecantikan
saat itulah, kau dan aku, tak lagi bisa bergenggaman taman
tak lagi mencatat mimpi-mimpi di berlembar perjanjian

stefanieku sayang, haruskah aku menjadi raja sejagad
agar terus dapat menemanimu selama berabad-abad?

Dari Merak, Sebuah Jam Tanganku Tiba-Tiba Berhenti Berdetak

1
apa yang kutunggu, selain kedatanganmu
di arah pukul dua yang biasa, pukul dua yang
selalu kita baca di koran-koran dan majalah
menghiasi headline dengan nama-nama
termasuk namamu
yang dicetak dengan begitu tebalnya

tapi aku kadang tak begitu peduli
selain melongok ke lengan sebelah kiri
sudah jam duakah kini?
tapi tampaknya masih lima menit lagi
dari perjanjian kita yang selalu kita catat
di pinggir kalimat-kalimat lain yang biasa
kau ucapkan di meja persidangan,
di mana dulu, kau dan aku,
juga telah sepakat
menandatangani sebuah surat
untuk sehidup semati
di dunia dan di akhirat

2
aku bercerita ombak
dari sebuah geladak

apa yang kau sembunyikan di balik riak

apakah ada sebuah sajak
yang tertolak dari media cetak?

tapi ada pria lain yang tengah terbahak-bahak
aku meninggalkan merak, aku meninggalkan merak
katanya sambil sesekali memunguti dahaknya
yang konon lebih berharga dari berkeping perak

3
mungkin kau titik
yang tengah mematung di sebuah ujung
dari dermaga yang mengapung

sedang aku garis
atau mungkin juga…

Dari Merak, Sebuah Jam Tanganku Tiba-Tiba Berhenti Berdetak

1
apa yang kutunggu, selain kedatanganmu
di arah pukul dua yang biasa, pukul dua yang
selalu kita baca di koran-koran dan majalah
menghiasi headline dengan nama-nama
termasuk namamu
yang dicetak dengan begitu tebalnya

tapi aku kadang tak begitu peduli
selain melongok ke lengan sebelah kiri
sudah jam duakah kini?
tapi tampaknya masih lima menit lagi
dari perjanjian kita yang selalu kita catat
di pinggir kalimat-kalimat lain yang biasa
kau ucapkan di meja persidangan,
di mana dulu, kau dan aku,
juga telah sepakat
menandatangani sebuah surat
untuk sehidup semati
di dunia dan di akhirat

2
aku bercerita ombak
dari sebuah geladak

apa yang kau sembunyikan di balik riak

apakah ada sebuah sajak
yang tertolak dari media cetak?

tapi ada pria lain yang tengah terbahak-bahak
aku meninggalkan merak, aku meninggalkan merak
katanya sambil sesekali memunguti dahaknya
yang konon lebih berharga dari berkeping perak

3
mungkin kau titik
yang tengah mematung di sebuah ujung
dari dermaga yang mengapung

sedang aku garis
atau mungkin juga…

Antara Cerita, Realita, dan Cita-Cita Dalam Menciptakan Iklim Ekonomi Yang Kondusif

Seorang pecatur amatir menyatakan kepada grandmaster Tartakower, bahwa dirinya sudah secara patuh memainkan pembukaan yang belum lama direkomendasikan grandmaster lainnya, Loewenstein, dalam sebuah majalah dengan hasil malapetaka. Tartakower menjawab “Jangan kau memainkan yang ditulis Loewenstein. Yang mesti kau mainkan adalah yang ia mainkan”

Ucapan Tartakower ini seolah menyindir pemerintah Indonesia dan negara-negara lemah lainnya dalam hal takluknya kita pada ekonomi neo-liberal yang dibawa oleh Amerika Serikat. Ekonomi yang nyatanya juga menyeret (hampir) semua Negara dalam krisis ekonomi yang disebut-sebut lebih parah dari Great Depression tahun 1929 yang lalu.

Sejarah mencatat, Great Depression membutuhkan waktu kurang lebih lima puluh tahun untuk kembali dalam keadaan stabil. Kejatuhan pasar saat itu, telah menyebabkan pengangguran yang meningkat pesat akibat merosotnya lapangan pekerjaan. Krisis tersebut merambat hingga Eropa, yang menyebabkan (salah satunya) Presiden FC Barc…

Kalaulah Boleh, Kuminta Empat Mata Angin Itu

+
sebut. sebut. sebutlah tiga permintaan
apapun yang kau inginkan bisa kukabulkan
harta, tahta, wanita?
ha ha ha

aku tuhan semesta, yang maha segela maha
tapi aku tak pernah jadi mahasiswa

upss, aku cuma bercanda

-
kalaulah boleh, cukuplah aku memanggilmu tuan
sebab aku tak percaya tuhan, tuan

dan cukuplah beri aku satu permintaan
aku tak berminat pada keserakahan,
kekuasaan untuk harta, tahta, dan wanita
seperti yang kau sebutkan

bisa?

+
ha ha ha
sudah kubilang tadi
ataukah harus berulang-ulang kuulang lagi
aku ini maha segala maha

apa yang tak bisa?

-
ok, tuan
kalaulah boleh, kuminta empat mata angin itu
yang kautempelkan di kaki para pengelana
yang dengan tabah melakukan perjalanan
keliling dunia?

+
sebentar, sepertinya kau terlambat
baru saja ada orang lain yang memintanya

-
siapa
siapa
siapa
?


dan tuan menunjuk sekelebat makhluk
yang sedang memeluk gurun, menjelajah arafat

Hitam-Putih Merpati

#1

Aku baru saja mencium langit. Kembali dari duniaku yang berada di balik awan. Ada sebuah harap yang kusembunyikan di sana. Yang kuharap suatu akan terlepas bebas meski kusadari nyaris tak bisa terwujudkan. Karena aku merpati hitam. Merpati hitam yang hanya ditakdirkan untuk sesama merpati hitam. Padahal aku telah takluk pada sesosok makhluk. Sayangnya bukan mepati hitam sepertiku. Ia merpati putih. Pujaan di
istana hatiku. Yang dalam hari-hariku selalu kupandangi dari duniaku
bersembunyi; di balik awan.

“Merpati tak pernah ingkar janji,” seperti itu ayahku berpesan kepadaku. Aku ingin menyanggah. Tapi kuurungkan demi seonggok rasa hormatku pada ayahku.

Aku ingin bertanya, apa arti sebuah janji? Toh nyatanya janji itu hanyalah janji
yang terungkap oleh nenek moyangku dulu. Bahwa kami –kaum merpati hitam- hanya akan menikahi sesama kami. Setelah sebelumnya dijodohkan terlebih dahulu oleh kaum manusia itu. Kaum yang merasa jumawa, seakan penuh kuasa. Nyatanya mereka hanya makhluk lemah.

#2

H…

Tak Ada Hakim di Acara Televisi Itu

1

Kalaulah nanti anak kita bertanya kenapa tak ada hakim
mengenakan jubah hitam dan berkepala roda emas di televisi
kita akan memilih pilihan jawaban e, yang biasa kita pilih
jika keadaan sudah begitu terdesak, begitu tersesak

kalaulah ia terus merengek, tak puas pada jawaban kita yang termehek
maka cukup beri ia permen kojek, biar dia lupa
dan kembali tertawa, memindahkan acara ke channel lain dimana
mungkin ada seorang hakim, sedang membaca pasal-pasal
dan ayat-ayat yang termisal

2

Suatu hari, remote televisi kita itu sudah kehabisan battery
kali ini ia menangis, sesekali menggertak dengan bengis
memukuli kita yang semakin asik menahan ringis

bagaimana caranya mengganti channel televisi ini, Mama?

dan kita pun mengajarinya menaiki atap, sambil meratap
untuk menjemur battery agar kembali penuh terisi


3

Tiba-tiba kita sudah seperti pembantu, yang suka disuruh-suruh
ini pasti gara-gara acara televisi yang tak bermutu itu

esoknya kita pecahkan televisi itu, dengan semangat yang menggebu
tapi sorenya kita …

Melankolia, Seusai Neruda

I.
Cicak-cicak di dinding
Diam-diam merayap

Saya masih saja menatap ke dinding, ke jam dinding. Menatap jarumnya yang terus bergerak menghitung detiknya sendiri – detik yang entah kapan akan berhenti di kematiannya. Tapi, saya sama sekali tidak sedang memikirkan kematian. Saya malah sedang berpikir bagaimana caranya hidup, caranya bertahan hidup.

Cuma sisa cahaya bulan yang menerangi kamar ini. Ukuran kamar ini cukup kecil, sekitar 2,5 x 3 m. Tidak ada ranjang. Tidak ada lemari. Tidak ada meja. Ada selembar kasur kapuk dan beberapa helai baju yang tergantung di balik pintu. Dan abu rokok yang setia tergeletak di asbaknya.

Kalau kamu melihatnya, dengan matamu sendiri, kamu pasti heran bagaimana saya bisa bertahan hidup di ‘kamar’ ini. Tapi saya bahkan pernah bertahan hidup di dalam hutan selama beberapa hari. Saya tidak bohong. Waktu saya masih sekolah dulu, saya hobi naik gunung. Di suatu liburan, saya memutuskan naik gunung Dempo dengan kelima orang teman. Dan beruntungnya, kami sempa…

Nol: Angka---Manusia

I.

Saya sungguh tak pernah berbohong. Tak pernah menyebut satu sebagai dua. Dua sebagai tiga. Atau sebagai lainnya. Sebab saya yakin bahwa satu adalah satu, dua adalah dua. Tak boleh diganti-ganti. Saya juga tak pernah menyebutkan lima tambah lima sama dengan lima kali dua meski sama-sama sepuluh hasilnya. Sebab saya tahu keduanya tak sama: beda struktur aljabarnya. Seperti itulah saya, yang tidak pernah berbohong.

Sejujurnya saya tidak pernah mempercayai angka-angka, kecuali angka nol. Bayangkan, dua kali dua sama dengan dua tambah dua, sementara satu kali satu lebih kecil dari satu tambah satu, dan tiga kali tiga lebih besar dari tiga tambah tiga. Aneh bukan?


II.

Ini hari pertama saya bekerja. Pekerjaan yang saya benci sebenarnya. Sebab setiap hari saya harus berhadapan dengan angka-angka. Dan saya tidak menyukai angka-angka, kecuali angka nol tentunya. Kamu pasti bertanya, mengapa angka nol adalah pengecualian. Sebab angka nol itu istimewa. Ia adalah Tuhannya angka-angka. Kamu pasti t…

Bumiputera News

Pemenang Lomba Menulis Cerita Pendek (cerpen) Asuransi. Dadang Sukandar (pemenang III), Pringadi Abdi Surya (Pemenang Harapan), Irine Rakhmawati (Pemenang Harapan), Jakarta 2 September 2009.