Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Juni, 2009

Membaca TSP: Kami, Kunci, dan Ia yang Tersembunyi

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Mahasucilah Allah, Pencipta yang paling baik.
(Q. S. Al-Mu’Minun 12-14)

Kami

Membaca tspinang, seperti membaca sebuah kitab yang ditulis oleh manusia. Sebuah kitab yang kiranya suci, tetapi bukan kitab suci. Kitab ini berisi tentang suatu pandangan yang berbahan bakar karbon dan melakukan proses pembakaran menghasilkan oksigen yang ia hembuskan ke pembacanya. Kitab ini tidak menggurui, tidak. Kitab ini tidak mendoktrinisasi, tidak. Kitab ini sama halnya dengan kitab-kitab harian semacam diary yang disampaikan dengan bahasa wahyu - melepaskan keegoan dan keakuan penulisnya, serta bertutur deng…

Pringadi Abdi : Simbol Otak Kiri Rakyat Yang Bukan Lirik

Simbol-simbol dan Otak Kiri

Membaca sajak-sajak Pringadi (yang selanjutnya akan saya sebut ‘Adi’) selalu memaksa saya untuk memberdayakan otak kiri saya, bagian logika saya. Padahal saya pribadi bisa dibilang lemah dengan otak kiri. Malas BERPIKIR. Saya lebih senang MERASAKAN saja, dalam hal apapun: terlebih puisi, ketika menulis maupun membacanya. Lantas, apa yang membuat saya mengatakan bahwa sajak-sajak Adi adalah ‘sajak otak kiri’? Salah satunya adalah terdapat banyak simbol di dalam sajak-sajaknya; simbol yang sulit untuk sekadar ‘dirasakan’, simbol yang memaksa untuk ‘berpikir’. Maka dari itu, saya sulit menggunakan ‘dada’ saya, sementara saya terlalu malas memakai ‘kepala’ saya- kalau meminjam istilah dari penyair muda Makassar yang tersohor itu. Akibatnya, cukup banyak sajak-sajak Adi yang tidak bisa saya nikmati, seperti yang berikut:


SELALU saja terhenti di angka dua sembilan
setiap ia maju di depan kelas, membacakan
angka-angka kematian
..
PADAHAL ini hari SAB…

Membaca Logika

I

“TIDAK mudah menjadi penyair!” Demikian, suatu ketika, tutur seorang penyuka sajak, Damhuri Muhammad, pada sebuah diskusi ringan seputar fenomena bermunculannya “penyair-penyair” di dunia maya. Bagi Damhuri, jika untuk mendapatkan lisensi “penasehat hukum” seorang lawyer harus menguasai banyak hal perihal dakwa-mendakwa atau tuntut-menuntut, seorang penyair pun wajib menapak jalan atau tangga kepenyairan. Setiap penyair dituntut menguasai, setidaknya mengetahui, langgam kepenyairan. Baginya, tidak semata karena piawai memainkan rima, mendedahkan metafora, atau memainkan alegori, lantas seseorang berhak menyandang gelar “penyair”. Tidak semudah itu.

“Pada batas tertentu, jalan kepenyairan sejajar dengan jalan kenabian!” Boleh percaya boleh juga tidak. Meskipun agak sulit kita mengamini pendapat Damhuri, tidak serta-merta kita bisa menampik kebenarannya. Untuk menjadi penyair handal, kita harus bisa menapak anak-tangga paling puncak guna menangkap pesan-pesan profetik, sebagaimana kema…

Penanak Batu dan Panglima Bermata Basah

1
Kapan kau akan datang kemari
Sekadar mengantarkan beras dan gandum
Dan berbiji kurma dimana engkau pernah
Menguburkan anak perempuanmu

Dulu, waktu masih jahiliyah?

2
Kami sudah kenyang sebenarnya
Makan batu yang sudah kami tanak
Berjam-jam lamanya

“Ibu, ibu, kapan batu kita matang?”

Anehnya malam ini batu tak matang-matang
Dan engkau tak datang-datang.

3
Aku dengar engkau sedang maju ke medan perang
Jadi panglima yang paling garang

Tak salah mungkin bila dikata engkaulah pedang
Engkaulah singa yang selalu siap menyerang
Setiap musuh yang hendak menerjang.

4
Tapi shubuh ini kita bertemu
Aku masih saja menanak batu

Dan ternyata, matamu bukanlah pedang, Tuan

5
Tuan, boleh aku mengusap rambutmu yang basah,
Keningmu yang basah, dan matamu yang basah?

(2009)

Tiga Jam dari Bus Kota

tiga jam dari bus kota ada
surau tua, telur dan sarang laba-laba
juga daftar nama penyedekah

*

satu jam sebelumnya
seorang anak laki-laki tak bisa menyeberang
terhalang kecepatan yang kencang

padahal merah lampunya
tanda berhenti
tapi bus ini terlanjur emosi

*

tiga jam dari bus kota
kita sepakat mengenakan kafan ungu, dan gigi palsu
sebab kita masih perjaka dan
belum sarapan pagi lalu

eh, itu yasin jangan dibacakan
sudah bosan kami mendengarkan

*

tiga jam dari bus kota
daftar penyedekah belum penuh juga

jual saja telur laba-laba;
sarangnya diuntai seolah
sutra

Djibril dan Aku

Aku benar-benar tidak berbohong. Toh, tak ada gunanya aku berbohong. Sungguh, tadi aku bertemu Djibril sedang menyunyikan dirinya di tepi bukit sebelah Timur. Ia, dengan jubah putihnya, memandang langit dengan gamang – mengucap mantra-mantra yang tak bisa kupahami artinya. Kira-kira lima menit ia terus begitu. Setelah itu, ia tampak memilin sesuatu yang tak begitu jelas kulihat. Sampai ia mengulum pilinan itu dan asap-asap berbentuk lingkaran mengepul dari mulutnya itu. Ya, aku baru sadar bahwa Djibril juga seorang perokok!

Kau tak percaya padaku?

“Keluarlah, jangan terus bersembunyi,” katanya pelan. Aku jelas kaget. Aku takut. Aku, ah entah. Dengan langkah kaki ragu-ragu kudekatkan diriku padanya. Toh, aku pasti tidak akan bisa melarikan diri. Kautahu… dia malaikat! Bisa terbang, bisa muncul tiba-tiba dihadapanku jika ia mau. Setan-setan saja digambarkan begitu, apalagi malaikat. Pasti lebih itu…

“Jangan takut padaku. Aku bukan Izrail, tidak akan mencabut nyawamu,” katanya sambil tersen…