Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Januari, 2009

Anak Takdir

Sudah terlihat di garis tangan,
guratan-guratan perjalanan hidup
: cinta, dan mati.
(Cuma dua hidup kami
: cinta, dan mati.)

Sebab, kami dilahirkan dalam cinta, pada
Qalu bala syahidna, terbakar api la,
Meneriakkan mahabbah sampai bibir basah

DAN tak basah.

Sebab, kami kemudian mati.
Menjadi Nun yang konon, dijajarkan pada
Alif-alif yang tegak sempurna

Sonet #1

Kaki ini sudah bosan melangkah
Ketika aku mendengarmu berujar pelan:
Suatu saat manusia akan kehabisan tingkah.
“Matahari pun akan redup,” bisikmu pelan.

Tapi bukankah masih ada bulan
Yang tak pernah kehabisan rindu
Yang selalu singgah di banyak genangan
Bahkan di bola matamu yang bulat seperti gundu

“Matahari itu mati?” tanyamu lagi;
Aku turut terengah, tak ingin percaya
Tidak, matahari tak boleh mati
Mana pun, entah selatan entah utara


maka kita menjadi cahaya
menjadi matahari-matahari yang baru