Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari 2008

Kau - Malam Itu

kau letakkan aku di saku celanamu
sebelum jemarimu menggeranyangiku,
sesekali menggelitik urat nadiku -
membungkam mulutku dengan bibir bulanmu
yang sabit

"Tuhan sedang tidur," katamu membisikku

kau pindahkan aku ke kemejamu
sebelum jemarimu mulai melucuti pakaianku,
sesekali menggoda rasa nikmatku -
menghirup tiap bait nafasku dengan mulutmu
yang kuncup

"Tuhan tak akan bangun, " katamu meyakinkan

(sebelum lidahmu kembali menjilati tiap jengkal tubuhku)

santi, 2008 M

/1/
Santi jadi daging. Dijual saja di pasar seharga babi-babi yang dikebiri. Tak ada kepala di badan. Tak ada kaki di tangan. Semua terbelah. Semua terpisah. Organ-organ: hati, jantung, dan otak diletak satu satu. Seorang bertanya berapa, katanya sudah seharga mobil mewah. Sebab inflasi menaikkan harga seluruh komoditi, termasuk daging. Daging sapi. Daging babi. Daging Santi.

/2/
Sebab itu Santi jadi daging. Santi tidak peduli, saat dia pergi – memutuskan jadi daging, tak ada takdir mengikuti. Santi tidak takut ilusi, tidak takut mati. “Saya bisa jadi mobil,” katanya sebelum dipenggal. Dimutilasi. Dicabuti semua organnya sampai kemaluannya. “Dengan begini saya takkan malu lagi.”

/3/
Tetapi, Santi lupa mencongkel matanya. Memisahkan telinga dari kepalanya. Juga memotong lidahnya yang terlanjur menjulur. Serta hidungnya.

Santi melihat dirinya jadi daging. Mendengar obrolan tentang dagingnya. Bahkan teriak-teriak saat dagingnya sendiri ditawar dengan harga yang lebih murah. Dan membaui dagingn…

Vaginalia

Saya sudah sering dihina dan terhina. Jadi sudah biasa kalau kamu mengernyitkan dahi, mempertanyakan, (atau malah) menertawakan nama saya. Sebab nama saya Vaginalia. Asli dari akta lahir, murni pemberian kedua orang tua saya. Silahkan kalau kamu mau tertawa. Toh sudah biasa.
Kamu mengenalkan namamu sebagai Muhammad. Nama yang bagus, dan agung. Sebab namamu itu juga nama nabi yang paling diagungkan. Yang dijuluki Al-Amin, artinya dapat dipercaya. Diteladani banyak manusia, termasuk saya. Sebab katanya akan mendapat pahala jika saya memuji namanya, mendapat sesuatu yang bernama ‘Syafa’at’ di kehidupan akhirat.

Nama kamu Muhammad. Orang yang terpuji. Sebab itulah saya percaya sama kamu.



Saya masih perawan, belum kawin. Orang-orang seringkali merendahkan harga diri saya. Sebab nama saya Vaginalia. Mendekati saya dengan alasan nafsu saja. Saya benci. Saya jijik. Sebab saya juga perempuan baik-baik. Mendambakan laki-laki yang baik-baik. Tidak seperti laki-laki pada umumnya yang menilai sa…

PPn di Restoran (?)

A. Permasalahan

Tentunya kita pernah makan di restoran. McDonald misalnya. Pernahkah Anda melihat struk pembayarannya? Pasti akan tertera, ‘PPN 10%’. Lantas kita tak acuh. Tanpa pernah bertanya, benarkah ada PPN yang dikenakan di restoran?

PPN (Pajak Pertambahan Nilai), yang sebelumnya bernama Pajak Penjualan memang terasa belum tersosialisasi dengan baik kepada masyarakat yang rata-rata awam dengan hal ini. Seperti kasus pajak restoran, kami sendiri – sebelum belajar pengantar pajak – beranggapan bahwa penetapan PPN di restoran adalah sesuatu yang tidak perlu dipermasalahkan. Muncul pikiran, mungkin pajak diberlakukan atas tempat, atau penjualannya. Dengan diri kami sebagai sample yang salah kaprah ini, kami perkirakan tidak kurang dari 80% masyarakat juga berpikir sama. Bahwa tidak ada masalah dalam penetapan PPN di restoran.

B. Pembahasan

Sebelum melangkah jauh, kita perlu meninjau, apa saja yang termasuk barang dan jasa yang kena pajak. Sejak 1 Januari 1995 (dari rangkaian Pasal 4…

Pajak Ekologi

I. Permasalahan

Bidang yang mengalami perbenturan paling keras dengan urusan lingkungan hidup adalah ekonomi. Sebagian besar termologi ekonomi, mulai dari yang Marxis sampai Monetarian terbukti gagal mempertemukan kepedulian lingkungan dengan kenyataan praktik berekonomi di dunia nyata.

Perusahaan harus mengalokasikan biaya ekstra untuk memperoleh air bersih atau me-lakukan treatment untuk udara dan air yang tercemar. Hal ini tentunya diikuti dengan terjadinya krisis sosial budaya termasuk kesehatan masyarakat di sekitar perusahaan tersebut. Biosfer bumi merupakan sumber dan tata kehidupan yang memberikan manfaat ekologi (ecological benefit), manfaat ekonomi (economical benefit), dan manfaat sosial (social benefit). Tiga pilar ini merupakan rantai keberlangsungan bagi kehidupan manusia dan pembebanan yang paling mempengaruhi kesejahteraan manusia adalah bersumber pada ekologi yang memberi efek pada kemakmuran ekonomi, sosial budaya. Ekonomi tidak akan bergerak tanpa sumber daya alam.

B…

Lacur

Saya masih duduk sendiri. Menunggu. Memandang tanah-tanah kering.

Di taman ini, saya adalah tak lebih seekor cacing. Menggeliat ke sana ke mari mencari celah basah. Sebab cacing tak suka cahaya berlebih, menusuk pori-pori. Sebab cacing juga tak perlu mencari pasangan untuk kawin. Tidak
seperti manusia.

Di taman ini, saya adalah seorang sepi. Tak menanggapi lalu lalang yang tak berarti.

Pukul tiga sore.

Hari sudah tua, namun bayang-bayang masih bertenaga. Sebab setiap hari matahari tampak kian berapi. Pohon-pohon ditebangi, polusi menjadi-jadi. Manusia semakin sibuk dengan dirinya sendiri. Hingga lalu lalang tak pernah berhenti. Tak pernah cahaya padam. Tak pernah musik berhenti berdentang. Sementara makhluk-makhluk lain mulai mengungsi, mencari sepi.

Seorang pengemis datang meminta sedekah. Saya tidak tahu siapa dia, darimana asalnya, berapa umurnya. Yang saya tahu, pakaiannya kumuh selusuh jiwanya yang tak punya malu. Yang saya tahu, manusia harus berusaha dengan cara terhormat untuk mempe…

Kisah Abrahah

Kami bangsa Shan'a. Dendam tak redam seorang Ibnu Kinana. Dinoda marah Raja Abrahah. Telah ludah Katedral suci yang kami sembah.

Kami benci berhala. Abrahah bergolak, teriak koyak luluhlantakkan kesesatan bid'ah. Kerahkan Shan'a yang kuasa atas warisan Abyssina yang melegenda.

Terkerah pasukan gajah. Lupakan nasehat Siraaj yang wibawa. Murka Abrahah. Anggap leceh ajaran Kristus yang Kuasa.

Terguncang Mekkah. Niat lindungi Kakbah suci tak bertara. Shayba bertarung gundah. Lindungi Kakbah lawan Abrahah. Atau lari mengalah biar Kakbah dilindungi Empunya.

Shayba berdendang lantang. Tantang Abrahah dengan damai merindang.

"Kami serahkan Kinana, tinggalkan Mekkah."

"Tidak, Mekkah sumber bid'ah. Berhala Tuhan yang salah."

"Kakbah adalah sucinya Ibrahim atas sejarah. Ingat kisah Ismail di padang darah."

"Kakbah telah noda, cuma Latta Uzza yang kalian sembah."

Shayba terus gundah. Tak mampu lawan Abrahah. Diungsi seluruh Mekkah. Biarkan Tuhan tunj…

Arogansi Tak Bertu(h)an

Mana kretekmu, Kawan?
biar kita hisap perlahan
menikmati detik detak yang menawan
melayang terbang ke atas awan

Linglung langling longlang ...,

bisikmu tak jelas, Kawan!

"Apa? Kau mengaku Jibril?!"

Sudah! Tu(h)an macam apa yang ingin KAU dustakan?!

"Apa? Aku NABI BARU! KAU MAU MENYAMPAIKAN WAHYU?!"

Cukup!

dingdung dangding dongdang ...,

hentikan gurauanmu, Kawan!

"Apa?"

Boleh tak sholat, boleh tak zakat?
Boleh tak ngaji, boleh tak haji?
Boleh arak, boleh tuak?
Boleh berdusta, boleh berzina?

"OK!OK! Aku nabi baru. Cukup begitu?"

Concerto #2

Dengan bulan tak purnama pun, aku mampu memandang kelam di atas telaga tenang. Takdirku menjadi pungguk tak selalu jadi buruk, apalagi membuatku terpuruk.
Seperti malam ini, segenggam bayang membuat cahayanya terhalang. Tetap indah meski sabit yang meronta memintaku menjemput - datang. Aku pun terbang dengan wangi rafflesia surga, 'tuk runtuhkan langit yang kuasa. Mungkin saja suatu saat akan ter-rela – terengkuh dalam dekapanku.

Ode Untuk Pendosa

Aku butakan matamu dari puisi-puisi yang kusuguhkan. Yang aromanya pun tak mampu kaubaui dengan hidung yang telah kusumbat nafas dosa dosa mustajab. Cuma telingamu saja yang tak tuli. Yang tiap hari kubisikkan mantra-mantra kalam semesta. Kuperdengarkan pula puja puji palsu, jerit pekik wanita dengan desah yang ingin kau raba pastinya. Jangankan bukan! kepalamu hanya bergeleng-geleng nikmati iramanya. diam-diam aku curi pedangmu yang telah tumpul berkarat - tak pernah kau asah. Bila sudah tiba waktumu, biarkan izrail puas mencumbui ruhmu tidak dari kepalamu. Hingga erangan buatmu terkejang mencapai klimaks cinta yang sudah kau dustakan.

Aku Bukan Mahasiswa Matematika

Aku bukan mahasiswa matematika. Jadi aku tak mampu menetukan deret cintaku, deret geometri biasa atau tak hingga? Atau malah deret ukur biasa dengan beda tak lebih satu? Hei, aku bahkan tak pernah bertemu Rymann yang kau puja. Jadi bagaimana bisa aku belajar 'tuk berintegrasi tepat di hatimu tanpa sedikitpun terdiferensiasi oleh waktu yang kau rumuskan sebagai t pada d? Dan kali itu, kau ajak aku berdiri di puncak kurva hati, titik stasioner tertinggi untuk mencari sejauh mana maksimum yang kau ingin aku beri bukti. Dan pada tiap jarak langkah yang kau tapakkan sebelum itu, kau berlirih pelan menghitung kemungkinan setiap jejak, yang kuyakin kau kombinasikan dengan harap yang kau prediksi melalu kurva regresi. Sudah! Lelah hatiku kau hitung serpihnya satu persatu, tepat integer. Aku ingin berhenti di sini. Tidak pada ekuilibrium yang pernah kita - atau tepatnya hanya kau - rencanakan. Camkan kataku, aku bukan makhluk integer atau real seperti nominal-nominal yang biasa kau hitung lug…

Pringadi Abdi Surya

Aku hanya sebatang bambu yang berada di pucuknya. Bukan seperti ranting pada dahan-dahan yang cepat mengering, lapuk, lalu patah. Lihat aku! Terserah angin hingga badai merayuku - membuat liukan indah di tubuhku. Tatapanku tetap takkan bergeming. Menghamba pada sebuah cahaya yang juga setia pada dunia. Lantas kau?